Hallo sahabat pustaman, ada sedikit tulisan sederhana yang saya buat nih menjelang datangnya bulan Ramadhan. Mudah-mudahan bermanfaat. Meskipun saya bukan ustad, anggap saja itung-itung ngaji online deh, hanya sekedar saling mengingatkan…
Inti dan tujuan dari perjalanan hidup ini hakikatnya adalah “kebahagiaan”. Terkadang orang-orang lupa tentang tujuan tersebut sehingga terfokus saja pada point terhadap apa yang ingin didapat tanpa berfikir apakah hal tersebut dapat membahagiakan atau tidak. Kita menginginkan “ini” dan kita sering juga menginginkan “itu”, adalah semata-mata mencari kebahagiaan. Ketika ada sesuatu yang diinginkan di dunia ini seperti harta, jabatan, jodoh maupun benda-benda yang dibutuhkan didunia ini, terkadang lupa bahwa tujuan dari keinginan itu adalah kebahagiaan. Maka tidak heran ada sebagian manusia yang menempuh jalan yang tidak diridhai Allah SWT dalam mendapatkannya. Oleh karenakan tipu daya setan terlihat indah, banyak orang cenderung memlih jalan sesat tersebut.
Jika sudah demikian, maka sesuatu yang didapatkan tanpa dibarengi dengan keridhaan dari Allah SWT tidak akan mendatangkan kebahagiaan melainkan kesengsaraan atau kemudharatan. Supaya tidak bingung saya kasih contoh, orang yang kaya hasil dari korupsi atau mencuri. Apakah hasil harta itu memberikan kebahagiaan? Dengan mempunyai rumah besar, mobil mewah dari hasil korupsi atau mencuri akan mendatangkan kebahagiaan?! Tentu saja tidak!! Boleh jadi ketika di depan manusia koruptor tersebut dapat berpura-pura telihatan bahagia, namun dia tidak akan pernah bisa berbohong pada Tuhannya.
Tujuan hidup adalah demi kebahagiaan, lalu bagaimana agar kita bahagia? Dengan mempunyai harta banyak kah? Istri cantik kah? Atau mobil mahal? Atau apa? Gadget terbaru?!! Hoho, tentu bukan itu pada hakikatnya..
Jawabanya adalah ayat Al-Qur’an di bawah ini!! Baca baik-baik ya..
”Sungguh bahagia orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang di dalam sholat mereka khusyu’.” (QS Al-Mu’minun [23]: 1-2).
Berdasarkan firman Allah SWT terssebut telah jelas bahwa kebahagiaan itu dapat dimiliki oleh orang yang beriman kepada Allah SWT yang sholatnya khusyu’!
Lalu iman yang seperti bagaimana? InshaAllah saya akan paparkan di artikel selanjutnya tentang keimanan dan ketakwaan, inshaAllah. Dalam tulisan ini saya akan focus membahas mengenai bagian kedua yang dapat membahagian manusia yakni sholat yang khusyu’.
Sholat khusyu’ terdiri dari dua kata, yakni sholat dan khusyu. Sholat berarti ibadah yang tata cara dan waktunya telah di tetapkan oleh Allah SWT. Sementara Kata khusyu’ berasal dari khasya’ yakhsyu’ khusyu’an yang artinya memusatkan segala ruh hati dan pikiran seorang mushali kepada semua gerakan dan bacaan dalam sholat. Sehingga, pikiran dan hatinya hanya terfokus di dalam sholat semata.
Selanjutnya, bagaimana sholat khusyu’ bisa memberikan kebahagian kepada orang yang menjalankannya? Mari kita simak firman Allah SWT di bawah ini.
Dan mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (al-Baqarah: 45)
Berdasarkan ayat tersebut kita tahu bahwa kita di suruh sama Allah SWT untuk bersabar dan sholat sehingga ketika kita mendapatkan kesulitan kita akan senantiasa diberikan pertolongan. Apabila hal itu kita lakukan maka pertolongan dari Allah SWT akan pasti datangnya. Jika sudah begitu, apapun bentuk kesulitan yang datang tentu hati kita selalu akan diberikan ketenangan karena kita tahu bahwa Allah akan menolong kita. Sehingga rasa putus asa itu mustahil ada, justru semangat dan semangat yang tinggilah yang terus menggebu-gebu untuk menyelesaikan masalah tersebut karena yakin pada akhirnya Allah akan memberikan pertolongan. Siapa yang tidak bahagia coba, ketika seseorang ditimpa kesulitan sudah dijamin oleh Allah SWT bahwa dia akan ditolongNya? Tertarik kan? Makanya, haayuu atuh kita sholat secara khusyu’..
