Menyeberangi Lembaran Kertas

Perpindahan dan Perubahan:

Transportasi dalam Struktur Naratif Riwayat Perjalanan ke Amerika di Era Viktorian

Ari Adipurwawidjana

Abstrak

Riwayat yang disajikan penulis Britania era Viktorian tentang perjalannnya ke Amerika mengasumsikan adanya sebuah jaringan prasarana transportasi. Sistem transportasi terkait dengan riwayat perjalanan (travel narrative) dalam tiga hal, yaitu (1) sebagai basis material bagi perjalanan, (2) sebagai substruktur riwayat, dan (3) sebagai pokok pembicaraan dalam riwayat itu sendiri. Buku Domestic Manners of the Americans (1832) merupakan model bagi cara infrastruktur transportasi menentukan aspek naratologis, yaitu urutan dan perspektif dalam struktur naratif riwayat perjalanan. Karya tersebut juga menyajikan transportasi sebagai pokok pembicaraan dalam teksnya itu sendiri walaupun tidak sejauh sebagaimana yang tampak pada The Amateur Emigrant (1895) karya Robert Louis Stevenson. Dalam hal ini, The American Scene (1907) karya Henry James juga relevan karena, walaupun tidak secara gamblang membicarakan transportasi sebagai topik dan tidak pula menampakkan ciri-ciri riwayat perjalanan, karya tersebut merepresentasi cara wawasan Britania-Amerika trans-Atlantik dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Kelumrahan dalam hal ini dapat dipahami baik dalam arti given atau taken for granted maupun sebagai perihal yang berkaitan dengan waktu (dalam bahasa Arab لمره) mengingat bahwa transportasi bagi kedua belah pihak di kedua sisi Atlantik menganggap perjalanan trans-Atlantik sebagai semacam perjalanan menembus waktu sebagaimana tampak pada riwayat yang lain. Dengan demikian, riwayat perjalanan era Viktorian mencatat ketidaknyaman para penulis Britania abad kesembilanbelas terhadap transformasi sosial ke sistem kapitalis yang direpresentasi secara metaforis oleh pemahaman mereka tentang Amerika.

Kata-kata kunci: travel narrative, Viktorian, Fanny Trollope, Robert Louis Stevenson, Henry James, transportasi, wisata, infrastruktur, materialisme budaya

Dalam kurun waktu antara berangkatnya Frances Trollope[1] dari London menuju Amerika pada tahun 1827 dan terbitnya Domestic Manners of the Americans pada tahun 1832, Amerika Serikat sebagai negara berdaulat masih dalam proses mendefinisi diri, dan bangsa Amerika belum lagi mapan. Setelah memperluas wilayahnya ke utara dengan mengalahkan Inggris pada Perang 1812[2] dan menguasai Florida sebagai sebuah wilayah territorial pada tahun 1822, Amerika Serikat masih harus berurusan dengan masalah resistensi bangsa Cherokee dan Seminole dengan mengupayakan hijrah paksa ke sebelah barat sungai Mississippi. Selain itu, Amerika Serikat masih belum  dapat menentukan status politik warga keturunan Afrika dalam republik yang baru saja didirikan tersebut, sebuah isu yang melibatkan masalah perbudakan (dan abolisi terhadapnya) dan kolonisasi Liberia. Negara Amerika Serikat dan bangsa Amerika masih dianggap sebagai “the great experiment,” yang menjadi topik menarik bagi penulis Britania[3]. Trollope sendiri memutuskan menulis bukunya karena

[a]lthough much has already been written on the great experiment … on the other side of the Atlantic[4], there appears to be still room for many interesting details on the influence which the political system of the country has produced on the principles, tastes, and manners, of its domestic life. (Trollope, 1997: 7)

 

Pernyataan Trollope tersebut bukan saja menunjukkan bahwa memang ada kepentingan bagi pihak masyarakat pembaca Inggris, sebagaimana yang tampak dari banyaknya tulisan yang dikatakan telah dihasilkan tentang Amerika Serikat, melainkan juga bahwa kawasan Atlantik dipahami sebagai sebuah entitas regional yang mencakup Amerika Serikat dan Britania Raya. Selain itu, dalam “Unpublished Preface from the Rough Draft of Domestic Manners of the Americans” Trollope mencatat bahwa “the [American] people are so strangely like us, and so strangely unlike us; the connection with us so close, yet the disunion so entire; speaking the same language, yet having hardly a feeling in common” (1997: 319-320). Pernyataan tersebut menyiratkan lebih jauh tentang adanya sebuah masyarakat trans-Atlantik dan juga adanya kepentingan Inggris atas Amerika.

