Category: PERTANIAN (ON FARM)


Pupuk Organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organic yang berasal dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik.
Pupuk organic mempunyai kegunaan :
1. Dengan penggunaan pupuk organic atau pengembalian bahan organik ke dalam tanah akan berpengaruh pada kesuburan tanah sehingga :
- Peningkatan Produksi Hasil Pertanian
- Efisiensi Penggunaan Pupuk
- Menjaga kelestarian Lingkungan Hidup
2. Mmeperbaiki tekstur tanah
3. Memperkaya unsur hara makro dan mikro

Lalu apa yang dimaksud dengan bahan organik tanah ?
Bahan organik yaitu bahan yang berasal dari limbah tumbuhan atau hewan atau produk sampingan seperti pupuk kandang atau unggas . Atau dengan kata lain merupakan merupakan hasil dari pelapukan sisa – sisa tanaman dan binatang yang bercampur dengan bahan mineral tanah pada lapisan atas tanah.Pada umumnya bahan organik mempunyai C?N rasio tinggi (lebih besar dari 30 ), sehinga bila digunakan langsung pada lahan pertanian akan mengganggu pertumbuhan tanaman karena terjadi proses fermentasi dalam tanah.
Bahan organic tanah merupakan bagian dari tanah yang berfungsi :
1. Meningkatkan kesuburan tanah dan menyediakan mikro hara dan factor – factor perumbuhan lainnya yang biasanya tidak disediakan oleh pupuk kimia (anorganik)
2. Tanah dengan bahan organik yang rendah ,mempunyai daya sangga hara yang rendah, sehingga pemupukan kurang efisien.
3. Tanah yang subur mengandung bahan organik sekitar 3 – 5 %
Sifat – sifat bahan organik tanah :
- Fisika : memperbaiki struktur tanah , memperbaiki aerasi tanah , meningkatkan daya menyangga air tanah, menekan laju erosi
- Kimia : Menyangga dan menyediakan hara tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, menetralkan sifat racun Al dan Fe
- Biologi : sumber energy bagi jasad renik /mikroba tanah yang mampu melepaskan hara bagi tanaman
- Mampu menyeimbangkan hara dalam tanah dan menyediakan hara bagi tanaman secara efisien
Bagaimana dengan keadaan tanah pertanian kita sekarang?
- Kondisi kandungan C organik pada lahan pertanian (sawah dan kering) sangat rendah (rata-rata < 2 %) Hal ini disebabkan lahan – lahan yang dikelola secara intensif tanpa memperhatikan kelestarian kesehatan tanah ( tanpa usaha pengembalian bahan organik ke tanah)
- Hal ini menjadi salah satu sebab terjadinya pelandaian produktifitas meskipun jenis dan dosis pupuk kimia ditingkatkan, karena tanah telah menjadi SAKIT.
Karena tanah sudah sakit maka kita perlu memperbaiki kesuburan tanah dengan menambah C organik dengan menggunakan pupuk organik hingga tanah kembali normal.
Untuk itu mari kita menggunakan pupuk organik dan kita kurangi pupuk kimia atau bahkan sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia supaya kita memperoleh manfaat jangka panjang untuk menjaga kelestarian kesuburan tanah. Selain itu kita peroleh manfaat lain yaitu meningkatkan produksi pertanian.

gambar-gambar pupuk sob!  (jangan diliat dari bentuk,warna dan baunya, tapi kita liat dari manfaatnya) (ada hikmahnya juga ya)

dapet dari mba google.com dan teman-temannya

Akhir-akhir ini, kebutuhan akan penggunaan pupuk kimia untuk lahan pertanian semakin meningkat. Sementara pupuk organik (kompos) mulai ditinggalkan. Sebelum diperkenalkannya pupuk kimia ini kepada masyarakat, kompos telah menjadi kebutuhan dan incaran petani untuk meningkatkan produksi pertaniannya. Kini para petani lebih menyukai pupuk kimia dibandingkan kompos. Mereka beralasan pupuk kimia mempunyai kandungan unsur hara yang baik dan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Sedangkan kompos, menurut mereka, tidak mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Bahkan beberapa petani menggunakan pupuk kimia secara berlebihan.

Diakui, pada pemakaian pertama pupuk kimia pada lahan pertanian memang kuantitas produksi meningkat drastis, lebih banyak dari pada penggunaan pupuk kompos. Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang selama ini dikhawatirkan muncul, produksi pertanianpun menurun. Namun, petanipun tak juga sadar, malah semakin menambah kuantitas pupuk kimia yang digunakan, dengan harapan produksi kembali stabil. Tahun berganti tahun, harapan para petani akan meningkatnya produksi mereka tak kunjung datang, kuantitas produksi malah semakin menurun.

Memang benar, pupuk kimia mengandung unsur hara dan nutrisi lebih banyak dibandingkan kompos. Namun hanya sebatas itu. Pupuk kimia terbukti tidak mampu memperbaiki kondisi tanah. Sedangkan kompos, meskipun mengandung unsur hara yang lebih sedikit dari pada pupuk kimia, namun dapat memperbaiki kondisi tanah dan menjaga fungsi tanah agar unsur hara yang terkandung dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman.

Pada dasarnya, penggunaan pupuk kimia tidak menjadi masalah serius jika digunakan seimbang dengan kompos. Yang perlu menjadi cacatan kita adalah tidak menggunakan pupuk kimia secara berlebihan. Hal ini dikarenakan pupuk kimia dapat mencemari dan merusak lingkungan (tanah) jika digunakan berlebihan. Dibandingkan kompos, pupuk kimia sangat sulit diserap oleh tanaman, sulit diuraikan air, dan dapat meracuni produk yang dihasilkan oleh tanaman.

Hasil penelitian menunjukkan pupuk kimia mengandung radikal bebas dan berbahaya bagi manusia karena dapat mengendap didalam buah yang dihasilkan. Sebagian pupuk kimia yang tidak diserap oleh tanaman juga akan menumpuk ditanah dan tidak dapat diuraikan oleh air. Kondisi seperti ini menjadikan tanah tidak produtif. Akibatnya mikroorganisme yang bertugas menggemburkan tanah tidak akan beraktivitas ditanah tersebut.

Mikroorganisme yang ada didalam tanah lebih menyukai kompos dibandingkan pupuk kimia. Kondisi kompos yang alami memudahkan mikroorganisme didalam tanah untuk berkembang dan beraktivitas.
Hasil penelitian juga mengungkapkan kompos mampu menetralkan pH tanah. Tanaman lebih mudah menyerap unsur hara pada kondisi pH tanah yang netral (pH=7). Kondisi seperti ini tidak mampu dilakukan dengan penggunaan pupuk kimia semata.

Sampah Kota sebagai Kompos
Dalam masalah pengelolaan sampah, Indonesia harus belajar banyak dengan negara-negara maju dan berkembang lainnya. Dibeberapa negara maju, masalah pengelolaan sampah menjadi perhatian serius bagi pemerintah, sama serius dengan masalah ekonomi. Hal ini dikarenakan, disatu sisi sampah dapat berdaya guna dan memberikan keuntungan secara ekonomi jika didaur ulang dan diubah dalam bentuk yang lebih bermanfaat. Disisi lain, sampah-sampah yang tidak dibudidayagunakan dan menumpuk disuatu tempat dapat menjadi sarang penyakit serta mengeluarkan bau yang tidak sedap. Dari segi estetikapun akan tampak kurang bagus.

Sejauh ini, penulis mengamati sampah kota kurang menjadi perhatian dan dimanfaatkan. Dalam masalah pengelolaan sampah ini, umumnya, pemerintah kota di Indonesia masih memakai cara lama, yaitu mengumpulkan sampah-sampah dari masyarakat dan menumpukkannya ke suatu tempat khusus pembuangan sampah. yang dinamakan TPA (Tempat Pembuangan Sampah Akhir). Disamping menimbulkan bau yang tidak sedap, sampah yang ditumpuk tersebut dapat menjadi sarang penyakit. Jika daerah tempat pembuangan sampah tersebut sudah penuh, maka pemerintah membuka tempat pembuangan sampah yang baru. Lagi-lagi menghabiskan biaya untuk pembukaan lahan baru.

Alangkah bijaksananya jika sampah-sampah yang ditumpuk tersebut dimanfaatkan kembali menjadi barang yang lebih berguna dan bermanfaat seperti dijadikan kompos. Biaya yang telah dianggarkan untuk pembukaan tempat pembuangan sampah baru dapat dialokasikan untuk pengelolaan kompos. Penulis mengambil contoh sampah-sampah buangan dari para pedagang di Pasar Raya Padang. Jika sampah-sampah yang berupa daun-daunan, kulit-kulit buah-buahan, ampas tebu, sisa-sisa makanan, dan sebagainya ini dikumpulkan, bisa diolah menjadi kompos yang bernilai ekonomi. Pemerintah atau swasta dapat membuat industri pengolahan sampah-sampah ini menjadi kompos. Dalam jumlah besar, industri pembuatan kompos cukup menjanjikan dan dapat menambah pendapatan daerah.

dikutip dari : http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/pupuk_kompos_keniscayaan_bagi_tanaman/

Sektor perbenihan merupakan salah satu pendukung utama dalam program pembangunan pertanian yang diarahkan pada peningkatan ketahanan pangan, nilai tambah, daya saing usaha pertanian, dan kesejahteraan petani. Program pembangunan pertanian akan tercapai dengan dukungan di mana salah satunya adalah terpenuhinya benih secara kuantitas dan kualitas. Benih sangat mempengaruhi produktivitas dan kualitas hasil produksi. Salah satu program pemerintah di sektor pertanian adalah perbenihan kentang yang dilakukan di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung pada tahun 1992. Program ini merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), telah menghasilkan produk benih kebutuhan benih berkualitas di Jawa Barat terus meningkat. Pada tahun 2007 stok benih kentang G  baru mencapai 4.000 t, atau hanya memenuhi 4 kebutuhan untuk 3.000 ha saja (Anonimous 2008). Oleh karena itu, penerapan teknologi inovatif dari semua pihak (pemerintah dan swasta) untuk perbanyakan cepat benih kelas penjenis (G ) 0 kentang sangat diharapkan sehingga kebutuhan benih yang berkualitas secara regional dan nasional senantiasa tersedia sepanjang tahun. Dalam upaya mendukung penyediaan benih Tasa Nusantara (ATN), salah satu produsen benih bermutu yang berlokasi di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sampai saat ini terus berkiprah memproduksi benih kentang bermutu dan benih kentang bermutu dan bersertifikat bagi petani penangkar untuk  mendukung program Balai Pengembangan Benih Kentang (BPBK) di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Produk benih kelas penjenis (G ) kentang yang diproduksi menggunakan media steril (tanah plus pupuk kandang) yang ditempatkan dalam seed bed di rumah-rumah kasa, hanya mampu menghasilkan benih kelas penjenis (G ) rerata sekitar 1,5-3 knol/0 tanaman dan tidak berbeda dengan yang dihasilkan oleh  ATN (Gunawan dan Afrizal 2008).

Sebuah kotak berwarna putih berukuran 4x1x0,7 meter berada di satu stan peserta Agrifest 2009 yang diselenggarakan di Graha Manggala Siliwangi, Jl Aceh Bandung. Di atas kotak tampak tanaman kentang setinggi 10 cm. Namun, kotak tersebut bukanlah kotak berisi tanah yang biasa digunakan sebagai media tanam, melainkan berisi sebatang noozle (pipa) kecil berlubang yang menyemprotkan air, selebihnya ruang dalam kotak tersebut hanya berupa ruang kosong.

Ketika tutup kotak dibuka, semprotan air bertekanan kecil keluar ke atas kotak. Di balik penutup kotak, akar-akar tanaman kentang tampak berjuntai. Sebagian besar masih berupa juntaian akar karena usia tanaman yang masih muda. Namun, beberapa juntai akar sudah mulai menghasilkan umbi-umbi kecil berwarna putih kecokelat-cokelatan. Umbi-umbi kecil tersebut merupakan bakal kentang yang bisa dipanen saat tanaman sudah berusia tiga bulan.

Deretan tanaman kentang tesebut ditanam di bak tanam dengan sistem aeroponik. Aeroponik merupakan satu alternatif menumbuhkan tanaman tanpa tanah. Berbeda dengan sistem hidroponik yang menggunakan air sebagai media tanam, aeroponik menggunakan udara atau lingkungan yang berkabut sebagai media tanam. Sistem yang baru pertama kali dikembangkan sebagai siatem penangkaran bibit kentang unggul di Jawa Barat ini terbukti mampu meningkatkan produksi benih kentang unggul hampir sepuluh kali lipat dari hasil produksi benih kentang sistem konvensional.

“Teknik aeroponik merupakan teknik memperbanyak bibit kentang secara cepat. Sistem ini mampu meningkatkan produksi hingga hampir 10 kali lipat. Sistem ini juga menekan patogen yang dibawa tanah karena tidak menggunakan tanah sebagai media tanam,” ungkap Staf Jasa Penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Mastur SP, kepada Tribun, Selasa (26/5). Selain menggunakan udara sebagai media tanam, lanjut Mastur, aeroponik juga menggunakan sistem kultur jaringan sebagai metode penumbuhan benih. Pembenihan melalui kultur jaringan dilakukan dengan cara mengambil bagian jaringan dari kentang, kemudian jaringan tersebut ditanam di media yang disebut Potato Dectros Agar (PDA).

