Archive for the 'Sapi' Category

Published by admin on 22 May 2009

PELUANG PROPINSI IRJABAR SEBAGAI KANTONG TERNAK INDONESIA DALAM RANGKA KECUKUPAN DAGING SAPI

Saat ini bangsa kita dihadapkan kepada bagaimana untuk mencukupi kebutuhan protein hewani baik dalam yang berasal dari daging, susu dan telur. Contoh kebutuhan daging sapi negara kita sekitar 1,5 juta ekor/tahun, bila dilihat kemampuan populasi ternak sapi kita saat ini tidak mungkin dapat tercukupi, oleh sebab itu kita mengimpor sapi rata-rata 400.000 ekor/tahun dari luar negeri (Tabel 1), maka dengan itu kadang-kadang pada saat puncak kebutuhan daging sapi seperti hari raya agama seperti puasa dan Idul Fitri sering terjadi harga sapi yang melambung tinggi sampai mendekati level Rp 70.000/kg di pulau jawa, karena harga yang tinggi, sering membuat para pedagang berbuat curang seperti mencampur daging sapi dengan babi hutan atau memberikan sapi dengan minum yang banyak sebelum dipotong, atau mengimpor daging sapi ilegal yang tidak teruji kesehatannya mengakibatkan konsumen dirugikan.

Bagaimana tindakan pemerintah sebagai pemegang kebijakan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan gizi rakyatnya, saat ini daging merupakan barang lux, sudah tidak tercapai oleh masyarakat bawah oleh sebab itu berita busung lapar sering kita dengar di media masa baik didesa maupun di perkotaan. Luas daratan dan laut kita seharusnya tidak mungkin membuat bangsa kita kelaparan akan protein hewani, contoh negara Cina yang hanya memiliki dataran subur hanya seperlima luas negara kita (Guanzong) mampu mencukupi kebutuhan rakyatnya hampir satu milyar jiwa. Oleh sebab itu ini merupakan pekerjaan besar dan tanggung jawab kita semua yang tidak mungkin dilaksanakan oleh pemerintah saja, salah satu peluang yang dapat diraih adalah propinsi Irjabar karena dilihat dari iklim, budaya dan alamnya sangat mendukung untuk menjadi lumbung ternak di negara ini. Ditambah propinsi ini yang sedang berbenah diri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya agar terbebas dari penjajahan kemiskinan.

Tabel 1. Populasi dan Kebutuhan Sapi Potong Nasional

Populasi

Dipotong

(Ekor)

(ekor/thn)

Nasional

11.746.170

1.500.000

Populasi Ideal

13.468.800

Impor

430.000

Irjabar

3.876.050

943.868

Jawa Timur

2.529.525

615.972

Tantangan kedepan Propinsi Irjabar adalah dengan memiliki populasi sapi potong saat ini hanya sekitar 30.149 ekor (2006), sedangkan daya tampung untuk sapi potong bisa sampai mendekati 4 juta ekor, bahkan lebih tinggi dari Jawa timur yang saat ini salah satu kantung ternak dengan teknologi yang sudah masimum dapat menghasilkan sapi bakalan/potong sekitar 615.972 ekor/tahun, maka peluang Irjabar dapat menghasilkan hampir satu juta ekor pertahun (943.868 ekor) bila harga sapi Rp 5 juta/ekor maka pendapatan kotor yang diperoleh propinsi Irjabar sekitar 5 trilium rupiah pertahun, jumlah ini cukup untuk membebaskan masyarakat Irjabar yang hanya 688.405 jiwa dari kemiskinan dan disintegrasi bangsa. Jumlah ini juga dapat memenuhi kebutuhan daging sapi nasional mencapai 80%, atau memenuhi kebutuhan sapi impor dua kali lipat.

POTENSI SAPI POTONG DI PROPINSI IRJABAR

Potensi Hijauan

Propinsi Irjabar merupakan hamparan pegunungan dan lahan datar yang berisi hutan, padang rumput dan lahan berair. Curah hujan di Propinsi Irjabar cukup tinggi ditunjukkan rumput yang senantiasa tumbuh hijau disetiap saat (Gambar 1.) penulis selama melakukan survey pada puncak kemarau bulan september ternyata di propinsi Irjabar telah hujan 2 hari sekali, sehingga sapi terlihat sehat dana gemuk-gemuk. Bila dilihat data luas lahan penghasil rumput untuk makanan ternak sapi dengan luas 4,2 juta ha maka diproduksi hijauan rumput sekitar 42,44 juta ton/thn (Tabel 2.) Bila konsumsi sapi bali kira-kira 30 kg/ekor/hari maka luas lahan tersebut dapat menampung 3,8 juta ekor sapi potong, sedangkan saat ini populasi sapi potong sekitar 30.149 ekor maka dengan itu rumput di daerah ini banyak tidak termanfaatkan dan terbuang dengan percuma. Maka dengan itu perlu dilakukan bagaimana untuk meningkatkan populasi ternak dipropinsi ini secara cepat.

Agroklimat di Propinsi Irjabar masih cukup baik, karena alam masih belum begitu rusak sehingga keseimbangan alam masih terjaga. Agroklimat yang baik ditandai dengan musim kemarau yang tidak begitu panjang bahkan dikatakan tidak pernah mengalami musim kemarau, karena pada bulan september 2006 ketika penulis ke propinsi ini hujan senantiasa turun 2 hari sekali dan rumput-rumputan di propinsi ini masih tetap hijau. Oleh sebab itu untuk program kedepan seperti kebanyakan kesalahan pada propinsi di Indonesia bagian barat seperti kerusakan alam dan tatataruang yang tidak konsisten mengakibatkan lahan pertanian dan peternakan semakin tersisih dan rusak, begitu juga dengan kerusakan hutan yang semakin parah oleh sebab itu untuk kedepan untuk menjaga agroklimat yang tetap baik di Irjabar dan Papua secara umum perlu koordinasi yang kuat antar instansi untuk menjaga alam irjabar tidak rusak.

Tabel 2. Luas Lahan Penghasil Hijauan Makanan Ternak di Propinsi Irjabar

(Dinas Kehutanan dan Pertanian Irjabar. 2006)

No

Sumber hijauan

Luas

Produksi

ha

ton/Thn

1

Sawah

11.250

112.500

2

Tegalan

2.120.811

21.208.110

3

Hortikultur

210.765

2.107.650

4

Kebun

1.901.449

19.014.490

Jumlah

4.244.275

42.442.750

Konsumsi Sapi kg/ekor/h

30

Jumlah Ternak (ekr)

3.876.050

Potensi Pakan Penguat (Konsentrat) untuk Sapi Potong

Propinsi Irjabar selain memiliki lahan pertanian juga memiliki perkebunan, yang menghasilkan sumber konsentrat, oleh sebab itu bila dihitung produksi limbah pertanian dan perkebunan yang dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak/konsentrat, dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Luas Lahan Perkebunan dan Pertanian penghasil Pakan Konsentrat

Sumber

Luas

Produksi Pakan

Ha

Ton/Ha/Thn

Padi

6,163

3,647

Jagung

1,765

265

Ubi-Ubian

-

11,191

Sawit

1,438

9,016

Kakao

504

1,411

Kelapa

1,664

1,790

Jumlah (Ton/Thn)

11,534

27,319

Konsumsi Sapi (kg/h)

6

Jumlah sapi (ekor)

12,474

Produksi limbah pertanian di Irjabar yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak adalah 27.319 ton/thn, bila konsumsi ternak sapi lokal 6 kg/hari konsentrat maka limbah pertanian dan perkebunan tersebut dapat memenuhi kebutuhan sekitar 12.474 ekor sapi potong, sementara ini hasil limbah perkebunan belum termanfaatkan dan terbuang percuma, maka perlu ada suatu kelompok baik koperasi yang dibina pemerintah untuk mengolah dan memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan ini.

Potensi Pembibitan Ternak Sapi Potong

Pembibitan ternak merupakan kunci keberhasilan untuk meningkatkan populasi yang cepat dan murah maka dengan itu program pembibitan biasanya memerlukan waktu yang cukup lama maka dengan itu di beberapa degara maju biasanya dilakukan di padang rumput yang luas untuk menekan biaya pakan. Propinsi Irjabar memiliki 5 padang rumput yang cukup luas yang dapat digunakan untuk pusat pembibitan sapi potong dengan melibatkan masyarakat lokal (Tabel 4.).

Tabel 4. Perkiraan Luas Padang Rumput di Propinsi Irjabar

Tempat

Luas (ha)

Peluang Sapi Potong

Dataran Isim

2.000

2.400

Dataran Bamberai

200.000

240.000

Lembah Kebar

1.500

1.800

Dataran Ransiki

500

600

Jumlah

204.000

244.800

Dari luas padang rumput yang ada di propinsi Irjabar seluar sekitar 204.000 ha maka bila dipelihara induk sapi potong jantan dan betina pada padang rumput ini maka dapat menampung 244.800 ekor ternak dengan produksi anak sapih bakalan minimum sekitar 122.000 ekor pertahun. Ini cukup menjanjikan dimana negara kita sampai sekarang mengalami masalah dalam memenuhi kebutuhan daging sapi kita harus mengimpor sapi bakalan sekitar 400.000 ekor pertahun dari luar negeri.

Potensi Sosial Budaya Masyarakat Irjabar

Pengembangan sapi potong di Irjabar sangat cocok karena didukung oleh masyarakat Irjabar yang masih sedikit, dengan lahan yang cukup luas, ditambah lagi dapat membantu masyarakat untuk mulai hidup bercocok tanam daripada hidup dihutan dengan berpindah-pindah kemungkinan akan merusak lahan hutan (Gambar 2.) Pengembangan sapi potong sangat cocok bagi masyarakat papua/ Irjabar karena tidak mengganggu kegiatan sehari-hari biasanya mereka hanya melepaskan ternak tersebut di tegalan atau diikat pada sebatang pokon yang berukuran 6-10 m dan dipindahkan sebanyak 3 kali maka ternak tersebut dapat hidup dan gemuk. Selama ini masyarakat Irjabar beternak sapi merupakan ternak yang asing, karena selama ini kebutuhan protein hewani masyarakat diperoleh dengan cara berburu di hutan seperti rusa, kasuari dan babi hutan, keberadaan ternak sapi bagi masyarkat papua secara umum adalah didatangkan oleh masyarakat transmigrasi dari jawa dan NTT. Tahun 70an pernah pemerintah mendatangkan ternak sapi bali di papua, karena kurang sosialisasi pada masyarakat maka sapi tersebut dilepas dan hidup liar dihutan sampai sekarang, ada juga yang berhasil di tangkap/diburu oleh masyarakat saat ini.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Perkembangan masyarakat Irjabar akibat peran aktif yang dilakukan oleh penyuluhan pertanian dan pembauran dengan masyarakat transmigrasi yang memelihara ternak sapi maka paradigma sapi potong saat ini telah berubah, dulu ternak sapi yang begitu menakutkan sekarang mulai akrab, bahkan saat ini mas kawin pada masyarakat yang dahulu dalam bentuk ternak babi sekarang sudah mulai menggunakan sapi potong. Jadi saat ini keinginan masyarakat untuk memiliki ternak sapi cukup tinggi akan tetapi kendala ketersediaan bakalan sangat sulit, oleh sebab itu perlu dukungan dari pemerintah/ dirjen peternakan supaya program pengadaan sapi potong di propinsi ini bisa terus dilanjutkan karena memberikan manfaat yang cukup tinggi bagi kesejahteraan masyarakat karena dapat memanfaatkan hijauan makanan ternak yang cukup melimpah di propinsi ini.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Pola konsumsi masyarakat papua/ Irjabar yang mendukung pengembangan ternak sapi potong adalah mereka kurang menyukai daging sapi, dibanding dengan daging babi dan ikan laut, ditambah dengan kebiasaan mereka untuk berburu sehingga kebutuhan daging mereka diperoleh dari hewan liar seperti rusa, kasuari, babi hutan dll. Pemotongan sapi didaerah ini sebagian besar hanya untuk konsumsi masyarakat pendatang, maka dengan itu harga daging sapi pada bulan puasa di pulau jawa sudah mencapai level Rp 70.000/kg sedangkan di Manokwari sebagai ibukota propinsi Irjabar hanya Rp 35.000/kg. Murahnya daging ini disebabkan selain pemeliharaan yang murah tanpa biaya pakan/ rumput (Zero Feed Cost) juga karena permintaan yang kurang begitu besar pada masyarakat lokal. Oleh sebab itu program bantuan sapi potong terus dilakukan secara terus menerus dan intensif maka kedepan propinsi Irjabar tidak mustahil akan menjadi lumbung ternak sapi potong bagi bangsa ini.

Strategi dan Pendekatan Irjabar Menjadi

Kontong Tenak Potong Indonesia

1. Peningkatan Populasi

Untuk 5 tahun dari sekarang meningkatkan populasi dengan cepat dengan cara memanfaatkan padang rumput sebagai pusat pembibitan serta melibatkan masyarakat adat, sebagai kantong-kantong pembesaran ternak dan pembibitan rakyat. Pengawasan yang ketat terhadap pemotongan hewan betina produktif di RPH, karena harga sapi yang murah menggoda bandar sapi untuk memotong hewan betina. Penggunaan teknologi IB dan seleksi karena selama ini yang dikawatirkan perkawinan sapi di lapangan berjalan apa adanya sehingga peluang kawin sedarah bisa terjadi (inbreeding), kendala dilapangan juga perlu dikurangi seperti ketersediaan semen beku dan inseminator bila sapi mereka menunjukkan birahi, selama penulis dilapangan diperoleh ketersediaan semen dan N2 cair kadang tidak tersedia di peternak karena jarak tempuh yang jauh.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

2. Meningkatkan Keterampilan SDM (Petugas dan Petani)

Keterampilan Petugas dan petani untuk keberhasilan program ini merupakan faktor penghubung, karena masyarakat Irjabar pada umumnya transisi dari masyarakat yang berburu ke masyarakat yang bercocok tanam maka dengan itu pendidikan dan pembinaan kepada petugas dan masyarakat harus terus dilakukan, karena bila tidak maka keberhasilan reproduksi sapi potong tetap rendah seperti selama ini.

b. Paramedis kader kesehatan hewan dan ketersediaan obat

Jarak antar satu tempat ke tempat lain di Propinsi Irjabar sangat berjauhan maka peternak yang mengalami musibah ternaknya sakit, cukup sukar untuk memperoleh obat-obatan dan bimbingan paramedis, oleh sebab itu perlu disediakan atau diberikan kepada peternak obat-obatan yang biasa terjadi dilapangan seperti cacingan, mencret pada anak sapi pada pergantian cuaca, antibiotik setelah induk melahirkan, karena selama penulis melakukan kunjugan angka kematian anak yang baru lahir cukup tinggi di propinsi ini.

c. Kelembagaan dan Penyuluhan yang Mandiri

Kelembagaan dan Penyuluhan peternakan di Propinsi Irjabar bercampur aduk dengan bidang lain seperti pertanian, perikanan/kelautan dan kehutanan, maka dengan itu tumpang tindih tugas mengakibatkan tidak fokusnya arah pembangunan peternakan. Oleh sebab itu untuk menjadikan Irjabar menjadi kantong ternak potong Nasional dapat terwujud, perlu dibuat instansi peternakan menjadi lembaga yang mandiri karena bila dilihat dari bentuk lahan pegunungan yang cukup luas sangat cocok pengembangan peternakan dari pada pertanian, oleh sebab itu alokasi dana APBD dan APBN perlu dipertimbangkan proporsi yang ideal, selama penulis melakukan evaluasi terjadi alokasi anggaran yang bukan pada kompetensi alam yang khas di Irjabar yang kita tahu adalah daerah yang memiliki iklim hampir sama dengan benua Australia yang cocok untuk peternakan. Masyarakat papua di Irjabar pada dasarnya adalah berkebun dan beternak yang selama ini mereka pelihara adalah ternak babi, selama wawancara dengan masyarakat keberadaan ternak sapi sangat mereka harapkan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Bahkan masyarakat awam yang tidak mempunyai sapi, saya tanya apakah mau bila saya berikan sapi, mereka menjawab dengan tidak terduga, Dia akan memberikan anak sapi bila saya memberikan induk kepada mereka. Oleh sebab itu lembaga yang mandiri diikuti oleh penganggaran yang benar diharapkan masyarkat papua di irjabar akan mudah maju dan sejahtera.

d. Teknologi Pakan Ternak

Saat ini pada saat penulis melakukan survey di propinsi ini ternak hanya diberikan hijauan saja tanpa adanya pemberian pakan penguat, padahal ketersediaan sumber pakan penguat cukup tinggi di propinsi ini. Penerapan teknologi tepat guna seperti pemanfaatan limbah pertanian, daun kacang-kacangan (gamal, lamtoro) perlu diajarkan kepada peternak, dengan adanya konsentrat maka sapi yang dipelihara akan mempunyai pertumbuhan yang lebih.

e. Tindak preventif terhadapa Penyakit Hewan Menular

Propinsi Irjabar relatif bebas dari berbagai penyakit menular dan berbahaya oleh sebab itu ini harus dipertahankan dengan membuat lembaga yang mandiri dan disiplin di jalur transportasi ternak yang masuk ke propinsi ini, supaya prosinsi ini tetap terjaga kesehatannya hewan dan manusianya.

f. Membangun Rumah Potong dan Transportasi Daging

Pemotongan sapi di DKI Jakarta mendekati 1000 ekor/hari maka dengan itu pemerintah Irjabar kedepan perlu membangun rumah potong hewan dan alat transportasi daging yang presentatif dan hiegienis supaya ternak yang dipotong dari penggemukan sapi rakyat kemudian dikirim ke DKI jakarta dan pasar lainnya dalam bentuk daging beku (Frozen Meat).

