Published by admin on 19 Feb 2009
Tips PemeliharaanTernak Daerah atau Musim Panas
A. Respon Ternak Babi terhadap Tekanan Temperatur Tinggi
Babi harus mempertahankan suhu tubuhnya tetap konstan sekitar 39 oC. Panas yang diproduksi berasal dari proses metabolisme, kegiatan otot, pencernaan dan penggunaan bahan makanan. Blaxter, 1967 menyatakan bahwa ternak babi saat lahir membutuhkan panas ideal yaitu 34 oC, akan tetapi bertambahnya umur suhu ini mengakibatkan ternak menjadi stress hal ini terjadi karena pertumbuhan kulit yang semakin menebal dan terbentuknya jaringan lemak dibawah kulit sehingga perpindahan panas dari dalam tubuh kelingkungannya sangat sukar, perubahan berat badan mengakibatkan menurunya rasio luas permukaan tubuh, sehingga proses evaporasi menjadi lebih kecil diketahui bahwa evaporasi merupakan 90 % cara pemindahan panas tubuh ke kelingkungan (Bont et al. 1959) oleh sebab itu pada suhu tinggi mengakibatkan kelembapan menjadi tinggi pula akhirnya proses evaporasi menjadi rendah karena udara telah jenuh oleh uap air. Holmes dan Close 1977 menyatakan bahwa kenaikan suhu 18 oC akan menaikan suhu lingkungan sebesar 1 oC, begitu juga sebaliknya.
Pada tekanan panas yang cukup tinggi ternak berusaha untuk menurunkan produksi panas di dalam tubuhnya (terutama dengan menurunkan jumlah makanan yang dikonsumsi), dan juga meningkatkan pembuangan panas dengan proses phisiologi ( memperbesar aliran darah ke kulit, panting, dll) dan perubahan posisi tubuh. Berlawanan dengan keadaan dingin, mempertahankan suhu tubuh normal dengan cara meningkatkan jumlah makan yang dikonsumsi ( untuk memenuhi produksi panas yang dibutuhkan) serta melalui perubahan fisiologis untuk mengurangi hilangnya panas dari tubuh. Sebuah survey diperoleh bahwa terjadi penurunan 10,4 g/hari setiap kenaikan per oC antara 11 dan 35 oC, rata-rata temperatur lingkungan harian. Close dan Mount 1978 menemukan bahwa stress pada babi berat 25-50 kg dimulai bila suhu lingkungan sekitar 30 oC dengan kelembapan 50%.
Pertukaran panas telah diatur oleh sistem tubuh ternak sehingga pada periode waktu panas yang dihasilkan sama dengan panas yang dilepaskan, artinya suhu tubuh ternak senantiasa tetap. Zona panas tubuh netral adalah rentangan suhu dimana panas yang dihasilkan bebas pada tekanan suhu. Pada zona ini panas yang dihasilkan terutama tergantung pada jumlah pakan dan berat badan ternak babi, effek ini dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rentangan Panas Netral Lingkungan yang dapat diterima ternakBabi
berdasarkan pada Berat badan dan Jumlah Konsumsi Ransum yang dimakan
|
Klas Berat Badan Energi metabolisme yangdikonsumsi (M)* M 2M 3M Zona Suhu Netral ( oC)** |
||||
|
Menyusu Sapihan Grower Finisher Induk Bunting Induk Bunting |
2 kg 20 kg 60 kg 100 kg Kurus Gemuk |
31-33 26-33 24-32 23-32 20-30 19-30 |
29-32 21-31 20-30 19-30 15-27 13-27 |
29-31 17-30 16-29 14-28 11-25 7-25 |
- Kebutuhan Maintenance diasumsikan 0,42 MJ ME (0,44 MJ DE ) per Kg 0,75 per hari
- Menggunakan ternak babi dalam kandang individu dengan iklim yang terkontrol dan pergerakan angin yang minimum ( kurang dari 0,25 m/det)
Dari data pada tabel 1. terlihat bahwa rentangan suhu zona netral menurun dengan penambahan berat badan dan penambahan kandungan energi pakan yang dikonsumsi. Akan tetapi perlu juga diperhatikan faktor-faktor iklim ( pergerakan angin, kelembapan, dll) dan faktor ternak ( kepadatan kandang, bentuk dan aktifitas, kebasahan kulit) hal ini akan merubah rentangan tersebut.
Bila temperatur naik dibawah temperatur kritis, babi akan menderita stress panas, keseimbangan panas di tahan dengan meningkatkan pelepasan panas melalui respirasi (panting) dan meningkatkan aliran darah ke bawah kulit, karena babi mempunyai jaringan keringat yang tidak aktif maka dengan itu penguapan melalui kulit sangatlah rendah hanya 30 g/m2/jam (Ingram, 1965). Konsekuensi dari perubahan fisiologi ini, kebutuhan energi untuk tujuan ini cenderung meningkat dengan kata lain ketersediaan energi untuk pertumbuhan akan berkurang, juga akan membuat ternak mengalami masa infertil, Penurunan luas mata tulang rusuk, (Tonk et.al. 1972), kelebihan lemak pada saat dipotong (Houghton et.al. 1964) dan meningkatkan proporsi lemak jenuh (Fuller et al. Fuller et.al. 1974) .
Sebuah indikasi peningkatan respirasi adalah tanda bahwa ternak tersebut mengalami tekanan panas. Kecepatan respirasi ternak rata-rata 50-60 kali/menit ketika ternak babi dalam keadaan istirahat . Ciri lain dari ternak babi yang mengalami cekaman panas adalah perubahan tingkah laku (posisi tubuh, membasahi tubuhnya) dan meningkatkan konsumsi air (khususnya jika air dingin).
Ciri-ciri lain yang dramastis akibat stress panas adalah ditandai dengan penurunan konsumsi pakan, hal ini mengakibatkan penurunan pertumbuhan sehingga pada saat ini kita sulit untuk memprediksi pertumbuhan ternak. Rasio feed confersi tidak berpengaruh, deposisi lemak lambat, sehingga terlihat kurus. Akan tetapi jika proporti pertumbuhan daging relatif lebih rendah akibat penurunan feed intake di banding dengan perkembangan lemak maka ternak akan menjadi lebih gemuk dari pada yang diharapkan pada saat dipotong.
Tabel 2. Effek dari panas ( 12 jam dengan suhu 24 oC dan 12 jam dengan suhu
35 o C) atau kondisi dingin ( 24 jam pada suhu 22 oC) pada ternak babi
45 – 90 kg, dengan energi ransum tinggi (14,6 MJ DE/kg) dan
Rendah (12,5 MJ DE/kg) (Vajrabukka et al. 1981)
|
14,6 MJ 12,5 MJ |
|||||
|
Dari penelitian di Australia terhadap ternak babi dengan perlakuan lingkunganyang dikontrol Tabel 2. menunjukkan bahwa feed intake menurun akibat stress panas, pertumbuhan menurun hingga 29 – 43 %. Juga ditemukan bahwa suhu lingkungan yang tinggi membutuhkan energi yang tinggi untuk hidup pokok dari pada ternak yang ditempatkan dalam kondisi lingkungan yang dingin.
1. Managemen Nutrisi Musim Panas
Pertimbangan faktor nutrisi sangat membantu untuk mengurangi akibat stress panas, dua aspek yang sangat diperlukan :
a. Menurunkan jumlah panas dari makanan yang di konsumsi babi.
Panas dihasilkan di dalam tubuh pada saat makanan dikonsumsi (heat increment) panas ini merupakan hasil dari proses pencernaan dan penghancuran bahan makanan. Makanan yang berserat menghasilkan panas yang paling tinggi dalam proses pencernaannya, kemudian diikuti oleh protein,karbohidrat dan disusuloleh lemak. Oleh sebab itu kita menggunakan bahan yang stress panasnya yang lebih rendah dengan energi yang tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan.
Penggunaan Asam amino sintetik akan mengurangi jumlah protein yang ada dalam ransum ( dengan sarat asam amino lain seimbang) sehingga dengancara ini kita akan mengurangi panas yang dihasilkan selama proses pencernaan . Cara lain adalah dengan memberikan makan pada ternak pada saat hari dingin (pagi/malam hari) atau memberi pakan sesering mungkin dalam jumlah kecil.
b. Menghindari pengaruh dari penurunan feed intake
Ternak biasanya jika mengalami cekaman panas akan berusaha menurunkan produksi panas dengan mengurangi feed intake oleh sebab itu apa yang kita lakukan pada saat sebelum dan sesudah cekaman panas.
Jika babi dalam keadaan stress akan menurunkan ketersediaan elektrolit dalam darah sehingga nafsu makan menurun, oleh karena itu penambahan amonium klorida dan natriumkarbonat dapat ditambahkan dalam ransum dalam keadaan tunggal atau kedua-duanya dengan konsentrasi 0,5-1 %.
Elektrolit ini berguna untuk membantu kehilangan alkali respirasi yang digunakan ternak selama panting, untuk membuang panas dari tubuh, yang berakibat penurunan nafsu makan . Pakan yang baik akan menurunkan panas yang dihasilkan selma proses pencernaan serta dalam jumlah yang kecil dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak babi. Bahan makanan harus mempunyai energi (DE), asam amino essensial seperti lisin, methionin dan vitamin/mineral mikro.
Sebaiknya pencatatan produksi harus diperhatikan dengan baik supaya kita mengetahui perubahan pakan yang kita gunakan terhadap perubahan pertumbuhan. Seperti energi ransum seharusnya mengandung tidak kurang 14 MJ/kg untuk babi finisher dan 14,5 MJ/ kg untuk babi grower, energi yang tinggi ini dapat dipenuhi dengan penambahan minyak (tallow) 5-6% pada bahan pakan .
Penambahan lysin energi rasio pakan grower dan finisher hingga 0,03 – 0,06 lebih tinggi pada musim panas di banding musim dingin. Aspek lain yang harus diketahui adalah berapa kebutuhan ternak sebenarnya dalam suatu peternakan karena perbedaan bangsa mengakibatkan perbedaan kebutuhan pula untuk pertumbuhannya.
Perlu juga diketahui kandungan bahan makanan yang kita gunakan, karena perbedaan musim panen, penyimpanan, kepadatan tiap wadah, juga dalam membeli dan mengganti bahan makanan seperti jagung diganti dengan gandum harus mengetahui kandungan bahan tersebut, sehingga dalam penyusunan ransum sesuai dengan kebutuhan dimasa panas tidak salah.
2. Mengurangi Effek Infertilitas Induk akibat panas
Penurunan sifat reproduksi terjadi bila suhu lingkungan tinggi dan panjang siang lebih pendek, dikenal dengan istilah musim infertil. Kejadian ini ditandai dengan : a. Penambahan jumlah induk yang tidak estrus setelah 5 hari disapih. b. Sering terjadi birahi tersembunyi (silent heats) c. Tingkat konsepsi yang rendah d. Estrus yang tertunda pada babi dara dan lama estrus yang semakin singkat e. Sering terjadi pengawinan ulang kembali atau konsepsi yang gagal serta kegagalan inplantasi dari embrio.f. serta penurunan motilitas spermatozoa .
Untuk itu perlu dilakukan usaha-usaha sebagai berikut :
a. Memodifikasi iklim dikandang dengan sistem ventilasi, isulator dan sifat atap yang memantulkan cahaya. Pemberian sprinkler (semprotan air) pada induk kering
sangat menguntungkan diperoleh bahwa penyiraman dengan 2-30 menit/hari menghasilkan feed intake yang tidak berubah pada suhu kandang 35 oC, serta dapat membawa uap air tari dubuh ternak sebesar 800 g/m2/jam.
b. Pemberian suplemen vitamin oC dalam ransum induk dan jantan tidak menunjukkan gejala musim infertil pada suhu panas.
c. Membuat sistem sosial yang baik bagi babi dara dan induk kering dengan cara mengandangkan mereka dalam kelompok ( 4-5 ekor) disamping kandang jantan berumur lebih dari 10 bulan dengan luas lantai minimum 1,8 m2 /ekor. Bau, suara, penglihatan dan sentuhan jantan dewasa dapat merangsang saraf pusat yang mengontrol pengeluaran hormon yang mengaktifkan ovarium .
d. Meningkatkan stimulasi pada babi dara/ induk kering dengan memasukkan ke kandang jantan minimum 10 menit /hari pada kandang kawin.
e. Pakan induk sapihan dan dara berenergi tinggi (> 13,5 MJ DE/kg) ad libitum, 14 hari sebelum dikawinkan, untuk meningkatkan jumlah ovulasi sel telur, walaupun respon ini lebih rendah pada induk dewasa.