Buku Fanny Trollope sebagaimana pula karya lain yang menurutnya telah ditulis tentang Amerika merupakan contoh “such texts [which] can create not only knowledge but also the very reality they appear to describe [emfasis asli]” (Said, 1978: 94). Dengan kata lain, riwayat perjalanan tentang Amerika oleh penulis Inggris seperti Trollope turut melenggengkan konsep tentang kawasan trans-Atlantik dengan cara mendokumentasi dan memvalidasi keberadaannya dengan cara melekatkan definisi dan makna kepada kenyataan mentah. Lagipula, riwayat perjalanan era Viktorian ini meneguhkan pemahaman bahwa

worldliness, circumstantiality, the text’s status as an event having sensuous particularity as well as historical contingency, are considered as being incorporated in the text, an infrangible part of this capacity for conveying and producing meaning. (Said, 1983:39)

Artinya, teks memiliki signifikansi sedemikian rupa sehubungan dengan relasi antara manusia dan dunia nyata yang dihuninya karena kenyataan material merupakan determinan diskursif yang terjalin dalam kompleksitas teks itu sendiri. Dengan demikian, dari perspektif materialis kultural, haruslah diidentifikasi “landasan sesungguhnya (die reale Basis) yang di atas dibangun (erhebt)” superstruktur sebagai “keseluruhan ‘ideologi’ sebuah kelas: ‘bentuk kesadarannya;’ cara konstitutif memandang dirinya dalam dunia” (Williams, 1977:  76-77). Hal ini demikian karena wawasan, yang dibangun teks sebagai ”bentuk kesadaran” tersebut, berlandaskan sebuah basis ekonomi, sebuah infrastruktur material. Dalam halnya riwayat perjalanan ke Amerika di era Viktorian, infrastruktur ini berupa sebuah kompleks luas sistem transportasi, yang mencakup jalur pelayaran trans-Atlantik dan jejaring prasarana darat di masing-masing sisi Atlantik. Jaringan sistem transportasi inilah yang telah mendukung ekonomi internasional trans-Atlantik sejak Kolumbus melakukan pelayaran pertamanya di abad kelimabelas.

Memang sesungguhnya, transportasi dan prasarana yang mendukungnya merupakan unsur-unsur sentral bagi riwayat perjalanan. Sementara dalam wacana naratif pada umumnya ada asumsi bahwa terjadi “perjalanan” ke dalam dunia naratif, dalam riwayat perjalanan masalah transportasi mendapat makna yang harfiah. Si penulis riwayat sebagai perawi atau narator memang masuk ke dunia yang diriwayatkannya dan memang kenyataannya perjalanan ini berfungsi untuk memvalidasi atau menyahihkan pernyataan-pernyataan yang diajukannya tentang dunia naratif tersebut. Kenyataan bahwa si penulis riwayat perjalanan (katakanlah, ar-rawī wal-musafir) memang berada di lokasi yang diamati, didokumentasi, dan diriwayatkan dalam teks sudah memberi asumsi bahwa ia telah memanfaatkan infrastruktur yang ada. Bagi para musafir dan wisatawan zaman Viktorian yang bepergian ke Amerika ketersediaan sarana dan prasaran transportasi ini memiliki signifikansi lebih karena, tidak seperti para “explorer” Britania yang terlibat dalam “treks to distant, unfamiliar, ‘exotic’ and uncharted lands” (Morgan, 2001: 24), mereka melalukan perjalanan dalam batas-batas dunia yang mereka sudah kenal. Dengan demikian, perjalanan ke Amerika serupa dengan yang dilakukan ke daratan Eropa. Dalam batas-batas kawasan geografis ini basis ekonomi dan superstruktur ideologis sudah saling meneguhkan setidaknya selama tiga abad. Jalur pelayaran, jalan darat, dan rel kereta api telah memfasilitasi perjalanan, dan riwayat tentang perjalanan pun telah menjadi alasan bagi pemeliharaan jaringan transportasi tersebut. Morgan lebih jauh mengamati bahwa pada tahun 1830an saja sekitar 50.000 orang per tahun berlayar dari pelabuhan-pelabuhan Inggris, dan banyaknya pula tulisan tentang perjalan tersebut menunjukkan adanya industri perjalanan yang sedang berkembang pesat di abad kesembilanbelas (2001: 14). Bahkan sesungguhnya, Morgan selanjutnya mengatakan bahwa sedemikian pentingnya gejala yang disebutnya “touring frenzy” di Britania era Viktorian sehingga hal tersebut “affected not only the reading public, but also the landscape in Europe’s and Britain’s towns and countryside” (2001: 15).

Namun, perjalanan ke Amerika memiliki signifikansi lebih daripada sekedar berkembangnya sebuah industri karena hal itu dapat dipandang sebagai perjalanan ke wilayah yang dapat dianggap sebagai perpanjangan dari Britania sendiri. Hal ini disiratkan oleh ambivalensi yang dinyatakan Trollope bahwa orang Amerika itu sangat serupa dengan sekaligus sangat berbeda dari orang Inggris. Seorang musafir seperti Trollope dengan mudah menerima begitu saja penggunaan bahasa Inggris dan adanya sarana dan prasarana transportasi walaupun ia pun menunjukkan kekaguman akan  alam dan kekhasan lokal yang dilihatnya di Amerika.  Ambiguitas dalam membaca riwayat perjalanan ke Amerika Serikat mirip dengan ketidakjelasan tentang betul tidaknya

the early colonization of Australia should be viewed as a part of a coherent narrative—about politics, about criminal justice, or about imperial expansion—or a fragment, a development that had no defensible contemporary cause and which could only look toward an uncertain and perilous future.” (Benis, 2003: 287)

 

Bedanya, dalam kasus pandangan terhadap Amerika, pihak Britania bukan mempermasalahkan isu keadilan pidana melainkan lebih ke isu keadilan sosial karena bermigrasinya warga Britania ke Amerika Serikat dilakukan atas kehendak sendiri—setidaknya di abad kesembilanbelas[5]. Ditransportasikannya para pelaku tindak pidana ke Australia merupakan cara menangani “the crime wave of the 1790s: inflation, unemployment, and near famine conditions brought on by bad harvests have driven British men and women to steal” (Benis, 2003: 288). Serupa dengan itu, Stevenson dalam The Amateur Emigrant mengamati bahwa para penumpang yang menempati dek terbawah merupakan kalangan

[l]abouring mankind [who] had in the last years, and throughout Great Britain, sustained a prolonged and crushing series of defeats … a company of the rejected; the drunken, the incompetent, the weak, the prodigal, all who had been unable to prevail against circumstances in the one land, were now fleeting pitifully to another; and though one or two might still succeed, all had already failed (1921: 16-17).

 

Amerika menjadi sebuah tujuan pengasingan sukarela sebagaimana Australia menjadi tujuan pengasingan yang dipaksakan oleh pihak pemerintah. Keduanya didorong oleh keadaan ekonomi dalam negeri Britania yang mendesak warga kelas buruh.

Dapat pula dikatakan bahwa permasalahan ekonomi dalam negeri serta  kebutuhan akan sumberdaya dan pasar yang lebih luas, yang tidak dapat diperoleh di dalam negeri, juga merupakan basis material bagi ekspansi imperial Britania. Karena itu, kondisi-kondisi tersebut pun menjadi motif bagi pembangunan jalan darat dan rel kereta api Amrika dan jalur pelayaran trans-Atlantik. Inilah kebutuhan, sebagai yang disitir Dunbar, menyebabkan “the growth of the [British] white man’s travel system in America and his subjugation of the continent” (1937: 57). Selanjutnya Dunbar menyatakan bahwa “white travel resulted in more demands to buy land, more purchases, permanent white occupation and curtailment of [Native American’s] territory and natural means of subsistence” (1937: 61). Maka, jelas bahwa kisah perjalanan orang Inggris ke Amerika di abad kesembilanbelas dan pembangunan sistem transportasi tumpang tindih dengan sejarah imperialisme Anglo-Amerika, yang dimulai oleh kolonialisme Britania di abad ketujuhbelas dan dilanjutkan di abad kesembilanbelas oleh politik ekspansionisme pemerintah Amerika Serikat di bawah Andrew Jackson.

Jadi, ketika Fanny Trollope tiba di “the soil of the new land, of  a new world” dan merasakan “considerable excitement and deep interest in almost every object that meets [her]” (1997: 12), sesungguhnya agenda perjalanannya selama tiga tahun dan enam bulan melalui berbagai daerah Amerika Serikat tersebut telah tertata, dan alur riwayatnya—sampai taraf tertentu—sudah terbentuk. Jika Trollope dalam bukunya menyajikan dirinya sebagai salah satu dari orang yang disebut Morgan sebagai

self-proclaimed ‘travellers’ [who] distanced themselves from and denigrated ‘tourists’ by depicting them as passive, dependent followers of the beaten track laid for them by rail companies, guidebooks and entrepreneurs such as Thomas Cook (2001: 10)

 

agar dapat menyahihkan pernyataan-pernyataannya tentang “domestic manners” bangsa Amerika dan juga tentang kehidupan sehari-hari di sana dengan merujuk pada dirinya yang memiliki “aesthetically sensitive, independent spirits, bent on avoiding well-trodden paths and thus experiencing other places and peoples in an original, authentic way [emfasis saya sendiri]” (Trollope, 1997: 14); hal itu semakin menunjukkan betapa sarana transportasi itu telah dipersepsi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lanskap Amerika dan ketersediaannya dianggap lumrah oleh si musafir Britania.

Trollope sama sekali tidak mempermasalahkan kenyataan bahwa ia memulai perjalanan dan domisili sementaranya di Amerika Serikat di New Orleans, bahwa ia menikmati warisan pendirian New Orleans sebagai pelabuhan utama bagi perkebunan di Louisiana. Padahal, ekonomi perkebunan Louisiana didukung oleh tenaga kerja budak yang dianggapnya sendiri sebagai sebuah kejahatan sosial yang secara imoral dipelihara masyarakat Amerika Serikat. Ia mengabaikan—kemungkinan besar tanpa sadar—kenyataan bahwa kedatangannya dimungkinan oleh satu segmen perdagangan Altlantik utara, yang

memanfaatkan  arus berputar Samudra Atlantik, yang dengan demikian menghindari arus utara dan menghasilkan laba yang lebih besar … [dengan cara berlayar] ke arah selatan dan arus Kepulauan Kenari ke Afrika Barat [tempat] mereka mengambil ‘kargo’ budak belian, dan berlayar dengan angin dan arus yang mendukung dan arus ke barat ke kawasan Karibia dan daerah selatan Amerika.

(Franck dan Brownstone, 1984: 277)

Walaupun penulis riwayat perjalanan seperti Trollope tampak mengabaikan mudahnya bepergian karena ketersediaan sarana dan prasarananya, tidak berarti berkurangnya signifikansi transportasi bagi para musafir Britania dan hubungannya dengan proses periwayatan perjalannya tersebut. Fungsi transportasi sebagai basis material bagi dibangunnya riwayat perjalan, sebagaimana yang telah dibahas tadi, meletakkan riwayat dan proses periwayatannya dalam sebuah konteks historis sehingga menunjukkan keterlibatan riwayat dan proses periwayatan dengan dinamika khas sosio-politis yang melingkunginya.  Situasi-situasi spesifik ini

meletakkan batasan pada para penafsir dan penafsirannya bukan karena situasinya tersembunyi dalam teks sebagai sebuah misteri melainkan karena situasi tersebut berada pada tataran surface particularity yang sama dengan objek tekstualnya itu sendiri [emfasis saya tambahkan sendiri]. (Said, 1983: 39)

 

Artinya, jika proses pembacaan yang kritis dipahami sebagai proses berhadapan dengan teks dengan melihat cara teks tersebut beroperasi, dan jika dipahami pula bahwa masalah transportasi begitu terpatri dalam dalam riwayat perjalanan, dapatlah disimpulkan bahwa peran infrastruktur transportasi bisa dipandang sebagai semacam strukturnya pula.

Jadi, secara umum, jelas pola naratif riwayat perjalanan era Viktorian ke dan di Amerika Serikat tampak dicirikan oleh kebergantungan si musafir pada jalur, jalan, dan segala sarana yang tersedia. Ciri naratif ini tampak pada dua tataran naratif, yang menurut teori naratif strukturalis dimiliki semua teks naratif; atau, tepatnya, semua riwayat terdiri atas sebuah struktur ganda. Selalu ada “kisah (histoire), isi atau serangkaian peristiwa (tindakan dan kejadian), serta yang dapat disebut sebagai existent (tokoh, objek-objek yang ada di latar); dan wacana (discours), yaitu proses pengungkapannya, cara isi tersebut disampaikan” (Chatman, 1978: 19). Dalam teks-teks naratif yang pertama senantiasa tampak gamblang dan tidak jarang pula berada di pusat struktur naratifnya. Namun, struktur yang satunya lagi tidak selalu berada di permukaan teks. Dapat saja didalilkan bahwa struktur ganda ini merpakan struktur universal bentuk riwayat karena adanya riwayat sudah mengasumsi adanya pihak yang meriwayatkannya. Namun demikian, banyak pula riwayat yang memberi kesan bahwa peristiwa yang berada di hadapan pembaca merupakan peristiwa  otonom sebagaimana peristiwa yang “nyata.” Dalam hal ini, ada seorang perawi atau narator tersembunyi di balik permukaan riwayat, yang keberadaannya, bagi pembaca yang kepentingan utamanya adalah rangkaian eristiwa yang membangun riwayat, mungkin saja tampak tidak relevan. Akan tetapi dalam hal riwayat perjalanan kedua struktur tersebut signifikan. Sang perawi sekaligus penulis riwayat selalu gamblang (bukan tersembunyi. Ia pada waktu yang sama meriwayatkan hal-hal yang diamatinya  di tempat-tempat yang dikunjunginya dan juga kondisi yang melingkungi perjalannya.

Ada dua aspek naratologis yang secara khusus signifikan dalam kaitannya dengan struktur naratif riwayat perjalanan era Viktoria dan fungsi transportasi sebagai  determinan, yaitu urutan dan perspektif. Genette memprasarankan, bahwa “urutan temporal rangkaian  peristiwa dalam sebuah kisah dan urutan pseudo-temporal dalam penataannya dalam riwayat” merupakan unsur dasar dibangunnya sebuah struktur naratif (1980:).   “Teori naratif strukturalis,” menurut Chatman, “mendalilkan bahwa penataan[6] [peristiwa yang membangun alur] lah yang merupakan operasi yang dijalankan wacana. Peristiwa dalam kisah dijadikan alur oleh wacananya sebagai modus penyajian” (1978: 43). Dengan demikian, pada tataran wacana, dapat diamati bahwa cara peristiwa diatata dalam penulisan riwayat perjalanan era Viktorian tidak menampakkan tidak adanya efek dramatis yang menjadi landasan penting bagi genre naratif lainnya yang juga cukup populer di zaman itu, yaitu fiksi naratif. Henry James dalam The American Scene, yang dapat dipandang sebagai upayanya mencoba menuliskan kisah kembalinya dirinya ke Amerika Serikat, berusaha agar ada sesuatu yang

lurk beneath this … to thicken the plot from stage to stage and to intensify the action” karena “nothing could be more to the occult purpose of the confirmed, the systematic story seeker, or to that even of the mere ancient contemplative person curious of character. (1947: 12).

James sendiri tidak merumuskan unsur pengikat yang mengikat peristiwa-peristiwa dalam riwayat perjalannya itu sehingga selaras dengan konvensi alur fiksi Viktorian yang lekat dengan dirinya sebagai pengarang kanonikal aman itu baik dalam tradisi kesusastraan Britania maupun Amerika. Alih-alih, ia beranjak dari satu adegan ke adegan yang lainnya hanya berdasarkan kenyataan bahwa dirinya sebagai titik fokal narasinya sendiri berpindah sebagai seorang musafir dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

Maka, sebagaimana dicontohkan dalam pola naratif James, dapat dikatakan bahwa riwayat perjalanan era Viktorian merupakan pewaris fiksi Inggris abad kedelapanbelas, bukan sekedar karena yang pertama secara kronologis memang berkembang setelah yang kedua dalam konteks sejarah kesusastraan Inggris, melainkan lebih karena ia memiliki ciri-ciri naratif yang serupa dengan fiksi Inggris zaman sebelumnya. Karena bergantung pada adanya jalan, rel kereta api, dan jalur perairan, riwayat naratif era Viktorian bersifat episodik sebagaimana Tom Jones karya Henry Fielding atau Humphrey Clinker karya Tobias Smollet, atau bahkan lebih. Ia memulai kisah di pelabuhan masuk mana saja si perawi kebetulan berada pada awal perjalanannya; dan kemudian maju ke tempat manapun yang dibawa kereta kuda, kereta api, atau kapal uap. Tidak ada konflik tematis yang menggerakkan urutan naratif dalam hubungan sebab-akibat. Dengan demikian, si musafir sebagai tokoh protagonis riwayatnya sendiri disajikan sebagai tokoh picaresque, yang sikapnya terhadap tema dan pokok pembicaraan yang disajikannya pun turut berubah seiring dengan berpindahnya si tokoh dari episode yang satu ke episode yang lain.

Perubahan sikap yang senantiasa terjadi ini juga dimungkinkan oleh aspek lain wacana naratifnya, yaitu perspektif. Genette mendefinisi aspek ini sebagai cara teks naratif

meregulasi informasi yang disampaikannya, bukan sebagai semacam penyaringan, melainkan berdasarkan kapasitas pengetahuan peserta dalam kisah (seorang tokoh atau sekelompok tokoh), dengan cara mengadopsinya atau tampak mengadopsinya riwayat hal yang lazim kita sebut sebagai ‘pandangan’ atau ‘sudut pandang’ si peserta; riwayat tampak dalam hal ini…menggunakan, sehubungan dengan kisahnya, satu atau lain perspektif [emfasis asli]. (1980: 162).

 

Dalam riwayat perjalanan ke Amerika di era Viktorian, kendaraan dan jalur yang dilaluinya berfungsi sebagai sebuah ruang ambang (liminal) yang senantiasa dihuninya beserta musafir yang mengendarainya. Posisi ini memungkinkan perawi menjaga jarak tertentu dari lingkungannya sehingga ia tetap bertahan dengan statusnya sebagai pengunjung tetapi cukup dekat sehingga memiliki perspektif yang memadai agar dapat memperoleh informasi yang cukup agar dapat memasukkannya ke dalam riwayatnya.

 

IV. Transportasi sebagai Isu Tematis

Namun demikian, masalah perspektif ini lebih daripada sekedar perkara struktural. Aspek ini merupakan lokus bagi pemberian makna atas perjalanan karena “perjalanan melibatkan ditinggalkannya situasi sosial dan kultural rutin, dan karena itu mengasingkan [estranges]si musafir dari yang dikenalnya” (Morgan, 2001: 10). Stevenson berkata serupa dalam riwayatnya:

Ada dua macam perjalanan dan perjalananku menyeberangi lautan ini menggabungkan keduanya…Aku bukan saja pergi ke luar negeriku dalam hal garis lintang dan bujur, tetapi keluar dari diriku dalam hal makanan, kenalan, dan pertimbangan. Sebagian dari ketertarikan dan banyak kesenangan mengalir, setidaknya untukku, dari situasi baru ini (1921: 88).

 

Hal tersebut membuka peluang bagi dirinya untuk dapat berada di tengah-tengah Liyan sehingga ia dapat memiliki wawasan penuh yang strategis atasnya agar dapat membuat pernyataan tentangnya. Status ini menganugerahkan kekuasaan yang besar karena naik ke posisi

di atas kekinian, melampaui diri, ke dalam wilayah asing dan jauh” memungkinnya memandang lingkungan sekitarnya sebagai objek pengetahuan, yang “secara inheren rentan terhadap pemeriksaan[7]…. Memiliki pengetahuan tentang sesuatu sama dengan menguasainya[8], memiliki wewenang atasnya. Dan kewenangan di sini berarti ‘kita’ menyangkal otonominya…karena kita mengetahuinya dan ia ada, dalam makna tertentu, sebagaimana kita mengetahuinya. (Said, 1978: 32)

 

