Page 1
Image

FALLACIES IN ECONOMIC DEVELOPMENT THEORY

Pembangunan ekonomi adalah aspek multidimensi, non-liniear, dan hal yang sangat dinamis yang melibatkan banyak factor yang secara sistematis saling berinteraksi dengan atau tanpa pola. Dengan mengasumsikan teori dapat diaplikasikan secara luas dan mutlak, para ekonomi seringkali mendapatkan kekeliruan dalam menyimpulkan suatu fenomena. Sebagai contoh : dalam model sederhana tentang pertumbuhan ekonomi, ekonom seringkali salah membuat model yang relevan karena kesalahan komposisi. Dalam kesalahan pola pikir ekonomi pembangunan, dikenal 3 jenis kesalahan, yakni sebagai berikut :

  1. Post-Hoc
  2. Komposisi
  3. Subjektivitas

No Area of Economics has Whole Experienced”

Hal tersebut lah yang mendasari pentingnya belajar dari berbagai sumber yang berbeda. Karena, pada dasarnya setiap ekonom adalah akademisi yang terus belajar dari kesalahan masa lalu. Suatu fenomena ekonomi yang terjadi di masa lampau tidak serta merta menjelaskan fenomena yang sama di masa mendatang. Contohnya, Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 yang disebabkan karena krisis Bath di Thailand berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Hal yang sama (baca : krisis moneter) terjadi juga pada tahun 2008 yang menimpa Indonesia dengan ditandai Rupiah yang tergerus hampir menyentuh 15.000/1USD. Lalu, Hal yang sama terjadi lagi di tahun 2018, dimana rupiah melemah hingga 15.358/1USD akibat perang dagang antara Amerika dengan China. Hal ini tentu memiliki kata kunci yang sama yaitu “Krisis moneter”, namun dengan intensitas dan penyebab yang berbeda. Maka dari itu, Penulis Artikel yang bernama Irma Ameldan menyebutkan 3 faktor yang menyebabkan perubahan dalam suatu fenomena ekonomi yang massif, Yakni : ideology suatu negara, Kondisi Institusi, dan Kultur Disiplin Ilmu Ekonomi yang dimiliki.

Development Path are Unique”

Pembangunan ekonomi adalah hal yang unik. Ia bukan elemen material seperti tanah, api, batu, atau angin. Ia juga bukan Fairy Dust atau bubuk mistis yang bias mewujudkan setiap keinginan orang. Tapi lebih dari itu, pembangunan ekonomi adalah seperti organisme. Ia hidup berdasarkan reaksi yang diberikan suatu peradaban. Ekonom dari awal tahun 1950an hingga sekarang masih berusaha untuk me-redefinisikan konsep pembangunan yang bisa mengakomodasi seluruh aspek realitas yang terjadi. Jika kita kembali pada zaman adam smith di tahun 1776. Ekonom Kapitalis dengan kebanggannya mengungkapkan bahwa pembangunan ekonomi semata-mata hanyalah spesialisasi tenaga kerja dan kapitalisasi pasar. Hal tersebut yang menginspirasi negara – negara maju menjdi colonial dan menjajah negara dunia ketiga. Berkembang di awal abad 19, dimana konsep ekonomi klasik digaungkan dan menjadi pedoman hampir di seluruh negara di dunia. Gold, Glory, Gospel, adalah 3 hal yang ingin dikuasai negara colonial pada abad 17 diakibatkkan propaganda Laissez fairez oleh adam Smith.

Adapun menurut Imelda, ada 5 kesalahan dalam 60 abad terakhir yang dilakukan para cendekiawan ekonomi, pemerintah, dan pelaku ekonomi dalam memahami fenomena ekonomi pembangunan. Yakni sebagai berikut :

  1. Penyebab negara tidak berkembang hanya dipengaruhi satu factor, yaitu intensitas GNP yang kecil
  2. Factor X dalam pembangunan ekonomi berkembang tiap beberapa tahun. Yakni modal fisik, kewirausahaan, harga relative, perdagangan internasional, intervensi pemerintah, dan modal manusia serta teknologi
  3. Hanya menggunakan satu kriteria untuk mengevaluasi kinerja pembangunan (GNP)
  4. Pembangunan hanyalah proses yang linear dan tidak punya keunikan tersendiri
  5. Hanya Kondisi internal yang mempengaruhi pembangunan ekonomi

Dari hal diatas, dapat disimpulkan bahwa kegagalan ekonom ada masanya dalam menjelaskan, memprediksi, dan menganalisa fenomena pembangunan ekonomi tidak terlepas dari factor internal dan eksternal. Maka dari itu, dalam mempelajari ilmu ekonomi, kita harus terus menambah wawasan dan tidak percaya hanya 1 mazhab atau fenomena yang bisa men-generalisir suatu penyebab permasalahan karena sejatinya ilmu ekonomi adalah perpaduan antara ilmu eksakta dan humaniora yang masih memiliki sifat relative pada kondisi ruang dan waktu.