Published by admin on 24 Apr 2009

Pakan

1. PAKAN PEDET ATAU CEMPE

Minggu I Air susu/milk replacer Kolostrum untuk antibodi kekebalan tubuh Pedet hidup selamat lebih banyak

Pedet/cempe perlu menyusu selama 4 hari pertama.Mulai menyusu 3 jam setelah lahir

Bila lahir malam lebih lama lagi.

Periode menyusu : 5 kali dalam 24 jam setelah lahir 6 – 8 kali setelah 3 hari

Waktu menyusu : 10 detik sampai 10 menit, 2 sampai 25 menit bila telah mengkonsumsi pakan. Di pastura : 3 kali sehari dengan waktu 15 menit/tiap menyusu

Jumlah kolostrum : 7 – 8 kg pada hari pertama, 10 – 12 kg pada hari keempat Di USSR : diberikan selama 10 hari pertama rata-rata 10,5 kg/hari pertambahan bobot badan 1,32 kg/hari.

Kolostrum bersifat bactericidal menyerang E. Colli Immunolactoglobulin (protein kolostrum yang mengandung antibodi) diperoleh dengan cara/ proses “pinocytosisè penelanan cairan globula dengan cara pseudopodial pembuluh “thoracic lymph” pada ruang limphe masuk ke dalam sirkulasi darah. Konsentrasi puncak protein terjadi pada periode pertama keluarnya air susu.

A. PAKAN CAIR

Dalam bentuk kolostrum, air susu, milk replacer atau bubur (gruel)

A.1. Sistem Induk dan Anak.-

Pedet dipelihara bersama induk minimal selama 2 minggu pertama :

Menerima kolostrum secara maksimal, Pedet mengawali pertumbuhannya dengan start yang baik, Pedet lebih sehat nilai jual tinggi

Kerugiannya : Menderita strees yang lebih berat pada saat penyapihan

PERBANDINGAN ZAT MAKANAN PADA KOLOSTRUM

(24 JAM PERTAMA) DENGAN AIR SUSU

Zat Makanan

Kolostrum

Air Susu

Lemak (g/kg)

Bahan Tanpa Lemak (g/kg)

Protein (g/kg)

Laktosa (g/kg)

Abu (g/kg)

Karotin (mg/g lemak)

Vit. A (mg/g lemak)

Vit . D (mg/g lemak)

Vit. E (mg/g lemak)

36

185

143

31

9,7

24 – 45

42 – 48

23 – 45

100 – 150

35

86

32,5

46

7,5

7

8

15

20

Protein, Karotin dan Vitamin lebih tinggi pada kolostrum

A.2. Sistem “Bucket Feeding”

Dipelihara secara individual terpisah dari induk, kandang dilengkapi 2 buah ember yang berisi kolostrum/susu/milk replacer/air dan berisi ransum “calf starter” Selama 24 jam pertama pedet bersama induk. Pemberian air susu 2 atau 3 kali/hari pada minggu pertama. Pemberian pakan secara bertahap : susu bubur (calf starter + air) calf starter

Kebaikan : Menekan strees penyapihan, Meminimalkan biaya pakan (milk replacer), Mempercepat mengkonsumsi pakan

Keburukan : Perlu melatih pedet untuk minum air susu dari ember. Bila lambat terjadi penurunan bobot badan pedet

Apabila letak ember lebih rendah dari kepala è terjadi kembung perut

PANDUAN PEMBERIAN PAKAN

Œ Pemberian 2 kali sehari milk replacer:

Waktu

Pemberian Pakan

Hari 1

Hari 2 – 3

Hari 4 – 7

Minggu II

Minggu III

Kolostrum dari induk

Kolostrum/susu 1,5 liter 2 kali/hari (38-40o C)

Air susu/milk replacer (125 g puder/liter air) 1,5 liter 2 Kali/hari

Ø Milk replacer 2 – 2,5 liter 2 kali/hari

Ø Mulai calf starter (100 – 200 gr) + hay

Ø Milk replacer 2 – 2,5 liter 2 kali/hari dan berikan air

Ø Tingkatkan calf starter & hay sesuai nafsu makan

Ø Kurangi air susu/milk replacer bila telah mampu mengkonsumsi calf starter 4 kg/hari

Ø Lakukan secara bertahap pengurangan milk replacer sampai dapat disapih

Pemberian 1 kali sehari Milk Replacer

Waktu

Pemberian Pakan

Sampai 2 minggu

Minggu 3 - 5

Sama seperti di atas

Kurangi milk replacer menjadi 1 kali sehari, tingkatkan calf starter menjadi 3 – 3,5 liter setelah lebih dari 4 hari (450 – 500 g calf starter/liter pakan cair)

Penyapihan setelah mampu mengkonsumsi calf starter 1 kg/hari

ŽPemberian 2 kali Sehari, Susu dan Bubur :

Waktu

Pemberian Pakan

Minggu I

Minggu II

Minggu III – IV

Minggu VII - XII

Kolostrum + susu seperti di atas

Susu 2 – 2,5 liter 2 kali/hari

Mulai berikan calf starter dan hay

Substitusi bertahap susu dengan bubur : dimulai 1,75 liter susu + 0,5 liter bubur (100 g calf starter/liter) sampai 2 – 2,5 liter bubur.

Calf starter 500 g/hari

Kurangi bubur secara bertahap.

Bila calf starter mencapai 1,5 kg/hari è sapih

A.3. Sistem “Teat Feeding”

Mirip sistem “bucket” tetapi pedet diikat lehernya. Pemberian susu melalui dot è pedet seperti sedang menyusu pada induk. Letak “teat feeding” sejajar kepala è mencegah kembung. Dapat dipelihara secara berkelompok “Communal teat feeding” (bila kandang barak). Milk replacer diberikan pada suhu 40o C secara lama è termos. Baik untuk pedet pada minggu pertama

Keburukan : Pedet kurang mengkonsumsi calf starter walau konsumsi telah 1 kg/hari èlambat penyapihan Alternatif : Kurangi jumlah susu dan ganti dengan air, Ganti dot dengan bentuk yang lebih kecil è pedet sulit memperoleh susu, “Teat feeding” jangan dipasang lagi

B. CALF STARTER

Ransum pertama pengganti pakan cair

Mengandung 35 % lemak, 18 % protein, 6,5 % SK, Energi 12 MJ ME/kg pakan Bentuk pellet atau ransum kasar lebih disukai

KOMPOSISI RANSUM

Bahan Pakan

Ransum

1

2

3

Gandum giling

Kripik jagung

Tepung Ikan

Tepung kedelai

Biji-bijian

Skim milk (tepung)

Molase

Mineral (pellet)

Mineral/Vitamin

275

540

15

35

-

25

100

-

10

300

400

100

50

-

-

140

-

10

200

300

-

-

200

-

75

225

-

Keterangan : * K, P, Ca + Vit. A, D, E

* Sebagai balancer, mengandung mineral, vitamin, protein dari

tepung ikan dan skim

C. HIJAUAN STARTER

Awali dengan hijauan lunak dalam bentuk hay, bila dalam bentuk hijauan berikan yang segar, Hay atau jerami mastikasi dan ruminasi, Cacah hay atau hijauan jangan kurang dari 5 cm. Bila < 5 cm terjadi rangsangan ruminasi kecil dan terjadi ruminasi acidosis (kembung). Bila terjadi acidosis berikan sodium bicarbonat 35 kg/ton

2. PAKAN PENGGEMUKAN

2.A. PAKAN PENGGEMUKAN DI PASTURA

Pakan utama hijauan dihitung berdasarkan “stocking rate” (daya tampung ternak).

1 ST setara dengan seekor ternak dewasa seberat 455 kg. Konsumsi 1 ST setara dengan 9,1 kg hijauan (BK)/hari è tergantung produksi hijauan. Pada musim kematrau atau 1 bulan akhir penggemukan berikan konsentrat 2 – 2,5 kg/ST/hari. Di padang pemnggembalaan perlu tumpangsari dengan leguminosa

Sumber air harus dapat dicapai kurang dari 1,6 km. Rumput yang ditanam harus kurang dari 100 cm tingginya, paling baik sekitar 50 cm.

Perlu manajemen tatalaksana pastura

2.B. PAKAN PENGGEMUKAN DI KANDANG (FEEDLOT)

Model Feedlot dengan Keuntungan Maksimum,-

Pendekatan ini memerlukan perhatian terhadap beberapa faktor penentu:

Manajemen Pakan,-

v Suplay nutrisi

v Formulasi ransum

v Tipe pakan aditif dan dosisnya

v Level dan frekuensi pakan

v Kepadatan gizi

v Sistem proses pakan

Modal Peralatan,-

v Ukuran feedlot

v Peralatan prosesing

v Peralatan pakan

v Sistem penyimpanan pakan

v Pengelolaan limbah

Manajemen Ternak,-

v Ukuran dan tipe ternak yang dijual, # Target laju pertumbuhan

v Bobot jual

v Waktu pemberian pakan

v Metode penjualan

v Sumber ternak

v Kepadatan

v Ukuran manger/ekor

v Ukuran kandang

v Penerangan

v Penggunaan naungan

v Kondisi iklim

v Penggunaan perangsang pertumbuhan, Harga jual

Biaya Variabel,-

v Unit Tenaga Kerja

v Sumber modal

v Tingkat suku bunga

v Risiko pasar

v Biaya perawatan

v Biaya kesehatan

v Biaya transportasi

Kualitas Produk dan Harga,-

v Metode penjualan

v Bobot jual

v Grading Kualitas dan harga

Proporsi pakan biasanya terdiri dari campuran hijauan dan konsentrat Perbandingan hijauan konsentrat 60 : 40. Kemudian berangsur-angsur konsentrat ditingkatkan sejak hari ke 21 sehingga perbandingannya bisa mencapai 20 : 80 (drylot fattening)

Terdapat 3 (tiga) cara perubahan proporsi pakan :

1. Conservative High Roughage Receiving Diet

Sistem yang lebih banyak diterapkan apabila skala operasi masih rendah

Waktu

Hay (%)

Konsentrat (%)

Hari 1 – 4

Hari 5 – 8

Hari 9 –12

Hari 13 - selesai

80

60

40

Ransum final

20

40

60

Ransum final

2. Three Diet Step Up

Sistem yang banyak diterapkan di USA bila sudah mencapai taraf profesional

Waktu

Konsentrat (%)

Minggu 1 – 2*

Minggu 3 – 4

Mingu 5 – selesai

50 – 55

70 – 75

Ransum final

· Selama minggu I, pemberian hay kasar lebih baik

3. High Energy Receiving Diet

Sistem ini hanya disarankan apabila manajemen feedlot sudah benar-benar menguasai ketrampilan tingkat tinggi

Waktu

Konsentrat (%)

Minggu 1

Minggu 2 - 3

Minggu 4 – 5 dst

75 + hay kasar

75

85 (Ransum final)


Pada penggemukan singkat, penggunaan konsentrat lebih dari 60 % tidak ekonomis (harus dilakukan bertahap) PERLU PENYUSUNAN RANSUM SENDIRI (FEEDING REQUIREMENT)

Contoh konsentrat

Bahan

Kg

%

Pollard

Dedak

Bungkil kelapa

Bungkil kapuk

Kapur

Vitamin A,B,D & C

Mineral

Garam dapur

450

126

120

120

25

21

21

7

50,56

14,16

13,48

13,48

2,81

2,36

2,36

1,00

KEBUTUHAN ZAT MAKANAN PENGGEMUKAN SAPI (NRC)

Bobot

(kg)

Pert. B.B.

(kg/hari)

D. Kering

(kg)

Protein

ME

(Mkal/kg)

TDN

(%)

(kg)

(%)

Pedet steer

150

300

450

1,0

4,45

7,50

10,15

0,66

0,78

0,90

14,8

10,5

8,8

2,22

2,22

2,22

67,5

67,5

67,5

Yearling steer

150

300

450

1,0

4,70

7,90

10,70

0,69

0,83

0,95

14,6

10,5

8,9

2,08

2,08

2,08

63,5

63,5

63,5

Jantan

150

300

450

1,0

4,40

7,45

10,10

0,67

0,80

0,91

15,2

10,8

9,1

2,16

2,16

2,16

65,5

65,5

65,5

KEBUTUHAN ZAT MAKANAN PENGGEMUKAN DOMBA(NRC)

Bobot

(kg)

Pert. B.B.

(kg/hari)

B.Kering

(kg)

Protein

ME

(Mkal/kg)

TDN

(kg)

(kg)

(%)

Sapihan

20

40

60

0,30

0,40

0,35

1,20

1,50

1,70

0,20

0,23

0,24

-

-

-

3,30

4,10

4,70

0,92

1,14

-

Finishing (4-7 bulan)

30

40

50

0,29

0,27

0,20

1,30

1,60

1,60

0,19

0,18

0,16

-

-

-

3,40

4,40

4,40

0,94

1,22

1,23

Hijauan perlu dicacah : Mengeliminir sifat selektifitas ternak, Memaksimalkan penggunaan hijauan sedikit yang terbuang, Membantu pencernaan

Published by admin on 24 Apr 2009

Menggemukkan

Cikal bakal penggemukan sapi kereman (Boyolali, Wonosobo, Pacitan, Lamongan, Madura). Sapi berkondisi kurus dipelihara 3 – 4 bulan, tujuan utama pupuk kandang.

Penggemukan : Suatu sistem produksi ternak fase akhir (ternak akan dipotong) dengan cara mempercepat PBB-nya (akselerasi) melalui pemberian ransum khusus pada waktu yang tepat sehingga daging yang dihasilkannya lebih bernilai ekonomis dan berkualitas tinggi. Hakekat penggemukan adalah mengharapkan diperolehnya pertambahan bobot badan yang lebih tinggi akibat dari kekurangan pemberian pakan sebelumnya (diharapkan melebihi bobot tubuh normal pada umur yang sama) pertumbuhan kompensasi (Compensatory Growth).

PEMBESARAN : Suatu sistem pemeliharaan ternak sehingga bertambah besarnya bobot tubuh melalui proses pertumbuhan (hypertropi dan hyperplasia) sesuai dengan sifat genetis dan umurnya. Berlangsung sampai tercapainya dewasa tubuh.

Terlibat 3 (tiga) faktor utama yaitu bakalan, pakan dan pemasaran yang dipadukan melalui proses tingkat keterampilan manajemen yang tinggi

JENIS-JENIS PENGGEMUKAN

1. Penggemukan di Padang Penggembalaan (Pasture Fattening)

Suatu proses penggemukan yang dilakukan dengan cara ternak dipelihara di padang pengembalaan tanpa dikandangkan : Lazimnya merupakan penggemukan jangka panjang (Long feed) bisa > 1 tahun, Investasi relatif rendah, Pakan utama hijauan (rumput atau leguminosa), Pemberian konsentrat hanya pada waktu rumput kurang atau pada akhir penggemukan.

2. Penggemukan di Kandang

Suatu proses penggemukan ternak yang selalu dipelihara di dalam kandang dengan pakan ransum komplit, tanpa memberi kesempatan ternak digembalakan. Lazimnya jangka pendek (short fed atau medium feed) ( bisa 70 – 90 hari)

Feedlot fattening : Perbandingan hijauan : konsentrat = 25 : 75 sampai 50 : 50

Drylot fattening : 15 : 85, terutama pada 2 minggu menjelang dijual/dipotong.

Hijauan perlu diberikan dengan tujuan : Merangsang pencernaan fermentatif dan perkembangan mikroorganisma rumen, Mencegah acidosis dan abses liver, Sebagai sumber vitamin dan mineral, Harga lebih murah daripada konsentrat, Dalam jangka waktu lama, mencegah BSE (Sapi Gila).

