Published by admin on 22 May 2009
PELUANG PROPINSI IRJABAR SEBAGAI KANTONG TERNAK INDONESIA DALAM RANGKA KECUKUPAN DAGING SAPI
Saat ini bangsa kita dihadapkan kepada bagaimana untuk mencukupi kebutuhan protein hewani baik dalam yang berasal dari daging, susu dan telur. Contoh kebutuhan daging sapi negara kita sekitar 1,5 juta ekor/tahun, bila dilihat kemampuan populasi ternak sapi kita saat ini tidak mungkin dapat tercukupi, oleh sebab itu kita mengimpor sapi rata-rata 400.000 ekor/tahun dari luar negeri (Tabel 1), maka dengan itu kadang-kadang pada saat puncak kebutuhan daging sapi seperti hari raya agama seperti puasa dan Idul Fitri sering terjadi harga sapi yang melambung tinggi sampai mendekati level Rp 70.000/kg di pulau jawa, karena harga yang tinggi, sering membuat para pedagang berbuat curang seperti mencampur daging sapi dengan babi hutan atau memberikan sapi dengan minum yang banyak sebelum dipotong, atau mengimpor daging sapi ilegal yang tidak teruji kesehatannya mengakibatkan konsumen dirugikan.
Bagaimana tindakan pemerintah sebagai pemegang kebijakan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan gizi rakyatnya, saat ini daging merupakan barang lux, sudah tidak tercapai oleh masyarakat bawah oleh sebab itu berita busung lapar sering kita dengar di media masa baik didesa maupun di perkotaan. Luas daratan dan laut kita seharusnya tidak mungkin membuat bangsa kita kelaparan akan protein hewani, contoh negara Cina yang hanya memiliki dataran subur hanya seperlima luas negara kita (Guanzong) mampu mencukupi kebutuhan rakyatnya hampir satu milyar jiwa. Oleh sebab itu ini merupakan pekerjaan besar dan tanggung jawab kita semua yang tidak mungkin dilaksanakan oleh pemerintah saja, salah satu peluang yang dapat diraih adalah propinsi Irjabar karena dilihat dari iklim, budaya dan alamnya sangat mendukung untuk menjadi lumbung ternak di negara ini. Ditambah propinsi ini yang sedang berbenah diri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya agar terbebas dari penjajahan kemiskinan.
Tabel 1. Populasi dan Kebutuhan Sapi Potong Nasional
|
|
Populasi |
Dipotong |
|
|
(Ekor) |
(ekor/thn) |
|
Nasional |
11.746.170 |
1.500.000 |
|
Populasi Ideal |
13.468.800 |
|
|
Impor |
|
430.000 |
|
Irjabar |
3.876.050 |
943.868 |
|
Jawa Timur |
2.529.525 |
615.972 |
Tantangan kedepan Propinsi Irjabar adalah dengan memiliki populasi sapi potong saat ini hanya sekitar 30.149 ekor (2006), sedangkan daya tampung untuk sapi potong bisa sampai mendekati 4 juta ekor, bahkan lebih tinggi dari Jawa timur yang saat ini salah satu kantung ternak dengan teknologi yang sudah masimum dapat menghasilkan sapi bakalan/potong sekitar 615.972 ekor/tahun, maka peluang Irjabar dapat menghasilkan hampir satu juta ekor pertahun (943.868 ekor) bila harga sapi Rp 5 juta/ekor maka pendapatan kotor yang diperoleh propinsi Irjabar sekitar 5 trilium rupiah pertahun, jumlah ini cukup untuk membebaskan masyarakat Irjabar yang hanya 688.405 jiwa dari kemiskinan dan disintegrasi bangsa. Jumlah ini juga dapat memenuhi kebutuhan daging sapi nasional mencapai 80%, atau memenuhi kebutuhan sapi impor dua kali lipat.
POTENSI SAPI POTONG DI PROPINSI IRJABAR
Potensi Hijauan
Propinsi Irjabar merupakan hamparan pegunungan dan lahan datar yang berisi hutan, padang rumput dan lahan berair. Curah hujan di Propinsi Irjabar cukup tinggi ditunjukkan rumput yang senantiasa tumbuh hijau disetiap saat (Gambar 1.) penulis selama melakukan survey pada puncak kemarau bulan september ternyata di propinsi Irjabar telah hujan 2 hari sekali, sehingga sapi terlihat sehat dana gemuk-gemuk. Bila dilihat data luas lahan penghasil rumput untuk makanan ternak sapi dengan luas 4,2 juta ha maka diproduksi hijauan rumput sekitar 42,44 juta ton/thn (Tabel 2.) Bila konsumsi sapi bali kira-kira 30 kg/ekor/hari maka luas lahan tersebut dapat menampung 3,8 juta ekor sapi potong, sedangkan saat ini populasi sapi potong sekitar 30.149 ekor maka dengan itu rumput di daerah ini banyak tidak termanfaatkan dan terbuang dengan percuma. Maka dengan itu perlu dilakukan bagaimana untuk meningkatkan populasi ternak dipropinsi ini secara cepat.
Agroklimat di Propinsi Irjabar masih cukup baik, karena alam masih belum begitu rusak sehingga keseimbangan alam masih terjaga. Agroklimat yang baik ditandai dengan musim kemarau yang tidak begitu panjang bahkan dikatakan tidak pernah mengalami musim kemarau, karena pada bulan september 2006 ketika penulis ke propinsi ini hujan senantiasa turun 2 hari sekali dan rumput-rumputan di propinsi ini masih tetap hijau. Oleh sebab itu untuk program kedepan seperti kebanyakan kesalahan pada propinsi di Indonesia bagian barat seperti kerusakan alam dan tatataruang yang tidak konsisten mengakibatkan lahan pertanian dan peternakan semakin tersisih dan rusak, begitu juga dengan kerusakan hutan yang semakin parah oleh sebab itu untuk kedepan untuk menjaga agroklimat yang tetap baik di Irjabar dan Papua secara umum perlu koordinasi yang kuat antar instansi untuk menjaga alam irjabar tidak rusak.
Tabel 2. Luas Lahan Penghasil Hijauan Makanan Ternak di Propinsi Irjabar
(Dinas Kehutanan dan Pertanian Irjabar. 2006)
|
No |
Sumber hijauan |
Luas |
Produksi |
|
|
|
ha |
ton/Thn |
|
1 |
Sawah |
11.250 |
112.500 |
|
2 |
Tegalan |
2.120.811 |
21.208.110 |
|
3 |
Hortikultur |
210.765 |
2.107.650 |
|
4 |
Kebun |
1.901.449 |
19.014.490 |
|
|
Jumlah |
4.244.275 |
42.442.750 |
|
|
Konsumsi Sapi kg/ekor/h |
|
30 |
|
|
Jumlah Ternak (ekr) |
|
3.876.050 |
Potensi Pakan Penguat (Konsentrat) untuk Sapi Potong
Propinsi Irjabar selain memiliki lahan pertanian juga memiliki perkebunan, yang menghasilkan sumber konsentrat, oleh sebab itu bila dihitung produksi limbah pertanian dan perkebunan yang dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak/konsentrat, dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Luas Lahan Perkebunan dan Pertanian penghasil Pakan Konsentrat
|
Sumber |
Luas |
Produksi Pakan |
|
|
Ha |
Ton/Ha/Thn |
|
Padi |
6,163 |
3,647 |
|
Jagung |
1,765 |
265 |
|
Ubi-Ubian |
- |
11,191 |
|
Sawit |
1,438 |
9,016 |
|
Kakao |
504 |
1,411 |
|
Kelapa |
1,664 |
1,790 |
|
Jumlah (Ton/Thn) |
11,534 |
27,319 |
|
Konsumsi Sapi (kg/h) |
|
6 |
|
Jumlah sapi (ekor) |
|
12,474 |
Produksi limbah pertanian di Irjabar yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak adalah 27.319 ton/thn, bila konsumsi ternak sapi lokal 6 kg/hari konsentrat maka limbah pertanian dan perkebunan tersebut dapat memenuhi kebutuhan sekitar 12.474 ekor sapi potong, sementara ini hasil limbah perkebunan belum termanfaatkan dan terbuang percuma, maka perlu ada suatu kelompok baik koperasi yang dibina pemerintah untuk mengolah dan memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan ini.
Potensi Pembibitan Ternak Sapi Potong
Pembibitan ternak merupakan kunci keberhasilan untuk meningkatkan populasi yang cepat dan murah maka dengan itu program pembibitan biasanya memerlukan waktu yang cukup lama maka dengan itu di beberapa degara maju biasanya dilakukan di padang rumput yang luas untuk menekan biaya pakan. Propinsi Irjabar memiliki 5 padang rumput yang cukup luas yang dapat digunakan untuk pusat pembibitan sapi potong dengan melibatkan masyarakat lokal (Tabel 4.).
Tabel 4. Perkiraan Luas Padang Rumput di Propinsi Irjabar
|
Tempat |
Luas (ha) |
Peluang Sapi Potong |
|
Dataran Isim |
2.000 |
2.400 |
|
Dataran Bamberai |
200.000 |
240.000 |
|
Lembah Kebar |
1.500 |
1.800 |
|
Dataran Ransiki |
500 |
600 |
|
Jumlah |
204.000 |
244.800 |
Dari luas padang rumput yang ada di propinsi Irjabar seluar sekitar 204.000 ha maka bila dipelihara induk sapi potong jantan dan betina pada padang rumput ini maka dapat menampung 244.800 ekor ternak dengan produksi anak sapih bakalan minimum sekitar 122.000 ekor pertahun. Ini cukup menjanjikan dimana negara kita sampai sekarang mengalami masalah dalam memenuhi kebutuhan daging sapi kita harus mengimpor sapi bakalan sekitar 400.000 ekor pertahun dari luar negeri.
Potensi Sosial Budaya Masyarakat Irjabar
Pengembangan sapi potong di Irjabar sangat cocok karena didukung oleh masyarakat Irjabar yang masih sedikit, dengan lahan yang cukup luas, ditambah lagi dapat membantu masyarakat untuk mulai hidup bercocok tanam daripada hidup dihutan dengan berpindah-pindah kemungkinan akan merusak lahan hutan (Gambar 2.) Pengembangan sapi potong sangat cocok bagi masyarakat papua/ Irjabar karena tidak mengganggu kegiatan sehari-hari biasanya mereka hanya melepaskan ternak tersebut di tegalan atau diikat pada sebatang pokon yang berukuran 6-10 m dan dipindahkan sebanyak 3 kali maka ternak tersebut dapat hidup dan gemuk. Selama ini masyarakat Irjabar beternak sapi merupakan ternak yang asing, karena selama ini kebutuhan protein hewani masyarakat diperoleh dengan cara berburu di hutan seperti rusa, kasuari dan babi hutan, keberadaan ternak sapi bagi masyarkat papua secara umum adalah didatangkan oleh masyarakat transmigrasi dari jawa dan NTT. Tahun 70an pernah pemerintah mendatangkan ternak sapi bali di papua, karena kurang sosialisasi pada masyarakat maka sapi tersebut dilepas dan hidup liar dihutan sampai sekarang, ada juga yang berhasil di tangkap/diburu oleh masyarakat saat ini.
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
Perkembangan masyarakat Irjabar akibat peran aktif yang dilakukan oleh penyuluhan pertanian dan pembauran dengan masyarakat transmigrasi yang memelihara ternak sapi maka paradigma sapi potong saat ini telah berubah, dulu ternak sapi yang begitu menakutkan sekarang mulai akrab, bahkan saat ini mas kawin pada masyarakat yang dahulu dalam bentuk ternak babi sekarang sudah mulai menggunakan sapi potong. Jadi saat ini keinginan masyarakat untuk memiliki ternak sapi cukup tinggi akan tetapi kendala ketersediaan bakalan sangat sulit, oleh sebab itu perlu dukungan dari pemerintah/ dirjen peternakan supaya program pengadaan sapi potong di propinsi ini bisa terus dilanjutkan karena memberikan manfaat yang cukup tinggi bagi kesejahteraan masyarakat karena dapat memanfaatkan hijauan makanan ternak yang cukup melimpah di propinsi ini.
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
Pola konsumsi masyarakat papua/ Irjabar yang mendukung pengembangan ternak sapi potong adalah mereka kurang menyukai daging sapi, dibanding dengan daging babi dan ikan laut, ditambah dengan kebiasaan mereka untuk berburu sehingga kebutuhan daging mereka diperoleh dari hewan liar seperti rusa, kasuari, babi hutan dll. Pemotongan sapi didaerah ini sebagian besar hanya untuk konsumsi masyarakat pendatang, maka dengan itu harga daging sapi pada bulan puasa di pulau jawa sudah mencapai level Rp 70.000/kg sedangkan di Manokwari sebagai ibukota propinsi Irjabar hanya Rp 35.000/kg. Murahnya daging ini disebabkan selain pemeliharaan yang murah tanpa biaya pakan/ rumput (Zero Feed Cost) juga karena permintaan yang kurang begitu besar pada masyarakat lokal. Oleh sebab itu program bantuan sapi potong terus dilakukan secara terus menerus dan intensif maka kedepan propinsi Irjabar tidak mustahil akan menjadi lumbung ternak sapi potong bagi bangsa ini.
Strategi dan Pendekatan Irjabar Menjadi
Kontong Tenak Potong Indonesia
1. Peningkatan Populasi
Untuk 5 tahun dari sekarang meningkatkan populasi dengan cepat dengan cara memanfaatkan padang rumput sebagai pusat pembibitan serta melibatkan masyarakat adat, sebagai kantong-kantong pembesaran ternak dan pembibitan rakyat. Pengawasan yang ketat terhadap pemotongan hewan betina produktif di RPH, karena harga sapi yang murah menggoda bandar sapi untuk memotong hewan betina. Penggunaan teknologi IB dan seleksi karena selama ini yang dikawatirkan perkawinan sapi di lapangan berjalan apa adanya sehingga peluang kawin sedarah bisa terjadi (inbreeding), kendala dilapangan juga perlu dikurangi seperti ketersediaan semen beku dan inseminator bila sapi mereka menunjukkan birahi, selama penulis dilapangan diperoleh ketersediaan semen dan N2 cair kadang tidak tersedia di peternak karena jarak tempuh yang jauh.
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
2. Meningkatkan Keterampilan SDM (Petugas dan Petani)
Keterampilan Petugas dan petani untuk keberhasilan program ini merupakan faktor penghubung, karena masyarakat Irjabar pada umumnya transisi dari masyarakat yang berburu ke masyarakat yang bercocok tanam maka dengan itu pendidikan dan pembinaan kepada petugas dan masyarakat harus terus dilakukan, karena bila tidak maka keberhasilan reproduksi sapi potong tetap rendah seperti selama ini.
b. Paramedis kader kesehatan hewan dan ketersediaan obat
Jarak antar satu tempat ke tempat lain di Propinsi Irjabar sangat berjauhan maka peternak yang mengalami musibah ternaknya sakit, cukup sukar untuk memperoleh obat-obatan dan bimbingan paramedis, oleh sebab itu perlu disediakan atau diberikan kepada peternak obat-obatan yang biasa terjadi dilapangan seperti cacingan, mencret pada anak sapi pada pergantian cuaca, antibiotik setelah induk melahirkan, karena selama penulis melakukan kunjugan angka kematian anak yang baru lahir cukup tinggi di propinsi ini.
c. Kelembagaan dan Penyuluhan yang Mandiri
Kelembagaan dan Penyuluhan peternakan di Propinsi Irjabar bercampur aduk dengan bidang lain seperti pertanian, perikanan/kelautan dan kehutanan, maka dengan itu tumpang tindih tugas mengakibatkan tidak fokusnya arah pembangunan peternakan. Oleh sebab itu untuk menjadikan Irjabar menjadi kantong ternak potong Nasional dapat terwujud, perlu dibuat instansi peternakan menjadi lembaga yang mandiri karena bila dilihat dari bentuk lahan pegunungan yang cukup luas sangat cocok pengembangan peternakan dari pada pertanian, oleh sebab itu alokasi dana APBD dan APBN perlu dipertimbangkan proporsi yang ideal, selama penulis melakukan evaluasi terjadi alokasi anggaran yang bukan pada kompetensi alam yang khas di Irjabar yang kita tahu adalah daerah yang memiliki iklim hampir sama dengan benua Australia yang cocok untuk peternakan. Masyarakat papua di Irjabar pada dasarnya adalah berkebun dan beternak yang selama ini mereka pelihara adalah ternak babi, selama wawancara dengan masyarakat keberadaan ternak sapi sangat mereka harapkan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Bahkan masyarakat awam yang tidak mempunyai sapi, saya tanya apakah mau bila saya berikan sapi, mereka menjawab dengan tidak terduga, Dia akan memberikan anak sapi bila saya memberikan induk kepada mereka. Oleh sebab itu lembaga yang mandiri diikuti oleh penganggaran yang benar diharapkan masyarkat papua di irjabar akan mudah maju dan sejahtera.
d. Teknologi Pakan Ternak
Saat ini pada saat penulis melakukan survey di propinsi ini ternak hanya diberikan hijauan saja tanpa adanya pemberian pakan penguat, padahal ketersediaan sumber pakan penguat cukup tinggi di propinsi ini. Penerapan teknologi tepat guna seperti pemanfaatan limbah pertanian, daun kacang-kacangan (gamal, lamtoro) perlu diajarkan kepada peternak, dengan adanya konsentrat maka sapi yang dipelihara akan mempunyai pertumbuhan yang lebih.
e. Tindak preventif terhadapa Penyakit Hewan Menular
Propinsi Irjabar relatif bebas dari berbagai penyakit menular dan berbahaya oleh sebab itu ini harus dipertahankan dengan membuat lembaga yang mandiri dan disiplin di jalur transportasi ternak yang masuk ke propinsi ini, supaya prosinsi ini tetap terjaga kesehatannya hewan dan manusianya.
f. Membangun Rumah Potong dan Transportasi Daging
Pemotongan sapi di DKI Jakarta mendekati 1000 ekor/hari maka dengan itu pemerintah Irjabar kedepan perlu membangun rumah potong hewan dan alat transportasi daging yang presentatif dan hiegienis supaya ternak yang dipotong dari penggemukan sapi rakyat kemudian dikirim ke DKI jakarta dan pasar lainnya dalam bentuk daging beku (Frozen Meat).










