IT = Musuh Koruptor!!!

Jika Teknologi Informasi digunakan untuk mempermudah mendapatkan informasi, berarti Para koruptor pasti tidak akan suka topengnya terbuka gara – gara IT, setuju kagak ?

4 Comments, RSS

  1. pupungbp June 26, 2008 @ 8:24 am

    Tapi sayangnya proyek pengadaan Teknologi Informasi itu yang justru jadi sasaran empuk koruptor, bikin situs portal aja sampe miliaran 😀

    salam,

  2. admin June 27, 2008 @ 8:40 am

    nah udah udah dijadiin sasaran empuk, terus barangnya atau softwarenya dijadikan monumen aja… menyedihkan yah…

  3. Derry Adrian July 2, 2008 @ 11:32 am

    Di Indonesia, kata-kata KORUPTOR itu seperti nya gak jelas makna nya apa.
    Buat orang miskin, tidak jarang kalo melihat orang kaya tuh bawaannya menganggap : Halah paling juga korupsi.

    Da teu kabagean teah meureun heueheue…

    Penggunaan IT yang seharusnya mempermudah mendapatkan informasi memang untuk sebagian (besar) orang dianggap mengusik kesenangan pribadi. Status QUO tea kitu? Males belajar. Halah da bapa mah budak baheula (Kalo kata lagu Pidi Baiq hehehehe)

    Bikin sistus portal sampe miliaran apakah termasuk korupsi? kalau saya lebih suka menyebutnya sebuah KEGILAAN dan KETOLOLAN hahahaha. Since kelihatannya legal semua ya?

  4. Ari Tjahjawandita November 6, 2008 @ 10:28 am

    Ada unit organisasi beli puluhan unit PC, dimana sebagian kategorinya sebagai penambahan, sebagian lagi peremajaan PC yang sudah ada sebelumnya.

    Ada yang pernah mendengar kalau di UNPAD ada lelang PC bekas? Tidak pernah? Sama. Ternyata PC lawas yang masih berjalan baik, yang digantikan oleh PC baru tidak dilelang, melainkan dihapusbukukan. Lho kok? Iya, saya juga garuk-garuk kepala tidak habis pikir. Kalau dihapus bukukan kan harusnya barangnya sudah sedemikian rupa tidak berharganya sehingga tidak ada nilai akuntansinya. Tapi ke mana larinya PC-PC lawas yang digantikan ini? Kalau masih bisa digunakan, pastinya masih ada nilainya. Pertanyaannya, siapa yang “menggunakannya” atau memperoleh manfaat dari nilainya yang masih ada itu? (baca: dijual).

    Masalahnya, pengadaan PC-PC tsb sudah mempertimbangkan TCO belum. TCO bisa jadi singkatan dari Total Cost of Ownership atau Total Cost of Operation. PC yang dibeli bisa saja murah, tapi dalam perjalanan pengoperasiannya justru jatuhnya mahal karena mudah rusak (tingkat depresiasinya tinggi) dan penggunaan energinya tidak efisien (boros listrik).

    Parahnya lagi, jamak prakteknya kalau harga pembeliannya di-mark up supaya sedikit lebih mahal diatas harga normal pasaran. Bisa jadi juga PC yang dibeli adalah jenis yang sudah lawas, sehingga spesifikasi hardwarenya praktis dibawah umumnya spesifikasi hardware yang ada, walaupun harganya sama dengan spesifikasi hardware yang baru.

    Spesifikasi hardware yang direncanakan untuk dibeli bisa juga tidak sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, kalau hanya untuk keperluan administrasi, untuk apa pakai CPU Intel Core 2 Duo.. cukup pakai Celeron. Tidak untuk desain grafiks, untuk apa pakai adapter grafis sekelas GeForce/ATI dan layar display 20″-30″.. cukup pakai chipset Intel yang terintegrasi dan layar display 17″. Bisa menghemat biaya jangka panjang dengan komputer yang punya konsumsi daya 280Watt, eh malah beli yang butuh daya 450Watt.

    Kalau pembelajaan bisa di-mark up seperti itu kan lumayan bagi hasil selisihnya.

    Kalau orang IT bekerjasama dengan bagian pengadaan untuk korupsi, IT malah meningkatkan korupsi dong…

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*