Monolog Tan Malaka: Seruan dari Kubur Tak Bernama

Ketika Melanie Martini-Mareel, Direktur Institut Française d’Indonésie (IFI) Bandung menyampaikan sambutan penutupnya di akhir pementasan kedua “Monolog Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah” oleh kelompok Mainteater pada tanggal 24 Maret 2016 lalu, ia menyebut ruang teater itu sebagai “sanctuary,” tempat kesenian dapat dieksplorasi dengan kebebasan. Adakah ruang di masyarakat kita, seperti kampus perguruan tinggi, sanggar seni, atau gedung pertunjukan, yang dapat memisahkan dan melindungi kita dari gemuruh dunia sehari-sehari? Bagaimanapun juga, IFI bukan lah sebuah Shangri-La yang berada jauh di pegunungan Kunlun. IFI berada di tengah-tengah hiruk pikuk lalu-lintas manusia di sebuah kota besar. Lagipula, berharap bahwa sebuah ruang teater dapat menjadi sanktuarium pun dengan sendirinya berasusmsi bahwa ada bahaya dan ancaman yang menyebabkan tempat berlindung yang terisolasi semacam itu dibutuhkan. Ancaman itu semakin nyata mengingat pada hari sebelumnya saat seharusnya monolog ini sedianya dipentaskan ada sekelompok anggota masyarakat yang tampaknya terganggu bahwa sosok Tan Malaka dihadirkan,seakan-akan bangkit kembali dari sudut sejarah Indonesia yang dianggap sudah terkubur.

Memang, sosok Tan Malaka yang hadir melalui tubuh aktor Joind Bayuwinanda tampak sedang berbicara di dalam kubur. Panggung bujursangkar di tengah ruang pertunjukan IFI tersebut membatasi dan memenjara gerak tubuh yang bertutur itu. Di sudut arena yang disediakan untuknya ada terdapat tali-tali merah yang dibentang secara vertikal bagaikan jeruji yang mengerangkengnya bersama rakyat oleh sebuah republik “demi memenuhi keinginan negara imperialis-kapitalis.” Suaranya memang sudah lama hilang dari wacana sejarah Indonesia, tetapi bukan baru Maret lalu saja ia muncul. Sejak awal tahun 2000an, tulisannya—seperti Madilog, Dari Penjara ke Penjara, dan Semangat Muda—diterbitkan lagi. Demikian pula, buku tentangnya—seperti yang ditulis Harry Poeze dan Syafudin—mulai bermunculan di pasar. Bahkan, Ahda Imran yang menulis naskah monolog ini, sempat menggubah sebuah sajak berjudul “Tan Malaka di Jakarta, 1945,” yang terkumpul dalam Rusa Berbulu Merah (2014). Suara Tan Malaka di abad ke-21 ini senantiasa terlindungi sampul buku. Namun, kali ini ia benar-benar keluar dari sebuah tubuh yang menempati ruang; dan, karena itu, ia menjadi ancaman yang nyata.

Suara ini bukan saja menjadi ancaman karena dipahami terkait dengan kata-kata yang tabu dalam wacana politik di Indonesia, seperti komunisme, melainkan lebih penting lagi karena ia mengejawantah melalu sebuah pertunjukan teater. Hans-Thies Lehmann dalam Postdramatic Theatre (2006) dengan mengatakan bahwa “tidaklah teater mencapai kenyataan politis dan etisnya melalui penyampaian informasi, tesis, dan pesan belaka” melainkan dengan cara “menghadirkan kejutan dan disorientasi yang menunjuk kepada penonton sendiri melalui peristiwa yang ‘amoral,’ ‘asosial,’ dan tampaknya ‘sinis’.” Dengan demikian, pementasan ini bukan saja sebuah momen ketika sosok Tan Malaka diberi tempat dan waktu untuk menyampaikan kuliah tentang filosofinya tentang revolusi, tentang tawarannya agar komunisme internasional bekerja sama dengan gerakan Pan-Islamisme, atau tentang pandangannya bahwa epos revolusi Indonesia akhirnya berubah menjadi dagelan politik yang dimainkan oleh para “pesohor.” Bukan pula pementasan ini sekedar sopan santun yang ditunjukkan generasi kini bangsa ini yang rela mendengar keluh kesah kakeknya ketika beliau bernostalgia. Teater, seperti pertunjukan “Monolog Tan Malaka” ini, mengundang penonton untuk mempertanyakan kelaziman yang menjadi bagian dari kehidupannya melainkan juga pihak-pihak yang enggan menontonnya. Baik yang berkenan menyimak maupun yang menolak sama-sama menanggapi dan mau tidak mau mengakui bahwa kini ada suara yang menyosok menempati ruang sosial yang dihuni bersama.

Teater secara umum, menurut Keir Elam dalam The Semiotics of Theatre and Drama (2005), memang mengartikulasikan diri dalam ruang yang diisi dengan penanda-penanda akustik dan visual serta dimarkahi pemisah antara panggung dan tempat penonton duduk, antara gedung pertunjukan dan dunia sehari-hari. Namun, pada tanggal 23 dan 24 Maret lalu, dapat disaksikan bahwa ternyata ruang kosong itu sudah sebelumnya terisi oleh wacana politik sejak awal abad ke-20; dan batas-batas antara panggung dan dunia nyata membiarkan ranah yang satu berdampak pada ranah yang lain.  Jika, sebagaimana yang dipaparkan Lehmann, sebuah monolog menciptakan ruang untung perenungan dalam isolasi sehingga mengundang kita “menjauh dari kenyataan dan tenggelam ke dalam alam fantasme,” pementasan monolog yang disutradarai Wawan Sofwan ini justru mengharuskan semua pelibatnya, termasuk naskahnya sendiri, semakin menyadari tempatnya dalam  kondisi nyata kini. Alih-alih peristiwa pertunjukan kesenian memberi kesempatan kepada publik untuk istirahat dari keseharian, pementasan ini menciptakan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh amplifikasi kesadaran akan kondisi politik nyata. Karena itu, kehadiran pementasan ini memicu kecurigaan dari berbagai pihak yang secara langsung dan tidak langsung terlibat.

Sesungguhnya kecurigaan ini memang merupakan bagian yang padu dengan naskah dan pementasannya. Berkali-kali, sosok Tan Malaka di dalam sangkar teaternya menengok ke kiri dan ke kanan penuh kecemasan dan kecurigaan, seakan-akan memperagakan perkataannya yang hadir dalam sajak Ahda Imran: “Kucurigai setiap orang melangkah | karena aku rusa berbulu merah.” Berkali-kali ia tampak mengambil tas tempat ia menyimpan buku dan surat seakan-akan hendak berangkat ke suatu tempat. Namun, ia kemudian berhenti mungkin karena memang ia tidak dapat pergi ke mana-mana. Penonton semua dapat menyaksikan sosok itu, tetapi mereka tidak pernah tahu apakah ia juga melihat mereka. Agaknya satu-satunya celah yang dapat dimanfaatkan Tan Malaka untuk berhubungan dengan dunia adalah lensa proyektor di atas panggung yang menayangkan cuplikan film yang mendokumentasikan sejarah revolusi dan juga citra merah wajahnya sendiri. Ia berbicara seorang diri terisolasi walaupun di sekelilingnya ada puluhan manusia yang menyimaknya. Dari sarkofagus masa lalu itu ia berbicara kepada audiens di masa kini: “Selalu ada banyak pertanyaan yang jawabannya dikubur jauh di dalam tanah, lalu menjadi kerangka tubuh yang tak bernama.” Sepertinya, jawaban-jawaban itu hendak dibongkarnya di atas pentas yang memenjaranya itu, lalu diberinya nama yang beragam seperti dirinya sendiri yang lahir sebagai Ibrahim lalu keluar-masuk berbagai identitas dari Tan Malaka, Ilyas Husein, Elias Fuentes Estahislau Rivera, Alisio Rivera. Ong Song Lee, Tan Ming Sion Kuan Tat, Howard Lee, dan Hasan Gozali. Identitas majemuk ini digarisbawahi oleh tuturan Tan Malaka dengan pengulangan. Jika identitas sosok ini sedemikian fluidnya, terbuka juga peluang agar penonton mengidentifikasi dirinya ke tubuh yang dilihatnya sehingga relasi subjek dan objek menjadi bersifat osmotik.

Maka, tidak lagi Tan Malaka saja yang dapat mengatakan “tubuh saya terus terancam, dikejar, dan diburu.” Sambil menyimak paparan sosok yang mengaku menjadi pelaku sejarah yang dihiasi tataan artistik, pencahayaan, dan ilustrasi musik tetabuh, gitar, dan celo; penonton pun merasa terancam karena tidak dapat menghilangkan citraan jajaran pengamanan yang ada di luar. Tidak seperti ketika ia dapat mengendalikan efek bahasa dalam lembaran kertas yang memuat puisi, Ahda Imran—jugaWawan Sofwan dan Joind Bayuwinanda—dalam pementasan ini tidak lagi menjadi otoritas dalam pemaknaan karena teater melepaskan arensemen artistik ke ketidakpastian mise en scène, yang menurut Patrice Pavis dalam Theatre at the Crossroads of Culture (1992), merupakan situs tempat terjadinya konfrontasi berbagai sistem penanda. Karena itu, kata Pavis, makna dihasilkan justru dari benturan antar sistem ini, bukan dari runutan simbolik ke sebuah titik asal. Itulah yang ditawarkan kepada penonton.

Tan Malaka di ruang pertunjukan IFI Bandung bukanlah seorang pertapa suci di pesanggrahan di atas gunung yang memberkati dunia dengan hikmah. Dengan demikian, sanctuary suci yang diharapkan Melanie Martini-Mareel, menurut Pavis, tidak lagi ada karena, sebagaimana juga digagas Lehmann, teater adalah tempat berkumpul, tempat “beririsannya pengalaman yang ditata secara estetis dan kehidupan nyata sehari-hari.” Di kebudayaan kontemporer kita yang didominasi perantaraan media dan teknologi, mungkin justru kita bisa bersyukur bahwa teater seperti pementasan “Monolog Tan Malaka” ini membekali kita dengan kecemasan dan kecurigaan. Maka, peringatan dari dalam kubur bahwa “dalam revolusi selalu ada yang tak pernah selesai” menjadi lebih berarti.

N.B. Sila unduh versi PDF tulisan ini tautan berikut: Monolog Tan Malaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *