Fatwa Pewaris Adam dan Aristoteles

Fatwa Pewaris Adam dan Aristoteles*

 

Kisah-kisah orang tua menyampaikan riwayat bahwa ketika manusia makan buah yang memberi pengetahuan tentang“yang baik dan yang buruk” atau moralitas (Kejadian 3: 5), masalah pertama yang diketahuinya adalah bahwa ia merupakan makhluk seksual. Responsnya yang pertama terhadap objek pengetahuan itu adalah menutupinya—bukan hanya ketika Adam dan Hawa menutupi kelamin mereka dengan cawat dari daun ara melainkan juga ketika tidak lama kemudian Adam bersembunyi ketika Tuhan mencarinya. Yang satu ditampakkan dan yang lain disembunyikan. Tindakan Adam tersebut dikatakan sebagai sebuah tindakan pembangkangan: mengetahui sesuatu yang sesungguhnya ada pada dirinya sendiri yang seharusnya tidak diketahui—walaupun sebelumnya Adam dan Hawa memang sudah telanjang, mereka tidak menyadarinya (Kejadian 2: 25). Seperti tampak dalam cara kita menutupi Perumnas dan pemukiman kumuh tempat tinggal mayoritas masyarakat kota agar dapat memamerkan Bumi Serpong Damai atau daerah niaga berpencakar langit yang bebas becak dan pedagang kaki lima, kita tampaknya mewarisi sikap Adam sampai sekarang sehingga kita hidup dalam dua dunia. Sebagaimana halnya usaha menutupi peristiwa-peristiwa sekitar kudeta tahun 1965 di Indonesia atau kegiatan CIA di berbagai negara, kelaziman kita menutupi perihal seks dan seksualitas berkaitan dengan hubungan antara pengetahuan dan upaya melanggengkan sebuah struktur kekuasaan. Seperti wajah seorang kaisar Cina, seks dan seksualitas hanya diperkenan menjadi objek pengetahuan orang-orang tertentu, dan kalaupun rahasia ini bocor, pengetahuannya tidak boleh menjadi wacana di ruang publik.

Dari kitab Kejadian—yang salah satu merupakan teks yang paling berpengaruh, bagi modern tempat kita berada—kita dapat menarik tiga simpulan penting (yang sudah begitu berakarnya dalam ke(tidak)sadaran kita sehingga kita menganggapnya aksioma). Pertama, pengetahuan, terutama yang bersifat moral, berkaitan erat dengan seks dan seksualitas—setidaknya bagi pembaca kitab Kejadian dalam versi otoritatif Inggris (versi Raja James). Dalam kitab Kejadian versi ini, kata“know” berarti bersenggama (versi Lembaga Alkitab Indonesia menggunakan kata “menyetubuhi”). Hubungan ini penting karena menyiratkan konsep Baconian yang disebut Edward Said sebagai “the unbroken arc between knowledge and power.” Ini berarti pula bahwa seks tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan karena setelah misalnya Adam mengetahui Hawa, ada prokreasi, seperti pada mulanya Tuhan menciptakan Adam. Kekuasaan Tuhan diteruskan kepada para lelaki melalui seks. Namun, seks yang dimaksud harus dalam kondisi lelaki (atau tepatnya seorang Bapa atau Patriark) sebagai subjek. Jika si Fulan atau Fulanah bersenggama di luar ketentuan kaidah kebapakan (al-qaidah al-ubuwah alias the law of the father alias patriarki) ini, ia akan dirajam karena ke-magdalen-annya. Namun, jika Sang Bapa yang melakukannya (dengan sosok Zeus, Indra, Bayu, Surya, atau Uther), lahirlah seorang pahlawan atau raja. Bahkan selanjutnya, setelah riwayat tentang generasi Adam sampai Kain, manusia diletakkan di dunia cukup dengan seorang Bapa(k)—Nuh, Abraham, Daud—yang memperanakan putra-putra.

Mungkin tidak ada perkara yang telah begitu lama dengan cakupan geografis yang begitu luas bertahan menjadi sasaran kegiatan penyensoran, selain tubuh manusia dan potensi seksualnya. J. M. Coetzee, pemenang hadiah Nobel bidang kesusastraan, dalam sebuah esai berjudul “Giving Offense” mengatakan bahwa penyensoran—sebagaimana yang kita lakukan bagi anak-anak kita—adalah usaha untuk memisahkan pihak yang memiliki privelese untuk tahu (dalam hal ini orang-orang dewasa,dan dalam masyarakat tertentu ini berarti hanya lelaki dengan ras atau kasta tertentu) dan pihak dijaga agar tetap polos (dengan asumsi bahwa mereka tidak punya kapasitas untuk memiliki pengetahuan). Jelas sekali di sini betapa sensor digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dengan dalih esensialis tentang moralitas dan kesopanan. Dari kitab Kejadian pun kita mendapat teladan bahwa perkara seks dan seksualitas harus disembunyikan dari perempuan dengan alasan yang sama sebagaimana bapak-bapak berkumpul di gardu ronda, warung kopi, bordil, dan kelab malam berbicara tentang seks tetapi tidak di rumah di hadapan istri-istri dan anak-anak perempuan mereka; sebagaimana juga bapak-bapak senantiasa menuntut calon istri mereka dan anak-anak perempuan mereka tetap perawan (bahkan ketika perempuan-perempuan ini diharapkan mengalami seks, mereka tetap dituntut tidak tahu dengan ancaman tuduhan sebagai sundal). Perempuan—yang tidak mungkin menjadi patriark, yang hanya punya pilihan menjadi perawan yang polos (sosok Maria) atau penggoda (sosok Hawa)—tidak boleh diberi akses terhadap pengetahuan dengan asumsi kabur yang mengingkari akses tersebut bagi malaikat (yang polos) dan iblis (yang penggoda). Karena itu, hanya Adam sebagai patriark yang memperanakkan patriark-patriark selanjutnya yang (menurut riwayat tentang Adam yang lain) berhak atas pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan wewenang (bukan kemampuan) memberi nama dan definisi (Al-Baqarah: 31-33). Sang Bapa hanya mewariskan pengetahuan kepada bapak bani (bukan banat) Adam.

Maka, pelajaran kedua yang kita dapat peroleh dari kisah tentang Adam adalah bahwa pengetahuan adalah rahasia. Sebagai modal kekuasaan, pengetahuan harus disembunyikan agar direservasi untuk pihak-pihak yang layak (dalam hal ini para bapa). Sudah terlanjur pengetahuan Bapa diketahui Adam sehingga “telah menjadi seperti salah satu dari Kita.” Namun, selanjutnya harus dijaga dari para perempuan (yang perawan—kalaupun sudah menjadi ibu Tuhan), para anak-anak (yang harus tetap suci), dan para hamba sahaya (yang harus dikebiri). Dalam kerangka inilah ada tradisi hak malam pertama bagi para tuan tanah di Inggris (yang berhak menjadi orang pertama yang mengetahui mempelai perempuan). Dalam konstruksi sosiopolitik inilah, selama berabad-abad sastra suci hanya tersaji dalam bahasa Sanskerta, Latin, atau Arab klasik yang tidak pernah digunakan rakyat banyak di pasar atau di ladang karena yang haram itu (baik yang di Makkah maupun di Beijing) suci dan karena itu terlarang. Karena itu, para aristokrat laki-laki boleh memiliki harem sedangkan rakyat banyak berkewajiban menyediakan logistik agar harem terjaga keharamannya. Dengan demikian, banalitas yang disembunyikan dapat tampil dengan cadar kesucian.

Dengan membaca yang tersirat (yang sengaja disembunyikan atau mau tak mau tersembunyi) dari riwayat tentang Adam, kita pun akhirnya mendapat hikmah ketiga yang terdiri atas dua bagian. Pertama, mengetahui merupakan hal memisahkan elit di pusat yang berhak tahu dari mayoritas di periferi yang tidak, baik itu yang terpinggirkan karena gender (perempuan), ras/etnisitas (hitam, Habsyi, barbar) atau kasta (buruh, tani, sudra). Perempuan jelas tidak boleh mengetahui karena usahanya untuk mengetahui hanya mengakibatkan manusia terbuang dari sorga, dan lagipula ia pun hanya “diambil dari laki-laki.” Adapun si petani Kain diusir ke periferi yang disebut Nod sebelah timur Eden dan mengetahui istri dari kaum yang sebelumnya tidak pernah disebutkan dalam atau disingkirkan dari wacana.  Gayatri Chakravorty Spivak dalam “Feminism and Critical Theory” menjelaskan bahwa opresi gender, kelas, dan ras tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagaimana batas-batas patriarki, dominasi pemilik tanah atau modal, dan imperialisme saling tumpah tindih.

Menurut Augusto Boal, seorang dramawan Brazil yang rekan pedagog Paulo Freire, dalam Teatro de Oprimido, inilah panggung peradaban yang ditata oleh Aristoteles. Inilah panggung yang memisahkan aktor dari spektator, yang memisahkan protagonis dari antagonis, penonton yang di kursi VIP dari yang membeli tiket kelas festival. Padahal sebelumnya komunitas berbaur dalam karnaval Dionisiak merayakan musim tanam atau panen bersama-sama tanpa diskriminasi. Ketika panggung berpindah ke kertas, papirus, dan daun lontar lebih pemisahan menjadi peniadaan dan pengingkaran. Realitas tubuh dan segala kompleksitasnya serta semua kegiatan dan pola tutur keseharian yang nyata direduksi menjadi khayalan-khayalan romatis tentang keindahan dan keluhuran sebagai tabir bahasa yang terepresi.

Kedua, terpinggirkannya perempuan, kaum sudra, dan ras/etnis minoritas (dalam akses terhadap kekuasaan bukan dalam jumlah) diiringi dengan terpinggirkannya pihak-pihak periferal ini dari wacana yang sahih. Mereka (atau tepatnya, kita) bukan saja dikepinggirkan atau dibuat absen sebagai subjek yang dibicarakan dalam wacana (spoken subject) melainkan lebih penting lagi sebagai subjek yang memroduksi wacana (speaking subject). Dalam usaha bersuara dalam tananan semacam ini Ayu Utami (mungkin dengan bermodalkan kerangka yang dicontohkan Pramoedya, Marx, Cixous, de Beauvoire, Moi) menulis Saman-nya atau Dinar Rahayu (bermodalkan studi terhadap de Sade dan mitologi Yunani) menulis Ode-nya, sebagaimana juga dilakukan Arundhati Roy, Pauline Melville, Jean Rhys, Alifa Rifaat, Virginia Woolf, Mary Wollstonecraft, Najib Mahfudz, Chinua Achebe, Allen Ginsberg, James Joyce, W. B. Yeats, Ngungi wa Thiongo, dan banyak lagi.  Semuanya berusaha bersuara sambil menghindari terabsorbsi dalam sebuah konstruksi zalim yang secara historis telah mengesampingkan dan bahkan meniadakan suara itu.

Ini adalah konsekuensi dari mesin cetak Gutenberg yang di satu pihak memungkinkan pihak yang sebelumnya berfungsi sebagai (meminjam istilah Foucault dalam Verité et Pouvoir) “rezim kebenaran” yang memonopoli produksi, regulasi, distribusi, dan operasi wacana mengefisienkan proses produksi dan distribusi; namun di lain pihak juga membuka peluang bagi pihak-pihak yang termarginalisasi untuk berpartisipasi dalam sebuah wacana yang disebut Bakhtin sebagai poliglosia, tempat berbagai suara dan beraneka teknik serta strategi penyuaraannya. Usaha ini bukan sekedar pemainan utak-atik gaya bahasa untuk menyajikan efek mempesona, bukan sama sekali upaya komersial mencari sensasi; ini adalah sebuah strategi naratif politis dalam bermanuver dalam bangun-bangun wawasan yang sudah mapan sedemikian sehingga suara-suara yang sebelum diabaikan dan dibungkam dengan dalih moralitas dan keindahan dapat menemukan jalan untuk ikut serta dalam memperkaya wacana peradaban manusia. Usaha ini semacam respons terhadap pertanyaan bangsa Houyhnhnm kepada Kapten Lemuel Gulliver dalam karya masyhur Jonathan Swift tentang alasan bangsa Yahoo yang biadab (maksudnya manusia) mengharuskan dirinya mengenakan pakaian seakan-akan ada yang harus disembunyikan, dan alasan manusia men(yalah)gunakan kemampuan berbahasanya untuk menutupi kenyataan (berdusta).

Namun ternyata poliglosia, karnaval, dan semangat kesetaraan dan kebersamaan bukan cita-cita semua orang, terutama bukan cita-cita yang diuntungkan oleh struktur wacana (baik dalam arti teks maupun diskursus). Akhir-akhir ini saya terlibat dalam beberapa diskusi—yang formal dan informal—dan juga membaca beberapa tulisan yang mempermasalahkan penyajian eksplisit tubuh manusia dan kegiatan seksual dalam karya-karya yang tergolong dalam kategori sastra. Perdebatan ini tampak melibatkan dua kubu. Kubu pertama—yang bisa dibilang mengawali perdebatan ini, setidaknya dalam periode pasca-Inul—punya ujung tombak (atau bisa juga cuma tumbal) Medy Loekito. Kubu ini menyerang karya-karya fiksi naratif seperti Saman-nya Ayu Utami dan Ode untuk von Masoch-nya Dinar Rahayu. Katanya bahasa yang dipakai penulis-penulis itu cita rasanya rendah. Kalau boleh saya simpulkan, argumentasi yang dipakai itu berdasar pada sebuah sistem nilai yang diklaimnya sifatnya luhur, universal, dan, karena itu, aksiomatis. Pertama, nilai-nilai ini digunakan untuk menyerang hal yang disajikan, yaitu tubuh dan kegiatan seksual.

Yang ketara sekali di sini adalah bahwa kubu pertama ini merasa canggung dan malu  (mungkin juga bahkan takut) kalau kegamblangan tubuh dan seks (maksudnya tubuh sebagai tubuh, seks sebagai seks, dan bukan sebagai metafora buat hal lain seperti kesempurnaan manusia atau cinta ilahi) dijadikan topik dalam teks yang seharusnya, menurutnya, adiluhung. Kedua, nilai-nilai yang sama digunakan untuk menyerang cara topik seks dan tubuh disampaikan melalui mediasi bahasa. Katanya, bahasa yang dipakai itu “vulgar” (sebagaimana elit Roma dulu merendahkan bahasa lisan yang digunakan bahasa Latin yang digunakan kaum proletar dan bangsa non-Roma sebagai bahasa Vulgat), padahal menurutnya, bahasa sastra itu (seperti kata guru saya di SD, SMP, dan SMA dulu) harus bersifat indah dan berbunga-bunga, Jadi, singkatnya kubu pertama ini kurang-lebih menganggap hina karya-karya dan penulis-penulisnya karena tidak bermoral dan tidak tahu tata krama (tentunya dengan menyiratkan bahwa orang-orang di kubu ini saleh dan sopan). Inilah para pewaris Adam dan Aristoteles.

Sialnya, karya-karya yang diserangnya ini ditulis oleh perempuan. Dengan demikian, perdebatanya banyak menggunakan wacana feminis baik sebagai senjata maupun sasaran. Maka, muncullah tanggapan dari kubu kedua (yang ke dalamnya saya memasukkan diri saya sendiri). Kubu ini berusaha menjelaskan kepada kubu pertama bahwa asumsi-asumsi, argumentasi, serta metodologi yang digunakan kelompok puritan romantik tersebut rapuh. Kubu kedua, yang bersuara dari pinggir, yang berusaha memajukan poliglosia dan wacana yang—meminjam konsep Freire—“manusiawi” berupaya menunjukkan kecerobohan dalam membaca karya-karya yang dijadikan bahan kecaman serta kemalasan dalam memahami kerangka teoretis yang membingkai karya-karya tersebut. Kubu kedua ini berusaha menunjukkan bahwa tulisan-tulisan yang dikecamnya adalah suara manusia yang manusiawi: bertubuh dan bersenggama karena hidup dalam dunia yang memang tidak selalu indah sehingga bahasanya pun tidak selalu halus. Namun, Medy sebagai tumbal (yaitu yang dijadikan sacrifice dengan gelar semu sacred padahal victimized) sudah menulis tiga kali seakan-akan tidak pernah ada suara Aquarini Priyatna, Bonardo Wahono, Melani Budianta, atau Marianna Amirudin. Dan, sampai paragraf ini, saya sangsi, jangan-jangan segala yang saya sudah sebutkan di atas pun tidak berguna; paling-paling saya akan dikecam karena telah berkata-kata imoral dan menghujat kitab-kitab suci. Saya khawatir para bangsawan dan begawan yang bertahta di dalam lindungan tembok-tembok kota terlarang hanya dapat mendengar gaung suara mereka sendiri serta mengiranya sebagai suara Tuhan.

* Terbit di Media Indonesia, 29 Februari 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *