• Profil
  • Archives
  • Categories
  • Archive for the ‘Materi Kuliah’ Category

    Reformasi Media (Televisi)


    2012 - 05.25

    Oleh :

    FX. Ari Agung Prastowo

    Pers sebagai ‘watchdog’ dalam kenyataannya sekarang sudah mulai diikat kakinya dan dijinakan gonggongannya, betapapun anjing biasanya sangat paham dengan tuannya , dia tidak akan menggigit tuanya walaupun tuanya bertindak mencurigakan, Curran dalam Putra, 2008 :38.

    Ungkapan tersebut sepertinya merupakan potret yang tepat untuk menggambarkan perkembangan media (televisi) di Indonesia. Televisi menjelma menjadi ladang industri yang subur, bagi pemilik modal (pemilik media) ini merupakan peluang besar bagi mereka untuk meraup keuntungan yang sebasar-besarnya ditengah pendidikan melek media yang masih minim di masyarakat.  Media (televisi) dengan sesuka hati menyuguhkan kepada pemirsa acara-acara/menyampaikan berita yang tidak memiliki nilai edukasi, media (televisi) cenderung menampilkan acara atau menyampaikan berita sesuai dengan kebutuhan media itu sendiri artinya bahwa acara atau berita yang disampaikan cenderung menguntungkan bagi media atau memiliki nilai ekonomi bagi keberlangsungan hidup media. Ada kecenderungan media (televisi) akan menampilkan sesuatu yang bersifat mayoritas dan menyingkirkan yang minoritas, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan di dalam media (televisi) akan terjadi ‘peperangan budaya’, dimana ada nilai-nilai kearifan lokal yang ingin dipertahankan dan nilai-nilai budaya pop yang semakin mendesak peradaban ini terjadi benturan yang kuat.

    Pengadilan Media

    Alih-alih harus ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, justru media (televisi) saat ini dominan ikut serta dalam menjadikan masyarakat sebagai objek untuk mendapatkan keuntungan finasial bagi media dan media ikut serta memberikan dampak pembodohan bagi masyarakat. Sebut saja acara infotainment yang saat ini menjamur di televisi, program acara yang semestinya menyampaikan berita yang menghibur justru kebablasan dan cenderung menampilkan kehidupan pribadi para selebritis tanah air. Pemberitaan kawin cerai artis, pertikaian sesama artis dan romantisme artis menjalian hubungan dengan pasangannnya menjadi topik utama yang terus berulang-ulang disampaikan. Selain itu, media (televisi) saat ini didominasi dengan tayangan-tayangan sinetron yang memberikan harapan-harapan kosoong bagi permirsanya serta menyuguhkan konflik perebutan harta dan tahta diantara anggota keluarga. Tayangan sinetron sama sekali tidak memiliki nuansa edukuasi, pemilik media tidak menyadari bahwa media (televisi) merupakan sarana pembelajaran bagi pemirsanya, tidak sedikit pemirsa yang akan meniru perilaku tokoh yang difavoritkan dalam tayangan tersebut. Disamping itu, media (televisi) memiliki profesi baru  yaitu sebagai ‘HAKIM’, penghakiman  atas sebuah peristiwa mestinya terjadi di ruang pengadilan, tetapi media telah melaksanakan tugas hakim itu sendiri. Media seringkali memberikan vonis sebelum ada putusan dari pengadilan dan dalam kasus-kasus tertentu media justru “memprovokasi” lembaga hukum untuk segera menjadikan orang tertentu sebagai tersangka. Perkembangan media yang memprihatinkan bukan hanya menjadi tanggungjawab pemilik modal saja, harus ada perlawanan dari pekerja media itu sendiri maupun pemirsa. Namun sangat disayangkan pekerja media justru menjadi bagian koalisi dengan pemilik modal, seringkali kita melihat pekerja media melanggar tata krama, mengesampingkan nilai-nilai etika dengan lebih menonjolkan agenda dari media (pemilik) itu sendiri.

    Fungsi Media Massa

    Sejatinya media memiliki tiga fungsi utama diantaranya media sebagai watchdog, dimana dalam alam demokratis media bertindak sebagai pengawas bagi para penguasa, baik di pemerintahan maupun sektor swasta. Media memiliki tugas untuk melindungi kaum minoritas dari penyalahgunaan kekuasaan. Media merupakan kekuatan keempat setelah legislative, eksekutif dan yudikatif. Perannya sebagai pengawas dituntut untuk menyampaikan berita yang lebih mendalam dan komprehensif tidak hanya sekedar permukaannya saja. Kedua media sebagai forum warga, dalam melakasanakan perannya yang satu ini, sudah semestinya media sebagai ruang diskusi layaknya warung kopi, maksudnya adalah media sejatinya sebagai saluran bagi publik dan penguasa serta media merupakan penghubung antara kaum minoritas dengan penguasa. Ketiga media sebagai agen mobilisasi, media harus mampu mendorong publik untuk berpartisipasi dalam menumbuhkan, menyejahterakan dan membangun bangsa, (Putra, 2008:34).

    Media (televisi) memiliki tanggungjawab yang besar dalam membangun bangsa ini, telah 14 tahun kita memasuki orde reformasi, namun tak satupun media yang berani mereformasi dirinya sendiri untuk berpartisipasi mengedepankan kepentingan publik. Reformasi media (televisi) saat ini merupakan harga mati, sebelum bangsa ini jatuh ke lubang kegelapan, reformasi dilakukan bukan hanya pada pemilik media namun juga kepada pekerja media itu sendiri, serta fungsi pengawasan terhadap media harus lebih ditingkatkan, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang semestinya melakukan fungsi pengawasan bagi media saat ini ternyata seperti macan ompong dan cenderung setengah hati dalam mengimplementasikan kebijakannya. Semestinya KPI pun harus bergerak cepat dan tegas, apalagi dengan banyaknya pemilik media yang terjun ke dalam politik praktis, KPI harus membentengi dengan sebuah regulasi agar pemilik media tidak menyalahgunakan medianya untuk kepentingan politik mencari kekuasaan semata dan melindungi masyarakat dari eksploitasi. Bagi para akademisi perkembangan media saat ini, semakin mendesak akademisi untuk menuntaskan pekerjaan rumahnya yaitu memberikan pendidikan melek media bagi masyarakat sejak usia dini agar masyarakat kita semakin pintar dalam menyeleksi media serta menyeleksi konten dalam media itu sendiri. Barjuang Bagi Negeri !!!.

     

     

    Presentasi Sosialisasi Jurusan


    2012 - 05.25

    silakan klik : Mengapa (Harus) PR (sosialisasi jurusan)