AKUSTIK KELAUTAN KECEPATAN SUARA TERHADAP KEDALAMAN DI LAUT BERING

PENDAHULUAN

 

Laut bering

 

            Laut Bering merupakan kawasan perairan di Lautan Pasifik yang dipisahkan dari Teluk Alaska oleh Semenanjung Alaska dan Kepulauan Aleut. Keluasan laut ini mencapai sekitar 2 juta km². Laut ini dikelillingi oleh Alaska di timur; Siberia dan Semenanjung Kamchatka, Rusia di sebelah barat, Semenanjung Alaska dan Kepulauan Aleutian di selatan. Di utara laut ini ialah Selat Bering. Selat ini memisahkan laut ini dengan Laut Chukchi.

Laut Bering membentuk satu teluk yang memisahkan Semenanjung Alaska dengan tanah besarnya, yang bernama Teluk Bristol. Laut Bering ini dinamakan sempena nama seorang pelayar Denmark bernama Vitus Bering.

Laut Bering adalah salah satu ekosistem laut yang paling produktif di lautan global. Proses fisik dan musiman laut es maju dan mundur di Laut Bering memainkan peran utama dalam mengendalikan sifat massa air dan membentuk karakter ekosistem pelagis dan benthic yang ditemukan di laut tersebut. Di landas kontinen yang luas Laut Bering, tingkat produksi musiman yang tinggi fitoplankton pelagis primer mendukung populasi besar mamalia laut dan burung laut, dan perikanan pantai Alaska.

ISI

Kecepatan suara dalam air laut

Kecepatan rambat suara di dalam laut suara dirambatkan melalui medium air. Kecepatan rambat suara di laut berbeda dengan kecepatan rambat udara ataupun daratan. Jika dibandingkan dengan cepat rambat udara, di laut kecepatan rambatnya empat kali lebih cepat dibandingkan dengan cepat rambat bunyi di udara. Hal tersebut diakibatkan partikel laut lebih rapat dibandingkan dengan di udara yang lebih renggang. Sedangkan di darat (zat padat) lebih cepat di bandingkan di laut karena benda padat memiliki kerapatan yang paling tinggi dibandingkan dengan medium gas dan cair.Kecepatan bunyi di air laut diasumsikan sebesar ± 1.500 m/s.

Komponen yang mempengaruhi kecepatan suara di dalam laut

Yang dapat mempengaruhi cepat rambat bunyi di laut antara lain suhu, tekanan dan kedalaman, salinitas, densitas (kerapatan).

  • Suhu / Temperatur (T)

Pada prinsipnya, semakin tinggi suhu suatu medium, maka semakin cepat perambatan bunyi dalam medium tersebut. Dikarenakan makin tinggi suhu, maka semakin cepat getaran partikel-partikel dalam medium tersebut. Akibatnya, proses perpindahan getaran makin cepat.

Di laut sendiri, pada lapisan Mix-Layer, pengaruh suhu sangat besar karena pada lapisan ini pengaruh dari sinar matahari terhadap suhu permukaan sangat besar sehingga mengakibatkan suhu pada lapisan Mix-Layer tinggi. Pada lapisan termoklin pun suhu masih sangat berpengaruh, hal tersebut dikarenakan adanya perubahan suhu yang sangat mencolok. Akan tetapi pada lapisan Deep-Layer, suhu tidak begitu mempengaruhi karena perubahan suhu yang tidak mencolok.

  • Tekanan dan Kedalaman (P)

Setiap penambahan kedalaman maka tekanan akan semakin tinggi. Semakin tinggi tekanan, akan semakin tinggi cepat rambat bunyinya. Hal tersebut karena partikel-partikel zat yang bertekanan tinggi terkompresi sehingga cepat rambat yang dihasilkan lebih besar. Pengaruh tekanan akan lebih besar dari suhu dan salinitas pada lapisan Deep-Layer.

  • Salinitas (S)

Kenaikan salinitas meningkatkan modulus axial, sehingga tiap kenaikan salinitas akan meningkatkan cepat rambat bunyi.

  • Densitas atau Kerapatan (ρ)

Makin rapat medium umumnya semakin besar cepat rambat bunyi dalam medium tersebut. Penyebabnya adalah makin rapat medium maka makin kuat gaya kohesi antar-partikel, akibatnya pengaruh suatu bagian medium kepada bagian yang lain akan mengikuti getaran tersebut dengan segera sehingga perpindahan getaran terjadi sangat cepat.

Gambar kecepatan suara, temperature dan salinitas dalam empat musim

 

Pada bulan April 1992,  musim semi

stasiun 3396144, id 3428, 29 april 92 sound speed deep 2051stasiun 3396144, id 3428, 29 april 92 temperature deep 2051

stasiun 3396144, id 3428, 29 april 92 salinitas deep 2051

Pada bulan Agustus 1992, musim panas

stasiun 8397283, id 3431, 26 agustus 92 sound speed deep 2000stasiun 8397283, id 3431, 26 agustus 92 temperature deep 2000

stasiun 8397283, id 3431, 26 agustus 92 salinitas deep 2000.

Pada bulan November 1992, musim gugur

stasiun 3400355, id 3433, 30 november 92 sound speed deep 2075stasiun 3400355, id 3433, 30 november 92 temperatur deep 2075

stasiun 3400355, id 3433, 30 november 92 salititas deep 2075

Pada bulan Desember 1992, musim dingin

stasiun 3400364, id 3435, 01 desember 92 sound speed deep 2060stasiun 3400364, id 3435, 01 desember 92 temperature deep 2060

stasiun 3400364, id 3435, 01 desember 92 salinitas deep 2060

 

 

 

PEMBAHASAN

            Laut bering adalah laut yang  memiliki iklim yang dingin sepanjang tahun suhu rata-rata laut ini pada tahun 1992 tidak lebih dari 10oC  pada permukaan. Dilihat dari gambar di atas kecepatan suara pada laut bering menunjukan semakin ke dalam  air kecepatan suara semakin cepat sekitar 1490 m/s selama empat musim dalam tahun 1992.

Kenaikan kecepatan suara yang paling signifikan terjadi pada kedalam 100 sampai 500 meter dibawah permukaan laut, faktor yang memepengaruhi kecepatan suara adalah suhu, salinitas, tekanan dan densitas.

Dalam hal ini laut bering memiliki suhu yang rendah sepanjang tahun kita telah mengetahi salah satu faktor yang mempengaruhi adalah suhu semakin tinggi suhu maka semakin cepat perambatan suara tersebut, karena semakin tinggi suhu, maka semakin cepat getaran partikel-partikel dalam medium tersebut. Akibatnya, proses perpindahan getaran makin cepat. Pada salinitas sendiri perubahan dalam empat musim tersebut tidak terlalu signifikan seperti perubahan suhu. Setiap penambahan kedalaman maka tekanan akan semakin tinggi. Semakin tinggi tekanan, akan semakin tinggi cepat rambat bunyinya. Hal tersebut karena partikel-partikel zat yang bertekanan tinggi terkompresi sehingga cepat rambat yang dihasilkan lebih besar. Pengaruh tekanan akan lebih besar dari suhu dan salinitas pada lapisan Deep-Layer.

Pada lapisan permukaan (surface layer), kecepatan bunyi cenderung meningkat karena suhu dan salinitas relative konstan dan kecepatan suara hanya dipengaruhi oleh tekanan yang meningkat.

Pada lapisan termoklin (Thermocline), di mana terjadi perubahan suhu dan salinitas yang lebih dominan daripada perubahan tekanan, maka kecepatan bunyi mengalami penurunan.

Pada lapisan dalam (Depp-Layer), suhu dan salinitas kembali konstan dan terjadi perubahan tekanan terhadap kedalaman sehingga kecepatan bunyi relative meningkat.

Oleh karena itu perubahan yang paling terlihat kecepatan suara terjadi pada bagian permukaan karena pengaruh suhu dan salinitas masih dominan sedangkan tekan yang masih kurang mempengaruhi, dilihat pada bulan april yaitu musim semi kecepatan di permukaan yaitu 1462 m/s dengan suhu 3.6 oC dan salinitas 32 psu, pada bulan agustus yaitu musim panas kecepatan suara 1481 m/s dengan suhu 8,2oC dan salinitas 32,8 psu, pada bulan November yaitu musim gugur kecepatan suara 1466 m/s dengan suhu 4,5 oC dan salinitas 32,9 psu, pada bulan Desember yaitu musim dingin kecepatan suara  1465 m/s dengan suhu 3,5oC dan salinitas 32,5 psu. Sedangakan pada lapisan mix layer pada kedalaman 2000 meter lebih kecepatan suara dalam laut bering 1490 m/s dengan suhu 1,5oC dan salinitas 34,6 psu.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

–          Schlitzer,R. Ocean Data View

–          http://www.nodc.noaa.gov/OC5/WOD/datageo.html

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Delta sungai siak

DELTA SUNGAI SIAK

Angga Meidia P

230210110049

Sungai Siak adalah sebuah sungai yang terletak di provinsi Riau, Indonesia. Merupakan sungai terdalam di Indonesia, yang kedalamannya dahulu mencapai 30 meter, namun akibat pendangkalan kini tinggal sekitar 18 meter.

Meander pada sungai siak merupakan sungai siak yang berkelok – kelok yang terbentuk karena adanya pengendapan. Proses berkelok-keloknya sungai siak dimulai dari bagian hulu sungai siak. Pada bagian hulu, volume air kecil dan tenaga yang terbentuk juga kecil. Akibatnya sungai mulai menghindari penghalang dan mencari rute yang paling mudah dilewati. Sementara, pada bagian hulu belum terjadi pengendapan. Pada bagian tengah sungai siak, yang wilayahnya mulai datar aliran air mulai lambat dan membentuk meander. Proses meander terjadi pada tepi sungai, baik bagian dalam maupun tepi luar. Di bagian sungai siak yang aliranya cepat akan terjadi pengikisan sedangkan bagian tepinya yang lamban alirannya akan terjadi pengendapan.Apabila hal itu berlangsung secara terus-menerus akan membentuk meander.

Secara umum sungai dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: Sungai Muda (dimana sungai ini mempunyai lembah yang sempit, terdapat air terjun dan pola alirannya menyerupai hurup P), Sungai Dewasa (dimana sungai ini sudah mempunyai lembah yang mulai meluas dan tidak terdapat lagi air terjun) dan Sungai Tua (dimana Jarak antara tebing dangan pinggiran sungai masih ada pasir dan dataran sungai makin meluas, sehingga terjadi erosi dan mengakibatkan banjir). Dapat kita klasifikasikan bahwa sungai siak ini termasuk kedalam Sungai Tua karena sungai ini mempunyai lembah berbentuk U dan sudah berkelok-kelok (meandering) yang menandakan bahwa sungai tersebut sudah pada stadium tua.

 

 

Bagian-bagian dari sungai bisa dikategorikan menjadi tiga, yaitu bagian hulu, bagian tengah dan bagian hilir.

a. Bagian Hulu

Bagian hulu memiliki ciri-ciri: arusnya deras, daya erosinya besar, arah erosinya (terutama bagian dasar sungai) vertikal. Palung sungai berbentuk V dan lerengnya cembung (convecs), kadang-kadang terdapat air terjun atau jeram dan tidak terjadi pengendapan.

b. Bagian Tengah

Bagian tengah mempunyai ciri-ciri: arusnya tidak begitu deras, daya erosinya mulai berkurang, arah erosi ke bagian dasar dan samping (vertikal dan horizontal), palung sungai berbentuk U (konkaf), mulai terjadi pengendapan (sedimentasi) dan sering terjadi meander yaitu kelokan sungai yang mencapai 180° atau lebih.

c. Bagian Hilir

Bagian hilir memiliki ciri-ciri: arusnya tenang, daya erosi kecil dengan arah ke samping (horizontal), banyak terjadi pengendapan, di bagian muara kadang-kadang terjadi delta serta palungnya lebar.

 

Kabupaten Bengkalis mempunyai letak yang sangat strategis, karena dilalui oleh jalur perkapalan internasional menuju ke Selat Malaka. Bengkalis juga termasuk dalam salah satu program Indonesia Malaysia Singapore Growth Triangle (IMS-GT) dan Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMT-GT), terlibat aktif juga dalam Dunia Melayu Dunia Islam. Adapun secara geografis, Kabupaten Bengkalis terletak dibagian pesisir timur pulau Sumatera, antara 2008’00”- 0055’52” LU dan 10005’36”- 102030’32” BT.

Kabupaten Bengkalis berbatasan dengan :
Utara : Selat Malaka
Timur : Selat Malaka
Selatan : Kabupaten Siak dan Meranti
Barat : Kab Rokan Hilir

Delta

Pada saat aliran sungai siak mendekati muara, maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terkadi pengendapan sedimen oleh air sungai siak. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan Lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama , akan terbentuk lapisan – lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sedimen membentuk dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk delta sungai siak. Delta sungai siak membentuk sebuah segitiga ketika dilihat dari atas. Bagian tepi luar delta ini tererosi, dan salinitas beberapa laguna telah meningkat karena bertambahnya saluran sungai siak di hilir.

Kabupaten bengkalis. Wilayahnya mencakup daratan bagian timur pulau Sumatera dan wilayah kepulauan, dengan luas adalah 11.481,77 km². Ibukota kabupaten ini berada di Bengkalis tepatnya berada di Pulau Bengkalis yang terpisah dariPulau Sumatera. Pulau Bengkalis sendiri berada tepat di muara sungai Siak, sehingga dikatakan bahwa pulau Bengkalis adalah delta sungai Siak. Bengkalis merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian rata-rata sekitar 1-6,1 m dari permukaan laut. Sebagian besar merupakan tanah organosol, yaitu jenis tanah yang banyak mengandung bahan organik. Di daerah ini juga terdapat beberapa sungaitasik (danau) serta 24 Pulau besar dan kecil. Beberapa di antara pulau besar itu adalah Pulau Rupat (1.524,84 km²) dan Pulau Bengkalis (938,40 km²).

 

Pembentukan Delta

Di muara sungai, air sungai yang sering keruh dan berwarna coklat bertemu dengan air laut yang umumnya jernih. Di tempat ini terdapat gundukan tanah yang dinamakan delta. Delta ini terbentuk karena air sungai yang keruh coklat, membawa berbagai jenis kotoran dan tanah bertemu dengan ion-ion yang terdapat di air laut, mengalami koagulasi.

Air sungai yang setiap hari tampak keruh coklat itu merupakan suatu koloid. Karena keruh, dapat diduga bahwa zat-zat yang menyatu dengan air sungai itu mayoritas berfasa padat. Koloid yang fasa terdispersinya padat dan medium pendispersinya cair, yaitu air, dinamakan sol. Dikatakan bahwa air sungai adalah koloid padat dalam cair (padat/cair atau s/l). Suatu koloid merupakan campuran antara homogen dan heterogen. Hal ini menjelaskan bahwa bagian terkecil koloid berupa sekelompok partikel yang tersebar dalam medium pendispersinya. Masing-masing kelompok ini dapat stabil dalam waktu yang cukup lama berada diantara mediumpendispersi, karena dilindungi oleh ion-ion tertentu yang diadsorpsi oleh kelompok partikel tersebut.

Pada saat air sungai bertemu dengan air laut, maka terjadilah perlucutan muatan koloid sungai oleh ion-ion dari air laut. Ion-ion yang berlawanan muatan ini tarik menarik, sehingga terjadi penetralan muatan. Karena pelindung atau selimut muatan koloid itu terlucuti, maka masing-masing kelompok partikel koloid itu menyatu dan menggumpal. Makin lama gumpalan itu membesar dan akhirnya akan mengendap menjadi gundukan tanah. Peristiwa ini merupakan koagulasi koloid oleh elektrolit.

Pulau bengkalis ini terletak di muara Sungai Siak dan merupakan delta Sungai Siak yang terbentuk dari lumpur yang mengendap karena berkurangnya laju alir sungai saat memasuki laut.

 

 Jenis Delta

Secara fisiografis, delta dibagi menjadi tiga yaitu Upper Delta Plain, Lower Delta Plain, dan Sub – aqueous Delta. Upper Delta Plain adalah delta yang tidak dipengaruhi oleh arus air laut dan datarannya didominasi oleh alluvial atau sedimen yang terakumulasi oleh sungai. Lower Delta Plain adalah delta yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Ketika air laut pasang, delta ini akan tenggelam. Sebaliknya, ketika air laut surut, delta akan timbul kembali. Ini adalah hasil dari proses fluvial dan proses marine. Sedangkan Sub – aqueous Delta adalah delta yang berada di bawah permukaan laut, dan karakter delta ini dipengaruhi oleh proses marine. Jadi, delta sungai Siak ini apabila dilihat dari segi fisiografisnya

Secara stratigrafi, delta juga dibagi menjadi tiga yaitu Topsets Beds, Foreset Beds, dan Bottomset Beds. Topsets Beds sering terdapat di Upper dan Lower Delta Plains dan sedimen yang terakumulasi relatif horizontal atau datar. Foreset Beds, sedimennya miring (agak curam) dan terdapat di Sub – aqueous Delta Plain, ada gradasi dari kasar menjadi halus ketika mengalir ke laut. Bottomset Beds terletak selalu di dasar laut, dan sedimennya agak miring dan tidak terlalu curam.  Delta pada sungai siak ini termasuk jenis upper delta karena tidak dipengaruhi oleh air laut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ACUAN

–          Sonny,bangbang. http://babangsony.blogspot.com/2010/10/bengkalis-kota-terubuk.html

–          http://bappeda.bengkaliskab.go.id/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lamun Sebagai Carbon Trap

Lautan memiliki kemampuan menyimpan panas lebih besar dibandingkan dengan atmosfir. Kecepatan pengikatan CO2 oleh lautan dikontrol oleh temperatur air laut, kimia permukaan, biologi serta berbagai pola pengadukan dan sirkulasi yang menggambarkan jumlah karbon yang dipindahkan dari permukaan air laut ke dasar laut. Pertukaran CO2 antara permukaan laut dan atmosfir adalah melalui difusi yang terjadi pada garis pertemuan antara permukaan laut dengan atmosfir. Proses tersebut sangat dipengaruhi oleh perbedaan tekanan partial CO2 antara lautan dan atmosfir, kecepatan angin di permukaan laut dan sifat permukaan laut. Siklus karbon dimulai dengan dilepaskannya CO2 oleh berbagai macam sumber seperti:

* Pengilangan minyak bumi.

* Asap pabrik dan kendaraan bermotor.

* Peristiwa alam seperti aktivitas hydrothermal dan vulkanik

* Organisme laut

* Aktivitas manusia, hewan, dan tumbuhan

Di ekosistem air, pertukaran CO2 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO2 di dalam air. Selain alga, yang menjaga keseimbangan CO2 di lautan salah satunya adalah lamun (seagrass). Lamun berfungsi sebagai penyerap karbon karena kemampuannya sebagai tumbuhan yang berfotosintesis. Per unit area padang lamun (seagrass) dapat menyimpan karbon hingga dua kali lipat dari hutan. Padang lamun (seagrass) menyimpan hingga 83.000 metrik (satuan massa yang sama dengan 1000 kilogram) ton karbon per kilometer persegi, sebagian besar disimpan pada lapisan sedimen di bawahnya. Sebagai perbandingan, hutan tropis hanya mampu menyimpan

karbon sebanyak 30.000 metrik ton per kilometer persegi, yang sebagian besar dalam bentuk kayu (pohon).

Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Seperti halnya tanaman darat, lamun memiliki daun, akar, melakukan jaringan, bunga dan biji-bijian, dan memproduksi makanan mereka sendiri melalui fotosintesis. Tidak seperti tanaman darat, bagaimanapun, lamun tidak memiliki yang kuat, batang dan batang mendukung diperlukan untuk mengatasi gaya gravitasi di darat. Sebaliknya, daun lamun didukung oleh daya apung alami air, tetap fleksibel saat berhubungan dengan gelombang dan arus.

Ekosistem lamun (seagrass) adalah suatu ekosistem yang dinamis untuk transformasi karbon, Lamun (seagrass) memiliki kemampuan unik untuk terus menyimpan karbon dalam akarnya dan sedimen di pesisir pantai. Ekosistem padang lamun (seagrass) telah lama dikenal memiliki banyak manfaat seperti : “penangkap” sedimen, melindungi garis pantai dari erosi dan ombak dan menjadi habitat bagi ikan serta kehidupan laut lainnya.

Ciri-ciri ekologis padang lamun (seagrass) antara lain adalah :

1.Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir

2.Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang

3.Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung 4.Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan 5.Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air termasuk daur genustif

6.Mampu hidup di media air asin

7. Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik

– Fauna yang bersimbiosis di Ekosistem Lamun (seagrass)

* Komunitas lamun (seagrass) dihuni oleh banyak jenis hewan bentik, organisme demersal serta pelagis yang menetap maupun yang tinggal sementara

* Spesies yang sementara hidup di lamun adalah juvenil dari organisme yang mencari makanan serta perlindungan

* Krustase

* Moluska

* Echinodermata

Pada intinya Ekosistem lamun (seagrass) perlu dijaga kelestariannya karena lamun (seagrass) sebagai habitat beberapa organisme laut, selain itu lamun (seagrass) dapat menjaga suatu perairan tetap menjadi karbon sink dan tidak menjadi karbon source.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tugas Organisasi Kemaritiman Hukum laut

ANGGA MEIDIA

230210110049

International Union of Marine Insurance

 

International Union of Marine Insurance (IUMI) adalah badan profesional yang dijalankan oleh dan untuk anggotanya. IUMI merupakan asuransi kelautan nasional dan internasional dan mempertimbangkan isu-isu yang menarik bagi industri asuransi kelautan di seluruh dunia.

Akar IUMI, dalam bentuk yang sekarang, dapat ditelusuri ke bagian akhir dari abad ke-19, waktu terus meningkat dalam volume perdagangan internasional dan konsumsi dan terus-menerus meningkatkan komunikasi. Transisi dari berlayar ke uap sudah berlangsung, menyebabkan kebutuhan yang lebih besar untuk asuransi kelautan, terutama asuransi kargo, baik laut dan darat.

Sampai pertengahan abad ke-19, asuransi yang paling kelautan ditempatkan di pasar lokal.Perkembangan, dalam perdagangan dan pelayaran internasional, bagaimanapun, memunculkan transaksi lebih internasional. Pasar baru yang berkembang dan ada permintaan untuk keseragaman dalam asuransi, paling tidak oleh bank dan klien.

Dalam bangun dari perubahan yang cepat tersebut, sejumlah besar perusahaan asuransi laut terbentuk, semua berusaha keras untuk mengamankan pangsa pasar. Hal ini menyebabkan persaingan ketat dan penggunaan kacau berbagai aturan dan kondisi kebijakan, banyak yang tidak memiliki kesesuaian dan substansi. Resesi yang diikuti pada tahun 1870 memukul perusahaan-perusahaan di tengah-tengah pertarungan dipotong-tenggorokan untuk bisnis dan mendorong banyak dari mereka ke dalam likuidasi. Saat itulah perlunya kerjasama internasional sepenuhnya diakui oleh pasar tradisional, terutama di Inggris dan Benua Eropa dan itu Underwriters Jerman yang mengambil inisiatif pada 8 Januari 1874 dengan membentuk Transport Internationaler – Versicherungs – Verband di Berlin. Ini kemudian menjadi International Union of Marine Insurance (IUMI).

Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk menciptakan sebuah asosiasi «mana para anggota bisa membahas masalah bisnis kepentingan bersama dengan tujuan menyepakati prinsip-prinsip mengenai pengelolaan bisnis asuransi marine».

Pada saat yang sama inisiatif lebih lanjut yang diambil untuk meningkatkan klasifikasi kapal dan dengan demikian mempengaruhi pekerjaan yang dilakukan oleh Classification Societies, untuk mengkompilasi peraturan sehubungan dengan praktik kebiasaan dan kondisi asuransi, dan untuk mengekspresikan opini yang objektif tentang masalah hukum, seperti aturan seragam untuk Bills of Lading dll IUMI juga mencoba untuk menetapkan tarif konsultasi untuk komoditas tertentu seperti kapas, biji-bijian, kayu, wol, dll tembakau Namun, upaya ini gagal karena semua kesepahaman dan / atau perjanjian pada tingkat pasti terhadap undang-undang yang ada di beberapa negara anggota.

Oleh Perang Dunia I, masing-masing perusahaan dari 22 negara telah mendaftarkan diri sebagai anggota. Pada tahun 1926 perusahaan Inggris dan Perancis juga bergabung. Setelah Perang Dunia II (1946), keanggotaan perorangan digantikan oleh anggota Asosiasi Nasional.Hal ini memungkinkan bagi Lloyd untuk bergabung melalui Asosiasi Underwriters ‘, dan saat itulah IUMI mulai menjadi sebuah organisasi yang benar-benar internasional, mengikat bersama sejarah pra-perang IUMI dengan aspirasi pasca-perang, kebutuhan dan tuntutan dari berbagai nasional pasar.

Kegiatan IUMI

– IUMI menyediakan forum penting untuk membahas dan bertukar ide kepentingan umum untuk asuransi kelautan dan reasuransi.
– IUMI melindungi dan memajukan kepentingan anggotanya.
– IUMI memelihara jaringan komunikasi di seluruh dunia, platform dari mana pandangan dan ide-ide tentang hal-hal asuransi kelautan dan reasuransi disebarluaskan kepada semua pihak yang berkepentingan yang juga termasuk industri perkapalan, surveyor dan kantor hukum internasional.

– membela kepentingan anggota kami ‘dengan organisasi internasional seperti Organisasi Maritim Internasional (IMO) dan media khusus internasional.

Status yang unik IUMI ini

IUMI memiliki status yang unik di dunia kelautan dan asuransi pengangkutan. Anggotanya berdedikasi untuk mempertahankan dan memperluas perdagangan, dengan fokus pada maju tetapi juga pasar negara berkembang.

Misi dan Visi

Misi:

Untuk mewakili, menjaga dan mengembangkan minat asuransi ‘di laut dan asuransi pengangkutan.

Visi:

Dalam memenuhi misinya, IUMI, antara lain:
– Kemajuan kepentingan bisnis asuransi kelautan;
– Mendorong kerjasama pasar nasional tentang isu-isu kelautan;
– Memfasilitasi pertukaran dan penyebarluasan informasi yang berkaitan dengan asuransi laut dan teknologi
– Mempromosikan kerjasama dengan organisasi internasional lainnya pemerintah dan non-pemerintah kelautan dan asosiasi.
– Dan mempromosikan kualitas underwriting.

Dalam IUMI memiliki komite yang membahas hal-hal kelautan dalam konfrensi tahunan seperti:

–          Komite Cargo memiliki perwakilan dari mayoritas kargo underwriting pusat di Asia-Pasifik, Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Afrika dan Timur Tengah. Dengan demikian, kami dapat memantau semua perkembangan penting dalam industri asuransi kargo.

–          Komite pencegahan rugi, pencegahan kerugian bahkan untuk kepentingan yang lebih besar dari sistem ekonomi sejak kenyataan bahwa beban keuangan kejadian tersebut dipindahkan dari klien kepada perusahaan asuransi – asuransi sebagai mekanisme transfer risiko – tidak menghilangkan konsekuensi negatif dan efek akhirnya mengganggu pada kegiatan ekonomi.

–          Hukum dan Kewajiban Komite terdiri dari pengacara, underwriter, adjuster klaim dan lain-lain dengan keterlibatan sehari-hari risiko kelautan dan asuransi. Ini memberikan banyak pengalaman dari faktor hukum, ekonomi dan risiko yang mempengaruhi perusahaan menjamin dan industri asuransi.

DAFTAR PUSTAKA

–          http://www.iumi.com/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RESUME HUKUM LAUT

TUGAS RESUME                                                  

ANGGA MEIDIA

230210110049

KELOMPOK 9

 

Islamic Maritime Law: An Introduction, Studies in Islamic Law and

Society (Leiden: E. J. Brill, 1998).

Hassan khalilieh yang mengkaji  islam hukum kelautan dari abad ke 9 sampai abad ke 13. Sebuah survei. pengenalan. Setiap pembaca dengan minat dalam hukum Maritim Islam di abad pertengahan di Mediterania akan menemukan buku ini merupakan referensi yang berharga. Khalilieh berpendapat bahwa Al-Qur’an. Sunnah, dan sumber-sumber fiqh dari abad ke-1 dan 2 (Hijrah) yang umumnya diam pada aturan kepelautan. Dalam beberapa dokumenter sumber utama dari periode itu menemukan awal dari keunggulan Angkatan Islam di Mediterania. Tapi untuk memahami hukum Kepelautan, harus melihat fatwa koleksi dan teks-teks hukum dari abad ke 9 – 13. Dia juga tidak membatasi dirinya untuk sekolah hukum (Madzhab) atau aliran Islam. Sebaliknya, ia bergantung pada tradisi hukum dari Sunni, Shi’i, Khariji, sekolah ibadi. Namun karena fokus di Mediterania Khalilieh memberikan perhatian khusus kepada sekolah Maliki dan sekolah lanjutan mengikuti metode Abraham Udovitch. Khalilieh menggunakan sumber-sumber sejarah seperti dokumen Geniza, akutansi dalam sejumlah perjalanan dan risalah navigasi untuk mengatasi daerah-daerah yang tradisi hukum adalah dengan cara diam. Seluruh karyanya terletak di pernyataan halus Braudelian untuk memahami hukum Maritim Islam. Secara khusus, ia menunjukkan bahwa hukum Maritim Islam mungkin kelanjutan Hukum Laut Mediterania, seperti hukum Rhodian laut di Justinianus yang menceritakan yang wujud dominasi muslim di Mediteranian.

Khalilieh menyajikan deskripsi pekerjaan umum dari terminologi pelaut dan perawatan dari berbagai masalah hukum yang melibatkan pengiriman. Dia mulai dengan deskriptif tentang terminologi Arab teknis terkait dengan suku. Dan dia bergantung pada perhitungan , tawarikh, dan koleksi fatawa, khalilieh menyajikan sebuah tipologi perahu, perahu peralatan dan awak Stasiun. Sebagai contoh, setidaknya tiga jenis perahu tercermin dalam bahan sumber: qarib (sebuah perahu yang ringan), markab (kapal kecil untuk laut tinggi), dan safina (laut tinggi kapal terbesar, juga dikenal sebagai fulk). Spesialis dalam sejarah maritim, seperti Khalilieh menunjukkan, perdebatan perbezaan antara suku dan riverfaring perahu.Perbedaan ditemukan di Justinianus ‘Digest. Klasik sumber Islam sering membuat perbedaan ini, tetapi itu tidak tercermin dalam dokumen Geniza atau sumber lain sejarah sebelum 1400 masehi. Menurut Khalilieh, alasan perbedaan ini tidak ditemukan dalam Geniza bahwa pedagang Geniza  untuk menghindari tambahan biaya terkait dengan mentransfer kargo dari perahu yang bepergian di sepanjang Sungai Nil di sepanjang Mediterania. Setelah itu, banyak diskusi berputar di sekitar tema hukum, seperti hukum-hukum komersial konstruksi kapal; undang-undang jettison, penyelamatan, dan tabrakan, militer hukum Maritim dan seterusnya. Pengobatan dia yang luas memberikan gambaran yang solid dari topik. Satu kritik yang  diarahkan pada karyanya menyangkut bahwa hukum Islam Kepelautan mungkin merupakan kelanjutan dari tradisi hukum Mediterania. Khalilieh ketergantungan pada sumber Maliki seperti Ibn Rushd al-baian wa al-Tahsil, dan Geniza mempengaruhi dia terhadap pandangan ini. Namun, ini juga mungkin terjadi bahwa para Dewan juri di sekitar Mediterania yang menanggapi masalah-masalah yang timbul dari tradisi hukum tersebut. Sebagai contoh, Khaled Abou El negeri, dalam karyanya pada hukum Islam pemberontakan (pemberontakan dalam hukum Islam) mengusulkan adanya budaya mazhab di mana ahli hukum perdebatan satu sama lain tentang hukum sesuai dalam satu set tertentu dalam keadaan melalui penggunaan argumen hukum teknis. Dengan kata lain, mungkin beberapa perdebatan para dewan juri sudah dengan satu sama lain yang didorong bukan oleh historis kebutuhan Maritim, tetapi sebaliknya, dengan isu-isu yuridis yang ditularkan melalui teks dan dibicarakan di kalangan ahli hukum terlatih.

Sebagai contoh Khalilieh menulis tentang perdebatan mazhab di jettisoning manusia ketika kapal berada dalam bahaya tenggelam. Pada titik ini ia merujuk kepada ahli hukum yang umumnya terdekat untuk Mediterania, seperti al-Qarafi (Mesir), al-Shammakhi (Tunisia), Ibn Hazm (Andalus), Kadi Cak (Maghrib), dan Sahnun (Maghrib). Namun, apa Khalilieh tidak lakukan  menentukan konteks di mana penulis ini menulis. Contohnya khalilieh bergantung pada al-qarafis al-furuq untuk titik ini. Bagian dari al-Furuq yang Khalilieh bergantung untuk alamat masalah ini prinsip umum ( qaida). Mengenai keadaan di bawah mana kewajiban untuk perlindungan properti mengakhiri. Lebih lanjut, Abu Hamid al-Ghazali, yang melakukan perjalanan ke Mesir tetapi sebaliknya lahir, hidup, dan meninggal di Khurasan, membahas masalah jettisoning orang-orang dari kapal di nya al-Mustasfa, lagi karya Ushul al-fiqh. Meskipun Khalilieh merujuk kepada al-Ghazali karya lain hukum positif, seperti al-Wajiz, ia tidak merujuk kepada al-Mustasfa. Ketika al-Ghazali membahas masalah orang-orang jettisoning dari kapal di al-Mustasfa, dia melakukan itu dalam konteks diskusi tentang maqasid al-sharia dan maslaha Bagaimana seseorang harus mendekati titik ini? hal ini  tidak hanya sebuah pertanyaan untuk meminta: kebutuhan praktis Mediterania atau yurisprudensi dan diikat hypothesizing? Sebaliknya, isu melibatkan interaksi antara mazhab budaya, pengembangan konseptual yurisprudensi dan diikat, hukum positif dan realitas sejarah. Khalilieh mengabaikan peran dua yang pertama, tetapi sebaliknya menumpukan dua yang terakhir, dan dengan demikian menarik Perhubungan antara mereka. Sementara ahli hukum sejarah keadaan tidak dapat diabaikan, yang juga tidak dapat mengabaikan. Kemungkinan bahwa ahli hukum akan berdebat dengan satu sama lain pada titik-titik hukum dan yurisprudensi. Jelas, melibatkan saling mempengaruhi semacam ini baik di luar lingkup pekerjaan Khalilieh. Yang dimaksudkan sebagai sebuah pengantar bidang hukum Islam. Akibatnya, titik kritis ini hendaknya dipahami untuk mengurangi nilai kontribusi Khalilieh. Jelas, karyanya tanah baru dalam hukum Islam dan harus dibaca oleh ahli dan siswa.

Kesimpulan yang di dapat dari reviews buku hokum islam yang di jelskan Khalilieh dalam buku ini bersumber pada Maliki seperti ibnu Rushd al-baian wa al-Tahsil, dan Geniza mempengaruhi dia terhadap pandangan ini. Namun, ini juga mungkin terjadi bahwa para Dewan di sekitar Mediterania yang menanggapi masalah-masalah yang timbul dari tradisi hukum tersebut. Sebagai contoh, Khaled Abou El negeri, dalam karyanya pada hukum Islam pemberontakan (pemberontakan dalam hukum Islam) mengusulkan adanya budaya mazhab di mana ahli hukum perdebatan satu sama lain tentang hukum sesuai dalam satu set tertentu dalam keadaan melalui penggunaan argumen hukum teknis. Dengan kata lain, mungkin beberapa perdebatan para dewan juri sudah dengan satu sama lain yang didorong bukan oleh historis kebutuhan Maritim, tetapi sebaliknya, dengan isu-isu yuridis yang ditularkan melalui teks dan dibicarakan di kalangan ahli hukum terlatih. contoh Khalilieh menulis tentang perdebatan mazhab di jettisoning manusia ketika kapal berada dalam bahaya tenggelam. Pada titik ini ia merujuk kepada ahli hukum yang umumnya terdekat untuk Mediterania, seperti al-Qarafi (Mesir), al-Shammakhi (Tunisia), Ibn Hazm (Andalus), Kadi Cak (Maghrib), dan Sahnun (Maghrib).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                       

Posted in Uncategorized | Leave a comment

CAHAYA DAN SUARA DALAM LAUT

–          CAHAYA BAWAH LAUT

Cahaya adalah bentuk radiasi elektromagnetik yang bergerak dengan kecepatan yang mendekati 3 X 108 ms-1 dalam ruang hampa (berkurang menjadi 2,2 X 108 ms-1 dalam air laut). Oseanografer tertarik pada cahaya bawah air dalam konteks penglihatan dan fotosintesis.

Ketika cahaya menjalar dalam air, intensitasnya berkurang secara eksponensial terhadap jarak dari titik sumber, Kehilangan intensitas secara eksponensial disebut atenuasi.Hal ini disebabkan oleh dua hal:(The Open University, 1995).

1. Penyerapan: Melibatkan konversi energi elektromagnetik ke bentuk lain yang biasanya energi panas atau kimia (contoh, fotosintesis). Penyerap dalam air laut adalah:

(a) Alga (fitoplankton) menggunakan cahaya sebagai sumber energi untuk fotosintesis.

(b) Bahan organik dan inorganik dalam suspensi (selain alga)

(c) Senyawa-senyawa organik terlarut .

(d) Air

2. Penyebaran: merubah arah energi elektromagnetik hasil multi refleksi dari partikel-partikel tersuspensi. Penyebaran biasanya kedepan pada sudut yang kecil kecuali oleh partikel yang sangat kecil, yaitu jalur penyebaran cahaya hingga sedikit terdefleksi dari arah awal penyebaran. Jadi, semakin banyak yang tersuspensi (air semakin keruh) akan semakin besar tingkat penyerapan dan penyebaran.

 

ZONA CAHAYA DALAM LAUT

Pembagian zona kedalaman laut berdasarkan intensitas cahaya matahari yang bisa masuk dibagi menjadi tiga, yaitu daerah fotik, twilight dan afotik (nyamanku indah, 2010).

–          Daerah fotik yaitu daerah laut yang masih dapat ditembus cahaya matahari, kedalamannya maksimum 200 m.

–          Daerah twilight yaitu daerah yang sedikit mendapatkan cahaya (remang-remang),kedalamannya antara 200 – 1000 m.

–          Daerah afotik yaitu daerah yang tak ditembus cahaya sama sekali (delap) kedalaman lebih dari 1000 m.

Cahaya matahari memiliki tujuh spektrum cahaya yaitu merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila dan ultraviolet. Setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda. Panjang gelombang tersebutlah yang menentukan kemampuan cahaya untuk menembus air. Semakin pendek gelombang cahaya, maka semakin besar kekuatannya untuk menembusi air ( indah, 2010).

lightrelect

 (Sumber: https://indahnyaimanku.wordpress.com)

Cahaya warna merah akan diserap di kedalaman kurang lebih 20 m, lebih dari itu warna merah tidak akan tampak, cahaya warna oranye terserap pada sekitar kedalaman 30 meter, cahaya warna kuning terserap pada kedalaman 50 meter, cahaya warna hijau terserap pada sekitar kedalaman 100 meter, pada kedalaman 200 meter cahaya warna biru terserap dan begitu seterusnya (indah, 2010).

Kegelapan di laut dalam semakin bertambah seiring kedalaman laut, hingga didominasi kegelapan pekat yang dimulai dari kedalaman lebih dari 200 meter. Pada kedalaman ini dimulai penurunan suhu yang memisahkan antara air permukaan yang hangat dan air kedalaman yang dingin. Selain itu, pada kedalaman ini terdapat gelombang dalam yang menutupi air dingin di kedalaman laur. Lalu cahaya tidak ada sama sekali pada kedalaman lebih dari 1000 meter (indah, 2010).

Pada gambar tersebut jelas yang mampu menembus air paling dalam yaitu spektrum warna biru. Maka jika kita melihat laut, warnanya dominan biru.

 electrospectruminwater

(Sumber: http://bambies.wordpress.com)

 

–          SUARA BAWAH LAUT

Bunyi adalah bentuk tekanan gelombang dan terbentuk oleh vibrasi yang menghasilkan zona-zona alternatif kompresi (molekulmolekul saling merapat) dan rarefaksi (molekul-molekul saling menjauh). Semua bunyi hasil vibrasi (contohnya : vibrasi membrane pembesar suara atau vibrasi bunyi hewan laut-dalam).

Gelombang-gelombang bunyi tidak sinusoidal seperti yang kita ketahui sebagai gelombang normal, tetapi tekanan akustik naik dan turun secara sinusoidal. Jadi, gelombang bunyi dapat dikarateristik berdasarkan amplitudonya (pengukuran intensitas atau besarnya bunyi) dan frekuensi (f) atau panjang gelombang (λ, lambda), yang berhubungan dengan laju (c) seperti yang terlihat dari persamaan dibawah ini: (The Open University, 1995).

                                                   c = f

 

KARATERISTIK UTAMA GELOMBANG SUARA DI LAUTAN

Panjang gelombang energi akustik di laut berkisar antara 50 m dan 1 mm. Ambil kecepatan bunyi dalam air laut sebesar 1500 ms-1, ini berhubungan terhadap frekuensi dari 30 Hz hingga 1,5 MHz. (sebagai perbandingan, frekuensi bunyi di atas 20kHz tidak dapat didengar oleh telinga manusia normal.)

Bila energi akustik diemisikan seragam ke segala arah oleh satu titik sumber di pertengahan suatu massa air laut yang homogen, maka akan tersebar ke luar menghasilkan suatu permukaan bulat dengan tekanan tetap, terpusat pada titik sumber. Intensitas akustik akan berkurang dengan bertambahnya jarak dari titik sumber, hal ini sebagai hasil dari: (The Open University, 1995).

1. Spreading loss akibat penyebaran pada daerah permukaan yang luas. Permukaan yang bulat proporsional dengan radius bulatan sehingga spreading loss proporsional dengan jarak yang ditempuh.

2. Atenuasi akibat penyerapan, yaitu konversi energi akustik menjadi energi panas dan energi kimia; dan penyebaran akibat refleksi oleh partikel tersuspensi dan gelembung udara. Penyebaran tidak tergantung frekuensi; tetapi tidak untuk penyerapan.

 

PERAMBATAN SUARA

Proses merambatnya bunyi pada saat benda yg bergetar akan menggetarkan molekul zat perantara/medium di sekitarnya lalu molekul yg bergetar akan merambatkan ke molekul-molekul yg lainnya, dan begitu seterusnya sampai getaran itu terdengar di telinga kita. Molekul udara membentuk rapatan (R) dan renggangan (r) (andry, 2010).

Pada laut, suara dirambatkan melalui medium air. Kecepatan rambat suara laut berbeda dengan kecepatan rambat udara ataupun darat. Bunyi merambat di udara dengan kecepatan 1.224 km/jam. Pada suhu udara 15 derajat celsius bunyi dapat merambat di udara bebas pada kecepatan 340 m/s. Bunyi merambat lebih lambat jika suhu dan tekanan udara lebih rendah. Di udara tipis dan dingin pada ketinggian lebih dari 11 km, kecepatan bunyi 1.000 km/jam. Di air, kecepatannya 5.400 km/jam, jauh lebih cepat daripada di udara. Dengan s panjang Gelombang bunyi dan t waktu   (andry, 2010).

Jika dibandingkan dengan cepat rambat udara, di laut kecepatan rambatnya lebih cepat 4x lipat dibangingkan dengan cepat rambat di udara. Hal tersebut diakibatkan partikel air laut lebih rapat dibandingkan dengan di udara yang lebih renggang. Sedangkan di darat (zat padat) lebih cepat lagi cepat rambat di laut karena benda padat kerapatannya paling tinggi diantara medium yang lain (andry, 2010).

Tabel 1. Cepat rambat bunyi pada medium tertentu Medium

Cepat Rambat Suara (m/s)

Udara (0°C)

331

Udara (15°C)

340

Air (25°C)

1490

Air Laut (25°C)

1530

Tembaga (20°C)

3560

Besi (20°C)

5130

Aluminium (20°C)

5100

 

(Sumber: http://andrynugrohoatmarinescience.wordpress.com)

Secara sederhana, pola perambatan gelombang suara di dalam laut yang dibagi secara vertikal adalah sebagai berikut: (andry, 2010).

a)  Zona 1 (mix layer) : Kecepatan suara cenderung meningkat akibat faktor perubahan tekanan mendominasi faktor perubahan suhu.

b)   Zona 2 (termoklin) : Kecepatan suara menurun dan menjadi zona minimum kecepatan suara akibat terjadinya perubahan suhu yang sangat drastis dan mendominasi faktor perubahan tekanan.

c)     Zona 3 (deep layer) : Kecepatan suara meningkat kembali akibat faktor perubahan tekanan mendominasi kembali faktor perubahan suhu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan suara di kolom perairan : (Iskandarsyah, 2011)

1.    Suhu

Suhu merupakan salah satu karakter fisik dari air laut yang penting.  Di wilayah lintang sedang dan rendah (dekat dengan wilayah tropis), suhu merupakan faktor penting yang mempengaruhi densitas dan kecepatan suara di dalam air.  Suhu di daerah tropis pada wilayah permukaan laut berkisar 26-29oC yang dipengaruhi oleh musim.

Pada kondisi perairan laut yang mempunyai suhu berbeda-beda  menimbulkan variasi kecepatan suara yang menyebabkan refraksi atau pembelokan perambatan gelombang suara.  Perubahan suhu yang sangat cepat pada lapisan termoklin menyebabkan pembelokan gelombang suara yang tajam dan pada lapisan ini bertindak sebagai bidang pantul.

2.    Salinitas

Salinitas adalah jumlah zat-zat terlarut dalam 1 kg air laut, dimana semua karbonat telah diubah menjadi oksida, bromide dan iodide diganti oleh klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi sempurna.  Pada umumnya perairan laut lepas memiliki kadar salinitas 35 psu, yang berarti dalam 1 kg air laut mengandung elemen-elemen kimia terlarut seberat 35 gram.  Dimana komposisi air laut tersebut terdiri atas 3,5% elemen-elemen kimia terlarut dan 96,5% kandungan airnya.

3.    Lapisan Termoklin

Lapisan termoklin merupakan lapisan yang berada dalam kolom perairan di laut yang dimana pada lapisan ini mengalami perubahan suhu yang  drastis dengan lapisan yang berada dan di bawah  lapisan termoklin.  Di laut, termoklin seperti lapisan yang membagi antara lapisan pencampuran (mixing layer) dan lapisan dalam (deep layer).  Tergantung musim, garis lintang dan pengadukan oleh angin, lapisan ini bersifat semi permanen.  Faktor yang menentukan ketebalan lapisan ini di dalam suatu perairan seperti variasi cuaca musiman, lintang, kondisi lingkungan suatu tempat (pasang surut dan arus).

4.    Kedalaman Perairan

Kedalaman mempengaruhi cepat rambat suara di dalam air laut. Bertambahnya kedalaman, maka kecepatan suara akan bertambah karena adanya tekanan hidrostatis yang semakin besar dengan bertambahnya kedalaman. Rata-rata terjadi peningkatan kecepatan suara sebesar 0, 017 m/detik setiap kedalaman bertambah 1 meter.

 

SHADOW ZONE

Shadow zone atau “zona bayangan” adalah daerah kedap terhadap transmisi gelombanga suara. Zona ini biasa terbentuk di lautan. Daerah ini sering dimanfaatkan kapal selam agar tidak terdeteksi oleh SONAR (Sound Navigation and Ranging). Hal ini terjadi karena suhu dan salinitas laut pada lapisan tersebut memantulkan rambatan suara yang datang.

Shadow zone yang terbentuk di laut karena sifat laut itu sendiri yaitu adanya 3 lapisan: mix layer, termocline layer, dan deep layer. Pada zona mix layer, kecepatan suara meningkat akibat peningkatan tekanan karena bertambahnya kedalaman. Zona kedua adalah zona termoklin, pada zona ini kecepatan suara menurun drastis secara cepat dibandingkan dengan pertambahan tekanan sehingga kecepatan suara di zoni ini berkurang terhadap kedalaman. Sedangkan zona ketiga yaitu zona laut dalam (deep layer), kecepatan suara meningkat terhadap kedalaman akibat tekanan yang bertambah.

download

(sumber: The Open University, 1995)

Di dalam air laut, kecepatan gelombang suara mendekati 1.500 m/s (umumnya berkisar 1.450 m/s sampai dengan 1.550 m/s, tergantung suhu, salinitas, tekanan, dan musim). Pada lapisan termoklin terjadi penurunan suhu yang drastis sehingga terbentuklah dua medium karena adanya perbedaan suhu. Karena adanya batas antara dua medium ini menyebabkan pembelokan gelombang suara (refraksi). Pengaruh yang paling nyata terlihat jika terjadi kenaikan suhu air laut sebesar 1 C° akan menyebabkan meningkatnya kecepatan suara sebesar 1m/s. Akibatnya jika suhu meningkat maka gelombang suara yang dipancarkan akan cenderung dibelokan ke arah permukaan air. Sebaliknya jika suhu menurun karena kedalaman maka gelombang suara akan cenderung dibelokan ke dasar perairan. Karena terjadi pembelokan gelombang suara ke permukaan dan ke dasar perairan, maka terdapat wilayah yang tidak terjadi perambatan gelombang suara yang disebut shadow zone.

 

 

–          RINGKASAN

Cahaya dan semua bentuk radiasi elektromagnetik bergerak pada laju 3X108 ms-1 dalam ruang hampa (2,2X108 ms-1 dalam air laut). Cahaya yang melalui air menjadi subjek penyerapan dan penyebaran, dan intensitasnya berkurang secara eksponensial terhadap jaraknya dari sumber. Cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis tidak dapat menembus lebih dari kedalaman 200 m dan memberikan batas untuk zona fotik (atau eufotik) dimana di dalamnya terbentuk hasil utama fotosintesis.

Laju bunyi dalam air laut, c, bertambah dengan bertambahnya axial modulus air laut dan berkurang bila densitas bertambah; sekitar 1500 ms-1. Temperatur naik sebesar 1 0C akan menyebabkan penambahan kecepatan sebesar 3 ms-1. Peningkatan salinitas sebesar 1 menyebabkan penambahan kecepatan sebesar 1,1 ms-1. Peningkatan tekanan sama dengan peningkatan kedalaman 100 m dan menyebabkan penambahan sekitar 1,8 ms-1. Laju bunyi mencapai minimum di permukaan dan dalam jalur bunyi.

 

 

DAFTAR ACUAN

–          Bearman. G. Editor. Sea Water : Its Composition, Proporties and Behaviour The Open University, England, 1995.

–          Iskandarsyah, Mochamad. 2011. Pemetaan Shadow Zone Akustik dengan         Metode Parabolic Equatio di Wilayah Perairan Selat Lombok. Skripsi. Departemen Ilmu     dan Teknologi Kelautan FPIK-IPB : Bogor.

–          Indah, 2010, https://indahnyaimanku.wordpress.com

–          Nugroho.Andy,2010,http://andrynugrohoatmarinescience.wordpress.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ANGIN PASAT

PENGERTIAN ANGIN
Angin yaitu udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara(tekanan tinggi ke tekanan rendah) di sekitarnya. Angin merupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah atau dari suhu udara yang rendah ke suhu udara yang tinggi.

SIFAT ANGIN
Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin disekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Diatas tanah udara menjadi penas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamanakan konveksi.

TERJADINYA ANGIN
Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Perbedaan suhu dan tekanan udara akan terjadi antara daerah yang menerima energi panas lebih besar dengan daerah lain yang lebih sedikit menerima energi panas, yang berakibat akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut.

ALAT-ALAT UNTUK MENGUKUR ANGIN ANTARA LAIN:
1. Anemometer, adalah alat yang mengukur kecepatan angin.
2. Wind vane, adalah alat untuk mengetahui arah angin.
3. Windsock, adalah alat untuk mengetahui arah angin dan memperkirakan besar kecepatan angin. Yang biasanya banyaditemukan di bandara – bandara.

ANGIN PASAT

 

(http://rhezawidyawardana.blogspot.com/2012/03/angin-pasat-siklon-dan-tornado.html)

Angin passat adalah angin bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Terdiri dari Angin Passat Timur Laut bertiup di belahan bumi Utara dan Angin Passat Tenggara bertiup di belahan bumi Selatan.

Wilayah subtropika merupakan daerah bertekanan udara tinggi atau sering disebut dengan lintang kuda (horse latitude), sedangkan daerah khatulistiwa merupakan daerah pusat tekanan rendah. Oleh karena itu, berhembuslah angin dari wilayah subtropika kea rah khatulistiwa baik dari belahan bumi selatan maupun dari belahan bumi utara. Angin ini disebut sebagai tradewind atau angin pasat. Angin pasat termasuk kedalam angin tetap atau nagin yang bertiup sepanjang tahun. Terdiri dari angin pasat timur laut di belahan bumi utara dan angin pasat tenggaradi belahan bumi selatan.

Di sekitar khatulistiwa, kedua angin pasat ini bertemu. Karena daerah ini bertekanan rendah, angin akan memuat naik secara vertical (konveksi), daerah pertemuan kedua angin pasat itu dinamakan ITCZ (Intertropical Convergence Zone) atau DKAT (daerah Konvergensi Antartropis). DKAT ditandai dengan temperature yang selalu tinggi.

Akibat kenaikan massa udara ini, wilayah DKAT terbebas dari adanya angin topan, sering disebut juga sebagai doldrum (wilayah tenang). Kenaikan massa udara ini juga sangat terkait denga curah hujan yang tinggi di daerah tropis.

Massa angin pasat yang naik di DKAT scara vertical kembali bergerak mendatar(adveksi) kearah subtropics pada paras atas atmosfer . angin ini disebut angin antipasat. Massa udara ini kembali bergerak turun (subsidensi) di daerah subtropics .iinilah yang menyebabkan daerah subtropics merupakan daerah kering. Karena tidak terjadi konveksi yang membawa bahan bakara dari terbentuknya awan.

ANGIN ANTIPASAT

Angin antipasat adalah nama lain dari angin barat, yang merupakan kebalikan dari angin pasat. Udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah maksimum subtropik merupakan angin Anti Passat. Di belahan bumi Utara disebut Angin Anti Passat Barat Daya dan di belahan bumi Selatan disebut Angin Anti Passat Barat Laut. Pada daerah sekitar lintang 20o – 30o LU dan LS, angin anti passat kembali turun secara vertikal sebagai angin yang kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara dan permukaan daratan. Akibatnya, terbentuk gurun di muka bumi, misalnya gurun di Saudi Arabia, Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia.Di daerah Subtropik (30o – 40o LU/LS) terdapat daerah “teduh subtropik” yang udaranya tenang, turun dari atas, dan tidak ada angin. Sedangkan di daerah ekuator antara 10o LU – 10o LS terdapat juga daerah tenang yang disebut daerah “teduh ekuator” atau “daerah doldrum”


PROSES TERJADINYA ANGIN PASAT

Angin passat terjadi bila terjadi perbedaan densitas udara di daerah sekitar lintang 30 derajat (baik lintang utara maupun selatan yang bertekanan maksimum dan sekitar lintang 10 derajat yang bertekanan minimum.

DAERAH KONVERGENSI ANTARTROPIK  (DKAT)

Daerah Konvergensi Antartropik (DKAT) merupakan daerah pertemuan antara angin pasat tenggara dan angin pasat timur laut atau disebut equator thermal. Daerah ini ditandai dengan keadaan di sekitarnya memiliki suhu tinggi. Akibat kenaikan massa udara, wilayah DKAT terbebas dari angin topan dan dinamakan Doldrum atau daerah tenang khatulistiwa (equatorial calm). DKAT selain sebagai tempat terbentuknya konvergensi massa udara naik, juga sebagai
pembentuk awan yang menimbulkan hujan lebat.

Pengaruh DKAT di Indonesia, yaitu:

a) Menyebabkan hujan frontal dan hujan zenit.

b) Penguapan tinggi, karena suhu tinggi dan laut Indonesia
sangat luas.

c) Garis DKAT terbentuk karena suhu udara di sekitar
khatulistiwa tinggi.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Referensi: Budairi, Ahmad. 2012. Letakkan Judul Artikel Disini.  http://ahmad-budairi.blogspot.com/2011/03/angin-pasat.html#ixzz2AguyZ3XF
Diakses pada 29/10/12

Bayong.T.H.K. 2004. KLIMATOLOGI. Bandung. ITB

Potter, Thomas D dan Colman, Bradley R. 2003. Handbook of Weather Climate and water. New Jersey:John Willey and Son.Inc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to Blogs Unpad | Mari Kita Menulis. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment