Archive for the 'Ternak Babi' Category

Published by admin on 19 Feb 2009

Tips PemeliharaanTernak Daerah atau Musim Panas

A. Respon Ternak Babi terhadap Tekanan Temperatur Tinggi

Babi harus mempertahankan suhu tubuhnya tetap konstan sekitar 39 oC. Panas yang diproduksi berasal dari proses metabolisme, kegiatan otot, pencernaan dan penggunaan bahan makanan. Blaxter, 1967 menyatakan bahwa ternak babi saat lahir membutuhkan panas ideal yaitu 34 oC, akan tetapi bertambahnya umur suhu ini mengakibatkan ternak menjadi stress hal ini terjadi karena pertumbuhan kulit yang semakin menebal dan terbentuknya jaringan lemak dibawah kulit sehingga perpindahan panas dari dalam tubuh kelingkungannya sangat sukar, perubahan berat badan mengakibatkan menurunya rasio luas permukaan tubuh, sehingga proses evaporasi menjadi lebih kecil diketahui bahwa evaporasi merupakan 90 % cara pemindahan panas tubuh ke kelingkungan (Bont et al. 1959) oleh sebab itu pada suhu tinggi mengakibatkan kelembapan menjadi tinggi pula akhirnya proses evaporasi menjadi rendah karena udara telah jenuh oleh uap air. Holmes dan Close 1977 menyatakan bahwa kenaikan suhu 18 oC akan menaikan suhu lingkungan sebesar 1 oC, begitu juga sebaliknya.

Pada tekanan panas yang cukup tinggi ternak berusaha untuk menurunkan produksi panas di dalam tubuhnya (terutama dengan menurunkan jumlah makanan yang dikonsumsi), dan juga meningkatkan pembuangan panas dengan proses phisiologi ( memperbesar aliran darah ke kulit, panting, dll) dan perubahan posisi tubuh. Berlawanan dengan keadaan dingin, mempertahankan suhu tubuh normal dengan cara meningkatkan jumlah makan yang dikonsumsi ( untuk memenuhi produksi panas yang dibutuhkan) serta melalui perubahan fisiologis untuk mengurangi hilangnya panas dari tubuh. Sebuah survey diperoleh bahwa terjadi penurunan 10,4 g/hari setiap kenaikan per oC antara 11 dan 35 oC, rata-rata temperatur lingkungan harian. Close dan Mount 1978 menemukan bahwa stress pada babi berat 25-50 kg dimulai bila suhu lingkungan sekitar 30 oC dengan kelembapan 50%.

Pertukaran panas telah diatur oleh sistem tubuh ternak sehingga pada periode waktu panas yang dihasilkan sama dengan panas yang dilepaskan, artinya suhu tubuh ternak senantiasa tetap. Zona panas tubuh netral adalah rentangan suhu dimana panas yang dihasilkan bebas pada tekanan suhu. Pada zona ini panas yang dihasilkan terutama tergantung pada jumlah pakan dan berat badan ternak babi, effek ini dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Rentangan Panas Netral Lingkungan yang dapat diterima ternakBabi

berdasarkan pada Berat badan dan Jumlah Konsumsi Ransum yang dimakan

Klas Berat Badan Energi metabolisme yangdikonsumsi (M)*

M 2M 3M

Zona Suhu Netral ( oC)**

Menyusu

Sapihan

Grower

Finisher

Induk Bunting

Induk Bunting

2 kg

20 kg

60 kg

100 kg

Kurus

Gemuk

31-33

26-33

24-32

23-32

20-30

19-30

29-32

21-31

20-30

19-30

15-27

13-27

29-31

17-30

16-29

14-28

11-25

7-25

  • Kebutuhan Maintenance diasumsikan 0,42 MJ ME (0,44 MJ DE ) per Kg 0,75 per hari
  • Menggunakan ternak babi dalam kandang individu dengan iklim yang terkontrol dan pergerakan angin yang minimum ( kurang dari 0,25 m/det)

Dari data pada tabel 1. terlihat bahwa rentangan suhu zona netral menurun dengan penambahan berat badan dan penambahan kandungan energi pakan yang dikonsumsi. Akan tetapi perlu juga diperhatikan faktor-faktor iklim ( pergerakan angin, kelembapan, dll) dan faktor ternak ( kepadatan kandang, bentuk dan aktifitas, kebasahan kulit) hal ini akan merubah rentangan tersebut.

Bila temperatur naik dibawah temperatur kritis, babi akan menderita stress panas, keseimbangan panas di tahan dengan meningkatkan pelepasan panas melalui respirasi (panting) dan meningkatkan aliran darah ke bawah kulit, karena babi mempunyai jaringan keringat yang tidak aktif maka dengan itu penguapan melalui kulit sangatlah rendah hanya 30 g/m2/jam (Ingram, 1965). Konsekuensi dari perubahan fisiologi ini, kebutuhan energi untuk tujuan ini cenderung meningkat dengan kata lain ketersediaan energi untuk pertumbuhan akan berkurang, juga akan membuat ternak mengalami masa infertil, Penurunan luas mata tulang rusuk, (Tonk et.al. 1972), kelebihan lemak pada saat dipotong (Houghton et.al. 1964) dan meningkatkan proporsi lemak jenuh (Fuller et al. Fuller et.al. 1974) .

Sebuah indikasi peningkatan respirasi adalah tanda bahwa ternak tersebut mengalami tekanan panas. Kecepatan respirasi ternak rata-rata 50-60 kali/menit ketika ternak babi dalam keadaan istirahat . Ciri lain dari ternak babi yang mengalami cekaman panas adalah perubahan tingkah laku (posisi tubuh, membasahi tubuhnya) dan meningkatkan konsumsi air (khususnya jika air dingin).

Ciri-ciri lain yang dramastis akibat stress panas adalah ditandai dengan penurunan konsumsi pakan, hal ini mengakibatkan penurunan pertumbuhan sehingga pada saat ini kita sulit untuk memprediksi pertumbuhan ternak. Rasio feed confersi tidak berpengaruh, deposisi lemak lambat, sehingga terlihat kurus. Akan tetapi jika proporti pertumbuhan daging relatif lebih rendah akibat penurunan feed intake di banding dengan perkembangan lemak maka ternak akan menjadi lebih gemuk dari pada yang diharapkan pada saat dipotong.

Tabel 2. Effek dari panas ( 12 jam dengan suhu 24 oC dan 12 jam dengan suhu

35 o C) atau kondisi dingin ( 24 jam pada suhu 22 oC) pada ternak babi

45 – 90 kg, dengan energi ransum tinggi (14,6 MJ DE/kg) dan

Rendah (12,5 MJ DE/kg) (Vajrabukka et al. 1981)

14,6 MJ 12,5 MJ

Keterangan

Feed Intake (kg/h)

Pertumbuhan (kg/h)

FCR

Persentase karkas (%)

P2 Fat (mm)

Dingin

2,00

0.72

2.79

77.2

24

Panas

1.48

0.51

2.90

75.0

22

Dingin

2.01

0.69

2.92

75.3

22

Panas

1.59

0.49

3.25

73.8

19

Dari penelitian di Australia terhadap ternak babi dengan perlakuan lingkunganyang dikontrol Tabel 2. menunjukkan bahwa feed intake menurun akibat stress panas, pertumbuhan menurun hingga 29 – 43 %. Juga ditemukan bahwa suhu lingkungan yang tinggi membutuhkan energi yang tinggi untuk hidup pokok dari pada ternak yang ditempatkan dalam kondisi lingkungan yang dingin.

1. Managemen Nutrisi Musim Panas

Pertimbangan faktor nutrisi sangat membantu untuk mengurangi akibat stress panas, dua aspek yang sangat diperlukan :

a. Menurunkan jumlah panas dari makanan yang di konsumsi babi.

Panas dihasilkan di dalam tubuh pada saat makanan dikonsumsi (heat increment) panas ini merupakan hasil dari proses pencernaan dan penghancuran bahan makanan. Makanan yang berserat menghasilkan panas yang paling tinggi dalam proses pencernaannya, kemudian diikuti oleh protein,karbohidrat dan disusuloleh lemak. Oleh sebab itu kita menggunakan bahan yang stress panasnya yang lebih rendah dengan energi yang tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Penggunaan Asam amino sintetik akan mengurangi jumlah protein yang ada dalam ransum ( dengan sarat asam amino lain seimbang) sehingga dengancara ini kita akan mengurangi panas yang dihasilkan selama proses pencernaan . Cara lain adalah dengan memberikan makan pada ternak pada saat hari dingin (pagi/malam hari) atau memberi pakan sesering mungkin dalam jumlah kecil.

b. Menghindari pengaruh dari penurunan feed intake

Ternak biasanya jika mengalami cekaman panas akan berusaha menurunkan produksi panas dengan mengurangi feed intake oleh sebab itu apa yang kita lakukan pada saat sebelum dan sesudah cekaman panas.

Jika babi dalam keadaan stress akan menurunkan ketersediaan elektrolit dalam darah sehingga nafsu makan menurun, oleh karena itu penambahan amonium klorida dan natriumkarbonat dapat ditambahkan dalam ransum dalam keadaan tunggal atau kedua-duanya dengan konsentrasi 0,5-1 %.

Elektrolit ini berguna untuk membantu kehilangan alkali respirasi yang digunakan ternak selama panting, untuk membuang panas dari tubuh, yang berakibat penurunan nafsu makan . Pakan yang baik akan menurunkan panas yang dihasilkan selma proses pencernaan serta dalam jumlah yang kecil dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak babi. Bahan makanan harus mempunyai energi (DE), asam amino essensial seperti lisin, methionin dan vitamin/mineral mikro.

Sebaiknya pencatatan produksi harus diperhatikan dengan baik supaya kita mengetahui perubahan pakan yang kita gunakan terhadap perubahan pertumbuhan. Seperti energi ransum seharusnya mengandung tidak kurang 14 MJ/kg untuk babi finisher dan 14,5 MJ/ kg untuk babi grower, energi yang tinggi ini dapat dipenuhi dengan penambahan minyak (tallow) 5-6% pada bahan pakan .

Penambahan lysin energi rasio pakan grower dan finisher hingga 0,03 – 0,06 lebih tinggi pada musim panas di banding musim dingin. Aspek lain yang harus diketahui adalah berapa kebutuhan ternak sebenarnya dalam suatu peternakan karena perbedaan bangsa mengakibatkan perbedaan kebutuhan pula untuk pertumbuhannya.

Perlu juga diketahui kandungan bahan makanan yang kita gunakan, karena perbedaan musim panen, penyimpanan, kepadatan tiap wadah, juga dalam membeli dan mengganti bahan makanan seperti jagung diganti dengan gandum harus mengetahui kandungan bahan tersebut, sehingga dalam penyusunan ransum sesuai dengan kebutuhan dimasa panas tidak salah.

2. Mengurangi Effek Infertilitas Induk akibat panas

Penurunan sifat reproduksi terjadi bila suhu lingkungan tinggi dan panjang siang lebih pendek, dikenal dengan istilah musim infertil. Kejadian ini ditandai dengan : a. Penambahan jumlah induk yang tidak estrus setelah 5 hari disapih. b. Sering terjadi birahi tersembunyi (silent heats) c. Tingkat konsepsi yang rendah d. Estrus yang tertunda pada babi dara dan lama estrus yang semakin singkat e. Sering terjadi pengawinan ulang kembali atau konsepsi yang gagal serta kegagalan inplantasi dari embrio.f. serta penurunan motilitas spermatozoa .

Untuk itu perlu dilakukan usaha-usaha sebagai berikut :

a. Memodifikasi iklim dikandang dengan sistem ventilasi, isulator dan sifat atap yang memantulkan cahaya. Pemberian sprinkler (semprotan air) pada induk kering

sangat menguntungkan diperoleh bahwa penyiraman dengan 2-30 menit/hari menghasilkan feed intake yang tidak berubah pada suhu kandang 35 oC, serta dapat membawa uap air tari dubuh ternak sebesar 800 g/m2/jam.

b. Pemberian suplemen vitamin oC dalam ransum induk dan jantan tidak menunjukkan gejala musim infertil pada suhu panas.

c. Membuat sistem sosial yang baik bagi babi dara dan induk kering dengan cara mengandangkan mereka dalam kelompok ( 4-5 ekor) disamping kandang jantan berumur lebih dari 10 bulan dengan luas lantai minimum 1,8 m2 /ekor. Bau, suara, penglihatan dan sentuhan jantan dewasa dapat merangsang saraf pusat yang mengontrol pengeluaran hormon yang mengaktifkan ovarium .

d. Meningkatkan stimulasi pada babi dara/ induk kering dengan memasukkan ke kandang jantan minimum 10 menit /hari pada kandang kawin.

e. Pakan induk sapihan dan dara berenergi tinggi (> 13,5 MJ DE/kg) ad libitum, 14 hari sebelum dikawinkan, untuk meningkatkan jumlah ovulasi sel telur, walaupun respon ini lebih rendah pada induk dewasa.

f. Pakan induk kering tidak kurang 24 MJ yang mengandung minimum 13 % protein dan 0,35 g lisin /MJ DE. Perlakukan induk dalam kandang individu selama masa kebuntingan. Pada tabel 3. terlihat bahwa kebutuhan energi maintenance meningkat pada suhu 33 dan 35 oC dibanding dengan suhu 25 oC, sedangkan retensi nitrogen efisiensi penggunaan Energi Metabolisme untuk pertumbuhan dan retensi nitrogen menurun pada suhu tinggi, Induk menyusui biasanya mengkonsumsi makanan kurang selama musim panas. Pakan khusus induk menyusui mengandung minimum 13,5 MJ DE/kg , 15 % protein kasar dan lisin energi rasio 0,55 g/MJ minyak tanaman atau hewan dapat dgunakan pada bagian permukaan pakan.

Tabel 3. Kebutuhan energi maintenance (kJ/Kg0.75/d) dan effisiensi penggunaan

energi metabolisme (ME) untuk pertubuhan berat badan (k) pada babi

bertumbuh dengan lingkungan 20 oC dan 34 oC

Berat badan

(kg)

Suhu Lingkungan (oC)

Kebutuhan energi

Maintenance

Retensi energi

(k)

Referensi

37-45

59-64

25

33-35

25

33-35

355

385

435

410

0.64

0.66

0.68

0.61

Holmes (1973)

31-78

25

34

481

523

0.83

0.75

Holmes (1974)

20-50

20

25

30

476

439

469

0.71

0.67

0.63

Close(1978)

g. Jika induk muda tidak dapat mengkonsumsi 5 kg dari kebutuhan 6 kg, pakan grower atau sapihan dapat diberikan, tergantung pada kondisi tubuh, panjang laktasi dan jumlah anak yang menyusui, kebutuhan tiap hari adalah 65-80 MJ DE, 620-820 g protein dan 37 g lisin.

h. Untuk merangsang nafsu makan induk dengan cara memberikan pakan basah, yang diberikan pada hari yang paling sejuk, denga air minum yang sejuk 12 oC memperbaiki tingkat pertumbuhan 68 g/hari daripada air minum hangat 30 oC. Font et. al. Menemukan bahwa peningkatan suhu lingkungan 10 oC meningkatkan jumlah minum sebesar 50-100 %, contoh babi grower berat badan 50 kg suhu lingkungan 20 oC dan 33 oC jumlah minum harian 4,61 dan 8,41 liter. Jantan berat badan 70-110 kg pada suhu lingkungan 15 dan 25 oC mengkonsumsi air berturut-turut sebesar 10 dan 15 liter/hari. Konsumsi air tidak hanya tergantung pada suhu lingkungan dan feed intake akan tetapi tergantung pula pada suhu air minum. Vajrabukka et. al. 1981, Contoh pada suhu lingkungan 22 oC dengan suhu air minum 11 oC dan 30 oC konsumsi air minum berturut-turut 3 dan 4 l/hari. Sedangkan pada suhu lingkungan 35 oC dengan suhu air minum 25 oC dan 12 oC konsumsi air berturut-turut 11 dan 7 liter/hari. Menggunakan pakan yang mempunyai palatabilitas yang tinggi di berikan dua kali sehari untuk menjaga kesegaran pakan.

i. Karena babi dara atau babi yang pertama kali melahirkan paling mudah terpengaruh oleh iklim oleh sebab itu perhatian harus diberikan lebih pada kelompok ini.

j. Sebaiknya jantan dikandangkan pada suhu lingkungan maksimum 29 oC untuk menjaga fertilitas denganmenjaga proses spermatogenesis di testis dan mening-katkan libido jantan Stone (1982).

3. Mengurangi Kelebihan Lemak Saat Potong

Pada musim panas biasanya ternak finisher mempunyai kelebihan lemak, Biasanya pada kandang yang kontrol suhu yang kurang baik babi biasanya lebih kurus pada kondisi yang dingin karena energi banyak digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh dari pada untuk pertumbuhan atau menyimpan lemak, berlawanan dengan masa panas jumlah energi pakan yang sama pada musim dingin akan digunakan untuk pertumbuhan dan penyimpanan lemak hal ini terjadi karena energi yang diperlukan untuk mempertahankan panas tubuh pada musim panas lebih rendah dari pada musim dingin.

Untuk mengantisipasi ha lini perlu dilakukan usaha-usaha sebagai berikut :

a. Lakukan modifikasi terhadap jumlah dan komposisi bahan makanan akibat perbaikan mutu genetik yang digunakan.

b. Untuk mengurangi jumlah lemak pada karkas dengan cepat melalui menurunkan energi yang dikonsumsi, hal ini dilakukan pada akhir fase pertumbuhan.

c. Pada babi yang berat 50-60 kg, penyimpanan lemak pada karkas relatif lebih rendah dibanding dengan ternak yang lebih berat. Akan tetapi penimbunan lemak sering terjadi pada temperatur yang tinggi, oleh karena itu pembatasan feed intake atau energi ransum perlu diperhatikan.

d. Pemeriksaan tebal lemak punggung pada umur 6 bulan, merupakan indikasi pada pemberian energi yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama, Lemak punggung yang lebih dari 12 mm pada berat ini menunjukkan kelebihan dalam konsumsi.

e. Pemberian pakan ad libitum perlu dihentikan bila berat badan telah 40-60 kg, hal ini dilakukan tergantung pada grade dan berat badan berapa babi dipotong.

f. Cari energi ransum yang baik dan tetap dari grower ke potong, dengan cara mengalikan energi ransum dengan jumlah pakan yang dkonsumsi contoh : 13,5 MJ DE/kg x 2,5 kg = 33,8 MJ DE. Sebuah pegangan pada babi dengan masalah lemak, finisher maksimum diberikan pakan dengan energi 30-34 MJ/ekor/hari.

g. Babi jantan biasanya lebih kurus dibandingkan dengan babi dara sehingga dapat ditolerir pemberian ad libitum untuk jangkawaktuyang lama dan diakhiri dengan pemberian sedikit lebih Mega Joule perhari.

h. Memberikan pakan yang seimbang dengan catatan pakan mempunyai perbandingan lisin energi yang tinggi adalah mahal dan tidak akan menurunkan tebal lemak punggung.

i. Selama bulan panas, dianjurkan untuk pakan babi finisher rasio lisin energi ditingkatkan 0,05 dari 0,6 menjadi 0,65 g/MJ DE. Penambahan ini untuk mengimbangi penambahan energi untuk menahan panas dan menjaga pertumbuhan tetap.

j. Babi yang sedang bertumbuh akan menderita bila pakan dibatasi, akan tetapi lemak punggung akan menurun, kompromi terhadap pertumbuhan dan grading walaupun kehilangan insentif untuk memproduksi babi grade 2 da 3, Membiarkan ternak kelaparan untuk memperoleh prime grade tidaklah ekonomis.

Daftar Pustaka

Bont, T.E.., Kelly, C.F. dan Heitman,H. 1959. Trans.Am. Soc.Agric. Engrs 2,1.

Close, W.H. 1991. Recent Advances in Animal Nutrition in Australia. P. 144.

University of New England, Armidale.

Close, W.H. dan Mounth, L.E., 1978. Jurnal Animal Nutrition ed. 40 . P.413-421.

University of New England, Armidale.

Holmes, C.W. dan Close, W.H. 1977. Nutrition and the Climatic Envirinment. P.51.

Butterworths, London.

Houghton, T.R. , Butterworth, M.H., Kind, D., dan goodyear, B., 1964. J.Agric. Sci.

Camb. 63, 43-51.

Ingram, D.L. 1965. Nature. P.207,415-16. London.

Stone, B.A., 1982. Proc. Aust. Soc. Anim. Prod. 14, 245-6.

Vajrabukka, C., Thwaites, C.J. dan farell, D.J. 1981. Recent Advances in Animal

Nutrition in Australia. P.99. University of New England, Armidale.

Tonks, H.M., Smith,W.C., dan Brice, J.M. 1972. Veterinaria Rec. 9, 531-7.

William, K.C., Neill, A.R. Magee, M.H. dan Peters, R.T. 1991. Manipulating Pig

Production III. Australasian Pig Science Association. Werribe.

Published by admin on 19 Feb 2009

MANAGEMEN POLUSI UDARA PETERNAKAN

Bau disebabkan oleh 80 macam Gas diantaranya Amonia,

Hidrogen sulfida, skatol,indol dsb. Berasal dari urin

Dan feses ternak mayarakt tidak nyaman.

Tingkat Pembentukan bau ditentukan :

1. Rancangan Pelindung,

2. Sistempembungan dan

3. Pengumpulan Limbah dan

4. Manajemen peternakan,

yg dipengaruhi iklimdan topografi.

Bau merupakan hasil penguraian (Dekomposisi) manure.

Penyebaran Bau Oleh Udara dan Angin, Sinar Matahari,

Awan, Suhu.

Dekomposisi melalui proses Aerobil dan Anaerobik.

Aerobik ada O2 Dekomposisi lengkap menghasilkan

karbohidrat, air, bahan terlarut,nitrogen

anorganik,senyawa belerang, menghasilkan bau

SEDIKIT.

Anaerobik, tanpa O2 Dekomposisi kurang lengkaP, hasil

lebih kompleks seperti amonia, hidrogen sulfida,

metan menghasilkan bau lebih BANYAK.

Mengurangi Pembentukan Bau

|KANDANG

  • Pembersihan kandang harus teratur
  • Penggunaan Bakterisida danDesinfektan dikurangi.
  • Penggunaan air Recycle dapat mengurangi bau.
  • Genangan air dikandang dihindari.

SALURAN

a. Dibuat dari bahan yang halus, beton,

b. Harus mempunyai kemiringan 1 %.

c. Pipa tertutup harus mempunyai kemiringan 1 %.

d. Pemisahan saluran limbah dan air hujan.

KOLAM

  1. Kolam anerobik yang paling efektif mengurangi bau.
  2. Pemuatan limbah tidak lebih kapasitas kolam.
  3. Ph Kolam harus dijaga senetral mungkin.
  4. Sampah asing, sisa kelahiran,ternak mati tdk masuk kolam.
  5. Bangunan bisa ditutup menghasilkan energi sehingga bau dikurangi.

TERNAK MATI

  1. Dapat menggunakan Buaya, Lele, Dog Food,dll.
  2. Penguburan harus ditutup tanah
  3. Bila dilakukan pengomposan ternak mati ditutup serbuk gergaji 3 m.

PENANAMAN PEPOHONAN

  1. Bunga atau tanaman yang menyerap bau
  2. Penanaman pohon tinggi untukmenahan angin
  3. Pemanfaatan Limbah Untuk Pepohonan/tanaman

seperti kompos.

MANIPULASI PAKAN

  1. Hindari penggunaan pakan yang menghasilkan bau.
  2. Buat pakan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan.
  3. Penambahan enzim,probiotik meningkatkan kecernaan bahan pakan.
  4. Penggunaan zeolit untuk mengurangi bau manaure.
  5. Pemberian jumlah pakan yang secukupnya tdk sisa
  6. Pemberishan tempat pakan yang rutin.

Published by admin on 19 Feb 2009

Kandang Babi

Alasan utama untukmengandangkanternak babi adalah untuk memodifikasi iklim alami dan menghasilkan suatu lingkungan yang lebih baik, hal ini akan memberi :

- laju pertumbuhanyang lebih cepat

- Effisiensi/ konversi ransum yang baik

Untuk itu perlu kita ketahui tentang lingkungan TERBAIK untuk ternak babi dan bagaimana untuk mencapainya serta mengatasi penyebab masalah lingkungan.

Kalau kita berbicara tentang lingkungan, pertama kali kita ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan LINGKUNGAN PANAS.

1. Lingkungan Panas dari seekor ternak babi adalah kombinasi dari :

- Temperatur udara ( C, F ) - Kelembapan ( Rh %)

- Kecepatan udara diatas/ pada ternak babi ( m/menit)

- Tipe lantai - Perubahan pancaran panas

Semua ini mengontrol keseimbangan energi dari ternak babi atau turut menentukan berapa energi dari ransum digunakan untuk pertumbuhan dan berapa untuk supaya tetap hangat.

2. Lingkungan Fisik

Antara lain :

- bentuk dan ukuran kandang - bau

- gas dan konsentrasi debu - cahaya

- kebisingan

Semua ini mempengaruhi tingkah laku ternak babi dimana akan berpengaruh terhadap : Konsumsi ransum dan laju pertumbuhan. Babi pada dasarnya seperti manusia adalah mahluk homeothermik yang berarti mempertahankan suhu tubuh secara konstan (39 oC)dengan lingkunganyang berubah-ubah.

Untuk lingkungan panas kita mengenal :

1. Perpindahan panas dari ternak babi , yang dapat terjadi melalui :

- Konduksi ( perpindahan panas antara permukaan yang bersentuhan)

- Konveksi ( Perpindahan panas dengan pergerakan udara atau gas)

- Radiasi (Perpindahanpanas dengan pancaran panas)

- Evaporasi/ Pengupan (kehilangan panas dari paru-paru yang dapat meningkat dengan napas pendek/cepat atau kehilangan panas dari permukaan kulit dengan membasahi dirinya sendiri.

2. Temperatur kritis terendah, tertinggi dan daerah netral yaitu :

- Temperatur kritis terendah (TKR) adalah temperatur udara dibawah dimana ternak babi membakar tambahan energi ransum untuk tetap hangat.

- Temperatur Kritis Tertinggi (TKT) adalah temperatur udara diatas dimana ternak babi harus mengurangi konsumsi ransumnya untuk mengurangi produksi panas/ energi dengan demikian temperatur tubuhnya tidak naik/tetap.

- Temperatur Daerah Netral (TDN) adalah temperatur antara TKR dan TKT dimana ternakbabi mempertahankan pada temperatur yang menyenangkan dalam arti secara fisik . Secara tidak sadar dengan vasodilation dan vasocontriction (pembesaran/ penyempitan saluran darah /blood vessel) yang berguna untuk merubah aliran darah ke kulit. Secara tidak sadar dengan perubahan tubuh seperti membungkuk atau terlentang.

Ternak babi apakah berada pada TKR atau TKT tergantung kepada :

- Berat - Ketahanan

- Panas lantai - Kecepatan udara

- Perolehan energi - Ukuran kelompok

- Pancaran panas

Hal ini oleh Bruce (1981) mengkombinasikan faktor-faktor ini dalam suatu mode matematika untuk memperkirakan TKR dan TKT untuk ternak babi , model ini sudah barang tentu sangat berguna karena memungkinkan kita untuk membandingkan lingkungan yang berbeda atau membuat keputusan dan sekaligus untuk memperbaikinya.

3. Lingkungan Fisik mencakup :

I Kebisingan dan cahaya, kedua faktor lingkungan ini kelihatannya mempunyai pengaruh kecil terhadap penampilan ternak.

II Bau dan Gas : gas amoniak (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) dilepaskan selama penguraian dari air kencing dan kotoran. Kedua gas ini adalah beracun dan pada konsentrasi yang rendah dapatmenyebabkan infeksi pada alat penapasan .

a. NH3

Dapat dideteksi dengan bau pada konsentrasi 5 ppm, Hasil percobaan di A.S. memperlihatkan bahwa kisaran pada 50-70 ppm hanya berpengaruh kecil terhadap laju pertumbuhan , tetapi perlu diingat bahwa selalu terjadi interaksi

lingkungan dengan demikian perlu dijaga agar konsentrasi amoniak di bawah 10 ppm.

b. H2S

Dapat dideteksi dengan bau pada konsentrasi kurang dari 1 ppm . batas yang aman untuk tempat kerja adalah 10 ppm dan batas/ ukuran ini merupakan maksimum yang diperbolehkan untuk peternakan babi.

c. CO2

Adalah hasil dari pernapasan dan harus tidak lebih dari 3000 ppm. Konsentrasi normal CO2 dari dalam udara adalah 340 ppm. Ketiga gas ini dapat dideteksi dengan Disposal Gas –Detecting Tubes.

III Ruangan ; ternak babi menggunakan ruangan dalam suatu kandang tergantung pada : Temperatur , bentuk kandang, ukuran, type lantai, lokasi/ penempatan tempat ransum dan minuman serta tingkat sosial dalam kelompok.

Ketentuan ruangan yang telah ditentukan oleh Victorian Welfare Code adalah

Berat badan babi (kg)

Luas (m2)

11 – 20

21 – 40

41 – 60

61 – 80

81 – 100

0.18

0.32

0.44

0.56

0.65

Bagaimana Mencapai Lingkungan yang Baik :

  1. Insulasi ; harus digunakan pada semua daerah peternakan babi dan mengurangibiaya pengeluaran suatu usaha peternakan babi dengan 3 cara :

- Memperbaiki EPM ( ternak merasa hangat dengan cara merobah lebih banyak energi menjadi panas).

- Mengurangi kondensasi/ pengembunan (dengan menjaga atap tetap hangat, pengembunan dapat dikurangi atau dihilangkan dan atap akan tidak berkarat).

- Memperbaiki laju pertumbuhan; (mengisolasi atap dan menjaganya lebih dingin dan mengurangi pancaran panas, dengan demikian keadaan babi menyenangkan dan memungkinkan ternak babi untuk makan lebih banyak sehinggga pertumbuhan meningkat).

B. Aliran udara/ ventilasi ; pengertiannya adalah pergantian udara di dalam dengan udara diluar. Ventilasi diperlukan untuk :

- Pengeluaran CO2 dan diganti dengan O2 (oksigen)

- Memindahkan gas dari kotoran, amoniak dan H2S.

- Memindahkan air yang dihasilkan dari musim 9iklim) dingin

- Mengeluarkan kelebihan panas tubuh dan penyinaran pada musim panas (hangat)

- Mengeluarkan air yang diuapkan (evaporasi) dari air siraman yang digunakan pada musim panas.

BENTUK BANGUNAN UNTUK BABI SAPIHAN

DAN SEDANG BERTUMBUH

Dalam merancang suatu kompleks peternakan babi, sasaran atau tujuan dapat dinyatakan pada salah satu atau beberapa dari pada hal sebagai berikut :

a. Untuk mengandangkan ternak babi baik menggunakan ventilasi dengan tenaga maupun ventilasi secara alami.

b. Memberikan fasilitas untuk babi yang dipelihara dan

c. Untukmenghasilkan daging

Rancangan perkandangan dapat berubah dari waktu lalu ke sekarang berdasarkan pengalaman sebelumnya baik kegagalan maupun keberhasilan. Dalam merancang suatu perkandangan selalu dipertimbangkan agar biaya sekecil mungkin, dengan penampilan dan kualitas yang dapat diterima.

Tetapi pada kandang ternak sebenarnya tekananutama (paling besar) ditujukan pada penampilan dimana hal itu mempengaruhi terhadap biaya dari sistem produksi.

Dalam merancang bangunan utnuk ternak terdapat enam data dasar yang diperlukan, dimana satu dengan yang lain tidak terpisah tetapi harus dipertimbangkan segala interaksi dan pengaruhnya ;

1. Lingkungan Bangunan

Tersedianya informasi yang cukup tentang lingkungan ternak sehingga memung-kinkan kita untuk menduga modifikasi iklim yang diperlukan untuk mencapai penampilan optimum secara ekonomis. Modifikasi lingkungan memungkinkan merubah makanan menjadi daging secara effisien (merupakan alasan yang prinsipal untuk kandang ternak babi). Untuk mencapai dan mempertahankan produksi yang optimum diperlukan faktor antara lain untuk mempertahankan kondisi iklim optimum/ lingkungan optimum sejalan dengan kebutuhan ternak.

Apa yang dimaksud dengan lingkungan optimum ?, faktor apa yang mempengaru-hinya ? Effisiensi produksi ternak babi tergantung kepada keberadaan dimana zat makanan dalam ransum yang digunakan untuk kebutuhan pokok dan untuk produksi jaringan ternak, dengan sistem perkandangan yang intensif sehingga ternak tidak bebas untuk memiliki kondisi tempat tinggal dimana adalah terbatas, oleh karena itu adalah penting untuk mengetahui atau mengerti pengaruh lingkungan terhadap kesehatan ternak, kesejahtraan dan produktivitas.

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa daerah temperatur netral (DTN/ Thermo Netral Zone) dikenal sebagai :

- kisaran temperatur udara dimana laju metabolisme ternak babi adalah dalam suatu keadaan minimum, tetap dan bebas dari temperatur udara.

- Kisaran suhu udara dimana metabolisme secara normal diperoleh atau secara mencukupi

- Produksinya panas danhilangnya panas dari tubuh adalah kira-kira sama atau seimbang.

Keseimbangan energi dari seekor ternak beberapa sangat dipengaruhi oleh temperatur dan sering digunakan sebagi kriteria tunggal, dalam merinci atau speci-fikasi lingkungan.

2. Zoometry dan tingkah laku ternak

Zoometrik adalah ukuran dari ternak dan hubungannya dengan lingkungan kandang, ini sangat penting karena ukuran ternak babi pada umur yang berbeda perlu dijamin agar bangunan dan peralatan berfungsi untuk ukuran kandang ternak babi. Zoometrik perlujuga diketahui untuk pemanfaatan peralatan dapat difungsikan dihubungkan dengan ukuran kandang.

Ukuran ternak babi harus digunakan untuk rancangan peralatan dengan baik seperti

- tempat makanan ransum

- tinggi alat minum (kalau menggunakan water nipple )

- ukuran dan jarak slat dll

Data zoometrik (seperti berat, panjang, umur dan ukuran langkah ternak babi) digunakan untuk rancangan perkandangan.

3. Bahan dan struktur bangunan

Bahanyang banyak digunakan terutama diluar negeri adalah ;

- Stainless steel untuk gerobak makanan , kandang babi di daerah yang sangat berkarat, lantai berkisi dan alat minum.

- Pipa Polivinilchlorida (PVC) untuk air dan membawa makanan.

- Kayu Blok (timber) untuk menjaga panas apalagi diberi perlakuan untuk memberi daya tahan terhadap kelembaban.

- Bahan kawat untuk cenderung lebih bersih

- Bahan plastik lebih disenangi oleh ternak karena bahan tersebut hangat.

4. Hasil, Hasil Sampingan dan Kotoran

Pada suatu usaha peternakanbabi yang dijalankan, kotoran ternak adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari sebagai mana halnya ternak babi itu sendiri dan keduanya harus ditempatkan pada rancangan, pertimbangan seksama harus diberikan trhadap penyimpanan, pemindahan dan penggunaannya, jadi pada tahapawal perencanaan sudah harus dipikirkan atau dipertimbangkan.

Berapa ransum yang tidak pernah dimakan oleh ternak babi (terbuang) ? Beberapa peneliti berpendapat makana/ransum yang terbuang berkisar antara 6-9 % bahkan ada yang sampai 30 %. Tempat makanan memegang peranan dalam mengurangi ransum yang terbuang dan juga type lantai misalnya slat dimana ransum terbuang langsung kebawah!.

Aspek lain yang sering dilupakan adalah AIR , dalam hubungan ternak dengan air kita harus mengetahui. :

- Berapa konsumsi air tiapekorternak babi

- Berapa konsumsi air tiaphari pada suatu usaha peternakan babi

- Berapa laju pengaturan (kemampuan penyediaan air) litter/menit yang harus dilakukan untuk memenuhi ha ltersebut.

Kebutuhan air yang tidak memadai akan mendahului kesulitan produksi

- penampilan dan daya nafsu makan berkurang

- perkelahian dan cekaman meningkat

- kerugian untuk periode waktu panjang yang akhirnya berakibat fatal.

Jumlah air yang digunakan untuk unit peternakan babi yang besar dan intensif dapat berbeda dari 11 litter/ekor/hari (atau lebih rendah) hingga pada suatu puncaknya 24 litter/ekor/hari pada musim panas, hal ini tergantung pada :

- apakah air digunakan untuk membersihkan

- air terbuang dari alat minum

- air digunakan untuk mendinginkan/ menyiram trnak dlsb.

5. Pekerjaan Rutin dan Kebutuhan Tenaga Kerja

Mekanisasi pertanian kelihatannya secara berangsur menggantikan tenaga kerja dengan sistem mesin secara intensif, tidak terkecuali dengan industri peternakan babi misalnya :

- alat makanan secara mekanik

- alat pendorong yang dijalankan secara otomatis

- kontrol lingkungan kandang secara otomatis dengan cara termostatik

- kontrol kipas dan keran

- pengambilan kotoran dengan sistem pendorong

6. Modal dan Biaya Operasi.

Sebagaimana kondisi temperatur bergerak naik turun dari kisaran optimum, energi selalu dipertahankan untuk pertambahan berat badan. Fuller (1970) menyarankan bahwa penambahan 0,026 kg ransum diperlukan oleh seekor babi sedang bertumbuh untuk tiap oC dibawah kebutuhan temperatur kandang .

Total rancangan peternakanbabi, perlu dipertimbangkan kelayakan ekonomi secara keseluruhan dan biaya bangunan dari produksi ternak babi. Sering terjadi kenaikan biaya bahanbangunan jauh lebih besar dari kenaikan harga daging babi. Misalnya di Australia kenaikan biaya bangunan (1970-80) hingga April 1986 adalah 60 %, sedangkan kenaikan harga daging babi pada waktu yang sama hanya 15% .

Tentang perkandangan dapat saudara baca :

BAXTER,S , 1984. Intensive Pig Production, Environmental Management and Design. Granada. London.

Published by admin on 19 Feb 2009

Nutrisi dan Ransum Babi

Pakan Ternak Babi

Babi adalah ternak monogastric dan bersifat prolific (banyak anak tiap kelahiran), pertumbuhannya cepat dan dalam umur enam bulan sudah dapat dipasarkan. Selain itu ternak babi efisien dalam mengkonversi berbagai sisa pertanian dan restoran menjadi daging oleh sebab itu memerlukan pakan yang mempunyai protein, energi, mineral dan vitamin yang tinggi (Ensminger, 1991). Contoh bahan pakan yang biasa dipakai di Papua dan NTT : daun dan ubi jalar/kayu, daun2 legum, batang dan buah pisang, cacing tanah, katak/kodok, daun dan buah labu, buah merah, batang talas dan pepaya dimasak dulu, jambu biji, tebu,kangkung, batu kapur, abu tungku, tulang hewan/ikan.

Konsumsi Ransum

Ransum adalah makanan yang disediakan bagi ternak untuk 24 jam (Anggorodi, 1994). Suatu ransum seimbang menyediakan semua zat makanan yang dibutuhkan untuk memberi makan ternak selama 24 jam.

Tabel 1a . Konsumsi Ransum dan Air Minum Babi Menurut Umur / Periode

Umur

Fase Produksi

Macam Ransum

Konsumsi

(kg/hari/ekor)

Air minum

(l/ekor/hari)

1-4 mg

4-8 mg

8-12 mg

12-16 mg

16-20 mg

20 – di jual

Induk / Bibit

Dara (6 bln)

Jantan (6 bln)

Induk Kering

Bunting

Induk Laktasi

Jantan aktif

Susu Pengganti

Pre Starter

Starter

Grower

Grower

Finisher

Grower

Grower

Bibit

Bibit

Bibit

Bibit

0.02-0.05

0.5-0.75

1.00-1.25

1.5-2.00

2.25-2.75

2.75-3.5

1.5-2.00

1.5-2.00

2.50-3.50

2.00-2.50

3.00-4.50

2.00-2.50

0.25-0.5

0.75-2.0

2.0-3.5

3.5-4.0

4.0-5.0

5.0-7.0

6.0-8.0

6.0-8.0

7.0-9.0

7.0-9.0

15.0-20.0

7.0-9.0

Ket : Konsumsi Tergantung pada : Bentukpakan, JenisPakan, Kandungan Ransum,

Kepadatan kandang, Suhu Lingkungan, Stress dan Manajemen.

Konsumsi ransum sangat dipengaruhi oleh berat badan dan umur ternak. Hafez dan Dyer (1969) menyatakan bahwa konsumsi ransum akan semakin meningkat dengan meningkatnya berat badan ternak. Jumlah ransum yang dikonsumsi juga akan bertambah dengan bertambahnya umur ternak.

Temperatur juga dapat mempengaruhi jumlah konsumsi ransum harian. Pada temperatur yang tinggi ternak akan mengurangi konsumsi ransum (Devendra dan Fuller,1979). Tingginya kandungan serat kasar dalam ransum akan mempengaruhi daya cerna dan konsumsi ransum sekaligus mempengaruhi efisiensi penggunaan makanan (Tillman et al., 1984).

Efisiensi Penggunaan Makanan

Efisiensi penggunaan makanan merupakan pertambahan berat badan yang dihasilkan setiap satuan ransum yang dikonsumsi. Efisiensi penggunaan makanan tergantung pada (1) kebutuhan ternak akan energi dan protein untuk pertumbuhan, hidup pokok atau fungsi lain, (2) kemampuan ternak mencerna makanan, (3) jumlah makanan yang hilang melalui proses metabolisme dan (4) tipe makanan yang dikonsumsi (Campbell dan Lasley, 1985).

Devendra dan Fuller (1979) juga menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi efisiensi penggunaan makanan adalah nutrisi, lingkungan, kesehatan ternak dan keseimbangan ransum yang diberikan.

Bogart (1977) menyatakan bahwa efisiensi penggunaan makanan dapat digunakan sebagai parameter untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai pertambahan berat badan yang baik.

Beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun ransum babi adalah ketersediaannya dilapangan dalam arti mudah untuk memperolehnya, Kandungan zat-zat makanan mencukupi bagi kebutuhan ternak babi, ekonomis dan efisien dalam mencerna bahan-bahan makanan yang diberikan. Kebutuhan zat makanan babi lepas sapih tergantung pada umur dan bobot badan seperti Tabel 1b (NRC.1998) .

Kandungan protein (asam-asam amino) ransum yang optimal pada ransum babi harus pula memperhatikan kandungan energinya, hal ini disebabkan karena sejumlah energi tertentu dibutuhkan per tiap gram protein dengan demikian protein dapat digunakan efisien untuk pertumbuhan, kebutuhan lisin ternak babi yang sedang tumbuh dengan berat badan 35 – 60 kg adalah 0,61% (Sihombing, 1997). Huges dan Varley, (1980) menyatakan selain kebutuhan asam amino perlu juga diperhitungkan keseimbangan protein dan energi untuk menjaga pertumbuhan babi yang optimal.

Bila kita lihat dalam tabel 1. terlihat bahwa kebutuhan protein kasasr bagi babi grower dan pengakhiran adalah 18 sampai dengan 13.5 % dengan energi yang dapat dicerna rata-rata 3400 Kkall. Karena ternak Babi merupakan ternak monogastrik maka yang harus diperhatikan adalah serat kasar yang rendah (maksimum 5%) terutama pada fase pertumbuhan kecuali pada induk bisa sampai 10% maksimumnya.

Tabel 1b. Kebutuhan zat-zat makanan babi fase grower – finisher. (NRC 1988)

Zat-zat makanan

Satuan

20-30 kg

Bobot badan

35-60 kg

Bobot badan

60-100 kg

Bobot badan

Energi dpt dicerna

Protein kasar

Asam Amino Esl :

Arginin

Fenilalanin

Histidin

Isoleusin

Leusin

Lisin

Metionin

Treonin

Triptophan

Valin

Mineral

Besi

Fosfor

Yodium

Kalium

Kalsium

Khlorin

Magnesium

Mangan

Natrium

Selenium

Tembaga

Zink

Vitamin

Vitamin A

Vitamin D

Vitamin E

Vitamin K

Kkal/kg

%

%

%

%

%

%

%

%

%

%

%

mg

%

%

%

%

%

%

mg

%

mg

mg

mg

IU

IU

IU

Mg

3.380

16

0.2

0.7

0.18

0.5

0.6

0.7

0.45

0.45

0.12

0.50

60.00

0.5

0.14

0.23

0.6

0.13

0.04

2.0

0.1

0.15

4.0

60.0

1.300

200

11

2

3.390

14.0

0.18

0.61

0.16

0.44

0.52

0.61

0.40

0.39

0.11

0.44

50

0.45

0.14

0.20

0.55

0.13

0.04

2.00

0.1

0.15

3.0

60

1.300

150

11.0

2.0

3.395

13.0

0.16

0.57

0.15

0.41

0.48

0.57

0.30

0.37

0.10

0.41

40

0.4

0.14

0.17

0.5

0.13

0.04

2.0

0.10

0.10

3.0

50.0

1.300

125

11.0

2.0

Metode Penyusunan Ransum Babi

1. Mula-mula kita mengetahui kandungan zat-zat makanan bahan-bahan penyusun ransum dalam keadaan kering (Tabel 2) anda dapat memperolehnya dari tabel NRC atau Tabel Baham Makanan Aggorodi. Bula tidak ada bahan tersebut dianalisis dahulu di laboratorium kandungannya.

2. Kemudian buat ransum jumlahnya total 100 dari masing-masing bahan kemudian kalikan dengan kandungannya sehingga diperoleh tabel 3. Contoh jagung jumlah dalam ransum 10% dikali kandungannya 10,5 maka jagung memberikan 1,05 PK (Protein Kasar), dan seterusnya kemudian jumlahkan protein total semua bahan adalah 14%, begitu juga untuk yang lain. Perhitungan ini dicoba terus sampai sesuai dengan kebutuhan seperti tabel 1b.

Tabel 2. Kandungan beberapa bahan pakan berasal dari limbah pertanian

No

Bahan Makanan

PK

DE

Abu

Kalsium

Phospor

SK

Harga/kg

1

Jagung

10.5

3250

2.15

0.234

0.414

2.5

1100

2

Daun Ubi Jalar

27

500

16.1

1.37

0.46

16.2

100

3

Dedak Padi

12

2980

16.9

0.03

0.12

9

700

4

Ubi Jalar

3.2

3480

2.65

0.28

0.23

3.45

400

5

Daun singkong

24

500

12

1.54

0.457

22

100

6

Tepung tulang

0

0

0

29.58

11.64

0

1000

7

Minyak

8000

8

Singkong

3.3

3400

3.3

0.26

0.16

4.15

400

Tabel 3. Hasil Perhitungan beberapa bahan pakan berasal dari Limbah

Pertanian untuk Pakan Babi

Bahan Makanan

Jumlah

PK

DE

Abu

Kalsium

Phospor

SK

Harga/kg

1

Jagung

10

1.05

325

0.215

0.0234

0.041

0.25

11000

2

Daun Ubi Jalar

30

8.1

150

4.83

0.411

0.138

4.86

3000

3

Dedak Padi

30

3.6

894

5.07

0.009

0.036

2.7

21000

4

Ubi Jalar

22

0.7

765.6

0.583

0.0616

0.051

0.76

8800

5

Daun Singkong

2

0.48

10

0.24

0.0308

0.009

0.44

200

6

Tepung Tulang

2

0

0

0

0.5916

0.233

0

2000

7

Minyak

2

0

160

0

0

0

0

0

9

Ubi Kayu

2

0.07

68

0.066

0.0052

0.003

0.08

800

Total

100

14

2373

11.004

1.1326

0.47

9.09

468

Contoh 2. Perhitungan ransum lain dengan menggunakan jagung, pollard, tepung ikan, bungkil kacang kedelai, tepung tulang, dedak padi dan minyak nabati. Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan masing-masing diperlihatkan dibawah ini :

Komposisi Zat Makanan dan Harga*) dari Bahan Makanan yang Digunakan

Bahan Makanan

PK (%)

EM (kkal/kg)

Lisin (%)

Ca (%)

P

(%)

SK (%)

Harga per kg

(Rp)

Jagung

Pollard

Dedak Padi

Tepung Ikan

B.K.Kedelai

Tepung Tulang

Minyak Nabati

10,5

15,1

12,0

52,9

47,0

-

-

3250

2320

2980

2860

2550

-

8000

0,28

0,64

0,62

3,72

2,95

-

-

0,02

0,15

0,03

3,90

0,24

29,58

-

0,30

0,72

0,12

2,85

0,81

11,64

-

2,5

7,5

9,0

0,0

5,0

-

-

1600

1100

750

1200

2500

2500

3900

Ket: PK = Protein Kasar, EM = Energi Metabolis, Ca = Kalsium, P = Posfor, SK = Serat Kasar, *) harga pada bulan Nopember 2001.

Susunan Ransum hasil perhitungan :

Bahan dan Zat Makanan

R a n s u m P e r l a k u a n

A

B

C

D

E

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

Jagung

Pollard

Dedak Padi

Tepung Ikan

B.K.Kedelai

TepungTulang

Minyak Nabati

Kandungan:

Protein Kasar (%)

EM (kkal/kg)

Lisin (%)

Kalsium (%)

Posfor (%)

Serat Kasar (%)

Harga /kg (Rp)

80

0

0

10

Published by admin on 19 Feb 2009

Bangsa dan Reproduksi Babi

Peternak babi selalu mendapat keuntungan bila :

a. Jantan tidak menjadi jelek

b. Betina mendapat pakan yang baik

c. Betina tidak keguguran karena bang atau lepto

d. Separuh anak-anaknya tidak mati

e. Penyakit tidak menyerang

f. Induk tidak memakan anaknya

g. Babi itu tidak diare

Para peternak babi sering mengalami problem antara lain : proses reproduksi, manajemen pakan, kesehatan.

A. Bangsa Babi

Bangsa-bangsa babi dibagi menjadi beberapa 3 type yaitu tipe lemak, tipe daging dan tipe dwiguna (bacon), hal ini terjadi karena permintaan konsumen, sifat bahan makanan yang diberikan dan cara pemeliharaan akan tetapi pada peternakan modern saat ini bangsa ini tidak ada karena satu tujuan yaitu untuk menghasilkan daging yang bermutu.

Klasifiksi Zoologis ternak babi :

Kelas : Mamalia ( Menyusui)

Order : Artiodactyla (berjari /kuku genap)

Famili : Suidae (Non Ruminansi )

Genus : Sus

Spesis : Sus scrofa babi liar dari eropa ada 10 sub spesis

Sus vittatus babi liar dari asia ada 13 subspesis antara lain

babi sumatra, Jawa, Flores, dan Malaysia.

Sus celebensis terdapat 8 subspesis di sulawesi,

Sus barbatus : terdapat 6 subspesis di Kalimantan

Babi Liar (Babi hutan) mangui, aili (batak), Jani (dayak) babui (kayan) dahak (kapuas) spesis ini belum dijinakkan, diburu sebagai sumber daging tergolong besar tinggi 1m panjang 1m dan berat dewasa bisa 150 kg, makanannya tumbuhan biji-bijian, buah-buahan, rumput-rumputan, serangga,hewan melata dan liar.

Babi piara ada 312 varietas dan 87 varietas yang resmi kini dikenal dengan babi unggul, merupakan hasil seleksi dan persilangan beberapa bangsa babi sehingga dihasilkan bangsa baru kemudian menyebar keseluruh dunia misalnya 60% babi potong komersial di dunia adalah Yorkshire (Large White).

1. Yorkshire

Termasuk tipe bacon berasal dari inggris, dikenaldengan large white babi ini berwarna putih dengan muka oval, telinga tegak termasuk type ibu karena litter sizenya banyakdan keibuannya bagus, persentase karkasnya tinggi berat jantan 320-455 jg, induk 225- 365 kg.

2. Landrace

Berasal dari Denmark, warna putih, bertubuh panjang dan kakinya panjang, tampilan yang khas telinganya rebah ke depan. Panjang tubuh baik 16 sampai 17 tulang rusuk, subur mempunyaiputing susu yang lebih banyak , jantan dewasa berbobot 320 – 410 kg dan betina 250-340 kg. Karkas panjang, paha besar, daging dibawahdagu gemuk dengan kaki pendek dikenal karena konversi pakannnya sangat baik dan berat badan yang tinggi. Kelemahan kaki belakang yang lemah saat bunting dan daging pucat, lembek dan exsudatif ini karena inbreeding yang terlalulama.

3. Duroc

Berasal dari Amerika Serikat, warna merah mulus, tubuh padat dan prolifik, babi siap potong 90 kg, dapat dicapai 5 bulan atau lebih, jantan dewasa 295 –455 kg, betina 295 – 455 kg.

4. Hamshire

Di kembangkan di USA, berasal dari inggris, ciri khas selempang putih yang meliliti tubuhnya yang berwarna hitam, warna putih itu terdapat di kedua kaki depan. Termasuk type pedaging, tubuh melengkung seperti busur,mempunyai sifat keibuan yang baik.

5. Babi Batak

Tinggi pundak 54-61 cm, panjang badan 71 - 95 cm, telinga tegak warna rata-rata hitam walaupun ada wang bercak-bercak putih, bulu pada bagian bahu dan leher agak tebal, rata-rata puting susu 10.

6. Babi Bali

Warna hitam dan bulunya agak kasar punggung melengkung kebawah, tidak sampai ketanah cungurnya relatif pendek. Telinga tegak tinggi pundak 48-54 cm, panjang tubuh 90 cm, puting susu 12 – 14 buah dengan jumlah anak perkelahiran 12 ekor.

7. Babi Tanah Toraja

Salah satu babi kecil (minipig) tinggi pundak 45 cm, panjang 71 cm warna hitam putih walaupun ada pula yang hitam semua.

B Reproduksi Babi

Babi termasuk hewan yang subur untuk dipelihara kemudian dijual, karena jumlah perkelahiran (litter size) lebih dari satu (polytocous) dan jarak perkelahiran pendek. Seekor induk dalam satu tahun dapat menghasilkan dua kali melahirkan dan 20 ekor anak sama dengan 1800 kg daging setiap tahun.

Tabel 1. Data Reproduksi Babi Induk

Peristiwa

Interval

Rata-rata

Umur saat pubertas (bln)

Lama Birasi (estrus) (hari)

Panjang Siklus birashi (hari)

Waktu ovulasi (jam stlah birahi)

Saat yang baik untuk kawin

Lama Kebuntingan (har)

4 – 7

1 – 5

18 – 24

12 – 48

estrus hr kedua

111 – 115

6

2 – 3

21

24 – 36

114

(3 bln, 3 mg, 3 hr)

Pubertas/birahi pada babi dara 4 – 7 bulan dengan rata-rata bobot badan 70-110 kg akan tetapi tidak dikawinkan sebelum umur 8 bulan atau pada periode estrus/birahi yang ketiga hal ini berguna untuk produksi anak yang lebih banyak dan lama hidup induk lebih panjang. Agar diperoleh anak yang lebih banyak maka induk dikawinkan pada 12 – 24 jam setelah tanda estrus/birahi. Estrus atau birahi pada induk babi adalah karena aktifitas dari hormon estrogen yang dihasilkan oleh ovarium, kejadian ini terjadi selama 3 – 4 hari dengan perubahan tingkah laku seperti suka mengganggu pejantan, kegelisahan meningkat, menaiki betina lainnya dan nafsumakan menurun serta mengeluarkan suara yang khas, kalau ditekan atau diduduki punggungnya diam saja, vulva yang membengkak dan memerah serta lendir keruh dan mengental muncul, bila tanda tanda ini terlihat berarti bebi betinna tersebut siap kawin. Dalam praktek dengan dua kali perkawinan yaitu 12 dan 24 jam setelah tanda estrus dimulai supaya ovum banyak dibuahi dan jumlah anak (litter size tinggi).

Untuk meningkatkan jumlah anak induk perlu di Flushing yaitu konsumsi induk ditingkatkan selama 7 – 14 hari sebelum dikawinkan untuk meningkatkan jumlah anak perkelahiran bila pakan selama fase pertumbuhan dibatasi.

Perkawinan yang paling umum adalah perkawinan kelompok (lot Mating) cara ini adalah menempatkan satu atau beberapa ekor jantan kedalam kandang beberapa ekor betina yang sedang birahi, cara ini mengurangi tenaga kerja yang diperlukan. Hand mating memasukkan seekor betina dan seekor jantan setelah kawin kemudian jantan dipisahkan kembali ini untuk memudahkan pengontrolan ibu dan bapak anak yang lahir kondisi kandang kawin ini harus tenang dan tidak licin.

Kebuntingan

Lama bunting rata-rata 114 hari, kematian embrio/fetus paling sering terjadi/ fase kritis pada saat 30 – 35 hari awal kebuntingan. Perlakuan terhadap temperatur yang ekstrim, pemberian pakan harus rendah pada awal kebuntingan ini dan penggunaan obat-obatan harus hati-hati.

Kelahiran

Induk sebaiknya ditempatkan ke kandang melahirkan 3 – 7 hari menjelang melahirkan, dalam kandang harus bersih, tenang dan Tanda induk mau melahirkan Gelisah, membuat sarang bila ada medianya, organ reproduksi dan kelenjar mamae membesar dan susu akan keluar bila ditekan saat 12 – 48 jam menjelang kelahiran. Laju pernapasan meningkat menjelang 12 jam kelahiran kelahiran paling sering menjelang malam hari. Induk merebahkan diri pada satu sisi saat melahirkan kelahiran dengan pola berurutan (satu-satu) selama kurang lebih 1 – 5 jam, anak yang lahir biasanya 70% kaki depan dulu keluar, anak babi dengan kaki belakang duluan paling banyak mati lahir, bila periode kelahiran cukup lama perlu dilakukan perogohan kedalam alat reproduksi induk, mungkin ada yang sungsang. Perlakuan anak setelah lahir adalah dibersihkan hidungnya dan badannya dari cairan rahim, dan dibantu diberikan susu pertama (colostrum), berikan penghangat pada kandang anak yang baru lahir. Maka dengan itu selama proses kelahiran harus senantiasa diawasi oleh anak kandang. Induk yang terlampau tua, gemuk dan gelisah selalu lebih banyak mengalami problem saat melahirkan oleh sebab itu induk sebaiknya melahirkan sebanyak 8 – 10 kali setelah itu diafkir. Pemotongan ari-ari dipotong dengan cara mengikat dulu pada bagian dekat perut kemudian di gunting lalu diberikan antibiotik (betadin/yodium). Induk akan birahi kembali 3 – 5 hari setelah anaknya disapih/dipisahkan oleh sebab itu induk dapat dikawinkan kembali untuk memperbanyakjumlah anak yang lahir pertahun. Lama penyapihan biasanya 2 bulan akan tetapi dapat dipersingkat menjadi 3 minggu dengan perlakuan tertentu.

Anak Babi Setelah Lahir

Anak babi saat lahir sangat lemah, tidak berbulu (tidak tahan dingin) perlu suhu kandang harus 35 oC, cadangan energi yang ada dalam tubuh anak babi cukup hanya 7 – 8 jam oleh sebab itu susu induk sangat diperlukan setelah lahir, oleh sebab itu perlu ada jerami pada lantai anak dan diberi penghangat (lampu minyak atau listrik).

Defisiensi Besi (Fe) atau anemia cepat muncul pada anak babi yang baru lahir yangdipelihara terkurung hal ini disebabkan oleh persediaan Fe dalam tubuh babi cukuprendah, Fe dalam susucukuprendah, kontak babi dengan tanah sumber Fe dibatasi dan laju pertumbuhan babi yang cepat. Ciri anak babi yang kekurangan Fe ini terlihat pucat, lemah, bulu berdiri dan bernafas cepat oleh sebab itu 48 – 72 jam zat besi harus diberikan antara lain dengan cara : disuntik dengan (paling dianjurkan), disediakan tanah supaya anak babi bisa menjilat-jilat larutan fe digosokkan pada ambing/susu induk yang umum adalah dengan menyuntikkan iron dextran kedalam otot leher atau paha.

Perebutan puting susu sangat hebat saat babi baru lahir biasanya babi berebut pada babi pada bagian depan karena susu yang paling banyak diproduksi. Oleh sebab itu anak yang lemah atau kecil mendapat susu yang paling sedikit maka anak tersebut menjadi lebih kecil maka dengan itu perlu diberikan susu atau makanan tambahan bagi anak selama menyusui.

Pentirian anak babi bisa dilakuakan bila lama anak babi terlampau banyak dibanding dengan jumlah puting atau induk babi bati saat melahirkan, akan tetapi pentirian bisa dilakukan bila umur jarak antar melahirkan dengan induk lain kurang dari 2 hari, sebelum dilakukan pentirian sebaiknya diberikan bau-bauan yang sama (dengan kotoran, oli, cairan rahim atau bau yang kuat) agar induk yang menerima tidak mencium bau yang berbeda kemudian akanmenolakanak tersebut.

Pemotongan gigi taring anak babi harus dilakukan segera setelah lahir untuk menjaga agar tidak melukai ambing (susu induk), denganmenggunakan tang pemotongan ini harus hati-hati agar tidak kena gusi/lidah, pemotongan ekor dapat dilakukan bila diperlukan untuk kebersihan danmenghindari perkelahian.

Kastrasi/kebiri sebaiknya dilakukan pada anak babi jantan sebelum berumur 10 hari kecuali pada anak yang akan dicalonkan pejantan, pisau diugunakan untuk memotong skrotum, dan tangan harus steril atau didesinfektan.

Reproduksi Jantan

Sedangkan jantan lebih lama 5 – 8 bulan dengan bobot badan 75 – 110 kg akan tetapi dikawinkan pada umur 12 bulan. Sebelum digunakan sebagai pejantan perlu di tes dulu dengan mengawinkan dengan 2 – 3 dara yang akan dipotong bila setelah 4 – 5 mg kebuntingan dipotong maka didapat 8 – 10 embrio maka jantan tersebut subur/fertil. Jantan yang berumur setahun dapat dikawinkan dengan induk 7 – 8 tiap minggunya, sedangkan pejantan dewasa 12 induk/minggu.

TARGET PRODUKSI BABI YANG

HARUS DICAPAI

Parameter

Angka

Rasio jantan : Betina

Kelahiran induk/thn

Sow Replacement Rate

Service Return Rate

Farrowings : Service

Pigs born/ litter

Pigs Born Live per Litter

Stillbirth rate

Pigs Weaned/litter

Weaning Age

Litters/ Sow/ Yr

Pigs Born Alive/Sow/Yr

Weaning to Remating

Litter Size

- Total born

- Born alive

- Weaned

- Sold

Postweaning mortality %

Growth rate (g/d)

- Preweaning

- Weaners

- Growers

- Finishers

- Overall

Konsumsi/ Konversi

- Preweaning

- Weaners

- Growers

- Finishers

- Overall

- Rata peternakan

- P2 Backfat depth (mm)

18.5

2.4

65.8 %

12.3 %

81.9 %

11.33

10.44

8.0%

9.2

25.8 hari

2.23

20.3

8.2 %

12

11

9.7

9.4

2.5

200

450

730

850

610

1.0

1.6

2.3

2.8

2.3

2.8

12

Pertanyaan

1. Apa syarat- syarat usaha ternak babi supaya menguntungkan?

2. Bangsa babi dibagi menjadi berapa type sebutkan dan mengapa terbentuk bangsa tersebut.

3. Spesis babi asia disebut …… dan eropa disebut……..

4. Babi unggul yang sering digunakan sebagai babi potong penghasil daging ialah ……. dan sebutkan ciri-cirinya

5. Kenapa bangsa babi landrace dipakai dan kelebihannya.

6. Umur berapa betina dewasa kelamin dan umur berapa dapat dikawinkan?

7. Kenapa babi dikenal ternak yang paling menguntungkan?

8. Waktu mengawinkan yaitu …….. jam setelah tanda-tanda birahi

9. Sebutkan tanda-tanda birahi pada induk babi

10. Apa yang dimaksud dengan flushing dan apa tujuannya

11. Bagaimana cara mengawinkan babi sebutkan 2 metode tersebut.

12. Babi bunting …… hari dan pada umur kebuntingan berapa hari yang rawan.

13. Bagaimana ciri-ciri babi betina akanmelahirkan dan berapa lama proses melahirkan.

14. Sebaiknya babi melahirkan ……kali setelah itu diafkir, kenapa halitu dilakukan

15. Apa yang dilakukan saat anak babi baru lahir, kenapa harus diberi penghangat dan susu induk.

16. Mengapa anak babi perlu di beri zat besi bagaimana cara pemberiannya

17. Kenapa dilakukan pentirian anak babi serta bagaimana caranya.

18. Apa guna pemotongan taring, serta kapan dilakukan.

19. Apa guna kastrasi serta kapan baiknya dilakuakan.

20. Pada umur berapa baiknya jantan dikawinkan, serta bagaimana untuk menguji calon pejatan yang baik dan akan digunakan.

Tugas :

Bila diketahui kebutuhan pasar/permintaan babi 10 ekor per minggu babi potong finisher (90 kg ), berapa induk dan jantan yang diperlukan serta berapa jumlah starter, grower, finisher serta populasi ternak yang ada agar peternakan tersebut berjalan dengan lancar. Ket. Starter babi umur 0 – 2 bulan (20-35 kg), grower 2 – 4 bulan ( 35 – 55 kg) dan finisher 4 – 6/7 bulan (60 – 90 kg )

Daftar Pustaka

Bont, T.E.., Kelly, C.F. dan Heitman,H. 1959. Trans.Am. Soc.Agric. Engrs 2,1.

Close, W.H. 1991. Recent Advances in Animal Nutrition in Australia. P. 144.

University of New England, Armidale.

Close, W.H. dan Mounth, L.E., 1978. Jurnal Animal Nutrition ed. 40 . P.413-421.

University of New England, Armidale.

Henry, Pickard dan Huges 1983. Recent Advances in Animal Nutrition

in Australia. University of New England Publishing Unit. Armidale.

Holmes, C.W. dan Close, W.H. 1977. Nutrition and the Climatic Envirinment. P.51.

Butterworths, London.

Houghton, T.R. , Butterworth, M.H., Kind, D., dan goodyear, B., 1964. J.Agric. Sci.

Camb. 63, 43-51. ngram, D.L. 1965. Nature. P.207,415-16. London.

Huges dan Varley,1980. Pig Production Manual. Department of Agriculture and

Rural Affair. Melbourne.Vic.

Hughes, Mosser, BD. Lewis, AJ. 1993. Fat Addition to Sow Diet.Pig New

and Information. P.265.

Huges dan Varley .1980. Proceeding of a Seminar on Sow and Gilt Management.

Department of Agriculture and Rural Affair. Bendigo. Vic.

Mac. Pherson , Taverner,MR and Mullaney. 1973. The effect of Dietary

Concentration of Digestible Energy on the Performance Sow and Gilt.

Animal Production . Vol.21. pp.285

Self, Whittemore, Elsley . 1955. Practical Pig Nutrition. Farming Press Ltd.

Ipswich, UK

Salmon –legagneur, 1969. The Effects of Dietary Fibre, Source of Fat and

Dietary Energy Concentration on the Voluntary Food Intake

and Performan of Sow/gilt. Commonwealth Agricultural, sloug. UK.

Stone, B.A., 1982. Proc. Aust. Soc. Anim. Prod. 14, 245-6.

Vajrabukka, C., Thwaites, C.J. dan farell, D.J. 1981. Recent Advances in Animal

Nutrition in Australia. P.99. University of New England, Armidale.

Tonks, H.M., Smith,W.C., dan Brice, J.M. 1972. Veterinaria Rec. 9, 531-7.

William, K.C., Neill, A.R. Magee, M.H. dan Peters, R.T. 1991. Manipulating Pig

Production III. Australasian Pig Science Association. Werribe.

Batseba, M.W.T., A. Soplanit, D.Wamaer, S. Tirajah dan Usman, 2001

Karakteristik Sistem Usaha Tani Ternak Babi di Kecamatan Assologaima

Kabupaten Jayawijaya. Prosiding Teknologi Spesifik Lokasi. BBTP Papua

1: 50-55.

Bradbury, J.H., B. Hammer, T. Nguyen .1985. Protein Quantity and Trypsin

Inhibitor Content of Sweet Potato Cultivar from highland of Papua New

Ginea. J. Agric. Food. Chem. 282

Ditjen Nak. 1998. Exponak 1991. Kabag PENAN III-Pertasikenca

DepartemenPertanian.

Huges dan Varley,1980. Pig Production Manual. Department of

Agriculture and Rural Affair. Melbourne.Victoria. Australia .

Leddosukoyo,S. 1982. Pemanfaatan Limbah Pertanian untuk

Menunjang Kebutuhan Pakan Ruminansia. Puslitbangnak. Deptan.

Bogor. 194 – 197.

NRC. 1989. Nutrient Requirement of dairy Cattle. National Acad. Of

sci. Washington. D. C. USA.

Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University

Press. Yogyakarta. Indnesia.

Sutardi, Toha. 1997. Peluang dan Tantangan Pengembangan Ilmu-ilmu

Nutrisi Ternak. Orasi Ilmiah Guru Besar tetap Ilmu Nutrisi Ternak. Fakultas Peternakan IPB, Bogor

Data Reproduksi Babi Induk

Peristiwa

Interval

Rata-rata

Umur saat pubertas (bln)

Lama Birasi (estrus) (hari)

Panjang Siklus birashi (hari)

Waktu ovulasi (jam stlah birahi)

Saat yang baik untuk kawin

Lama Kebuntingan (har)

4 – 7

1 – 5

18 – 24

12 – 48

estrus hr kedua

111 – 115

6

2 – 3

21

24 – 36

114

(3 bln, 3 mg, 3 hr)

Published by admin on 03 Feb 2009

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KUNYIT (Curcuma domestika, Val) SEBAGAI PENGGANTI ANTIBIOTIK SINTETIS DALAM RANSUM BABI JANTAN KASTRASI PERIODE GROWER

THE EFFECT OF USE TUMERIC MEAL (Curcuma domestika, Val)

AS SUBSTITUTE FOR ANTIBIOTIC SINTETIC IN RATION

GROWER PIG PERIOD

Oleh : Sauland Sinaga

ABSTRAK

Penelitian tentang pengaruh ransum yang mengandung aditif tepung kunyit (Curcuma domestika, Val) sebagai pengganti antibiotik sintetis terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan dan tebal lemak punggung babi periode grower dilaksanankan di Laboratorium Ternak Babi KPBI desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua. Penelitian ini menggunakan 20 ekor babi ras dengan bobot badan rata-rata 20 kg dengan koefisien variasi 1,15%, rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan tiga tingkat perlakuan tepung kunyit (0,2; 0.4; dan 0,6) dengan satu kontrol menggunakan antibiotik virginiamisin dalam ransum. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian tepung kunyit dalam ransum memberikan pengaruh tindak nyata (p > 0,05) terhadap konsumsi harian, pertambahan bobot badan dan tebal lemak punggung babi periode starter – grower. Pemberian ransum yang mengandung tepung kunyit 0.2% dapat digunakan sebagai pengganti antibiotik sintetis virginiamisin sebagai bahan aditif pada ransum babi.

ABSTRACT

The research on the Effect of Use Tumeric Meal ((Curcuma domestika, Val) as substitute for Iantibiotic Sintetic in Ration Grower Pig Period was conducted in Indonesia Laboratory Pig Farm in Village Kertawangi, Subdistric Cisarua, Kabupaten Bandung. The Objective of the research was to know the influence and level of Tumeric Meal (Curcuma domestika, Val) as substitute for antibiotic virginiamicin in ration grower pig to consumption, average daily gain and back fat.

The research were used 20 weaned pigs at grower period on body wight 20 kg, with variation coefisien 1,15%. The study used the completely randomized design with four treatment, three level of providing tumeric meal (0,2; 0,4 and 0,6) and one level as control use virginiamicin antibiotic without tumeric meal and each level with five replication.

This experiment showed that providing tumeric meal in ration give not significant effect in comsumption, average daily gain and backfat thickness on pig grower period. Providing tumeric meal (Curcuma domestika, Val) 0,2 percent in the ration can be used as an aditive feed in the pig grower period.

PENDAHULUAN

Penambahan obat-obatan/ antibiotik dalam ransum makanan ternak sering dilakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Masyarakat peternak (babi dan ayam), perusahaan ransum menggandrungi berbagai antibiotik, padahal sebelumnya antibiotik hanya dipakai memerangi dan mengobati penyakit pada manusia dan ternak. Banyak antibiotik kurang diterima bagi masyarakat karena alasan yang berbeda, seperti harganya mahal, aktifitasnya rendah, meracuni ternak yang memakannya, atau akibat residu tinggal dalam tubuh ternak yang pada akhirnya berdampak pada manusia yang mengkonsumsi daging ternak tersebut. Maka dengan perlu dicari penggunaan antibiotik alami, yang tidak mempunyai effek sampingan pada ternak atau manusia yang mengkonsumsinya.

Virginamicin adalah salah satu antibiotik yang diproduksi oleh pabrik obat Sanbe dengan harga cukup mahal, antibiotik ini biasa ditambahkan pada ransum ternak monogastrik (unggas dan babi), yang mempunyai cara kerja sebagai mengontrol bibit penyakit yang mengganggu metabolisme ternak, merangsang pertumbuhan organisme yang dapat mensintesis vitamin-vitamin dan meningkatkan kapasitas serap saluran pencernaan.

Menurut Sihombing (1997) babi periode starter- grower yaitu babi yang memiliki bobot rata-rata 20 kg hingga mencapai bobot badan 60 kg. Babi merupakan ternak penghasil daging yang sangat efisien, sebab tingkat pertumbuhan yang relatif cepat dengan rata-rata laju pertambahan berat badan babi 0,475 kg/hari (Ensminger,1969). Sihombing, 1997 mengatakan babi mempunyai potensi biologis untuk tumbuh dan berkembangbiak dengan cepat apabila didukung dengan ransum yang berkualitas tinggi.

Feed aditif berupa bahan atau zat makanan tertentu seperti vitamin, mineral-mineral atau asam-asam amino yang yang ditambahkan dalam ransum ternak (Sihombing,1997). Sejak sekitar tahun 1950, bahan feed aditif makanan secara umum dipakai untuk ransum babi di negara-negara yang usaha peternakan babinya intensif dan besar, karena telah terbukti memperbaiki pertumbuhan dan konversi makanan babi serta mencegah penyakit (Sihombing, 1997). Penggunaan feed aditif alamiah sebagai bahan makanan tertentu khususnya sebagai, antioksidan, antibakterial, growth promotor, masih sangat jarang digunakan dibanding dengan penggunaan feed aditif sintetik yang dampak negatifnya sangat tinggi bagi manusia sebagai pengkonsumsi daging babi tersebut.

Kurkumin mempunyai rumus molekul C21H20O6 dengan bobot molekul 368, desmetoksi kurkumin rumus molekul C20H18O5 dengan bobot molekul 338, diduga gugusan aktif pada kurkuminoid terletak pada gugus metoksi. Gugus hidroksil fenolat yang terdapat dalam struktur kurkuminoid kemungkinan menyebabkan kurkuminoid mempunyai aktivitas antibakteri.

Zat anti bakteri adalah senyawa biologis atau kimia yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktifitas mikroba, zat tersebut dapat bersifat bakterisidal (membunuh bakteri) bakteristik (menghambat pertumbuhan bakteri) dan fungisidal (membunuh kapang), fungistatik (menghambat pertumbuhan kapang), menghambat germinasi spora bakteri ( Ferdiaz, 1982). Beberapa kelompok senyawa kimia yang bersifat antimikroba adalah fenol, alkohol, halogen, logam berat, senyawa amonium kuarterner, asam dan basa serta gas kemosteril (Pelezar et.al. 1977). Karena kurkumin adalah suatu senyawa fenolik maka mekanisme kerjanya sebagai antimikroba akan mirip dengan senyawa fenol lainnya.

Aguilar et al. 1993. menyatakan bahwa bahan aktif dari tanaman curcumin kurang efektif membunuh bakteri Lactobacacillus casei, Bifidobacterium bifidum dan Lactobacillus acidophilus yang merupakan koloni mikroorganisme yang terdapat dalam mulut, faring dan perut manusia, ini untuk menjaga keseimbangan mikroflora dalam system pencernaan manusia.

Majeed et al. 1985, juga menemukan bahwa curcumin mampu menghambat produksi alfatoksin yang dihasilkan oleh “Aspergillus parasiticus in vitro” diketahui alfatoksin adalah racun yang menyebabkan kerusakan hati dan penyebab kangker, bila terdapat dalam ransum dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan jumlah sel darah putih oleh sebab itu perlu ditambahkan dalam pakan untuk menjaga kesehatan ternak. Majeed et al. 1985 Curcuminoid efektif melawan parasit nematoda/cacing secara invitro.

Kurkumin dengan dosis 2.5 – 5.01 mg/100 ml menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus secara invitro, juga di temukan bahwa Sodium kurkumin secara invitro efektif membunuh Microcus pyogenes dengan dosis 1 ppm. (Magad. 2002). Juga Magad. 2002, menemukan bahwa curcumin dapat menghambat bakteri pemacu terjadinya sebuah kangker (H.pylor) yang terdapat pada lambung dan kolon. Verma et al. Menemukan bahwa curcumin mempunyai potensi untuk mengikat bahan peptsida yang ada dalam bahan makanan akibat proses intensifikasi pertanian yang punya peluang penyebab kanker. Mahady et al. 2000. Menyatakan bahwa Curcumin dari kunyit (Curcuma longa) mampu mencegah terbentuknya kangker pada lambung dan kolon rodents, dengan cara menghambat pertumbuhan Helicobacter pylori sebuah kelompok 1 penyebab kangker, dengan dosis 6.25-50 mikrogram/ml secara invitro.

Tang dan Brand (1992), mengemukakan rimpang kurkumin akan menjadi racun bila diberikan sebanyak 2,5 g/kg bobot badan, begitu pula bila diberikan kurkumin sebanyak 300 mg/kg bobot badan. Curcuma domestika dengan dosis 296 mg/kg bobot badan pada ternak babi selama 102-109 hari setara dengan pemberian Curcuma domestica sebanyak 0.4% memberikan pengaruh positif pertambahan bobot badan dan meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Sedangkan pemberian 0.8% Curcuma domestica memberikan pengaruh yang negatip bagi ternak.

Menurut Martini (1998), pemberian tepung Curcuma domestica dalam ransum sebayak (1 - 1,5)% tidak berpengaruh terhadap konsumsi, penambahan bobot badan pada kelinci, tetapi berpengaruh meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Oei Ban Liang, 1984, pada tikus mengatakan, bahwa ransum yang mengandung Curcuma domestika dalam jumlah yang tepat akan menyebabkan relaksasi usus pada saluran pencernaan dan membantu pencernaan makanan dan absorsi bahan makanan yang pada akhirnya akan meningkatkan Konsumsi, penambahan bobot badan dan menurunkan konversi ransum.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : Mengetahui pengaruh pemberian tepung kunyit yang mampu menggantikan antibiotik sintetis virginiamicin, dalam ransum babi periode grower terhadap konsumsi, pertambahan berat badan dan Tebal Lemak Punggung pada babi periode starter - grower.

Selama ini penggunaan growth promotor pada ternak semakin marak digunakan, terutama dalam ransum ternak, oleh sebab itu perlu dicari growth promotor alami yang tidak meninggalkan residu dan berbahaya bagi manusia yang mengkonsumsi daging ternak tersebut.

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian Penelitian yang dilakukan Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan tingkat penggunaan tepung kunyit (0 , 0,2; 0,4; dan 0,6%) sebagai pengganti antibiotik virginiamicin. Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali maka penelitian ini terdiri dari 20 unit percobaan dimana satu unit percobaan terdiri dari satu ekor babi. Data dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) dan apabila ada perbedaan yang nyata (p<0,05) antara perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji jarak Duncan (Steel dan Torrie, 1989).

Tahap Pelaksanaan Penelitian

a. Persiapan Ternak dan Kandang

Memilih Ternak yang digunakan babi ras sebanyak 20 ekor dalam keadaan sehat, dengan bobot badan rata-rata 20 kg, jenis kelamin Jantan Kastrasi. Persiapan Kandang penelitian individu yang berukuran 0,6 m x 2 m membersihkan tempat makan dan minum, jumlah kandang yang disiapkan sebanyak 24 unit.

b. Persiapan Bahan Makanan Penelitian

Membuat Tepung kunyit dari kunyit segar yang diperoleh dari Pasar, Kunyit segar yang diambil langsung dikeringkan sinar matahari selama dua sampai tiga hari, setelah kering kunyit masukkan dalam oven, setelah kering ditumbuk dan digiling hingga menjadi tepung. Selanjutnya kunyit dapat dicampurkan dengan ransum yang telah disediakan.

c. Membuat Ransum

Membuat Ransum dari tepung kunyit, Tepung ikan, Bungkil Kelapa, Tepung Tulang, Minyak Nabati, dedak padi, jagung dan premik sebagai ransum basal Tabel 1. Kandungan Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian Periode Starter-Grower adalah : Energi metabolisme 3175 kkal, Protein kasar 16%, Kalsium 0,6%, Phospor 0,53% dan serat kasar 5% sesuai dengan kebutuhan ternak babi periode starter -grower menurut NRC 1988.

d. Pemberian ransum pada ternak percobaan

Pemberian ransum dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan siang hari dengan ad libitum dan dengan air minum selalu tersedia. Sebelum ransum diberikan ternak tersebut diberi obat cacing, untuk prakondisi dilakukan pemberian ransum pendahuluan selama tujuh hari. Menjaga kebersihan babi dimandikan pada pagi dan siang hari sebelum ransum diberikan.

Tabel 1. Ransum Basal yang Digunakan dalam Penelitian

Bahan Ransum

Jumlah (%)

Jagung

Dedak padi

T. Ikan

B. Kelapa

T. Tulang

Minyak nabati

Premix

37,95

36,63

10,10

12,30

0,60

2,40

0,05

Perlakuan Ransum adalah :

R1 : Ransum basal ditambah dengan antibiotik virginiamisin

R2 : Ransum basal ditambah dengan tepung kunyit 0.2%

R3 : Ransum basal ditambah dengan tepung kunyit 0.4%

R4 : Ransum basal ditambah dengan tepung kunyit 0.6%

e. Parameter yang Diukur

1. Konsumsi harian yaitu jumlah makanan yang diberikan 24 jam dikurangi sisa,

2. Penimbangan babi 2 minggu sekali

3. Pengukuran Tebal Lemak Punggung (TLP) dengan Digital Backfat Indicator

dengan metoda scanner, diatas tulang rusuk terakhir.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Harian (gram/hari)

Hasil pengamatan selama penelitian diperoleh konsumsi harian babi periode grower adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Konsumsi Harian Babi Berdasarkan Perlakuan (gram/hari)

Level Pemberian Tepung Kunyit dalam Ransum

Ulangan

Virginiamicin

0.2

0.4

0.6

1

2232

2579

3006

2985

2

1986

2367

2355

2274

3

2480

2562

1859

2985

4

2258

3097

2893

2653

5

2793

2314

2813

3045

Jumlah

11749

12919

12926

13942

Rata2

2350

2584

2585

2788

Pemberian tepung kunyit pada ransum sampai tingkat 0,6% dalam ransum babi grower tidak menunjukkan penurunan konsumsi harian babi, rasa pait pada kunyit tidak menurunkan palatibilitas ransum. Walaupun ada gejala peningkatan jumlah konsumsi akibat peningkatan pemberian tepung kunyit dibanding kontrol akan tetapi hasil uji statistik konsumsi harian babi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Dari hasil ini diperoleh bahwa tepung kunyit dapat meningkatkan nafsu makan ternak babi.

Pengaruh Perlakuan Terhadap Pertambahan Bobot Badan

Hasil pengamatan selama penelitian diperoleh pertambahan bobot badan harian babi periode grower adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Pertambahan Bobot Badan Harian Perlakuan (gram/hari)

Level Pemberian Tepung Kunyit dalam Ransum

Ulangan

Virginiamicin

0.2

0.4

0.6

1

628.21

612.82

840.48

635.53

2

673.99

565.58

719.69

574.13

3

605.35

630.17

601.54

703.30

4

601.43

706.35

622.92

812.55

5

644.29

705.71

738.10

737.70

Jumlah

3153.27

3220.63

3522.73

3463.21

Rata2

630.65

644.13

704.55

692.64

Pemberian tepung kunyit pada ransum sampai tingkat 0,6% dalam ransum babi grower terhadap pertambahan bobot badan harian babi tidak terjadi pengikatan berat badan yang siginifikan, pemberian tepung kunyit 0,4% menunjukkan nilai pertambahan bobot badan yang paling tinggi. Perbaikan sistem pencernaan dengan cara perbaikan kondisi lingkungan usus babi dengan membunuh bakteri patogen oleh kunyit dan antibiotik sehingga meningkatkan daya serap makanan untuk pertumbuhan . Hasil analisa statistik pertambahan bobot badan harian akibat perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, jadi pemberian tepung kunyit dapat digunakan meningkatkan pertumbuhan babi.

Pengaruh Perlakuan Terhadap Tebal Lemak Punggung

Hasil pengamatan selama penelitian diperoleh tebal lemak punggung babi periode grower adalah sebagai berikut :

Tabel 4. Tebal Lemak Punggung Perlakuan (cm)

Level Pemberian Tepung Kunyit dalam Ransum

Ulangan

Virginiamicin

0.2

0.4

0.6

1

2.00

1.83

1.83

1.33

2

2.50

2.00

1.33

2.00

3

2.83

1.83

2.33

1.33

4

2.00

1.80

1.90

2.33

5

1.83

2.50

2.17

2.17

Jumlah

11.16

9.96

9.56

9.16

Rata2

2.23

1.99

1.91

1.83

Semakin tinggi dosis tepung kunyit dalam ransum babi mengakibatkan penurunan tebal lemak punggung, rendahnya lemak punggung mengakibatkan peningkatan proporsi daging karkas hal ini sangat menguntungkan bagi kosumen yang saat ini menghindari konsumsi lemak yang tinggi, akibat meningkatnya penyakit jantung koroner.

Hasil analisa statistik tebal lemak punggung akibat perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, jadi pemberian tepung kunyit dapat digunakan pengganti antibiotik virginiamisin untuk menurunkan tebal lemak punggung.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan dari pemberian tepung kunyit sebagai pengganti antibiotik dalam ransum babi grower diperoleh kesimpulan sebagai berikut : Pemberian tepung kunyit sampai dengan taraf 0.6 % sebagai pengganti virginiamicin dalam ransum memberikan pengaruh tidak berbeda nyata terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan dan tebal lemak punggung babi periode grower.

Saran

Penggunaan tepung kunyit 0,2 % dalam ransum babi periode grower dapat digunakan sebagai pengganti antibiotik virginiamicin pada babi periode grower.

Published by admin on 01 Feb 2009

Pengembangan Ternak Babi di Negara Kita

Ternak Babi diketahui pertumbuhannya cukup tinggi, dan angka kelahiran yang besar dan kemampuan menggunakan limbah pertanian dan industri menjadi daging cukup baik. Bila dilihat dari pasar atau konsumsi daging babi cukup stabil dan ada peningkatan, hal ini selain harga yang lebih murah dan bagi orang yang baru sakit cukup baik untuk memulihkan kesehatannya karena mempunyai kandungan protein yang lengkap dan mudah dicerna. konsumsi daging babi di DKI Jakarta rata-rata 600 ekor/hari atau setara dengan 60ton berat hidup atau 45 ton karkas. oleh sebab itu perlu pemerintah mengantisipasi hal ini dan mengatur kebijakan bagi perkembangan ternak ini. dengan diversifikasi konsumsi daging babi diharapkan daging sapi harganya dapat diturunkan. (Sauland Sinaga, Laboratorium Ternak Potong Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran)

« Prev