3. Kombinasi Penggemukan di Pastura dan di Kandang.

Lazimnya digemukan di pastura dahulu, menjelang pemasaran atau penjualan digemukan di kandang

Tujuan : Menekan biaya penggemukan (hijauan lebih murah dari konsentrat), Melanjutkan fase penggemukan bila kuantitas dan kualitas hijauan (misal musim kering, kemarau), Mencapai target bobot badan akhir (sesuai permintaan pasar), Mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Bakalan yang tepat untuk digemukan: menjelang dewasa kelamin (sapi 1,5 - 2 tahun bobot awal 190-230 kg; domba 6 -10 bulan bobot awal 20 kg; gigi sudah berganti I1). BB sapi bakalan < 220 kg pada feedlot kurang ekonomis sebab kebutuhan protein pakannya lebih tinggi dan mahal.

Bakalan yang baik kurus tetapi sehat : Keuntungan lebih besar, Pertumbuhan kompensasi lebih mudah tercapai. Lama penggemukan tergantung umur ternak :

Sapi: Shortfeed 90-120 hari dewasa

Mediumfeed 120-240 hari muda

Longfeed > 240 hari pedet/lepas sapih

Domba:

Shortfeed 14-30 hari Dewasa

Mediumfeed 45-80 hari Muda

Longfeed > 100 hari Cempe (lepas sapih)

Bobot badan akhir Sapi 400 - 450 kg, Domba 30 - 40 kg.

Bangsa Ternak Untuk Digemukan

Semua bangsa dapat digemukan tergantung : Ketersediaan bakalan dan Program pakan. Kecenderungan pasar lebih dititik beratkan kepada permintaan karkas daripada bobot hidup, menyebabkan penggemukan bangsa murni berkurang Lebih banyak menggunakan persilangan untuk memperoleh “Hybrid Vigour” (Kemampuan prestasi sifat yang muncul yang mungkin tidak tampak pada orangtuanya). Sapi keturunan Bos indicus lebih banyak digunakan: Tahan terhadap panas, Tahan terhadap gigitan caplak dan serangga, Mampu beradaptasi dengan pakan kualitas rendah. Sapi ACC (Australian Commercial Cross), seperti Brahman Cross, Hereford Cross atau Shorthorn Cross lebih banyak digunakan sbg bakalan di Indonesia. Pemilihan bangsa tergantung mudahnya ketersediaan bakalan dan lingkungan pemeliharaan. Di Inggris sapi tipe perah lebih banyak digemukan (50 % dari sapi daging) Bangsa sapi Indonesia umumnya sapi PO dan Bali, Sapi Bali lebih baik untuk digemukan kualitas daging lebih baik (layak memasuki hotel dan restoran). Bangsa domba lebih banyak digunakan domba Garut (Priangan) dan Domba Ekor Gemuk.

Salah satu kriteria untuk memperoleh keuntungan lebih tinggi adalah lama penggemukan Lebih singkat, akan lebih sedikit jumlah pemberian pakan dan lebih banyak jumlah finishing yang dihasilkan dalam satu tahun. Berkurangnya waktu penggemukan akan mengurangi biaya (bunga pinjaman modal) kondisi bakalan harus sangat baik. Waktu penggemukan yang lebih lama harus diimbangi dengan pertambahan bobot badan dan feed efisiensi yang tinggi pertumbuhan kompensasi harus muncul, Hasil penggemukan harus menghasilkan derajat perdagingan yang lebih tinggi daripada lemak subkutan dan intermuskuler, menghasilkan persentase karkas dan daging yang berkualitas lebih tinggi.

Published by admin on 24 Apr 2009

KANDANG

Ternak muda/dewasa bisa dipelihara tanpa kandang atau dengan cara open feedlot. Pedet/cempe sensitif terhadap pengaruh lingkungan perlu perkandangan untuk : Memudahkan tatalaksana dan pengontrolan, Mengurangi kebutuhan lahan dan Mencapai keseragaman produksi

A. PERKANDANGAN BERDASARKAN TIPE :

1. Replacement unit (untuk “replacement stock”)

2. Finishing unit (untuk produksi tahap akhir)

3. Veal unit (untuk produksi veal)

4. Rearing unit (untuk pedet/cempe yang belum disapih)

B. TUJUAN, RENCANA DAN DESIGN PERKANDANGAN :

1. Mengurangi perlakuan kesehatan

2. Memperoleh kondisi nyaman

3. Mengurangi tingkat mortalitas

4. Menunjang produksi ternak

C. PERSYARATAN KANDANG :

1. Daya tahan harus dapat diperkirakan dan mudah dilakukan perbaikan

2. Jalan masuk harus lancar, setiap pintu harus dapat dibuka tersendiri

3. Kandang harus fleksibel : mudah diperluas, dipersempit atau dibuat barak

4. Tatalaksana harus lancar, termasuk untuk dilakukannya fumigasi

5. Biaya pembuatan serendah mungkin (ekonomis)

6. Sedikit penggunaan tenaga kerja

KEBUTUHAN DASAR

ALAS YANG KERING

Drainase terjamin, kemiringan 2 – 5 % (2,2 – 5,6 %). Panjang kemiringan jangan lebih dari 5 m, bila lantai terlalu panjang, saluran drainase dapat dibagi , sehingga menghemat pondasi.

Agar tetap kering alas kandang diberi jejaba (jerami atau serbuk gergaji), terutama untuk ternak yang masih anak. Serbuk gergaji 500 kg/100 m2 luas kandang, lama penggunaan satu bulan. Jerami 400 kg/100 m2 luas kandang, lama penggunaan satu minggu.

Tujuan Pemberian Jejaba : Penghangat kandang, Penyerap cairan, Meningkatkan produksi pupuk dan Menimbulkan rasa empuk, mengurangi lecet atau luka.

Pedet harus terjaga dari suhu kritis, bila terlalu dingin menyebabkan “hypothermi” (kedinginan) SUHU KRITIS : Suhu udara di bawah ambang kemampuan pedet/cempe untuk memproduksikan energi yang dibutuhkan dalam menahan panas tubuh “thermoregulator” tidak mampu mengantisipasi :

No.

Hubungan dengan Lantai

Suhu Kritis (oC)

1

2

3

4

5

Berdiri

Berbaring pada lantai kering

Berbaring pada jerami kering

Berbaring pada jerami basah

Berbaring pada lantai kayu

-3* 11**

-6 18

-8 <6

-3 11

-3 11

*Veal bobot 80 kg

**Pedet baru lahir jejeba mutlak diperlukan

A. VENTILASI

Penggunaan ventilasi alami sangat dianjurkan : Menunjang keberhasilan produksi dengan penggunaan biaya yang ekonomis. Cocok untuk pemeliharaan sepanjang tahun perlu untuk pedet sejak lahir sampai umur 12 bulan.

Keuntungan ventilasi alami: Menyediakan kondisi lingkungan yang diperlukan ternak ternak beradaptasi dan bertoleransi tanpa tambahan modal, Mengurangi investasi 20 – 30 %, Mengurangi kegiatan tatalaksana dan Biaya operasional alat rendah.

Fungsi Ventilasi :

Mengurangi kelembaban berlebihan, Mengurangi organisma penyakit, Mengurangi debu dan udara kotor, Mengurangi pengaruh “by product”, Mengurangi tingkat kematian (3,0 % vs 6,7 %) Total ventilasi : 5 – 10 % dari luas lantai atau 0,36 m2/pedet.

B. KAPASITAS KUBIK UDARA

Besarnya volume kandang yang diperlukan ternak sehingga oksigen diperoleh sesuai dengan kebutuhan. KKU = VK – VT è defenisi relatif

Keterangan : VK = Volume kandang

VT = Volume ternak

Fungsi KKU : Mengurangi intensitas organisme penyakit penyakit pernafasan. Menyediakan oksigen di atas ambang kebutuhan dan Menekan pengaruh “by product”. KKU 4 m3/pedet tidak timbul penyakit pernafasan

SAPI

DOMBA

Keterangan

4,0 m3

5,0 – 6,0 m3

6,5 – 7,0 m3

3,0 – 4,0 m3

4,0 – 5,0 m3

Untuk pedet

Lingkungan terkontrol

Ventilasi alami

d. ALIRAN UDARA BEBAS

Kandang ventilasi alami : Kecepatan udara harus kurang dari 0,25 m/detik di bawah “pen cover”, 1,25 m/detik di atas “pen cover”. Jarak pemasangan ventilasi jangan lebih dari 9 m mengurangi turbulensi.

MODEL PERKANDANGAN

A. JENIS dan UKURAN PERKANDANGAN

Feedlot terbuka/Open Feedlot/Outdoor

Di areal terbuka, dipagari, diberi naungan dan tempat pakan/minum. Jarak jalur pemberian pakan > 4,2 m, cukup untuk dua truk berpapasan. Lebar alley 3,6 m, atau 4,3 – 9,0 m bila moving menggunakan kuda. Kemiringan : 2 – 4 %. Bila < 2 %, tidak cukup drainase, menyebabkan bau. Bila > 4 %, tumpukan manure mudah mengalir keluar bila hujan.

Luas open feedlot : 9 – 10 m2/ekor untuk sapihan,

12 m2 untuk yearling,

15 – 20m2 untuk dewasa.

Stocking rate : 10 – 25 m2/ekor.

Naungan Selain atap permanen yang dibuat tidak penuh, sering pula menggunakan shelterbelt yaitu naungan khusus pada open feedlot, yang bisa digunakan atau dibongkar pasang, terbuat dari lembaran terpal dengan lebar 12 – 46 m, dipasang 2 atau 7 alur tergantung luas areal.

Loading Fasilitas Penurunan dan Pengangkutan Ternak (Loading) : Ada yang berbentuk ramp, dengan alur yang cukup panjang di atas tanah. Lebar lajur (ramp) 2,4 m, panjang 3,6 – 4,5 m, tinggi 1,8 – 2 m, alur ternak (walkway) 0,5 – 0,75 m lebar, kemiringan 200 mm/m (20 %).

Feedlot tertutup (Indoor) (dikandangkan)

Bentuk : Ganda atau Tunggal, Tipe : Individu atau Barak. Standar : Barak 2 m2/ekor, Individu 1,7 m2/ekor untuk bobot badan 150 kg. Dapat dimodifikasi untuk kebutuhan luas kandang domba.

Conditioning Pens, Ternak baru datang menderita strees akibat penyapihan, lepas dari pastura, berdesakan di alat pengangkut (truk), gejala sakit, kehausan dan kelaparan. Makan atau minum pada manger mungkin merupakan pengalaman baru.

Penempatan pada paddock : Jangan berdesakan : 9 m2/ekor untuk sapihan bobot badan < 200 kg, 10 – 12 m2 untuk yearling (250-350 kg), 15 m2 untuk steer dewasa (400 – 500 kg) sampai bobot badan 600 kg. Lantai paddock drainasenya harus baik, tidak merusak kuku. Batasi setiap paddock hanya diisi sampai 60 ekor. Pagari dengan baik, jangan gunakan kawat berduri atau kabel. Sediakan penahan angin dan naungan dan Panjang manger 0,6 m/ekor dan mudah mencapai tempat minum

Karantina Luas 3,5 m2/ekor dengan perhitungan untuk 2 –5 % dari populasi. Kemiringan lantai 2 % atau lebih. Sediakan crush, refrigerator, air, obat-obatan dan peralatan kesehatan.

B. TEMPAT PAKAN

10.000 ekor ternak sapi perlu 3 – 5 ha tempat penyimpanan dan prosesing pakan Penyimpanan hay : jarak antar rak 3 m untuk menjamin pergerakan udara dan drainase Kebutuhan pembuatan silase 480 – 800 kg (rata-rata 640 kg)/m3 dengan kemiringan lantainya > 10 %. Lokasi prosesing pakan pada daerah rendah, penempatan penggilingan harus memudahkan pengisian.

Kebutuhan minimum tempat pakan :

Manger : Yearling 0,25 – 0,3 m/ekor

15 bulan – 2 tahun 0,3 – 0,38 m/ekor

Dewasa 0,4 – 0,5 m/ekor

Ukuran : 0,45 – 0,60 m lebar, 0,30 – 0,45 dalam, tinggi dari tanah 0,6 m. Tinggi bagian belakang 0,08 – 0,15 m untuk menjaga kotoran pakan. Self Feeder : 75 – 100 mm/ekor, disarankan 1 m/6 ekor.

C. PENGELOLAAN LIMBAH

Kandang adalah sumber polusi udara dan pencemaran air menimbulkan masalah sosial, Selain pengaliran limbah juga perlu diberikan penyerap bau dengan penambahan kapur, zeolit, dsb. Selokan pengaliran : 15 cm lebar – 5 cm tinggi (cukup baik)

D. HALAMAN PENGELOLAAN

Holding yard : 54 m2 untuk menampung 40 – 50 ekor, Forcing yard : sebaiknya berbentuk kurva, lebar 3,6 m ke 0,75 m. Race atau crush : 0,45 – 0,75 m (bobot 200 – 600 kg). Tinggi pagar 1,5 m, tinggi dari tanah 0,6 – 0,9 m (bentuk kolong) untuk memudahkan membersihkan kotoran dan kontrol serangga. Bentuk kurva lebih baik sebab : Pengamatan terhadap ternak lebih mudah, Posisi ternak untuk bergerak mudah ditangani dan Mengurangi jarak ke bail gate.

Published by admin on 24 Apr 2009

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN SAPI

I. SISTEM ALAT PENCERNAAN RUMINANSIA

Lambung ruminansia : Rumen, Retikulum, Omasum dan Abomasum.

Ruminansia mampu memproduksi vitamin dan bbrp aasam amino, mencerna SK .

Fase perubahan fungsi :

1. Fase Pre-ruminan.Lahir 4 lambung; abomasum berfungsi sempurna : abomasum 70 % alat pencernaan volume 2 kali rumen dan retikulum volume Abomasum 49 %, Omasum 13 %, Rumen dan retikulum 38 %. Abomasum — efektif mencerna pakan cair (air susu) Pakan cair langsung ke omasum melalui oesophagial groove , jalur “by-pass” lipatan alat pencernaan dari kerongkongan sampai reticulo-omasum. Air susu enzym lipase, Enzym abomasum pepsin. pH abomasum 2 - 2,3, pH normal setelah 3-5 jam makan Masa peralihan pre-ruminant — ruminant umur 5 -12 minggu. Umur 6-8 minggu fungsi rumen 80%.

2. Fase Ruminan.

Umur 10 - 12 mg : rumen-retikulum, omasum dan abomasum : 64 %, 14 % dan 22 %. Umur 4 bl : proporsi rumen-retikulum 4 kali omasum-abomasum. Sapi dewasa rumen 80 %, retikulum 5 %, omasum 7 - 8 % dan abomasum 7 - 8 %. Hijauan diberikan umur 2 mgg, umur 1 mgg→ rumen dan retikulum, jonjot rumen berkembang. Perubahan lambung jenis dan jumlah pakan berserat & inokulasi bakteri rumen, dinding rumen stimulasi asam lemak terbang (VFA) : asetat, propionat dan butirat

A. Rumen/handuk :

Fungsi Rumen adalah :menyimpan pakan sementara.merendam pakan.mencerna secara fisik dan mengaduk-aduk.memfermentasi injesta.

Rumen dibagi menjadi 4 sarkes (kantong), yaitu :Sarkes cranioventral.Sarkes dorsalis.Sarkes medioventral.Sarkes buntu dorsal dan ventral.Sarkes : gerakan rumen sewaktu fermentasi 1—2—3—4.

Gerakan-gerakan rumen :

1. Prehensi ,- pada saat grazing.

2. Mastikasi,- mengunyah (chewing).

3. Deglutasi,- menelan – peristaltik oesophagus.

4. Eruktasi (”belching”/sendawa),- CO2 dan methan

5. Ruminasi,- gerakan komplek, berurutan : Regurgitasi,- pakan dari rumen ke rongga mulut, bentuk bolus semi cair — ingesta. Remastikasi,- mengunyah kembali, lebih lama dari mastikasi, — redeglutasi (penelanan kembali).

B. Retikulum/jala : Terdiri dari papila sarang lebah / jala. Lipatan jaringan menyalurkan pakan cair ke omasum. Ruang tambahan dan “penyimpan” benda asing

C. Omasum/buku/kitab : Pemerasan pakan, dinding kuat Terdiri 5 lamina (lipatan daun) dengan “duri – duri”

D. Abomasum/kelenjar : Perut sejati : Fundus, Cardia dan Pilorus.Pencernaan Asam amino, sebagian protein mikroba, lemak dan karbohidrat. Sekresi cairan lambung protein

2. MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN

Menghitung Daya Tampung Istilah :

Cut and Carry : dipotong langsung dari kebun/ padang diberikan kepada ternak di kandang

Carrying Capacity : Daya tampung padang penggembalaan (ha/UT) untuk mencukupi kebutuhan pakan hijauan

Stocking Rate : Jumlah ternak yang dapat ditampung (UT/ha) suatu padang penggembalaan

Asumsi kebutuhan hijauan segar: 35 atau 40 kg perhari, bahan kering 9,1 kg, (air 75 – 80 %)

Perhitungan daya tampung dengan “Cut and Carry”:

1. Asumsikan kebutuhan 1 UT : 9,1 kg (BK) — 40 kg (segar)

2. Kebutuhan rumput segar1 UT /th = 360 x 40 = 14.400 kg

3. Produksi hijauan kumulatif/ tahun. misal. R Gajah: 200.000 kg

4. Daya tampung : 200.000/14.400 x 1 UT= 13,89 UT

5. 13 ekor sapi @ BB 455 kg yang dipelihara di kandang.

Pakan Induk,- Pakan induk (cow) : 60 hari sebelum dan 90 hari setelah melahirkan kritis.

Nutrisi tidak mencukupi : abortus, bobot lahir dan bobot sapih rendah, gagalan berahi kembali. Pada 90 – 120 hari akhir kebuntingan, memenuhi pbb 0,2 – 0,5 kg/hari, “overfeed” induk kegemukan dan sulit melahirkan.

Betina Pengganti (Replacement),-

Heifer pengganti umur 14–15 bl perlu pbb 0,5 – 0,7 kg/hari. Telah kawin perlu pbb 0,5 kg/hari pada 120 hari pertama kebuntingannya. “over feeding” sulit melahirkan dan produksi susu berkurang

Pakan Pejantan,-

Yearling (umur 1 th) perlu pbb 0,7 kg/hari dan siap mengawini 10 – 15 ekor betina. Umur > 2 tahun perlu pbb 0,75 kg/hari.

Pakan Bakalan,-

Pedet dipelihara sampai disapih (6-7 bulan) —susu induk. Sebelum disapih pedet diberikan hijauan 1/2 kebutuhan. “creep feeding” sangat penting — rumput kurang.

Creep Feeding

Creep feeding : 14 – 15 % PK dan 65 – 72 % TDN.

Tujuan Creep Feeding : Memperoleh bobot sapih tinggi.Mengurangi kebutuhan susu.Meningkatkan efisiensi pakan.Mencapai fleksibilitas pemasaran.Memperoleh pbb yang ekonomis.Keuntungan pedet dengan creep feeding :Pbb lebih tinggi 15 – 30 kg. Cepat beradaptasi dengan “fullfeed” Lebih mudah mengatasi stress penyapihan.

Saat Pemberian “creep feeding” : Induk baru pertama atau duakali melahirkan.Pedet dilahirkan saat hijauan kurang.Kualitas dan kuantitas padang gembala menurun.Harga pedet sedang tinggi dibanding harga pakan.Induk dan pedet dipelihara secara terkurung

Pakan Penggemukan,-

Bakalan dipelihara dahulu sistem “back ground” atau “stocking” Pbb sistem background 0,3 - 0,7 kg/hari : pemberian hijauan dan 1 atau 2 kg biji-bijian Sapi finishing harus mencapai pbb 0,9 – 1,2 kg/hari, konsentrat bermutu tinggi

Penggunaan Perangsang Pertumbuhan,-

Perangsang pertumbuhan (growth promoter) untuk meningkatkan pbb dan feed efisiensi

Tingkat pertumbuhan naik sebesar 10 15 %. Lazimnya di implantasikan pada telinga.

Pakan Penggemukan di Kandang (Drylot Fattening),-

Periode kritis di feedlot baru datang ke lokasi. Manajemen kurang, morbiditas dan mortalitas tinggi. Pengelolaan awal : dehorning, kastrasi, vaksinasi.Vitamin A dan perangsang pertumbuhan Hijauan segar dan air bersih ad libitum selama masa kritis.

Pemberian pakan awal penggemukan :

Selama 2-3 minggu biji-bijian 2 kg/100 kg bobot badan, atau 1-2 kg biji-bjian dan 0,5 kg suplemen protein dan hijauan Setelah beradaptasi, biji-bijian ditingkatkan 0,5 kg/hari Biji-bijian ditingkatkan 0,7 kg/hari konsumsi 2% BB. Hijauan dikurangi sampai 10 – 15 %, mencegah accidossis dan abses liver. Sediakan selalu suplemen mineral. Ransum mengandung 70 - 74 % TDN dan 10 - 12 % protein Air 45 - 115 liter/hari, —bobot badan, cuaca dan jenis ransum.

Pakan Penggemukan di Padang (Pastura)

Tambahan bijian 1 kg/100kg BB —grading choice. biji-bijian 0,4 kg/100 kg BB, dinaikkan 1 kg/100 kg BB 10 % garam dalam biji-bijian dan campuran mineral

Daya tampung padang penggembalaan tergantung :

Kemiringan lahan, Jarak dengan sumber air, Kecepatan pertumbuhan/produksi tanaman pakan, Kerusakan lahan, Ketersediaan hijauan yang dapat dikonsumsi, Nilai nutrisi pakan, Variasi musim, Keadaan ekologi padang penggembalaan

Pengelolaan Padang Penggembalaan

Diperlukan untuk mencapai : Keseragaman penggunaan rumput oleh ternak dan Tingkat pertumbuhan hijauan yang optimal

A. Penggembalaan Kontinyu (Continous grazing)

Ternak digembalakan sangat lama; sepanjang tahun atau selama pertumbuhan. Perlu pengaturan jumlah ternak yang sangat tepat.

Kerugian daya tampung tidak sesuai : Over grazing : ternak melebihi ambang daya tampung. Under grazing : ternak dibawah ambang daya tampung. Akibat under grazing : Spotted grazing : tidak merata, dilakukan pada tempat tertentu Selective grazing : hanya mengkonsumsi bagian tertentu yang paling disukai

Bila terjadi “under grazing” : Menambah unit ternak sesuai daya tampung, Mengawetkan kelebihan hijauan Penggembalaan kontinyu jumlah produksi potensial hijauan semakin berkurang

B. Penggembalaan Bergilir (Rotation Grazing)

Padang penggembalaan dibagi ke dalam beberapa petak dan digembalakan secara bergilir Manajemennya berdasarkan tingkat pertumbuhan hijauan pakan,

Jumlah petak yang harus dibentuk :

Waktu rumput kembali (hari)

Jumlah petak = ——————————————— + 1

Lama waktu penggembalaan (hari)

Hari ke 1 - 4

Hari ke 5 - 8

Hari ke 9 - 12

Hari ke 13 - 16

Hari ke 17 - 20

Hari ke 21 - 24

Hari ke 25 - 28

Misalnya:

waktu rumput tumbuh kembali adalah 24 hari, Lamanya penggembalaan 4 hari, Jumlah petak disediakan : 24/4 + 1 = 7 petak.

C. Penggembalaan Rotasi Tertunda (Deffered Rotation)

Bertujuan agar jenis rumput unggul tidak musnah. Satu atau lebih petak tidak dipergunakan rumput selesai berbunga atau berbiji, Selama satu tahun ternak hanya digembalakan pada petak tersebut bila rumputnya telah berbunga, berbiji atau bertunas. Lebih tepat padang rumput alam (self reseedling).

Tahun I

Tahun II

Tahun III

Bagan Penggembalaan Rotasi Tertunda

D. Penggembalaan Rotasi Istirahat (Rest Rotation)

Satu petak tidak dipergunakan selama satu tahun, Digunakan di AS dan dikenal Hormay system.

Tahun I

Tahun II

Tahun III

Tahun IV

Manfaat sistem rotasi istirahat :

1. Kesempatan rumput membentuk dan menyimpan energi

2. Menunjang pemasakan biji.

3. Menunjang persemaian yang lebih sempurna.

4. Menunjang akumulasi bahan organik rumput.

E. Penggembalaan Berjalur (Strip Grazing)

Bentuk intensif dari penggembalaan bergilir. Unit ternak satu petak tertentu Mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan tatalaksana.

F. Penggembalaan Intensitas Tinggi (High Intensity Grazing)

Padang penggembalaan akan diremajakan, rusak, pergiliran tanaman diisi ternak dengan daya tampung sangat tinggi (maksimal) dan tatalaksana yang sama. Fase cepat istirahat 30 hari, Fase lambat istirahat 60-90 hari, penggembalaan dimasuki ternak kembali.Luas petak semakin kecil padat, sehingga :periode singkat, distribusi kotoran dan penginjakan merata. Diperlukan tatalaksana yang tinggi dalam keterampilan mengelola ternak.

Reference.

Barrick R. Kirby and Hobart L. Harmon. 1988. Animal Production and Management. Mc Graw-Hill Book Company. New York.

Church, D.C., 1978, Digestive Physiology and Nutrition of Ruminant, O and B Books Inc., Corvelis, Oregon.

Reksohadiprojo, S., 1984, Pengantar Ilmu Peternakan Tropik, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Roy, J.H.B., 1980, The Calf, 4th Ed., Studies and Agriculture and Food Science, London.

van Soest, P.J., 1982, Nutritional Ecology of The Ruminant, O and B Books Inc., Corvelis, Oregon.

Sudono, A dan B. Sutardi, 1969, Pedoman Beternak Sapi Perah, Dirjen Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Sisson, S. and J.D. Grossman, 1969, The Anatomy of The Domestic Animals, 4th Ed., W.B. Saunders Co., London.

Published by admin on 24 Apr 2009

MANAJEMEN KESEHATAN

Untuk memaksimumkan produksi ternak harus sehat. Ternak sakit mengakibatkan kerugian: pertambahan bobot badan, feed efisiensi dan kualitas produksi menurun, juga terjadi kegagalan reproduksi.

Beberapa masalah kesehatan dapat dicegah.

Kesuksesan manajerial dapat dibentuk dan dilakukan melalui suatu program pencegahan kesehatan dengan tujuan diperolehnya ternak sehat dan produktif. Manajer harus memiliki bekal pengetahuan dasar kesehatan ternak.

1. Penggunaan Termometer Kesehatan

Karakteristik ternak sehat :

Nafsu makan normal dan agresif

Istirahat dengan tenang

Pergerakannya tidak kaku

Keadaan mata, lendir dan warna kulitnya normal

Pengeluaran kotoran atau urine tidak sulit

Tidak ada gangguan bernafas, denyut nadi, suhu tubuh.

Ternak sakit secara teknis dapat diamati dari gejalanya. Ukuran penyakit terdeteksi melalui keadaan suhu tubuh, detak jantung, denyut nadi atau pernafasannya.

Indikasi ternak sakit:

Pengeluaran lendir atau cairan dari mulut, hidung atau mata

Menurunnya konsumsi pakan atau minum, atau tidak mau makan

Terjadi kelainan fostur tubuh

Sulit berdiri atau berjalan

Gelisah atau nervous

Batuk; bersin

Diare; kotoran atau urine berdarah

Membran yang pucat;

Peradangan atau pembengkakan kulit; rontoknya bulu

Abnormalnya suhu tubuh, denyut nadi atau pernafasan

Menurun produksi susu, tenaga kerja dan pertambahan bobot badan.

Penyakit dapat diobservasi dalam periode pemberian pakan.

eksternal parasit muncul setiap musim hujan, internal parasit saat cuaca lembab.

Masalah reproduksi / nutrisi — saat betina sedang bunting atau selama masa laktasi.

Deteksi yang mudah, murah, cepat — dengan termometer.

Petunjuk Penggunaan Termometer Kesehatan :

1. Tangani ternak, dengan tali, halter, kandang jepit

2. Ikatlah termometer dengan tali sepanjang 15,2 cm.

3. Normalkan, air raksa berada di bawah garis 97ºF atau 36ºC.

4. Olasi termometer dengan pelumas, masukan ke dalam rektum.

5. Biarkan selama 3 menit, keluarkan dan bersihkan dengan tisu.

6. Bacalah termometer tersebut, bandingkan dengan tabel

7. Bersihkan dengan air sabun, bilas dengan desinfektan atau air hangat keringkan dan simpan

Suhu Rektal Ternak Potong yang Sehat

TERNAK

SUHU NORMAL REKTUM (ºF)

RATA-RATA

KISARAN

Sapi

101,5

101,4 - 102,8

Domba

102,3

100,9 - 103,8

Kambing

103,8

101,7 - 105,3

Babi

102,6

102,0 - 103,6

Kuda

100,5

99,0 - 100,8



Penggunaan Termometer Kesehatan (Dari Barrick and Harmon, 1988. Animal Production and Management, Mc. Graw Hill Books, USA)

2. Penyebab Penyakit

Pencegahan penyakit adalah kunci manajemen kesehatan ternak (pencegahan penyakit lebih baik daripada mengobati)

“ Manajer harus mengetahui penyebab penyakit.”

Beberapa faktor penyebab ternak sakit :

1) Mikroorganisme,-

Menimbulkan penyakit infeksi pada tenak terdiri dari : bakteri, protozoa, jamur, dan parasit

2) Kecelakaan,-

Menyebabkan produktivitas ternak menurun, usahakan ternak bebas dari penyebab kecelakaan.

3) Kecacatan,-

Kecacatan menyebabkan abnormalitas sruktural dan fungsional organ, misalnya hernia, deformasi kepala, inkomplit sistem pencernaan atau cacat bawaan.

Berbahaya bersifat herediter. Defisiensi nutrisi, infeksi virus, keracunan kimia atau fisik pada induk bunting menjadi penyebab lahirnya anak cacat; jangan untuk ternak bibit

4) Nutrisi,-

Penyakit akibat defisiensi nutrisi adalah grass tetani, ketosis, white muscle disease, dan sebagainya.

Keracunan tanaman — pastura kurang pengelolaan atau akibat terjadinya kemarau panjang.

3. Diagnosa dan Pertolongan Kesehatan

Manajer harus mengetahui bila ternaknya sakit atau diperlukannya kehadiran dokter hewan, pertolongan pertama diberikan sebelum dokter hewan datang, setelah diagnosa dan selama proses pelayanan kesehatan.

Langkah-langkah pertolongan dan bantuan tersebut adalah :

1. Amati ternak secara periodik minimal sekali sehari

2. Apakah perlu kehadiran dokter hewan atau tidak.

3. Berikan informasi lengkap dan rinci kepada dokter hewan.

4. Persiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum

5. Diskusikan dengan dokter hewan gejala-gejala penyakitnya

6. Berikan catatan kesehatan ternak kepada dokter hewan (pemberian pakan, program vaksinasi, sanitasi dsb).

7. Bantu dokter hewan dalam menangani ternak

8. Ikuti petunjuk dokter hewan dalam memberikan perlakuan

9. Amati secara periodik. Informasikan pada dokter hewan

Buat catatan kesehatan yang baik. Masukkan dalam rekomendasi program kesehatan.

4. Membentuk Program Kesehatan

Pembentukan program kesehatan menyangkut beberapa faktor :

² Resisten Penyakit pada Ternak

² Desain Fasilitas

² Sanitasi dan Desinfektans

² Kontrol Penyakit

² Kontrol Keracunan Tanaman

Resistensi Penyakit pada Ternak,-

Secara alami, tubuh mampu mempertahankan diri dari serangan penyakit. Terdapat dua jalur pertahanan tubuh, yaitu :

1. Pertahanan Primer : mencegah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh. Misalnya kulit sebagai dinding penghalang penetrasi serangan bibit penyakit, selaput lendir pada organ terbuka (mulut, mata dan alat reproduksi), dilengkapi cilia.

2. Pertahanan Sekunder : menyerang patogen (bibit penyakit) yang melewati pertahanan primer. Phagocyt, — sel-sel didalam tubuh, limphe atau tulang. Bersifat mobile atau stasioner. Phagocyt mobile contohnya adalah leukosit (sel darah putih). Antibodi, — substansi seperti protein (antigen) yang dibentuk oleh tubuh tuntuk menyerang organisme pembawa penyakit. Dengan terbentuknya antibodi ternak menjadi kebal (immun) terhadap penyakit tertentu.

Imunitas alami (Natural Immunity) : diturunkan oleh orang tuanya. Resistensinya tergantung species, bangsa, individu.

Imunitas Buatan (Acquired Immunity) : - Imunitas aktif : terbentuk setelah antigen diproduksikan mikroorganisme.

- Imunitas pasif : Kekebalan yang diterima dan ditransfer oleh ternak yang kebal kepada ternak yang tidak kebal. Misalnya pemberian kolostrum, serum.

Desain Fasilitas,-

Penataan fasilitas kandang harus menunjang kesehatan. Terutama ventilasi — penyediaan udara bersih

Ventilasi yang baik harus dirancang untuk :

1. Dapat mencukupi kebutuhan udara segar bagi ternak

2. Dapat mengontrol kelembaban ruangan

3. Menjamin pergerakan udara di dalam kandang

Udara lembab — penyakit pernafasan.

Faktor yang perlu diperhatikan dalam membuat ventilasi:

² Kebutuhan ruangan bagi ternak

² Lokasi bangunan

² Jumlah dan ukuran saluran udara

² Tipe dan jumlah insolator

² Perlu tidaknya kipas angin

Sanitasi dan Desinfeksi,-

Tingkat sanitasi dan higienis — indikator manajemen kesehatan :

1. Lingkungan sanitasi terbaik adalah terjaganya kebersihan.

2. Peralatan operasional kesehatan steril (kastrasi)

3. Desinfektan mudah inaktif bila kontak dengan bahan organik (darah, jaringan, tinja atau sisa pakan)

Pemilihan desinfektan yang baik, adalah yang :

1. Efektif menyerang mikroorganisme secara luas (broad spectrum)

2. Efektif dalam konsentrasi yang rendah

3. Ekonomis

4. Tidak menyebabkan iritasi, korosif, menyebabkan noda dsb

5. Tidak inaktif oleh bahan organik atau mineral

6. Stabil dalam penyimpanan dan penggunaannya

7. Mudah diaplikasikannya

8. Efektif dalam periode pendek atau suhu rendah

Kontrol Parasit,-

- Tinja merupakan tempat berkembang biaknya parasit

- Telur cacing merupakan prevalensi penyakit

- “Overgrazing” terutama pada pastura basah dapat menyebabkan parasit cepat berkembang biak.

Sinar matahari dan udara bebas terjamin dalam area mobilitas ternak, sediakan tempat “dipping” dan “spraying” atau “jetting”.

Kontrol Keracunan tanaman,-

Tanaman beracun — di dalam pastura, hay atau pakan.

Keracunan terhindari — bila hijauan dalam pastura berkualitas baik dan palatabilitasnya tinggi

Tanaman beracun lazimnya tumbuh pada :

² Area yang lembab

² Sepanjang aliran air

² Sepanjang pagar

² Area yang banyak kayu

Tanaman beracun akan mudah tumbuh bila manajemen pastura kurang baik, terjadi “overgrazing”, atau musim kemarau panjang.

5. Perlakuan Kesehatan

“preconditioning” — perlakuan kesehatan (kastrasi, dehorning, doking dsb).

Pertolongan pertama,-

Pertolongan pertama perlu dikuasai oleh manajer:

² “Milk fever” perlu injesi kalsium glukonat

² Kesulitan melahirkan perlu pencegahan komplikasi

² Penggunaan trocar dan cannula untuk penanganan bloat

Beberapa tindakan lain yang perlu dilakukan, adalah :

- Memberikan kenyamanan pada ternak.

- Menjaga ternak dari kecelakaan

- Mengawasi ternak yang sedang mengalami pengobatan.

Metode Pemberian Obat,-

- Ingesti : Dicampur dalam pakan atau air minum

- Injeksi : Intramuskuler (IM), Intrvena (IV), Subcutan (SC),

Intraperitonium (IP), Intrarumen (IR).

- Drenching : Dicekokkan ke dalam mulut

- Tubing : dengan tabung ke dalam oessophagus atau lambung

- Piling : Seperti drenching — pemberian pil atau bolus.

Transportasi Ternak,-

Hindari penularan penyakit ke lokasi lain dengan tes kesehatan

Pengangkutan dengan kereta api — jangan lebih dari 28 jam, jika lebih perlu istirahat minimal 5 jam — berikan pakan dan air minum. Lebih dari 36 jam jangan menggunakan Truk.

Pengelolaan Awal (Preconcitioning).-

Tipe perlakuan, bangsa, ketersediaan fasilitas dan keterampilan —- tingkat kesehatan ternak

Tatalaksana yang perlu dilakukan: kastrasi, pemotongan tanduk, vaksinasi, penyapihan, pemberian obat cacing, kontrol parasit, penanggulangan bloat, pemotongan kuku dan penimbangan berat badan.

1) Kastrasi,-

Kastrasi atau pengebirian — menghilangkan fungsi testis dengan tujuan :

² kualitas daging menjadi lebih baik.

² ternak lebih jinak.

² pertumbuhan lebih cepat (?)

Dilakukan dengan cara tertutup atau cara terbuka

Cara tertutup

Menggunakan tang burdizo (emasculator). Tidak akan terjadi pendarahan, — dengan menjepit penggantung testes (ductus seminalis), — sebaiknya dilakukan pada pedet.

² Tang burdizo dijepitkan pada penggantung testes sebelah kiri, lalu sebelah kanan, atau sebaliknya.

² Lama penjepitan sekitar 15 – 20 detik.

² Terjadi memar dan membengkak, taburi sulfanilamid.

Cara lain — cincin karet (elastrator). Dipasangkan pada leher scrotum, scrotum akan mengkerut, kering dan jatuh. Pemasangan menggunakan tang elastrator, — pedet berumur lebih dari 7 hari — skrotum akan lepas setelah 10 – 14 hari

Cara terbuka

Dengan cara operasi, yaitu mengeluarkan dan memotong testes dengan scalpel atau pisau kastrasi. Langkah operasinya adalah :

1. Sapi dirobohkan atau pedet dimasukan “cradle”

2. Dibuat irisan pada scrotum dengan pisau

3. Testes dikeluarkan

4. Putuskan penggantung testes dan “vas deferent

5. Bubuhi antiseptik (sulpanilamid) untuk pencegah infeksi

Cara Kastrasi Terbuka

Cara terbuka, lazimnya terjadi stres selama 3-5 hari. sebaiknya dilakukan saat pedet umur 4- 10 minggu — saat lalat kurang, — luka cepat sembuh.

2) Pemotongan Tanduk,-

Terdapat 3 (tiga) cara : dishorning (pencegahan tumbuhnya tanduk), dehorning (tanduk sudah tumbuh) dan tipping (ujung tanduk).

Keuntungan ternak tidak bertanduk adalah :

1. Tidak membutuhkan ruang yang lebih luas

2. Mengurangi bahaya

3. Mencegah kerusakan karkas

4. Memudahkan penanganan (sapi lebih jinak)

5. Lebih disukai sebagai bibit

Sedangkan kerugiannya adalah :

1. Menurunkan pertambahan bobot badan karena stres.

2. Perlu biaya, peralatan dan keterampilan

3. Kemungkinan infeksi bila tidak sucihama

4. Mengurangi estetika, terutama untuk pameran

Dishorning,-

A. Pencegahan dengan zat kimia

Zat kimia yang lazim digunakan adalah “caustic potash”, “cautic soda”, “flexible colodion solution”.

Langkah melakukannya :

- Pedet ditangani dahulu (oleh dua orang)

- Bulu sekitar tanduk digunting

- Olesi vaselin di sekeliling tanduk

- Basahi ujung stik berkapas dengan zat kimia

- Gosokan ujung stik pada bakal tanduk selam 15 detik

- Setelah timbul pendarahan, bakal tanduk digosok kembali.

Harus dilakukan hati-hati karena zat kimia bersifat iritans.

Di Austrlia penggunakan zat kimia ini sudah dilarang, karena :

1. Dapat menyebabkan luka bakar pada pedet

2. Bila kena mata menyebabkan buta

3. Dapat mengiritasi ambing induk bila pedet menyusu

B. Pencegahan dengan cauterizer

Lazim dilakukan pada pedet umur 4-21 hari. Langkah :

- Cauterizer dipanaskan selama 15-20 menit

- Tekankan pada bakal tanduk selama 5-10 detik

- Bekasnya berbentuk cincin bulat hitam sedalam 2 mm

Kebaikan adalah tidak perlu pengguntingan bulu.

Pencegahan dengan Perkawinan

Ini adalah cara terbaik untuk mengurangi terjadinya kerugian tanduk, karena :

- Tidak terjadi stres

- Tidak perlu peralatan dan keterampilan

- Tidak terjadi kematian dan penularan penyakit

Pedet tidak bertanduk : perkawinan induk bertanduk dengan jantan tidak bertanduk, dimana sifat bertanduknya dominan.

Bila jantan homosifat, maka semua pedet tidak bertanduk. Bila jantan heterosifat, pedet yang dihasilkannya 50 % bertanduk dan 50 % tidak bertanduk. Bangsa sapi terbaik untuk menghasilkan anak yang tidak bertanduk adalah Aberdeen Angus

Dehorning,-

Pemotongan terhadap tanduk yang sudah jadi, harus dilakukan secara trampil dengan peralatan steril

Alat yang digunakan adalah :

Untuk pedet : Gunting tanduk, tube dehorner, kawat pemotong tanduk dan elastrator

Untuk sapi : Gergaji besi/ mesin, tang pemotong tanduk (cup dehorner)

Gunting tanduk :

- dilakukan oleh dua orang pada kandang jepit (nodstall)

- Potong tanduk kiri dahulu

- Pemotongan 2 cm dari dasar tanduk

- Bila terjadi pendarahan gunakan besi panas

- Berikan ketenangan

Tube dehorner :

- Terdapat dalam 4 ukuran

- Digunakan untuk tanduk yang kecil (pedet umur kurang dari 7 bulan)

- Tanduk masukan kelubang “ tube”

- Putar 45 º sambil ditekan

- Tanduk tercungkil

Kawat Pemotong :

- Berbentuk gergaji halus

- Panjang sekitar 2 meter

- Sistem pemotongan dilakukan seperti menggergaji

Elastrator :

- Prinsipnya sama dengan elastrator kastrasi

- Tanduk kecil lepas setelah 3-8 minggu pemasangan

- Tanduk besar sekitar 2 bulan

Vaksinasi,-

Cara termurah mencegah penyakit — untuk mencegah serangan penyakit tertentu yang bersifat lokal atau regional. Vaksinasi lazimnya untuk penyakit-penyakit: blackleg, malginant edema, leptospirosis, inpentious bovine rhino traheitis, parainfluenza 3, bovine virus diarhea, brucelosis dan vibriosis.

Pemberian Obat Cacing (worming),-

Kerugian akibat serangan cacing :

- Rendahnya feed efisiensi

- Rendah pertambahan bobot badan

- Menurunkan bobot sapih

- Rendah produksi susu

- Gagal berahi kembali

Bakalan sebaiknya diberikan obat cacing selama pengelolaan awal, sebelum penyapihan atau segera setelah didatangkan ke feedlot

Bibit perlu diberikan 2 kali per tahun, yaitu pada akhir musim penggembalaan dan sebelum musim kawin.

Penyapihan,-

Dilakukan dengan cara memisahkan induk dari pedet sejauh mungkin. Bila tidak saling terdengar suaranya, maka mulai hari ke tiga atau ke empat pedet akan berangsur-angsur melupakan induknya dan berhenti bersuara. Untuk mengurang tingkat stres dan sakit, berikan pakan bermutu tinggi, air minum yang bersih dan pemberian antibiotik.

Pemberian susu dilakukan terus — ember sampai disapih benar

Kontrol Parasit,-

Akibat parasit — kerugian ekonomis cukup tinggi.

Beberapa parasit yang perlu mendapat pengawasan adalah :

Internal Parasit

Menyerang dari pedet — umur dua tahun. Menyebabkan kerusakan abomasum dan intestin. Tiga species yang berbahaya adalah haemonchus contortus, ostertagia ortertagi dan trichostrongylus axei. Ternak sapi yang terserang memperlihatkan tanda-tanda: diarhae, constipasi, anemia, pembengkakan rahang bawah, dehidrasi, kelemahan dan batuk-batuk.

Manajemen untuk meminimalkan serangan internal parasit :

1. Bebaskan tempat pakan dan minum dari kotoran atau kontaminasi lain.

2. Bersihkan lingkungan dari genangan lumpur dan air,

3. Jangan terjadi “over grazing” di padang penggembalaan.

4. Lakukan rotasi penggembalaan atau kombinasi penggembalaan dengan ternak lain.

5. Pisahkan pastura bagi pedet dari sapi dewasa.

6. Selalu sediakan pakan bermutu tinggi.

7. Gunakan kontrol internal parasit.

Eksternal Parasit

Eksternal parasit berupa kutu, caplak dsb dapat menganggu kesehatan dan produksi ternak.

Pencegahan dilakukan dengan penggunan insektisida melalui “dipping” dan “spaying” pada ternak sapi.

- Dipping dilakukan dengan cara ternak diberenangkan pada kolam yang berisi cairan kimia

- Spraying dilakukan dengan cara penyemprotan cairan kimia. Pada ternak domba dilakukan dengan cara “jetting”.

Penanggulangan Bloat,-

Bloat (Kembung perut) — akumulasi gas di dalam rumen dan retikulum yang terbentuk dan terhalang oleh digesta. Terdapat dua tipe, frothy bloat, terjadi campuran antara gas dengan cairan yang berbentuk busa (paling berbahaya) dan gaseous bloat terbentuk gas saja

Kembung perut menjadi bahaya apabila gas telah menekan diapraghma dan jantung, tanda yang muncul adalah ternak sulit bernafas, ngorok, keluar air liur, gemetar dan jatuh, bila ternak sudah jatuh maka kematian sulit dihindarkan.

Untuk mencegah bloat dapat dilakukan :

1. Jangan memberikan legume lebih dari 50 % total pakan.

2. Pemberian legume di padang penggembalaan hanya dilakukan pada siang hari setelah embun hilang.

3. Berikan 56,5 – 114,5 gram minyak sayur atau lemak hewan/ekor/hari.

4. Culling ternak breeding yang kronis bloat.

Gas dikeluarkan — menusukkan cannula pada perut ternak bagian sebelah kiri langsung pada rumen. Supaya tepat, tandai perut sapi dengan menggunakan gambar segitiga yang menghubungkan titik tulang pinggul, titik rusuk akhir dan titik transverssus processus, tusukan cannula tepat dititik tengah segitiga ke dalam rumen melewati peritoneum. Pengeluaran gas dilakukan sedikit demi sedikit dengan cara menarik trocar perlahan-lahan agar isi rumen tidak tersedot keluar dan menyumbat pipa trocar.

Pemotongan Kuku,-

Kuku terlalu panjang —ketegangan otot kaki, jalan pincang, kaki sakit dan bagi sapi pejantan sulit melakukan perkawinan. Sebaiknya pemotongan dilakukan pada rak pemotong kuku.

Dilakukan dari kaki depan dahulu, bersihkan dari kotoran dengan hati-hati melingkar di luar garis putih (white line) kuku. Bila melebihi garis putih, maka lapisan coronarius yang banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf akan terlukai.

Penimbangan Bobot Badan,-

Pekerjaan rutin untuk mengontrol pertumbuhan ternak. Penimbangan ternak sapi dewasa harus dilakukan dengan timbangan khusus (scale), baik manual ataupun elektrik.

Untuk memperoleh data bobot tubuh sapi secara akurat, sapi harus dipuasakan terlebih dahulu selama 12 – 24 jam dengan atau tanpa pemberian air minum.

Published by admin on 24 Apr 2009

PENGELOLAAN LIMBAH

Dalam pendirian suatu peternakan pengelolaan limbah harus direncanakan secara serius dalam bentuk “AMDAL” (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Limbah terdiri : - bagian padat Manure

- bagian cair

Dalam jumlah besar akan menimbulkan polusi jika tidak dikelola dengan baik. Dikelola dengan baik dapat memberikan keuntungan dan manfaat yang besar.

Sapi 450 kg di Feedlot memproduksikan 0,028 m3; 28,4 liter atau 27,2 kg manure basah (urine dan feses).

10.000 ekor ternak sapi menghasilkan manure antara 12.000 – 18.000 ton/tahun, tergantung jenis pakan

Perhitungan produksi berat manure/tahun :

L x C x D x U x 0,0075 kg

Dimana : L = Liveweight (Bobot badan rata-rata ternak yang digemukan)

C = Capacity (Dayatampung Feedlot)

D = Days feedlot operates annualy (jumlah hari operasional feedlot/tahun)

U = Utilization (Utilisasi rata-rata daya tampung, biasanya < 80 %)

Contoh Perhitungan :

Daya tampung feedlot (C) = 400 ekor

Target bobot badan akhir = 700 kg,

rata-rata bobot bakalan = 490 kg,

digemukan selama 150 hari dengan pertambahan bobot badan/hari 1,4 kg.

Total pertambahan bobot badan = 1,4 x 150 = 210 kg.

Bobot badan rata-rata penggemukan (L) = (490 + 700)/2 = 595 kg

Utilisasi daya tampung (U) = 80 %

Jumlah hari operasional feedlot/tahun (D) = 310

Produksi manure/tahun = 595 x 400 x 310 x 0,8 x 0,0075

= 442.680 kg

= 442,68 ton

Tujuan pengelolaan limbah

1. Meningkatkan kesehatan ternak dan efisien dalam mengubah pakan dan menambah bobot badan

2. Mencegah polusi lingkungan baik udara, air atau pun tanah

3. Menggunakan nutrisi yang tertinggal dalam limbah kotoran

4. Melakukan point 1-3 dengan biaya yang rendah

5.

DEGRADASI BAHAN ORGANIK DAN BAKTERI

Hubungan penggunaan oksigen terlarut dengan waktu perubahan bahan organik :

Lt = L (10 –K1t )

Lt = Jumlah bahan organik limbah yang tersisa pada saat t (hari) dinyatakan dengan padanan oksigen

L = Total jumlah oksigen yang diperlukan untuk merombak seluruh bahan organik limbah

K1 = Konstanta reaksi tingkat pertama, hari –1

t = Waktu perombakan (hari)

Polutan yang degradabel merupakan makanan bakteri. Proses penghancuran polutan secara biologis dipercepat dengan memacu pertumbuhan bakteri. Bakteri tumbuh dan berkembang bila kandungan oksigen terlarut cukup, pH normal, suhu air limbah 350 C.

Bau berasal dari kandungan bahan organik yang sifatnya tidak stabil, bahan organik tersebut segera membusuk akibat proses kimia dan bakteri.

Proses perombakan bahan organik limbah ada 2 macam :

1. Bila kandungan O2 cukup : - Perombakan bersifat aerobik yakni mikroorganisme mengoksidasi bahan organik menjadi hasil akhir yang stabil seperti CO2, NO3 dan SO4.

2. Bila kandungan O2 tidak cukup : - Perombakan bersifat anaerobik atau putrefaction. Bakteri anaerobik mengubah bahan organik menjadi senyawa sederhana seperti methan (CH4), hidrogen sulfida (H2S) dan amonia (NH3) sebagian dari gas ini dilepaskan ke udara bebas sehingga menyebabkan bau.

Pemanfaatan Limbah Ternak

Alternatif pemanfaatan limbah ternak sapi :

1. Bahan Pakan Ternak

Metode pembuatan pakan ternak dari limbah ternak sapi :

a. Metode cereco

- limbah dikumpulkan tiap 4-10 hari

- masukkan ke dalam tangki untuk proses pengomposan (composting & ensilling) secara fermentasi selama 24 jam

- pengeringan (drying)

- penggilingan atau penghalusan (screening)

- dipres dibuat pellet, disebut ensilled

- ensilled ditambahkan pada hay atau silase saat terjadi fermentasi, disebut wastelage

b. Metode Corral

- dilakukan di kandang atau di pastura

- limbah dimasukan ke dalam separator untuk pemisahan bagian padat & bagian cair

- bagian padat dimasukan ke ruang pasteurisasi, bagian cair disentrifugasi sehingga bagian padat mengendap di bawah

- kedua bagian padat disatukan menjadi ransum pokok

c. Metode Grazon

· limbah dikumpulkan secara teratur

· pengeringan di bawah sinar matahari atau oven

· campurkan dengan larutan grazolin menggunakan mixer

· campur dengan ransum pokok

Komposisi nutrisi pakan dari limbah ternak sapi :

TDN 48% PK 20%

SK 20% Ca 0,9%

Na 0,5% Mg 0,4%

Selain sebagai pakan, manure dimanfaatkan juga untuk media cacing tanah (vermicomposting).

Nisbah C/N manure harus sekitar 28 – 30. Manfaat C sebagai sumber energi dan manfaat N sebagai nutrisi.

2. Sumber Pupuk

N, P, K dalam tinja dapat mensuplai unsur hara yang dibutuhkan tanah & memperbaiki struktur tanah

Penambahan zeolit meningkatkan hara & menurunkan bau tinja

Cara pemanfaatan limbah ternak sapi untuk pupuk :

1. Langsung diangkut ke kebun setelah didinginkan selama 1 minggu

2. Dibuat kompos terlebih dahulu, lalu digunakan untuk pupuk

Tahapan pembuatan pupuk secara komersial :

· Limbah dialirkan ke kolam penampungan, diendapkan hingga padat

· Biarkan selama 1-6 bulan, mengalami decomposting

· Limbah dibongkar kemudian keringkan di bawah sinar matahari atau menggunakan oven selama 1 minggu, tahap drying

· Gumpalan limbah dihaluskan, tahap screening

· Tambahkan unsur hara lain seperti posfat, arang atau formaldehid, kemudian lakukan pembungkusan, packaging.

3. Substrat Produksi Biogas

Limbah ternak sapi mengandung methan —–à sumber energi

Dari 250 ekor sapi dapat menghasilkan energi listrik 1 KWH, dengan proses pembuatan biogas :

Skema Pembentukan Biogas

Karbohidrat

Lemak asam propionat, asam asetat Protein

CH4CO2 (Methan)

Methan akan banyak diproduksikan bila berasal dari pakan yang kandungan serat kasarnya tinggi. Pakan sebagian besar harus terdiri dari hijauan, hingga dihasilkan asam lemak terbang yang tinggi.

Pengaliran dan Penampungan Limbah

Pengaliran limbah harus berpedoman pada :

v Jumlah populasi ternak

v Jumlah dan bentuk ransum

v Volume penggunaan air

1. Feedlot terbuka (oven feedlot / out door feedlot)

· Manure tersebar di atas permukaan tanah

· Sebaiknya dialirkan atau dialirkan ke pastura, lahan pertanian atau bak penampungan

2. Feedlot Terkurung ( indoor feedlot)

· Lantai tanpa jejaba, tinja dialirkan melalui selokan menuju penampungan atau pastura

· Lantai dengan jejaba, urine dan padatan tinja diserap oleh jejaba diangkut dalam bentuk padat

Model Pengaliran dan Penampungan Limbah

1. Kolam penampungan

· Berbentuk tanah yang digali atau dinding kolam ditembok

· Padatan tertampung kolam, cairan keluar menuju kebun rumput, dll

· Ukuran kolam disesuaikan dengan jumlah ternak

2. Tangki penampungan

Sama seperti tangki untuk minyak tanah atau BBM, volume 5000 lt, 8000 lt atau 1600 lt. Bisa dipasang paralel.

· Keuntungan

- bau polusi dapat dikurangi

- dapat langsung menghasilkan biogas

- hasil pupuk berkualitas baik (kompos)

- Kerugian : Memerlukan biaya cukup besar

3. Selokan yang dioksidasi

Berbentuk selokan dengan penambahan oksigen melalui aerator, bakteri pembusuk akan terbunuh.

Keuntungan :

- Mengurangi bau polusi

- Mempertinggi jumlah limbah yang diperoleh

- Pemanfaatan limbah sebagai pakan tambahan

Kerugian : Memerlukan banyak tenaga dan biaya

4. Tabung Pompa

Berupa tabung yang dilengkapi dengan pemompaan sistem hydraulik.

Hampir sama dengan metode Corral

Adanya pemisahan bagian padat & cair dari limbah ternak

5. Kotak Pengendapan

Berbentuk bak atau kontainer mirip penjernih air, bagian bawahnya ditambahkan materi penyaring (kerikil, pasir dsb.)

· Tinggi bak 2-3 m

· Bagian alas dilapisi kerikil, pasir & ijuk dg tebal 1 m

· Bagian cair terbuang ke bawah & bagian padat tertahan saringan.

6. Lantai Bercelah

Berbentuk lantai kandang yang berkolong, sehingga kotoran atau urine jatuh melalui celah dan ditampung dengan tempat penampungan.

· Kandang lantai bercelah dengan tralis atau papan

· Tinggi kolong sekitar 0,5 m untuk memudahkan pengerukan

· Dasar penampungan dialasi dengan jerami

Bisa dikombinasikan dengan selokan dioksidasi, sehingga limbah dapat dijadikan sumber pakan tambahan melalui air minum.

Published by admin on 24 Apr 2009

TERNAK KERJA

Digunakan di negara-negara berkembang. 400 juta ekor ternak kerja dunia, sekitar 90 % di Asia. Di Indonesia 3,6 juta sapi tenaga kerja. Di India + 8 juta ternak kerja 30.000 M.watt, Di China 100 juta ha lahan tenaga ternak. Di Indonesia : + 80 % ternak besar digunakan untuk kerja.

Ternak kerja adalah Sapi, Kerbau, Kuda, Keledai, Unta, gajah, Llama, Yaks. Sapi Charolais dulunya sapi kerja pedaging Perbandingan Kapasitas Kerja (Pathak, 1985) : Kuda 1,0, Sapi 0,7, Kerbau 0,5.

Daya kerja ternak 0,4 – 0,8 HP (rata-rata 0,5 HP) Faktor pendukung: Kesempatan kerja, Menghemat BBM, Sosial budaya, Lahan sempit, Infra struktur

TEORITIS : 1 traktor —- 40 pasang ternak kerja

LAPANGAN : 1 traktor —- 5 pasang ternak kerja

Di Bali : 60 % lahan diolah ternak sapi dan kerbau yang setara dengan penggunaan 1.312.278 liter solar/musim tanam

Fungsi ternak kerja: Mengolah tanah, Menaikan air, Menggiling tebu, Mengangkut barang, Menarik pedati, Mengangkut kayu gelondongan, Cow boy’s.

Kemampuan kerja ternak tergantung pada :

1. Individu ternak : Bangsa, Umur, Kondisi : Besar / kecil, Kurus / gemuk, Kesehatan, Pengalaman. 2. Operator : Pengalaman, Temperamen, Kesehatan 3. Temperatur lingkungan dan kelembaban 4. Intensitas radiasi matahar i5. Makanan 6. Kondisi tanah : Jenis tanah, Basah / kering 7. Peralatan

MEMILIH INDIVIDU TERNAK KERJA

1. Konformasi tubuh : Kompak, kuat, otot punggung dan bagian belakang baik.Persendian kokoh, kaki kuat dan relatif pendek, Dada bidang dan dalam Pada kuda : bahu pendek dan datar, kaki depan lebih panjang.

2. Sifat : Tenang, Patuh,Tidak galak

3. Umur : Sudah dilatih / siap latih sapi kerbau 2 - 3 tahun, Kuda lebih dari 3 tahun.

4. Kelamin : Jantan : Kuat dan lincah, Betina : Jinak dan mudah dikendalikan

A. KEMAMPUAN KERJA

Tanah kering lebih lama dari pada tanah basah, Sapi jantan 1 ha sawah waktu 35,5 jam. 1 ha tanah kering : waktu 40,9 jam, Sapi betina : 36,1 jam untuk tanah sawah, 49,55 jam untuk tanah kering.

Kemampuan angkut beban ternak dengan kerja 6-8 jam /hari

Komoditas

Bobot (kg)

Kecepatan (km/jam)

Berat badan rata-rata (kg)

Kerbau

Ringan

Sedang

Berat

Sapi

Ringan

Sedang

Berat

400

650

900

210

450

900

3

3

3

3,5

3,5

3,5

50

82

110

25

55

110

Goe dan Mo. Dowell (1980) dan Goe (1983).

B. SELEKSI TERNAK KERJA

Kriteria ternak kerja di sawah dan penarik beban berbeda.

Faktor-Faktor :

1. Konformasi Tubuh

Kaki kuat dan otot paha baik. Leher dan bahu pendek, otot baik. Dada lebar dan alam.

Punggung rata dan sedikit miring ke bagian tulang kemudi.Pada pandangan depan : Kaki harus tampak lurus Kuku rata dan mengarah ke depan Letak kaki, segi empat Kuk leher & gumba — baik.

2. Bangsa

Kerbau kerbau lumpur, sapi sapi-sapi zebu. Sapi PO, Bali dan madura merupakan ternak kerja yang baik.

3. Jenis Kelamin

Jantan lebih baik, tetapi lebih sulit untuk dilatih. Ternak kebiri lebih mudah untuk dilatih, Ternak betina menghasilkan anak, susu dan daging.

4. Umur, Berat dan Ukuran Tubuh

Muda mudah dilatih dan patuh—pertumbuhan terganggu. Umur pertama dilatih 2-3 tahun, BB 200 kg yang bergumba.

5. Temperamen

Kriteria : mata dan telinga Dikehendaki jinak, tenang dan patuh.

C. CARA MELATIH TERNAK KERJA

Bertahap adaptasi lingkungan, Kontak yang sering dengan pelatih Gertakan ringan dan tidak kasar.Latihan awal pagi hari

Tahap Latihan :

1. Pengikatan

Ternak diikat di bawah pohon atau kandang. Ternak tidak diberi makan minum 12 sampai 24 jam, dielus-elus aman dan tidak terganggu.

2. Latihan Jalan

Satu orang menuntun atau satu menggiring di belakang. Berjalan bersama ternak yang sudah terlatih. Waktu bervariasi 1-3 jam/hari, 2 minggu sudah terbiasa.

3. Menerima Kuk atau Beban

Awalnya kuk tanpa beban dan ternak tetap diikat. Dilakukan minimal 3 jam/hari terbiasa. Kuk ringan dan halus. Latihan menarik beban— balok kayu diikatkan pada kedua ujung kuk. Latihan mengenal gerobak , Di sawah, awali pekerjaan ringan menggaru.

KEBUTUHAN ZAT MAKANAN KERBAU KERJA

FAO (1972) : Tenaga kerja yang dihasilkan dari seluruh energi ransum : Kuda 12 %, Sapi 10 %, Manusia 12 %. Kerja 5 jam/hari tambahan energi 27 MJ, kebutuhan kerja = 40 % energi total.

Kebutuhan Energi

Bobot Badan (kg)

200

300

400

500

Hidup Pokok (MJ ME/hari)

Energi Kerja (% HP):

Ø 2 jam kerja

Ø 4 jam kerja

Ø 8 jam kerja

28

14

29

58

38

16

32

64

47

17

34

69

55

18

36

73

Sumber : Kearl (1982)

BB = 300 kg = Kerja 3 jam/hari, Tambahan energi untuk kerja 3 jam = 24 % dari hidup pokok. Jadi kebutuhan Energi (MJ ME/hari) = 38 + (24% X 38) = 47,12 MJ ME/hari

Published by admin on 24 Apr 2009

JUDGING DAN SELEKSI

JUDGING

penilaian subyektif terhadap ternak. sekelompok ternak dipilih (mass selection) —– nilai standar ideal. Esensi kualitatif: Bagian-bagian tubuh, Kriteria tipe ternak sesuai pasar, akurat berdasarkan fakta., Jujur dan netral.

Penilaian untuk memilih: pemenang dalam pameran, individu ternak bakalan, calon bibit, ternak siap jual atau potong. keterampilan tata cara penilaian kegagalan

Langkah penilaian: kecermatan pandangan, kecermatan perabaan, pengukuran bagian-bagian tubuh, Penilaian individu ternak dianalisis menggunakan standar skor bagian konformasi tubuh. Ternak skor tertinggi terpilih. perabaan ketebalan lemak, konformasi karkas, ketebalan daging, dilengkapi pengukuran bagian tubuh ternak

Teknik Skoring Kondisi Tubuh Ternak Sapi

kondisi tubuh menduga nilai produksi atau bibit. karkas bernilai rendah kondisi tubuh rendah (kurus). Kondisi tubuh kebuntingan dan kelahiran induk (cow).

Hubungan Skor Kondisi Tubuh dengan Aspek Reproduksi

Status Reproduksi
Musim
Kemarau
Hujan

Saat Kawin

Pertengahan Bunting

Saat Melahirkan

2,5

2,0

3,0

2,5

3,0

2,5

Sumber : Allen, D. and Kilkenny, B. 1980. Planned Beef Production, Granada,

Performa Bibit Berdasarkan Skoring Kondisi Tubuh

Skor Individu Induk

Skor Rata-Rata kelompok

Skor

Calving Interval

(hari)

Skor

Pedet yang Disapih

(per 100 induk)

1 – 1,5

2

2,5 – 3

3+

418

383

364

358

1 – 1,5

2

2,5 – 3

3+

78

85

95

93

Sumber : Allen, D. and Kilkenny, B. 1980. Planned Beef Production, Granada,

TABEL 1. PENILAIAN SAPI BIBIT INDUK

BAGIAN YANG DINILAI

NILAI STANDAR

Sapi

K

1

2

3

4

5

1

PENAMPILAN UMUM (40%)

1. Bobot badan (sesuai umur).

2. Konformasi tubuh (panjang, seimbang, simetris, punggung sejajar garis perut).

3. Konstitusi tubuh (dada penuh, lingkar dada besar).

4. Kondisi (perdagingan halus, tidak cacat).

5. Temperamen (jinak, tidak ganas, tidak gugup).

6. Gerakan (luwes, anggun).

7. Tipe (sesuai dengan karakteristik bangsa dalam warna tubuh dan konformasinya).

KEPALA DAN LEHER (7%)

1. Dahi (luas, halus, feminin, tanduk sesuai dengan karakteristik bangsa).

2. Mata (besar, cerah).

3. Muka (pendek, profil lurus).

4. Bangus (luas, lubang hidung tersekat lebar, bibir tipis, mulut lebar).

5. Telinga (ukuran sedang, tekstur baik sesuai pembawaan).

6. Leher (pendek, halus terpadu sampai bahu, tenggorokan bersih).

PEREMPAT DEPAN (7%)

1. Bahu (halus, luas, dan gempal pada bagian atas, garis bahu penuh).

2. Dada (ramping, bersih, dan serasi).

3. Kaki depan (lurus, pendek, terpisah lebar, pertulangan kuat, dan tidak cacat).

BADAN (30%)

1. Dada (penuh, lurus, rata dengan bahu).

2. Punggung (luas, tebal, lurus bagian atas).

3. Daerah dada (kapasitas luas, lingkar dada besar).

4. Rusuk (elastis, panjang, perdagingan baik).

5. Pinggang (luas, panjang, datar, tebal, halus).

6. Legok lapar/flank (ramping, rendah, penuh).

PEREMPAT BELAKANG (16%)

1. Pantat (halus, rata, perdagingan menutup kaki).

2. Pinggul (rata, luas, penuh, halus, tidak cacat).

3. Pangkal ekor (halus dan rata dengan garis atas).

4. Paha (dalam, tebal dan berdaging penuh).

5. Betis/twist (penuh, dalam, dan luas).

6. Kaki belakang (lurus, pendek terpisah lebar, pertulangan kuat, tidak cacat).

5

10

5

10

2

3

5

1

1

1

1

1

2

3

2

2

3

8

4

3

10

2

2

4

4

2

2

4

2

Total Nilai

100

TABEL 2. PENIAIAN SAPI SIAP POTONG / SIAP JUAL

BAGIAN YANG DINILAI

NILAI STANDAR

Sapi

K

1

2

3

4

5

1

PENAMPILAN UMUM (35%)

1. Bobot badan (sesuai umur)

2. Bentuk tubuh (dalam, panjang, simetris, halus, punggung sejajar garis perut).

3. Kualitas (kepala ramping, kulit lentur dengan ketebalan sedang, bulu halus).

4. Kondisi (bulat, halus merata ,bebas cacat dan bengkak, tidak kegemukan).

KEPALA DAN LEHER (4%)

1. Kepala (lebar, mulut besar, lubang hidung besar dan terbuka, bersih).

2. Leher (pendek, tebal, halus ,merata sampai bahu).

PEREMPAT DEPAN (10%)

1. Bahu (halus, kompak, luas dan gempal pada bagian atas, serasi).

2. Dada (ramping, serasi, lebar, dan penuh).

3. Kaki depan (lurus, terbuka lebar, penuh).

BADAN (30%)

1. Dada (penuh, dalam, lebar, lingkar dada besar, belikat penuh).

2. Rusuk (melengkung seperti busur, per-dagingan tebal dan halus).

3. Punggung (luas, lurus, berdaging tebal dan padat).

4. Pinggang/loin (luas, tebal, berdaging padat dan halus).

5. Legok lapar/flank (ramping, penuh, lemak tidak berlebihan).

PEREMPAT BELAKANG (21%)

1. Pantat dan Pinggul (halus, tertutup per-dagingan yang merata).

2. Pinggul/rump (panjang, lebar datar, pangkal ekor halus, benjolan punggung terpisah lebar).

3. Gandik/paha atas/round (tebal, dalam dan penuh).

4. Betis/twist (penuh, dalam, serasi).

5. Kaki belakang (lurus, terbuka lebar)

3

10

7

15

2

2

6

2

2

3

7

8

10

2

2

5

10

2

2

NILAI TOTAL

100

Keterangan : Koreksi dinilai oleh penilai final

Penentuan kondisi tubuh:

Pengamatan tulang rusukn dan Perabaan “tranverssus processus” dan tebal lemak di bawah kulit.

Pengamatan Tulang Rusuk. kondisi tubuh tulang rusuk tampak membayang di balik kulit,

Kurus : lebih dari 8 buah tampak membayang, Sedang : kurang dari 8 buah, biasanya 4 – 5 buah), Gemuk : rusuk tidak tampak membayang, Rusuk sapi 13 buah, ke 6 membayang ke-3 kurang tampak — terhalang tulang siku (humerus).

Perabaan “Transverssus Processus”(TP)

Kondisi tubuh dibagi atas: Sangat Kurus : Tulang punggung menonjol dan TP teraba sangat runcing tidak ada perlemakan (skor 1) di emasiasi . Kurus : TP teraba oleh ibu jari sedikit perlemakan di bawah kulit (skor 1,5). Sedang TP teraba apabila ibu jari ditekankan (skor 2). Gemuk : TP tidak teraba, perlemakan agak tebal (skor 2,5). Sangat Gemuk : TP tidak teraba dan perlemakan sangat tebal ( skor 3) obesitas.

PENENTUAN BERAT BADAN.

Pertumbuhan ternak pertambahan berat badan harian atau ADG (Average Daily gain). sulit penyediaan timbangan ternak ukuran tubuh.

Ukuran-ukuran tubuh untuk mengestimasi berat tubuh : Lingkar dada. Diukur melingkar dengan pita meter tepat dibelakang siku (inch atau cm) Panjang badan. Diukur dengan tongkat ukur dari tonjolan tulang siku (humerus) sampai tonjolan tulang tapis (tuber ischii). Tinggi pundak. Diukur dengan tongkat ukur tegak lurus dari titik tertinggi pundak sampai tanah.

Rumus Schoorl:

[LD (cm) + 22]2

Berat badan (kg) = ——————–

100

Rumus Winter :

LD2 (inch) X PB (inch)

Berat badan (lbs) = —————————

300

Setelah dimodifikasi rumus Winter:

LD2 (cm) X PB (cm)

Berat badan (kg) = ————————-

300 X (2,54)3 X 2,2

Khusus kerbau :

Sutardi (1984) Berat badan (kg) = - 920,73 + 11,904 LD (cm) - 0,028869 LD2 (cm).

Sudjana (1976) Berat badan (kg) = 4,19 LD (cm) - 385,05

Berat badan (kg) = 5,05 PB (cm) - 298,27

Camoens (1976) Berat badan (lbs) = 40 TP (inch) - 11 LD (inch) - 450

PENENTUAN UMUR.

Sapi baru lahir dilihat perubahan tali pusarnya:

1. masih basah — kurang dari 1 minggu.

2. telah kering — antara 2-3 minggu.

3. sudah lepas — di atas 3 minggu. sapi dewasa pertumbuhan tanduk cincin, sapi betina berapa kali beranak

Cara lain pertumbuhan gigi Pada ternak dikenal 4 macam gigi :

Gigi seri/gigi depan (Incisivus = I) Gigi taring (Caninus = C). Gigi geraham depan (Premolar = P). Gigi geraham (Molar = M). Gigi ini tidak akan berganti.

Pada sapi dan kerbau rumus giginya adalah sebagi berikut :

M3 P3 C0 I0 | I0 C0 P3 M3

—————-|——————-

M3 P3 C0 I4 | I4 C0 P3 M3

Gigi sapi mempunyai : Gigi geraham (Molar), 3 buah di rahang atas kanan, 3 buah di rahang atas kiri,3 buah di rahang bawah kanan dan 3 buah di rahang bawah kiri.

Jadi jumlahnya ada 12 buah. Gigi Premolar juga 12 buah. Gigi Seri (Incisivus), 4 buah di rahang bawah kiri dan 4 buah di rahang bawah kanan, sedangkan di rahan atas tidak ada gigi. Jumlah gigi seri ini ada 8 buah dan gigi seri pada sapi/kerbau dibagi menjadi :

I1 = gigi seri dalam (satu di kiri bawah dan satu di kanan bawah). I2 = gigi seri tengah dalam (sda). I3 = gigi seri tengah luar (sda). I4 = gigi seri luar (sda).

Berdasarkan “maturity” (kecepatan dewasa), dibagi 3 : 1. Cepat dewasa (Early Maturity). (Bos taurus) 2. Agak lambat dewasa (Medium Maturity). (Bos sondaicus) 3. Lambat dewasa (Late Maturity). (Bos indicus) kecepatan dewasa —perubahan gigi

Sapi cepat dewasa :

Periode I.

Umur 1 bulan, gigi seri temporer (gigi seri susu) sudah tumbuh sempurna, tersusun rapi.

Periode II

Umur 10-12 bulan, bidang asahan pada I1t (gigi seri temporer) sudah terasah penuh.

Umur 14 bulan, bidang asahan pada I2t sudah terasah penuh.

Umur 16 bulan, bidang asahan pada I3t sudah terasah penuh.

Umur 18 bulan, bidang asahan pada I4t sudah terasah penuh dan I1t tanggal dan diganti oleh I1p (gigi seri permanen).

Periode III.

Umur 2 tahun, I2t, diganti oleh I2p.

Umur 2,5 tahun, I3t, diganti oleh I3p.

Umur 3,5 tahun, I4t, diganti oleh I4p.

Periode IV.

Pada periode ini bidang asahan harus diamati secara teliti.

Umur 4 tahun, gigi seri permanen sudah tumbuh sempurna.

Umur 5 tahun, I1p telah mempunyai bidang asahan 50%.

Umur 6 tahun, I2p telah mempunyai bidang asahan 50%.

Umur 7 tahun, I3p telah mempunyai bidang asahan 50%.

Umur 8- 9 tahun, semua bidang asahan sudah berlekuk.

Umur 10-11 tahun, bidang asahan berbentuk segi empat.

Umur 12-13 tahun, bidang asahan berbentuk bulat.

Umur 14-15 tahun, bidang asahan berbentuk lonjong

Tabel Umur minimal berdasarkan pergantian gigi pada beberapa jenis sapi.

————————————————————————————————

Golongan sapi

Keadaan gigi ————————————————————————

Cepat dewasa Agak lambat dewasa Lambat dewasa

———————————————————————————————–

I1t sudah berganti 1,5 tahun 2 tahun 2,5 tahun

I2t sudah berganti 2 tahun 2,5 tahun 3 tahun

I3t sudah berganti 2,5 tahun 3 tahun 3,5 tahun

I4t sudah berganti 3,5 tahun 4 tahun 4,5 tahun

———————————————————————————————-

Sapi lambat dewasa keadaan giginya hampir sama dengan kerbau. Pergantian gigi seri akan terjadi mulai pada umur 2,5 tahun. Jadi hubungan antara umur kerbau/sapi yang lambat dewasa :

Umur 2 tahun, It (gigi seri temporer) sudah lengkap. Umur 3 tahun, I1t diganti oleh I1p.

Umur 4 tahun, I2t diganti oleh I2p. Umur 4,5-5 tahun, I3t diganti oleh I3p. Umur 5,5-6 tahun, I4t diganti oleh I4p. Umur 7 tahun, bidang asahan I1p mencapai 0,25 bagian. Umur 8 tahun, bidang asahan I1p mencapai 0,50 bagian. Umur 10 tahun, bidang asahan I1p sudah penuh. Umur > 10 tahun, gigi menjadi kecil dan jarang.

SELEKSI PADA SAPI DAGING

Seleksi pada sapi daging dibagi :

A. Berdasarkan individu. B. Berdasarkan reputasi tetuanya (pedigree). C. Berdasarkan pemenang kontes (winning show ring). D. Berdasarkan testing produksi (progeny).

A. Seleksi berdasarkan individu.

penampilan dan type ternak indikasi hasil yang optimal dasar seleksi memilih sapi-sapi paling baik didalam kelompoknya bibit Seleksi didasarkan penampilan individu atau type disebut pula dengan mass selection.

B. Seleksi berdasarkan reputasi tetuanya (pedigree).

Menilai sapi berdasarkan penampilan produksi tetuanya. Sapi jelas silsilah dan produktivitas tetuanya (performans). Peternakan sapi murni (pure-breed program).

Seleksi sapi muda yang belum diketahui penampilan produksinya (sifat-sifat progeny-nya),

C. Pemenang kontes (Showring Cattle Winning).

Penilai orang-orang berpengalaman peternak pemula

Kelemahannya, yaitu : 1. Sapi terpilih sangat kecil, — sapi terkenal. 2. Terlalu menekankan breed-fancy, kurang menunjang produksi.

D. Berdasarkan testing produksi (Production Testing).

Seleksi pengukuran sifat-sifat bernilai ekonomis. Tidak dapat digunakan untuk menyeleksi sapi muda belum berproduksi.

PROSEDURE SELEKSI

A. Tandom Selection

Dilakukan terhadap satu sifat yang paling diharapkan terlebih dahulu, — skala prioritas

Kebaikan : Sifat-sifat tsb bisa dikontrol dengan teliti. Kelemahannya : Waktu sangat lama

B. Independent Culling Level

Memberi nilai tertentu pada sifat-sifat yang paling diharapkan. Nilai rendahculling dan nilai tinggi seleksi lanjutan, Seleksi berkala peningkatan mutu genetik. Kebaikan : dapat dilakukan terhadap beberapa sifat pada waktu bersamaan. Kelemahan : Standar tinggi banyak terculling.

C. Index Selection

Lebih efisien bila dibandingkan dengan cara yang lain. Satu index bisa digunakan untuk mengevaluasi beberapa sifat penting atau kombinasinya didalam suatu skor/nilai. Skor melebihi index, bibit, bila lebih rendah akan diculling. Kelemahan : Bila terlalu banyak sifat seleksi berjalan lambat. Jumlah sifat harus sesuai/tepat

SELEKSI DAN CULLING UNTUK PENINGKATAN MUTU GENETIK POPULASI

Karakteristik Sapi efisien:

1. Efisiensi ReproduksiFaktor hereditas sangat menunjang –keberhasilan reproduksi

2. Maternal Ability (Sifat Keibuan) Menyangkut : Kemudahan melahirkan. Instink ibu. Produksi susu. Daya adaptasi dari induk terhadap kondisi lingkungan.

3. Pertumbuhan setelah masa sapih. Data pbb pedet sapih langkah awal tepat.

Mengenai : a. Karakteristik seksual.b. Temperamen.c. Daya adaptasi dengan pastora.

d. Hal lain yang kurang disenangi pedet

Prosedur Seleksi dan Culling

Sifat-sifat yang perlu dievaluasi adalah : Fertilitas. Sifat keibuan. Kecepatan pertumbuhan.

Sifat tertentu —diturunkan melalui pejantan terseleksi : pertumbuhan, berat dewasa dan konformasi; Sifat dari induk: fertilitas induk, sifat keibuan dan daya adaptasi. Seleksi dan Culling Pada Induk.Menyeleksi terhadap fertilitas dan performans maternalnya, Diawali pada saat ternak dara. Jumlah optimal sapi dara yang bisa diculling pada umur ini bervariasi dengan rata-rata weaning-rate dari populasi. Weaning-rate bisa dihitung sebagai berikut :

Jumlah anak dilahirkan - Jumlah anak disapih

Weaning rate = —————————————————— X 100%.

Jumlah anak hidup yang dilahirkan

Weaning-rate < 75% — semua dara menggantikan induk

Weaning-rate > 75% — beberapa sapi dara

Anaknya mati - keibuannya kurang baik - induk diculling.

Bila fertilitas 90% —70% dara ditambahkan pada breeding-herd untuk mengganti induk-induk : Induk tua dan tidak sehat. Induk yang tidak bunting. Induk yang record produksinya jelek. Persentase dara culling (0 – 30%) dengan fertilitas (75%-90%). Pemeriksaan kebuntingan dara terlebih dahulu Semua dara yang tidak bunting harus diculling. Setelah itu dicari berapa jumlah induk yang akan diculling agar dara yang bunting bisa dipelihara. Induk tua yang produktif harus diperiksa kebuntingannya Calf-interval (selang beranak efektif mengculling induk Calving-rate 90% 5-15%/tahun induk bunting bisa diculling

Sistimatis Program Culling Sapi Betina

Asumsi-asumsi. 1. Jumlah induk bibit tetap.2. Musim kawin sangat terbatas.3. Pemeriksaan dengan palpasi saat anaknya disapih.Lakukan langkah-langkah berikut bila :

Phase I. Weaning-rate mencapai 70%.

Step 1. Lakukan culling pada semua induk dan dara yang lemah dan tidak sehat.

Step 2. Kawinkan semua dara yang baik, sehat dan kuat selama 90 hari.

Phase II. Weaning-rate mencapai 80% atau lebih.Lakukan langkah :

Step 1. Lakukan langkah step1 dan 2 pada phase I.

Step 2. Culling semua induk yang tidak bunting.

Step 3. Sapi dara pengganti cukup tersedia, culling induk tua tidak bunting.

Phase III. Weaning-rate 80% atau lebih.

Step 1. Lakukan step 1 dan 2 pada phase I.

Step 2. Culling semua induk yang tidak bunting.

Step 3. Ganti induk produksi rendah dengan dara bunting

Published by admin on 24 Apr 2009

Pertumbuhan Ternak

Pertumbuhan merupakan phenomena komplek, dimulai beberapa saat setelah sel telur dibuahi sampai ternak mencapai ukuran dewasa.

Perkembangan adalah proses perubahan fungsi, bentuk dan struktur tubuh untuk mencapai sempurna sejalan dengan terjadinya pertumbuhan

Hill (1988) : pertumbuhan adalah hasil koordinasi proses biologis dan proses kimia sejak fertilisasi sel telur dan diakhiri pada saat ukuran tubuh dan fungsi fisiologis ternak dewasa tercapai.

Pertumbuhan terjadi karena perbanyakan sel (hyperplasia) dan pembesaran sel (hyperthropy), juga karena adanya penimbunan nutrisi akibat adanya kebutuhan untuk hidup pokok.

Definisi-definisi Pertumbuhan.

Pertumbuhan adalah peningkatan berat badan ternak sampai ukuran dewasa tercapai. (Goodwin, 1977).

Pertumbuhan adalah peningkatan jumlah protein yang terbentuk melebihi jumlah protein yang hilang. (Bogard, 1977)

Definisi lain :

Pertumbuhan sebagai pertambahan protoplasma (benda hidup didalam sel) yang melebihi protoplasma yang rusak atau hilang. (Hammond, 1955).

Anggorodi (1979) : Penambahan berat akibat penimbunan lemak atau penimbunan air bukan pertumbuhan murni. Ditinjau dari segi kimiawi : Pertumbuhan murni adalah suatu penambahan jumlah protein dan zat-zat mineral yang tertimbun di dalam tubuh.

Bila definisi ini diterima, bertambahnya berat badan akibat penambahan lemak, air dan tulang tidak termasuk adanya pertumbuhan.

Definisi-definisi Perkembangan.

Moran (1992) : Meningkatnya umur ternak akan terjadi perubahan pada ukuran, bentuk dan komposisi tubuh.

Fouler (1968) : Pertumbuhan adalah peningkatan bobot badan sejalan dengan meningkatnya umur, sambil terjadi perkembangan yaitu perubahan struktur dan fungsi organ tubuh pada ternak yang sedang tumbuh dari adanya perbedaan pertumbuhan relatif komponen tubuh.

Pertumbuhan dapat diukur karena dapat mengacu pada perubahan berat badan, tapi perkembangan merupakan phenomena komplek dan sangat sulit untuk dihitung.

Hukum Pertumbuhan

1. Laju pertumbuhan dimulai sejak foetus (janin). Laju pertumbuhan janin pada awalnya lambat dan bertambah cepat sesuai umur kebuntingan, ¾ berat dari bobot lahir ternak dicapai pada bulan terakhir kebuntingan.

2. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bobot lahir ternak, yaitu : nutrisi induk, jumlah sekelahiran dan bangsa.

3. Setelah lahir, pertumbuhan ternak akan mengikuti kurva sigmoid (berbentuk huruf S). Fase akselarasi dicapai pada sekitar pubertas (dewasa kelamin).

Untuk tujuan produksi daging, ternak akan lebih menguntungkan bila dipotong pada sekitar kurva fase akselarasi.

4. Tingkat gizi pakan berpengaruh terhadap pertumbuhan. Bila level pakan rendah, pertumbuhan akan terhambat.

Ternak muda yang pernah mengalami kekurangan pakan, bila diberikan pakan bermutu akan diperbaiki laju pertumbuhannya dengan munculnya pertumbuhan kompensasi.

5. Laju pertumbuhan maksimum akan dicapai bila kondisi lingkungan sangat menunjang.

6. Faktor inheritan ternak (genotipe) merupakan pembatas terhadap tingkat pertumbuhan dan dewasa tubuh.

Hukum Perkembangan

MENGUKUR PERTUMBUHAN.

Pertumbuhan bukan merupakan fungsi linier namun penambahan masa (berat) berbentuk huruf S, awalnya bergerak lambat kemudian cepat dan akhirnya melambat lagi, bahkan konstan.

Model matematik pertumbuhan adalah :

Berat

Pertumbuhan =

Waktu

Kecepatan pertumbuhan pada periode tertentu secara matematik dinyatakan sebagai pertambahan berat badan dalam jangka waktu tertentu.

dW

Rg =

t

Rg = kecepatan pertumbuhan.

dW = perubahan berat.

t = periode waktu.

Pada periode lepas sapih, secara matematik hampir sebagai garis lurus, karena pertambahan bobot badan relatif konstan.

Pertambahan bobot badan meningkat sejalan peningkatan umur sampai mendekati pubertas,

setelah pubertas pertambahan bobot badan menurun dan pertumbuhan akan berhenti bila sapi mencapai dewasa.

Pertumbuhan murni dapat diukur berdasarkan rumus Banister dan Sood (1974):

(W2-W1)

RGR = x 100%

(W2-W1)t

RGR = Real Growth Rate (Pertumbuhan murni)

W2 = Berat badan Akhir.

W1 = Berat badan Awal.

t = minggu.

Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan

Pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor external dan internal.

Faktor external yang paling berperan adalah makanan,

Faktor internal yang paling dominan mempengaruhi pertumbuhan adalah kebakaan dan endocrine atau sekresi hormonal

Pertumbuhan setelah sapih dipengaruhi faktor kebakaan. Namun manifestasinya harus ditunjang faktor lingkungan.

Dengan ransum sama, beberapa ternak ada yang tumbuh lebih lambat. Perbedaan pertumbuhan ini pengaruh dari faktor genetik.

Kelenjar endocrine adalah kelenjar yang tidak mempunyai saluran dan memproduksi hormon yang disekresikan ke dalam darah.

Hormon adalah zat kimia dari kelenjar endocrine yang dibawa aliran darah ke berbagai tubuh dan menimbulkan pengaruh yang specifik.

Kelenjar yang mempengaruhi pertumbuhan adalah : Kelenjar Pituitary, Kelenjar Thyroid, Kelenjar Ovarium, Kelenjar Testes, Kelenjar Adrenal.

a. Kel. Pituitary berlokasi di bawah otak, di belakang ‘chiasma optic’. Memproduksi beberapa hormon dan yang terpenting adalah hormon pertumbuhan yaitu somatotropin.

Hormon pertumbuhan akan merangsang retensi nitrogen (pembentukan protein melebihi protein yang digunakan) sehingga menghasilkan pertumbuhan murni.

b. Kel. Thyroid terdiri dari 2 lobus, terletak bergandengan pada trachea yang berhubungan dengan isthmus. Kel. Thyroid mensekresikan hormon Thyroxin yang fungsinya mengontrol metabolisme tubuh.

Kekurangan Thyroxin pada awal kehidupan dapat mengakibatkan kekerdilan yang tidak proporsional. Pengembangan daerah bahu dan kepala lebih besar daripada sebagian tubuh bagian posterior.

Kelebihan thyroxin mengakibatkan : ternak kurang cepat tumbuh dibandingkan dengan yang normal, karena aktivitas metabolisme berlangsung lebih aktif dibandingkan yang normal (aktivitas katabolisme/penguraian lebih kuat daripada anabolisme/ pembentukan).

Bila pakan rendah yodium, kelenjar thyroid tidak cukup memproduksi hormon thyroxin sedangkan kelenjar pituitary akan selalu menggertak kelenjar thyroid, hingga akhirnya kelenjar thyroid akan bertambah besar dan berkembang menjadi penyakit gondok/goiter.

c. Ovarium, menghasilkan hormon Progesteron dan Estrogen. Hormon Progesteron dapat meningkatkan retensi protein. Hormon Estrogen pengaruhnya sangat bervariasi pada setiap species.

d. Testis memproduksi testosteron dan androgenik (hormon yang berpengruh terhadap sifat kejantanan).

Androgen berfungsi :

\ menstimulir pertumbuhan

\ meningkatkan efisiensi pakan

\ meningkatkan lean dan menurunkan lemak pada karkas.

Androgen lebih efektif digunakan pada ternak betina dibandingkan dengan ternak kastrasi.

Kastrasi pada pedet jantan, domba dan babi mengakibatkan :

· Penurunan pertumbuhan.

· Ternak lebih mudah ditangani,

· Dapat mengurangi bau daging yang tajam.

e. Kelenjar Adrenal, berlokasi pada bagian anterior dan medial ginjal. Terdiri dari bagian medula dan bagian cortex.

Bagian medula atau bagian tengah memproduksi hormon adrenalin.

Bagian cortex atau bagian luar mensekresikan beberapa hormon steroid.

Pemberian cortison (salah satu hormon steroid yang diproduksi adrenal cortex) pada sapi dan domba dapat meningkatkan kandungan lemak tubuh. Ternak yang aktivitas kelenjar adrenalnya tinggi cepat menjadi gemuk.

FASE PERTUMBUHAN PADA TERNAK

Pertumbuhaan ternak dibagi menjadi 3 fase, yaitu

· pertumbuhan pre-natal (sebelum lahir),

· pertumbuhan pre-weaning (masa menyusu) dan

· pertumbuhan setelah disapih.

Pertumbuhan Pre-natal,

Pada ternak prolifik/multiparous /peridi pertumbuhan prenatal dipengaruhi jumlah foetus dalam uterus. Jumlah foetus banyak menyebabkan bahan pakan induk tidak mencukupi dan mengakibatkan anak yang dilahirkan kecil.

Pada ternak yang menghasilkan satu anak (monoparous), bobot badan dan umur induk mempengaruhi pertumbuhan pre-natal. Induk yang bobot badannya kecil akan melahirkan pedet yang lebih kecil dibandingkan induk yang lebih tua dan lebih besar. Perbedaan ini disebabkan lingkungan dalam uterus, diantaranya besarnya uterus.

Bobot lahir pedet juga bervariasi tergantung bapaknya, artinya faktor kebakaan memegang peranan pada pertumbuhan pre-natal.

Pertumbuhan Pre-Weaning,

Pertumbuhan pre-weaning, dipengaruhi kualitas dan kuantitas susu induk. Bila jumlah anak terlalu banyak seperti pada babi, produksi susu tidak akan mencukupi kebutuhan tumbuh optimal semua anaknya.

Beberapa pedet tumbuh dengan kecepatan tinggi dan yang lainnya tumbuh dengan kecepatan lebih rendah pada waktu yang bervariasi selama masa menyusu. Pertumbuhan selama menyusu dapat dihitung dengan rumus :

Berat saat disapih - Berat lahir

Kecepatan Pertumbuhan =

Lama menyusu

Peternak sapi pedaging umumnya membutuhkan data bobot saat disapih, untuk memudahkan penentuan bobot badan saat disapih dikembangkan metode lain untuk menghitung bobot sapih 205 hari yaitu standar rata-rata umur disapih (saat susu induk diganti dengan pakan lain), yang rumusnya adalah sbb :

BS - BL

BSS = X 205 + Berat lahir.

Lama menyusu

Keterangan :

BS = Berat sapih.

BL = Berat lahir

BSs = Berat sapih standar (205 hari)

Bila bobot lahir tidak tercatat, rata-rata bobot lahir ditentukan 70 lbs sebagai bahan perhitungan (hanya berlaku untuk sapi daging).

Betina muda, betina awal dewasa dan betina kecil pada bangsa yang sama akan memproduksi susu lebih sedikit dibandingkan betina besar dan betina sudah dewasa.

Produksi susu induk sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan pedet saat menyusu.

Bila pakan induk kualitasnya baik, namun kuantitasnya kurang mencukupi maka induk akan memproduksi susu lebih sedikit dan akan menurunkan pertumbuhan pedet.

Bila pakan induk cukup dan baik, pertumbuhan pedet jantan lebih cepat dibanding pedet jantan kebiri,

pedet kebiri pertumbuhannya lebih cepat dari pedet betina selama periode menyusu.

Bila pakan induk kurang baik, pertumbuhan pedet jantan pada saat menyusu perbedaannya sangat kecil dibandingkan pedet betina.

Pengaruh umur induk dan jenis kelamin pedet terhadap pertumbuhan sangat nyata terlihat pada sapi dan domba. Pedet yang berasal dari induk yang berumur 2 tahun, sekitar 75 lbs lebih rendah berat sapihnya (pd umur 7 bulan) dibandingkan pedet yang berasal dari induk yang lebih dewasa. Demikian juga pedet jantan dari induk yang mendapat pakan baik akan lebih berat 40 lbs dibandingkan pedet betina pada umur sapih.

Post Weaning Growth,

Post-weaning growth adalah pertumbuhan yang terjadi antara waktu disapih sampai saat disembelih, pada berat 1000-1100 lbs.

Rumus menghitung kecepatan pasca-sapih, sbb :

Berat Akhir - Berat Sapih

Pertumbuhan Pasca-Sapih =

Waktu

Beberapa perbedaan kecepatan pertumbuhan diantara ternak dipengaruhi faktor genetik, sepanjang pedet tidak banyak variasi dalam pakannya selama menyusu.

Beberapa faktor mungkin juga berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan selama menyusu ini.

Ternak yang kurang mendapat pakan baik selama menyusu yang disebabkan oleh karena induk kurang memproduksi susu, cenderung akan dikompensasi pada saat lepas menyusu sepanjang pakan yang diberikan kualitas dan kuantitasnya baik.

Kebalikannya anak yang menyusu pada induk yang produksi susunya melimpah, pada saat disapih dan setelah mendapat makanan lain pada saat lepas sapih maka pertumbuhannya akan kurang memuaskan, tidak seperti pada saat anak tersebut masih menyusu.

Meskipun anak yang pakannya kurang baik pada saat menyusu akan mengalami pertumbuhan kompensasi, namun tidak akan mencapai berat yang normal seperti anak yang menerima pakan yang baik pada saat menyusu.

Ternak yang pertumbuhannya cepat, pada saat dilakukan penggemukan akan membutuhkan makanan yang lebih sedikit untuk setiap pertambahan berat badan dibandingkan dengan anak yang pertumbuhannya lambat. Mereka juga lebih banyak “lean” daripada lemak di dalam tubuhnya.

Bila ternak jantan dan betina normal mencapai pubertas dan mulai berkembang sexualitasnya, pertumbuhan mereka akan menurun meskipun proses pertumbuhan masih tetap berlangsung sampai beberapa waktu sesudah mencapai pubertas.

Sebagai contoh : Hereford mencapai pubertas pada umur +- 15 bulan, pada umur ini beratnya 1200 lbs atau lebih. Mereka akan tumbuh terus sampai umur 25 bulan dengan berat dapat mencapai 1800 sampai 2700 lbs.

Pertumbuhan menurun kontinyu dari pubertas sampai dewasa dicapai.

Anak jantan akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan anak betina setelah lepas sapih meskipun mereka mengkonsumsi makanan yang jumlahnya tidak jauh berbeda untuk setiap unit kenaikan berat badan, kusekuensinya anak jantan dalam pertumbuhannya membutuhkan makanan yang lebih sedikit dibandingkan dengan anak betina untuk kenaikan setiap unit berat badan.

Sebagai contoh kecepatan pertumbuhan anak jantan 3,5-4 lbs/hari, membutuhkan 5-5,5 lbs makanan untuk setiap kenaikan 1 lbs, anak betina yang pertambahan berat badan hariannya 2,7-3 lbs membutuhkan makanan 6,5-8 lbs makanan untuk setiap kenaikan 1 lbs.

Maturitas/Dewasa tubuh. Setelah ternak mencapai dewasa tubuh, perubahan berat badan diakibatkan oleh penambahan atau pengurangan kandungan lemak tubuh.

Penambahan berat badan pada saat penggemukan bukan merupakan adanya pertumbuhan karena tidak ada pembentukan protein tubuh yang terjadi.

Pada kenyataannya ternak cenderung kehilangan protein tubuh dengan bertambahnya umur. Kehilangan protein tubuh pada ternak merupakan fenomena pada “aging proses”.

Hill, D.H. 1988. Cattle and Buffalo Meat Production in The Tropics. Intermediate Tropical Agriculture Series. Singapore.

Moran, J.B. 1992. Growth and Development of Buffaloes.

Next »