Archive for the ‘Tumpang sari’ Category

  • Tumpang sari

    Date: 2010.06.03 | Category: Tumpang sari | Response: 0

    Tumpang sari adalah suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tumpang sari yang umum dilakukan adalah penanaman dalam waktu yang hampir bersamaan untuk dua jenis tanaman budidaya yang sama, seperti jagung dan kedelai, atau jagung dan kacang tanah. Dalam kepustakaan, hal ini dikenal sebagai double-cropping. Penanaman yang dilakukan segera setelah tanaman pertama dipanen (seperti jagung dan kedelai atau jagung dan kacang panjang) dikenal sebagai tumpang gilir.

    Tumpang sari dapat pula dilakukan pada pertanaman tunggal (monokultur) suatu tanaman perkebunan besar atau tanaman kehutanan sewaktu tanaman pokok masih kecil atau belum produktif. Hal ini dikenal sebagai tumpang sela (intercropping). Jagung atau kedelai biasanya adalah tanaman sela yang dipilih. Dalam kehutanan hal ini disebut sebagai wana tani. Suatu konsep serupa juga diterapkan bagi budidaya padi dan ikan air tawar yang dikenal sebagai mina tani.

    PETANI BUDIDAYAKAN TANAMAN TUMPANG SARI

    TAMBAH PENGHASILAN, PETANI BUDIDAYAKAN TANAMAN TUMPANGSARI


    TEMANGGUNG, Banyak cara yang dilakukan petani agar penghasilannya bertambah  dengan menanam  berbagai komoditas secara  tumpangsari, selain tanaman pokok. Hal itu sebagaimana yang dilakukan petani di Kecamatan Bansari Kabupaten  Temanggung, mereka selain menanam tembakau sebagai tanaman pokok, juga menanam bawang merah dan koro tunggak sebagai tanaman tumpangsari.
    Sejumlah petani  menuturkan, pada musim tanam tembakau tahun ini  sebagian besar petani melakukan  penanaman  berbagai komoditas pertanian secara tumpangsari. Jenis tanaman yang dibudidayakan diantaranya koro tunggak, dan bawang merah. Penanaman secara tumpangsari itu dilakukan disela-sela tanaman tembakau yang merupakan tanaman pokok. Dengan demikian  lahan yang tidak luas, namun bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman. Hal itu dilakukan  agar  nantinya memeroleh tambahan penghasilan, selain  tembakau.
    Untuk komoditas pertanian bawang merah, petani lebih dahulu menanam  dengan rentang waktu 1 bulan sebelum  tembakau ditanam . Pada saat tanaman tembakau  mulai tumbuh membesar umur 1 bulan seperti saat ini, bawang merah sudah siap dipanen. Selanjutnya  hasil panenannya  dijual kepada pedagang laku Rp. 4000 per kg. Rata-rata setiap 1 kg bibit seharga Rp. 6000, setelah ditananam mampu menghasilkan bawang merah 3 kg  senilai Rp. 12.000. Dengan  perbandingan tersebut maka setiap 1 kg bibit, petani maraup keuntungan kotor  Rp. 6000. Apabila  dikurangi biaya operasional untuk penyiapan lahan dan pemupukan  Rp. 2000, maka keuntungan bersih yang diperoleh Rp. 4000/1 kg bibit.
    “Disela-sela tanaman tembakau di areal  sekitar seperempat hektar, saya tanami bawang merah  menghabiskan bibit  50 kg  senilai Rp. 300.000. Saat ini  tembakau sudah mulai membesar dan bawang merah sudah mulai dipanen yang  diperkirakan menghasilkan 150 kg  senilai Rp. 600.000. Ya lumayan ada keuntungan Rp. 3000” tutur Subiyanto  seorang petani  disela-sela memanen
    Demikian halnya untuk komoditas koro tunggak, petani menanam setelah tembakau berumur 15 hari.  Harga bibit koro tunggak  setiap kgnya mencapai Rp. 10.000. Ketika sudah berumur 3 bulan, seiring tembakau sudah membesar, tanaman koro tuinggak siap dipanen. Rata-rata setiap  1 kg bibit menghasilkan 8 kg  yang setiap kgnya laku Rp. 4000. Dengan demikian setiap 1 kg bibit senilai Rp.10.000 mampu mengasilkan  Rp. 32.000, sehingga menyisakan keuntungan Rp. 22.000. Keuntungan tersebut bila dikurangi biaya operasional Rp. 5000, masih ada keuntungan bersih Rp. 17.000.
    “Di lahan tembakau seluas 0,4 hektar, secara tumpangsari ditanami koro tunggak menghabiskan bibit 30 kg  seharga Rp. 300.000. Diperkirakan pada saat panen nanti,  menghasilkan 240 kg senilai Rp. 960.000., sehingga masih ada keuntungan yang dinikmati untuk menambah kesejahteraan“ ujar Irfan  dan Atun  disela-sela menanam koro tunggak di lahan miliknya . (Hms /Edy Laks)

    Tumpang sari adalah suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tumpang sari yang umum dilakukan adalah penanaman dalam waktu yang hampir bersamaan untuk dua jenis tanaman budidaya yang sama, seperti jagung dan kedelai, atau jagung dan kacang tanah. Dalam kepustakaan, hal ini dikenal sebagai double-cropping. Penanaman yang dilakukan segera setelah tanaman pertama dipanen (seperti jagung dan kedelai atau jagung dan kacang panjang) dikenal sebagai tumpang gilir.

    Tumpang sari dapat pula dilakukan pada pertanaman tunggal (monokultur) suatu tanaman perkebunan besar atau tanaman kehutanan sewaktu tanaman pokok masih kecil atau belum produktif. Hal ini dikenal sebagai tumpang sela (intercropping). Jagung atau kedelai biasanya adalah tanaman sela yang dipilih. Dalam kehutanan hal ini disebut sebagai wana tani. Suatu konsep serupa juga diterapkan bagi budidaya padi dan ikan air tawar yang dikenal sebagai mina tani.

    PETANI BUDIDAYAKAN TANAMAN TUMPANG SARI

    TAMBAH PENGHASILAN, PETANI BUDIDAYAKAN TANAMAN TUMPANGSARI


    TEMANGGUNG, Banyak cara yang dilakukan petani agar penghasilannya bertambah  dengan menanam  berbagai komoditas secara  tumpangsari, selain tanaman pokok. Hal itu sebagaimana yang dilakukan petani di Kecamatan Bansari Kabupaten  Temanggung, mereka selain menanam tembakau sebagai tanaman pokok, juga menanam bawang merah dan koro tunggak sebagai tanaman tumpangsari.
    Sejumlah petani  menuturkan, pada musim tanam tembakau tahun ini  sebagian besar petani melakukan  penanaman  berbagai komoditas pertanian secara tumpangsari. Jenis tanaman yang dibudidayakan diantaranya koro tunggak, dan bawang merah. Penanaman secara tumpangsari itu dilakukan disela-sela tanaman tembakau yang merupakan tanaman pokok. Dengan demikian  lahan yang tidak luas, namun bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman. Hal itu dilakukan  agar  nantinya memeroleh tambahan penghasilan, selain  tembakau.
    Untuk komoditas pertanian bawang merah, petani lebih dahulu menanam  dengan rentang waktu 1 bulan sebelum  tembakau ditanam . Pada saat tanaman tembakau  mulai tumbuh membesar umur 1 bulan seperti saat ini, bawang merah sudah siap dipanen. Selanjutnya  hasil panenannya  dijual kepada pedagang laku Rp. 4000 per kg. Rata-rata setiap 1 kg bibit seharga Rp. 6000, setelah ditananam mampu menghasilkan bawang merah 3 kg  senilai Rp. 12.000. Dengan  perbandingan tersebut maka setiap 1 kg bibit, petani maraup keuntungan kotor  Rp. 6000. Apabila  dikurangi biaya operasional untuk penyiapan lahan dan pemupukan  Rp. 2000, maka keuntungan bersih yang diperoleh Rp. 4000/1 kg bibit.
    “Disela-sela tanaman tembakau di areal  sekitar seperempat hektar, saya tanami bawang merah  menghabiskan bibit  50 kg  senilai Rp. 300.000. Saat ini  tembakau sudah mulai membesar dan bawang merah sudah mulai dipanen yang  diperkirakan menghasilkan 150 kg  senilai Rp. 600.000. Ya lumayan ada keuntungan Rp. 3000” tutur Subiyanto  seorang petani  disela-sela memanen
    Demikian halnya untuk komoditas koro tunggak, petani menanam setelah tembakau berumur 15 hari.  Harga bibit koro tunggak  setiap kgnya mencapai Rp. 10.000. Ketika sudah berumur 3 bulan, seiring tembakau sudah membesar, tanaman koro tuinggak siap dipanen. Rata-rata setiap  1 kg bibit menghasilkan 8 kg  yang setiap kgnya laku Rp. 4000. Dengan demikian setiap 1 kg bibit senilai Rp.10.000 mampu mengasilkan  Rp. 32.000, sehingga menyisakan keuntungan Rp. 22.000. Keuntungan tersebut bila dikurangi biaya operasional Rp. 5000, masih ada keuntungan bersih Rp. 17.000.
    “Di lahan tembakau seluas 0,4 hektar, secara tumpangsari ditanami koro tunggak menghabiskan bibit 30 kg  seharga Rp. 300.000. Diperkirakan pada saat panen nanti,  menghasilkan 240 kg senilai Rp. 960.000., sehingga masih ada keuntungan yang dinikmati untuk menambah kesejahteraan“ ujar Irfan  dan Atun  disela-sela menanam koro tunggak di lahan miliknya . (Hms /Edy Laks)

Most Popular

Recent Comments