Lebih penting lagi, hal tersebut terkait dengan pandangan ambivalen para penulis riwayat perjalanan Britania terhadap bangsa Amerika, sebagaimana yang dicontohkan kutipan dari riwayat Trollope di awal tulisan ini. Karena itu, keluhan yang senantiasa tersebar dalam riwayat mereka tentang betapa kampungannya orang Amerika atau tentang betapa bangsa Amerika terobsesi dengan upaya mengejar uang harus dipandang sebagai gejala yang lebih daripada sekedar kecerewatan yang mengemuka dari keangguhan etnosentris bangsa Inggris. Trollope, dalam penilaian akhir atas masyarakat Ameria menegaskan:

if refinement once creeps in among them, if once they learn to cling to the graces, the honours, the chivalry of life, then we shall say farewell to American equality, and welcome to European fellowship one of the finest countries on earth. (1997: 318)

Ini lebih daripada sekedar semacam ancaman embargo kultural atas yang diberlakukan kekuatan peradaban Eropa atas bangsa Amerika yang vulgar. Hal ini juga menunjukkan kekhawatiran tentang yang dapat terjadi terhadap bangsa Britania[9] itu sendiri dengan melihat Amerika sebagai cermin yang menayangkan Liyan sebagai imago Dirinya. Perjalanan memang bukan sekedar kesempatan bagi si musafir memandang Liyan melainkan juga bagi transformasinya menjadi “pengamat seksama atas kebudayaan dirinya dan orang lain” (Morgan, 2001: 10). Hal ini berkenaan sekali dengan kasus musafir Viktorian di Amerika karena, walaupun ia memiliki kebanggaan tentang bangsanya, mereka tidak dapat menyangkal bahwa ia memiliki afinitas dengan objek pengetahuannya.

Khususnya bagi James, ambivalensi ini bersifat sangat signifikan karena ia terikat pada kedua wilayah geografis tersebut. Riwayatnya tentang perjalanannya kembali memberi kesaksian atas temuannya bahwa sebuah “perpetual passionate pecuniary purpose … derides and devours” kampung halamannya, yaitu New York. (1947: 111). Serupa dengan cara infrastruktur transportasi mengambil kekuasaannya sebagai “the systematic story-seeker,” yang merintangi upayanya memberi makna kepada perjalanan; kekuatan ekonomi saat itu sedang dalam proses mengubah dunia yang dikenal wawasan Viktorian.

 

V. Penutup

Perspektif yang dioperasikan dalam struktur naratif karya James dan Trollope mennghalangi kedua pengamat seksama kehidupan dan alam Amerika ini dari melihat yang gamblang. Trollope dan Stevenson tampak bersikukuh dalam menegaskan bahwa mereka memiliki status sebagai seorang lady dan seorang gentleman walaupun jelas—sebagaimana yang dilihat Setevenson pada sesama penumpang dek terbawah kapal, dan yang enggan diakui Trollope ada pada dirinya—bahwa perubahan ekonomi di tingkat global sedang terjadi di penghujung abad kesembilanbelas, yang mendorong dan memungkinkan orang bepergian menyeberangi Samudra Atlantik dan kembali lagi dengan mudah karena tersedianya sarana dan prasarana. Namun demikian, James yang membandingkan dan menyandingkan masyarakat Anglofon di kedua sisi Atlantik dalam seluruh karirnya sebagai penulis, dan yang dirinya sendiri merupakan personifikasi dari diri trans-Atlantik, dalam haya penulisannya yang yang penuh manuver, sesungguhnya menyiratkan adanya transformasi ini. Perjalanannya ke sisi Amerika identitasnya mengarahkan dirinya pada penemuan, seiringan dengan renungannya tentang konstruksi yang baru sebagai ganti yang lama, bahwa “the monuments of pecuniary power rise thick and close” (1947: 212). Ia selanjutnya menyatakan:

This acquaintance, as it practically been, with the whole rounding of the circle (even though much of it from a distance), was tantamount to having sat out the drama, the social, the local, that of a real American period, from the rise and fall of the curtain—always assuming that truth of the reached catastrophe or dénouement” (213).

 

Karena terkait secara biografis dengan kedua sisi Atlantik, James dapat melihat bahwa perjalanan ke Amerika secara metaforis mengikuti arah perkembangan sistem ekonomi global. Seiring dengan menjalarnya jaringan jalur pelayaran,, jalan darat, dan rel kereta api ke arah barat, riwayat perjalan Britania Britania abad kesembilanbelas, sebagaimana terbangun dalam citra dirinya sendiri, mendokumentasi ekspansi ekonomi kapitalis yang tidak lama kemudian akan mendefinisi Britania Raya dan juga Amerika Serikat. Pada saat yang sama, riwayat-riwayat tersebut, menyuarakan keengganan bangsa Inggris dalam menghadapi akhir kerangka berpikir Viktorian yang diwakili mereka sendiri.

 

Daftar Pustaka

Benis, Toby R. 2003. “Transportation and Narrative.” Criticism Vol. 45 No. 3, hlm. 285-299.

Chatman, Seymour. 1978. Story and Discourse: Narrative Structure in Fiction and Film. Ithaca, N.Y.: Cornell University Press.

Dunbar, Seymour. 1937. A History of Travel in America. New York: Tudor.

Franck, Irene M. and David M. Brownstone. 1984. To the Ends of the Earth: The Great Travel and Trade Routes of Human History. New York: Facts On File Publications.

Genette, Gérard. 1980. Narrative Discourse: An Essay in Method. Terj. Jane E. Lewin. Ithaca, N.Y.: Cornell University Press.

James, Henry. 1947. The American Scene. New York: Charles Scribner’s Sons.

Morgan, Marjorie. 2001. National Identities and Travel in Victorian Britain. Houndmills: Palgrave.

Said, Edward W. 1978. Orientalism. New York: Vintage.

—. 1983. The World, the Text, and the Critic. Cambridge, Mass.: Harvard University Press.

Stevenson, Robert Louis. 1921. The Amateur Emigrant and the Silverado Squatters. New York: Charles Scribner’s Sons.

Trollope, Frances. 1997. Domestic Manners of the Americans. London: Penguin.

Williams, Raymond. 1977. Marxism and Literature. Oxford: Oxford University Press.


[1] Frances Trollope (1779-1863) adalah ibu dari penulis modernis ternama Anthony Trollope. Karya-karyanya yang lain, yang berpendirian anti-perbudakan konon mempengaruhi penulis Harriet Beecher Stowe.

[2] Kehadiran kekuatan Imperium Britania di sebelah barat Amerika Serikat menjadi penghalang bagi perdagangan internasional karena Inggris masih berkonflik dengan Perancis yang menguasai beberapa bagian utara dan notabene merupakan sekutu Amerika Serikat serta persaingan antara Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan kapal-kapal dagang Amerika Srikat. Selain itu, Inggris pun mendukung resistensi bangsa-bangsa pribumi trehadap upaya ekspansi Amerika Serikat.

[3] Walaupun dalam tulisan ini saya sering menggunakan istilah ”Britania”  sebagai sinonim ”Inggris,” sesungguhnya keduanya harus dibedakan satu sama lain.

[4] Frase inipun menyiratkan bahwa di Britania pun ada wacana tentang eksperimen sehubungan dengan upaya transformasi sosial secara revolusioner.

[5] Pada awal kolonisasi Amerika oleh bangsa Britania, memang salah satu alasan migrasi adalah pengasingan para narapidana sebagai ganti menjalani hukuman penjara.

[6] Berkaitan dengan masalah penataan rangkaian peristiwa dalam sebuah riwayat—baik yang fiktif maupun yang non-fiktif Northrop Frye menawarkan juga istilah ”emplotment” dan ”mythos” dengan merujuk kepada konsep-konsep yang diajukan Aristoteles dan para ahli teori sastra Aristotelian.

[7] Said menggunakan kata “scrutiny.” Saya menggunakan kata “pemeriksaan” dalam arti sebagaimana polisi memeriksa tersangka, jaksa memeriksa terdakwa, dan hakim memeriksa perkara; atau sebagaimana seorang auditor memeriksa pembukuan, guru memeriksa ujian, atau dokter memeriksa pasien.

[8] Misalnya, karena seseorang mengetahui ilmu atau cara melakukan sesuatu, dikatakan ia menguasai hal tersebut.

[9] Harus diingat juga bahwa pemahaman tentang Britania sebagai sebuah bangsa pada saat itu merupakan hal yang relative baru dibandingkan pemahaman tentang Inggris sebagai sebagai entitas politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *