Gizi Buruk pada Anak Balita

MASALAH GIZI BURUK PADA BALITA

DALAM KONTEKS BUDAYA

 (KASUS DI DAERAH PANTAI UTARA KABUPATEN CIREBON)

 

I. Pendahuluan
Munculnya kembali kasus gizi buruk yang diawali di Provinsi NTT dan NTB dan kemudian diikuti oleh provinsi lainnya menunjukan bahwa masalah gizi selain merupakan masalah kesehatan masyarakat juga terkait dengan masalah sosial dan budaya. Begitupun masalah gizi buruk masih menjadi masalah sosial dan kesehatan di Provinsi Jawa Barat. Gizi buruk adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein (KEP) dalam asupan makanan sehari-hari. Seorang penderita gizi buruk tidak mendapatkan minimum angka kecukupan gizi (AKG). Anak balita merupakan kelompok yang paling rawan terhadap terjadinya kekurangan gizi. Kekurangan gizi dapat terjadi dari tingkat ringan sampai tingkat berat. Apabila jumlah asupan gizi balita sesuai dengan kebutuhan disebut seimbang (gizi baik), sedangkan apabila asupan zat gizi lebih rendah dari kebutuhan disebut gizi kurang, sedangkan apabila asupan zat gizi sangat kurang dari kebutuhan disebut gizi buruk. Anak Balita yang sehat atau kurang gizi dapat diketahui melalui perbandingan antara berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi. Apabila sesuai dengan standar anak disebut gizi baik, apabila sedikit di bawah standar disebut gizi kurang, sedangkan jika jauh di bawah standar disebut gizi buruk. Apabila gizi  buruk disertai dengan tanda-tanda klinis seperti ; wajah sangat kurus, muka seperti orang tua, perut cekung, kulit keriput disebut Marasmus, dan bila ada bengkak terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab disebut Kwashiorkor. Marasmus dan Kwashiorkor atau Marasmus Kwashiorkor dikenal di masyarakat sebagai “busung lapar”.

Infromasi lebih lanjut lihat Definisi dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jabar tentang status gizi balita berdasarkan berat badan dan umur (BB/U) menunjukkan bahwa pada tahun 2005 sebanyak 8.345 (4,57%) balita berstatus gizi buruk (dari 189.773 balita yang ditimbang). Dari 25 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Cirebon adalah daerah dengan kasus gizi buruk tertinggi. Selanjutnya pada tahun 2006, terdapat penurunan jumlah balita yang mengalami gizi buruk yaitu sebanyak 4.133 (2,2,%) dari 186.253 balita yang ditimbang. Kabupaten Cirebon berada posisi ketiga pada kasus gizi buruk di Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2007, jumlah balita gizi buruk sebanyak 3.487 (2,48%) dari 140.633 balita yang ditimbang dan Kabupaten Cirebon berada pada posisi ketiga di Provinsi Jawa Barat. Gambaran mengenai status gizi balita di Kabupaten Cirebon pada tahun 2005 – 2007 disajikan pada tabel 1.

          TABEL1. STATUS GIZI BALITA DI KABUPATEN CIREBON TAHUN 2005 – 2007

 Tahun Status Gizi (BB/U) 
Buruk Kurang Baik Lebih
N % N % N % N %
2005 8.345 4,57 60.830 33,3 119.580 65,5 1.018 0,6
2006 4.133 2,22 28.202 15,1 148.759 79.9 2.824 1,52
2007 3.487 2,48 21.154 15,04 113.472 80,69 2.520 1,79

(Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat)

Berdasarkan data yang tercantum pada tabel 1 tampak bahwa Kabupaten Cirebon dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (2005 – 2007) mengalami penurunan pada balita yang mengalami gizi buruk. Namun demikian, Kabupaten Cirebon adalah salah satu daerah yang tetap memiliki balita gizi buruk yang tinggi di Propinsi Jawa Barat dalam 3 tahun terakhir. Selain itu Kabupaten Cirebon di daerah pantai utara (pantura) adalah salah daerah yang memilki potensi sumber daya alam yang melimpah dan memilki sumber protein yang tersedia cukup banyak.  Namun karena kebiasaan, kepercayaan dan ketidaktahuan terhadap gizi, maka banyak jenis-jenis bahan makanan yang memiliki sumber protein tetapi tidak dimanfaatkan untuk konsumsi anak-anak.

Istilah Kurang Energi Protein (KEP) sekarang dipandang sebagai suatu permasalahan ekologis dimana tidak saja disebabkan oleh ketidakcukupan ketersediaan pangan atau zat-zat gizi tertentu, tetapi juga dipengaruhi oleh kemiskinan, sanitasi lingkungan yang kurang baik dan ketidaktahuan terhadap gizi (Sue Kim, dalam Suhardjo, 2003 : 4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir di Kabupaten Cirebon dilihat dari keadaan perumahan, keadaannya tidak teratur, rapat dan kurang memperhatikan sirkulasi udara. Pemukiman penduduk di Kabupaten Cirebon merupakan pemukiman yang padat, sebagian besar masyarakat nelayan masih belum memiliki WC, hal ini disebabkan kebiasaan nelayan yang membuang hajat di sungai karena letak pemukiman yang dekat dengan sungai (Hasil penelitian, 2003).

Tingginya kasus gizi buruk balita di sejumlah daerah juga terkait dengan daya beli masyarakat yang makin berkurang, terutama di kantong-kantong kemiskinan di Jawa Barat. Masyarakat yang miskin memang sangat rawan terhadap masalah kelaparan dan hal ini secara langsung mempengaruhi gizi mereka. Kabupaten Cirebon merupakan daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, di Jawa Barat tahun 2005 terdapat 2,9 juta rumah tangga miskin. Kabupaten Cirebon memiliki 203.203 rumah tangga miskin, dan ditemukan banyak kasus gizi buruk pada balita. Saat ini kemiskinan merupakan penyebab pokok terjadinya gizi buruk.

Pemerhati Kesehatan Masyarakat, Roy Tjiong, mengemukakan bahwa angka gizi buruk di Indonesia makin tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pendekatan serta program yang telah dilakukan pemerintah dalam mengatasi gizi buruk sudah tidak sesuai lagi untuk diimplementasikan pada saat ini. Salah satunya adalah adanya asumsi bahwa gizi buruk hanya disebabkan  kurangnya  protein  pada  tubuh, padahal  saat  ini  permasalahan  gizi buruk  terjadi akibat beberapa factor penyebab yang kompleks. (http://www.koalisi.org/dokumen /dokumen38911.pdf).

Selanjutnya Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon (Retina Sri Sedjati) mengemukakan bahwa kasus gizi buruk di Cirebon lebih disebabkan pada rendahnya pengetahuan orang tua. “Andaikata orang tua lebih rajin membawa anak-anak mereka ke puskesmas, maka hal ini tidak terjadi,  karena  di  Puskesmas  minimal  anak  akan  mendapatkan  asupan  multivitamin  gratis sebagai hasil bantuan dari pemerintah daerah,”. Kondisi anak yang mengalami kekurangan gizi pun,  seringkali  diperparah  dengan  penyakit  lain,  seperti flu,  demam,  maupun TBC. Hal   ini  makin  buruk  ketika orangtua takut membawa anak berobat karena alasan tidak punya biaya.

        Salah satu penderita gizi kurang di Kabupaten Cirebon, yaitu Abdul Basir (22 bulan), warga Desa Kesugengan Lor, Kecamatan Plumbon yang ditemukan pada bulan Maret 2005, diketahui bahwa keluarga Abdul Basir termasuk keluarga miskin, ibunya seorang ibu rumah tangga, dan sang ayah, Sudira hanyalah sebagai pemulung.  Persoalan makin berat, ketika Abdul Basir ternyata merupakan anak nomor lima. Dengan demikian, beban sang ayah untuk menghidupi keluarganya semakin berat. Abdul Basir menderita gizi buruk dan akhirnya  menjalani perawatan di RSUD Gunung Jati selama tiga bulan. (Sumber: Media Indonesia Online – Senin, 13 Juni 2005).

Menurut Yetty Nency dan Muhamad Thohar Arifin (2005) tingginya kasus gizi buruk pada balita di sejumlah daerah terkait dengan penyebab baik langsung maupun tidak langsung, diantararanya yaitu :

  1. Tidak tersedianya makanan secara adekuat.

Tidak tersedinya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Selain itu proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.

  1. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang.

Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu, dan sesudah usia 6 bulan banyak anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.

Pola makan yang salah

Hasil studi “positive deviance” mengemukakan bahwa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui bahwa pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan yang mengerti tentang pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Selain itu banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi  buruk

  1. Adanya kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan/adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak-anak daging, telur, santan dll). Hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup.

Dengan demikian, walaupun masalah gizi buruk terjadi akibat beberapa faktor penyebab yang kompleks, namun faktor budaya turut berperan dalam masalah ini. Suhardjo (1996 : 21) mengemukakan bahwa walaupun kelaparan dapat ditentukan secara biologis, tetapi pada umumnya kebiasaan pangan seseorang tidak didasarkan atas keperluan fisik akan zat-zat gizi yang terkandung dalam pangan. Kebiasaan ini berasal dari pola pangan yang diterima kelompok dan diajarkan kepada seluruh anggota keluarga.

Kebiasaan makan yang cenderung dipertahankan dalam suatu masyarakat, seringkali mencegah orang untuk memanfaatkan sebaik-baiknya makanan yang tersedia bagi mereka dan bahkan bertentangan dengan program perbaikan gizi. Misalnya, pada masyarakat Minangkabau terdapat anggapan umum bahwa sayur-sayuran dianggap sebagai “makanan rendah”, sehingga dalam menu makanan jarang ditemui jenis sayuran. Selain itu ada kepercayaan bahwa anak-anak yang menderita sakit tertentu dilarang memakan makanan tertentu, seperti anak yang sakit bisul dilarang makan telur, bayi yang menderita diare tidak boleh minum ASI dan banyak lagi yang lain. Selain itu faktor kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan yang bergizi juga turut menentukan terjadinya gizi buruk pada balita.

Kepercayaan dan pengetahuan adalah bagian penting dari kebudayaan. Kebudayaan mengacu kepada sistem pengetahuan dan kepercayaan yang disusun sebagai pedoman manusia dalam mengatur pengalaman dan persepsi mereka, menentukan tindakan dan memilih diantara alternatif yang ada. Kepercayaan masyarakat ini akan melahirkan larangan atau tabu. Menurut Sarwono (1993 : 14) masyarakat menerima pernyataan atau pendirian kepercayaan tentang sesuatu tanpa menunjukan sikap pro atau anti. Kepercayaan itu diteladani tanpa banyak dipertanyakan.

Kepercayaan dan kebiasaan masyarakat termasuk pengetahuan mereka tentang gizi, harus dipertimbangkan sebagai bagian dari faktor penyebab yang berpengaruh terhadap masalah gizi buruk pada balita. Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan kajian lebih mendalam tentang  masalah pengetahuan, kepercayaan dan kebiasaan masyarakat tentang makanan dalam kaitannya dengan pantangan atau tabu makanan.

II.   Kondisi Kesehatan Masyarakat Pantai Utara Kabupaten Cirebon

Kabupaten Cirebon merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Barat yang terletak di bagian Timur dan merupakan batas, sekaligus sebagai pintu gerbang Provinsi Jawa Tengah. Letak daratan memanjang dari Barat Laut ke Tenggara. Dilihat dari permukaan tanah/daratannya dapat dibedakan menjadi dua bagian, pertama daerah dataran rendah yang umumnya terletak di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, yaitu Kecamatan Gegesik, Kaliwedi, Kapetakan, Arjawinangun, Panguragan, Klangenan, Cirebon Utara, Cirebon Barat, Weru, Astanajapura, Pangenan, Karangsembung, Waled, Ciledug, Losari, Babakan, Gebang, Palimanan, Plumbon, Depok dan Kecamatan Pabedilan. Sebagian daerah lagi termasuk da daerah dataran tinggi. Lima daerah di daerah Pantai Utara tersebut yaitu Panguragan, Klangenan, Losari, Palimanan, dan Depok merupakan daerah yang memiliki balita yang mengalami gizi buruk. Sri Heviana (Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Cirebon) mengemukakan bahwa dari 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Cirebon, populasi yang paling banyak terdapat balita gizi buruk terdapat di 10 kecamatan, yaitu Losari, Mundu, Waled, Lemahabang, Klangenan, Palimanan, Babakan, Depok, Gunung Jati dan Panguragan (http://www.republika.co.id).

Dalam kaitannya dengan kondisi kesehatan masyarakat Kabupaten Cirebon, kebutuhan gizi sangat penting. Unsur gizi secara umum memiliki dimensi penting dalam proses pembangunan terutama dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu dalam pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal dalam pembangunan mengharuskan adanya status gizi dan kesehatan yang optimal. Pemberian gizi yang baik adalah dengan pemberian ASI (air susu ibu) kepada bayi. Pemberian ASI sangat dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi atau balita, disamping secara alami berpengaruh terhadap meningkatnya kekebalan terhadap penyakit. Berikut ini adalah gambaran balita di Kabupaten Cirebon pada tahun 1999 – 2003.

Tabel  2. Balita Kabupaten Cirebon Menurut Ya/Tidak Pernah Disusui Tahun 1999 – 2003

Keterangan 1999 2000 2001 2002 2003
Balita 0 – 4 bulan          
Disusui 154.519 153.709 181.716 187.343 187.343
Tidak disusui 5.421 4.873 4.239 4.679 4.679
Jumlah 159.940 158.582 185.955 192.022 192.022
 
Balita Usia 5 bln -2 th          
Disusui 99.506 105.942 127.236 123.990 123.990
Tidak disusui 4.390 3.352 3.965 3.865 3.865
Jumlah 103.896 109.294 131.201 127.855 127.855
             

 

Gambaran mengenai kondisi kesehatan balita di kabupaten Cirebon yang disajikan dalam tabel 1 menunjukkan bahwa tidak semua balita, baik balita 0 – 4 bulan maupun balita usia 5 bulan – 2 tahun memperoleh ASI dari ibunya. Gambaran tersebut menunjukkan kondisi yang sama untuk tahun 2000 – 2003. Tidak disusuinya balita tanpa disertai dengan asupan zat-zat gizi yang memadai dapat menyebabkan anak kekurangan energi protein (KEP). Dalam hal ini tingkat pendidikan perempuan (ibu) berpengaruh terhadap status gizi bayi dan balita. Berikut ini gambaran tentang tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Cirebon tahun 2003.

Tabel 3. Tingkat Pendidikan Penduduk Kabupaten Cirebon Tahun 2003

Tingkat Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah
SD/MI 68,05 59,16 63,64
SLTP 26,95 19,22 23,12
SLTA 14,26   9,26 11,78
Perguruan Tinggi   2,73   1,85   2,30

 

Dari tabel 3 tampak bahwa sebagian besar perempuan memiliki tingkat pendidikan hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Pola yang demikian ini harus mendapat perhatian karena rendahnya tingkat pendidikan perempuan berpengaruh pada pola asuh anak dalam keluarga.

III. Kajian Pustaka

3.1. Masyarakat dan Kebudayaan

            Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi. Ikatan yang membuat suatu kesatuan manusia itu menjadi suatu masyarakat adalah pola tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kehidupannya dalam batas kesatuan itu. Pola itu harus bersifat mantap dan kontinyu, dengan perkataan lain pola khas itu harus sudah menjadi adat istiadat yang khas. Koentjaraningrat (1990 : 146) mendefinisikan masyarakat sebagai kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

            Djojodigoeno (dalam Koentjaraningrat,1990) mengemukakan bahwa masyarakat dapat bedakan dalam pengertian luas dan pengertian sempit. Masyarakat Indonesia sebagai contoh dari masyarakat dalam arti luas, sedangkan masyarakat dari satu desa atau kota tertentu, merupakan masyarakat dalam arti sempit.

Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Masyarakat dan kebudayaan keduanya tidak dapat dipisahkan, walaupun secara teoritis dan untuk kepentingan analisis kedua persoalan tersebut dapat dibedakan dan dipelajari secara terpisah.

Kata kebudayaan berasal dari kata Sanskerta buddhayah, yang berarti akal atau budi. Kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Sarjana lain membedakan budaya dari kebudayaan. Budaya adalah ”daya dari budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa. Dalam istilah antropologi budaya perbedaan itu ditiadakan. Kata budaya dipakai sebagai singkatan dari kebudayaan dalam arti yang sama.

Menurut Goodenough (1961 dalam Keesing,1981 : 68) budaya sebagai sistem suatu pemikiran.  Budaya dalam pengertian ini mencakup sistem gagasan yang dimiliki bersama, sistem konsep, aturan serta makna yang mendasari dan diungkapkan dalam tata cara kehidupan manusia. Budaya dalam pengertian tersebut mengacu pada hal-hal yang dipelajari manusia, bukan hal-hal yang mereka kerjakan dan perbuat. Sedangkan Koentjaraningrat (1990 : 180) memberikan definisi kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.  Dari dua definisi tersebut tanpak bahwa dalam definisi Koentjaraningrat bahwa kebudayaan tidak terbatas pada sistem gagasan, tetapi juga tindakan dan hasil karya manusia.

Dalam hal ini Talcott Parsons bersama dengan A.L. Kroeber menganjurkan untuk membedakan antara wujud kebudayaan sebagai suatu sistem dari ide-ide dan konsep-konsep dari wujud kebudayaan sebagai suatu rangkaian tindakan yang berpola. Menurut J.J. Honigmann bahwa kebudayaan terdiri dari 3 wujud, yaitu :

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.

Wujud pertama ini sifatnya abstrak dan berada dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Ide-ide dan gagasan tersebut memberi jiwa kepada masyarakat. Gagasan-gagasan  itu tidak berada lepas satu dari yang lain, melainkan selalu berkaitan menjadi suatu sistem.  Ahli Antropologi dan Sosiologi menyebut sistem ini adalah sistem budaya atau isitilah lainnya adalah adat atau adat istiadat (bentuk jamak).

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

Wujud kedua ini disebut sistem sosial yaitu tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. 

  1. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ketiga ini disebut kebudayaan fisik yang berupa seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda yang dapat diraba, dilihat dan difoto.

Dalam kenyataan kehidupan masyarakat, ketiga wujud dari kebudayaan tersebut  tidak terpisah satu dengan yang lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide-ide, maupun tindakan dan karya manusia, menghasilkan benda-benda kebudayaan fisik. Sebaliknya kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya sehingga mempengaruhi pola-pola perbuatannya, bahkan juga cara berpikirnya. Walaupun ketiga wujud kebudayaan saling berkaitan, namun untuk kepentingan analisa perlu diadakan pemisahan yang tajam antara tiap-tiap wujud itu.

            Geertz (dalam Keesing, 1981 : 71) mengemukakan bahwa makna-makna budaya adalah umum, dan realisasinya terdapat pada pemikiran masing-masing orang. Namun demikian menurut Keesing (1981 : 73) bahwa walaupun budaya menunjuk pada pengetahuan yang dimiliki oleh setiap orang di dalam masyarakat, pemilikan makna yang sama di dalam kehidupan sehari-hari semua orang merupakan suatu proses sosial, bukan proses perseorangan.

3.2. Makanan dalam Konteks Budaya

Bagi setiap anggota masyarakat, makanan dibentuk secara budaya, bagi sesuatu yang akan dimakan, diperlukan adanya pengesahan budaya. Oleh karena adanya pantangan agama, tahayul, atau kepercayaan tentang kesehatan, ada bahan makanan yang mengandung gizi yang baik yang tidak boleh dimakan, namun diklasifikasikan sebagai “bukan makanan”. Sedemikian kuatnya kepercayaan-kepercayaan mengenai apa yang dianggap makanan dan bukan makanan, sehingga sangat sulit untuk meyakinkan orang untuk menyesuaikan makanan tradisional demi kepentingan gizi yang baik. Selain itu pilihan-pilihan pribadi lebih mengurangi lagi variasi makanan yang disantap oleh setiap individu.

Penyebab gizi buruk yang utama adalah karena kekurangan pangan, namun hal ini akan bertambah parah apabila disertai dengan adanya kepercayaan budaya dan pantangan-pantangan yang sering membatasi pemanfaatan yang tersedia. Kurangnya pemahaman terhadap makanan yang bergizi seringkali menafsirkan susunan makanan dalam rangka kuantitas, bukan pada kualitasnya mengenai makanan pokok. Oleh karena itu, gizi buruk sering terjadi pada tempat dimana sebenarnya terdapat cukup banyak makanan.

Masyarakat seringkali gagal menilai hubungan yang positif antara susunan makanan yang baik dengan kesehatan yang baik, tetapi mereka sering melihat hubungan yang negatif antara makanan dan penyakit. Artinya, pada waktu seseorang sedang sakit, makanan-makanan yang dibutuhkan oleh pasien tidak diberikan. Dalam hal ini Solien dan Scrimshaw (dalam Foster dan Anderson, 1986 : 323) menggambarkan adanya persepsi mengenai hubungan antara makanan dan kesehatan di desa Santa Maria Cauque Guatemala, yang mengungkapkan pandangan yang keliru yaitu kesehatan yang baik memperbolehkan seseorang untuk makan berbagai jenis makanan, namun keadaan sakit membatasi pilihan seseorang terhadap makanan. Namun bagi seorang anak yang sakit, makanan yang dikurangi itu justru merupakan bagian makanan yang mengandung protein yang berkualitas baik. Misalnya apabila anak mengalami diare, makanan daging, susu dan kacang-kacangan tidak akan diberikan pada anak tersebut. Anak hanya diberi makan bubur yang hanya mengandung karbohidrat. Begitu pula makanan yang kaya akan protein seperti daging dan susu akan dihapus dari susunan makanan bagi anak yang mengidap penyakit cacing, karena dianggap akan menyebabkan cacing-cacing itu muncul.

Selanjutnya pada kasus gizi buruk dengan tipe kwashiorkor (bila ada bengkak terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab) umumnya terjadi setelah dilakukan penyapihan, yaitu ketika sang ibu hamil lagi. Sampai saat itu mungkin anak memperoleh protein yang memadai dari susu ibunya, tetapi ketika dilakukan penyapihan, anak mengalami kesulitan. Masalah ini menjadi semakin berat dengan berlakunya adat pada masyarakat yang memperlakukan bapak dan anak laki-laki yang lebih besar dilayani makan lebih dahulu daripada wanita dan anak-anak kecil. Mereka memilih makanan yang banyak mengandung protein diantara makanan yang tersedia, dan menyisakan makanan yang kurang bergizi bagi wanita dan anak-anak kecil (Foster and Anderson, 1986)

            Menurut Roedjito (1989 : 3 – 6) makanan dalam suatu masyarakat sangat ditentukan oleh keadaan sosial budayanya. Cara makan suatu masyarakat atau suatu daerah akan dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan makan. Rakyat yang hidup bermasyarakat sepanjang sejarah telah mengembangkan pola tingkah laku yang khas, bertalian dengan cara mereka melakukan kegaitan yang berhubungan dengan pangan. Dengan demikian, kegiatan memilih makanan, belanja pangan, mengawetkan, mengolah dan menghidangkan makanan akan berkembang menjadi kebiasaan dan tradisi.

Kebiasaan masyarakat ini sangat sulit untuk dirubah, walaupun adakalanya keluarga mengetahui tentang makanan yang dikonsumsi oleh anak-anaknya tidak mengandung nilai gizi, baik berkat informasi dan pengetahuan yang baru di dapat baik dari pemerintah atau informasi lainnya, namun karena adanya benturan dengan pengetahuan dan kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat, maka mereka sulit menerapkan pengetahuan baru tersebut. Dalam hal ini Margareth (dalam Foster and Anderson, 1986) menggambarkan kebiasaan makan orang Yunani, yaitu :

“Adat Yunani, menyatakan bahwa makanan adalah bukan gizi. Makanan yang baik, tidak baik untukmu. Di kota-kota ada beberapa penerbitan tentang gizi. Banyak juga ibu-ibu yang membaca petunjuk Kesejahteraan Ibu dan Anak yang memuat tentang gizi. Sangat sedikit orang Yunani memperhatikan tulisan-tulisan ini. Di kota-kota, ibu-ibu merasakan suatu tekanan pikiran terhadap pandangan tentang nilai gizi, dan merasakan seolah-olah konsumsi anak-anaknya seperti dijadwalkan, padahal adat kebiasaan mengharuskan mereka memelihara kebiasaan makan keluarga. Soal makan mereka anggap sudah tahu, apalagi di desa masalah ini bukan suatu soal yang merisaukan. Soal makan tidak begitu penting bagi anak-anak, dan tidak perlu harus diberikan makanan khusus. Jika mereka tidak suka akan telur, sebaiknya diberikan roti. Siapapun tahu bahwa anak-anak umumnya menyukai roti”.

Dengan demikian, mengembangkan kebiasaan makan, mempelajari cara yang berhubungan dengan konsumsi pangan dan menerima atau menolak bentuk atau jenis makanan tertentu, yang dimulai dari permulaan hidupnya akan menjadi bagian dari perilaku yang berakar pada masyarakat tersebut. Adat dan tradisi merupakan dasar perilaku tersebut, yang berbeda diantara kelompok yang satu dengan yang lain. Kepercayaan terhadap makanan tersebut ditentukan oleh budaya yang merupakan suatu pedoman dimana cara makan dan penerimaan terhadap makanan terbentuk. Hal tersebut diajarkan dengan seksama kepada generasi berikutnya.

IV. Landasan Teoritis

4.1. Kajian Talcott Parsons

Masalah gizi buruk pada balita tidak hanya merupakan masalah individu dan keluarga (mikro) tetapi juga terkait dengan kelangsungan suatu tatanan sosial masyarakat (makro). Landasan teoritis terhadap masalah gizi buruk tersebut dapat dikaji dari Teori Parsons (Struktural Fungsional) yang memberikan prioritas pada masyarakat. Masyarakat mendahului individu dan individu dibentuk dan dicetak sebagai yang memiliki kepribadian sosial menurut lingkungan sosialnya. Kepentingan pribadi individu mencerminkan ”kesadaran kolektif” atau sistem nilai masyarakat itu pada umumnya. Suatu prinsip dasarnya bahwa tindakan sosial itu diarahkan pada tujuannya dan diatur secara normatif.

Dalam teori Parsons penting untuk mengetahui bagaimana orientasi subyektif yang terdapat pada individu-individu yang berbeda cocok satu sama lain atau menghasilkan tindakan-tindakan yang saling tergantung yang membentuk suatu sistem sosial ?. Dalam hal ini Parson membedakan tiga unsur pokok dari tindakan warga masyarakat, yakni sistem kepribadian, sistem sosial, dan sistem budaya. Sistem budaya merupakan orientasi nilai dasar dan pola normatif  yang dilembagakan dalam sistem sosial dan diinternalisasikan dalam struktur kepribadian para anggotanya. Norma diwujudkan dalam peran-peran tertentu dalam sistem sosial yang juga disatukan dalam struktur kepribadian anggota sistem itu. Organisme perilaku merupakan energi dasar yang dinyatakan dalam pelaksanaan peran dalam sistem sosial (Johnson, 1986).

            Menurut Parson hubungan antara pelbagai sistem tindakan itu menurut kontrol sibernatik (cybernetic control) yang didasarkan pada arus informasi dari sistem budaya ke sistem sosial kemudian ke sistem kepribadian dan ke organisme perilaku. Energi yang muncul dalam arus tindakan berasal dari arah yang sebaliknya, yaitu berasal dari organisme perilaku. Menurutnya manusia melakukan tindakan karena mereka selalu mempunyai orientasi. Orientasi disini berarti tindakan tersebut selalu diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Ada dua orientasi yang menjadi latar belakang tindakan manusia, yaitu orientasi motivasional dan orientasi nilai (Johnson, 1986).

            Orientasi motivasional adalah orientasi yang berkaitan dengan keinginan individu untuk memperbesar kepuasan dan mengurangi kekecewaannya. Sedangkan orientasi nilai adalah orientasi yang berkaitan dengan standar-standar normatif yang mempengaruhi dan atau mengendalikan individu dalam mencapai tujuan tersebut. Dalam pandangan Talcott Parsons, kebebasan untuk melakukan sebuah tindakan tetap ada pada setiap individu yang hidup bermasyarakat, tetapi kebebasan tersebut dibatasi oleh standar-standar normatif yang berlaku dalam masyarakat (Johnson, 1986).

            Terkait dengan masalah gizi buruk, akar masalah dari gizi buruk  terjadi karena kemiskinan masyarakat. Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu atau rumah tangga dalam mencapai standar hidup yang maksimal, sehingga tidak mampu memberikan yang terbaik bagi anggota keluarganya, baik dari nilai gizi maupun kelayakan makanan. Secara garis besar ada hubungan kemiskinan dan kesehatan, yaitu masyarakat yang hidup dalam garis kemiskinan pada umumnya memiliki kelayakan hidup yang lebih rendah, lebih rentan terhadap penyakit menular, tingginya angka kematian pada bayi, ibu hamil dan melahirkan serta proporsi kesehatan yang sangat rendah.

            Selanjutnya pokok masalah dari timbulnya gizi buruk terkait dengan aspek sosial ekonomi keluarga. Unsur pendidikan perempuan serta adanya mitos ataupun kepercayaan pada masyarakat berpengaruh terhadap pola asuh anak dalam keluarga. Antropolog Achmad Saifudin mengemukakan bahwa kasus gizi kurang dan gizi buruk bukan masalah kesehatan semata, melainkan masalah kompleks termasuk masalah budaya (Suara Pembaharuan, Sabtu 29 April 2006).  

            Adanya pola asuh yang tidak memadai akan menjadikan anak balita tidak memperoleh makanan dengan gizi yang cukup. Anak yang kurang gizi akan menurun daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terkena penyakit infeksi. Anak yang menderita infeksi selanjutnya akan mengalami gangguan nafsu makan dan penyerapan zat-zat gizi, sehingga menyebabkan kurang gizi. Jika kondisi tersebut tidak ditangani dengan baik, maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. 

            Dengan demikian, dalam pandangan Struktural fungsional, masalah gizi buruk  pada balita terjadi karena adanya budaya dalam masyarakat tentang jenis makanan yang dimakan oleh orang atau kelompok ditentukan oleh proses sosialisasi yang mereka terima sejak kecil terutama yang diperoleh di dalam keluarga. Sosialisasi merupakan suatu proses yang paling penting dalam kehidupan masyarakat bahkan proses yang paling dasar dari terbentuknya masyarakat. Melalui proses inilah nilai, norma dan keterampilan lain diajarkan pada anak-anak dalam keluarga sebagai suatu kebiasaan makan. Kepercayaan yang hidup dalam masyarakat menurut pandangan struktural fungsional berfungsi untuk melestarikan struktur masyarakat.

 

4.2. Kajian Clifford Geertz (Makna Simbolik pada Makanan)

            Makanan merupakan sesuatu yang pokok dalam hidup. Makanan juga penting bagi pergaulan sosial. Jika tidak ada cara-cara dimana makanan dimanipulasikan secara simbolis untuk menyatakan persepsi terhadap hubungan antara individu-individu dan kelompok-kelompok maka akan sulit menggambarkan kehidupan sosial (Foster dan Anderson, 1986 : 317).

            Menurut pendekatan interpretivisme simbolik (antropologi simbolik) simbol adalah objek, kejadian, bunyi bicara, atau bentuk-bentuk tertulis yang diberi makna oleh manusia (Achmad Fedyani Saifuddin, 2006 : 289). Manusia dapat memberikan makna kepada setiap kejadian, tindakan atau objek yang berkaitan dengan pikiran, gagasan, dan emosi. Leslie White (1940, dalam Achmad Fedyani Saifuddin, 2006 : 290) mengemukakan bahwa manusia sebagai spesies yang mampu menggunakan simbol, menunjuk pentingnya konteks dalam makna simbol. Makna mengacu kepada pola-pola interpretasi dan perspektif yang dimiliki bersama yang mengejawantah dalam simbol-simbol, yang dengan simbol-simbol itu manusia mengembangkan dan mengomunikasikan pengetahuan mereka mengenai dan bersikap terhadap kehidupan.

Geertz (dalam Achmad Fedyani Saifuddin, 2006 : 298) memandang konteks kebudayaan bukan sebagai seperangkat proposisi umum, melainkan sebagai jaringan makna yang dirajut manusia dan didalamnya mereka mengoperasionalisasikan seolah mereka melaksanakan kegiatan sehari-hari. Menurutnya kebudayaan terdiri dari struktur-struktur makna yang dibangun secara sosial.

Dalam kaitannya dengan makanan, setiap masyarakat memberikan makna simbolik tertentu terhadap makanan.  Menurut Sudarti (1989 : 68 – 69) di dalam hampir semua masyarakat makanan berfungsi sebagai alat mengadakan interaksi sosial. Selanjutnya Foster dan Anderson (1986 : 317 – 322) mengemukakan tentang peranan simbolik dari makanan, yaitu :

  1. Makanan sebagai pernyataan adanya hubungan sosial

            Pada semua masyarakat, kebiasaan memberi makanan dan minuman adalah sebagai suatu pernyataan cinta kasih dan persahabatan. Menerima makanan dari seseorang sama halnya dengan menerima perasaan yang dinyatakan seseorang dan membalas perasaan orang tersebut. Disamping itu ada makanan tertentu yang merupakan simbol kekerabatan dan keramah-tamahan, misalnya garam pada masyarakat Roma.

  1. Makanan sebagai simbol pernyataan solidaritas kelompok

Kita mengenal makanan sebagai alat untuk memelihara hubungan keluarga. Misalnya pada masyarakat Indonesia sering dilakukan acara makan bersama pada waktu arisan atau pertemuan keluarga. Hal ini menunjukkan persatuan atau ada ikatan yang erat di dalam kelompok atau keluarga. Dalam pengertian yang luas makanan sebagai simbol identitas suku bangsa atau bangsa tetapi tentunya tidak semua makanan mempunyai simbol tersebut. Misalnya makanan “gudeg” sebagai identitas masyarakat Jawa Tengah, makanan “rendang” sebagai identitas suku bangsa Minangkabau.

  1. Makanan sebagai pernyataan rasa stress

Pada beberapa masyarakat ada suatu tendensi untuk lebih banyak makan dari ukuran normal pada waktu seseorang merasa susah atau pada saat mengalami stress. Sehubungan dengan hal tersebut, Burgess dan Dean menyatakan bahwa sikap terhadap makanan  sebagai refleksi rasa marah juga perasaan tertekan atau stress.

  1. Makanan sebagai simbol bahasa 

Makanan sebagai bahasa dapat dijumpai pada ungkapan-ungkapan yang ada pada masyarakat Indonesia. Misalnya ungkapan “muka masam” menunjukan orang yang sedang marah. Ungkapan “cabe rawit” menunjukan simbol orang yang pandai.

4.3. Kajian Lawrence Green (Determinan Perilaku)

            Green – Teori Lawrence Green – (dalam Soekidjo Notoatmodjo, 2007 :178 – 179) mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yakni faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor di luar perilaku (non behaviour causes). Perilaku ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor , yaitu :

  1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilia-nilai dan sebagainya.
  2. Faktor-faktor pendukung (enabling factors) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, puskesmas, obat-obatan, dan sebagainya.
  3. Faktor-faktor pendorong (renforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. Seseorang yang tidak memberikan makanan tertentu pada balita dapat disebabkan karena adanya kepercayaan dan keyakinan tentang bahan makanan yang mengandung gizi yang baik yang tidak boleh dimakan (predisposing factors). Kemungkinan lain karena tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana kesehatan karena rumahnya jauh dari fasilitas tersebut (enabling factors). Sebab lain mungkin karena para pertugas atau tokoh masyarakat lain disekitarnya tidak pernah melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan balita (renforcing factors).

Dalam kajian tentang masalah gizi buruk pada balita dalam konteks budaya, maka determinan perilaku yang penting  adalah faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yaitu pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, serta nilai-nilai seseorang karena pengaruh kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat tersebut sehingga dapat mempengaruhi pola asuh ibu dalam memberikan asupan makanan pada anaknya.

Analisis Teoritis terhadap Masalah Gizi Buruk pada Balita

Pengertian kebudayaan yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa kebudayaan berwujud gagasan dan tingkah laku manusia berakar dalam sistem organisme manusia. Kebudayaan tidak lepas dari kepribadian individu melalui suatu proses belajar yang panjang, dan menjadi milik dari masing-masing individu warga masyarakat yang bersangkutan. Dalam proses itu kepribadian atau watak tiap individu mempunyai pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan itu dalam keseluruhannya. Akhirnya, gagasan, tingkah laku atau tindakan manusia itu ditata, dikendali dan dimantapkan pola-polanya oleh berbagai sistem nilai dan norma yang seolah-olah berada di atasnya.

Pandangan mengenai kebudayaan ini dapat mempergunakan kerangka Talcott Parson yang dioperasionalkan dengan kajian dari Clifford Geertz bahwa kebudayaan adalah jaringan makna dan kajian Lawrence Green yang mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kerangka teoritis terhadap tiga kajian teoritis dapat disajikan pada bagan 2 di bawah ini.

 

            Dalam kerangka Parsons, kebudayaan dalam keseluruhan dibedakan pada empat komponen yaitu (1) sistem budaya, (2) sistem sosial, (3) sistem kepribadian, dan (4) organisme perilaku. Keempat komponen tersebut walaupun satu sama lain saling berkaitan, namun masing-masing memiliki sifatnya sendiri-sendiri. Sistem budaya, merupakan komponen yang abstrak dari kebudayaan, dalam bahasa Indonesia lazim disebut adat istiadat, yang memiliki fungsi untuk menata dan memantapkan tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia. Sistem sosial, terdiri dari aktivitas manusia berinteraksi antar individu dalam rangka kehidupan masyarakat. Interaksi manusia itu di satu pihak ditata dan diatur oleh sistem budaya, tetapi di pihak lain dibudayakan menjadi pranata-pranata oleh nilai-nilai dan norma. Sistem kepribadian individu dalam masyarakat walaupun berbeda-beda satu dengan yang lain, namun juga distimulasi dan dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma dalam sistem budaya dan oleh pola-pola bertindak dalam sistem sosial yang telah diinternalisasinya melalui proses sosialisasi dan proses pembudayaan selama hidup sejak masa kecilnya. Selanjutnya pada sistem organik ikut menentukan kepribadian individu, pola-pola tindakan manusia dan bahkan gagasan-gagasannya.

            Dalam kerangka Parsons tersebut, Geertz menjelaskan bahwa kebudayaan adalah jaringan makna yang dirajut manusia dan didalamnya mereka mengoperasionalisasikan seolah mereka melaksanakan kegiatan sehari-hari. Menurut Geertz kebudayaan terdiri dari struktur-struktur makna yang dibangun secara sosial. Makna mengacu kepada pola-pola interpretasi dan perspektif yang dimiliki bersama yang mengejawantah dalam simbol-simbol, yang dengan simbol-simbol itu manusia mengembangkan dan mengkomunikasikan pengetahuan mereka mengenai dan bersikap terhadap kehidupan. Selanjutnya kajian Green menjelaskan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan.

Dengan demikian, perilaku (tindakan) seseorang dalam suatu masyarakat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :

  1. Sistem budaya yang merupakan orientasi nilai dasar dan pola normatif  yang dilembagakan dalam sistem sosial dan diinternalisasikan dalam struktur kepribadian para anggotanya.
  2. Makna  yang dimiliki bersama yang mengejawantah dalam simbol-simbol, yang dengan simbol-simbol itu manusia mengembangkan dan mengomunikasikan pengetahuan mereka mengenai dan bersikap terhadap kehidupan.
  3. Pengetahuan, sikap, kepercayaan dan tradisi dari orang atau masyarakat yang bersangkutan.

 Dalam kaitannya dengan masalah gizi  buruk pada balita, perilaku seseorang dalam hal ini ibu dalam memberikan asupan makanan pada anaknya, ditentukan oleh sistem budaya yang berlaku dalam masyarakat. Melalui proses sosialisasi, adanya kepercayaan dan kebiasaan tentang makanan yang berlaku dalam suatu masyarakat akan memberikan pengaruh tentang “makna” makanan pada kehidupan mereka. Kepercayaan dan kebiasaan tersebut menjadi pengetahuan mereka yang diperoleh dan diajarkan secara turun temurun melalui proses sosialisasi dalam keluarga dan selanjutnya menjadi perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari

V. Solusi pada Masalah Gizi Buruk dalam Konteks Budaya

Dalam usaha untuk memperbaiki masalah gizi buruk, maka analisa klinis  terhadap kekurangan gizi merupakan langkah awal. Anak balita yang mengalami gizi buruk akan mengalami kemajuan namun memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman tentang fungsi sosial dari makanan, arti simbolik dan kepercayaan-kepercayaan yang terkait dengan makanan. Dalam hal ini pengetahuan lokal (Indigeneous knowledge : merupakan refleksi dari kebudayaan dan masyarakat setempat yang di dalamnya terkandung tata nilai, etika, norma, aturan, dan keterampilan dari suatu masyarakat dalam memenuhi tantangan hidupnya) masyarakat dapat digunakan untuk perencanaan perbaikan gizi masyarakat.

Kemiskinan dan kekurangan akan gizi yang memadai pada tingkatan tertentu, membatasi kemungkinan untuk memperbaiki gizi masyarakat. Namun praktek-praktek budaya seringkali memberikan hambatan terhadap kebutuhan dasar akan makanan bergizi. Adanya kesadaran akan praktek-praktek budaya yang menghambat tersebut serta pengetahuan tentang hambatan-hambatan yang harus diatasi untuk dapat merubah mereka sangat penting untuk membantu masyarakat memaksimalkan sumber-sumber pangan yang tersedia di lingkungan mereka.

Pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan merupakan upaya untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan dalam memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Soekidjo, 2007 : 108-109). Depatemen Kesehatan merumuskan pemberdayaan masyarakat sebagai upaya fasilitasi yang bersifat noninstruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada baik dari instansi lintas sektoral maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tokoh masyarakat.

Adapun tujuan  pemberdayaan masyarakat di  bidang kesehatan adalah sebagai berikut :

  1. Tumbuhnya kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman akan kesehatan individu, kelompok atau masyarakat. Pengetahuan dan kesadaran tentang cara-cara memelihara dan meningkatkan kesehatan adalah awal dari keberdayaan kesehatan. Kesadaran dan pengetahuan merupakan tahap awal timbulnya kemampuan, karena kemampuan merupakan hasil proses belajar. Oleh karena itu penting adanya informasi kesehatan untuk menimbulkan kesadaran dan hasilnya adalah pengetahuan kesehatan.
  2. Timbulnya kemauan atau kehendak sebagai bentuk lanjutan dari kesadaran dan pemahaman terhadap kesehatan. Kemauan atau kehendak merupakan kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan. Berlanjut atau tidaknya kemauan menjadi tindakan sangat tergantung dari berbagai faktor. Faktor yang paling utama yang mendukung berlanjutnya kemauan adalah sarana atau prasarana untuk mendukung tindakan tersebut.
  3. Timbulnya kemampuan masyarakat di bidang kesehatan yang berarti masyarakat baik secara individu maupun kelompok, telah mampu mewujudkan kemauan atau niat kesehatan mereka dalam bentuk tindakan atau perilaku sehat.

 Menurut Soekidjo (2007 : 109-112) kemampuan masyarakat dalam bidang kesehatan sesungguhnya mempunyai pengertian yang luas. Masyarakat yang mampu atau masyarakat yang mandiri di bidang kesehatan apabila :

  1. Mampu mengenali masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan, terutama di lingkungan atau masyarakat setempat. Agar masyarakat mampu mengenali masalah kesehatan dan faKtor-faktor yang mempengaruhinya, masyarakat harus mempunyai pengetahuan kesehatan yang baik, yaitu :

a. Pengetahuan tentang penyakit meliputi pengetahuan tentang nama atau jenis penyakit, tanda atau gejala-gejala penyakit, penyebab penyakit, cara pencegahan penyakit, dan tempat-tempat pelayanan kesehatan yang tepat untuk mencari penyembuhan (pengobatan).

b.  Pengetahuan tentang gizi dan makanan yang harus dikonsumsi oleh seseorang dalam hal ini balita. Pengetahuan tentang gizi yang harus dimiliki masyarakat antara lain kebutuhan-kebutuhan zat dan gizi atau nutrisi bagi tubuh yakni karbohidrat, protein, lemak, vitamin-vitamin dan mineral. Disamping itu, jenis makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh baik secara kualitas maupun kuantitas, serta akibat atau penyakit-penyakit yang disebabkan karena kekurangan gizi.

  1. Mampu mengatasi masalah-masalah kesehatan mereka sendiri secara mandiri. Masyarakat yang mandiri dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan adalah masyarakat yang mampu menggali potensi-potensi masyarakat setempat untuk mengatasi masalah kesehatan mereka.
  2. Mampu memelihara dan melindungi diri baik individual, kelompok atau masyarakat dari ancaman-ancaman kesehatan. Dengan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan yang tinggi, masyarakat mampu memelihara dan melindunginya dari segala bentuk ancaman kesehatan. Dengan kata lain, masyarakat mampu melakukan antisipasi dengan upaya pencegahan.
  3. Mampu meningkatkan kesehatan baik individu, kelompok maupun masyarakat secara terus menerus.

     Pemberdayaan masyarakat pada akhirnya akan menghasilkan kemandirian masyarakat. Pemberdayaan masyarakat merupakan proses, sedangkan kemandirian masyarakat merupakan hasilnya. Kemandirian masyarakat dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan pemecahan masalahnya dengan memanfaatkan potensi setempat tanpa tergantung pada bantuan dari pihak luar.

            Potensi yang dimiliki oleh suatu masyarakat berbeda-beda. Baik invidu, kelompok maupun masyarakat mempunyai potensi yang berbeda satu dengan lainnya. Potensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu potensi sumber daya manusia (penduduk) dan potensi sumber daya alam. Potensi sumber daya manusia   antara lain dalam bentuk kuantitas yaitu jumlah penduduk, dan dalam bentuk kualitas yaitu status atau kondisi sosial ekonomi penduduk tersebut. Sedangkan potensi sumber daya alam di masing-masing komunitas berbeda, ada komunitas yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan ada komunitas yang sumber daya alamnya sangat miskin. Potensi sumber daya alam memang kurang penting dibandingkan dengan potensi sumber daya manusia. Walaupun potensi sumber daya alam melimpah, apabila kualitas sumber daya manusianya rendah, maka komunitas tersebut tetap akan tertinggal, karena sumber daya manusianya tidak mampu mengelola sumber daya alam tersebut.

            Oleh karena itu, peran petugas (provider) yang utama adalah memampukan masyarakat untuk mengenal potensi mereka sendiri, baik potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Melalui bantuan petugas, masyarakat dibimbing untuk mengembangkan potensi mereka sendiri, sehingga masyarakat yang bersangkutan dapat menemukan upaya-upaya pemecahan masalah mereka sendiri berdasarkan kemampuan yang mereka miliki. 

 
  VI. PenutupBeberapa hasil kajian menunjukan bahwa masalah gizi buruk pada balita terkait dengan beberapa faktor penyebab yang kompleks, namun faktor budaya turut berperan dalam masalah ini. Adanya kepercayaan dan kebiasaan tentang makanan yang berlaku dalam suatu masyarakat memberikan pengaruh tentang “makna” makanan pada kehidupan mereka. Kepercayaan dan kebiasaan tersebut menjadi pengetahuan mereka yang diperoleh dan diajarkan secara turun temurun melalui proses sosialisasi dalam keluarga dan selanjutnya menjadi perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.

            Adanya pola asuh yang tidak memadai akan menjadikan anak balita tidak memperoleh makanan dengan gizi yang cukup. Anak yang kurang gizi akan menurun daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terkena penyakit infeksi. Anak yang menderita infeksi selanjutnya akan mengalami gangguan nafsu makan dan penyerapan zat-zat gizi, sehingga menyebabkan anak balita mengalami gizi buruk. Jika kondisi tersebut tidak ditangani dengan baik, maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. 

Solusi  terhadap masalah gizi buruk pada balita selain diperlukan penanganan klinis, perlu adanya penyadaran pada masyarakat tentang masalah yang mereka hadapi. Melalui pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, diharapkan tumbuhnya kesadaran, pengetahuan, kemauan dan akhirnya kemampuan masyarakat tentang perilaku sehat. Pemberdayaan masyarakat pada akhirnya akan menghasilkan kemandirian masyarakat yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan pemecahan masalahnya dengan memanfaatkan potensi setempat tanpa tergantung pada bantuan dari pihak luar.

 DAFTAR PUSTAKA

 Buku

Achmad Djaeni Sediaotama. 2006. Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Dian Rakyat.

Achmad Fedyani Saifuddin. 2006. Antropologi Kontemporer. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Albert, Gary, Ray Fitzpatrick, and Susan C. Schrimshaw. 2003. Social Studies in Health and Medicine. London : Sage Publication Ltd.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon. 2003. Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Cirebon tahun 2003. Cirebon.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon. 2007. Kabupaten Cirebon Dalam Angka. Cirebon.

Badan Pusat Statistik. 2007. Data dan Informasi Kemiskinan 2005 – 2006 (Kabupaten). Jakarta.

Departmen Kesehatan RI. 2000. Buku Panduan Pengelolaan Program Perbaikan Gizi Kabupaten/Kota. Jakarta.

———-. 2007. Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Jakarta.

Foster, George M, Barbara Gallatin Anderson. 2006. Antropologi Kesehatan. Jakarta : Universitas Indonesia.

Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern I. Jakarta : PT. Gramedia.

Kaplan, David. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Keesing, Roger M. 1999. Antropologi Budaya. Jakarta : Erlangga.

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Macionis, John J. 2003. Sociology – Ninth Edition. New Jersey : Prentice Hall.

Mc. Elroy, Ann and Patricia K. Townsend. 1979. Medical Antropology in Ecological Perspective. North Scituate, Massachussets : Duxbury Press.

Soekidjo Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.

Solita Sarwono. 2007. Sosiologi Kesehatan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Sjahmien Moehji. 2003. Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Bharatara Niaga Media.

Sri Meiyenti. 2006. Gizi dalam Perspektif Sosial Budaya. Padang : Andalas University Press.

Suharjo. 2003. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Jakarta : Bumi Aksara.

Yudistira K. Garna. 2006. Teori Sosial Pembangunan.  

Laporan Penelitian

Ratih Dharmi Woelandaroe. 2002. A Comparison of The Incidence of Malnutrition in West Java and Lampung Provinces in  Indonesia – A Review. Sydney : The University of New South Wales.

Sri Meiyenti. 2001.  Aspek Sosial Budaya Tentang Gizi (Studi kasus pengaturan makanan bayi dan balita pada empat rumah tangga di Desa Ganting Kecamatan Seluruh Koto Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat). Bandung : Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Artikel

Abi.2007.Cirebon Masih Punya 8.000 Balita Gizi Buruk dan 28.000 Kurang Gizi. http://www.republika.co.id.

Eri. 2007. Kondisi Gizi Buruk pada Balita di Jawa Barat.

http://www.diskes.jabarprov.go.id/?mod=detilSorotan&idMenuKiri=345&idSorotan=33 diambil tanggal 15 April 2008.

Diambil dari (http://www.koalisi.org/dokumen /dokumen38911.pdf). Perlu Kemitraan untuk Tangani Masalah Gizi Buruk.

Jaringan Informasi Pangan dan Gizi. Cukup Pangan, Bebas Gizi Buruk, Masa Depan Cerah. Volume IX, No. 1, 2002.

———-. Gizi Baik Modal Kehidupan. Volume X, No. 1, 2002.

———-. Gizi Buruk Kembali Menyerang Balita di Indonesia. Volume XIII, No. 1, 2006. 

Media Indonesia. 2005. Balita Kurang Gizi di Cirebon Lebih dari 4.000. Senin, 13 Juni 2005.

Suara Pembaruan. 2006. Ubah Paradigma Pembangunan Kesehatan. Sabtu, 29 April 2006.

 

 

 

Leave a comment

Your comment