Peneliti Balitsa, Dra Hj Oni Setiani Gunawan MS PU, menyatakan teknik ini dilakukan sebagai sarana peningkatan ketersediaan bibit kentang bagi petani kentang. Kentang aeroponik dapat dipanen dalam jangka waktu sekitar 50 hari. Tiap satu tanaman kentang rata-rata mampu menghasilkan 30 umbi kentang. Berbeda dengan hasil penanaman kentang dengan teknik konvensional yang hanya mampu menghasilkan tiga hingga lima umbi kentang per tanaman.

Peningkatan jumlah produksi tersebut telah dirasakan seorang petani penangkar benih kentang, Denny Afrizal SE. Sejak menerapkan teknik aerophonik, produksi benih kentangnya meningkat hampir sepuluh kali lipat dari hasil metode konvensional.

“Total modal sekitar Rp 65 juta per 100 meter persegi, dari  lahan tersebut setiap panen (tiga bulan sekali) saya mampu menghasilkan rata-rata 45.000 umbi. Setiap satu umbi kentang harganya sekitar 2.500 rupiah,” tutur Denny.(*)

nih bro gambar-gambar tanaman aeroponik

dikuti dari tugas makalah sistem agribisnis kelompok saya, kelompok 7 (haha), dan pastinya dari mbah google.com

dalam menanam tanaman pasti ada poin-poin penting yang tidak boleh terlewatkan, salah satunya adalah

1. Syarat Tumbuh

Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat tumbuh yang sesuai tanaman ini. Syarat tumbuh tanaman kubis adalah:

  • Jenis Tanah
    Kubis dapat ditanam hampir di semua jenis tanah. Tanah yang ideal untuk kubis adalah andosol dengan tekstur liat berpasir dengan kandungan bahan organik tinggi (>1%)
  • Drainase baik dan tidak tergenang
  • pH tanah antara 4.3-6,5 dan yang optimal adalah pada pH 5,5 – 6,5
  • Suhu optimal antara 15-25oC dan untuk membuat benih suhu optimal adalah 4-10oC
  • Sinar matahari cukup, kira-kira 6 jam sehari
  • Kadar air tanah 60-100%
  • Curah hujan di atas 2.500 mm/tahun.

2. Persemaian

  • Ukuran persemaian dibuat lebar 1,2 m dan panjang yang disesuaikan dengan panjang lahan.
  • Letak persemaian harus dekat dengan sumber air untuk memudahkan penyiraman
  • Tanah dicangkul atau dibersihkan dari gulma, demikian juga yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah harus berkisar 30-40 cm.
  • Tanah diberikan kompos organik atau pupuk kandang yang telah matang dengan dosis 2 kg/m2 dengan pengadukan yang rata, setelah terlebih dahulu diberikan Trychoderma
  • Bedengan persemaian yang dibuat mempunyai ketinggian 20-30 cm atau tidak akan tergenang dengan air bila turun hujan lebat.
  • Persemaian diberi atap untuk menghindari cahaya matahari langsung dan curah hujan yang tinggi. Atap dibuat miring 30-35o menghadap ke timur dengan ketinggian 60-70 cm
  • Calon benih perlu diamankan dengan memagarinya dari organisme pengganggu tanaman, paling baik dengan kain till yang tembus cahaya
  • Bila tanah dalam keadaan kering (musim kemarau), daerah persemaian harus disiram sekali sehari saat sore namun jangan terlalu basah
  • Pengendalian hama sangat perlu dilakukan terutama terhadap serangan semut sebelum tanam. Tanaman yang telah diserang penyakit harus segera dicabut.

3. Penanaman Pola Pertanian Organik

Sebelum dilakukan penanaman, kegiatan yang perlu dilakukan adalah:

  • Pergiliran Tanaman
    Untuk memutus daur hidup hama seperti ulat, petani dianjurkan untuk menghindari penanaman kubis dan tanaman sefamili secara terus menerus dalam satu tahun. Lahan perlu dibiarkan kosong atau ditanami tanaman lain selama 3-4 bulan.
  • Pengolahan Tanah Konservasi
    Dengan cara ini pengolahan tanah dilakukan dengan bajak biasa atau lebih baik lagi dengan cangkul, agar sumber OPT dapat dikurangi dan menciptakan tata udara (aerase) yang baik. Untuk mencegah erosi dibuat bedengan dengan ketinggian 15 cm, dan saluran air untuk menghindari genangan saat hujan. Bedengan berukuran lebar 1,2 m dan tinggi 30 cm, sementara panjang bergantung pada panjang lahan. Bedengan tidak perlu dibuat menghadap arah mata angin tertentu. Jarak antarbedengan dibuat 40 cm.
  • Varietas
    Biasanya yang banyak digunakan di daerah sentra produksi adalah KR 2000, Grand 11, dan Meteor.
  • Jarak Tanam
    Jarak tanam yang dibutuhkan tanaman kubis adalah 30 x 40 cm. Cara tanam yang dibuat adalah model segi empat.
  • Pupuk Organik
    Pupuk dasar merupakan pupuk yang sangat mutlak dibutuhkan oleh tanaman kubis, agar pertumbuhannya baik. Pupuk dasar yang diberikan terdiri dari 2 macam, yaitu pupuk kandang dan kompos organik. Pemberian pupuk ini harus rata di permukaan tanah sehingga pertumbuhan tanaman juga akan rata.

Teknik Pembuatan Kompos

Agar kompos yang jadi berkualitas baik, kita perlu memperhatikan jumlah dan dosis tepat masing-masing komponen penyusun komposisi. Bahan dan alat yang harus disediakan dalam pembuatan kompos sebanyak 1m3 adalah:

Bahan:

Jerami, dedaunan, rerumputan, sisa tanaman, abu, sampah dapur atau sampah kota yang telah dibersihkan dari bahan-bahan anorganik seperti plastik, kaleng, dan batu.

Tempat:

Sediakan tempat yang teduh dan beratap juga berlantai kering dan keras

Cara Pembuatan:

  • Pilih lokasi di permukaan tanah (bukan di dalam lubang di tanah), misalnya di tepi pematang sawah dan kebun.
  • Susun media kompos (yakni hijauan atau jerami) setebal 25 cm sebagai lapisan pertama. Taburkan 1/4 bagian campuran bahan baku ke atas tumpukan jerami tersebut. Kemudian siram tumpukan jerami dengan air secukupnya.
  • Untuk lapisan kedua, ketiga, dan keempat, susun lagi jerami setebal 25 cm kemudian  taburkan lagi bahan baku sebanyak 1/4 bagian ke atas tumpukan jerami dan siramkan air ke tumpukan tersebut. Lakukan sehingga terbentuk 4 lapisan kompos.
  • Lalu tutup dengan plastik dan beri penyangga dari bambu di sekelilingnya.
  • Aduk setiap 7 hari sekali. Dalam tiga minggu atau setelah 3 kali pengadukan biasanya kompos sudah masak. Kompos yang masak ditandai oleh warnanya yang coklat kehitam-hitaman, atau hitam bila terlalu panas.
  • Kandungan unsur hara yang ada dalam kompos sangat tergantung pada komposisi bahan asalnya, yakni Nitrogen (N) 0,19%- 0,5%, Fosfat (P2O5) 0,08% – 0,27%, dan Kalium (K2O) 0,45% – 1,20%

Cara tanam

  • Buat lobang dan isi dengan air. Jangan berikan pestisida sama sekali.
  • Ambil bibit dari persemaian dan jaga agar akar serabut tidak banyak rusak.
  • Tanam bibit sebatas leher akar lalu tutup lubang seperlunya
  • Siram bibit dengan gembor
  • Perawatan Tanaman
  • Siram tanaman secukupnya setiap sore
  • Singkirkan tanaman yang mati
  • Lakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk buatan dengan kandungan pupuk 15% dari dosis anjuran dan seluruhnya diberikan pada saat tanaman telah berumur 30-35 hari
  • Sebelum pemupukan, bersihkan sekitar tanaman dari gulma dan gemburkan tanah
  • Perhatikan kondisi perakaran agar tetap sehat sehingga pertumbuhan tanaman tidak terganggu
  • Lakukan pengendalian OPT dengan cara yang alami. Cara-cara yang dapat dipakai misalnya penambahan agen hayati (trychoderma), M4 atau sejenisnya dan penambahan musuh alami. Pengendalian lain yang diperbolehkan adalah dengan cara mekanis, misalnya memotong, meijit, dan membakar). Pengendalian OPT dengan pestisida tidak dianjurkan kecuali amat terpaksa dan hanya sebanyak ambang batas penggunaannya atau 10% dari anjuran yang ada. Musuh alami yang kini dikembangkan untuk memberantas hama adalah Angitia cerophaga graf dan sejenisnya.

nih gambar-gambar kubis nya

bagaimana menurut kalian wahai para pembaca??

dapet dari mas google.com