Author's Posts

Sejarah bersama linux

Tidak terasa waktu sudah berjalan selama 1 (satu) tahun sejak saya memutuskan untuk berhijrah dari penggunaan laptop macbook (7 tahun) dan laptop windows sejak 1996. Keputusan berpindah ini sebenarnya sudah sempat saya lakukan, tepatnya sekitar tahun 2002. Hadirnya fedora linux pada tahun-tahun tersebut memberikan rasa penasaran bagi saya, kenapa? bukan karena sempat disebut-sebut sebagai OS yang sudah siap menggantikan windows. Sebagai delphi programmer saya begitu penasaran dengan hadirnya Borland Kylix, delphi di linux flatform. Fedora saya install di PC pendamping laptop saya untuk ujicoba. Tidak sampai 6 bulan saya kewalahan, installasi Kylix tidak pernah stabil, hanya beberapa distro linux saja yang bisa menjalankan kylix ini. Akhirnya saya memutuskan berhenti melanjutkan project linuxnya.

Upaya beralih ke linux tidak cukup sampai disini. Saya lanjutkan di PC pribadi saya di rumah. Saya siapkan PC tersebut untuk anak saya (2009). Qimo, sebuah OS Linux turunan dari ubuntu akhirnya terinstall disebuah PC Pentium IV dengan ram 256MB. Linux ini diciptakan khusus untuk anak-anak. Paket software belajar anak pra sekolah sudah terinstall. Ini dapat bertahan hingga anak saya mulai masuk SD, dimana di sekolahnya sudah memperkenalkan ekstrakurikuler komputer. Sayang komputer di sekolahnya menggunakan Windows, anak saya kesulitan untuk belajar dirumah. Mau tidak mau qimo diganti ke windows XP.

Laptop saya sendiri sebenarnya sempat menggunakan installasi Linux Ubuntu (2008). Tapi tidak lama, hanya 2 (dua) bulan harus kembali ke windows. Begitu banyaknya pekerjaan yang membutuhkan aplikasi di windows (salah satunya Visual Studio) membuat saya tidak bisa berlama-lama di ubuntu sementara virtualbox masih saya anggap belum menunjukan performa baik unutk menjalankan windows dengan aplikasinya yang besar.

MacOS

Akhirnya di tahun 2009 saya putuskan penggunaan laptop beralih ke Macbook Pro. Otomatis windows saya lepas. Alasan kenapa saya beralih ke MacOS? karena di macos setidaknya ada Microsoft Office (50% pekerjaan saya berhubungan dengan office dan sementara pekerjaan visual studio mulai menurun tergantikan PHP). Alasan lainnya adalah adanya ConceptDraw yang membantu saya dalam proses perancangan-perancangan model sistem dan mulai adanya kepercayaan saya menggunakan virtualbox di mac.

Tujuh tahun bersama macbook sudah membuat saya bisa melepas ketergantungan windows. Dan Selama itu pula dengan menggunakan dua jenis macbook saya tidak pernah melakukan install ulang. Tidak seperti waktu menggunakan windows, beratnya antivirus dan gagalnya antivirus menghadang virus membuat windows saya sekali dalam setahun harus diinstall ulang. Bukan berarti macbook aman dari virus, hanya saja kasus serangan virus di macOS masih sangat jarang terjadi. Di macbook ada software yang membuat saya jatuh cinta, software hobby ini memang membuat saya tidak bisa melepas macbook dari genggaman saya : Garageband. Software music digital composer ini membuat macbook sangat lengkap untuk dibawa-bawa.

Hijrah

Begitu banyaknya perubahan yang terjadi, saya mulai berfikir lebih dalam dan dalam untuk mempertimbangkan hijrah yang lebih dalam lagi. Mulai berfikir upaya untuk melepaskan software bajakan. Sebagai programmer saya sadar betul bahwa penggunaan software bajakan  itu sama saja mendzalimi orang yang profesinya sama kayak saya. Peralihan dari windows ke macos sangat mengurangi penggunaan software bajakan yang biasa saya lakukan. Namun.. tetap saja ada software-software penting lainnya yang masih saya butuhkan dan harganya cukup mahal. Sehingga tetap saja saya belum lepas dengan software bajakan. Macbook membuat saya terlena, bahkan terkadang saya merasa diperbudak dengan mahalnya barang-barang keluaran berlogo apple ini. Sudah saatnya saya harus beralih melepaskan macbook dan kembali ke laptop pc. Tapi tidak kembali ke windows!!.

Melalui tokoonline hasil komparasi dari beberapa tempat, akhirnya saya memilih jakmall untuk membeli sebuah laptop yang “Tidak biasa”, yaitu xiaomi notebook air atau biasa disebut minotebook. Dengan spesifikasi yang sama dengan macbookpro yang pernah saya gunakan : i5, 8gb, ssd256gb, harganya lebih murah 8jt-an. Keputusan ini tidak hanya saya ambil secara bijak. Uang tabungan untuk laptop awalnya 24jt dan sebelumnya saya mengincar macbook pro with touchbar.., ah saya pikir tekhnologi itu cepat angus dan akhirnya saya putuskan beli laptop yang memiliki kemampuan touchpad yang mendekati macbook, sedangkan touchbar lebih ke gaya saja dan belum begitu penting dan diperlukan. Perlu diketahui juga macbook with touchbar harganya masih jauh dari uang tabungan yang saya siapkan tersebut.  Setelah pesan akhirnya datang juga mi notebook 13″ dan sisa uangnya bisa membeli motor matic baru :D.

Komparasi linux

Sebelum memutuskan OS apa yang harus saya install di mi notebook, saya melakukan percobaan terlebih dahulu sebelumnya dimacbook, dengan menginstallkan vmware untuk mencoba os linux. Saya cari, browsing, searching.. linux apa yang akan saya gunakan : Ubuntu? saya merasa tidak pas dengan tampilannya, (tampilan macos sudah memembuat saya betah jadi jika ke ubuntu akan sulit diterima oleh mata). Linux Mint ? sama juga. Akhirnya saya menemukan ada dua OS linux yang tampilannya mendekati MacOS : elementary OS dan deepin OS. Deepin OS saya install di vmware, sedangkan elementary saya install di laptop bekas miliki istri saya. Hasilnya ?

  1. Elementary OS : OSnya MacOS sangat ringan, dan cocok buat orang-orang yang ingin pake linux dengan kondisi masih gak banyak software yang diinstallnya. Hanya saja dukungan appstorenya masih sedikit pada waktu itu. Jadi jika harus install yang belum terdaftar di appstor, perlu download dan install manual lewat terminal.
  2. Deepin OS : OS nya bisa menunjukan tampilan mirip windows dan juga mac OS, jadi ini gabungan, tampilan grafisnya sangat lembut, yang ternyata memang dibuat layerkhusus untuk tampilan ini dengan teknologi HTML5. Wow jujur saja ini OS linux yang paling indah yang pernah saya lihat.  Appstorenya sudah cukup lengkap. Kelemahan dari deepin OS ini masalahnya adalah berat. Jadi tidak disarankan di install dikomputer yang memorynya pas-pasan.

Berdasarkan uji coba diatas akhirnya ditetapkanlah Deepin sebagai OS linux yang membuat jatuh hati sejak pandangan pertama. Di installah Deepin OS di mi notebook saya.

Kesan pertama dengan deepin OS

Perpaduan MiNotebook dengan deepin begitu cocok sekali, kebetulan juga MiNotebook dan deepin sama-sama buatan cina tapi bukan berarti dari awal miNotebook sudah cocok dengan deepin, contohnya? miNotebook menggunakan USB C untuk charge listrik, tapi USB C nya belum disupport oleh deepin (mudah2an untuk kedepan sudah diupdate).

Touchpad yang dimiliki miNotebook tidak seperti laptop pc seperti biasanya, ini malah lebih mendekati macbook. Tapi tetap ya jangan dibandingkan dengan macbook, masih terasa bedanya. Upaya memaksimalkan touchpad di deepin mulai terasa, multi touch sudah mulai difahami oleh deepin. Meskipun kemampuan multi touchnya masih terbatas.

Software

Software office Microsoft windows tidak ada, ini yang sempat membuat saya ketakutan. Ada dua pilihan yang perlu saya ambil, WPS atau Libre? Banyak referensi menyebutkan libre lebih ok, tapi WPS memiliki interface yang menarik mirip office (tampilan bagi saya sangat mempengaruhi). Ok akhirnya WPS saya install. Ah ternyata saya bisa bekerja dengan optimal, hanya saja mailmerge di WPS masih jauh, untuk pivotnya dah lumayan lah. WPS adalah software gratis yang bagi saya sudah bagus dibandingkan MS office.

Ok lalu apa lagi yang harus saya install? PHP+MySQL ? saya pingin mudah dan gratis!, XAMPP kembali saya pake. Memang lucu, di linux PHP, MySQL sudah menjadi bagian penting makanya ada istilah LAMP. Tapi kebiasaan sebelumnya pake XAMPP jadilah saya pake XAMPP. Coding jadinya lanjut.

Pengganti ConceptDraw Mindmap?, ini dia yang saya takutkan apakah ada mindmap gratis selevel Conceptdrawa?. Wah akhirnya nemu dan gratis lagi XMind!!, Software mindmap gratis yang keren!. Tapi untuk versi gratis ada keterbatasan. Saya cek harganya khusus untuk pegawai di universitas bisa dapat diskon hingga akhirya berharga 700rb rupiah. Karena saya sudah mulai bertekad belajar menghargai sesama programmer, Harga segitu sudah sangat murah untuk software sehebat itu.

Semua pekerjaan akhirnya bisa dilakukan. Termasuk visual studio, saya gunakan vmware versi gratis dan install windows tentunya legal karena masih punya lisensi universitas. Jadi semua jalan. Aplikasi lain? Android Studio? install, Database console ada DBeaver, teks editor sementara masih pake bawaan deepin dah ok kok tapi jangan berharap sama dengan sublime (mungkin ini yang akan saya beli selanjutnya).

Lalu bagaimana dengan Garageband ? inilah hal yang terberat melepaskan Macbook. Di deepin ada software sejenis garageband dan gratis juga, namanya LMMS. Sudah saya coba pelajari hingga bisa menggunakannya. Sayangnya kualitasnya tidak dapat dibandingkan dengan Garageband. Untuk mengobati rasa kangen hobby saya dengan garageband, LMMS masih belum bisa dijadikan sebagai obat penyembuh.

Support Deepin?

Sejauh ini deepin memberikan support yang begitu mantap. Saya pernah rasakan beberapa bug di deepin, seperi jika kita sedang melakukan download file di browser (chrome) ketika muncul file dialog, saya loncat dulu ke aplikasi lain, kemudian kembali ke browser, file dialog nya tidak terlihat tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa dibrowser, seolah-olah selesaikan dulu pekerjaannya dengan file dialog. Sekarang sudah diperbaiki. Memang terlihat sekali os ini awalnya masih banyak bug, seiring waktu, kelemahan-kelemahan tersebut terus diperbaiki. Termasuk multitouch yang tambah sakti, bahkan disediakan aplikasi untuk kontrol dengan perangkat mobile android. Screen capture yang sering digunakan sangat nyaman juga. Menjalankan aplikasi windows yang kecil  sudah disediakan aplikasi crossover (mirip wine).

Memang ada isu kekhawatiran os ini ditunggangi perangkat mata-mata bagi china. Isu ini cukup banyak dibahas di grup deepin. Tapi bagi saya sendiri dimanapun kita perlu waspada, tidak hanya waspada ke cina, ke os lainpun perlu. Jadi nikmatilah dengan yang ada dan pastikan apa yang kita lakukan memang tidak ada hal penting yang membahayakan kita sendiri.

Kesimpulan

Dengan pengalaman 1 tahun ini, saya merekomendasikan deepin OS sebagai OS pengganti bagi anda-anda yang ingin berhijrah dari windows atau mac OS. Semoga deepin terus konsistem melakukan inovasi-inovasi yang lebih dibandingkan OS lainnya. Viva Linux Viva Deepin.

Read more

Setelah melalui 12 bagian tentang membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis, apakah sudah mulai mencoba?.  Jika belum, penulis maklumi. Penulis beberapa kali mengulang-ngulang ajakan untuk memulai menulis meskipun baru satu kata. Kenapa? memang tidak mudah memulai sesuatu yang tidak biasa.

Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 13) : Siapkah kita untuk menulis?

Read more

Tulisan berikut ini sebenarnya sedikit melompat keluar. Masih seputar menulis untuk pemula, hanya saja untuk yang ini lebih menceritakan pengalaman penulis yang pernah mendapatkan kerjaan sampingan membantu membuat karya tulis yang sama sekali diluar bidang keahlian penulis.

Pekerjaan menulis akan lebih semangat jika apa yang ditulis adalah sesuai dengan bidang minat. Ketika harus menulis bidang lain pastinya tantangan yang dihadapi akan lebih banyak. Menulis tentang teknologi informasi mungkin sudah biasa, bagaimana kalo harus membantu menulis tentang kepolisian, hankam, dan dunia hukum dan kriminal?.

Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 12) : Menulis untuk orang lain

Read more

Ketika kita menemukan masalah dilingkungan kita, terkadang kita sudah tau bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Jika masalah tersebut baru dan kita belum pernah menghadapi masalah tersebut, kita akan berusaha mencoba mencari solusinya. Mencoba beberapa cara solusi yang secara logika dimungkinkan untuk dijadikan solusi. Hasilnya akan kita ketahui apakah kita berhasil menemukan solusinya atau sama sekali tidak. Secara akademis kejadian tersebut bisa kita tulis sebagai karya ilmiah. Namun tidak cukup hanya menceritakan kejadian tersebut. Kita harus sampaikan dengan kaidah-kaidah yang dapat diterima.

Semua kejadian tersebut harus diterjemahkan dalam bentuk proses analisa. Dan analisa yang harus kita langsanakan wajib mengikuti teori-teori analisa.

Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 11) : Perangkat analisa

Read more

Tidak terasa tulisan tentang membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis sudah masuk ke bagian yang ke 10. Sebelum memulai penulis berharap khususnya bagi para pemula yang memang baru pertama Kali ingin mencoba menulis setelah meninggalkan bangku sekolah atau kuliah untuk mencoba membiasakan yang telah dijelaskan di bagian-bagian sebelumnya. Bagian selanjutnya kita akan mulai memasuki langkah lebih mendalam.

Kita coba bahas beberapa istilah yang biasanya dibahas dan ditanyakan sejak awal dalam sebuah karya tulis ilmiah. Metodologi, kualitatif, kuantitatif menjadi istilah-istilah yang terkadang dihindari oleh seorang yang akan memulai menulis. Kebingungan ini dianggap wajar apalagi jika kita sudah lama tidak bersentuhan dengan tugas akhir dalam bentuk penelitian. Ditambah dengan data-data yang harus diolah oleh ilmu statistik: simpangan Baku, frekwensi, modus, median. Buku lama waktu kuliah atau sekolah kadang terpaksa harus dibuka kembali.

Mari kita lupakan sejenak istilah itu agar semangat untuk memulai dalam menulis berlanjut. Jangan sampai batal karena sudah takut duluan ditanya metodologi dan cara mengolah datanya.

Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 10) : Stres dengan statistik dan metodologi

Read more

Sering kita temukan dalam sebuah artikel tersisipkan informasi dalam bentuk tabel, gambar dan grafik. Fungsi dari sisipan itu untuk apa? Apakah itu yang dimaksud data dan fakta? Bagaimana cara untuk memahaminya?.

Berikut ini kita lanjutkan tulisan sebelumnya agar mampu memahami bentuk-bentuk data dan fakta.

Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 9) : Membaca data dan fakta

Read more

Meskipun berbicara bahasa indonesia sudah menjadi keseharian (bercampur dengan bahasa daerah) di lingkungan kita, pelajaran bahasa indonesia selalu kita pelajari sejak sekolah dasar hingga sma. Bahkan mungkin di beberapa perguruan tinggi masuk kurikulum wajib. Sadar tidak sadar pelajaran tersebut memang harus ada karena tidak selalu kita berbicara dan menulis sesuai dengan aturan yang benar. Jika hanya untuk sebatas ngobrol dengan teman, mungkin kita tidak perlu mempelajari bahasa indonesia denga benar. Namun ketika berbicara formil atau menulis laporan resmi, mau tidak mau aturan dan tata bahasa yang baik harus kita fahami.

Hal yang menurut pengalaman penulis ingat tentang pelajaran bahasa indonesia yang terkadang sering dianggap remeh adalah di materi membaca. Di setiap bab kita diberi bacaan 3 (tiga) hingga 5 (lima) paragraf. Setelah itu dilanjutkan dengan soal yang berisi pertanyaan- pertanyaan tentang isi dari bacaan tersebut. Terkadang kita masih salah dalam menjawab pertanyaan tersebut, dan terkadang pertanyaan dapat mudah dijawab. Di waktu lain setelah membaca guru meminta kita menutup buku bacaan tersebut dan kita diminta untuk menceritakan ulang atau menyimpulkan tentang apa yang kita baca.

Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 8) : Mengutip, menceritakan ulang dan menyimpulkan

Read more

Ada yang beranggapan mencari referensi berbahasa indonesia yang bagus sangat sulit. Meskipun ditemukan, lebih banyak artikel-artikel standar dan jika dibaca hanyalah sadur menyadur dari referensi lain. Apalagi artikel ilmiah jika masuk ke beberapa situs repository pastinya hanya abstrak saja yang ditemui. Sebenarnya di beberapa situs artikel ilmiah terbuka yang di dukung pemerintah menyediakan makalah berbahasa indonesia, sayangnya kita sulit menemukan artikel yang cocok dan dapat mendukung bahan tulisan kita. Ternyata makalah ilimiah dari negara kita juga memang lebih banyak dibuat berbahasa inggris. Mengapa? tentunya untuk menunjukan nilai dan kualitas berskala dunia. Oleh sebab itu mau tidak mau kita harus mencari referensi tidak hanya yang berbahasa indonesia saja. Bahasa inggris menjadi wajib untuk kita fahami.

Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 7) : Memahami referensi berbahasa inggris

Read more

Gagasan atau ide menulis bisa saja muncul setelah membaca. Tidak menutup kemungkinan dengan membaca referensi tambahan gagasan yang sudah kita temukan akan lebih kuat. Membaca referensi telah menjadi bagian aktifitas penunjang bagi seseorang penulis. Semakin luas wawasan referensi yang dibaca seseorang akan semakin kuat kemungkinannya kualitas isi tulisan yang dibuat.

Bagian 6 ini kita coba pelajari cara-cara jitu dalam mencari bahan-bahan bacaan sebagai bahan referensi penunjang penyusunan tulisan. Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 6) : Mencari bahan untuk referensi

Read more

Semangat memulai untuk menulis? oke saya coba!. Tapi saya masih bingung apa yang harus saya tulis?, saya suka menulis status di media sosial, saya suka membagikan tautan dari status atau situs web yang menurut saya menarik. Tapi saya merasa saya masih bingung dengan apa yang sudah saya tulis tersebut akan menjadi sebuah tulisan yang bermanfaat apa lagi ditulis dengan kaidah akademis atau ilmiah. Mungkin begitulah kira- kira pertanyaan selanjutnya yang akan muncul: Apa yang harus saya tulis?.

Continue reading Membiasakan menulis berdasarkan kaidah akademis (bagian 5) : Apa yang harus saya tulis?

Read more