Khusyu’ merupakan kekuatan sholat. Tanpa khusyu’ sholat seakan tidak mempunyai makna bagi pelakunya, karena sholat hanya berupa aktifitas fisik yang rutin, tanpa kenikmatan dan tanpa rasa hidmat di dalamnya. Lalu bagaimana agar kita bisa sholat khusyu’? Melalui sunnah di awah ini, Nabi Muhammad SAW sudah memberikan bocorannya, monggo di pahami aja..
Rasulullah SAW memberikan kiat-kiat agar sholat khusyu’. Pertama, mengingat kematian ketika dalam sholat. Sabda Rasulullah SAW, ”Ingatlah kalian terhadap mati ketika dalam sholat. Sesungguhnya seseorang yang ingat mati dalam sholat, ia akan memperbaiki sholatnya. Jika tidak mengingat kematian diri kalian, niscaya urusan duniawi akan mengganggu konsentrasi sholat kalian.” (HR Ad-Dailami)
Kedua, tenang dan seakan-akan melihat Allah SWT. Tahapan kedua jika mushali ingin merasakan khusyu’ dalam sholat adalah melakukan ketenangan dalam semua gerakan dan bacaan sehingga merasakan seakan-akan melihat Tuhannya. Ujar Rasul, ”Sholatlah kalian semua dengan tenang seakan-akan kalian melihat Allah di depan kalian. Walaupun kalian tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihat kalian semua.” (HR Abu Muhammad Al-Ibrahimi)
Selain itu, saya juga pernah membaca salah satu Ayat di dalam Al-Qur’an tentang bagaimana khusyu’ itu. Ini sangat menginspirasi sekali. Berikut ayat memberikan pengertian tentang khusyu’ tersebut.
“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (al-Baqarah: 46)
Mari kita pahami ayat tersebut. Manusia yang hidup di dunia pada dasarnya sedang merantau, benar tidak?! Dan Allah merupakan “pencipta” kita yang memberikan perbekalan selama di perantauan dan inshaAllah Syurga adalah “kampung halaman” kita.
Ketika saya kuliah saya pernah merantau, dan dalam perantauan itu saya dituntut oleh orang tua untuk memperoleh ilmu dengan bukti kelulusan berupa ijazah sebelum waktu 7 tahun kuliah berlalu. Begitu juga dengan “perantauan sesungguhnya”. Manusia dituntut mendapatkan pahala kebaikan (Amalan sholeh) yang didapat dari hasil ibadah sebelum masa perantauan (umur) kita habis.
Terkadang ketika dalam kesulitan, terutama dalam hal keuangan, saya senantiasa menghubungi orang tua agar mereka mentransfer sejumlah uang untuk keperluan hidup saya selama di perantauan. Nah, begitu pula dengan “perantauan sesungguhnya”. Manusia harus menemui Tuhannya untuk “curhat” meminta pertolongan ketika mendapat kesulitan selama perantauaanya di dunia. yakni dengan berdo’a dan Sholat!
Oke, kembali ke ayat di atas. di sana dikatakan bahwa orang yang khusyu’ itu adalah orang meyakini terhadap dua hal, yakni:
- Yakin bahwa ia akan menemui Tuhannya.
- Yakin bahwa ia akan kembali padaNya.
Menurut saya, pengertian menemui di sini bukan hanya menemui dalam konteks di akhirat nanti. Hal ini ini juga berlaku bahwa kita dapat menemui Allah SWT di dunia. Kapan? Yakni khususnya sewaktu kita sholat.
Jadi, ketika kita sholat ada dua hal yang dengan kesadaran senantiasa kita yakini. Kita harus “sadar” bahwa kita sedang menemui Allah, maka curahkanlah segala kesulitan selama dalam “perantauan” di dunia dengan sholat dan do’a agar Allah menolong kita. Kedua, kita yakin jika masa perantauan kita usai kita akan kembali padaNya untuk ditanyakan tentang seberapa banyak amalan sholeh yang kita peroleh. Jika kita yakin dan menyadari kedua hal tersebut, inshaAllah sholat kita akan khusyu’.
Apabila sholat kita khusyu’, maka Allah akan menolong kita terhadapat segala kesulitan apapun. Sehingga ketika diakhirat nanti apabila amalan sholat kita baik maka inshaAllah kampung halaman kita nanti kembali adalah Syurga. Amiiin Ya Allah….