f. Pakan induk kering tidak kurang 24 MJ yang mengandung minimum 13 % protein dan 0,35 g lisin /MJ DE. Perlakukan induk dalam kandang individu selama masa kebuntingan. Pada tabel 3. terlihat bahwa kebutuhan energi maintenance meningkat pada suhu 33 dan 35 oC dibanding dengan suhu 25 oC, sedangkan retensi nitrogen efisiensi penggunaan Energi Metabolisme untuk pertumbuhan dan retensi nitrogen menurun pada suhu tinggi, Induk menyusui biasanya mengkonsumsi makanan kurang selama musim panas. Pakan khusus induk menyusui mengandung minimum 13,5 MJ DE/kg , 15 % protein kasar dan lisin energi rasio 0,55 g/MJ minyak tanaman atau hewan dapat dgunakan pada bagian permukaan pakan.
Tabel 3. Kebutuhan energi maintenance (kJ/Kg0.75/d) dan effisiensi penggunaan
energi metabolisme (ME) untuk pertubuhan berat badan (k) pada babi
bertumbuh dengan lingkungan 20 oC dan 34 oC
|
Berat badan (kg) |
Suhu Lingkungan (oC) |
Kebutuhan energi Maintenance |
Retensi energi (k) |
Referensi |
|
37-45
59-64
|
25 33-35 25 33-35 |
355 385 435 410 |
0.64 0.66 0.68 0.61 |
Holmes (1973) |
|
31-78
|
25 34 |
481 523 |
0.83 0.75 |
Holmes (1974) |
|
20-50
|
20 25 30 |
476 439 469 |
0.71 0.67 0.63 |
Close(1978) |
g. Jika induk muda tidak dapat mengkonsumsi 5 kg dari kebutuhan 6 kg, pakan grower atau sapihan dapat diberikan, tergantung pada kondisi tubuh, panjang laktasi dan jumlah anak yang menyusui, kebutuhan tiap hari adalah 65-80 MJ DE, 620-820 g protein dan 37 g lisin.
h. Untuk merangsang nafsu makan induk dengan cara memberikan pakan basah, yang diberikan pada hari yang paling sejuk, denga air minum yang sejuk 12 oC memperbaiki tingkat pertumbuhan 68 g/hari daripada air minum hangat 30 oC. Font et. al. Menemukan bahwa peningkatan suhu lingkungan 10 oC meningkatkan jumlah minum sebesar 50-100 %, contoh babi grower berat badan 50 kg suhu lingkungan 20 oC dan 33 oC jumlah minum harian 4,61 dan 8,41 liter. Jantan berat badan 70-110 kg pada suhu lingkungan 15 dan 25 oC mengkonsumsi air berturut-turut sebesar 10 dan 15 liter/hari. Konsumsi air tidak hanya tergantung pada suhu lingkungan dan feed intake akan tetapi tergantung pula pada suhu air minum. Vajrabukka et. al. 1981, Contoh pada suhu lingkungan 22 oC dengan suhu air minum 11 oC dan 30 oC konsumsi air minum berturut-turut 3 dan 4 l/hari. Sedangkan pada suhu lingkungan 35 oC dengan suhu air minum 25 oC dan 12 oC konsumsi air berturut-turut 11 dan 7 liter/hari. Menggunakan pakan yang mempunyai palatabilitas yang tinggi di berikan dua kali sehari untuk menjaga kesegaran pakan.
i. Karena babi dara atau babi yang pertama kali melahirkan paling mudah terpengaruh oleh iklim oleh sebab itu perhatian harus diberikan lebih pada kelompok ini.
j. Sebaiknya jantan dikandangkan pada suhu lingkungan maksimum 29 oC untuk menjaga fertilitas denganmenjaga proses spermatogenesis di testis dan mening-katkan libido jantan Stone (1982).
3. Mengurangi Kelebihan Lemak Saat Potong
Pada musim panas biasanya ternak finisher mempunyai kelebihan lemak, Biasanya pada kandang yang kontrol suhu yang kurang baik babi biasanya lebih kurus pada kondisi yang dingin karena energi banyak digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh dari pada untuk pertumbuhan atau menyimpan lemak, berlawanan dengan masa panas jumlah energi pakan yang sama pada musim dingin akan digunakan untuk pertumbuhan dan penyimpanan lemak hal ini terjadi karena energi yang diperlukan untuk mempertahankan panas tubuh pada musim panas lebih rendah dari pada musim dingin.
Untuk mengantisipasi ha lini perlu dilakukan usaha-usaha sebagai berikut :
a. Lakukan modifikasi terhadap jumlah dan komposisi bahan makanan akibat perbaikan mutu genetik yang digunakan.
b. Untuk mengurangi jumlah lemak pada karkas dengan cepat melalui menurunkan energi yang dikonsumsi, hal ini dilakukan pada akhir fase pertumbuhan.
c. Pada babi yang berat 50-60 kg, penyimpanan lemak pada karkas relatif lebih rendah dibanding dengan ternak yang lebih berat. Akan tetapi penimbunan lemak sering terjadi pada temperatur yang tinggi, oleh karena itu pembatasan feed intake atau energi ransum perlu diperhatikan.
d. Pemeriksaan tebal lemak punggung pada umur 6 bulan, merupakan indikasi pada pemberian energi yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama, Lemak punggung yang lebih dari 12 mm pada berat ini menunjukkan kelebihan dalam konsumsi.
e. Pemberian pakan ad libitum perlu dihentikan bila berat badan telah 40-60 kg, hal ini dilakukan tergantung pada grade dan berat badan berapa babi dipotong.
f. Cari energi ransum yang baik dan tetap dari grower ke potong, dengan cara mengalikan energi ransum dengan jumlah pakan yang dkonsumsi contoh : 13,5 MJ DE/kg x 2,5 kg = 33,8 MJ DE. Sebuah pegangan pada babi dengan masalah lemak, finisher maksimum diberikan pakan dengan energi 30-34 MJ/ekor/hari.
g. Babi jantan biasanya lebih kurus dibandingkan dengan babi dara sehingga dapat ditolerir pemberian ad libitum untuk jangkawaktuyang lama dan diakhiri dengan pemberian sedikit lebih Mega Joule perhari.
h. Memberikan pakan yang seimbang dengan catatan pakan mempunyai perbandingan lisin energi yang tinggi adalah mahal dan tidak akan menurunkan tebal lemak punggung.
i. Selama bulan panas, dianjurkan untuk pakan babi finisher rasio lisin energi ditingkatkan 0,05 dari 0,6 menjadi 0,65 g/MJ DE. Penambahan ini untuk mengimbangi penambahan energi untuk menahan panas dan menjaga pertumbuhan tetap.
j. Babi yang sedang bertumbuh akan menderita bila pakan dibatasi, akan tetapi lemak punggung akan menurun, kompromi terhadap pertumbuhan dan grading walaupun kehilangan insentif untuk memproduksi babi grade 2 da 3, Membiarkan ternak kelaparan untuk memperoleh prime grade tidaklah ekonomis.
Daftar Pustaka
Bont, T.E.., Kelly, C.F. dan Heitman,H. 1959. Trans.Am. Soc.Agric. Engrs 2,1.
Close, W.H. 1991. Recent Advances in Animal Nutrition in Australia. P. 144.
University of New England, Armidale.
Close, W.H. dan Mounth, L.E., 1978. Jurnal Animal Nutrition ed. 40 . P.413-421.
University of New England, Armidale.
Holmes, C.W. dan Close, W.H. 1977. Nutrition and the Climatic Envirinment. P.51.
Butterworths, London.
Houghton, T.R. , Butterworth, M.H., Kind, D., dan goodyear, B., 1964. J.Agric. Sci.
Camb. 63, 43-51.
Ingram, D.L. 1965. Nature. P.207,415-16. London.
Stone, B.A., 1982. Proc. Aust. Soc. Anim. Prod. 14, 245-6.
Vajrabukka, C., Thwaites, C.J. dan farell, D.J. 1981. Recent Advances in Animal
Nutrition in Australia. P.99. University of New England, Armidale.
Tonks, H.M., Smith,W.C., dan Brice, J.M. 1972. Veterinaria Rec. 9, 531-7.
William, K.C., Neill, A.R. Magee, M.H. dan Peters, R.T. 1991. Manipulating Pig
Production III. Australasian Pig Science Association. Werribe.