Ini Bukan Sajak

Ini bukan sajak.

Ini bukan cerita fiksi.

Ini adalah tiga belas hal yang dipertimbangkan ketika membongkar belulang leluhumu dari kubur.

These are thirteen things to consider when exhuming the remains of your grandfather.

 

Kalau saya bilang tiga belas maksudnya: satu, dua tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas.

Kalau saya bilang tiga belas, bisa juga artinya satu, tapi jelas bukan dua. Dua belas bulan tambah satu, tanggal dua belas tambah satu. Twelve hours and one. Twelve witches and one.

For some people definitely not three, not four, not five, especially not seven.

One little bird

Two little birds

Three little birds

Thirteen black birds pecking on the pile of dung that is me

berbincang dengan cacing                        belitung                                    dan hara tanah. Kadang-kadang Sri Pohaci yang bangkit.

Seringnya

cuma bau busuk.

 

Tiga belas hal yang dipertimbangkan ketika membongkar belulang leluhurmu dari kubur

Thirteen things to consider when exhuming the remains of your grandfather.

 

When I say things, I mean a cup of coffee after you say, “Would like to come in for some coffee or something?” Or something. Mungkin kopinya dulu, dan somethingnya abis itu. Itu satu.

When I say things, I mean the smell of protein which lulls you to sleep and you only realize it’s there when you wake up. Diet protein itu tai kucing. Gak pernah cukup karena pas bangun pagi, kamu bikin telor mata sapi, when it’s still easy to do, for two. Dan, ingat tadi saya bilang: definitely not two. That’s two.

When I say things, I mean the cat in the hat that brought in thing one and thing two. So you see caffeine and protein can really mess up your house. Make sure you clean up before your mother comes back. A. The cat. B. Your mother. C. The fish in your head. Itu tiga. (Saya Pisces lagi.)

When I say things, maksudnya satu set kunci duplikat. Satu buat pintu depan. Satu buat pintu belakang, satu buat garasi, satu buat laci di kamar tidur. Itu empat.

When I say things, maksudnya pintu. Pertama dibuka. Terus ditutup. Terus dikunci. Then, you either unlock or kick it open. Then, you let her decide whether to slam it shut or close it in a civil manner. But even in civil cases, a lot of slamming goes on. Itu lima.

When I say things, I mean the things you have to come back for afterwards: a shirt, a book, a bank statement, a son. Enam.

When I say things, I mean the keys you have after she’s changed the locks, or kunci pintu kosan. Tujuh.

When I say things, I mean a name. Delapan.

Stories your mother’s told which she has no recollection of telling and blames you for remembering. Sembilan.

Foto di dinding. Sepuluh.

One: arms and legs and things that cost you an arm and a leg; two: a heart; three: arteries, veins, and capillaries; four: glands and secretions, five: metabolic osmosis; six: eyes; seven: the retina; eight: the nerves that connect the retina to the brain; nine: a brain; ten: a spinal cord; eleven: nerve ends that burst out of your pores and turn to

Dua belas: Rhizomes, that creeps out the dung that is me dan masuk ke tanah menuju belulang leluhur saya dan

Tiga belas: A black bird.

 

Pada mulanya satu. Kemudian tiga belas                      terbang dan menyatu dalam

Sebotol tinta.                                                 Sang Bapa memekarkan bulu ekornya, lalu

menghujam dan bangkit                berulang hingga                              ia puas.

terus ia menoreh

dan meninggalkan bekas              berulang hingga                              ia puas

di kertas                                             di batu            di tanah                     di dalam darah.

Ia menoreh                                        menggaruk    menggali                   dan membongkar

berulang hingga                              ia puas

hingga akhirnya bayangannya     menjelma

menggantung di atas kepala.

Dituliskannya diri saya pada bayangannya                   dan saya menuliskannya

Berulang hingga                              ia puas.

 

Tinta merembas menyerap dalam pori-pori jaringan bubur kayu yang mati, mengisi ruang hampa.

Thirteen blackbirds dan seorang laki-lalki bermantel beludru berbordir emas.

Ini bukan sajak.

Tidak ada aku yang meradang menerjang

karena

 

Api memang membakar, tapi

Air lah tempat bumi berlabuh.

 

Kobarnya mengeringkan tenggorokan

Menghampakan dada,

Perut kosong, dan

Kulit & selaput berjelaga.

 

Naga kehilangan cengkeramnya,

Lelah dan letih,

Mata merah dan kulit kering.

 

Tapi, air

Seperti mani melembutkan

Dinding vagina basah, sepert

Liur manis di antara bibir dan lidah dan semua, seperti

Setetes keringat menggantung di bulu mata,

Asin seperti               air laut,

Tempat bumi berlabuh.

 

Api membara, mendidihkan darah,

Degup jantung, dan

Napas dan dahak tepat di pangkal lidah

Terasa bahwa nyawa itu pahit.

 

Naga serak dan kehilangan suara,

Waswas, mata berkedut, jari bergetar,

Khawatir kalau-kalu kata menumpahkan malu, tapi

 

Air

Tempat berlabuh menjangkarkan rambut dan kepala

Meneteskan air mata di dada

Terkecap sambil kamu dan saya mengayun

Pasang surut diikat

Setetes asa yang pada sesaat.

 

Ini bukan sajak, walaupun

 

Sunyi itu memekakkan.

Nasi terjun ke rongga hampa.

Esok dan dulu meninggalkanku

Di gurun dengan mulut ternganga

Supaya tidak sakit bila nyawa hendak berangkat.

 

Kalau puisi itu luapan jiwa,

Bisa kujual sajakku ke petugas tinja.

 

Karena

Ini bukan sajak.

Ini cuma satu cara membongkar belulang leluhur.

 

Ketika semuanya tersingkap,

Yang ada bukan cahaya putih pusaka

Hanya

Sisa hidup yang kita buang ke

Jamban.