Comparative Economic Development

Dalam bab ini, kita akan mengidentifikasi esensi pembangunan ekonomi secara substantive. Kita akan mengetahui bagaimana konsep ekonomi pembangunan mengukur indicator kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan kuantitatfi antar negara. Contohnya seperti :

  1. Tingkat Modal manusia
  2. Tingat Populasi
  3. Letak geografis dari perspektif spasial
  4. System ekonomi
  5. Pemerintahan dan administrasi negara
  6. Pasar

Lalu, selanjutnya kita akan berusaha mengetahui adanya hubungan antara factor-faktor yang memengaruhi pembangunan ekonomi dengan realitas yang ada (Dengan menggunakan referensi studi empiris).

Mendefinisikan Perkembangan Dunia saat ini

Cara yang paling sederhana untuk mengklasifikasikan tingkat dan sejauh mana negara-negara memiliki prestasi ekonomi yakni dengan menggunakan data pendapatan per kapita. Bank Dunia sudah membuat Klasifikasi negara dengan berbagai pendapatan per kapita. Sebagai konsep, yakni :

  1. Low Income Countries, yakni negara dengan pendapatan perkapita dibawah $1.025 (standar tahun 2011)
  2. Middle Income Countries, yakni negara dengan pendapatan per kapita antara $1.025-$12.475 (standar tahun 2011)
  3. High Income Countries, yakni negara dengan pendapatan per kapita diatas $12.475 (standar tahun 2011)

Macam-macam Indikator Dasar : Pendapatan rii, kesehatan, dan pendidikan

Purchasing Power Parity

Sebelumnya kita telah mengetahui konsep dari pendapatan nasional, yakni adalah jumlah nilai akhir seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh factor produksi dalam negeri dalam satu tahun. Sedangkan Indeks daya beli (Purchasing Power parity/PPP) berasal dari kalkulasi GNI dan menggunakan indeks dari satu komoditas yang dikonsumsi secara universal disesuaikan dengan standar hidup antar negara.

Helath and Education

Selain indicator secara ekonomi, adapun indicator kesehatan dan pendidikan. UNDP telah merumuskan bahwa modal manusia adalah bagian dari tujuan pembangunan berkelanjutan. Dimana : kesehatan dengan indicator

  1. Tingkat Mortalitas dan fertilitas
  2. Tingkat Pemenuhan Gizi
  3. Kebersihan lingkungan
  4. Angka Harapan Hidup

Sedangkan Pendidikan :

  1. Tingkat partisipasi kasar dalam pendidikan formal
  2. Tingkat Literasi media, pendidikan, politik, dan budaya
  3. Tingkat Partisipasi tenaga kerja di Sektor formal dan informal serta perbandingannya

Indeks Pembangunan Manusia / Human Capital Index adalah indeks yang mengukur indicator sosioekonomi yang diindikasi dengan target pencapaian aspek pendidikan, kesehatan, dan pendapatan perkapita sebagai bentuk kemajuan pembangunan berkelanjutan. Konsep HDI dikenal luas sejak awal 1990an, namun kini berkembang NHDI yakni Indeks Pembangunan ekonomi baru. Indeks ini berusaha mengetahui tiga aspek tadi dengan indicator yang lebih spesifik (Todaro, 2009:54). Adapun berikut contoh perhitungan NHDI (dikutip dari Todaro) :

Karakteristik Negara Berkembang : Serupa namun tak sama ?

Taraf Hidup yang rendah

Dalam konsep pembangunan ekonomi, masalah makro yang sering kita jumpai adalah kemiskinan. Hal ini tidak terlepas daripada akibat dan konsekuensi dari pembanguan itu sendiri. Dimana, negara maju dan negara berkembang saling berdagang dan mendapatkan keuntungan serta kerugian. Negara yang kalah dan tidak bisa bersaing secara ekonomi harus merasakan susahnya hidup ditengah kemajuan zaman. Adapun konsep kemiskinan ini sekarang telah berkembang secara multidimensi bahwa bukan ekonomi saja yang mempengaruhi kesejahteraan seseorang,namun pendidikan, kesehatan, dan unsur social lain yang ikut berkontribusi dalam suatu system. Maka dari itu dikenal konsep Lingkaran Setan Kemiskinan dimana rantai dari kemiskinan itu berawal dari pendidikan dan kesehatan yang rendah. Apabila seseorang tidak bisa bersekolah maka ia akan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak, apabila ia tidak mendapatkan pekerjaan yang layak ia tidak akan mendapatkan upah yang layak, apabila ia tidak mendapatkan upah yang layak, ia tidak mendapatkan penghidupan yang layak seperti makanan bergizi, rumah yang ehat, dan sandang yang layak pakai. Apabila penghidupannya tidak baik maka ia tidak bisa mendapatkan akses pendidikan yang baik. Terus berputar seperti itu.

Dalam bagan diatas dapat dilihat bahwa kontribusi pendapatan nasional secara global tidak meratas jika dibandingkan dengan banyaknya populasi di masing-masing negara. Mayoritas negara berkembang di benua asia, afrika, dan amerika latin hanya menyumbang kurang dari 50 % padahal populasinya ¾ dunia. Sebaliknya berlaku kepada negara maju yang ¼ penduduknya menyumbang lebih dari 50 % kontribusi pendapatan nasional secara global.

Tabel diatas menjelaskan lebih rinci negara mana saja yang dianggap memilii populasi yang besar dan berbanding terbalik dengan produktivitas nya dalam menghasilkan barang dan jasa akhir (GDP). Bisa kita lihat bahwa Indonesia pada tahun 2008 memiiliki jumlah penduduk sebanyak 227 juta jiwa yang hanya memiliki pendapatan per kapita 1.880 US$.

Underdevelopment Market : True or False ?

Hal diatas bisa saja menjadi benar, yang menyebabkan bahwa rendahnya pembangunan diindikatori dengan segmen pasar yang tidak berkembang. Menurut Todaro, hal ini diindikasi dengan :

  1. Birokasi pemerintahan yang masih KKN
  2. Pembangunan Infrastruktur yang kurang memadai
  3. Kebijakan moneter dan fiscal yang tidak efisien dan tepat sasaran

Tentu saja ketiga hal diatas dapat menyebabkan kegagalan pasar yang akan berujng pada kegagalan pemerintahan. Hal ini tidak dapat dibiarkan terus menerus karena akan berujung pada Chaos (Krisis moneter). Menurut Prof. Mahfud M.D setidaknya ada 5 “dis” yang akan menjatuhkan perekonomian dan konstitusi suatu negara. Yakni :

  1. Disfunction
  2. Distrust
  3. Disobey
  4. Disintegration

How low-income countries today differ from Developed countries in their earlier stages ?

Adapun perbedaan antara negara berpendapatan rendah dengan negara berkembang yakni sebagai berikut :

  1. Modal manusia dan fisik
  2. Pendapatan per kapita
  3. Iklim
  4. Populasi serta distribusi dan polanya
  5. Riwayat migrasi internasional
  6. Keuntungan perdagangan internasional
  7. Kapabilitas pengembangan riset dan teknologi
  8. Efisiensi institusi domestic

Are Living Standards of Developing and Developed Nations Converging ?

Konsep konvergensi antara negara berkembang dan negara maju sudah lama dikembangkan oleh Robert Solow dalam Solow Growth modelnya. Ia menjelaskan bahwa negara berkembang dengan modal fisik dan manusia serta factor produksinya akan cenderung untuk cepat dalam meningkatkan pendapatan perkapita dan taraf hidup masyarakatnya. Akan ada fenomena “catching up” yang ditandai dengan meningkatnya teknologi sebagai variable independen dalam fungsi produksi dan berakibat pada “leapfrog” dimana negara maju dan negara berkembang akan setara pendapatan per kapitanya di suatu waktu. Ini adalah potensi bagi seluruh negara di bagian dunia manapun untuk mengejar ketertinggalan. Dengan mengoptimalkan keunggulan komparatif yang dimiliki, semua akan berhasil pada waktunya.

Dalam grafik diatas, kita dapat mengetahui bahwa pada tahun 1950-2007 pendapatan per kapita negara berkembang sejajar (atau mendekati) negara maju. Hal ini dapat dipengaruhi berbagai factor empiris, seperti : hambatan perdagangan yang mulai dihilangkan seiring kerjasama ekonomi regional, maupun internasional, transfer teknologi antar negara berkembang yang terus meningkat, mulai membaiknya iklim investasi di negara berkembang oleh pemodal luar negeri.

Long-run Causes of Economic Development

Dalam skema diatas, kita dapat mengetahui bahwa pembangunan ekonomi dipengaruhi oleh banyak hal. Hubungan yang diawali dengan aspek geografi dapat mempengaruhi kondisi pasar, struktur ekeonomi, dan masalah makro ekonomi. Maka dari itu, para ekonom harus perlu membaharui teorinya dengan isu yang relevan dengan kondisi saat ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.