Ya, Omega, dan Zet

Ya, Omega, dan Zet Berujung pada […]:
Penulisan Asemik dan Puisi Kongkret dalam Jenuhnya Kebudayaan Aksara

ي
Ya.

Akhirnya.
Akhirnya kita telah sampai pada titik ketika semua huruf yang kita cungkil pada loh tembikar, kita gurat pada daun, kita pahat pada batu, kita nodakan pada papirus dan kertas, kita benam dalam lima milenium berlapis-lapis sedimen dan mineral, kita tumpuk di dalam kardus yang kita peram dalam gudang arsip, kita tata dalam map, kita urai dan padatkan menjadi 0101010 dalam cakram dan perangkat elektronik yang lantas bertebaran dalam gelombang-gelombang elektromagnetik di atmosfer dan kabel-kabel logam dan serat optik menjenuhi peradaban yang sudah kita bangun selama sekian milenia. Dalam belantara ini kita tersesat dalam simulakra citra dan aksara pada layar dan lembar—yang kita genggam dan yang menaungi kita seperti langit yang berpura-pura melindungi kita dari meteor yang mungkin kesasar menuju kita. Sayangnya, mungkin kita tidak hanya terhindar dari benda-benda langit yang berpeluang jatuh ke bumi melainkan juga dari kesempatan menikmati dan menderita kenyataan mentah: tubuh yang hangat, daun yang rentan, tanah yang gembur; karena aksara, angka, dan sinyal ­tut-tut-tut  memenuhi kelopak mata bagaikan gajah sehingga mata kita berkunang-kunang dan kita mengira kita melihat semut di seberang lautan. Kata-kata—ketika mereka tidak mengaku sebagai mantra atau doa sekalipun—senantiasa memistifikasi.

Untungnya.
Untungnya ada manusia seperti Afrizal Malna yang berkesempatan untuk keluar sejenak dari timbunan tanda—“menulis untuk keluar dari aku | dan […] berjalan | menuju sebuah pagar tinggi. tebal. | \tebal\ | menjadi seekor binatang dalam kata berlalu”—sehingga dapat merenung dalam keterasingan menyimak “bau glühwein, tersamar. ranting cahaya | antara mantel dan bangunan malam, di | fasanenstraße, sarung tangan, rajutan | dingin. dua penyair afrika selatan – hitam – putih – berdebat dalam bahasa inggris. kakkak-kakkakkakkak”—yacketty-schmackety, blah-blah-blah, was-wes-wos: menyimak bau dan bunyi—kenyataan mentah sehingga ia dapat memanjat lapisan-lapisan setiap zaman yang terkubur dari masa pleistosen saat bumi melahirkan manusia hingga antroposen ketika manusia membunuh bumi—timbunan yang membangun peradaban manusia, berusaha mencari napas dalam timbunan helaian prasasti, gulungan papirus, helaian kertas, dan layar LCD, menaiki tangga mesin tik menuju lembar kertas yang sebentar lagi dilepaskan—mengatasi kata-kata.

Karenanya, agak sulit bagi saya mengemban tugas “mengupas” ini karena justru pengupasan sudah dalam proses terjadi dalam Berlin Proposal, lapisan-lapisan yang sudah mengeras dan mengerak ditembus dan dikupas sehingga kita kita dapat melihat bolongnya siang hari. Lembaran-lembaran ini melakukan eksplorasi dan ekskavasi bangun arsitektonik yang menjadikan dirinya sendiri. Sajak-sajak ini bukanlah makhluk pertama yang berupaya membebaskan diri dari bahasa yang menciptanya. Tender Buttons yang keluar dari hentakan jari-jari Gertrude Stein,  pada mesin tik, atau puisi yang ujarkan Allen Ginsberg, yang membentangkan deret frase nomina pada kertas, seperti yang dilakukan Afrizal dalam “mauerpark” dan “kalder,” dalam upaya melepaskan तत् dari genggaman tatanan simbolik patriarki yang dibangun kata, aksara, bahasa, yang, kata Lacan, “sudah ada hingga saat setiap subjek pada titik dalam perkembangan mentalnya memasukinya” sedemikian sehingga si subjek menjadi budak bahasa, …yang sudah menetapkan tempat bagi si subjek sejak kelahirannya kendati hanya dari namanya.” Atau, bisa juga kita simak garapan para penulis asemik, seperti Tim Gaze dan Jim Leftwich, yang menggurat, menoreh, menyapu noda pada kertas dengan upaya sengaja menghindar dari makna. Atau, kita pandang puisi kongkret karya Remy Sylado, Sutardji Calzoum Bachri, atau Jeihan. Seperti mereka, Afrizal membiarkan tinta ada sebagaimana adanya: garis, noda, blot (sebagaimana Lawrence Sterne di abad kedelapan belas menyajikan narasi Tristram Shandy tentang keberadaanya sebelum lahir dengan menyajikan satu halaman penuh dengan tinta hitam).

Namun, Afrizal Malna membawanya lebih jauh. Ia bukan sekedar bereksperimen dan mencari jouissance dalam kesempatan sejenak bolos dari tatanan peradaban yang ajeg. Ia menunjukkan betapa aksara sudah berkeliaran dengan struktur geologis bumi dan bangun ekonomi-politik global. This is how he humps a cow. Garis membentuk huruf. Namun, garis juga membagi-bagi benua dalam lintang dan bujur, dan garis-garis inframerah, dan bluetooth dan gelombang transversal dan longitudinal. Garis-garis juga ikut berperan mereproduksi diri dengan puluhan “kurikulum vite yang terselip di bawah tisu basah,” yang disimpan dalam format .pdf yang dikirim via email ke semua klien dan mitra, garis yang pada KTP, SIM, KTM, Kartu NPWP, Kartu Askes dan BJPS, dan paspor serta visa yang difotokopi, dinunggah, diunduh, dan disahihkan oleh coretan tandatangan pejabat dan cap lembaga. Lalu, diri kita dievaluasi. Berapa nilai diri kita setelah sedemikian rupa digandakan dan didigitalisasi dan dikonversi menjadi bilangan kuantitatif? Berapa harga tandatangan Gubernur Bank Indonesia pada lembar kertas yang dihias oleh pola floral yang sedemikian rumit?

Tampaknya.
Tampaknya memang kita memberi nilai mutlak pada kata-kata yang membangun diri dan dunia kita. Jika saya sendiri, misalnya berusaha merenungi apa saja dalam kehidupan saya yang saya anggap bernilai, yang muncul dalam benak saya adalah huruf-huruf: D-E-M-O-K-R-A-S-I, K-E-A-D-I-L-A-N, P-E-R-S-A-H-A-B-A-T-A-N, C-I-N-T-A ([tanda sambung] K-A-S-I-H). Jadi, mungkin, jika saya hendak menerima ajakan Afrizal Malna untuk istirahat sejenak dari nebula kata dan aksara yang menghidupi saya, saya akan memberi tanggapan begini:
Asemic

Jika demikian, mungkin—mungkin, kita dapat hidup dalam kenyataan, alih-alih terbuai dalam mitos bahwa

a            b          c          d          e          f           g          h          i           j

k          l           m         n          o          p          q          r           s           t

u          v          w            x          y          z          x      ا           ج          ث

د          س      ظ          ك         ت             δ            δ          ξ          π          א

merupakan imitasi dan sumulasi yang laik bagi pengalaman hidup di dunia nyata.

Namun demikian, apakah sajak-sajak dalam Berlin Proposal ini, dengan lisensianya sebagai puisi dapat bercermin dan melihat betapa terperangkapnya dirinya itu? Pertanyaan yang lebih penting lagi mungkin adalah dapatkah puisi Afrizal Malna yang kembang-kempis, hilir-mudik, berlalu-lintas, berjuang keras menelanjangi bahasa yang menjadi organ internalnya sekaligus yang lingkungan yang mengelilinginya tidak jatuh ke dalam mistifikasi, mitifikasi, sakralisasi ketika menawarkan diri kepada pembaca. Dapatkah sajak-sajak ini, ketika dibacakan, gamblang menyajikan dirinya sebagai rangkaian alunan bunyi dan jeda; atau, ketika dibaca, gamblang menyajikan dirinya sebagai rangkaian garis dan bentuk geometris yang dibatasi oleh ruang yang disediakan oleh tepi-tepi kertas dan regulasi program pengolah kata dan alat cetaknya?

Akhirnya.

Akhirnya lagi.

Z, Ω.  ء, لا.

Ya.

[…]

N.B. Versi berbahasa Inggris dapat dibaca di tautan berikut http://www.alberthagenaars.nl/laatstenieuws/bandung-ari2015.htm; atau, diunduh di sini Ya-English dalam format PDF. Versi berbahasa Indonesia yang tampil di laman ini pun dapat di unduh dalam format PDF di sini Ya-Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *