KERAPU TIKUS

 A.    Taksonomi dan Morfologi Kerapu Tikus

Menurut Weber and Beofort, (1940) dalam Ahmad (1991), klasifikasi ikan kerapu tikus adalah sebagai berikut :

            Phylum          : Chordata
            Subphylum     : Vertebrata
            Class             : Osteichtyes
            Sub class       : Actinopterigi
            Ordo              : Percomorphi
            Sub ordo        : Percoidea
            Family           : Serranidae
            Genus            :Cromileptes
            Species         : Cromileptes altivelis

Ikan kerapu tikus juga mempunyai banyak nama lokal. Ikan ini di Australia dikenal dengan nama Barramundi cod,  dan di Jepang dengan nama Sarasa-hata. Sedangkan di Philipina dikenal dengan nama Lapu-Lapung Senorita (Tagalog), Miro-miro(Visayan), serta di Singapura Polka-dotgrouper.  Bagi orang Indonesia dan Malaysia kerapu tikus dikenal dengan nama kerapu tikus, kerapu belida dan kerapu sonoh. Istilah ikan hias kerapu tikus dikenal dengan nama “Panther fish”.

Ikan kerapu tikus mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut :
  1. sirip punggung dengan 10 duri keras dan 18 – 19 duri lunak, sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak, sirip ekor dengan 1 duri keras dan 70 duri lunak.
  2. Panjang total 3,3 – 3,8 kali tingginya, panjang kepala seperempat panjang total,
  3. Leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung,
  4. Mata seperenam kepala,
  5. Sirip punggung semakin kebelakang melebar,
  6. Warna putih kadang kecoklatan dengan totol hitam pada badan, kepala dan sirip.
( Weber and Beofort (1940) dalam Ahmad (1991).

Sedangkan menurut Heemstra and Randall (1993) seluruh permukaan tubuh kerapu tikus berwarna putih keabuan, berbintik bulat hitam dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus.

B.     Penyebaran/Distribusi
Ikan kerapu tikus tersebar luas di Pasific Barat mulai dari bagian selatan Jepang sampai Palau, Guam, Kaledonia baru, bagian selatan kepulauan Australia, serta bagian timur laut India dari Nicobar sampai Broome (Heemsta and Randall, 1986). Di Indonesia ikan kerapu tikus banyak ditemukan di wilayah perairan Teluk Banten, Ujung Kulon, Kepulauan Riau , Kepulauan Seribu, Kepulauan Karimunjawa, Madura, Kalimantan dan Nusa Tenggara.

 

C.    Habitat
Ikan kerapu tikus banyak dijumpai di perairan batu karang, atau didaerah karang berlumpur,  hidup pada kedalaman 40 meter sampai kedalaman 60 meter.  Dalam siklus hidupnya ikan kerapu tikus muda hidup di perairan karang dengan kedalaman 0,5 – 3 meter, selanjutnya menginjak dewasa menuju ke perairan yang lebih dalam, dan biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan senja hari.  Menurut Tampubulon dan Mulyadi (1989), telur dan larva kerapu tikus bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda hingga dewasa bersifat demersal. Ikan kerapu termasuk kelompok ikan stenohaline (Breet dan Groves, 1979), oleh karena itu jenis ikan ikan mampu beradaptasi pada lingkungan perairan yang berkadar garam rendah.  Ikan kerapu merupakan organisme yang bersifat nocturnal, dimana pada siang hari lebih banyak bersembunyi di liang-liang karang dan pada malam hari aktif bergerak di kolom air untuk mencari makan.
Menurut Chua dan Teng (1978), parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu, yaitu Temperatur berkisar 24 – 31 °C, salinitas berkisar 30 – 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8,0.  Perairan dengan kondisi tersebut pada umumnya terdapat pada perairan terumbu karang (Nybakken, 1988).

 

 D.    Pakan dan Kebiasaan Pakan
Ikan kerapu tikus merupakan hewan karnivor, sebagaimana jenis-jenis ikan kerapu lainnya.  Ikan kerapu tikus dewasa adalah pemakan ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan, sedangkan larvanya pemangsa larva moluska (trokofor), rotifer, mikro krustasea, kopepoda, dan zooplankton.  Sebagai ikan karnivora, kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolom air (Nybakken, 1988).  Tampubulon dan Mulyadi (1989),  mengungkapkan bahwa ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari,  namun lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari.   
Kerapu biasa mencari makan dengan menyergap mangsa dari tempat persembunyiannya.  Kerapu macan mempunyai kemampuan menangkap mangsa lebih cepat daripada kerapu sunu (Anonymous, 1991).  Sebagai ikan karnivora, kerapu bersifat kanibalisme.  Kanibalisme biasanya mulai terjadi pada larva kerapu berumur 30 hari, dimana pada saat itu larva cenderung berkumpul di suatu tempat dengan kepadatan tinggi.
Berdasarkan perilaku makannya, ikan kerapu dewasa memangsa ikan-ikan kecil, crustacea dan cephalopoda  yang menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan (Randall, 1987).   Tidak bedanya dengan kerapu macan,  sebagai ikan karnivora kerapu tikus juga mempunyai kecenderungan bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil.

 

Sumber : Evalawati dkk. 2001. Biologi Kerapu. Balai Budidaya Laut Lampung.

This entry was posted in IKAN LAUT EKONOMIS and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to KERAPU TIKUS

  1. Monica novela says:

    Kerapu bebek is the best…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 2 = 3

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>