Peternak Babi di Kaltim dan Kalbar Perlu Pendampingan

Setiap anggota masyarakat di manapun berada senantiasa berusaha untuk hidup eksis dimanapun mereka hadir dan mencari nafkah. Dalam kehidupannya, banyak manusia yang sering kurang beruntung, maka mereka ini perlu pendampingan untuk menumbuhkan mereka sesuai potensi yang ada di sekitarnya sehingga mereka dapat hidup mandiri dalam kemajuan yang ada. Hal yang perlu diberikan dalam pendampingan adalah bagaimana mengembangkan potensi yang ada, bagaimana membangun kerjasama, bagaimana membangun jaringan kerja. Selain itu bagaimana membangun skil atau keterampilan hidup bagi setiap anggota masyarakat yang kurang beruntung.  Padahal ternak ini merupakan bagian dari budaya penduduk local yang tidak bisa dihilangkan ( suku dayak ), dimana kegiatan keagamaan dan adat senantiasa ketersediaan ternak ini sangat diperlukan.  

Beternak babi merupakan ternak yang sangat menguntungkan untuk menopang perekonomian keluarga bila di kelola dengan baik.  Sumbangsih ternak babi untuk kecukupan protein hewani selain dari sapi dan ayam tidak bisa di abaikan sebelah mata pemerintah sebagai pembuat keputusan, Babi mampu menjadi mesin daging yang paling efisien dan produktif , terutama dalam sifar prolifiknya/ kesuburannya  (rata-rata 1,8 ton berat hidup/induk/tahun), tidak ada hewan ternak lain yang bisa menyamai rekor ternak ini, Negara Cina dengan penduduk sekitar dua miliar kecukupan kebutuhan protein hewani mereka 80% dari daging ternak ini.   Hasil perjalanan penulis melakukan Pembinaan ke Kalimantan Barat dan Timur bulan November 2011 dan Januari 2012, untuk pertama kali pembinaan kepada masyarakat peternak babi yang merupakan upaya menumbuhkan system beternak yang efisien dan ramah lingkungan bagi masyarakat peternak babi sebagai pekerjaan utama maupun yang menjadikan sebagai pekerjaan tambahan.

 

Beberapa Temuan Peternakan Babi di Kaltim dan Kalbar

1. Keberadaan peternakan babi di kaltim dan Kalbar dalam segi organisasi (kelompok/koperasi) kurang mendapat perhatian makanya peternakan ini sepertinya berjalan sendiri sendiri turun temurun  tanpa ada support dan pembinaan, padahal kelembagaan kelompok peternak sangat diperlukan untuk dapat  memecahkan masalah mereka hadapi.

2. Melihat kondisi lapangan, diskusi dan curah pendapat selama pembinaan ke dua daerah ini ada masalah yang cukup menonjol yaitu: belum tersedianya obat-obatan bagi ternak sehingga kematian yang tinggi pada fase awal (starter) mendekati 80 %, dengan dominasi penyakit anemia, inveksi seperti mencret, pneumonia dan Hog-Cholera, peternak hampir 100%  tidak mengetahui penyebab kematian ini padahal bila akses obat-obatan mudah di peroleh didukung pengetahuan beternak memadai hal ini bisa diatasi.

3. Masalah lain adalah pemberian ransum ternak kurang  memenuhi  syarat untuk kebutuhan hidup pokok dan produksi. Hal ini ditunjukkan bahwa pemberian ransum babi hamper sama dengan sapi dengan dominasi hijauan ( daun ubi dan talas) mendekati 80%, akibatnya pertumbuhan babi cukup lambat dengan persentase karkas yang rendah.   Bila dilihat dari luas lahan dan panjang garis pantai dan sungai  tidaklah susah mendapatkan bahan pakan yang berkualitas asal ada koordinasi dan kemauan untuk memproduksi bahan ransum sumber energi

( ubi, jagung dll) dan protein ( tepung ikan tawar/laut, kelapa, kedelai dan kacang).

4. Beberapa diskusi ditemukan bahwa ditemukan bahwa belum adanya sistem perkandangan dan pengelolaan limbah ternak babi yang memadai padahal secara teknis dan ekonomis hal ini mudah dilakukan terutama dengan cara composting,  secara teori dikethui bahwa kompos asal babi sangat tinggi akan kandungan nitrogen dan phosphor yang dapat menekan penggunaan pupuk kimia sampai 80%,  apabila hal ini tidak dilakukan maka reaksi anaerob di bawah kandang akan menciptakan bau yang menyengat, padahal bau ini bila dikumpulkan dalam system tertutut maka dapat menghasilkan energy hijau (Biogas).

Solusi dan Tindak lanjut
Diperlukan pembinaan yang intensif dan terprogram berdasarkan masalah dan potensi local untuk membentuk peternakan yang efisien, ekonomis  dan ramah lingkungan, karena bila hal ini tidak dilakukan sama saja dengan membunuh ayam dalam lumbung padi. Ini harus melibatkan tenaga akhli, tokoh agama dan adat serta pemerintah sebagai fasilitator.   Mimpi 20 tahun kedepan bukan tidak mungkin bahwa Kalimantan merupakan lumbung ternak (protein hewani) Indonesia, mimpi ini hanya dapat terwujud bila kesadaran dan asa yang kuat

THE EFFECT OF PROVIDING VARIOUS CURCUMINOID DOSAGE TO DIGESTIBLE PROTEIN, PROTEIN EFFICIENCY AND THE RATE OF PASSAGE OF FEED IN FINISHER PIG’S DIGEST SYSTEM

ABSTRACT

 

The research on The Effect of Providing Curcuminoid Dosage To Digestible protein, Protein Efficiency and The Rate of Passage of Feed in Grower Period Pig’s Digest System has been conducted since January 10th, to 27th February 2008, at Pig Livestock Laboratory and Teaching Farm of KPBI Obor Swastika in Cisarua, Bandung, Indonesia.

The aim of this research was to state the effect of providing and the best dosage of curcuminoid in meal to digestible protein, protein efficiency and the rate of passage of feed in grower period pig’s digest system. 

This research used 20 grower period pigs with 35 kg average body weight and 2,13 percent variation coefficient. The experiment used the completely randomized design, the treatment given was the addition level of curcuminoid dosage (0, 4, 8 and 12 mg curcuminoid/kg body weight). Each treatment was done five times.  The result of this research gives 4 mg curcuminoid/kg body weight give in ration finisher pig increase protein digestability and no significant for protein efficiency and passing rate feed

 

Key words :  Curcuminoid, Digestible Protein, Protein Efficiency, Rate of Passage of Meal in Digest System, Grower Period Pig  

 

 

ABSTRAK

 

Penelitian tentang Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Kurkuminoid terhadap Kecernaan Protein, Efisiensi Protein dan Kecepatan Laju Makanan dalam Sistem Pencernaan Babi Grower telah dilakukan dari tanggal 10 Januari sampai 27 Februari 2008, di Laboratorium dan Teaching Farm KPBI Obor Swastika Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian dan dosis kurkuminoid yang terbaik dalam ransum terhadap kecernaan protein, efisiensi protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi grower.

Penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi periode grower, berat badan rata-rata 35 kg dengan koefisien variasi 2,13 persen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap, perlakuan yang diberikan adalah tingkat penambahan dosis kurkuminoid (0, 4, 8 dan 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ransum yang mengandung 4 mg curcuminoid/kg berat badan dalam ransum babi periode finisher  dapat meningkatkan kecernaan protein ransum dengan tidak berpengaruh terhadap efisiensi protein dan laju makanan.

 

Kata Kunci:   Kurkuminoid, Kecernaan Protein, Efisiensi Protein, Kecepatan Laju Makanan dalam Sistem Pencernaan, Babi Grower

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Babi merupakan salah satu komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memiliki sifat-sifat yang menguntungkan antara lain laju pertumbuhan cepat, sifat prolifik yaitu jumlah perkelahian yang tinggi (10 – 14 ekor/kelahiran), efisiensi ransum yang baik, persentase karkas yang tinggi dan dilihat dari jenis makanannya merupakan ternak omnivora yang efektif dalam mengubah setiap makanan menjadi daging.

Permintaan konsumen akan daging babi cukup tinggi. Peningkatan kebutuhan akan daging babi sebesar 7,11 % yakni dari 164,491 ton naik menjadi 177,093 ton, sedangkan peningkatan populasi babi hanya sebesar 3,63 % yakni dari 5.926.807 ekor menjadi 6.150.535, (Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2003).

Pemakaian beberapa zat perangsang tumbuh menguntungkan dunia peternakan baik dari produsen maupun dari segi konsumen. Bagi produsen penggunaan zat perangsang pada babi dapat memberikan pertumbuhan yang lebih cepat, efisiensi pakan yang baik dan menurunkan moralitas. Sedangkan bagi konsumen meningkatnya efisiensi dapat menyebabkan harga produk-produk peternakan menjadi lebih murah, sehingga lebih mudah dijangkau.

Kunyit merupakan salah satu jenis tanaman empah-rempah asli Asia Tenggara, diketahui bahwa ekstrasi tanaman kunyit yaitu kurkuminoid mempunyai efek yang sinergis seperti merangsang pertumbuhan. Estraksi tanaman ini dipakai dengan beberapa tujuan, diantaranya merangsang nafsu makan dan meningkatkan kecernaan makanan dan merangsang saraf Olfaktori dan papila gustatori untuk meningkatkan sekresi kelenjar empedu, lambung, pankreas dan usus. Ekstraksi tanaman akan menurunkan pH dalam usus akan meningkatkan sekresi cairan empedu yang membantu pencernaan dan merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan seperti bakteri asam laktat. Komponen kurkuminoid juga mempunyai sifat kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu, juga mempengaruhi kerja syaraf dan hipifisa serta organ hati untuk memproduksi dan menskresi cairan empedu serta mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar bruner pada dinding usus halus.

Keuntungan lain penggunaan ekstrak tanaman bagi ternak adalah dapat mengurangi dan mencegah terbentuknya senyawa racun, sehingga oragan dapat bekerja dengan baik. Pemberian tepung kunyit pada dosis tertentu tidak berpengaruh pada konsumsi, pertambahan bobot badan, tetapi meningkatkan efisiensi penggunaan protein.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Pemberian berbagai Dosis Kurkuminoid Dalam Ransum Terhadap Efisiensi Penggunaan Protein, Kecernaan Protein dan Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan Pada Babi Finisher”.

 

 

Maksud Dan Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis kurkuminoid dalam ransum terhadap efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada finisher.            Untuk menentukan tingkat pemberian berbagai dosis kurkuminoid dalam ransum sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi finisher.

 

Kegunaan Penelitian

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan sumbangan pemikiran bagi semua pihak terutama peneliti dan peternak dalam upaya pemanfaatan kurkuminoid dalam ransum jika ditinjau dari segi efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi finisher.

 

Kerangka Pemikiran

Kunyit (Curcuma domestica val). Kunyit dapat tumbuh di daerah iklim tropis. Di Indonesia kunyit dapat tumbuh sepanjang tahun, dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian sampai 2000 m di atas permukaan laut. Kisaran suhu optimal adalah 19 – 300C dengan hujan antara 1500 – 4000 mm/tahun.

Komponen terpenting dalam kunyit adalah kurkuminoid dan minyak atsiri (Rukmana, 1994). Kandungan kurkuminoid dalam kunyit sebesar 3 – 4 % (Wagner, dkk, 1983). Kurkuminoid dalam kunyit adalah 2,99 persen (Narayanan, dkk, 1980). Kurkuminoid secara biosintesis memiliki pronsip kerja kolekinetik, yaitu berperan dalam meningkatkan produksi cairan empedu, sehingga dapat meningkatkan kecernaan lemak. (Sirait, dkk, 1985). Kandungan gizi tepung kunyit antara lain memiliki Energi Metabolisme (EM) sebesar 2274,64 kkal, protein kasar 8,74 %, serat kasar 7,50 % kalsium 0,20 % serta Phospor 0,61 % (Hasil analisis LIPI, 2000). Penggunaan kunyit dikenal dapat membantu, pencernaan seperti menghilangkan dispepsia dan flatulens karena kunyit merangsang produksi gatah lambung dan cairan pencernaan lain termasuk empedu (John, dkk, 1987).

Kurkuminoid termasuk senyata fenolik, shingga mekanisme kerja kurkumin sebagai anto mikroba mirip dengan kerja antimikroba pada senyawa fenol lainnya. Senyata fenol dapat juga membunuh mikroba dengan cara Senyawa fenol dapat juga membunuh mikroba dengan cara merusak struktur membran sel dari beberapa bakteri patogen seperti Salmonella dan E. Coli. Rusaknya membran sel mengakibatkan terganggunya keseimbangan cairan sel sehingga dengan sendirinya bakteri tersebut akan terbunuh. Ramprasad dan Sirsi (1956) melaporkan bahwa kurkumin mempunyai aktivitas antimikroba, yaitu dengan menghambat pertumbuhan bakteri Micrococcus pyrogenes var. Aereus dalam larutan natrium kurkuminat 1 ppm.

Kunyit mempunyai sifat bakteriostatik dan mengandung antioksidan alami yang berpengaruh baik terhadap kesehatan ternak. Sifat bakteriostatik membuat bakteri-bakteri pathogen yang terdapat dalam saluran pencernaan menjadi inaktif (Sugiarto, dkk, 1977). Menurut Martini (1998) pemberian tepung Curcuma domestica val dalam ransum sebanyak 1-1, 5 % tidak berpengaruh terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan kelinci, tetapi meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Penelitian pada tikus menyatakan bahwa ransum yang mengandung Curcuma domestica dalam jumlah yang tepat akan menyebabkan relaksasi usus halus pada saluran pencernaan dan membantu pencernaan makanan dan absorpsi zat-zat makanan yang akan meningkatkan konsumsi, pertambahan bobot badan dan menurunkan konversi pakan (Oi Ban Liang, 1984). Pemberian sosium kukuminat dapat meningkatkan cairan empedu anjing sampai dengan 100 %, tanpa mengalami gangguan respirasi dan tekanan darah (Ramprasad dan Sirsi, 1956). Menuurt Shankar et al. (1980) dosisi 300 mg/kg pada mencit, marmut dan monyet menunjukkan gejala keracunan.

Kecernaan merupakan tolak ukur tinggi rendahnya nilai gizi suatu ransum, maksudnya ransum tersebut mudah dicerna dan diserap secara otomatis akan memberikan pengaruh yang baik terhadap ternak yang mengkonsumsinya. Menurut Anggorodi (1994) faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan adalah suhu, laju perjalanan ransum melalui alat pencernaan, bentuk fisik bahan makanan, komposisi ransum dan pengaruh terhadap perbandingan dari zat makanan lainnya.

Kecernaan protein merupakan cerminan dari kemampuan ternak dalam memanfaatkan potensi suatu bahan makanan (NRS, 1977). Kecernaan protein terantung pada kandungan protein didalam ransum (Ranjhanm 1977). Ransum yang kandungan proteinnya rendah umumnya mempunyai kecernaan yang rendah pula dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Scheider dan Flatt (1975) dan Tilman, dkk (1998) yang mengemukakan bahwa tinggi rendahnya kecernaan protein tergantung pada kandungan protein bahan pakan dan banyaknya protein yang masuk ke dalam saluran pencernaan.

Protein merupakan salah satu di antara zat-zat makanan yang mutlak dibutuhkan ternak baik untuk hidup pokok, perumbuhan dan untuk produksi (Parakkasi, 1983). Sehingga efisiensi penggunaan protein didefinisikan sebagai perbandingan besarnya pertambahan bobot badan perunit protein yang dikonsumsi. Sedangkan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah kecepatan bergeraknya makanan dari satu bagian ke bagian lain dalam saluran pencernaan. Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dipengaruhi oleh keambaan makanan, kadar air atau kadar bahan kering maupun waktu pemberian makanan (Sihombing, 1997).

Bile dkk (1985) melaporkan mengenai pemberian 60, 240 dan 1551 mg/kg BB kurkuminoid dalam ransum babi menunjukkan pada pemberian 240 dan 1551 mg/kg BB menunjukkan kerusakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid. Penelitian Sinaga (2003) yang menggunakan perlakuan terdiri atas 4 level tepung kunyit (o, 0,2, 0,4 dan 0,6 % dalam ransum) diperoleh tebal lemak punggung terendah terdapat pada babi yang mengkonsumsi ransum yang mengandung tepung kunyit 0,4 %.

Kandungan kurkuminoid tepung kunyit adalah 3 % atau 0,03 dosis terbaik pemberian tepung kunyit menurut Martini (1998) dalam ransum kelinci adalah 0,5 % atau 500 gr/100 kg (0,03 x 500 gr/100 kg = 150 mg/kg). Konsumsi harian babi periode finisher rata-rta 3 kg, maka konsumsi kurkuminoid perhari 450 mg. Apabila berat badan babi periode finisher 60 kg maka diperoleh konsumsi kurkuminoid sebanyak 7,5 = 8 mg pada tiap kilogram bobot badan.

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas ditarik hipotesis yaitu penggunaan kurkuminoid pada ransum babi periode finisher yang memberikan pengaruh terbaik adalah ransum R2 dengan dosis kurkuminoid 8 mg/kg BB.

 

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi Koperasi Peternakan Babi Indonesia, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. Waktu penelitian bulan Juni 2008.

TINJAUAN PUSTAKA

 

Bangsa Babi

Bangsa babi di dunia yang telah dijinakan berasal dari dua turunan spesies babi liar, yaitu babi liar dari Asia (Sus Vitattus) dan babi liar Eropa (Sus Scrofa) (Williamson dan Payne, 1980). Sedangkan babi yang terdapat di peternakan rakyat di Indonesia merupakan turunan hasil persiangan babi unggul yang berasal dari luar negeri dan juga babi asli Indonesia yang hidup liar di hutan yang dikenal dengan nama Celeng (Sus verrucosus) (Sasroamidjojo, 1997). Babi unggul yang berasal dari luar negeri tersebut antara lain American Landrace, Duroc, Berksjire, Poland China, dan Yorhshire.

Klasifikasi zoologis ternak babi adalah sebagai berikut (Banerjee, 1985) :

Phylum         : Chordota

Kelas             : Mamalia

Ordo               : Artiodactyla

Famili                        : Suidae

Genus           : Sus Linn

Spesies         : Sus scofa

                          Sus Vitattus

 

 

Menurut Sihombing (1997), babi dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase starter, babi umur 13 sampai 20 minggu dengan berat badan 15 sampai 35 kg, fase grower, yaitu babi yang berumur 20 sampai 28 minggu dengan berat badan 35 kg sampai 60 kg dan fase finisher, babi umur 24 sampai 36 minggu dengan berat badan 60 kg sampai 90 kg.

Babi periode finisher mempunyai nafsu makan yang meningkat, sedangkan kemampuan membentuk jaringan daging mulai menurun. Pertambahan bobot badan memang masih terus terjadi namun telah melampaui puncak pertumbuhan lemak sehingga pertambahan tidak secepat saat sebelum puncak pertumbuhan. Pertumbuhan yang cepat dan karkas dengan komposisi daging yang lebih banyak dibandingkan dengan tulang dan lemak adalah dua sasaran utama dari babi periode pengakhiran untuk siap dipasarkan. Permintaan akan periode pengakhiran ini lebih banyak daripada periode lain, selain itu yang dipasarkan biasanya babi pada periode akhir (Siagian, 1999).

Pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh secara kumulatif mengalami pertambahan berat selama pertumbuhan sampai mencapai kedewasaan, jadi pertumbuhan mempengaruhi pula distribusi berat dan komponen-komponen tubuh ternak termasuk tulang, otot dan lemak (Soeparno, 1994). Sifat turunan suatu bangsa akan membatasi kemungkinan perumbuhan, yaitu bobot tubuh yang akan dicapai, selain itu satu bangsa juga terdapat variasi ukuran dan berat antar individu, sehingga faktor bangsa akan berpengaruh terhadap bobot karkas, Sutardi (1980), mengemukakan bahwa kecepatan pertumbuhan suatu ternak dipengaruhi berbagai faktor antara lain bangsa, jenis kelamin, makanan dan kondisi lingkungan.

 

Kunyit

Kunyit dengan nama lain Curcuma domestica val adalah tanaman yang tumbuh dengan subur di Indonesia. Kunyit merupakan salah satu tanaman temu-temuan yang memiliki potensi cukup tinggi untuk dibudidayakan. Kunyit diduga berasal dari Inda dan Indo-Malaysia dengan pusat penyebarannya  sampai ke daerah Indo-Melanesia hingga Australia (Sudiarto dan Ratu Safitri, 1985).

Klasifikasi kunyit menurut Aseng (1985) adalah sebagai berikut :

Kingdom       : Plantae

Divisio           : Spermatophyta

Sub diviso     : Angiospermae

Class             : Monocotylledoneae

Ordo               : Zingiberales

Family           : Zingiberaceae

Genus           : Curcuma

Species         : Curcuma domestica val

 

Komponen utama pada kunyit adalah atsiri dan kurkuminoid yang merupakan zat warna kuning pada kunyit (Ashari, 1995). Kandungan kurkuminoid sebesar 3 – 4 % (Wagner, 1984). Kandungan gizi tepung kunyit antara lain memiliki energi metabolisme (EM) sebesar 2274,64 kkal, protein kasar 8,74 %, serta kasar 7,50 % kalsium 0,02 % serta Fosfor 0,61% (Hasil Analisis LIPI, 2000).

 

Kurkuminoid

Kurkuminoid merupkan komponen yang memberi warna kuning atau kuning jingga, berbentuk serbuk dengan sedikit rasa pahit, larut dalam aseton, alkohol, asam asetat glacial dan alkali hidrosisida, warna tidak stabil terhadap sinar matahari dan stabil terhadap panas. Kurkuminoid tidak larut dalam air dan dietil eter serta mempunyai aroma yang tidak bersifat toksik (Kiso, 1985).

Diketahui bahwa ekstraksi tanaman kunyit yaitu kurkuminoid mempunyai sifat kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu, juga mempengaruhi kerja syaraf hipofisa dan hati serta mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar Brunner pada dinding usus halus (Kiso, 1985). Kurkuminoid merupakan senyawa fenolik yang mempunyai sifat antibakterial yang dapat merusak membran sel bakteri pathogen seperti Salmonella dan E. Coli. Kurkuminoid memberikan keuntungan lainnya bagi ternak yaitu dapat mengurangi atau mencegah terbentuknya senyawa racun (detoksifikasi), sehingga meningkatkan efisiensi organ.

 

Protein dan Fungsinya

            Istilah protein berasal dari kata Yunan yaitu protelos yang berarti pertama atau kepentingan utama. Jadi protein merupakan zat makanan yang terutama karena sangat dibutuhkan oleh jaringan-jaringan lunak di dalam tubuh hewan seperti daging, tenunan pengikat, kolagen, kulit rambut dan kuku. (Wahyu, 1992). Protein juga merupakan zat makanan yang perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan sumber dari berbagai asam amino yang merupakan bahan pembentuk sel dalam tubuh.

            Protein dalam ransum yang diberikan pada ternak dapat berupa protein hewani dan protein nabati. Protein merupakan bagian dari bahan organik sehingga bila kecernaan bahan organik tinggi menunjukkan tingginya kualitas bahan pakan. Tanpa protein maka tidak ada kehidupan karena protein merupakan bagian utama dari jariangan tubuh (Morrison, 1981 : Herman, 2000). Kandungan protein ransum berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak karena protein merupakan zat utama dalam sintesis semua jaringan tubuh dan dalam pembentukan jariangan serta perbaikan jaringan yang rusak (Templeton, 1968).

            Konsumsi dan kecernaan protein pada ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis kelamin, genotip dan berat badan. Kebutuhan protein babi periode finisher adalah 14,01 % (NRC, 1998).

 

Sistem Pencernaan Pada Monogastrik

Babi termasuk hewan monogastrik dan bersifat omnivora, yaitu ternak pemakan semua pakan dan memiliki satu perut besar yang sederhana (Sihombing, 1997). Pada pencernaan makanan atau zat-zat makanannya dilakukan secara enzimatis. Babi mengambil pakan, mengunyah, dan mencampurkannya denagn air liur (saliva) sebelum akhirnya ditelan. Pada babi saliva mengandung enzim yang mulai memecahkan bahan pakan menjadi unsur-unsur penyusunnya, sehingga seluruh bahan pakan telah di kunyah halus sebelum ditelan. Pakan yang ditelan, bergerak menuju esofagus kemudian kedalam lambung. Lambung pada babi juga berfungsi sebagai alat penampung bahan yang sudah tercerna. Sebagian besar kegiatan pencernaan terjadi di dalam lambung, selbihnya terjadi di dalam usus halus. Usus halus yang terdiri dari bagian-bagian duodenum, jejenum dan ileum adalah tempat terjadinya penyerapan atau absorpsi yang utama dari zat-zat pakan hasil pencernaan. Bahan-bahan pakan yang tidak tercerna dan tidak diserap bergerak dari usus halus meuju ke caecum dan ke usus besar. Pada bagian ini, komponan air diserap kemabli dan sisa yang tinggal dari proses pencernaan dikeluarkand alam bentuk feses melalui anus.

 

 

 

 

Kecernaan dan Efisiensi Protein

Kecernaan Protein

Menurut Ginting, dan Elisabeth, (2002) mutu suatu bahan pakan ditentukan oleh interaksi antara usur gizi, tingkat kecernaan dan tingkat konsumsi. Kandungan unsur gizi merupakan indikator awal yang menunjukkan potensi suatu bahan pakan. Tingkat kecernaan akan menentukan seberapa besar unsur gizi yang terkandung dalam bahan pakan secara potensial dapat dimanfaatkan untuk produksi ternak.

Crampton, L loyd dan Mc Donald (1978) mendefinisikan kualitas protein merupakan manfaat relatif dari protein bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan hewan akan protein. Salah satu cara untuk mengukur kualitas protein dapat dilakukan secara biologis yaitu dengan cara mengukur kecernaan dari pakan yang akan berikan pada ternak. Dikemukan oleh Likuski dan Dorell (1978) ; Sibbald (1979), bahwa pengukur kecernaan pakan penting untuk menentukan apakah protein yang dikonsumsi benar-benar dapat tersedia dan dapat dicerna dengan baik oleh ternak dan kemudian diserap dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan jaringan atau tidak. Persentase protein yang dapat diserap ini yang dianggap sebagai koefisien cerna protein, diperoleh dengan menentukan banyknya protein yang terdapat dalam ransum dan banyaknya protein yang terdapat dalam fases. Perbedaan diantara kedua bagian ini yang dinyatakan dalam persen, adalah banyaknya protein yang dicerna oleh babi.

Menurut Arifin dan Kardiyono (1985) dan Martini (1998), kurkuminoid dapat merangsang peningkatan relaksasi usu halus. Kurkuminoid juga mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar brunner dalam usus halus pada berbagai spesies ternak percobaan, termasuk babi. Selanjutnya hormon tersebut merangsang sekresi enzim dari pankreas. Kelenjar brunner dalam dinding usus halus mengeluarkan getah usus halus yang antara lain mengandung enzin peptidase yang menghidrolisis peptida-petida menjadi asam amino. Pepsi menghidolisis protein apabila pH dalam lambung rendah atau asam. Asam hidroklorat (HCI) yang berasal dari daerah fundus membantu pepsin mencerna protein, pepsin juga berperan besar dalam menurunkan pH isi lambung. Menurunnya pH isi lambung akan meningkatkan sekresi cairan pankreas yang membantu dalam proses pencernaan protein.

Pada pencernaan babi enzim sangat berperan penting, karena enzim mampu mengubah suatu bahan yang kompleks menjadi bahan yang lebih sederhana, akan tetapi enzim itu sendiri tidak mengalami suatu perubahan. Sel-sel pankreas dikenal sebagai penghasil enzim-enzim proteolitik dan enzim-enzim lain yang diperlukan pencernaan (Frandson, 1993). Enzim yang dihasilkan oleh pankreas adalah enzim pelengkap dan merupakan enzim-enzim yang bersifat tidak aktif, antara lain adalah chymotripsinogen, tripsinogen, proelastase dan prokarboksipeptidaseyang disekresikan kedalam dupdenum, kemudian bertindak sebagai prekursor dan merubah menjadi bentuk aktif dan berperan dalam proses pencernaan dengan bantuan enzim-enzim enterokinase, yaitu enzim yang terdapat di dalam duodenum, maka terjadi pemecahan molekul tripsinogen menjadi tripsin aktif. Tripsin getah pankreas berfungsi memecah sebagian proteosa dan peptone ke dalam hasil-hasil yang lebih sederhana yaitu asam-asam amino. Erepsin dikeluarkan kedalam usus halus melengkapi pencernaan hasil pemecahan protein menjadi asam amino (Anggorodi, 1985). Enzim tripsin aktif tersebut selanjutnya menjadi prekursor yang membentuk enzim-enzim pencernaan aktif lainnya, yaitu chymitripsin, elastase dan karboksipeptidase. Ketiga enzim tersebut terkenal sebagai enzim endopeptida yang membantu memecah ikatan-ikatan peptida dan molekul-molekul protein yang besar menjadi rantai-rantai peptida yang lebih pendek (Cole dan Brander, 1986 : Ensminger dkk., 1990 : Cheeke, 1999).

 

2.6.2. Efisiensi Protein

            Efisiensi protein adalah perbandingan besarnya pertambahan bobot badan per unit protein yang dikonsumsi. Sebelum protein bahan makanan dapat diserap dan digunakan pada hewan, zat tersebut harus dirombak menjadi asam-asam amino selama pencernaan. Asam amino merupakan hasil akhir dari pencernaan protein dan merupakan zat pembangun bagi protein tubuh disamping merupakan hasil antara dalam katabolisme protein. Efisiensi protein tergantung dari kandungan asam amino esensial dan kadar asam amino non esensial yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya (Tilman dkk., 1989).

            Pemberian kurkuminoid pada ternak dalam jumlah yang tepat akan meningkatkan proses pencernaan dan dapat mengoptimalkan manfaat dari protein yang terkandung dalam ransum yang pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi protein ransum.

 

Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan

            Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah kecepatan makanan melaju dari satu bagian ke bagian yang lain dalam saliran pencernaan. Kecepatan laju makanan dalam sistem saluran pencernaan dipengaruhi oleh keambaan makanan, kadar air atau kadar bahan kering makanan dan waktu pemberian makanan. Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam (Sihombing, 1997). Bila makanan yang dikonsumsi terlalu cepat melewati saluran pencernaan, maka tidak cukup waktu untuk mencerna zat-zat makanan secara menyeluruh oleh enzim-enzim pencernaan dan enzim proteolitik yang sangat membantu dalam mengefektifkan pemecahan protein.

            Kurkuminoid dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah dan secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi usus halus akan tetapi jika diberikan dalam dosis yang tepat akan menyebabkan kontraksi spontan, yaitu kecernaan dan absorpsi bahan makanan akan meningkat. (Ramprasad dan Sirsi, 1956).

 

 

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan Penelitian

Ternak Penelitian

Ternak yang digunakan dalam penelitianadalah babi peranakan Landrace, sebanyak 20 ekor babi jantan kastrasi dengan berat rata-rata 55 – 65 kg, dengan koefisien variasi 1,42 %. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama.

 

Kurkuminoid

Kurkuminoid merupakan hasil ekstraksi dari tepung kunyit. Dalam penelitian nanti peneliti membeli kurkuminoid dari perusahaan farmasi (PT. Phytochemindo Reksa Jakarta). Kurkuminoid diberikan dengan cara ditambahkan pada ransum penelitian, setiap perlakuan diberikan kurkuminoid dengan berbagai dosis sebagai berikut :

R0    =    Ransum penelitian sebagai kontrol (tanpa kurkuminoid)

R1    =    Ransum penelitian + 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan

R2    =    Ransum penelitian + 8 mg kurkuminoid/kg bobot badan

R3    =    Ransum penelitian + 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan.

 

 

Kandang Penelitian

            Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng, dilengkapi tempat makan dan tempat minum sebanyak 20 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data.

 

Peralatan

  • Timbangan duduk dengan kapasitas 300 kg, dengan tingkat ketelitian 0,1 kg. Digunakan untuk menimbang berat ternak.
  • Timbangan duduk dengan kapasitas 3 kg, dengan tingkat ketelitian 0,01 kg. Digunakan untuk menimbang pakan dan feses ternak.
  • Timbangan Sartorius dengan ketelitian 0,2 gr. Digunakan untuk menimbang kurkuminoid.
  • Kantong plastik untuk tempat menampung sisa pakan dan tempat menampung feses.

 

Susunan Ransum

            Bahan makanan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Dedak Padi, Jagung, Tepung Ikan, Bungkil Kelapa, Bungkil Kedelai, Tepung Tulang, Premix dan kurkuminoid. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan National Reearch Council (1998).

            Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan selama penelitian diperlihatkan pada Tabel 1 dan 2, kemudian kandungan ransum penelitian terdapat pada Tabel 3.

Tabel 1.    Kandungan Zat Makanan Bahan Ransum Yang Digunakan Selama Penelitian

Bahan Makanan

EM

PK

SK

Kalsium

Posfor

  (kkal) ———————————– % —————-
Jagung 3420 10.50 2.00 0.41 0.31
Dedak Padi 2980 12.00 9.00 0.04 1.04
Tepung Ikan 2856.2 48.67 0.01 6.32 2.95
Bungkil Kelapa 3698 16.25 19.92 0.05 0.60
Bungkil Kedelai 2550 47.00 5.00 0.24 0.81
Premix 0.00 0.00 0.00 0.13 0.11
Tepung Tulang 0.00 1.04 0.00 5.16 0.14

(Sumber : Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet IPB, 2005).

 

Tabel 2.    Susunan Ransum Penelitian untuk Babi Periode Finisher

Bahan Makanan

% Susunan Ransum

Jagung 42,75
Dedak Padi 31,80
Tepung Ikan 2,25
Bungkil Kelapa 18,50
Bungkil Kedelai 3,40
Premix 0,50
Tepung Tulang 0,80
Total 100,00

(Sumber : Hasil perhitungan).

 

Tabel 3 .   Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian Periode Finisher dan Menurut NRC Tahun 1998

Ransum Percobaan

EM

PK

Ca

P

SK

  (kkal) ———————————– % —————-
FinisherNRC* 3244,763275 14,0113,20 0,320,50 0,660,40 7,507,00

(* Sumber NRC 1998).

Metoda Penelitian

Tahap Penelitian

A.      Persiapan Penelitian

1.      Persiapan kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum, analisis ransum dan persiapan peralatan selama penelitian, serta penimbang bobot awal ternak sebelum penelitian dimulai. Setiap babi dimasukkan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan secara acak.

2.      Sebelum penelitian dimulai babi terlebih dahulu diberi obat cacing.

3.      Adaptasi babi terhadap kandang, perlakuan kurkuminoid dicampurkan kedalam pakan yang pertama kali diberikan pada pagi hari dan lingkungan yang baru dilakukan selama 1 minggu.

 

B.      Selama Penelitian

1.      Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukl 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran ternak babi dan kotoran tersbeut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dibasahi dan dimandikan agar bersih dan merasa nyaman.

2.      Pemberian ransum dilakukan dua kali sehari, pukul 07.00 WIB sebanyak 2 kg ransum dicampur dengan dosis kurkuminoid dan pukul 13.00 WIB diberikan ransum 1 kg tanpa kurkuminoid, sedangkan sisa ransum ditimbang pagi berikutnya pukul 06.30 WIB, dimana selisihnya adalah jumlah konsumsi ransum.

3.      Koleksi fases dilakukan setiap hari selama 1 minggu. Penimbangan fases kering selama periode penampungan feses, yaitu dengan cara feses yang basah yang telah ditampung pada pagi harinya sebelum diberi ransum (sebelum jam 07.00 WIB) dilakukan kering jermur di bawah sinar matahari sampai kering lalu ditimbang sebagai feses kering (gram/hari) selanjutnya jumlah feses kering selama seminggu dihitung sebagai jumlah feses kering (gram/minggu).

4.      Pada pengukuran efisiensi penggunaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan, untuk mengetahui saat koleksi yang tepat, ke dalam ransum baik pada awal maupun pada akhir koleksi ditambahkan indikator Cr2O3 sebanyak 0,2 %. Selanjutnya khusus pada pengukuran efisiensi penggunaan protein, feses yang diperoleh disemprot denganlarutan asam borat 5 % dengan tujuan untuk mencegah Nitrogen yang hilang karena penguapan dan selanjutnya feses dianalisa kandungan proteinnya secara Kjeldhal.

5.      Menganalisa kadar protein kasar feses, kadar indikator dalam bahan kering (%) seteleh periode penampungan fese, dengan mengambil sample feses sebanyak 100 gram/minggu ke dalam kantong palstik lalu dianalisis di laboratorium.

 

3.3.2. Peubah Yang Diamati

1.      Rasio Efisiensi Protein (REP)

Rasioe Efisiensi Protein diperoleh dengan cara membagi pertambahan bobot badan dengan konsumsi protein (Scott, dkk, 1982).

 

 

2.      Kecernaan Protein

Kecernaan protein dihitung dengan menggunakan metode “total collecting feses” (Schendeider dan Flatt, 1975).

Kecernaan protein = k – f

k    = Jumlah protein yang di konsumsi

f     = Jumlah protein dalam fases

a.      Jumlah protein yang dikonsumsi (k)

          Jumlah konsumsi ransum per hari x persen protein yang terkandung di dalamnya.

 

b.      Jumlah protein dalam feses (f)

          Jumlah fese yang dieksresikan per hari x persen protein yang terkandung didalamnya.

c.       Selisih antara [ (k) dan (k) } : (f) x 100 merupakan koefisien cerna ransum perhari.

 

Untuk mendapatkan koefisien cerna protein kasar  dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Koefisien cerna protein kasar (PK) =

 

3.      Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan

Kecepatan laju makan dalam sistem pencernaan diukur dengan menggunakan marker khoromix oxida (Cr203) yang ditambahkan kedalam ransum. Pengukuran dilakukan setelah marker muncul bersama fese (Sihombing, 1997).

 

3.3.3. Rancangan Percobaan dan Analisis Statitik

            Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat macam dosis pemberian kurkuminoid (9, 4, 8, dan 12 mg) pada ransum. Masing-masing perlakuan terdiri dari 5 ulangan.

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dengan model statistik sebagai berikut :

 

Keterangan :

Yij = Nilai harapan dari perlakuan ke – i pada ulangan ke – j

m  = nilai rataan umum

ai  = Pengaruh perlakuan ke i = 1, 2, 3, 4.

eij  = Galat perlakuan ke – i dan ulangan ke – j = 1, 2, 3, 4, 5.

i    = Banyaknya perlakuan (i = 1, 2, 3, 4)

j    = Banyaknya ulangan (j = 1, 2, 3, 4, 5).

 

Asumsi :

1.      Nilai bij menyebar normal bebas satu sama lain

2.      Nilai harapan  eij  = 0 atau S (eij) = 0

3.      Ragam dari eij  =2 atau S (eij) = s2

         eij – NID (0, s2)

4.      Pengaruh perlakuan sifat tetap

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Protein

            Rataan kecernaan protein untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 4. rataan Kecernaan Protein pada tiap Perlakuan Selama Penelitian

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

Rataan  : R0   = Ransum Percobaan

                  R1   = Ransum Percobaan + 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan

                  R2   = Ransum Percobaan + 8 mg kurkuminoid/kg bobot badan

                  R3   = Ransum Percobaan + 12 mg mg kurkuminoid/kg bobot

                            Badan

 

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein pada babi finisher dapat dilihat pada Tabel 4. Rataan kecernaan protein adalah 43.50 %, hasil ini masih lebih rendah dari pendapat Sihombing (1997) yang menyatakan bahwa kecernaan protein babi dalam kebanyakan bahan makanan dengan kandungan Energi Metabolisme 3190 kkal dan Protein Kasar 14 %berkisar antara 75 % – 90 %. Kecernaan protein yang rendah pada babi salah satunya ditentukan oleh genotp, dimana babi yang digunakan dalam pelitian ini adalah babi peranakan Landrace, yaitu bangsa babi yang sudah tidak murni lagi karena merupakan hasil persilangan dari babi Landrace dengan babi lokal sehingga kecernaan proteinnya tidak sebaik babi Landrace murni.

            Berdasrkan Tabel 4, kecernaan protein tertinggi diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1 (47,39%), kemudian berturut-turut disusul oleh perlakuan R0 (42,43 %), R3 (42,11 %) dan R2 (42,08 %). Babi yang diberi perlakuan R1 dengan pemberian dosis 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memperlihatkan daya cerna protein tertinggi, kaena pemberian kurkuminoid pada dosis yang tepat dapat meningkatkan kecernaan zat-zat makanan khususnya protein, hal ini disesui dengan pernyataan Arifin dan Kardiyono (1985) serta Martini (1998), bahwa kurkuminoid dapat merangsang sekresi hormon dari kelenjar Brunner pada dinding usus halus, selanjutnya hormon inilah yang akan merangsang peningkatan sekresi enzim-enzim pencernaan dari kelenjar pancreas yang oleh enzim enterokinase dalam usus halus dirombak menjadi enzim tripsin yang pada gilirannya dapat meningkatkan kecernaan protein.

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein, dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 4. Analisis sidik ragam memperlihatkan hasil bahwa pemberian kurkuminoid dalam ransum menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dimana F hit > Fa 0,05. untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecernaan protein dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan yang hasilnya disajikan pada Tabel 5.

 

 

 

Tabel 5. Uji Jarak Berganda Duncan

Perlakuan

Kecernaan Protein

Signifikasi 0,05

R1R0

R3

R2

47.3942.43

42.11

42.08

BA

A

A

Keterangan :     Huruf yang sama ke arah kolom pada kolom signifikasi menunjukkan perbedaan yang tidak nyata.

 

            Pada babi yang diberi perlakuan R2 dan R3 daya cerna bahan pakan menurun hal ini disebabkan jumlah pemberian dosis yang sudah tidak tepat dan dalam jumlah yang lebih besar sehingga tidak memberikan pengaruh yang positif terhadap babi. Hal ini sesuai dengan pendapat Bile dkk (1985) bahwa pemberian kurkuminoid dalam jumlah yang berlebih dalam ransum babi akan mengakibatkan kerusakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid.

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Efisiensi Protein

            Rataan efisiensi untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 6. Rataan Efisiensi Protein pada Tiap Perlakuan Selama Penelitian.

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

            Nilai rata-rata efisiensi protein adalah 1,27 (Tabel 6), nilai in masih lebih kecil dibandingkan menurut perhitungan NRC (1998), pertambahan bobot badan harian untuk babi finisher adalah 800 g/hari dengan kebutuhan protein 14 % dan konsumsi ransum 2500 – 3000 g/hari, maka di dapat efisiensi penggunaan proteinnya adalah 2,03. berdasarkan tabel 6, efisiensi protein tertinggi diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1 (,45) kemudian berturut-turut R0 (1,35), R1 (1,17), dan R2 (1,10).

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap efisiensi protein dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 4. hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian kurkuminoid dalam ransum tidak berbeda nyata terhadap efisiensi protein F hit < F 0,05.

            Pemberian kurkuminoid dalam jumlah yang tepat akan meningkatkan proses pencernaan dan dapat mengoptimalkan manfaat dari protein yang terkandung dalam ransum yang pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi protein ransum (Thilman dkk, 1986). Penggunaan kurkuminoid pada penelitian ini kemungkinan belum menemukan dosisi yang tepat sehingga tidak berimplikasi terhadap efisiensi protein ransum.

 

 

 

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan

            Rataan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 7.     Rataan Kecepatan Laju Makanan pada Tiap Perlakuan Selama Penelitian

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher dapat dilihat pada Tabel 6. rataan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah 19,50 jam, hasil ini sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) yang menyatakan bahwa kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 5. hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian dosis (0, 4, 8, 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan) dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dimana F hitung < dari Fa 0,05.

Menurut pendapat Ramprasad dari Sirsi (1956) yang menyatakan bahwa peristaltik usus halus dapat mempengaruhi keceapatn laju makanan dalam sistem pencernaan. Kurkuminoid dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi spontan, akibatnya perjalanan ransum dalam usus halus menjadi lebih lama. Penggunaan kurkuminoid pada penelitian ini kemungkinan belum menemukan dosis yang tepat sehingga tidak berimplikasi etrhadap kecepatan laju makanan di dalam saluran pencernaan.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa babi yang diberi perlakuan berbagai dosis kurkuminoid menunjukkan pengaruh yang berbeda terhadap kecernaan protein dan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein dan kecapatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher. Kesimpulan yang diperoleh, yaitu :

1.      Pemberian kurkuminoid dalam ransum sampai tingkat 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memberikan pengaruh yang positif terhadap kecernaan protein dan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein ransum dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher.

2.      Pemberian kurkuminoid pada dosis 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memberikan hasil terbaik terhadap kecernaan protein dan pemberian kurkuminoid sampai 12 mg/kg bobot badan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher.

Saran

            Pemberian dosis kurkuminoid dalam ransum babi finisher sebanyak 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan dapat meningkatkan daya cerna babi terhadap protein ransum babi finisher.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

 

Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetekan ke-4. PT. Gramedia Jakarta.

 

Arifin dan Kardiyono. 1985. Temulawak dalam Pengobatan Tradisional. Proseding Simposium Nasional Temulawak. Universitas Padjadjaran Bandung.

 

Ashari, S. 1995. Holtikultura Aspek Budaya. Penerbit Univeristas Indonesia.

 

Bile N, Larsen JC, Hansen EN, Wuthzen G. 19895. Subcronis Oral Toxicity of Tumeric oleorisin in pig. Food Chem Toxicol 23 : 367 – 973.

 

Cheeke, P. R. 1999. Contemporry Issues in Animal Agriculture. Interstate Publisher, Inc. Denville, Llinois.

 

Cole, D.J. A., and G. C Brander 1986. Bioindustrial Ecosystem. Ecosystem of The World 21. Elsevier Science Publishing Company Inc. Amsterdam.

 

Darwis, S.N., A.B.D. Madjo Indo dan S> Haisyah. 1991. Tumbuhan Obat dan Famili Zingiberaceae. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Bogor.

 

Direktorat Jendral Peternakan 2003. Statistik Indonesia. Jakarta.

 

Elizabeth, 2002. Potensi Industri Kelapa Sawit dalam Mendukung Pengembangan Peternakan di Indonesia. Pusat Penelitian Kelapa Sawit Jl. Brigjend. Katamso No. 51, Medan.

 

Ensminger. 1969. Animal Science. Intrerstale Publisher, inc. Danvile. Llinois. USA.

 

Ensminger, M.E., J.E. Oldfied, and W.W. Heinemann. 1990. Feed and Nutrion. Second Edition. Ensminger Publishing Company Inc., Amsterdam.

 

Enseminger, M. E., J. E. Oldfield, and W.W. Heinemann. 1990. Feed and Nutrion. Second Edition. Ensminger Publishing Company Inc., Amsterdam.

 

Fardiaz, S. 1982. Penuntun Praktek Laboratorium Mikrobiologi Pangan. Jurusan Ilmu dan teknologi Pangan. IPB, Bogor.

 

Fraizer, W.C. and D.C. Westhoff. 1978. Food Microbiology. Tata Mc-Graw Hill Pub. Co.Ltd. New Deldhi.

 

Frandson R. D. Penerjemah B. Srigandono Koen Praseno. 1993. 1993. Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University, Press.

 

Ginting, SP., SW Handayani and PP. Ketaren. 1987. Utilization of Palm Kernel Cake for Sheep Production. In : Advances in Animal Feeds and Feeding in The Tropic. RI. Hutagalung, CC. Peng, Wan M. Embong, LA, Theem and S. Sibarajasingam (Eds). Proc 10th Annual Conference of the Malaysian Soc. Anim. Prod. Pahang. Malaysia. Pp. 235 – 239.

 

Herman, R. 2000. Produksi Kelinci dan Marmot – Anatomi dan Fisiologi Alat Pencernaan Serta Kebutuhan Pakan. Buku ke – 3. Makalah Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

John Keys. D. Chinese Herbs Their Botany, Chemistry and Pharmacodinamics.  Charles E. Tuttle Company. Tokyo. 75 – 76.

 

Kiso. 1985. Anti Hepatotic Prinsipleess of Longa Rhizoma. Proeseeding. Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Univeristas Padjadjaran Bandung.

 

Lubis, D.A. 1963. Ilmu Makanan Ternak.  PT. Pembangunan Jakarta.

 

Martini, S. 1998. Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Berbagai Jenis Curcuma dan Kombinasinya Sebagai Pakan Adiktif Terhadap Produksi Karkas Serta Komposisi Asam Lemak Karkas pada Kelinci Peranakan New Zealand White. Disertasi. Unpad Bandung.

 

Morrison, F. B. 1981. Feeds and Feeding. Abriged. 9th Ed. The Morrison Publishing Company. Cloremont, Ontario. Canada.

 

Natarajan, C.P. and Y.S. Lewis. 1980. Technology of Ginger and Tumeric. Proceeding of the National Seminaron Tumeris. Central Plantation Crops Research Institute, Kasaragod. Kerala India.

 

Narayanan, C.S., K. Rajaraman, B. Sangkarikutyy, M. A> Sumathikitty and A.G. Mathew, 1980. The Colouring Pinciple of Tumeric. Proceeding of the National Seminar on Ginger and Tumeric.  Central Plantation Crops Research Institue. Keala, India.

 

Nasional Research Council (NRC), 1998. Nutrient Requitmens of Swine.  National Academy Press, Washington D. C.

 

O. B. Liang. 1985. Beberapa Aspek Isolasi. Identifikasi dan Penggunaan Komponen-komponen Curcuma Xanthorrhiz. Roxb dan Curcuma domestica Val. Simposium National Temulawak. Unpad Bandung.

 

Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Mogogastrik. Vol. 1a. Penerbit Angkasa Bandung.

 

Ramprassad, C dan M. Sirsi, 1956. Studies on Indian Medical Plant : Curcuma Loa Linn. Effevt of Curcuma and the Esensential oil of C. Longa on bile Secretion, J. Sci. Industry.  Res 15 (12) : 262 – 265.

 

Ranjhan, S.K. 1977. Animal Nutrition and Feeding Practice in India. Vikas Publishing House PVT. Ltd. New Delhi, Bombay, Bangalore Calcutta Kampar.

 

Rukmana, R. 1994. Kunyit Yayasan Kanisius. Jakarta. 1 – 10

 

Schneider, B. H. Dan W. P. Flatt. 1975. The Evaluation of Feeds Through Digestibility Experiment. The University of Georgia Press. Georgia. Hal. 139 – 140.

 

Scott, M. L. Nesiheim and R> J. Young. 1982. Nutrition of The Chicken. 3rd Ed. M. L. Scott and Associates Publisher. Ithaca – New York.

 

Shankar TNB, Shanta NV, Ramesh HP, Murthy VS. 1980. Toxicity Studies on Tumeric (Curcuma longa) in rat, guine pig and monkey. Indian. J. Exp. Biol. 18 : 73 – 75.

 

Siagian, P. H. 1999. Manajemen Ternak Babi.  Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

 

Sibbald, IR. 1979. A Bioassay for Available Amin Acids and True Metabolizable Energi in Feeding Stuffs.  Poult. Sci. 56 – 68.

 

Sihombing, DTH. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Sinaga, S. 2003. Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Aditif Tepung Kunyit pada Babi Periode Finisher. Fapet, Unpad Bandung.

 

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging.  Cetakan kedua. Gadjah Mada University Press Yogyakarta. p :  243.

 

Sosroamidjojo, MS. 1997. Ternak Potong dan Kerja. C. U. Yasa Guna. Jakarta.

 

Sudiarto dan Ratu Safitri. 1985. Pengaruh Pengeringan dan Giberllin Terhadap Pertunasan Rimpang Kunyit (Curcuma Domestika val). Balai Penelitian Rempah dan Obat, Bogor. Prosiding Simposium Nasional Temulak. Unpad Bandung.

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS CURCUMINOID PADA BABI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN

Sauland Sinaga dan Sri Martini

Fapet Unpad Bandung

ABSTRAK

Penelitian mengenai “Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Curcuminoid Pada Babi Terhadap Pertumbuhan dan Konversi Ransum” dilaksanakan pada bulan Desember 2009 sampai bulan Maret 2010 di KPBI (Koperasi Peternak Babi Indonesia), Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemberian dosis yang tepat serta pengaruh Curcuminoid sebagai bahan pakan feed additive terhadap kurva laju pertumbuhan dan angka konversi ransum.

Penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi periode starter berumur kurang lebih 2 bulan dengan bobot badan rata-rata 18 kg dan koefisien variasi 7,5 %. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat macam perlakuan yaitu 0, 4, 8 dan 12 mg/kg/bobot badan, setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Curcuminoid sebagai pakan additive tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konversi ransum sedangkan pada laju pertumbuhan dengan pemberian sebanyak       4 mg/kg bobot badan berpengaruh mempercepat laju pertumbuhan. Pemberian dosis Curcuminoid sebanyak 4 mg/kg bobot badan memberikan pengaruh terbaik pada konversi ransum dan laju pertumbuhan pada babi

 

ABSTRACT

 

Research about the effect of ration containing various dosage curcuminoid in pigs rations to growth rate and the ration conversion has been held since December 2005 until March 2006 in KPBI (Koperasi Peternak Babi Indonesia), Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. The purpose of this research is to know the Wright dosage of gives curcuminoid as feed additive also effect of curcuminoid as feed additive ration to growth rate and the ration conversion.

This research was using 20 starter period pigs, age 2 months with weight rate 18 kg and variation coefficient 6,33%. The method was which used in this research is Complete Randomized Design with four level dosage of curcuminoid i.e, 0, 4, 8 and 12 mg/kg/body weight with five replications.

The result of the research shows that giving curcuminoid as feed additive does not give the different effect to the ration conversion, but to growth rate by gives dosage of curcuminoid which 4 mg/kg/body weight effect to increase pigs growth rate. Curcuminoid which gives 4 mg/kg/body weight has give the best effect to growth rate and the ration conversion.

 

Key Word  :  Pigs, Feed Additive, Curcuminoid, Ration Conversion, Growth Rate

 

Pendahuluan

Kunyit merupakan salah satu jenis tanaman rempah-rempah asli Asia Tenggara. Kunyit juga dapat tumbuh dengan baik di daerah iklim tropis. Di Indonesia, kunyit dapat dengan mudah ditemukan serta mampu tumbuh sepanjang tahun dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian sampai 2000 m di atas permukaan laut (Rukmana, 1994).

            Pengaruh penggunaan kunyit dalam ransum ternyata menunjukkan hasil yang positif terhadap performans berbagai jenis ternak yang digunakan sebagai hewan percobaan. Penggunaan tepung kunyit 1 – 1,5% dalam ransum broiler ternyata mengurangi persentase lemak abdominal dan tidak mempengaruhi persentase bobot karkas dibandingkan broiler yang mengkonsumsi ransum tanpa kunyit (Ramdhan,1998). Pemberian tepung kunyit dengan level 2% dalam ransum memberikan pertumbuhan bobot badan tertinggi pada broiler dibandingkan dengan broiler tanpa mengkonsumsi tepung kunyit ( Aziz, 1998),  Pada kelinci jantan yang mengkonsumsi kunyit 0,5 – 1,5% dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, tetapi memperbaiki efisiensi penggunaan ransum (Martini,1998).

Komponen utama pada kunyit adalah minyak atsiri dan Curcuminoid yang merupakan zat warna kuning pada kunyit. Dilihat dari kegunaan kunyit, pengaruh kholekinetik dan kholeretik dari Curcuminoid berpengaruh memperlambat peristaltik usus halus sebagai akibat dari efek kholeretik sehingga proses absorbsi zat makanan oleh tubuh akan semakin meningkat (Sirait, 1985), (Ramaprasad dan Sirsi, 1956 yang dikutip oleh Martini, 1998)

Curcuminoid yang terkandung dalam kunyit juga memiliki fungsi kolagoga yaitu dapat meningkatkan produksi dan sekresi empedu kedalam usus halus yang pada gilirannya akan meningkatkan pencernaan lemak, protein dan karbohidrat sehingga aktivitas penyerapan zat-zat makanan meningkat, dengan adanya penyerapan zat-zat makanan yang lebih banyak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan dalam bentuk produksi daging dan penggunaan pakan yang lebih baik, (Arifin dan Kardiyono, 1985 yang dikutip oleh Martini, 1998)

Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg pertambahan bobot badan atau kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk tambahan bobot badan, dengan demikian makin rendah angka konversi akan makin efisien dalam penggunaan ransum, (Bogart, 1977). Sedangkan laju pertumbuhan merupakan kecepatan pertumbuhan dari ternak yang dinyatakan dengan pertambahan bobot badan (gram/hari). Grafik pertumbuhan ditentukan oleh tingkat konsumsi dan penyerapan makanan, bila tingkat konsumsi dan penyerapan makanan tinggi pertumbuhan juga cepat, sedangkan bila konsumsi dan penyerapan makanannya rendah akan memperlambat kecepatan pertumbuhan. Kedua variabel ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : genetik, umur, bobot badan, tingkat konsumsi makanan, pertambahan bobot badan perhari, palatabilitas dan hormon.

Berdasarkan penelitian Martini (1998) mengenai ransum mengandung tepung kunyit yang diberikan pada kelinci didapatkan hasil yang terbaik pada pemberian sebanyak 0,5 % serta kandungan Curcuminoid dalam tepung kunyit dimana setiap 100 gr tepung kunyit mengandung 3 gr Curcuminoid atau 3 % (Wagner dkk, 1984), dapat ditarik hipotesis yaitu : pemberian Curcuminoid sebanyak 8 mg/kg bobot badan (9,75 mg/kg bobot badan pada starter, 9,64 mg/kg bobot badan pada grower dan 7,50 mg/kg bobot badan pada finisher) akan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan konversi ransum.

 

 

Bahan dan Metode

Ternak Penelitian

            Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor ternak babi ras peranakan Landrace, jenis kelamin jantan kastrasi, berumur sekitar dua bulan, kisaran bobot badan ternak 20 kg dengan koefisien keragaman 6,3%. Babi dipelihara kurang lebih selama 3,5 bulan atau 14 minggu yaitu dari periode starter sampai dengan finisher.

Curcuminoid

            Curcuminoid yang digunakan dalam penelitian ini merupakan salah satu komponen utama yang dihasilkan dari pengolahan kunyit selain minyak astiri, diperoleh dari Perusahaan Farmasi PT. Phytochemindo Reksa Jakarta.  Kandang  yang digunakan dalam penelitian ini  adalah kandang individual yang terbuat dari kerangkeng besi dengan ukuran panjang 2 m, lebar 0,6 m dan tinggi 1,2 m dimana dalam kandang tersebut telah dilengkapi dengan tempat minum berupa dot dan tempat pakan dari semen berukuran 60 x 40 cm, beratap  seng. Perlengkapan lain adalah tiga buah timbangan yaitu timbangan saturius dengan ketelitian 0,001 gr untuk menimbang dosis Curcuminoid. Timbangan berkapasitas 12 kg dengan tingkat ketelitian 0,01 kg untuk menimbang sisa ransum dan timbangan berkapasitas 150 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg yang dipergunakan untuk menimbang ternak babi, bak penyimpanan ransum, sekop kecil  dan besar, ayakan, kantong plastik, sapu lidi,  kamera,  obat cacing,  termometer,  dan kerangkeng besi untuk tempat menimbang ternak.

Bahan Pakan dan Susunan Ransum Penelitian

Bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian adalah tepung jagung, tepung ikan, bungkil kelapa, bungkil kedelai, tepung tulang, dedak padi, premix. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan kebutuhan zat-zat makanan untuk ternak menurut  National Research Council (1998).

 

Tabel 1. Kandungan Zat Makanan dari Bahan Pakan yang Digunakan

 

Bahan Pakan

EM

PK

SK

Lisin

Kalsium

Posfor

(kkal)

————————–(%)————————-

Tepung jagung 3420,00 10,50   2,00 0,36  0,02  0,30
Dedak padi 3655,86 12,00   9,00 0,55  0,03  0,12
T. Ikan 2856,20 48,67   0,01 2,49  6,32  2,95
B. Kelapa 3034,50 16,25 15,38 0,59  0,05  0,60
B. Kedelai 3034,50 47   5,00 2,95  0,24  0,81
T. Tulang   100,62   0,46   0,00 0,00 28,40 14,15
Premix *       0,00   0,00   0,00 0,07  0,13  0,11

Ket:   PK = Protein Kasar,   EM = Energi Metabolis,  Ca = Kalsium,                     P = fosfor,      SK = Serat Kasar.                                                                                                             Sumber : Analisis Laboratorium Nutrisi Institut Pertanian Bogor (2005) dan Anggorodi(1979)*

Tabel 2. Susunan Ransum Penelitian Berdasarkan Periode.

Bahan Pakan Starter Grower Finisher

————————- % ————————

Jagung   46,00   44,00    42,75
Dedak padi   25,00   31,00    31,80
Tepung ikan    8,00     4,00     2,25
Bungkil Kelapa   10,35   14,70   18,50
Tepung tulang     0,55    0,80     0,80
Bungkil kedelai   10,00    5,00     3,40
Premix     0,10    0,05     0,05
Total (%) 100,00 100,00 100,00

Ket :    Terdapat  4 perlakuan dimana :

R0 = Ransum penelitian tanpa penambahan Curcuminoid

R1 = Ransum penelitian + 4 mg Curcuminoid /kg bobot badan.

R2 = Ransum penelitian + 8 mg Curcuminoid /kg bobot badan.

R3 = Ransum penelitian + 12 mg Curcuminoid /kg bobot badan.

 

Tabel 3. Kandungan Zat Makanan dari Ransum Babi Penelitian dan Kebutuhan Babi menurut NRC (1998).

 

Ransum

EM

(kkal)

PK

Lisin

Ca

P

SK

——————–(%)——————–

Starter(NRC,1998)Starter

3250

3285,3

18,00

18,11

0,70

0,76

0,70

0,71

0,60

0,63

5,00

5,26

Grower(NRC,1998)Grower

3260

3213,9

15,00

15,37

0.60

0,66

0.60

0,42

0,50

0,70

6,00

6,84

Finisher(NRC,1998)Finisher

3275

3244,8

13,20

14,00

0,60

0,58

0,50

0,32

0,40

0,66

7,00

7,50

Sumber : National Research Council, 1998

 

Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dalam penelitian adalah kegiatan rutin seperti pembersihan ternak dan kandang sebanyak dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 WIB dan 12.00 WIB hal ini dilakukan untuk membersihkan semua kotoran dari setiap kandang ke saluran pembuangan dan membuat babi lebih bersih dan merasa nyaman.

Pemberian ransum dilakukan tiga kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB, 13.00 WIB dan pukul 16.00 WIB, sedangkan penimbangan sisa ransum dilakukan pada pagi hari berikutnya pukul 06.30 WIB.  Pemberian pakan aditif  Curcuminoid  dilakukan dengan cara mencampur Curcuminoid dalam 1 kg ransum sesuai dosis masing-masing perlakuan, diberikan pada babi pada pagi hari sampai habis dikonsumsi kemudian dilanjutkan pemberian sisa ransum sesuai dengan kebutuhan babi tiap periode. Penimbangan ternak babi dilakukan tiap dua minggu sekali dan dilakukan pada pagi hari sebelum babi diberi makan.  Diusahakan untuk memberi ransum secara adlibitum terukur  dan air minum secara adlibitum agar ternak babi tersebut tidak kekurangan ransum dan air minum. 

Peubah yang Diamati dan Cara Pengukuran

  1. Konversi Ransum

Konversi ransum yaitu jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg pertambahan bobot badan.

Dapat dihitung dengan rumus :

Konsumsi Ransum (gram/hari)

Konversi Ransum     =         

      Pertambahan Bobot Badan (gram/hari)

Pertambahan bobot badan diperoleh dengan menimbang setiap ekor babi tiap dua minggu sekali sebelum ransum pagi diberikan, sedangkan rataan pertambahan bobot badan kemudian dihitung dari selisih penimbangan sebelumnya dengan jarak waktu penimbangan yaitu 14 hari.

 (W2 – W1)

Pertambahan Bobot Badan    =

                                                   (t2 –  t1)

Dimana :        W1      =  Bobot awal

                                    W2      =  Bobot badan akhir

t2 –t1    =  Selisih waktu antara  W2 dan W1 (14 hari)

  1. Laju Pertumbuhan

Laju Pertumbuhan yaitu kecepatan pertumbuhan dari ternak yang ditentukan berdasarkan pertambahan bobot badan (gram/hari).

Kurva Laju pertumbuhan dari masing-masing perlakuan digambarkan dengan menggunakan persamaan regresi linear sederhana

Rancangan Percobaan Dan Analisis Statistik

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental yang terdiri dari empat perlakuan, Salah satu perlakuan sebagai kontrol tanpa mengandung Curcuminoid dan tiga perlakuan lainnya mengandung  Curcuminoid dengan tingkat dosis yang berbeda. Masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi.  Analisis Statistik yang digunakan untuk menghitung  Konversi Ransum  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). (Steel dan Torrie, 1989).  Model matematik yang digunakan untuk menggambarkan kurva laju pertumbuhan adalah persamaan regresi linear sederhana dengan rumus :

                                                y = a + bx

Keterangan :

y          = Harga prediksi y apabila harga x diketahui.

x          = Waktu penimbangan babi.

a          = Potongan pada sumbu vertikal oleh garis regresi (konstanta).

b          = Koefisien arah garis regresi

 

 

 

 

Hasil dan Pembahasan

Konversi Ransum

Pengaruh pemberian Curcuminoid sebagai bahan pakan additive pada babi pada awal sampai dengan akhir pengambilan data terhadap konversi ransum dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

 

Tabel 4 . Rata-rata Konversi Ransum Babi Selama Penelitian

 

Ulangan

Perlakuan

Rata -rata

R0

R1

R2

R3

1

4.01

3.52

3.81

3.87

 

2

3.81

3.85

3.79

3.99

 

3

3.89

3.75

4.08

3.60

 

4

3.69

3.73

3.57

4.05

 

5

4.05

3.91

3.72

3.65

 

Rata-rata

3.890

3.752

3.794

3.832

3.82

 

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa rata-rata angka konversi ransum terendah yaitu 3,752 (perlakuan R1), kemudian dilanjutkan berturut-turut 3,794 (perlakuan R2); 3,832 (perlakuan R3); 3,890 (perlakuan R0).

Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukkan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian makin rendahnya angka konversi menunjukkan bahwa ternak tersebut makin efisien dalam penggunaan ransum. (Campbell dan Lasley, 1985).

Sedangkan untuk rata-rata konversi ransum secara keseluruhan perlakuan diperoleh angka sebesar 3,82. Angka tersebut lebih tinggi daripada  angka konversi ransum yang diharapkan pada pemeliharaan babi menurut NRC(1998) yaitu sekitar 3,25. Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan lingkungan pemeliharaan, bahan makanan yang diberikan serta genetik dari babi tersebut. Sihombing (1997), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi, bangsa ternak, lingkungan, kesehatan ternak dan keseimbangan ransum yang diberikan.

Ternak babi penelitian yang digunakan adalah babi dengan peranakan Landrace yang telah disilangkan dengan babi lokal Indonesia walaupun penampilan secara fisik merupakan babi dengan ras Landrace tetapi tetap memiliki genetik babi lokal Indonesia sedangkan pada NRC(1998) menggunakan babi ras Landrace murni dengan bibit yang unggul. Untuk lingkungan pemeliharaan dimana ternak babi pada NRC(1998) selalu tetap dan cenderung konstan baik suhu dan kelembaban pada sekitar kandang, sedangkan pada lingkungan kandang penelitian cenderung berubah-ubah karena faktor cuaca selama penelitian berlangsung, baik musim kemarau pada bulan Februari dan Maret dan musim penghujan pada bulan Desember dan Januari. Sedangkan bahan pakan juga sangat berpengaruh terhadap performans dari ternak babi, seperti halnya ternak babi penelitian hanya diberikan bahan pakan yang relatif lebih murah dan kurang baik kualitasnya berbeda dengan bahan pakan menurut NRC (1998) yang relatif lebih mahal dan baik kualitasnya.

            Angka konversi ransum dari babi penelitian dengan perlakuan R1, R2 dan R3 yang lebih kecil dari angka konversi dari perlakuan kontrol (R0) menunjukkan bahwa babi dengan penambahan Curcuminoid sebagai tambahan pakan atau feed additive memberikan pengaruh positif terhadap performans ternak babi. Sedangkan angka konversi ransum perlakuan R1 lebih kecil daripada perlakuan R2 menunjukkan bahwa perlakuan R1 memberikan pengaruh positif yang lebih besar daripada perlakuan R2, dan perlakuan R2 memberikan pengaruh positif lebih baik daripada perlakuan R3.

            Perbedaan angka konversi dari perlakuan R1, R2 dan R3 disebabkan karena pengaruh rasa pahit yang terkandung dalam Curcuminoid, sehingga semakin banyak Curcuminoid yang terkandung dalam ransum, maka akan membuat ransum akan terasa semakin pahit. Perlakuan R1 mengandung lebih sedikit Curcuminoid daripada perlakuan R2 dan R3 yaitu 4 mg/kg bobot badan untuk perlakuan R1, 8 mg/kg bobot badan untuk perlakuan R2 dan 12 mg/kg bobot badan untuk perlakuan R3. Dengan bertambah pahitnya ransum maka konsumsi akan berkurang sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan dan dapat memperbesar angka konversi ransum. Hal ini sesuai dengan pernyataan Church (1979) yang dikutip oleh Sinaga (2002) bahwa tinggi rendahnya konsumsi ransum dipengaruhi secara umum oleh palatabilitas dan energi yang terkandung dalam ransum, dimana palatabilitas tergantung pada bau, rasa, tekstur dan bentuk dari makanan yang dikonsumsi oleh ternak.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum dilakukan analis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan ransum tidak berbeda nyata (Fhit ≤ F 0,05) terhadap konversi ransum babi. Dengan hasil analisis sidik ragam tersebut maka tidak dilakukan Uji Tukey untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan terhadap konversi ransum.

 

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Laju Pertumbuhan

Pengaruh pemberian Curcuminoid sebagai bahan pakan additive pada babi pada awal sampai dengan akhir pengambilan data terhadap pertambahan bobot badan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

 

Tabel 5 Rata-rata Pertambahan Bobot Badan Harian Babi selama Penelitian.

 

Minggu ke-

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

 

—————————– kg ——————————-

2

0.451

0.446

0.462

0.443

4

0.465

0.549

0.513

0.494

6

0.584

0.567

0.544

0.615

8

0.566

0.714

0.689

0.598

10

0.676

0.721

0.702

0.687

12

0.698

0.738

0.714

0.694

14

0.732

0.808

0.786

0.781

 

Laju pertumbuhan babi diukur berdasarkan data pertambahan bobot badan harian rata-rata tiap 2 minggu. Pengambilan data atau penimbangan babi setiap 2 minggu ini dimaksudkan agar babi tidak terlalu sering merasakan stress akibat penimbangan, karena stress akan mengakibatkan konsumsi akan menurun dan pertambahan bobot badan pun akan kecil.

Dari data tersebut masing-masing perlakuan ditentukan persamaan regresinya, kemudian dari persamaan regresi tersebut dapat ditampilkan grafik persamaan regresi dari masing-masing perlakuan, dimana sumbu Y merupakan Pertambahan Bobot Badan Harian dan sumbu X merupakan Waktu Penimbangan yaitu setiap 2 minggu. 

Semakin besar sudut yang dibentuk antara sumbu X dengan kurva regresi maka laju pertumbuhan babi semakin besar. Hasil analisis regresi laju pertumbuhan dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

Grafik regresi laju pertumbuhan babi penelitian dari masing-masing perlakuan

Persamaan garis regresi dari tiap perlakuan :

R0 = 0.396 + 0.0250 x

R1 = 0.418 + 0.0289 x

R2 = 0.411 + 0.0274 x

R3 = 0.404 + 0.0265 x

Dari persamaan regresi y = a + bx (Steel dan Torrie, 1989) diatas, diperoleh nilai b yaitu sudut kemiringan dari kurva terhadap sumbu x. Semakin besar nilai b mengakibatkan kurva semakin miring sehingga laju pertumbuhan atau percepatan pertumbuhan semakin besar. Kemiringan kurva yang terbesar ditunjukkan oleh kurva dengan perlakuan R1 yaitu sebesar 0,0289 kemudian berturut-turut perlakuan R2 sebesar 0,0274; perlakuan R3 sebesar 0,0265; dan perlakuan R0 sebesar 0,0250, hal ini menunjukkan bahwa dengan penambahan Curcuminoid sebagai pakan aditif pada babi memberikan pengaruh dalam mempercepat laju pertumbuhan,  sedangkan untuk pengaruh dari Curcuminoid itu sendiri terlihat pada nilai b yang semakin kecil seiring dengan bertambahnya dosis Curcuminoid yang diberikan, hal tersebut mungkin disebabkan oleh rasa pahit yang ditimbulkan dengan penambahan dosis Curcuminoid, dimana dengan penambahan pakan aditif ini mengakibatkan tingkat palatabilitas dari ransum yang digunakan menurun, hal ini mengakibatkan jumlah ransum yang dikonsumsi oleh ternak babi berkurang sehingga berpengaruh terhadap kecepatan dari laju pertumbuhan.

Crampton dan Harris, (1969) yang dikutip oleh Sinaga (2002) menyatakan bahwa besarnya kenaikan bobot badan ternak untuk menentukan kecepatan dan percepatan pertumbuhan dipengaruhi oleh jumlah ransum yang dikonsumsi serta keadaan ransum tersebut atau palatabilitas dari ransum tersebut, selain hal tersebut zat-zat makanan yang cukup dan kualitas yang baik dari ransum diperlukan sekali untuk mencapai berat badan yang maksimal.

Berdasarkan hasil analisis regresi kurva laju pertumbuhan,   perlakuan R1 dengan penambahan tingkat dosis Curcuminoid sebesar         4 mg/kg bobot badan pada ransum menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat dan memberikan pengaruh terbaik daripada perlakuan dengan dosis lain maupun perlakuan kontrol.

 

Kesimpulan dan Saran

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan serta analisis yang telah dilakukan selama penelitian didapatkan beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Pemberian Curcuminoid dengan dosis 4 mg/kg bobot badan, 8 mg/kg bobot badan dan 12 mg/kg bobot badan tidak berbeda nyata terhadap konversi ransum, tetapi memberikan pengaruh positif terhadap perlakuan daripada perlakuan normal. Pemberian Curcuminoid sebagai pakan aditif dengan dosis 4 mg/kg bobot badan, 8 mg/kg bobot badan dan 12 mg/kg bobot badan berpengaruh menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat daripada perlakuan normal.
  2. Pemberian Curcuminoid dengan dosis 4 mg/kg bobot badan memberikan pengaruh terbaik terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan pada ternak babi.

 

 

Saran

Berdasarkan hasil penelitian serta analisis yang dilakukan, disarankan agar pemberian ransum pada babi dengan penambahan Curcuminoid sebagai pakan aditif, digunakan penambahan dosis sebesar     4 mg/kg bobot badan untuk dapat menghasilkan angka konversi dan laju pertumbuhan yang lebih baik.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum, Cetakan Pertama. PT Gramedia Jakarta; 207-237.

Arifin dan Kardiyono. 1985. Temulawak dalam Pengobatan Tradisional. Proseding Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Bandung.

Aziz, R. 1998. Pengaruh Pemberian Kunyit dalam Ransum terhadap Performan Broiler. Fapet. Unpad. Bandung.

Bogart, R. 1977. Scientific Farm Animal Production. Burgess Publishing Company. Mineapolis. Minnesota.

Campbell, J. R. and J. F. Lasley. 1985. The Science of Animals that Served Mankind. 3 th Ed. Tata Mc Graw. Hill Publishing Company Limited. New Delhi. Pp 390-392.

Church, D. C. 1979. Factor Affecting Feed Comsumption. Livestock Feed and Feeding. Durhan and Docuney, Inc. Page 136-139.

Cole, H. and Ronning. 1974. Animal Agriculture. W. H. Freeman and Company. San Fransisco.

Crampton, E. W. and L. E. Harris. 1969. Applied Animal Nutritions. Second Edition. Freeman and Company, San Fransisco.

Cuncha, T. J. 1977. Swine Feeding and Production. Academic Press, Inc., New York.

Dewi dan Ratu, 2000. Kunyit. www.asiamaya.com.

Fakete, S. 1985. Rabbits Feeds and Feeding, withs Special Regard To Tropical Condition. J. Apply. Rabbit Res. 8(4) : 167-171.

Hembing, W. Setiawan., A. S. Wirian. 1996. Tanaman Berkhasiat Obat Di Indonesia. Pustaka Kartini. Jakarta. Hal 93.

Kiso.1985. Anti Hepatotoxic Principlees of Longa Rhizoma. Proseeding Simposium Nasional Temu Lawak. Lembaga Penelitian UNPAD. Bandung.

Lang, L. 1981. The Nutrition of the Commercial Rabbit Part I : Phsiology, Digestible and Nutrient Reguirement. Nutrian Abstract and Review series B. 51 : 197-225.

Martini, S. 1998. Pengaruh pemberian ransum yang Mengandung  Berbagai jenis Curcuma dan Kombinasinya sebagai pakan Aditif terhadap Produksi Karkas serta Komposisi Asam Lemak Karkas pada Kelinci peranakan New Zealand White. Disertasi. UNPAD. Bandung.

Najoan, A. 2002. Evaluasi Nutrisi Beberapa Bahan Pakan Daerah Sulawesi Utara untuk Penggemukan Babi. Disertasi. UNPAD. Bandung.

National Research Council. 1998. Nutrient Requirements of Swine. National Academy Press, Washington, D.C.

Pond, W. G. and  J. H. Maner. 1974. Swine Production in The Temperate and Tropical Environments. W. H. Freeman and Company, San Fransisco, pp. 31 – 411

Ramaprasad dan M. Sirsi. 1956. Studies on Indian Medicial Plants : Curcuma longa Linn. Effect of Curcumin and The Essential Oils of Curcuma longa on Bile Secretion. J . Sci. Industr. Res. Vol 15c Pharmacology Laboratory, Indian Institute of Science. Bangalore. 262-265.

Ramdhan. 1998. Pengaruh Pemberian Kunyit dalam Ransum terhadap Performan Broiler. Fapet. Unpad. Bandung.

Ranjhan, S. K. 1981. Animal Nutrition in Tropics. 2nd Rev. Ed. Vikas Publishing House, Pvt-Ltd, Kamba Nogar, Delhi. Pp 17-91.

Rukmana, R. 1994. Kunyit. Yayasan Kanisius. Bandung. 1-10.

Siagian, P. H. 1999. Manajemen Ternak Babi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

 

Sihombing, D. T. H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Sinaga, S. 2002. PerformansProduksi Babi Akibat Tingkat Pemberian Manure Ayam Petelur dan Asam Amino L-Lisin Sebagai Bahan Pakan Alternatif. Thesis. Unpad. Bandung.

Sinanbela, J. M., 1985. Fitoterafi, Fitostandar dan Temulawak. Proseding Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran Bandung.

Sirait, M. 1985. Pemeriksaan Kadar Xanthorizhol dalam Curcuma Xanthoriza roxb. Proseding Simposium Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Bandung.

Sosroamidjodjo, M.S. 1977. Ternak Potong dan Kerja. Penerbit C. V. Yasa Guna. Jakarta. Hal. 30-35.

Steel, R.G.D dan J.H. Torrie. 1989.  Prinsip dan Prosedur Statistika. Terjemahan  B. Sumantri.  Cetakan ke-2. PT Gramedia, Jakarta.

Sudiarto dan R. Safitri. 1985. Pengaruh Pengeringan dan Giberellin terhadap Pertunasan Rimpang Kunyit (Curcuma domestica val.) Balai Penelitian Rempah dan Obat, Bogor. Prosiding Simposium Nasional Temulawak. Unversitas Padjadjaran, Bandung. 31-33.

Tilman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo., S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wagner, H .1984. Plants Drugs Analisis. Springer-Vertag Berlin Heildelberg. New york. Tokyo. 14.

Williamson, G. and W. J. A. Payne. 1959. An Introduction of Animal Husbandry in The Tropics. Second Edition. Longman Grouped Ltd. London.            Page   292-297.

THE EFFECT OF PROVIDING VARIOUS CURCUMINOID DOSAGE TO DIGESTIBLE PROTEIN, PROTEIN EFFICIENCY AND THE RATE OF PASSAGE OF FEED IN FINISHER PIG’S DIGEST SYSTEM

Sauland Sinaga dan Marsudin Silalahi

 

ABSTRACT

 

The research on The Effect of Providing Curcuminoid Dosage To Digestible protein, Protein Efficiency and The Rate of Passage of Feed in Grower Period Pig’s Digest System has been conducted since January 10th, to 27th February 2008, at Pig Livestock Laboratory and Teaching Farm of KPBI Obor Swastika in Cisarua, Bandung, Indonesia.

The aim of this research was to state the effect of providing and the best dosage of curcuminoid in meal to digestible protein, protein efficiency and the rate of passage of feed in grower period pig’s digest system. 

This research used 20 grower period pigs with 35 kg average body weight and 2,13 percent variation coefficient. The experiment used the completely randomized design, the treatment given was the addition level of curcuminoid dosage (0, 4, 8 and 12 mg curcuminoid/kg body weight). Each treatment was done five times.  The result of this research gives 4 mg curcuminoid/kg body weight give in ration finisher pig increase protein digestability and no significant for protein efficiency and passing rate feed

 

Key words :  Curcuminoid, Digestible Protein, Protein Efficiency, Rate of Passage of Meal in Digest System, Grower Period Pig  

 

 

ABSTRAK

 

Penelitian tentang Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Kurkuminoid terhadap Kecernaan Protein, Efisiensi Protein dan Kecepatan Laju Makanan dalam Sistem Pencernaan Babi Grower telah dilakukan dari tanggal 10 Januari sampai 27 Februari 2008, di Laboratorium dan Teaching Farm KPBI Obor Swastika Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian dan dosis kurkuminoid yang terbaik dalam ransum terhadap kecernaan protein, efisiensi protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi grower.

Penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi periode grower, berat badan rata-rata 35 kg dengan koefisien variasi 2,13 persen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap, perlakuan yang diberikan adalah tingkat penambahan dosis kurkuminoid (0, 4, 8 dan 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ransum yang mengandung 4 mg curcuminoid/kg berat badan dalam ransum babi periode finisher  dapat meningkatkan kecernaan protein ransum dengan tidak berpengaruh terhadap efisiensi protein dan laju makanan.

 

Kata Kunci:   Kurkuminoid, Kecernaan Protein, Efisiensi Protein, Kecepatan Laju Makanan dalam Sistem Pencernaan, Babi Grower

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Babi merupakan salah satu komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memiliki sifat-sifat yang menguntungkan antara lain laju pertumbuhan cepat, sifat prolifik yaitu jumlah perkelahian yang tinggi (10 – 14 ekor/kelahiran), efisiensi ransum yang baik, persentase karkas yang tinggi dan dilihat dari jenis makanannya merupakan ternak omnivora yang efektif dalam mengubah setiap makanan menjadi daging.

Permintaan konsumen akan daging babi cukup tinggi. Peningkatan kebutuhan akan daging babi sebesar 7,11 % yakni dari 164,491 ton naik menjadi 177,093 ton, sedangkan peningkatan populasi babi hanya sebesar 3,63 % yakni dari 5.926.807 ekor menjadi 6.150.535, (Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2003).

Pemakaian beberapa zat perangsang tumbuh menguntungkan dunia peternakan baik dari produsen maupun dari segi konsumen. Bagi produsen penggunaan zat perangsang pada babi dapat memberikan pertumbuhan yang lebih cepat, efisiensi pakan yang baik dan menurunkan moralitas. Sedangkan bagi konsumen meningkatnya efisiensi dapat menyebabkan harga produk-produk peternakan menjadi lebih murah, sehingga lebih mudah dijangkau.

Kunyit merupakan salah satu jenis tanaman empah-rempah asli Asia Tenggara, diketahui bahwa ekstrasi tanaman kunyit yaitu kurkuminoid mempunyai efek yang sinergis seperti merangsang pertumbuhan. Estraksi tanaman ini dipakai dengan beberapa tujuan, diantaranya merangsang nafsu makan dan meningkatkan kecernaan makanan dan merangsang saraf Olfaktori dan papila gustatori untuk meningkatkan sekresi kelenjar empedu, lambung, pankreas dan usus. Ekstraksi tanaman akan menurunkan pH dalam usus akan meningkatkan sekresi cairan empedu yang membantu pencernaan dan merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan seperti bakteri asam laktat. Komponen kurkuminoid juga mempunyai sifat kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu, juga mempengaruhi kerja syaraf dan hipifisa serta organ hati untuk memproduksi dan menskresi cairan empedu serta mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar bruner pada dinding usus halus.

Keuntungan lain penggunaan ekstrak tanaman bagi ternak adalah dapat mengurangi dan mencegah terbentuknya senyawa racun, sehingga oragan dapat bekerja dengan baik. Pemberian tepung kunyit pada dosis tertentu tidak berpengaruh pada konsumsi, pertambahan bobot badan, tetapi meningkatkan efisiensi penggunaan protein.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Pemberian berbagai Dosis Kurkuminoid Dalam Ransum Terhadap Efisiensi Penggunaan Protein, Kecernaan Protein dan Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan Pada Babi Finisher”.

 

 

Maksud Dan Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis kurkuminoid dalam ransum terhadap efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada finisher.            Untuk menentukan tingkat pemberian berbagai dosis kurkuminoid dalam ransum sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi finisher.

 

Kegunaan Penelitian

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan sumbangan pemikiran bagi semua pihak terutama peneliti dan peternak dalam upaya pemanfaatan kurkuminoid dalam ransum jika ditinjau dari segi efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi finisher.

 

Kerangka Pemikiran

Kunyit (Curcuma domestica val). Kunyit dapat tumbuh di daerah iklim tropis. Di Indonesia kunyit dapat tumbuh sepanjang tahun, dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian sampai 2000 m di atas permukaan laut. Kisaran suhu optimal adalah 19 – 300C dengan hujan antara 1500 – 4000 mm/tahun.

Komponen terpenting dalam kunyit adalah kurkuminoid dan minyak atsiri (Rukmana, 1994). Kandungan kurkuminoid dalam kunyit sebesar 3 – 4 % (Wagner, dkk, 1983). Kurkuminoid dalam kunyit adalah 2,99 persen (Narayanan, dkk, 1980). Kurkuminoid secara biosintesis memiliki pronsip kerja kolekinetik, yaitu berperan dalam meningkatkan produksi cairan empedu, sehingga dapat meningkatkan kecernaan lemak. (Sirait, dkk, 1985). Kandungan gizi tepung kunyit antara lain memiliki Energi Metabolisme (EM) sebesar 2274,64 kkal, protein kasar 8,74 %, serat kasar 7,50 % kalsium 0,20 % serta Phospor 0,61 % (Hasil analisis LIPI, 2000). Penggunaan kunyit dikenal dapat membantu, pencernaan seperti menghilangkan dispepsia dan flatulens karena kunyit merangsang produksi gatah lambung dan cairan pencernaan lain termasuk empedu (John, dkk, 1987).

Kurkuminoid termasuk senyata fenolik, shingga mekanisme kerja kurkumin sebagai anto mikroba mirip dengan kerja antimikroba pada senyawa fenol lainnya. Senyata fenol dapat juga membunuh mikroba dengan cara Senyawa fenol dapat juga membunuh mikroba dengan cara merusak struktur membran sel dari beberapa bakteri patogen seperti Salmonella dan E. Coli. Rusaknya membran sel mengakibatkan terganggunya keseimbangan cairan sel sehingga dengan sendirinya bakteri tersebut akan terbunuh. Ramprasad dan Sirsi (1956) melaporkan bahwa kurkumin mempunyai aktivitas antimikroba, yaitu dengan menghambat pertumbuhan bakteri Micrococcus pyrogenes var. Aereus dalam larutan natrium kurkuminat 1 ppm.

Kunyit mempunyai sifat bakteriostatik dan mengandung antioksidan alami yang berpengaruh baik terhadap kesehatan ternak. Sifat bakteriostatik membuat bakteri-bakteri pathogen yang terdapat dalam saluran pencernaan menjadi inaktif (Sugiarto, dkk, 1977). Menurut Martini (1998) pemberian tepung Curcuma domestica val dalam ransum sebanyak 1-1, 5 % tidak berpengaruh terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan kelinci, tetapi meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Penelitian pada tikus menyatakan bahwa ransum yang mengandung Curcuma domestica dalam jumlah yang tepat akan menyebabkan relaksasi usus halus pada saluran pencernaan dan membantu pencernaan makanan dan absorpsi zat-zat makanan yang akan meningkatkan konsumsi, pertambahan bobot badan dan menurunkan konversi pakan (Oi Ban Liang, 1984). Pemberian sosium kukuminat dapat meningkatkan cairan empedu anjing sampai dengan 100 %, tanpa mengalami gangguan respirasi dan tekanan darah (Ramprasad dan Sirsi, 1956). Menuurt Shankar et al. (1980) dosisi 300 mg/kg pada mencit, marmut dan monyet menunjukkan gejala keracunan.

Kecernaan merupakan tolak ukur tinggi rendahnya nilai gizi suatu ransum, maksudnya ransum tersebut mudah dicerna dan diserap secara otomatis akan memberikan pengaruh yang baik terhadap ternak yang mengkonsumsinya. Menurut Anggorodi (1994) faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan adalah suhu, laju perjalanan ransum melalui alat pencernaan, bentuk fisik bahan makanan, komposisi ransum dan pengaruh terhadap perbandingan dari zat makanan lainnya.

Kecernaan protein merupakan cerminan dari kemampuan ternak dalam memanfaatkan potensi suatu bahan makanan (NRS, 1977). Kecernaan protein terantung pada kandungan protein didalam ransum (Ranjhanm 1977). Ransum yang kandungan proteinnya rendah umumnya mempunyai kecernaan yang rendah pula dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Scheider dan Flatt (1975) dan Tilman, dkk (1998) yang mengemukakan bahwa tinggi rendahnya kecernaan protein tergantung pada kandungan protein bahan pakan dan banyaknya protein yang masuk ke dalam saluran pencernaan.

Protein merupakan salah satu di antara zat-zat makanan yang mutlak dibutuhkan ternak baik untuk hidup pokok, perumbuhan dan untuk produksi (Parakkasi, 1983). Sehingga efisiensi penggunaan protein didefinisikan sebagai perbandingan besarnya pertambahan bobot badan perunit protein yang dikonsumsi. Sedangkan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah kecepatan bergeraknya makanan dari satu bagian ke bagian lain dalam saluran pencernaan. Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dipengaruhi oleh keambaan makanan, kadar air atau kadar bahan kering maupun waktu pemberian makanan (Sihombing, 1997).

Bile dkk (1985) melaporkan mengenai pemberian 60, 240 dan 1551 mg/kg BB kurkuminoid dalam ransum babi menunjukkan pada pemberian 240 dan 1551 mg/kg BB menunjukkan kerusakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid. Penelitian Sinaga (2003) yang menggunakan perlakuan terdiri atas 4 level tepung kunyit (o, 0,2, 0,4 dan 0,6 % dalam ransum) diperoleh tebal lemak punggung terendah terdapat pada babi yang mengkonsumsi ransum yang mengandung tepung kunyit 0,4 %.

Kandungan kurkuminoid tepung kunyit adalah 3 % atau 0,03 dosis terbaik pemberian tepung kunyit menurut Martini (1998) dalam ransum kelinci adalah 0,5 % atau 500 gr/100 kg (0,03 x 500 gr/100 kg = 150 mg/kg). Konsumsi harian babi periode finisher rata-rta 3 kg, maka konsumsi kurkuminoid perhari 450 mg. Apabila berat badan babi periode finisher 60 kg maka diperoleh konsumsi kurkuminoid sebanyak 7,5 = 8 mg pada tiap kilogram bobot badan.

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas ditarik hipotesis yaitu penggunaan kurkuminoid pada ransum babi periode finisher yang memberikan pengaruh terbaik adalah ransum R2 dengan dosis kurkuminoid 8 mg/kg BB.

 

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi Koperasi Peternakan Babi Indonesia, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. Waktu penelitian bulan Juni 2008.

TINJAUAN PUSTAKA

 

Bangsa Babi

Bangsa babi di dunia yang telah dijinakan berasal dari dua turunan spesies babi liar, yaitu babi liar dari Asia (Sus Vitattus) dan babi liar Eropa (Sus Scrofa) (Williamson dan Payne, 1980). Sedangkan babi yang terdapat di peternakan rakyat di Indonesia merupakan turunan hasil persiangan babi unggul yang berasal dari luar negeri dan juga babi asli Indonesia yang hidup liar di hutan yang dikenal dengan nama Celeng (Sus verrucosus) (Sasroamidjojo, 1997). Babi unggul yang berasal dari luar negeri tersebut antara lain American Landrace, Duroc, Berksjire, Poland China, dan Yorhshire.

Klasifikasi zoologis ternak babi adalah sebagai berikut (Banerjee, 1985) :

Phylum         : Chordota

Kelas             : Mamalia

Ordo               : Artiodactyla

Famili                        : Suidae

Genus           : Sus Linn

Spesies         : Sus scofa

                          Sus Vitattus

 

 

Menurut Sihombing (1997), babi dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase starter, babi umur 13 sampai 20 minggu dengan berat badan 15 sampai 35 kg, fase grower, yaitu babi yang berumur 20 sampai 28 minggu dengan berat badan 35 kg sampai 60 kg dan fase finisher, babi umur 24 sampai 36 minggu dengan berat badan 60 kg sampai 90 kg.

Babi periode finisher mempunyai nafsu makan yang meningkat, sedangkan kemampuan membentuk jaringan daging mulai menurun. Pertambahan bobot badan memang masih terus terjadi namun telah melampaui puncak pertumbuhan lemak sehingga pertambahan tidak secepat saat sebelum puncak pertumbuhan. Pertumbuhan yang cepat dan karkas dengan komposisi daging yang lebih banyak dibandingkan dengan tulang dan lemak adalah dua sasaran utama dari babi periode pengakhiran untuk siap dipasarkan. Permintaan akan periode pengakhiran ini lebih banyak daripada periode lain, selain itu yang dipasarkan biasanya babi pada periode akhir (Siagian, 1999).

Pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh secara kumulatif mengalami pertambahan berat selama pertumbuhan sampai mencapai kedewasaan, jadi pertumbuhan mempengaruhi pula distribusi berat dan komponen-komponen tubuh ternak termasuk tulang, otot dan lemak (Soeparno, 1994). Sifat turunan suatu bangsa akan membatasi kemungkinan perumbuhan, yaitu bobot tubuh yang akan dicapai, selain itu satu bangsa juga terdapat variasi ukuran dan berat antar individu, sehingga faktor bangsa akan berpengaruh terhadap bobot karkas, Sutardi (1980), mengemukakan bahwa kecepatan pertumbuhan suatu ternak dipengaruhi berbagai faktor antara lain bangsa, jenis kelamin, makanan dan kondisi lingkungan.

 

Kunyit

Kunyit dengan nama lain Curcuma domestica val adalah tanaman yang tumbuh dengan subur di Indonesia. Kunyit merupakan salah satu tanaman temu-temuan yang memiliki potensi cukup tinggi untuk dibudidayakan. Kunyit diduga berasal dari Inda dan Indo-Malaysia dengan pusat penyebarannya  sampai ke daerah Indo-Melanesia hingga Australia (Sudiarto dan Ratu Safitri, 1985).

Klasifikasi kunyit menurut Aseng (1985) adalah sebagai berikut :

Kingdom       : Plantae

Divisio           : Spermatophyta

Sub diviso     : Angiospermae

Class             : Monocotylledoneae

Ordo               : Zingiberales

Family           : Zingiberaceae

Genus           : Curcuma

Species         : Curcuma domestica val

 

Komponen utama pada kunyit adalah atsiri dan kurkuminoid yang merupakan zat warna kuning pada kunyit (Ashari, 1995). Kandungan kurkuminoid sebesar 3 – 4 % (Wagner, 1984). Kandungan gizi tepung kunyit antara lain memiliki energi metabolisme (EM) sebesar 2274,64 kkal, protein kasar 8,74 %, serta kasar 7,50 % kalsium 0,02 % serta Fosfor 0,61% (Hasil Analisis LIPI, 2000).

 

Kurkuminoid

Kurkuminoid merupkan komponen yang memberi warna kuning atau kuning jingga, berbentuk serbuk dengan sedikit rasa pahit, larut dalam aseton, alkohol, asam asetat glacial dan alkali hidrosisida, warna tidak stabil terhadap sinar matahari dan stabil terhadap panas. Kurkuminoid tidak larut dalam air dan dietil eter serta mempunyai aroma yang tidak bersifat toksik (Kiso, 1985).

Diketahui bahwa ekstraksi tanaman kunyit yaitu kurkuminoid mempunyai sifat kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu, juga mempengaruhi kerja syaraf hipofisa dan hati serta mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar Brunner pada dinding usus halus (Kiso, 1985). Kurkuminoid merupakan senyawa fenolik yang mempunyai sifat antibakterial yang dapat merusak membran sel bakteri pathogen seperti Salmonella dan E. Coli. Kurkuminoid memberikan keuntungan lainnya bagi ternak yaitu dapat mengurangi atau mencegah terbentuknya senyawa racun (detoksifikasi), sehingga meningkatkan efisiensi organ.

 

Protein dan Fungsinya

            Istilah protein berasal dari kata Yunan yaitu protelos yang berarti pertama atau kepentingan utama. Jadi protein merupakan zat makanan yang terutama karena sangat dibutuhkan oleh jaringan-jaringan lunak di dalam tubuh hewan seperti daging, tenunan pengikat, kolagen, kulit rambut dan kuku. (Wahyu, 1992). Protein juga merupakan zat makanan yang perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan sumber dari berbagai asam amino yang merupakan bahan pembentuk sel dalam tubuh.

            Protein dalam ransum yang diberikan pada ternak dapat berupa protein hewani dan protein nabati. Protein merupakan bagian dari bahan organik sehingga bila kecernaan bahan organik tinggi menunjukkan tingginya kualitas bahan pakan. Tanpa protein maka tidak ada kehidupan karena protein merupakan bagian utama dari jariangan tubuh (Morrison, 1981 : Herman, 2000). Kandungan protein ransum berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak karena protein merupakan zat utama dalam sintesis semua jaringan tubuh dan dalam pembentukan jariangan serta perbaikan jaringan yang rusak (Templeton, 1968).

            Konsumsi dan kecernaan protein pada ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis kelamin, genotip dan berat badan. Kebutuhan protein babi periode finisher adalah 14,01 % (NRC, 1998).

 

Sistem Pencernaan Pada Monogastrik

Babi termasuk hewan monogastrik dan bersifat omnivora, yaitu ternak pemakan semua pakan dan memiliki satu perut besar yang sederhana (Sihombing, 1997). Pada pencernaan makanan atau zat-zat makanannya dilakukan secara enzimatis. Babi mengambil pakan, mengunyah, dan mencampurkannya denagn air liur (saliva) sebelum akhirnya ditelan. Pada babi saliva mengandung enzim yang mulai memecahkan bahan pakan menjadi unsur-unsur penyusunnya, sehingga seluruh bahan pakan telah di kunyah halus sebelum ditelan. Pakan yang ditelan, bergerak menuju esofagus kemudian kedalam lambung. Lambung pada babi juga berfungsi sebagai alat penampung bahan yang sudah tercerna. Sebagian besar kegiatan pencernaan terjadi di dalam lambung, selbihnya terjadi di dalam usus halus. Usus halus yang terdiri dari bagian-bagian duodenum, jejenum dan ileum adalah tempat terjadinya penyerapan atau absorpsi yang utama dari zat-zat pakan hasil pencernaan. Bahan-bahan pakan yang tidak tercerna dan tidak diserap bergerak dari usus halus meuju ke caecum dan ke usus besar. Pada bagian ini, komponan air diserap kemabli dan sisa yang tinggal dari proses pencernaan dikeluarkand alam bentuk feses melalui anus.

 

 

 

 

Kecernaan dan Efisiensi Protein

Kecernaan Protein

Menurut Ginting, dan Elisabeth, (2002) mutu suatu bahan pakan ditentukan oleh interaksi antara usur gizi, tingkat kecernaan dan tingkat konsumsi. Kandungan unsur gizi merupakan indikator awal yang menunjukkan potensi suatu bahan pakan. Tingkat kecernaan akan menentukan seberapa besar unsur gizi yang terkandung dalam bahan pakan secara potensial dapat dimanfaatkan untuk produksi ternak.

Crampton, L loyd dan Mc Donald (1978) mendefinisikan kualitas protein merupakan manfaat relatif dari protein bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan hewan akan protein. Salah satu cara untuk mengukur kualitas protein dapat dilakukan secara biologis yaitu dengan cara mengukur kecernaan dari pakan yang akan berikan pada ternak. Dikemukan oleh Likuski dan Dorell (1978) ; Sibbald (1979), bahwa pengukur kecernaan pakan penting untuk menentukan apakah protein yang dikonsumsi benar-benar dapat tersedia dan dapat dicerna dengan baik oleh ternak dan kemudian diserap dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan jaringan atau tidak. Persentase protein yang dapat diserap ini yang dianggap sebagai koefisien cerna protein, diperoleh dengan menentukan banyknya protein yang terdapat dalam ransum dan banyaknya protein yang terdapat dalam fases. Perbedaan diantara kedua bagian ini yang dinyatakan dalam persen, adalah banyaknya protein yang dicerna oleh babi.

Menurut Arifin dan Kardiyono (1985) dan Martini (1998), kurkuminoid dapat merangsang peningkatan relaksasi usu halus. Kurkuminoid juga mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar brunner dalam usus halus pada berbagai spesies ternak percobaan, termasuk babi. Selanjutnya hormon tersebut merangsang sekresi enzim dari pankreas. Kelenjar brunner dalam dinding usus halus mengeluarkan getah usus halus yang antara lain mengandung enzin peptidase yang menghidrolisis peptida-petida menjadi asam amino. Pepsi menghidolisis protein apabila pH dalam lambung rendah atau asam. Asam hidroklorat (HCI) yang berasal dari daerah fundus membantu pepsin mencerna protein, pepsin juga berperan besar dalam menurunkan pH isi lambung. Menurunnya pH isi lambung akan meningkatkan sekresi cairan pankreas yang membantu dalam proses pencernaan protein.

Pada pencernaan babi enzim sangat berperan penting, karena enzim mampu mengubah suatu bahan yang kompleks menjadi bahan yang lebih sederhana, akan tetapi enzim itu sendiri tidak mengalami suatu perubahan. Sel-sel pankreas dikenal sebagai penghasil enzim-enzim proteolitik dan enzim-enzim lain yang diperlukan pencernaan (Frandson, 1993). Enzim yang dihasilkan oleh pankreas adalah enzim pelengkap dan merupakan enzim-enzim yang bersifat tidak aktif, antara lain adalah chymotripsinogen, tripsinogen, proelastase dan prokarboksipeptidaseyang disekresikan kedalam dupdenum, kemudian bertindak sebagai prekursor dan merubah menjadi bentuk aktif dan berperan dalam proses pencernaan dengan bantuan enzim-enzim enterokinase, yaitu enzim yang terdapat di dalam duodenum, maka terjadi pemecahan molekul tripsinogen menjadi tripsin aktif. Tripsin getah pankreas berfungsi memecah sebagian proteosa dan peptone ke dalam hasil-hasil yang lebih sederhana yaitu asam-asam amino. Erepsin dikeluarkan kedalam usus halus melengkapi pencernaan hasil pemecahan protein menjadi asam amino (Anggorodi, 1985). Enzim tripsin aktif tersebut selanjutnya menjadi prekursor yang membentuk enzim-enzim pencernaan aktif lainnya, yaitu chymitripsin, elastase dan karboksipeptidase. Ketiga enzim tersebut terkenal sebagai enzim endopeptida yang membantu memecah ikatan-ikatan peptida dan molekul-molekul protein yang besar menjadi rantai-rantai peptida yang lebih pendek (Cole dan Brander, 1986 : Ensminger dkk., 1990 : Cheeke, 1999).

 

2.6.2. Efisiensi Protein

            Efisiensi protein adalah perbandingan besarnya pertambahan bobot badan per unit protein yang dikonsumsi. Sebelum protein bahan makanan dapat diserap dan digunakan pada hewan, zat tersebut harus dirombak menjadi asam-asam amino selama pencernaan. Asam amino merupakan hasil akhir dari pencernaan protein dan merupakan zat pembangun bagi protein tubuh disamping merupakan hasil antara dalam katabolisme protein. Efisiensi protein tergantung dari kandungan asam amino esensial dan kadar asam amino non esensial yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya (Tilman dkk., 1989).

            Pemberian kurkuminoid pada ternak dalam jumlah yang tepat akan meningkatkan proses pencernaan dan dapat mengoptimalkan manfaat dari protein yang terkandung dalam ransum yang pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi protein ransum.

 

Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan

            Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah kecepatan makanan melaju dari satu bagian ke bagian yang lain dalam saliran pencernaan. Kecepatan laju makanan dalam sistem saluran pencernaan dipengaruhi oleh keambaan makanan, kadar air atau kadar bahan kering makanan dan waktu pemberian makanan. Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam (Sihombing, 1997). Bila makanan yang dikonsumsi terlalu cepat melewati saluran pencernaan, maka tidak cukup waktu untuk mencerna zat-zat makanan secara menyeluruh oleh enzim-enzim pencernaan dan enzim proteolitik yang sangat membantu dalam mengefektifkan pemecahan protein.

            Kurkuminoid dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah dan secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi usus halus akan tetapi jika diberikan dalam dosis yang tepat akan menyebabkan kontraksi spontan, yaitu kecernaan dan absorpsi bahan makanan akan meningkat. (Ramprasad dan Sirsi, 1956).

 

 

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan Penelitian

Ternak Penelitian

Ternak yang digunakan dalam penelitianadalah babi peranakan Landrace, sebanyak 20 ekor babi jantan kastrasi dengan berat rata-rata 55 – 65 kg, dengan koefisien variasi 1,42 %. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama.

 

Kurkuminoid

Kurkuminoid merupakan hasil ekstraksi dari tepung kunyit. Dalam penelitian nanti peneliti membeli kurkuminoid dari perusahaan farmasi (PT. Phytochemindo Reksa Jakarta). Kurkuminoid diberikan dengan cara ditambahkan pada ransum penelitian, setiap perlakuan diberikan kurkuminoid dengan berbagai dosis sebagai berikut :

R0    =    Ransum penelitian sebagai kontrol (tanpa kurkuminoid)

R1    =    Ransum penelitian + 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan

R2    =    Ransum penelitian + 8 mg kurkuminoid/kg bobot badan

R3    =    Ransum penelitian + 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan.

 

 

Kandang Penelitian

            Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng, dilengkapi tempat makan dan tempat minum sebanyak 20 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data.

 

Peralatan

  • Timbangan duduk dengan kapasitas 300 kg, dengan tingkat ketelitian 0,1 kg. Digunakan untuk menimbang berat ternak.
  • Timbangan duduk dengan kapasitas 3 kg, dengan tingkat ketelitian 0,01 kg. Digunakan untuk menimbang pakan dan feses ternak.
  • Timbangan Sartorius dengan ketelitian 0,2 gr. Digunakan untuk menimbang kurkuminoid.
  • Kantong plastik untuk tempat menampung sisa pakan dan tempat menampung feses.

 

Susunan Ransum

            Bahan makanan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Dedak Padi, Jagung, Tepung Ikan, Bungkil Kelapa, Bungkil Kedelai, Tepung Tulang, Premix dan kurkuminoid. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan National Reearch Council (1998).

            Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan selama penelitian diperlihatkan pada Tabel 1 dan 2, kemudian kandungan ransum penelitian terdapat pada Tabel 3.

Tabel 1.    Kandungan Zat Makanan Bahan Ransum Yang Digunakan Selama Penelitian

Bahan Makanan

EM

PK

SK

Kalsium

Posfor

  (kkal) ———————————– % —————-
Jagung 3420 10.50 2.00 0.41 0.31
Dedak Padi 2980 12.00 9.00 0.04 1.04
Tepung Ikan 2856.2 48.67 0.01 6.32 2.95
Bungkil Kelapa 3698 16.25 19.92 0.05 0.60
Bungkil Kedelai 2550 47.00 5.00 0.24 0.81
Premix 0.00 0.00 0.00 0.13 0.11
Tepung Tulang 0.00 1.04 0.00 5.16 0.14

(Sumber : Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet IPB, 2005).

 

Tabel 2.    Susunan Ransum Penelitian untuk Babi Periode Finisher

Bahan Makanan

% Susunan Ransum

Jagung 42,75
Dedak Padi 31,80
Tepung Ikan 2,25
Bungkil Kelapa 18,50
Bungkil Kedelai 3,40
Premix 0,50
Tepung Tulang 0,80
Total 100,00

(Sumber : Hasil perhitungan).

 

Tabel 3 .   Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian Periode Finisher dan Menurut NRC Tahun 1998

Ransum Percobaan

EM

PK

Ca

P

SK

  (kkal) ———————————– % —————-
FinisherNRC* 3244,763275 14,0113,20 0,320,50 0,660,40 7,507,00

(* Sumber NRC 1998).

Metoda Penelitian

Tahap Penelitian

A.      Persiapan Penelitian

1.      Persiapan kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum, analisis ransum dan persiapan peralatan selama penelitian, serta penimbang bobot awal ternak sebelum penelitian dimulai. Setiap babi dimasukkan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan secara acak.

2.      Sebelum penelitian dimulai babi terlebih dahulu diberi obat cacing.

3.      Adaptasi babi terhadap kandang, perlakuan kurkuminoid dicampurkan kedalam pakan yang pertama kali diberikan pada pagi hari dan lingkungan yang baru dilakukan selama 1 minggu.

 

B.      Selama Penelitian

1.      Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukl 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran ternak babi dan kotoran tersbeut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dibasahi dan dimandikan agar bersih dan merasa nyaman.

2.      Pemberian ransum dilakukan dua kali sehari, pukul 07.00 WIB sebanyak 2 kg ransum dicampur dengan dosis kurkuminoid dan pukul 13.00 WIB diberikan ransum 1 kg tanpa kurkuminoid, sedangkan sisa ransum ditimbang pagi berikutnya pukul 06.30 WIB, dimana selisihnya adalah jumlah konsumsi ransum.

3.      Koleksi fases dilakukan setiap hari selama 1 minggu. Penimbangan fases kering selama periode penampungan feses, yaitu dengan cara feses yang basah yang telah ditampung pada pagi harinya sebelum diberi ransum (sebelum jam 07.00 WIB) dilakukan kering jermur di bawah sinar matahari sampai kering lalu ditimbang sebagai feses kering (gram/hari) selanjutnya jumlah feses kering selama seminggu dihitung sebagai jumlah feses kering (gram/minggu).

4.      Pada pengukuran efisiensi penggunaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan, untuk mengetahui saat koleksi yang tepat, ke dalam ransum baik pada awal maupun pada akhir koleksi ditambahkan indikator Cr2O3 sebanyak 0,2 %. Selanjutnya khusus pada pengukuran efisiensi penggunaan protein, feses yang diperoleh disemprot denganlarutan asam borat 5 % dengan tujuan untuk mencegah Nitrogen yang hilang karena penguapan dan selanjutnya feses dianalisa kandungan proteinnya secara Kjeldhal.

5.      Menganalisa kadar protein kasar feses, kadar indikator dalam bahan kering (%) seteleh periode penampungan fese, dengan mengambil sample feses sebanyak 100 gram/minggu ke dalam kantong palstik lalu dianalisis di laboratorium.

 

3.3.2. Peubah Yang Diamati

1.      Rasio Efisiensi Protein (REP)

Rasioe Efisiensi Protein diperoleh dengan cara membagi pertambahan bobot badan dengan konsumsi protein (Scott, dkk, 1982).

 

 

2.      Kecernaan Protein

Kecernaan protein dihitung dengan menggunakan metode “total collecting feses” (Schendeider dan Flatt, 1975).

Kecernaan protein = k – f

k    = Jumlah protein yang di konsumsi

f     = Jumlah protein dalam fases

a.      Jumlah protein yang dikonsumsi (k)

          Jumlah konsumsi ransum per hari x persen protein yang terkandung di dalamnya.

 

b.      Jumlah protein dalam feses (f)

          Jumlah fese yang dieksresikan per hari x persen protein yang terkandung didalamnya.

c.       Selisih antara [ (k) dan (k) } : (f) x 100 merupakan koefisien cerna ransum perhari.

 

Untuk mendapatkan koefisien cerna protein kasar  dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Koefisien cerna protein kasar (PK) =

 

3.      Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan

Kecepatan laju makan dalam sistem pencernaan diukur dengan menggunakan marker khoromix oxida (Cr203) yang ditambahkan kedalam ransum. Pengukuran dilakukan setelah marker muncul bersama fese (Sihombing, 1997).

 

3.3.3. Rancangan Percobaan dan Analisis Statitik

            Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat macam dosis pemberian kurkuminoid (9, 4, 8, dan 12 mg) pada ransum. Masing-masing perlakuan terdiri dari 5 ulangan.

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dengan model statistik sebagai berikut :

 

Keterangan :

Yij = Nilai harapan dari perlakuan ke – i pada ulangan ke – j

m  = nilai rataan umum

ai  = Pengaruh perlakuan ke i = 1, 2, 3, 4.

eij  = Galat perlakuan ke – i dan ulangan ke – j = 1, 2, 3, 4, 5.

i    = Banyaknya perlakuan (i = 1, 2, 3, 4)

j    = Banyaknya ulangan (j = 1, 2, 3, 4, 5).

 

Asumsi :

1.      Nilai bij menyebar normal bebas satu sama lain

2.      Nilai harapan  eij  = 0 atau S (eij) = 0

3.      Ragam dari eij  =2 atau S (eij) = s2

         eij – NID (0, s2)

4.      Pengaruh perlakuan sifat tetap

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Protein

            Rataan kecernaan protein untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 4. rataan Kecernaan Protein pada tiap Perlakuan Selama Penelitian

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

Rataan  : R0   = Ransum Percobaan

                  R1   = Ransum Percobaan + 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan

                  R2   = Ransum Percobaan + 8 mg kurkuminoid/kg bobot badan

                  R3   = Ransum Percobaan + 12 mg mg kurkuminoid/kg bobot

                            Badan

 

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein pada babi finisher dapat dilihat pada Tabel 4. Rataan kecernaan protein adalah 43.50 %, hasil ini masih lebih rendah dari pendapat Sihombing (1997) yang menyatakan bahwa kecernaan protein babi dalam kebanyakan bahan makanan dengan kandungan Energi Metabolisme 3190 kkal dan Protein Kasar 14 %berkisar antara 75 % – 90 %. Kecernaan protein yang rendah pada babi salah satunya ditentukan oleh genotp, dimana babi yang digunakan dalam pelitian ini adalah babi peranakan Landrace, yaitu bangsa babi yang sudah tidak murni lagi karena merupakan hasil persilangan dari babi Landrace dengan babi lokal sehingga kecernaan proteinnya tidak sebaik babi Landrace murni.

            Berdasrkan Tabel 4, kecernaan protein tertinggi diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1 (47,39%), kemudian berturut-turut disusul oleh perlakuan R0 (42,43 %), R3 (42,11 %) dan R2 (42,08 %). Babi yang diberi perlakuan R1 dengan pemberian dosis 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memperlihatkan daya cerna protein tertinggi, kaena pemberian kurkuminoid pada dosis yang tepat dapat meningkatkan kecernaan zat-zat makanan khususnya protein, hal ini disesui dengan pernyataan Arifin dan Kardiyono (1985) serta Martini (1998), bahwa kurkuminoid dapat merangsang sekresi hormon dari kelenjar Brunner pada dinding usus halus, selanjutnya hormon inilah yang akan merangsang peningkatan sekresi enzim-enzim pencernaan dari kelenjar pancreas yang oleh enzim enterokinase dalam usus halus dirombak menjadi enzim tripsin yang pada gilirannya dapat meningkatkan kecernaan protein.

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein, dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 4. Analisis sidik ragam memperlihatkan hasil bahwa pemberian kurkuminoid dalam ransum menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dimana F hit > Fa 0,05. untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecernaan protein dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan yang hasilnya disajikan pada Tabel 5.

 

 

 

Tabel 5. Uji Jarak Berganda Duncan

Perlakuan

Kecernaan Protein

Signifikasi 0,05

R1R0

R3

R2

47.3942.43

42.11

42.08

BA

A

A

Keterangan :     Huruf yang sama ke arah kolom pada kolom signifikasi menunjukkan perbedaan yang tidak nyata.

 

            Pada babi yang diberi perlakuan R2 dan R3 daya cerna bahan pakan menurun hal ini disebabkan jumlah pemberian dosis yang sudah tidak tepat dan dalam jumlah yang lebih besar sehingga tidak memberikan pengaruh yang positif terhadap babi. Hal ini sesuai dengan pendapat Bile dkk (1985) bahwa pemberian kurkuminoid dalam jumlah yang berlebih dalam ransum babi akan mengakibatkan kerusakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid.

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Efisiensi Protein

            Rataan efisiensi untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 6. Rataan Efisiensi Protein pada Tiap Perlakuan Selama Penelitian.

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

            Nilai rata-rata efisiensi protein adalah 1,27 (Tabel 6), nilai in masih lebih kecil dibandingkan menurut perhitungan NRC (1998), pertambahan bobot badan harian untuk babi finisher adalah 800 g/hari dengan kebutuhan protein 14 % dan konsumsi ransum 2500 – 3000 g/hari, maka di dapat efisiensi penggunaan proteinnya adalah 2,03. berdasarkan tabel 6, efisiensi protein tertinggi diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1 (,45) kemudian berturut-turut R0 (1,35), R1 (1,17), dan R2 (1,10).

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap efisiensi protein dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 4. hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian kurkuminoid dalam ransum tidak berbeda nyata terhadap efisiensi protein F hit < F 0,05.

            Pemberian kurkuminoid dalam jumlah yang tepat akan meningkatkan proses pencernaan dan dapat mengoptimalkan manfaat dari protein yang terkandung dalam ransum yang pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi protein ransum (Thilman dkk, 1986). Penggunaan kurkuminoid pada penelitian ini kemungkinan belum menemukan dosisi yang tepat sehingga tidak berimplikasi terhadap efisiensi protein ransum.

 

 

 

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan

            Rataan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 7.     Rataan Kecepatan Laju Makanan pada Tiap Perlakuan Selama Penelitian

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher dapat dilihat pada Tabel 6. rataan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah 19,50 jam, hasil ini sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) yang menyatakan bahwa kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 5. hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian dosis (0, 4, 8, 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan) dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dimana F hitung < dari Fa 0,05.

Menurut pendapat Ramprasad dari Sirsi (1956) yang menyatakan bahwa peristaltik usus halus dapat mempengaruhi keceapatn laju makanan dalam sistem pencernaan. Kurkuminoid dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi spontan, akibatnya perjalanan ransum dalam usus halus menjadi lebih lama. Penggunaan kurkuminoid pada penelitian ini kemungkinan belum menemukan dosis yang tepat sehingga tidak berimplikasi etrhadap kecepatan laju makanan di dalam saluran pencernaan.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa babi yang diberi perlakuan berbagai dosis kurkuminoid menunjukkan pengaruh yang berbeda terhadap kecernaan protein dan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein dan kecapatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher. Kesimpulan yang diperoleh, yaitu :

1.      Pemberian kurkuminoid dalam ransum sampai tingkat 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memberikan pengaruh yang positif terhadap kecernaan protein dan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein ransum dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher.

2.      Pemberian kurkuminoid pada dosis 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memberikan hasil terbaik terhadap kecernaan protein dan pemberian kurkuminoid sampai 12 mg/kg bobot badan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher.

Saran

            Pemberian dosis kurkuminoid dalam ransum babi finisher sebanyak 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan dapat meningkatkan daya cerna babi terhadap protein ransum babi finisher.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

 

Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetekan ke-4. PT. Gramedia Jakarta.

 

Arifin dan Kardiyono. 1985. Temulawak dalam Pengobatan Tradisional. Proseding Simposium Nasional Temulawak. Universitas Padjadjaran Bandung.

 

Ashari, S. 1995. Holtikultura Aspek Budaya. Penerbit Univeristas Indonesia.

 

Bile N, Larsen JC, Hansen EN, Wuthzen G. 19895. Subcronis Oral Toxicity of Tumeric oleorisin in pig. Food Chem Toxicol 23 : 367 – 973.

 

Cheeke, P. R. 1999. Contemporry Issues in Animal Agriculture. Interstate Publisher, Inc. Denville, Llinois.

 

Cole, D.J. A., and G. C Brander 1986. Bioindustrial Ecosystem. Ecosystem of The World 21. Elsevier Science Publishing Company Inc. Amsterdam.

 

Darwis, S.N., A.B.D. Madjo Indo dan S> Haisyah. 1991. Tumbuhan Obat dan Famili Zingiberaceae. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Bogor.

 

Direktorat Jendral Peternakan 2003. Statistik Indonesia. Jakarta.

 

Elizabeth, 2002. Potensi Industri Kelapa Sawit dalam Mendukung Pengembangan Peternakan di Indonesia. Pusat Penelitian Kelapa Sawit Jl. Brigjend. Katamso No. 51, Medan.

 

Ensminger. 1969. Animal Science. Intrerstale Publisher, inc. Danvile. Llinois. USA.

 

Ensminger, M.E., J.E. Oldfied, and W.W. Heinemann. 1990. Feed and Nutrion. Second Edition. Ensminger Publishing Company Inc., Amsterdam.

 

Enseminger, M. E., J. E. Oldfield, and W.W. Heinemann. 1990. Feed and Nutrion. Second Edition. Ensminger Publishing Company Inc., Amsterdam.

 

Fardiaz, S. 1982. Penuntun Praktek Laboratorium Mikrobiologi Pangan. Jurusan Ilmu dan teknologi Pangan. IPB, Bogor.

 

Fraizer, W.C. and D.C. Westhoff. 1978. Food Microbiology. Tata Mc-Graw Hill Pub. Co.Ltd. New Deldhi.

 

Frandson R. D. Penerjemah B. Srigandono Koen Praseno. 1993. 1993. Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University, Press.

 

Ginting, SP., SW Handayani and PP. Ketaren. 1987. Utilization of Palm Kernel Cake for Sheep Production. In : Advances in Animal Feeds and Feeding in The Tropic. RI. Hutagalung, CC. Peng, Wan M. Embong, LA, Theem and S. Sibarajasingam (Eds). Proc 10th Annual Conference of the Malaysian Soc. Anim. Prod. Pahang. Malaysia. Pp. 235 – 239.

 

Herman, R. 2000. Produksi Kelinci dan Marmot – Anatomi dan Fisiologi Alat Pencernaan Serta Kebutuhan Pakan. Buku ke – 3. Makalah Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

John Keys. D. Chinese Herbs Their Botany, Chemistry and Pharmacodinamics.  Charles E. Tuttle Company. Tokyo. 75 – 76.

 

Kiso. 1985. Anti Hepatotic Prinsipleess of Longa Rhizoma. Proeseeding. Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Univeristas Padjadjaran Bandung.

 

Lubis, D.A. 1963. Ilmu Makanan Ternak.  PT. Pembangunan Jakarta.

 

Martini, S. 1998. Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Berbagai Jenis Curcuma dan Kombinasinya Sebagai Pakan Adiktif Terhadap Produksi Karkas Serta Komposisi Asam Lemak Karkas pada Kelinci Peranakan New Zealand White. Disertasi. Unpad Bandung.

 

Morrison, F. B. 1981. Feeds and Feeding. Abriged. 9th Ed. The Morrison Publishing Company. Cloremont, Ontario. Canada.

 

Natarajan, C.P. and Y.S. Lewis. 1980. Technology of Ginger and Tumeric. Proceeding of the National Seminaron Tumeris. Central Plantation Crops Research Institute, Kasaragod. Kerala India.

 

Narayanan, C.S., K. Rajaraman, B. Sangkarikutyy, M. A> Sumathikitty and A.G. Mathew, 1980. The Colouring Pinciple of Tumeric. Proceeding of the National Seminar on Ginger and Tumeric.  Central Plantation Crops Research Institue. Keala, India.

 

Nasional Research Council (NRC), 1998. Nutrient Requitmens of Swine.  National Academy Press, Washington D. C.

 

O. B. Liang. 1985. Beberapa Aspek Isolasi. Identifikasi dan Penggunaan Komponen-komponen Curcuma Xanthorrhiz. Roxb dan Curcuma domestica Val. Simposium National Temulawak. Unpad Bandung.

 

Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Mogogastrik. Vol. 1a. Penerbit Angkasa Bandung.

 

Ramprassad, C dan M. Sirsi, 1956. Studies on Indian Medical Plant : Curcuma Loa Linn. Effevt of Curcuma and the Esensential oil of C. Longa on bile Secretion, J. Sci. Industry.  Res 15 (12) : 262 – 265.

 

Ranjhan, S.K. 1977. Animal Nutrition and Feeding Practice in India. Vikas Publishing House PVT. Ltd. New Delhi, Bombay, Bangalore Calcutta Kampar.

 

Rukmana, R. 1994. Kunyit Yayasan Kanisius. Jakarta. 1 – 10

 

Schneider, B. H. Dan W. P. Flatt. 1975. The Evaluation of Feeds Through Digestibility Experiment. The University of Georgia Press. Georgia. Hal. 139 – 140.

 

Scott, M. L. Nesiheim and R> J. Young. 1982. Nutrition of The Chicken. 3rd Ed. M. L. Scott and Associates Publisher. Ithaca – New York.

 

Shankar TNB, Shanta NV, Ramesh HP, Murthy VS. 1980. Toxicity Studies on Tumeric (Curcuma longa) in rat, guine pig and monkey. Indian. J. Exp. Biol. 18 : 73 – 75.

 

Siagian, P. H. 1999. Manajemen Ternak Babi.  Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

 

Sibbald, IR. 1979. A Bioassay for Available Amin Acids and True Metabolizable Energi in Feeding Stuffs.  Poult. Sci. 56 – 68.

 

Sihombing, DTH. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Sinaga, S. 2003. Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Aditif Tepung Kunyit pada Babi Periode Finisher. Fapet, Unpad Bandung.

 

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging.  Cetakan kedua. Gadjah Mada University Press Yogyakarta. p :  243.

 

Sosroamidjojo, MS. 1997. Ternak Potong dan Kerja. C. U. Yasa Guna. Jakarta.

 

Sudiarto dan Ratu Safitri. 1985. Pengaruh Pengeringan dan Giberllin Terhadap Pertunasan Rimpang Kunyit (Curcuma Domestika val). Balai Penelitian Rempah dan Obat, Bogor. Prosiding Simposium Nasional Temulak. Unpad Bandung.

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS CURCUMINOID PADA RANSUM BABI PERIODE STARTER TERHADAP EFISIENSI RANSUM

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium dan Teaching Farm KPBI, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung pada tanggal 2 Desember 2009 sampai 20 Januari 2010 bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ransum yang mengandung berbagai dosis curcuminoid terhadap efisiensi ransum pada babi periode starter.

Penelitian ini menggunakan 20 ekor babi periode starter yang berumur 8 minggu dengan bobot badan rata-rata 20 kg dan koefisien variasi 6,33 %. Rancangan Percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat macam perlakuan dosis curcuminoid dalam ransum (0, 4, 8, 12 mg/kg bobot badan), setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian curcuminoid sampai dosis 12 mg/kg bobot badan memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap konsumsi ransum (1175,70-1241,40 gram/ekor/hari), pertambahan bobot badan (301,40-345,60 gram/ekor/hari) dan efisiensi ransum (0,250-0,269/ekor/hari). Pemberian curcuminoid hingga 12 mg/kg bobot badan dapat diberikan pada ransum babi starter sebagai feed aditif.

 

Kata kunci : Konsumsi Ransum, Pertambahan Bobot Badan, Efisiensi Ransum, Curcuminoid

 

ABSTRACT

 

The research was conducted in KPBI Laboratory and Teaching Farm Cisarua District, Bandung Residence.The research was done for 7 weeks since December 2, 2009 until January 20, 2010, the aim of this study was to know the effect of curcuminoid dosages on consumption, body weight gain and feed efficiency pig starter.

 This research was used 20 starter period pigs, age 8 weeks with weight rate 20 kg and variation coefficient 6,33  % The method wich was used in this research is Complete Randomize Design (CRD) and there were four dosages of curcuminoid in ration (0, 4, 8, 12 mg/kg body weight) with five replication.

The result showed that providing of curcuminoid in the ration until 12 mg/kg body weight statistically gave no significant effect on consumption (1092,50-1140,13 gram), body weight gain (318,30-346,01gram) and feed efficiency (0,208-0,319) so it can be used as alternative feed additive in pig starter ration.

 

 

 

Key word : Feed Consumption, Body Weight Gain, Feed Efficiency, Curcuminoid

 

 

Pendahuluan

            Ransum merupakan faktor penunjang proses biologis yang sangat penting bagi seekor ternak untuk pertumbuhan, pembentukan jaringan tubuh maupun produksi, sehingga dalam upaya memperoleh hasil produksi yang optimal perlu diperhatikan segi kualitas dari ransum yang diberikan. Salah satu aspek yang menentukan tinggi rendahnya kualitas ransum adalah kandungan protein, energi, vitamin, mineral dan bahan-bahan lain yang menunjang pertumbuhan dan proses pencernaan biologis. Bahan-bahan lain ini diantaranya bersifat antioksidan dan antibakterial serta memenuhi syarat sebagai bahan aditif penyusun ransum, antara lain kandungan zat makanan relatif sama dengan kebutuhan ternak, bebas dari racun atau faktor-faktor yang tidak diinginkan.

Feed aditif adalah suatu bahan yang diberikan dalam jumlah tertentu (dibatasi) ke dalam campuran makanan dasar dengan tujuan memenuhi kebutuhan khusus dan bila pemberian dalam jumlah yang tepat dapat meningkatkan produksi ternak (Hartadi, dkk 1986). Feed aditif berupa bahan atau zat makanan tertentu seperti vitamin-vitamin, mineral-mineral atau asam-asam amino yang ditambahkan dalam ransum ternak (Sihombing, 1997). Sejak tahun 1950, feed aditif secara umum dipakai untuk ransum babi di negara-negara yang usaha peternakan babinya intensif dan besar, karena telah terbukti mampu memperbaiki pertumbuhan dan efisiensi pakan serta mencegah penyakit.

Feed aditif dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu feed aditif sintetik dan feed aditif alamiah. Dewasa ini, penggunaan feed aditif sintetik khususnya sebagai antioksidan, antibakterial dan pembaik produksi sering digunakan dibandingkan penggunaan feed aditif alami, terutama oleh perusahaan peternakan yang berada di negara-negara yang pengawasan penggunaan zat-zat kimia dan obat-obatan bagi ternak masih kurang diperhatikan.

Negara-negara Eropa yang tergabung dalam Eropa bersatu, sekarang ini telah melakukan pengawasan yang ketat terhadap penggunaan feed aditif sintetik yang mengandung residu dengan menetapkan standar tertentu yang berkaitan dengan penggunaan aditif sintetik tersebut. Beberapa alternatif feed aditif yang dapat ditawarkan kepada peternak untuk memicu produksi dan reproduksi adalah asam-asam organik, minyak esensial dan berbagai enzim. Senyawa aditif tersebut mampu meningkatkan produksi ternak tanpa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya.

            Curcuminoid mempunyai efek kolagoga yang dapat meningkatkan produksi dan sekresi empedu ke dalam usus halus, sehingga akan meningkatkan pencernaan lemak, protein dan karbohidrat (Kiso, 1985). Empedu berperan dalam pencernaan dan penyerapan lemak. Cairan empedu memecah gugus asam lemak berantai panjang yang tidak larut dalam air menjadi butir-butir halus, sehingga mudah diserap oleh usus halus. Empedu juga membantu kerja lipase pankreatik dalam menghidrolisasi lemak menjadi asam-asam lemak dan gliserol sehingga penyerapan lemak oleh usus halus menjadi lebih mudah (Anggorodi, 1994).

            Curcuminoid juga mempunyai aktifitas antiinflamasi, yaitu aktifitas yang menekan atau mengurangi terjadinya peradangan. Ozaki (1990) menemukan bahwa dosis 3 gram/kg bobot badan pada mencit menunjukkan aktifitas penghambatan pembengkakan yang disebabkan oleh induksi keragen.

            Kandungan curcuminoid dalam kunyit adalah 3%, sedangkan dosis terbaik pemberian tepung kunyit menurut Martini (1998) dalam ransum kelinci adalah 0,5%, maka diperoleh kandungan curcuminoid dalam ransum 15 gram/100 kg ransum (0,03×500 gram/100kg = 150 mg/kg ransum). Konsumsi ransum harian babi periode starter rata-rata 1250 gram, maka konsumsi curcuminoid perhari sebanyak 187,5 mg, apabila berat badan babi periode starter 20 kg maka didapatkan konsumsi curcuminoid 9,375≈8 mg setiap kg bobot badan. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil hipotesis pemberian curcuminoid sebanyak 8 mg/kg bobot badan pada babi starter memberikan pengaruh yang terbaik terhadap efisiensi pakan.

 

Bahan dan Metode

Penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi jantan peranakan Landrace berumur sekitar 8 minggu (lepas sapih dengan berat rata-rata 18,38 kg) dan koefisien variasi 6,33%. Curcuminoid yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara membeli dari PT. Phytochemindo Reksa Jakarta.  Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 2 x 0,6 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat makan yang terbuat dari semen dan tempat minum otomatis berupa pentil yang terbuat dari besi tahan karat yang dihubungkan dengan tempat penampung air. Jumlah kandang yang diperlukan sebanyak 20 unit.

 

Susunan Ransum Percobaan

            Bahan makanan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian adalah tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung tulang, dan premix. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan oleh National Research Council (1998). Untuk susunannya dapat dilihat pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Bahan Makanan yang Digunakan Selama Penelitian

Bahan Makanan

EM

PK

SK

Lisin

Kalsium

Phosphor

     (kkal)

———————–(%)—————————–

Tepung jagung

3420,00

10.50

2.00

0,36

0,02

0,30

Dedak padi

3655,86

12.00

9.00

0,55

0,03

0,12

Tepung ikan

2856,20

48.67

0,01

2.49

6.32

2,95

Tepung kedelai

2550.00

47.00

5,00

2.95

0,24

0,81

Bungkil Kelapa

3657,00

16.25

15.38

0,59

0,05

0,60

Tepung tulang

100.62

0,46

0,00

0,00

28.40

14.15

Premix

0,00

0,00

0,00

0,07

0,13

0,11

Ket: PK = Protein Kasar, EM = Energi Metabolis, Ca = Kalsium, P = Phosphor, SK = Serat Kasar

Sumber : Analisis Laboratorium Nutrisi Institut Pertanian Bogor, 2004

 

Tabel 3. Susunan Ransum Penelitian Babi Periode Starter

Bahan Makanan

Persentase (%)

Tepung jagung

46.00

Dedak padi

25.00

Tepung ikan

8.00

Bungkil kedelai

10.00

Bungkil kelapa

10.35

Tepung tulang

0.55

Premix

0.10

Total

100.00

Sumber : Hasil Perhitungan

 

Keterangan : Terdapat 4 perlakuan, dimana:

                      R0 = Ransum penelitian, tanpa mengandung curcuminoid

                      R1 = Ransum penelitian + 4 mg curcuminoid/kg bobot badan

                      R2 = Ransum penelitian + 8 mg curcuminoid/kg bobot badan

                      R3 = Ransum penelitian + 12 mg curcuminoid/kg bobot badan

 

Kandungan zat-zat makanan dari ransum penelitian dapat dilihat pada Tabel 4, yang merupakan hasil perhitungan berdasarkan Tabel 2 dan 3.

 

Tabel 4. Kandungan zat-zat makanan ransum penelitian

EM PK Lisin Ca P SK
(kkal)

————————————— %  ——————————————–

3285.30 18.11 0.76 0.71 0.63 5.26

Sumber : Hasil Perhitungan

Ransum disusun berdasarkan dari kebutuhan babi yang dianjurkan oleh National Research Council (1998).

 

Peubah Yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini antara lain:

1. Pertambahan bobot badan  harian (gram/hari)

      Pertambahan bobot badan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

 

2. Konsumsi ransum (gram/hari)

            Konsumsi ransum dihitung dengan mengurangi jumlah ransum yang diberikan dengan sisa ransum selama 24 jam.

Konsumsi ransum (gram/hari) = jumlah ransum yang diberikan(gram/hari) – Sisa ransum (gram/hari).

 

3. Efisiensi pakan

Efisiensi penggunaan makanan diperoleh dari hasil bagi antara pertambahan bobot badan per ekor per hari dibagi dengan rata-rata konsumsi pakan per ekor per hari.

 

            Penelitian yang dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan, masing-masing penambahan curcuminoid sebanyak 4 level dalam ransum. Masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan, dengan demikian penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi.  Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dengan model statistik (Steel dan Torrie,1989).

 

 

Hasil dan Pembahasan

 

Konsumsi Ransum

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum per hari pada babi periode starter dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata Konsumsi Ransum Harian Babi Periode Starter (gram/hari)

Ulangan

Konsumsi Harian Babi Periode Starter

Total

R0

R1

R2

R3

 

………………………………….  gram/hari  ………………………………….

1

1306,40

1243,20

1232,75

1268,60

5050,95

2

1256,30

1188,20

1212,10

1211,20

4867,80

3

1160,20

1275,70

1167,45

1047,30

4650,65

4

1098,70

1258,40

1188,00

1175,70

4720,80

5

1205,40

1241,40

1200,00

1175,70

4822,50

Total

6027,00

6206,90

6000,30

5878,50

24112,70

Rata-rata

1205,40 a

1241,40 a

1200,05 a

1175,70 a

1205,60

Keterangan : Huruf yang sama dalam baris menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05)

            Tabel 5 menunjukkan bahwa konsumsi ransum harian rata-rata secara keseluruhan adalah 1205,60. Konsumsi ransum harian hasil penelitian tersebut sesuai dengan konsumsi ransum yang dianjurkan oleh NRC (1998) yakni 950-1425 gram ekor/hari.         

            Berdasarkan pemberian dosis curcuminoid 0, 4, 8, dan 12 mg/kg bobot badan, diperoleh rata-rata konsumsi ransum harian perlakuan masing-masing R0 (1205,40), R1 (1241,40), R2 (1200,05), R3 (1175,70) gram/hari. Tinggi rendahnya konsumsi ransum dipengaruhi palatabilitas dan tingkat energi yang terkandung dalam ransum yang diberikan, hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1980) menyatakan bahwa faktor umum  yang mempengaruhi konsumsi adalah palatabilitas ransum yang diberikan. Church (1979) menyatakan bahwa palatabilitas tergantung pada bau, rasa, tekstur, dan bentuk makanan.

            Curcuminoid yang diperoleh dari pengolahan umbi rimpang kunyit memiliki rasa pahit dan pedas serta berbau khas aromatik (Dewi dan Ratu, 2000). Rasa dan bau yang khas pada curcuminoid di dalam ransum penelitian tersebut mempengaruhi palatabilitas ransum yang pada akhirnya mempengaruhi tinggi rendahnya konsumsi ransum harian pada tiap ransum perlakuan.

            Konsumsi ransum harian tertinggi diperlihatkan oleh babi yang diberi ransum R1 (1241,40), kemudian berturut-turut mengalami penurunan konsumsi pada R0 (1205,40), R2 (1200,05) dan R3 (1175,70). Ransum perlakuan R1 (1197,50) yang mendapat dosis penambahan curcuminoid 4 mg/kg bobot badan dalam ransum menghasilkan konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan R0, tetapi mulai mengalami penurunan jumlah konsumsi pada R2 dan R3, hal ini disebabkan oleh curcuminoid  memiliki bau yang khas dan rasa yang agak pahit, dan mulai berpengaruh pada perlakuan R2, sehingga babi pada perlakuan R2 dan R3 lebih selektif dan lebih lama waktu makannya, ditambah oleh faktor ransum penelitian dalam bentuk tepung (smash) kering.

            Faktor lain yang menyebabkan penurunan konsumsi ransum mungkin disebabkan efek curcumin yang meningkatkan sekresi empedu dan pankreas sehingga terjadi peningkatan pencernaan lemak, karbohidrat dan protein yang membuat kebutuhan zat-zat makanan babi cepat terpenuhi, hal ini sesuai dengan pernyataan Arifin dan Kardiono (1985).

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum, dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 2. Pemberian curcuminoid dalam ransum tidak memberikan perbedaan yang nyata (p>0,05) terhadap konsumsi ransum babi periode starter, kondisi ini disebabkan oleh kandungan energi dan protein pada setiap ransum perlakuan adalah sama, sehingga kebutuhan energi dan protein untuk babi periode starter terpenuhi dari setiap ransum perlakuan, hal ini didukung oleh North (1984) yang menyatakan bahwa konsumsi ransum dipengaruhi oleh keseimbangan energi dan protein yang tersedia dalam ransum.

Pertambahan Bobot Badan

            Hasil pengamatan yang dilakukan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan pada babi periode starter dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Pertambahan Bobot Badan Harian Babi Periode Starter (gram/hari)

Ulangan

Pertambahan Bobot Badan Harian Babi Periode Starter

Total

R0

R1

R2

R3

  ………………………………….gram/hari………………………………….  

1

344,40

455,90

352,90

469,60

1522,80

2

298,05

282,45

275,40

392,85

1248,75

3

309,80

281,80

333,40

274,40

1199,40

4

253,50

303,90

329,10

345,60

1232,10

5

301,40

331,00

322,70

345,60

1300,70

Total

1507,15

1655,05

1613,50

1728,05

6503,75

Rata-rata

301,40 a

331,00 a

322,70 a

345,60 a

325,20

Keterangan : Huruf yang sama dalam baris menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05)

            Tabel 6 menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan harian rata-rata secara keseluruhan 325,20. pertambahan bobot badan harian tersebut masih lebih rendah dengan yang dianjurkan oleh NRC (1998), yakni 450-575 gram/ekor/hari, hal ini dapat disebabkan oleh faktor kemurnian bangsa babi yang digunakan dalam penelitian. Bangsa babi yang digunakan merupakan hasil persilangan bangsa Landrace, sehingga percepatan pertumbuhannya tidak sebaik babi Landrace murni.

Berdasarkan pemberian dosis curcuminoid 0, 4, 8, dan 12 mg/kg bobot badan, diperoleh rata-rata pertambahan bobot badan harian perlakuan, masing-masing : R0 (301,40), R1 (331,00), R2 (322,70), R3 (345,60) gram/hari. Tingkat pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh besarnya zat-zat makanan yang dapat diserap oleh tubuh ternak.

            Pertambahan bobot badan harian tertinggi diperlihatkan oleh babi yang diberi ransum R3 (345,60), kemudian berturut-turut mengalami penurunan, yakni R1 (331,00), R2 (322,70) dan R0 (301,40). Peningkatan dosis curcuminoid akan menyebabkan efek kolagoga yang berperan dalam seksresi empedu meningkat, hal ini sesuai dengan pendapat Kiso (1983) bahwa peningkatan sekresi empedu akan meningkatkan pencernaan lemak yang pada akhirnya mampu menghasilkan produksi yang baik, sedangkan peningkatan sekresi pankreas meningkatkan pencernaan protein dan karbohidrat. Efek curcuminoid juga menyebabkan peningkatan jumlah zat-zat makanan yang diserap, ini dikarenakan laju usus halus menjadi lebih lambat. Arfin dan Kardiono (1985) menambahkan, bahwa penyerapan zat-zat makanan akan lebih banyak akibat penambahan curcuminoid dalam ransum dan secara langsung berpengaruh terhadap konsumsi ransum, dan penyerapan makanan berimplikasi terhadap bobot badan yang pada akhirnya tercermin dalam bentuk daging. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan harian, dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 3.

Lampiran 3 memperlihatkan bahwa pemberian curcuminoid dalam ransum tidak berbeda nyata(p>0,05) terhadap pertambahan bobot badan, hal ini disebabkan dosis yang diberikan pada setiap ransum perlakuan belum memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap pertambahan bobot badan, sehingga daya kerja curcumin yang menyebabkan efek kolagoga dan koleretik belum dapat berpengaruh besar terhadap penyerapan zat-zat makanan yang lebih banyak.

 

4.3. Pengaruh Perlakuan terhadap Efisiensi Ransum

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap efisiensi ransum pada babi periode starter dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rata-rata Efisiensi Ransum Babi Periode Starter

Ulangan

Efisiensi Ransum Harian Babi Periode Starter

Total

R0

R1

R2

R3

1

0,264

0,367

0,286

0,292

1,209

2

0,237

0,238

0,228

0,324

1,027

3

0,267

0,221

0,286

0,262

1,036

4

0,231

0,242

0,277

0,292

1,042

5

0,250

0,267

0,269

0,292

1,078

Total

1,250

1, 334

1,345

1,462

5,392

Rata-rata

0,250 a

0,267 a

0,269 a

0,292 a

0,269

Keterangan : Huruf yang sama dalam baris menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05)

Tabel 7 menunjukkan bahwa efisiensi ransum harian rata-rata secara keseluruhan adalah 0,269. Efisiensi ransum harian hasil penelitian tersebut sesuai dengan yang dianjurkan oleh NRC (1998), yakni 0,368-0,421, hal ini disebabkan oleh faktor ternak yang digunakan dalam penelitian adalah babi yang sudah tidak murni keturunannya, sehingga efisiensi penggunaan ransum tidak sebaik Landrace murni

Berdasarkan pemberian dosis curcuminoid 0, 4, 8, dan 12 mg/kg bobot badan, diperoleh rata-rata efisiensi ransum harian perlakuan masing-masing:R0 (0,250), R1 (0,267), R2 (0,269), R3 (0,292). Efisiensi ransum sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi ransum dan tingkat pertambahan bobot badan harian dari ternak babi. Nilai efisiensi yang rendah menunjukkan bahan makanan tersebut kurang efisien untuk diubah menjadi daging, dan sebaliknya, nilai efisiensi yang semakin tinggi menunjukkan bahan makanan tersebut sangat efisien untuk diubah menjadi daging.

            Penambahan curcuminoid dalam ransum memberikan efisiensi lebih tinggi pada babi yang diberi ransum R3 (0,292), kemudian berturut-turut diikuti oleh R2 (0,269), R1 (0,267) dan R0 (0,250). Peningkatan efisiensi ransum pada setiap tingkat penambahan curcuminoid kemungkinan disebabkan oleh kemampuan curcuminoid dalam meningkatkan produksi dan sekresi empedu ke dalam usus halus (kolagoga), meningkatkan sekresi pankreas dan meningkatkan peristaltik usus. Semua kemampuan curcuminoid tersebut menyebabkan penyerapan zat-zat makanan lebih maksimal. Faktor lain yang meningkatkan efisiensi ransum pada setiap penambahan dosis curcuminoid, karena kemampuannya sebagai antioksidan, antibakteri dan antiinflamasi.

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap efisiensi ransum, dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 4. Pemberian curcuminoid pada dosis 12 mg/kg bobot badan tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap efisiensi ransum. Efisiensi ransum tertinggi ditunjukkan oleh babi yang mendapat perlakuan R3 tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan efisiensi R2, R1 dan R0. Dari pembahasan sebelumnya menunjukkan bahwa penambahan curcuminoid tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan bobot badan dan konsumsi ransum, oleh karena itu penambahan curcuminoid dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap efisiensi ransum, hal ini disebabkan oleh kualitas ransum setiap perlakuan adalah sama.

            Daya cerna sangat mempengaruhi efisiensi ransum babi periode starter, seperti yang dilaporkan oleh Campbell dan Lasley (1985), bahwa daya cerna yang tinggi mengakibatkan tingginya efisiensi ransum, akibatnya banyak zat-zat makanan yang dapat diserap oleh tubuh sehingga peluang pakan menjadi daging semakin besar.

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan dan Saran

 

Kesimpulan

            Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut :

1.  Pemberian curcuminoid dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap efisiensi ransum pada babi periode starter.

2.  Pemberian curcuminoid pada dosis 12 mg/kg bobot badan dapat dimanfaatkan pada ransum babi periode starter.

Saran

Sebaiknya perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai dosis yang paling tepat di atas 12 mg/kg bobot badan untuk melihat batas kenaikan efisiensi ransum.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aguilar, M.A.; G. Delgado; R. Bye; and E. Linares. 1993. Polycyclic diterpenoid and other constituents from the roots of iosthephane heterophylla. Phytochemistry. 33(5) : 1161-1163.

Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit UI. Jakarta.

Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. P.T. Gramedia, Jakarta.

Arifin dan Kardiono. 1985. Temulawak dalam Pengobatan Tradisional. Prosiding Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Bandung.

Aseng, R. 1985. Etnobotani marga curcuma di Jawa Barat. Prosiding Simposium Nasional Temulawak. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran. Lembaga Penelitian Unpad. 25-27.

Ashari, S. 1995. Holtikultura Aspek Budidaya. Penerbit UniversitasIndonesia.

Betancor-Fernandez A, Perez-Galves A, Seis H, Stahl W. 2003. Screening Pharmaceutical Preparations Containing Extract of Tumeric Rhizome, Artichoke Leaf, Devil’s Root and Garlic or Salmon Oil for Antioksidant Capacity. Heindrich-Heine. Universitat Dusseldorf, Postfach 101007Dusseldorf,Germany.

Bille, N.L., JC. Hansen and E.V. Wuthzen. 1985. Subcronis Oral Toxicity of Turmeric Oleoresin in Pig. Food Chun Toxicol 23 : 367-973.

Bogart, R. 1977. Scientific Farm Animal Production. Burges Publishing Co.Minneapolis, Minessota.

Campbell, J.R. and J.F. Lasley. 1977. The Science of Animal that Serve Mankind. Second Edition, Tata McGraw Hill Pub.Co.Ltd.New Delhi, Page 187-197.

Close, W.H. 1983. The Climate Requirement of The Pig Agriculture. Research Council’sInstituteofAnimal Phycology, Abraham,Cambridge.

Church, D.C. 1979. Factor Affecting Feed Consumption. Livestock Feeds and Feeding.Durhamand Docuney, Inc. Page 136-139.

Cole, H. and J. Ronning. 1974. Animal Agriculture. W.H. Freeman and Company, San Fransisco.

Cunha, T.J. 1977. Swine Feeding and Production. Academic Press, Inc.New York.

Direktorat Jenderal Peternakan. 2003. Statistik Indonesia.Jakarta.

Dewi dan Ratu. 2000. Kunyit. www.asiamaya.com.

Ensminger,M.E.1969. Swine Science. The Interstate Printers and Publishers Inc. DenvilleIllinois. Pp. 519-541.

Esmay, M.L. 1977. Principles of Animal Environtment. The Avi Publishing Company Inc.Westport,Connecticut.

Frandson, R.D. Penerjemah B. Srigandono. 1993. Fisiologi Ternak.GadjahMadaUniversityPress.Yogyakarta.

Gaman, P. M. 1994. The Science of Food An Introduction to Food Nutrition and Microbiology. Second Edition. Terjemahan M. Gardjito dan Sardjono. 1994.GadjahMadaUniversity Press.Yogyakarta.

Goodwind, D.H. 1973. Pig Management and Porduction.HutchinsonEdition.London. Pp. 19-20.

Hartadi, H., S. Reksohadiprojo dan A. D. Tillman. 1986. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia.GadjahMadaUniversity Press.Yogyakarta.

Kato, K, H. Ito, K. Kamei, I.Iwamoto. 2003. Stimulation of the Stress-induced Expression of Stress by Curcumin Cultured Cells and In Rat Tissues in Vivo. Dept. Bichem. Inst.for Develop. Research.AichiHumanServiceCenter.Kasugia,Japan.

Kiso. 1983. Anti Hepatotoxic Principles of Curcuma Longa Rhizomes. Prosiding Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Planta Medica, 49:185-187.

Krider, J.L. and W.E. Carrol. 1971. Swine Production. Fourth Edition. Tata McGraw Hill Publishing Co. Scientific and Technical. New York.

Lutomsky J, B. Kedzia, W. Debska. 1974. Effect of Alcohol extract and active ingredient from Curcuma Longa on bacteria and fungi. Planta Medica, 26:9-19.

Majeed, V. Badmaev, U. Shivakumar dan R. Rajendran. 1985. Curcuminoids Antioksidant Phytonutrients. Simposium National Temulawak. Universitas Padjadjaran.

Martini, P. 1998. Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Beberapa Jenis Curcuma sebagai Aditif Pakan terhadap Pertumbuhan, Produksi Karkas serta Sifat Lemak Karkas pada Kelinci Jantan Peranakan New Zealand White. Disertasi. FPS. Universitas Padjadjaran.Bandung.

Maynard, L.A; J.K. Loosli; H.F. Hintz; andR.G. Warner. 1979. Animal Nutrition. Second Edition. Tata McGraw Hill Publishing Co. Ltd.New Delhi.

Murray, MT. 1995. The Heading Power of Herbs.Rocklin,C.A. Prima Publishing.

National Research Council. 1998. Nutrient Requirement of Swine.NationalAcademy Press.Washington,D.C.

North, M.O. 1984. Commercial Chicken Production Manual. Third Edition. The Avi Publishing Company Inc.,Westport.Connecticut.

Noviana. 1999. Kunyit tanaman obat-obatan. Harian Kompas.

Oei Ban Liang. 1984. Curcuma Xanthorriza Roxb., Curcuma Domestica, Val., dan Solanum Whasianum Clarke sebagai sumber bahanbakuobat. Farmasi ITB.Bandung.

Ozaki, Y. 1990. Antiinflamantory Effect of Curcuma xantorrhiza and its Active Principles. Chem. Pharm. Bull. 38(4):1045-1048

Parakkasi, A. 1985. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa.Bandung.

Parakkasi, A. 1990. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa.Bandung.

Pond, W.G. and J.H. Maner. 1974. Sinw Production in Temprate and Tropical Environments. W.H. Freeman Company San Fransisco.

Ramprasad, C. and M. Sarsi,. 1996. Studies on Longmans Plant Curcuma Longa, Limn on Bille Secretion. Sci Industries Research. Vol 15 ; 252-265.

Sandford, C.J. and F.G. Woodgate. 1979. The Domestic Rabbit. Third Edition.      Gonnada Publishing Technical Book Division. England.

Shankar, TNB., N.V. Shanta., H.P. Ramesh., I.A. Muthy., V.S. Murthy. 1980. Toxicity Studies on Turmeric Curcuma Longa in Rat, Guine Pig and Monkey. Indian. J. Exp. Biol. 18 : 73–75.

Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi.GadjahMadaUniversity Press.Yogyakarta.

Soeharsono. 1976. Respon Broiler tehadap Berbagai Kondisi Lingkungan. Disertasi, Universitas Padjadjaran.Bandung.

Sosroamidjojo, M.S. 1977. Ternak Potong dan Kerja. Penerbit CV. Yasa Guna.Jakarta. Hal 30-35.

Speedy, A.W. 1980. Sheep Production. Published in TheUSAby Longman Inc.New York,London. Pp. 85-89.

Srinivasan, K.R. 1953. a Chromatographic Study of The Curcuminoid in Curcuma Longa. J. Pharm Pharmacol. Pp. 448-457.

Steineger, E. and R. Hansel. 1972. Lehrbuch der Allegemienen Pharmakognosie.

Sudiarto dan R. Safitri. 1985. Pengaruh pengeringan dan giberllin terhadap pertunasan rimpang kunyit. Balai Penelitian Rempah dan Obat Bogor. Prosiding Simposium Nasional Temulawak. Universitas Padjadjaran.Bandung. Hal 31-33.

Supnet, M.G. 1980. Landasan ilmu Nutrisi. Diktat Kuliah. Fakultas Peternakan Institut PertanianBogor.Bogor.

Thomas, H.R. and E.T. Kornegay. 1972. Lysin Suplement on High Lysine Corn andNormalCorn Peanut Meal Diet for Growing Swine. J. Anim Sci34:587.

Tillman, A.D; H. Hartadi;S. Reksohadiprojo; S. Prawirokusumo; dan S. Lebdosoekojo. 1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar.GadjahMadaUniversityPress.Yogyakarta.

 

PENGARUH SUBSTITUSI JAGUNG OLEH CORN FIBER DALAM RANSUM BABI TERHADAP KONVERSI RANSUM DAN LAJU PERTUMBUHAN

 

  1. Staf Pengajar Fapet Unpad Bandung Email : sauland_69@yahoo.com
  2. Charoen Phokphan Padang, Email : nopen.germanicus@cpjf.co.id
  3. Staf Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung

                     Email: Marsudin_Silalahi@yahoo.com

 

ABSTRACT

This research is about the effect of corn substitution by corn fiber in pigs rations to the ration convertion and growth rate with purpose to know the effect of corn substitution by corn fiber in pigs rations to the ration convertion and growth rate. This research was using 24 starter period pigs, age 8 weeks with weight rate 20 kg and variation coefficient 6,94  %. The method wich was used in this research is Complete Randomize Design with four levels of corn substitution by corn fiber i.e, 0%, 20%, 35% and 50% with six replications.  The result of the research shows that the corn substitution by corn fiber does not give the different effect to the ration convertion up to 35 % and gives the different effect to the ration convertion value in 50 % levels corn substitution by corn fiber, where the high percentation of corn fiber to substitute the corn will decrease pigs growth rate. Corn substitution by corn fiber in pigs ration up to 35 % give the best effect to ration convertion and growth rate.

Key Word : Corn, Corn Fiber, Ration Convertion, Growth Rate, Pigs.

 

PENDAHULUAN

             

            Babi merupakan ternak monogastrik (berlambung tunggal) yang tidak dapat mencerna serat kasar sehingga bahan pakan utama babi adalah biji-bijian, terutama biji-bijian yang serat kasarnya tidak terlalu tinggi, biasanya 30 % dari bahan pakan tersebut adalah jagung. Pemerintah Indonesia mengimpor jagung kira-kira 65 % dari kebutuhan pakan ternak, yaitu sekitar 2,135 juta ton per tahun atau setara dengan Rp 2,78 milyar per tahun (Soebijanto, 2003).

            Harga jagung yang tinggi menjadi kendala dalam usaha meningkatkan produksi ternak babi. Hal ini disebabkan oleh ketersediaannya yang terbatas karena bersaing dengan kebutuhan manusia, oleh karena itu perlu dicari alternatif untuk menurunkan biaya pakan tersebut.     Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah harga jagung yang tinggi sekaligus mengefisienkan penggunaan ransum adalah dengan mencari sumber-sumber bahan pakan yang belum umum digunakan sebagai bahan pakan dengan harga relatif murah, mudah didapat, tersedia secara kontinu, mempunyai nilai gizi yang cukup bagi kebutuhan ternak, tidak bersifat racun bagi ternak, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Salah satu bahan pakan alternatif tersebut adalah corn fiber. 

            Corn fiber yang merupakan hasil sampingan (by product) dari pengolahan minyak jagung yang memiliki kandungan nutrisi yang tidak jauh berbeda dengan jagung sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ransum ternak ruminansia maupun non ruminansia (Rea et al., 2007). Dalam hal ini faktor pembatas yang perlu diperhatikan adalah kandungan serat kasar terutama pada ternak yang masih sangat muda (Williams, 2006).    

 

Tabel 1. Kandungan Zat Makanan Corn Fiber dibandingkan dengan Jagung.

 

Zat Makanan

Corn fiber*

Jagung

Protein Kasar      (%)            10,31               10,50
Serat Kasar         (%)              9,22                 2,00
Kalsium              (%)              0,08                 0,02
Phosfor               (%)              0,05                 0,30
EM                (Kkal/kg)        3563,12           3420,00

Sumber :a)   Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak IPB, 2004.

              b) *Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia                           Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004.

 

 

BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN

 

Bahan Penelitian

            24 ekor Ternak babi jantan kastrasi peranakan Landrace, bobot badan rata-rata 20 kg,  KV : 6,9%. Kandang 24 kandang individu ukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap genteng/seng yang dilengkapi dengan tempat makan dan minum. Babi dipelihara selama 3,5 bulan yakni dari periode starter sampai dengan periode finisher.

            Corn fiber yang digunakan dalam penelitian ini adalah produk sampingan dari pengolahan minyak jagung PT. Suba Indah Tbk. Corn fiber digiling hingga berbentuk tepung.

Tabel 2. Kandungan Zat-zat Makanan dari Bahan Pakan yang digunakan dalam                 Ransum Babi

Bahan ransum

EM

PK

SK

 

Kalsium

Phospor

 

kkal

—————————–%—————————-

Jagung

3420,00

10,50

 2,00

 

0,02

0,30

Dedak PadiKonsentrat Premix

Minyak Sawit

Tepung Tulang

 

Corn Fiber     

2980,00

2948,00

      0,00

8600,00    

      0,00

 

3563,12

12,00

34,00

  0,00

  0,00 

  0,00

 

10,31

       9,00

 4,83

 0,00

 0,00

 0,00

 

  9,22     

 

0,03

1,80

0,13

       0,00

     29,82

 

0,08

0,12

1,21

 0,11

      0,00

    12,49

 

0,05

Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia                                Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004.

 

Tabel 3. Kebutuhan Zat-zat Makanan Babi setiap Periode

 

Zat-Zat Makanan

Starter

Grower

Finisher

EM                (Kkal/kg)

3250

3260

3275

Protein Kasar    (%)

18

15

13

Serat Kasar       (%)

4 – 5

5 – 6

6 – 7,5

Kalsium            (%)

0,7

0,6

0,5

Phosfor             (%)

0,6

0,5

0,4

Sumber :  NRC, 2008.

 

Tabel 4. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Starter

 

BahanRansum

R0

R1

R2

R3

Corn fiberJagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00     35,00

     27,50

     32,50

       1,29

       0,50

       0,50

       3,21

        7,00      28,00

      27,50

 32,50                                                

        1,41

        0,50

        0,50

        3,09

       12,25       22,75

       27,50

       32,50 

         1,50

         0,50

         0,50

         3,00

        17,50        17,50

        27,50

        32,50

          0,58

          0,50

          0,50

          2,92

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3250,66   3250,35    3250,12     3250,75
PK      (%)      18,03

 18,01

       18,00

 18,00

SK      (%)        4,32         4,93          5,06          5,68
Ca       (%)        0,75         0,75          0,76          0,76
 P        (%)        0,68         0,67          0,65          0,64

Keterangan untuk tabel 4, 5 dan 6 :  Ransum terdiri atas,    

R0 =  Ransum kontrol dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0 % 

         (0 % dalam ransum babi periode starter, grower dan finisher).

R1 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh  corn fiber sebanyak 20 %

(7 % dalam ransum babi periode starter atau 6 % dalam ransum babi periode     grower atau 5 % dalam ransum babi periode finisher).

R2 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 35 %

(12,25 % dalam ransum babi periode starter atau 10,50 % dalam ransum babi periode grower atau 8,75 % dalam ransum babi periode finisher).

R3 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 50 %

(17,50 % dalam ransum babi periode starter atau 15 % dalam ransum babi periode grower atau 12,50 % dalam ransum babi periode finisher).

 

 

Tabel 5. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Grower

 

BahanRansum

R0

R1

R2

R3

Corn FiberJagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00     30,00

     43,50

     21,50

       0,81

       0,65

       0,50

       3,54

        6,00      24,00

      43,50

 21,50                                                 

        0,91

        0,65

        0,50

        3,44

       10,50       19,50

       43,50

       21,50 

         0,99

         0,65

         0,50

         3,36

        15,00        15,00

        43,50

        21,50

          1,06

          0,65

          0,50

          3,29

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3260,56   3260,54    3260,10     3260,52
PK      (%)      15,68

 15,66

       15,66

 15,65

SK      (%)        5,55         5,98          6,02          6,63
Ca       (%)        0,61         0,63          0,63          0,63
 P        (%)        0,58         0,57          0,56          0,54

 

Tabel 6. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Finisher

 

BahanRansum

R0

R1

R2

R3

Corn FiberJagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00     25,00

     54,00

     14,00

       1,67

       0,70

       0,50

       4,63

        5,00      20,00

      54,00

 14,00                                                 

        1,75

        0,70

        0,50

        4,55

         8,75       16,25

       54,00

       14,00 

         1,81

         0,70

         0,50

         4,49

        12,50        12,50

        54,00

        14,00

          1,87

          0,70

          0,50

          4,43

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3275,10   3275,37    3275,58     3275,79
PK      (%)      13,86

 13,85

       13,84

 13,84

SK      (%)        6,24         6,72          7,13          7,96
Ca       (%)        0,51         0,51          0,51          0,52
 P        (%)        0,46         0,45          0,44          0,43

 

Peubah yang diamati

  1. Konversi ransum

           

                                                     Konsumsi Ransum (gram/hari)

            Konversi Ransum  =          

                                                Pertambahan Bobot Badan (gram/hari)

 

  1. Laju Pertumbuhan (gram/hari)

           

                           PBB     =

 

            Dimana : W1      =  bobot badan awal

                           W2      =  bobot badan akhir

                           t2 – t1  =  selisih waktu antara perolehan W2 dan W1 (14 hari)

 

Metode Penelitian

Penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0 %, 20 %,   35 % dan 50 % pada tiap periode pemeliharaan (periode starter, grower, dan finisher). Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. .     

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Konversi Ransum

            Hasil pengamatan yang diperoleh selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Rata-Rata Konversi Ransum Babi Selama Penelitian

 

Ulangan

Perlakuan

Rata-rata

R0

R1

R2

R3

1

3,66

3,48

3,35

4,36

 

2

3,16

3,60

3,67

3,56

 

3

3,33

3,57

3,19

3,62

 

4

3,30

3,75

3,28

3,80

 

5

3,06

3,22

3,34

3,47

 

6

2,97

3,76

3,72

4,27

 

Rata-rata

3,25a

3,56ab

3,42ab

3,85b

3,52

Keterangan : Huruf yang sama dalam baris menunjukkan tidak berbeda nyata

                      (p>0,05)

Rataan umum konversi ransum adalah sebesar 3,52 sedangkan nilai konversi rata-rata yang direkomendasikan NRC (2008) yaitu sebesar 3,25. Nilai konversi ransum penelitian yang lebih besar dari NRC (2008) menunjukkan bahwa babi kurang efisien dalam mengubah ransum menjadi daging, hal ini bisa disebabkan oleh daya cerna babi yang rendah terhadap serat yang dalam hal ini dipasok oleh bahan pakan substitusi jagung yaitu corn fiber.

Kandungan serat kasar yang tinggi dalam ransum akan menurunkan daya cerna babi. Daya cerna yang paling tinggi adalah perlakuan R0 yang disusul berturut-turut oleh R2, R1, dan R3. Daya cerna terhadap serat kasar yang berbeda mengakibatkan nilai konversi ransum babi yang diberi perlakuan R0 lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya, hal ini berarti babi yang diberi perlakuan R0 lebih efisien dalam mengubah ransum menjadi daging dibandingkan dengan babi yang diberi perlakuan R1, R2 dan R3.

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Laju Pertumbuhan

             Hasil pengamatan terhadap rata-rata pertambahan bobot badan babi selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rata-Rata Pertambahan Bobot Badan Babi selama Penelitian.

Dua Minggu ke-

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

 

———————————— gram ——————————

1

410,71

404,76

401,12

404,76

2

587,42

495,47

518,09

464,28

3

635,32

567,38

532,21

577,38

4

651,19

587,14

554,49

509,52

5

686,92

611,18

602,85

585,71

6

730,24

684,76

686,43

660,71

7

755,95

720,23

702,38

690,47

 

Laju pertumbuhan babi diukur berdasarkan data pertambahan bobot badan per 2 minggu (babi ditimbang setiap 2 minggu).

 

 

 

Grafik Regresi Laju Pertumbuhan Babi Selama Penelitian

 

Setelah dilakukan analisis regresi linear maka diperoleh persamaan regresi linear yang dihitung berdasarkan pertambahan bobot badan babi setiap dua minggu selama penelitian adalah sebagai berikut :

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 0   % : Y(R0) = 440,68 + 49,03X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 20 % : Y(R1) = 386,02 + 48,88X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 35 % : Y(R2) = 383,78 + 46,82X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 50 % : Y(R3) = 376,36 + 44,94X

Dari persamaan regresi Y = a + bX (Steel dan Torrie, 2006) dari setiap perlakuan diatas dapat dilihat bahwa nilai b (sudut kemiringan) yang paling tinggi ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R0 yaitu sebesar 49,03 kemudian berturut-turut disusul oleh R1 (48,88), R2 (46,82), dan nilai b yang paling rendah ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R3 yaitu sebesar 44,94.  baik dari semua perlakuan ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R0 yang disusul berturut-turut oleh babi yang diberi perlakuan R1, R2 sedangkan laju pertumbuhan yang paling lambat ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R3.

Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh bahwa kandungan serat kasar dalam ransum yang dalam hal ini dipasok oleh corn fiber akan menghambat laju pertumbuhan, maka semakin tinggi kandungan corn fiber yang mensubstitusi jagung dalam ransum babi menyebabkan laju pertumbuhan semakin menurun.   Sesuai dengan pendapat  Van Barneveld (2007) gerak laju digesta yang lebih cepat pada babi yang mendapat serat kasar tinggi menyebabkan kontak atau akses enzim-enzim ke dalam ransum berkurang.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diatas diperoleh kesimpulan atas penelitian yang telah dilakukan yaitu :

  1. Substitusi jagung oleh corn fiber sampai tingkat 35% dalam ransum babi periode pertumbuhan tidak memberikan pengaruh terhadap konversi ransum dan pertumbuhan tetapi pada tingkat 50 % dapat mengakibatkan  laju pertumbuhan semakin menurun.
  1. Substitusi jagung oleh corn fiber sebesar 35 % memberikan hasil  terbaik terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

 

Saran

            Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan disarankan substitusi jagung oleh corn fiber sebesar 35 % dapat digunakan dalam ransum babi yang sedang bertumbuh.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

NRC. (National Research Council).2008. Nutrient Requirments of Swine. Tenth    Edition. National Academy Press. Washington, D.C. USA.

 

Rea. Jhon.C, Ronald O. Bates and Trygve L. Venm. 2007. Byproduct, Damaged Feeds and Nontraditional Feed Sources For Swine, University of      Missouri,          Columbia.

 

Steel, R.G.D dan J. H. Torrie. 2006. Prinsip dan Prosedur Statistika    (terjemahan)          Cetakan ke-4  PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hal 289-300.

Van Barneveld, R.  2007. The Basic in Pig Nutrition . The Basic. Pig Research and Development Corporation, Canberra. Pp. 1-15. 

Williams, K. 2006. Determining Protein Deposit Rate. Farmnote. F54/May. Agdex 440/50, QDPI Brisbane. Australia.

 

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG BANGUN-BANGUN

ABSTRAK

 

Penelitian ini telah dilaksanakan di Peternakan yang berlokasi di desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada Bulan November – Desember 2010. Tujuan penelitian adalah untuk  mendapatkan tingkat penggunaan tepung bangun-bangun yang dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak. Lima belas ekor ternak babi menyusui dengan berat badan berkisar 125-150 kg dialokasikan ke dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ransum perlakuan dan diulang sebanyak 5 kali. Kombinasi ransum perlakuan terdiri atas : R0 (ransum yang mengandung 0% tepung bangun-bangun), R1 (ransum yang mengandung 3% tepung bangun-bangun), dan R2 (ransum yang mengandung 5% tepung bangun-bangun). Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan tepung bangun-bangun (R2) sebesar 5% pada ransum menghasilkan nilai konversi ransum induk menyusui terendah dan pertambahan bobot badan anak tertinggi

 

Kata kunci : Tepung bangun-bangun, Babi Induk menyusui, anak babi,  konversi ransum,  pertambahan bobot badan 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

THE EFFECT OF COLEUS AMBOINICUS. L FLOUR GIVING IN THE PIG FEED THE RATION CONVERSION OF SOW AND BODY WEIGHT GAIN OF PIGLET.

 

 

ANGGA PERDANA

 

ABSTRACT

 

 

            This research has been done in the  animal husbandry  of Cigugur, Kuningan , Jawa Barat  November  1 – December 16, 2010 with intention of knowing the level of Coleus amboinicus. L giving and the effect of Coleus amboinicus. L flour giving towards the weight gain of piglet. Fifteen sows with weight around 125-150 kg each have been allocated into the Complete Random Design three treatment rations and have been repeated five times. The combination of treatment ration consists of R0 (Ration with 0% of Coleus amboinicus. L flour), R1 (ration with 3% of Coleus amboinicus. L flour), R3 (ration with 5% of Coleus amboinicus. L flour). Based on the result of the research, it can be concluded that the giving of Coleus amboinicus. L flour in the amount of 5% gives effect forwards the weight gain of piglet and the ration conversion.

 

 

Key words :  Coleus ambonicus L flour, Conversion Ration Sow,

Sow During Lactation, Weight Gain of Piglet

 

 

PENDAHULUAN

 

1.1.     Latar Belakang

Babi merupakan salah komoditas ternak yang memiliki pontesi besar untuk dikembangkan, selain itu babi merupakan salah satu sumber penghasilan daging diantara jenis ternak lainya. Hal ini didasarkan pada karakteristik babi yang meliki persentase karkas, mencapai 65%–80% peridi (prolific) satu kali beranak bisa 6-12 ekor dan setiap induk bisa beranak 2,5 kali di dalam setahun.

 Induk babi harus mendapatkan pakan dengan kualitas baik, hal ini diperlukan untuk produksi air susu mengingat litter size yang sangat tinggi. Faktor yang dapat menentukan keberhasilan peternakan babi adalah ransum yang diberikan harus mengandung zat-zat makanan yang seimbang dan sesuai kebutuhan ternak. Induk babi saat laktasi menghasilkan sekitar 7 kg air susu perhari. Babi bunting selama 114 hari masa bunting, akibatnya  kebutuhan zat-zat makanan induk laktasi jelas lebih tinggi dibandingkan kebutuhan induk bunting.

 

Bangun-bangun adalah tanaman menjalar, memiliki daun tunggal berwarna hijau, berkayu lunak, beruas-ruas, berpenampang bulat, dengan diameter pangkal sekitar ± 15 mm, tengah 10 mm dan ujung ± 5 mm.  Di beberapa daerah, bangun-bangun dikenal dengan nama Sunda (acerang), Bali (iwak). Bangun-bangun  lebih tipis, bulu dan  kandungan  protein daun 6,20%, batang 5,12%, ranting 3,98%.

Bangun-bangun diharapkan dapat meningkatkan konsumsi dan konversi ransum lebih baik, serta pertumbuhan bobot badan  anak lebih meningkat.  Bangun-bangun adalah tanaman yang tumbuh liar di dataran rendah  sampai pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut. Daun ini bermanfaat sebagai obat sariawan, batuk rejan, influenza, demam, perut kembung, mulas, sembelit, bahkan sebagai anti tumor, anti kanker, anti vertigo, dan hipotensif,  asthma dan bronchitis. Menurut tradisi masyarakat Batak di Propinsi Sumetera Utara, Bangun-bangun atau Torbangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya mampu meningkatkan produksi susu ibu yang sedang  menyusui.

Bangun-bangun mempunyai komponen penting yaitu, senyawa-senyawa yang bersifat laktagogue, dapat menstimulir produksi kelenjar air susu pada induk laktasi, yaitu senyawa-senyawa yang bersifat buffer, antibacterial, anti oksidan,  pelumas, pelentur, pewarna dan penstabil. Produksi susu yang tinggi dapat ditandai dengan konsumsi ransum yang tinggi dan memperbaiki nilai konversi ransum karena absorbsi nutrient yang tinggi. Produksi susu yang tinggi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulisan terdorong untuk melakukan penelitian tentang” Pengaruh Pemberian Tepung Bangun-bangun (Coleus ambonicus Lour) pada Ransum Babi terhadap Konversi Ransum Induk Menyusui dan Pertambahan Bobot Badan Anak

 

1.2.           Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat   diidentifikasi masalah sebagai berikut :

  1. Berapa besar pengaruh pemberian tepung bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi terhadap konversi ransum Induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak
  2. Pada tingkat berapa persen pemberian tepung bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi  dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.3.           Maksud dan Tujuan

  1. Mengetahui pengaruh pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus. L) pada ransum babi terhadap konversi induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.
  2. Mendapatkan tingkat pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi yang dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.4.           Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi peternak dan peneliti dalam kemajuan dunia peternakan, mengenai pengaruh pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) pada ransum Babi terhadap konversi ransum induk menyusui  dan pertambahan bobot badan anak.  

 

 

 

 

 

 

1.5.           Kerangka Pemikiran

Konversi ransum adalah pertambahan bobot badan yang dihasilkan setiap satu ransum yang dikonsumsi. Faktor utama yang mempengaruhi konversi ransum adalah konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, kandungan nutrisi didalam ransum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh ternak jika proses percernaan dengan baik. Kemampuan ternak mengubah makanan ke dalam bentuk pertambahan bobot badan hal ini dapat dinyatakan sebagai jumlah kenaikan bobot badan (Bogart,1977). 

Ransum yang sempurna untuk induk yang sedang bunting harus menyediakan zat-zat makanan secara simultan dan digunakan untuk hidup pokok, mensuplai energi untuk proses hidup. Perkembangan calon anak yang sedang dikandung oleh induk adalah dengan menyimpan suatu cadangan zat-zat makanan. Bangun-bangun selain berdaya antiseptika ternyata mempunyai aktivitas tinggi melawan infeksi cacing (Vasquez dkk 2000). Senyawa aktif minyak atsiri phythocemical database Duke (2000), melaporkan bahwa dalam Bangun-bangun ini terdapat juga kandungan vitamin C, B1, B12, senyawa aktif  thymol, betacaroten, niacin, carvarol, kalsium, asam – asam lemak, asam oksalat dan serat.

Bangun–bangun juga mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri, menimbulkan rasa tenang dan menciutkan selaput lendir,  hewan yang mengalami setres panas membutuhkan tambahan 1 % kalium untuk mencegah hilangnya nafsu makan, menurunkan sekresi air susu dan pertambahan bobot badan. Bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkomsumsi daun Bangun-bangun dapat meningkatkan produksi air susu ibu (Damanik,2006). Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya penigkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya DNA dan RNA kelenjar mamamae. Peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya konsentrasi T4 dan glukosa serum (Silitonga, 1993).

Hasil pengamatan terhadap anak tikus yang sedang menyusui diperoleh bahwa pemberian tepung Bangun-bangun sebesar 5% dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak  (Tiurlan, 2008). Sebelumnya Weaning (2007) mengatakan bahwa pemberian 5% tepung Bangun- bangun pada hari ke- 14 umur kebuntingan meningkatkan produksi air susu dan konsumsi ransum juga memperbaiki nilai konversi ransum.

Berdasarkan uraian di atas maka didapat hipotesis, pemberian tepung Bangun-bangun sebesar 5% pada ransum dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.6.           Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian telah dilaksanakan dari tanggal 1 November sampai dengan  16 Desember 2010 di Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.      Deskripsi Ternak Babi

            Babi merupakan ternak monogastrik yang mempunyai kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien. Ternak babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan prolifik yakni banyak anak perkelahiran berkisar 8-12 ekor dengan rata-rata 2 kali kelahiran per tahunnya.

            Menurut Sosroamidjojo (1977), babi asli Indonesia berasal dari babi hutan yang sampai sekarang masih terdapat hidup liar dihutan, dan babi ini terkenal dengan nama Celeng (Sus verrucosus), beberapa babi Indonesia yang terkenal di pasaran antara lain misalnya babi Nias, babi Tangerang, babi Karawang, babi Bali dan babi Sumba (Wahju dan Supanji, 1969).

            Klasifikasi zoologis babi adalah sebagai berikut:

                        Phylum           : Chordata

Class               : Mamalia

                        Ordo               : Ortiodactyla

                        Genus             : Sus

                        Family            : Suidae

                        Spesies           : Sus scrofa

 

2.2.      Tanaman Bangun-bangun

            Daun torbangun (Coleus amboinicus Lour) merupakan salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai ramuan tradisional di Indonesia. Tanaman Torbangun ini tumbuh liar didataran rendah dan tempat lain sampai pada ketinggian 1100 m di atas permukaan laut. Tanaman ini bermanfaat sebagai obat sariawan, batuk, rejan, influenza, demam, perut kembung, mulas, sembelit bahkan sebagai anti tumor, anti kanker, anti vertigo dan hipotensif. Menurut tradisi masyarakat Batak di Propinsi Sumatera Utara, daun Torbangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya mampu meningkatkan produksi susu ibu yang sedang menyusui (Damanik dkk, 2001).

            Daun torbangun adalah jenis tanaman herba, yang telah lama dikenal di beberapa daerah di Indonesia, terutama di daerah Sumatera, khususnya masyarakat batak. Tanaman torbangun memiliki ciri fisik batang berkayu lunak, beruas-ruas dan berbentuk bulat, diameter pangkal ± 15 mm, tengah 10 mm dan ujung ± 5 mm. Tanaman torbangun jarang berbunga akan tetapi pengembang biakannya mudah sekali dilakukan dengan stek dan cepat berakar didalam tanah. Di pot pun tanaman ini dapat tumbuh dengan baik (Heyne, 1987). Pada keadaan segar, helaian daun tebal, berwarna hijau muda, kedua permukaan berbulu halus dan berwarna putih, sangat berdaging dan berair, tulang daun bercabang-cabang dan menonjol. Pada keadaan kering helaian daun tipis dan sangat berkerut, permukaan atas kasar, warna coklat, permukaan bawah berwarna lebih muda daripada permukaan atas dan tulang daun kurang menonjol.

 

Gambar 1. Tanaman Torbangun

Taksonomi tanaman bangun-bangun diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom        : Plantae

Divisi                         : Phanerogamae

Subdivisi       : Spermatophyta

Class               : Angiospermae

Family            : Limiaceae (Labialae)

Sub Family    : Oscimoidae

Genus             : Coleus

Spesies           : Coleus amboinicus Lour

Menurut Damanik dkk (2006), daun torbangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkonsumsi daun Torbangun karena daun ini dapat meningkatkan produksi air susu ibu. Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya peningkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya sekresi air susu, peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya kadar glukosa serum (Silitonga, 1993). Daun torbangun mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri dan menimbulkan rasa tenang sehingga sekresi susu menjadi lancar. Kandungan nutrien bangun-bangun di sajikan pada Tabel 1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Kandungan Nutrien Tanaman Bangun-bangun

 

No.

Nutrien

Daun

Batang

Ranting

1

Air (%)

8,14

13,46

8,04

2

Lemak (%)

0,87

0,61

0,53

3

Protein (%)

6,20

5,12

3,98

4

Karbohidrat (%)

81,83

74,69

80,37

5

Energi (KKal)

359,95

324,73

342,17

6

Zn (ppm)

2,14

5,16

0,82

7

Fe (mg/100 g)

3,28

3,95

2,01

8

K (mg/100 g)

292,17

165,21

119,47

9

Ca (%)

0,23

0.118

0,10

10

Mg (%)

0,06

0,045

0,02

11

Vitamin A (IU/100g)

11335,77

-

-

12

Viatamin C (mg/100g)

168,41

-

-

Sumber: Balai Besar Industri Agro (BBIA), Bogor (2008)

 

 

 

 

 

 

2.3.      Konsumsi Ransum

            Ransum adalah makanan yang diberikan pada ternak tertentu selama 24 jam,  pemberiannya dapat dilakukan sekali atau beberapa kali selama 24 jam tersebut. Ransum sempurna adalah kombinasi beberapa bahan makanan yang bila dikonsumsi secara normal dapat mensuplai zat-zat makanan kepada  ternak dalam perbandingan jumlah, bentuk, sedemikian rupa sehingga fungsi-fungsi fisiologis dalam tubuh berjalan secara normal (Parakkasi,1990).

Crurch (1979) mengatakan faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi makanan adalah palatabilitas yang dipengaruhi oleh bau, rasa, tekstur, suhu dan beberapa faktor lain seperti suhu lingkungan, kesehatan ternak, stress, dan bentuk fisik makanan. Clawson, dkk (1962) mengatakan konsumsi ransum dipengaruhi oleh keseimbangan protein-energi dalam ransum dan konsumsi ransum cenderung meningkat bila kandungan energi menurun.

             Induk menyusui dapat mengkonsumsi makanan 3-5 kilogram setiap hari. Induk menyusui membutuhkan makanan yang kebih banyak. Kebutuhan zat-zat makanan untuk produksi air susu ternak adalah salah satu kebutuhan yang tinggi dalam usaha peternakan. Kebutuhan ternak tersebut meningkat karena disamping untuk memenuhi kebutuhan tubuh ternak itu sendiri, zat-zat tersebut juga digunakan untuk menyusun air susu yang dihasilkan.

 

2.4.                   Konversi Ransum

Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untukan menghasilkan 1kg pertambahan badan atau kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk bobot badan  (Bogart, 1997), sehingga angka konversi ransum tergantung pada banyaknya ransum yang dikonsumsi serta perubahaan atau kenaikan bobot badan yang dihasilkan. Semakin tinggi konsumsi ransum belum tentu akan memperbaiki angka konversi ransum apabila tidak diikuti dengan pertamabahan bobot badan.

Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian semakin rendah makin rendah angka konversi makin efisien dalam pengunaan ransum. Hal ini dapat dinyatakan sebagai jumlah kenaikan bobot badan yang di hasilkan dari satu satuan makanan yang persatuan bobot badan. Perbandingan tersebut bervariasi dalam hubungannya terhadap sejumalah factor, umur ternak , bangsa, daya produksi, (Campbell dan Lasley, 1985).

 

 

Konversi ransum dapat digunakan sebagai peubah untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang baik (Bogart, 1997). Sihombing (1997) mengemukan bahwa nilai konversi dari dari seekor ternak erat hubungannya dengan tujuan seleksi guna mendapatkan ternak yang ekonomis. Menurut Cole dan Ronning, (1974) pada disertasi Najoan, (2002) menyatakan bahwa konversi ransum akan menurun dengan bertambahan besarnya babi dan variasi akan terjadi diantara bangsa-bangsa babi. Besar konversi pakan terhadap ransum pada babi grower ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan 3,5 kg ransum (Goodwin, D.H. 1974).  Untuk konversi ransum induk menyusui pada babi lebih tinggi kebutuhan ransum sesuai dengan jumlah anak yang menyusui hal ini dapat di konversi ransum dengan pertambahan bobot badan anak semakin baik, untuk babi menyusui butuh konsumsi ransum 4 kg – 6 kg perharian untuk menanghasil susu 7-8 liter perharian, hal ini dapat dilihat bobot badan induk akan menurun untuk menayusui anak (Sihombing,1997).

 

 

 

     2.5.     Pertambahan Bobot Badan Anak

             Pertambahan bobot badan anak adalah pertambahan bobot badan dari berat lahir sampai berat sapih yang mengalami kenaikan bobot badan babi dengan mengonsumsi air susu induk menyusui, sehingga terjadi konsumsi ransum meningkat  pada induk menyusui dan perlukan zat-zat makanan yang berkualitas yang baik dari ransum untuk mencapai bobot badan yang maksimal.

            Menurut Parakkasi (1983), semakin banyak anak yang menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk walaupun tidak harus menjamin kebutuhan optimum dari anak-anak tersebut. Kandungan air susu induk babi setelah 2 hari yaitu 7% lemak, 6,5% protein, dan 5% laktosa (Sihombing, 1997). Induk yang memiliki produksi susu tinggi akan menghasilkan anak dengan pertambahan bobot badan akan meningkat, karena produksi susu tertinggi pada minggu ke-3 setelah kelahiran. Pada umur 0-3 minggu tersebut adalah konsumsi terbanyak oleh anak-anak babi untuk pertumbuhannya sehingga pertambahan bobot badan anak akan baik. Anak babi disapih saat berumur 4-6 minggu bobot sapih anak babi berkisar antara 13-14 kg/ekor dengan penambahan bobot badan perhari berkisar antara 0,30-0,32 kg/ekor (Sihombing,1997).

 

 

III

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

3.1.      Bahan Penelitian

3.1.1. Ternak Penelitian

Penelitian menggunakan 15 ekor ternak babi induk menyusui Landrace  partus ke 2-3 dengan kisaran bobot badan ternak tersebut adalah 120-150 kg dan umurnya relatif sama koefesian

 

3.1.2. Bangun-bangun

Tepung bangun-bangun yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang, daun, ranting diperoleh dari Sumatra utara. Bangun-bangun dicacah dengan ukuran 1-2 cm, dilayukan, dikeringkan di bawah sinar matahari, kemudian digiling halus menjadi tepung, di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non Ruminansia dan Industrisi Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

 

 

 

 

 

3.1.3. Kandang Penelitian

Kandang  yang digunakan dalam penelitian adalah kandang individu  berukuran panjang 5 m, lebar 4 m, tinggi 1 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi  dengan  tempat pakan dan minum sebanyak 15 unit.

 

 3.1.4. Peralatan                                   

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Satu buah timbangan duduk berkapasitas 300 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg untuk menimbang babi.
  2. Satu buah timbangan biasa dengan kapasitas 5 kg dengan tingkat ketelitian 0,05 kg untuk menimbang pakan.
  3. Satu buah timbangan santurius dengan kapasitas 100 gram dengan tingkat ketelitian 0,2 gram untuk menimbang tepung bangun-bangun.

 

 

 

 

 

3.1.5.              Ransum Penelitian

Bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian antara lain: tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, tepung ikan, tepung tulang, minyak kelapa, premix, tepung bangun-bangun. Penyusunan  ransum dilakukan berdasarkan pada zat-zat makanan yang dianjurkan oleh National Research Council (NRC, 1998). Kandungan nutrien dan energi metabolis bahan pakan yang di gunakan dicantumkan pada Table 2. Adapun susun ransum basal yang gunakan pada penelitian ini di cantumkan.

Tabel 2. Kandungan Nutrien dan Energi Metabolis Bahan Pakan

               Penyusun Ransum

Bahan Pakan    EM

         PK

       SK

     Ca

         P

Jagung

3420,00

10,50

2,00

0,21

0,31

 
Dedak Padi

2980,00

12,00

9,00

0,04

1,04

 
T. ikan

2856,20

48,67

0,01

6,32

2,95

 
B. kelapa

3698,00

16,25

19,92

0,05

0,60

 
B. kedelai

2550,00

47,00

5,00

0,24

0,81

 
T.Bangun-  bangun

342,28

26,43

22,43

0,15

0,00

 
T. tulang

0,00

1,04

0,00

5,16

0,14

 
Premix

0,00

0,00

0,00

0,13

0,11

 
                     

Keterangan : EM= Energi Metabolisme, PK= Protein Kasar, SK= Serat Kasar,

                        Ca= Kalsium, P= Posfor

Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, IPB (2005) 

 

 

Tabel 3. Susunan Ransum Basal Babi Induk Menyusui (R0)

No

Bahan pakan

          Jumlah

   
             
    ………………….%……………………..

1

Tepung jagung  

48

 

2

Dedak padi  

35

 

3

Tepung ikan  

4,5

 

4

Bungkil kedelai  

4

 

5

Bungkil kelapa  

5

 

6

Tepung tulang  

3

 

7

Tepung Bangun-bangun  

0

 

8

Premix

 

0,5

 

  Jumlah  

     100,00

 
             
Sumber : Hasil perhitungan        

                Ransum perlakuan yang di gunakan dalam penelitian ini

 adalah sebagai berikut :

            R0 = 100 % Ransum basal (tanpa tepung Bangun-bangun)

            R1 =  97 % R0 ditambahkan 3 % tepung Bangun-bangun

           R2 =  95 % R0 ditambahkan 5 % tepung Bangun-bangun

 

 

 

 

Kandungan Nutrien dengan Energi Metabolisme Ransum Perlakuan di tampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan  Nutrien dan Energi Metabolis Ransum Perlakuan.

No

Nutrien

Energi Metabolis

Ransum Perlakuan

Kebutuhan menurut

  NRC, 1998

   

R0

R1

R2

1

Protein Kasar (%)

14,15

14,52

14,77

13-15

2

Calsium (%)

0,77

0,70

0,73

0,75

3

Phosfor (%)

0,62

0,66

0,62

0,60

4

Energi Metabolis (kkal/kg)

3363,27

3342.04

3343,51

3265,00

Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 1 dan 2

3.2.      Peubah yang Diamati

1. Konsumsi Ransum Induk (kg/hari)

Konsumsi ransum diketahui dengan cara jumlah ransum yang diberikan dikurangi sisa pada esok pagi harinya  (24 jam).

Konsumsi ransum (kg/hari) =

Jumlah ransum yang berikan (kg/hari) – Sisa ransum (kg/hari)

 

2. Pertambahan bobot badan anak (kg/ekor)

Bobot badan di timbang 2 kali selama 45 hari, pertambahan bobot badan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

PBB = Berat Sapih – Berat Lahir

 Lama Sapih

 

3. Konversi Ransum  

Konversi ransum yaitu jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut:

Konversi Ransum = Konsumsi ransum  induk (kg)

           Berat induk akhir  –  berat awal (kg)

 

 3.3.    Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan lima ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 15 ekor ternak babi induk.

Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie, 1989) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Yij     =  µ + αi + єij

Keterangan : 

Yij      =  Nilai harapan dari perlakuan ke-i pada ulangan ke-j

µ       =  Nilai rataan umum

αi        =  Pengaruh ke i=1,2,3

Єij      =  Galat perlakuan ke-i pada ulangan ke-j=1,2,3,4,5

Asumsi :

  1. Nilai єij menyebar normal bebas satu sama lain.
  2. Nilai harapan єij = 0 atau Σ ij) = 0
  3. Ragam dari єij = δ2 atau Σ (єij) = δ2 ,       єij  ~  NID (0, δ2)

Sidik Ragam

Tabel 5. Daftar sidik ragam

 

Sumber keragaman dB JK KT Fhit
Perlakuan      2 JKP KTP KTP/KTG
Galat 3(5-1) JKG KTG  
Total 14 JKT - -

 

Hipotesis

  1. H0  : R0=R1=R2 : Perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon.
  2. ­­­H1 : R0≠R1≠R2  : Paling sedikit ada sepasang perlakuan yang tidak sama.

Kaidah Keputusan :

  1. Bila Fhit < F 0,05: perlakuan tidak berbeda nyata (terima H0/tolak H1)
  2. Bila Fhit > F 0,05: perlakuan berbeda nyata (tolak H0/terima H1)

Apabila terdapat perbedaan yang nyata (Fhit > F α 0,05)

dengan uji Duncan dengan rumus :          

 

LSRx      =          SSRxSx

Keterangan    :          

Sx           : Simpangan Baku

R         : Jumlah Ulangan

KTG    : Kuadrat Tengah Galat

LSR     : Least Significant Range

SSR     : Student Significant Range

Kaidah keputusan :

Bila d ≤ LSR, tidak berbeda nyata             

            Bila d > LSR, berbeda nyata

            d = Selisih antara dua rata-rata perlakuan

SSR     = Standartized Siginficant Range

LSR     = Least Significant Range

r           = Range

 

 

 

 

 

 

 

3.4. Tahap-tahap Penelitian

  1. Persiapan kandang, sanitasi kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum dan peralatan. Setiap babi dimasukan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan yang sebelumnya dilakukan pemilihan perlakuan secara acak.
  2. Adaptasi babi terhadap kandang, perlakuan dan lingkungan yang baru selama satu minggu. Untuk adaptasi pakan dilakukan dengan cara  memberikan pakan sebelumnya ditambah pakan penelitian sampai babi sudah dapat beradaptasi terhadap pakan peneltian.
  3. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua  kotoran ternak babi dan kotoran tersebut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dimandikan agar bersih dan nyaman  babi. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali  yaitu pada pukul 07.00, 12.00, dan 16.00 WIB, sedangkan sisa pakan ditimbang setiap pagi harinya untuk mengetahui besar konsumsi pakan.
  4. Penimbangan berat lahir anak dan bobot awal badan induk
  5. Penimbangan pada akhir penelitian menimbang pertambahan bobot badan anak dan induk

 

 

3.5.  Tata Letak Kandang Penelitian

K1

B13

R1

K2

B3

R1

K3

B6

R0

K4

B4

R1

K5

B1

R1

K6

B15

R2

K7

B11

R0

 

K8

B5

R1

 

K9

B10

R2

K10

B8

R2

K11

B14

R0

K12

B7

R2

K13

B2

R0

K14

B12

R2

K15

B9

R0

 

Keterangan : Nomor Kandang       = K1, K2, K3,…K15

                        Nomor Babi               = B1, B2, B3,…B15

Ransum Perlakuan   = R0, R1 dan R2                                          

 

 

 

 

 

 

 

 

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1.      Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Ransum

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi induk menyusui dapat dilihat pada Tabel 6.

 

Tabel 6. Rata-rata Konversi Ransum Induk Babi Menyusui. 

 

Ulangan

 

Perlakuan

 

 

 

R0

R1

R2

 
       
   

1

-9,51

-10,25

-22,44

 

2

-8,38

-9,92

-14,53

 

3

-9,74

-23,38

-30,80

 

4

-7,95

-12,92

-15,25

 

5

-6,89

-8,66

-12,56

 
Total

-42,47

-65,14

-95,57

-203,18

Rataan

-8,49

-13,03

-19,11

-40,64

Keterangan :

 R0 = Ransum basal (tanpa tepung bangun-bangun)

 R1 = Ransum dengan pertambahan 3% tepung bangun-bangun

 R2 = Ransum dengan pertambahan 5% tepung bangun-bangun

 

 Catatan :  tanda (-) menunjukan penurunan berat badan induk menyusui

Sebagai diperoleh nilai konversi (-), penurunan berat badan induk menyusui dapat di lihat pada lampiran 2.

 

 

Konversi ransum adalah jumlah ransum yang dikonsumsi untukan menghasilkan pertambahan berat badan atau kemampuan ternak mengubah makanan ke dalam bentuk bobot badan  (Bogart, 1997).

            Tabel 6 menunjukkan bahwa Pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui, diperoleh rataan konversi ransum babi induk menyusui masing-masing perlakuan adalah R0 (-8,49), R1 (-13,03) dan R2 ( -19,11). Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi induk menyusui maka dilakukan analisis sidik ragam hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 3.

Hasil analisis statistik Lampiran 3 menunjukkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum induk babi menyusui berpengaruh nyata terhadap (P<0,05) konversi ransum. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan,  dilakukan uji  Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 7.

 

 

 

 

 

 

Tabel 7. Hasil  Uji  Duncan  Pengaruh Perlakuan Tepung  Bangun-bangun Terhadap Konversi Ransum  Induk Menyusui

 

Perlakuan

Konversi Ransum

Signifikansi (α, 0,05)

   

 

R0

-8,49

                     a

R1

-13,03

   ab

R2

-19,11

       b

 

Tabel 7 menunjukan bahwa perlakuan R2 (5% tepung bangun-bangun) nyata (P<0,05) lebih rendah nilai konversi ransumnya, di bandingankan perlakuan R0 (0% tepung bangun-bangun) pada babi induk menyusui. Adapun antara perlakuan R2 (5% tepung bangun-bangun) dengan R1 (3% tepung bangun-bangun) dan antara perlakuan R1 (3% tepung bangun-bangun) dengan R0 (0% tepung bangun-bangun) tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata (P>0,05), terhadap nilai konversi ransum babi induk menyusui.  Konversi ransum efesien karena terjadi  bobot sama untuk menghasilkan satuan bobot badan induk babi menyusui, maka pengaruh tepung bangun-bangun paling baik pertumbuhan anak,  Wening  (2007). Konversi ransum induk babi menyusui terjadi penurun bobot badan, dengan pemberian tepung bangun-bangun sebesar 3% dan 5% dapat menekan penurunan bobot induk babi menyusui dengan nilai konversi sebesar R1 (-13,03) dan R2 (-19,11). Konversi ransum induk babi menyusui terjadi penurunan bobot badan karena di pengaruhi jumlah anak babi mengkonsumsi susu Sihombing (1997), Siagian (1999).

Pemberian tepung bangun-bangun 5% dengan nilai konversi yang lebih rendah dibandingkan  3%  hal tersebut disebabkan jumlah tepung bangun-bangun yang diberikan sesuai dengan tingkat kesukaan dan kebutuhan induk babi menyusui.

            Ternak babi yang mengkonsumsi tepung bangun-bangun mempunyai nilai konversi ransum yang lebih baik dibandingkan dengan ternak babi yang tidak mengkonsumsi tepung bangun-bangun. Hal ini disebabkan oleh kandungan nutrient (protein, mineral dan vitamin) serta senyawa carvacrol yang  terkandung dalam tepung bangun-bangun yang berfungsi sebagai suplemen,  meningkatkan palatabilitas dan nafsu makan. Pemberian tepung bangun-bangun dapat meningkatkan konsumsi ransum dan memperbaiki nilai konversi ransum babi induk menyusui sesuai dengan pendapat Gunter dan Bossow (1998) serta Khajarern (2002) yang menyatakan bahwa tepung bangun-bangun dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertumbuhan bobot badan dan efisiensi penggunaan zat makanan pada induk babi menyusui.  

 

 

 

 

4.2.      Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan

            Anak

 

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan anak dapat dilihat pada Tabel 8.

           Tabel 8. Rataan Pertambahan Bobot Badan Anak

 

Ulangan

 

Perlakuan

 

 

 

R0

R1

R2

 
       
  …………………………kg/ekor/hari…………………………

1

0,29

0,31

0,35

 

2

0,29

0,32

0,36

 

3

0,29

0,32

0,36

 

4

0,30

0,34

0,37

 

5

0,29

0,32

0,36

 
Total

1,17

1,62

1,80

4,59

Rataan

0,29

0,32

0,36

0,33

Keterangan :

 

 R0 = Ransum basal (tanpa tepung bangun-bangun)

 R1 = Ransum dengan penambahan 3% tepung bangun-bangun

 R2 = Ransum dengan penambahan 5% tepung bangun-bangun

 

Rataan pertambahan bobot badan anak yang dihasilkan secara keseluruhan adalah 0,33 kg/ekor/perhari, pertambahan bobot badan tersebut sesuai dengan Sihombing (1997) sekitar 0,30-0,32 kg/ ekor/hari,  dengan umur penyapihan antara 6 minggu. Rata-rata pertambahan bobot badan anak akibat pemberian tepung bangun-bangun pada induk menyusui dari yang terendah ke tertinggi adalah R0 (0,29 kg/ekor/hari), R1 (0,32 kg/ekor/hari) dan R2 (0,36 kg/ekor/hari). Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan anak, maka dilakukan analisis sidik ragam dan hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 5.

 Hasil analisis statistik (Lampiran 5) menujukkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum induk babi menyusui berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan anak. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan antar perlakuan dilakukan Uji Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 9.

 

Tabel 9. Hasil  Uji Duncan  Pengaruh  Perlakuan  terhadap Pertambahan Bobot  Badan  Anak.

 

Perlakuan

Pertambahan Bobot Badan Anak

Signifikansi (α, 0,05)

 

———-(kg/ekor/hari)———

 

R0

0,29

                     a

R1

0,32

   b

R2

0,36

       c

 

 

Tabel 9 menunjukkan bahwa perlakuan R1 (3% tepung bangun-bangun) dan R2 (5% tepung bangun-bangun) nyata (P>0,05) meningkatkan pertambahan bobot badan anak, dibandingkan R0 (0% tepung bangun-bangun). Pemberian tepung bangun-bangun 5%  menunjukkan peningkatan pertambahan bobot badan anak lebih tinggi dibandingkan pemberian 3%.  Hal tersebut disebabkan jumlah tepung bangun-bangun yang diberikan lebih tinggi sehingga precursor pembentukan susu dalam tubuh induk lebih tinggi. Pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak sesuai pendapat dengan  Damanik  (2006)  yang  menyatakan bahwa tepung bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkomsumsi bangun-bangun karena daun tersebut dapat meningkatkan produksi air susu ibu, dan hal ini juga terjadi pada ternak babi.

            Babi yang mengkonsumsi tepung bangun-bangun mempunyai pertambahan bobot badan anak yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengkonsumsi. Hal ini disebabkan oleh senyawa lactagogue yang  terkandung dalam tepung bangun-bangun yang mampu meningkatkan sekresi air susu dalam ambing sehingga menghasilkan produksi susu yang tinggi. Lawrence dkk (2005), mengatakan senyawa lactogogue terdiri dari beberapa komponen yang apabila bekerja bersama-sama dalam tubuh akan memacu produksi air susu ibu (ASI), meningkatkan fungsi pencernaan dan meningkatkan pertumbuhan bobot badan, beberapa senyawa tersebut adalah 3,4-dimethyl-2-oxocyclopent-3-enylacetic acid, monomethyl succinate, phenylmalonic acid, cyclopentanol, 2-methyl acetate dan methylpyro, glutamate, senyawa sterol, steroid, asam lemak, asam organik. Adanya komponen tersebut dalam bangun-bangun dapat merangsang hormon yang terdapat dalam tubuh untuk memproduksi susu yang banyak sehingga kebutuhan anak dapat tercukupi ditunjukkan dengan pertambahan bobot badan  yang tinggi. Pemberian tepung bangun-bangun terbaik bagi induk babi menyusui adalah sebesar 5% dalam ransum.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1.           Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun sebesar 5% dalam ransum  babi dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

5.2.      Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa :

            Tepung bangun-bangun dapat digunakan sebagai feed suplement untuk memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan  bobot badan anak, dengan penggunaan sebesar 5% dalam ransum.  Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pemberian ekstrak bangun-bangun  dalam ransum babi menyusui terhadap konversi ransum induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bogart, R.1977.Scientific Farm Animal Production. Burges Publishing Co. Minneapolis, Minessota.

 

Church, D. C. 1979. Factor Affecting Feed Consumption. In : D.C. Church.

            Livestock Feed and Feeding. Durham and Downey. Inc.Pp 136-139.

 

Clawson, A. j., T.N. Blumer, W. W. G. Smart, Jr and E. R. Barrick. 1962. Influence of energy-protein ratio on performance and carcass charachteristics of swine. J. Anim. Sci. 21 : 62

 

Campbell,J.R. and J.F. 1985, The Science of Animal that Served Mankind. 3th ed. Tata Mc Graw. Hill Publishing Company Limited. New Delhi. Pp 390-392

 

Cole. H. and Ronning. 1974. Animal Agriculture. W. H. Freeman and Company San Fransisco.

 

Damanik, R, Damanik, N, Daulay Z, Saragih S, R. Premier, and. Wattanapenpaibon, Wahlgvist ML. 2001. Comsumption of bangun-bangun leaves (Coleus ambonicius lour) to increase breast milk production among bataknesse women in North Sumatra Island, Indonesia. APJCN; 10 (4): S67

 

Damanik, R, Damanik, Wahlgvist ML and Wattanapenpaibon. 2006. Lactagogue effects of Bangun-bangun, a Bataknese traditional cuisine. APJCN; 15 (2): 267-274.

 

Duke. 2000. Duke’s Contituens and Ethnobotanical Database. Phytochemical database, USDA – ARS – NGRL. http ://www.ars – grin.gov/cgi – bin/ duke/ farmcy – sc ro||3.p|

Goodwin, D.H. 1977. Pig Management and Production. Hutchinson, Edition, London. Page 19-20

 

Gunter KD, Bossow H. The effect of etheric oil Origanum vulgaris (Ropadiar) in  the feed ration of weaned pigs on their daily feed intake daily gains and food utilization (abstract). Proc 15th int Pig Vet Soc Congr, Birminghan. 223.

 

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid I. Diterjemahkan oleh Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Yayasan Sarana Jaya, Jakarta

 

Parakkasi, A., 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit Angkasa, Bandung.

 

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan.   Universitas Indonesia, Indonesia.

 

Sosroamidjojo. M.S. 1997. Ternak Potong dan Kerja. Penerbit C.V. Yasa Guna Jakarta. Hal 30-35

 

Sihombing,. D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Institut Pertanian Bogor.

 

Siagian, P. H. 1999. Manajemen ternak Babi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

 

Silitonga, M. 1993. Efek laktakogum daun jinten (Coleus amboinicuc L.) pada tikus laktasi. Tesis. Program pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor

 

Steel, R.G.D. dan J. H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika (Terjemahan). Cetakan kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

Tiurlan, F. H, Irma, S, Rienoviar, Dede. A, Meity, S. 2000. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Favanoid dan Alkaloid dari Herba Bangun-bangun (Coleus ambonicus Lour) dan Katuk (Suropus Andrigynus Merr). Laporan Penelitian. BBIA. Bogor

 

Najuan. A. 2002. Evaluasi Berbagai Bahan Pakan Daerah Sulawesi Utara untuk Penggemukan Babi. Disertasi UNPAD. Bandung.

 

National Research Council. 1998. Nutrisi Reguiment of Swine, National Academy Press, Washington, D.C.

 

Khajarern, J. The efficacy of origanum essential oils in sow feed. Int Pig Topics. 2002; 17: 17.

 

Lawrence, D., R., and Bacharach, A., L., 1946, Evaluation of Drug Activities, Academic Press, London

 

Vasquez E. A., W. Kraus, A. D. Solsoloy, and B.M. Rejesus. 2000. The uses of species and medicinal: antifungal, antibacterial, anthelmintic, and molluscicidal constituents of Philippine plant, http: //www.fao;org/ x2230e/x2230e8

 

Wahyu. J., 1985 dan D. Supanji. 1969. Pedoman Berternak Babi. Direktorat Peternakan Rakyat. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta. Hal. 5-7

 

Weaning, W. 2007. Penambahan Daun Torbangun (Coleus amboinicus lour) Dalam Ransum Pengaruhnya terhadap Sifat Reproduksi dan Produksi Air Susu Mencit Putih (Mus Musculus Albinus). Skripsi. Jurusan Ilmu Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor

PENGARUH SUBSTITUSI JAGUNG OLEH CORN FIBER DALAM RANSUM BABI TERHADAP EFESIENSI PAKAN DAN

ABSTRAK

 

Suatu Penellitian tentang “Pengaruh Substitusi Jagung oleh Corn Fiber dalam Ransum Babi terhadap Efesiensi Pakan dan Waktu Mencapai Bobot Potong”, yang telah dilakukan pada tanggal 1 Juli 2010 sampai 3 November 2011 di                PT. Obor Swastika, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh substitusi jagung oleh corn fiber dalam ransum babi terhadap efesiensi pakan dan waktu mencapai bobot potong.

Penelitian ini mengunakan 24 ekor babi peranakan ras yang berumur 8 minggu dengan bobot rata-rata 20 kg dengan koefisien variasi 6.94 %. Rancangan Percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0, 20, 35, dan 50 %, setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali.

Hasil penelitian menunjukan bahwa substitusi jagung oleh corn fiber dalam ransum babi sampai substitusi 50% berpengaruh terhadap efisiensi pakan dan waktu mencapai bobot potong. Subtitusi sampai 35 % tidak berpengaruh terhadap efisiensi pakan dan waktu mencapai bobot potong, subtitusi 50 % ternyata mulai memberikan pengaruh menurunkan efisiensi pakan (0,28) dan waktu mencapai bobot potong menjadi lebih lama (119,7 hari).

Subtitusi jagung oleh corn fiber yang terbaik adalah 35% terhadap efisiensi pakan dan waktu mencapai bobot potong.

 

Kata Kunci  : Jagung, Corn Fiber, Efisiensi Pakan, Waktu Mencapai Bobot Potong, Babi

 

ABSTRACT

 

This research is about the effect of corn substitution by corn fiber in diets for pigs to feed efficiency and time to get the weight of slaughter, has been held since July 1, 2010 until November 3, 2010 in PT. Obor Swastika, sub district        Cisarua, Bandung. The purpose is to know the effect of corn substitution by     corn fiber in diets pigs to feed efficiency and time to get the weight of slaughter.

The research was using 24 pigs, age 8 week with weight rate 20 kilograms and variation coefficient 6.94 %. The method was used in this research is Complete Randomize Design with four level of corn fiber, i.e. 0, 20, 35, and 50 %, with six replications.  

The result of the research shows that the corn substitution by corn fiber have different effect until 50 % to feed efficiency and time to get the weight of slaughter, corn substitution by corn fiber have no different effect until 35% to feed efficiency and time to get the weight of slaughter, after the accretion corn fiber usage more high until 50% evoke the degradation of feed efficiency (0,28) and time to get the weight of slaughter become long (119,7 days). The substitution corn by corn fiber equal to 35% giving the best influence to feed efficiency and time to get the weight of slaughter

 

Key word  :  Corn, Corn Fiber, Feed Efficiency, Time to get The Weight of Slaughter, Pigs.

 

Pendahuluan

Babi merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memiliki sifat-sifat dan kemampuan yang mengguntungkan antara lain laju pertumbuhan yang cepat dengan rata-rata laju pertambahan berat badan 0,70 kg/hari (NRC,  1998), bersifat prolipik atau jumlah anak perkelahirannya banyak, efisiensi ransum yang baik dan merupakan salah satu  hewan omnivora  yang memakan segala jenis makanan (Siagian, 1999),

Babi mempunyai potensi biologis untuk tumbuh dan berkembangbiak dengan cepat apabila didukung dengan ransum yang berkualitas tinggi dan mempunyai kandungan zat makanan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan ternak tersebut, yaitu ransum yang terdiri dari campuran bahan pakan sumber energi yang cukup, protein, vitamin, mineral, sebagai zat-zat makanan yang berimbang dan lengkap. Pada umumnya babi yang dipelihara dengan cara dikandangkan dengan sistem modern, sehingga benar-benar tergantung dari ransum yang diberikan agar peformans maksimal pada  babi dapat dicapai. (Sihombing, 1997)

Jagung merupakan bahan makanan sumber energi dan protein yang penting. Menurut Rifin (1981), produksi jagung di Indonesia berkisar 1,4 ton/ha, sedangkan produksi di Negara-negara Asia rata-rata 1,8 ton/ha, sedangkan produksi dunia kira-kira 2 ton/ha. Jagung selain sebagai makanan sumber energi bagi manusia, juga merupakan bahan pakan ternak seperti unggas dan babi (Anggorodi, 1979), dan diantara bahan pakan berupa biji-bijian, jagung memiliki serat kasar terendah dan mengandung energi tertinggi (Parakkasi,1990).

Dalam mengoptimalkan produksi babi, tingginya harga bahan pakan jagung merupakan salah satu kendala, hal ini disebabkan oleh ketersediaanya yang terbatas, karena bersaing dengan kebutuhan manusia dan ternak lain, untuk mengatasi hal tersebut maka diambil langkah yaitu mengganti bahan pakan yang lebih murah namun kandungannya tidak terlalu berbeda dengan bahan yang disubtitusinya dan tersedia dalam jumlah banyak.

Corn fiber merupakan solusinya yang merupakan hasil sampingan       (by product) dari PT. Suba Indah. Tbk  merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan minyak jagung. Komoditas utama dari perusahaan ini adalah minyak jagung Omega-3 dan Omega-9 dengan by product berupa Strach (tepung pati), Corn Gluten Meal (protein lebih besar dari 60%). Corn fiber berwarna kuning kecoklatan dan memiliki bau khas dibanding produk bahan pakan lainnya yaitu menyerupai bau gandum atau bijian yang terbakar (toasted cereal) dan corn fiber merupakan produk sampingan dengan jumlah paling banyak dihasilkan yaitu 500 ton/hari. (Bagian Produksi PT. Suba Indah. Tbk)

Corn fiber memiliki kandungan zat makanan yang tidak berbeda dengan jagung, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ransum ternak ruminasia maupun non ruminasia (Rea, Ronald, dan Trygve, 1999). Dalam hal ini faktor pembatas yang harus diperhatikan adalah kandungan serat kasar, yaitu mencapai 9,22%. Menurut sihombing (1997) level serat kasar yang tinggi berpengaruh terhadap kualitas ransum, semakin tinggi serat kasar dalam ransum membuat pertumbuhan babi menurun dan efisiensi pakan semakin tidak baik.  Serat dapat menurunkan ketersediaan (availabilitas) asam amino pada manusia dan monogastrik sehingga proses pertumbuhan tidak optimal sehingga pemberian corn fiber harus dibatasi supaya ransum tidak amba (Bulky). yang berakibat dapat menurunkan kualitas dan palabilitas atau konsumsi ransum (Cromwel,1994).

            Subtitusi jagung oleh corn fiber secara ekonomis sangat menguntungkan karena corn fiber adalah bahan subtitusi terhadap jagung yang mempunyai harga lebih murah dan tidak bersaing dengan bahan makanan manusia karena corn fiber merupakan hasil sampingan dari pembuatan minyak jagung dan menurut beberapa penelitian di Amerika Serikat menyatakan bahwa corn fiber dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan babi starter sebanyak 5 -10% dalam ransum (OMAFRA,1990). Rea, Ronald dan Trygve (1999), menyatakan bahwa corn fiber dapat digunakan sebagai bahan pakan dalam ransum babi grower sebanyak 10-20% dan sebanyak 20-30% dalam ransum finisher, pada periode finisher corn fiber dapat digunakan sebanyak 20% hingga 40% dalam ransum. (Cromwel,1994), sehingga corn fiber dapat digunakan sebagai bahan pakan pengganti jagung.

 

 

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan Penelitian

Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah peranakan babi ras, sebanyak 24 ekor dengan berat rata-rata 20 kg, dengan koefisien variasi kurang dari 10 % dan bobot badan akhir rata-rata 90 kg. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama, jenis kelamin babi jantan (kastrasi) dan betina, diperlihara sampai mencapai bobot potong yaitu sekitar 90 kg.   Corn fiber adalah bahan yang digunakan sebagai subtitusi jagung yang merupakan bahan utama dalam penyusunan ransum babi. Corn fiber diperoleh dari  P.T. Suba Indah Tbk dan merupakan produk sampingan dari pengolahan minyak jagung, corn fiber berbentuk tepung sehingga mudah dalam pencampurannya. Kandungan zat makanan corn fiber adalah protein kasar 10,31%, serat kasar 9,22%, lemak kasar 11,78%, kalsium 0,08%, phospor 0,05%,  Energi bruto 4516 Kkal/kg. (Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2010).

 

 

Kandang Penelitian

Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap genting, dilengkapi tempat makan dan tempat minum sebanyak 24 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data.  Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu buah timbangan duduk dengan kapasitas 300 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg yang digunakan untuk mengetahui berat ternak, satu buah timbangan duduk berkapasitas 5 kg dengan tingkat ketelitian 0,01 kg yang digunakan untuk menimbang pakan dan sisa pakan, kantong plastik digunakan untuk tempat dan sisa pakan.

 

Susunan Ransum.

Bahan makanan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Dedak padi, Jagung, konsentrat berlabel pokphand 152, premix, tepung tulang dan   corn fiber yang mensubtitusi jagung. Corn fiber dicampurkan dengan bahan ransum yang lain sampai homogen lalu diberikan kepada babi. Ransum yang diberikan ada tiga macam yaitu ransum babi pada periode stater, ransum babi pada periode grower dan ransum babi pada periode finisher. Ransum diberikan pada ternak percobaan 3 kali sehari yaitu  pukul 07.00 WIB, pukul 12.00 WIB dan pukul 16.00 WIB, sebanyak 1-2 kg pakan kering/ekor/hari pada periode starter,  2-3 kg pakan kering/ekor/hari pada periode grower, dan 3-4 kg pakan kering/ekor/hari pada periode finisher. Susunan ransum percobaan dapat dilihat pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Kandungan Zat-zat Makanan dari Bahan Pakan yang digunakan dalam                 Ransum Babi

Bahan ransum

EM

PK

SK

 

Kalsium

Phospor

 

—Kkal—

—————————–%—————————-

Jagung

3420,00

10,50

 2,00

 

0,02

0,30

Corn Fiber*Dedak Padi

Konsentrat Premix

Minyak Sawit

Tepung Tulang

3563,12

2980,00

2948,00

      0,00

8600,00    

      0,00

 

10,31

12,00

34,00

  0,00

  0,00 

  0,00

 

       9,22     

9,00

 4,83

 0,00

 0,00

 0,00

 

 

0,08

0,03

1,80

0,13

       0,00

     29,82

 

0,05

0,12

1,21

 0,11

      0,00

    12,49

 

Sumber : a)  Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak IPB, 2004.

                b)*Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia                           Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2010.

 

 

 

 

 

Tabel 3. Kebutuhan Zat-Zat Makanan Babi tiap Periode

 

Zat-Zat Makanan

Starter

Grower

Finisher

EM                (Kkal/kg)

3250

3260

3275

Protein Kasar   (%)

18

15

13

Serat Kasar *   (%)

4 – 5

5 – 6

6 – 7,5

Kalsium            (%)

0,7

0,6

0,5

Phosfor             (%)

0,6

0,5

0,4

Sumber :  a) *Krider dan Caroll, 1971.

     b)   NRC, 1988.

 

 

 

 

Tabel 4. Susunan Ransum dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi pada Periode Starter

 

Bahan Ransum

R0

R1

R2

R3

Corn Fiber Jagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00     35,00

     27,50

     32,50

       1,29

       0,50

       0,50

       3,21

        7,00      28,00

      27,50

 32,50                                                

        1,41

        0,50

        0,50

        3,09

       12,25       22,75

       27,50

       32,50 

         1,50

         0,50

         0,50

         3,00

        17,50        17,50

        27,50

        32,50

          0,58

          0,50

          0,50

          2,92

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3250,66   3250,35    3250,12     3250,75
PK      (%)      18,03

 18,01

       18,00

 18,00

SK      (%)        4,32         4,93          5,06          5,68
Ca       (%)        0,75         0,75          0,76          0,76
 P        (%)        0,68         0,67          0,65          0,64

 

Tabel 5. Susunan Ransum dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi pada Periode Grower

 

Bahan Ransum

R0

R1

R2

R3

Corn Fiber JagungDedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00     30,00

     43,50

     21,50

       0,81

       0,65

       0,50

       3,54

        6,00      24,00

      43,50

 21,50                                                

        0,91

        0,65

        0,50

        3,44

       10,50       19,50

       43,50

       21,50 

         0,99

         0,65

         0,50

         3,36

        15,00        15,00

        43,50

        21,50

          1,06

          0,65

          0,50

          3,29

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3260,56   3260,54    3260,10     3260,52
PK      (%)      15,68

 15,66

       15,66

 15,65

SK      (%)        5,55         5,98          6,02          6,63
Ca       (%)        0,61         0,63          0,63          0,63
 P        (%)        0,58         0,57          0,56          0,54

 

Tabel 6. Susunan Ransum dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi pada Periode Finisher

 

Bahan Ransum

R0

R1

R2

R3

Corn Fiber JagungDedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00     25,00

     54,00

     14,00

       1,67

       0,70

       0,50

       4,63

        5,00      20,00

      54,00

 14,00                                                

        1,75

        0,70

        0,50

        4,55

         8,75       16,25

       54,00

       14,00 

         1,81

         0,70

         0,50

         4,49

        12,50        12,50

        54,00

        14,00

          1,87

          0,70

          0,50

          4,43

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3275,10   3275,37    3275,58     3275,79
PK      (%)      13,86

 13,85

       13,84

 13,84

SK      (%)        6,24         6,72          7,13          7,96
Ca       (%)        0,51         0,51          0,51          0,52
 P        (%)        0,46         0,45          0,44          0,43

Keterangan :  Ransum terdiri atas,    

                        R0  = ransum Kontrol dengan subtiusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0%

                                 (0% dalam ransum babi starter, grower dan finisher)

                        R1  = ransum dengan subtitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 20% 

                    (7% dalam ransum babi periode starter atau 6% dalam ransum babi       

                   grower atau 5% dalam ransum babi finisher)

                        R2  = ransum dengan subtitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 35% 

                   (12,25% dalam ransum babi periode starter atau 10,5% dalam ransum   

                   babi grower atau 8,75% dalam ransum babi finisher)

                        R3  = ransum dengan subtitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 50% 

                  (17,5% dalam ransum babi periode starter atau 15% dalam ransum babi         

                  grower atau 12,5% dalam ransum babi finisher)

 

 

Kandungan EM, PK, SK, Ca pada ransum babi tiap periode pemeliharaan merupakan hasil perhitungan berdasarkan susunan ransum babi periode starter (20 -35 kg), grower (35-60 kg) dan finisher (60-90 kg). Perhitungan mengacu pada kebutuhan zat-zat makanan dan kandungan zat-zat makanan dari bahan pakan yang digunakan dalam ransum babi tiap periode pemeliharaan.

Metode Penelitian

 

Peubah yang diamati dalam penelitian adalah :

Efisiensi Ransum

Efisiensi ransum dihitung dengan membagi rata-rata Pertambahan Bobot Badan per ekor per hari dengan rata-rata konsumsi bahan kering ransum per

ekor per hari dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

                                     Rata-rata Pertambahan Bobot Badan (gram)

 Efisiensi Ransum=

                                       Rata-rata Konsumsi bahan kering ransum (gram)

 

 

Waktu Mencapai Bobot  Potong (hari)

Waktu mencapai bobot potong adalah jumlah hari yang diperlukan untuk mencapai bobot potong babi yaitu 90 kg.

 

Rancangan Percobaan dan Analisis Statistik

            Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0 , 20 ,35  dan 50 % pada tiap periode pemeliharaan (periode starter, grower, dan finisher). Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali, maka babi yang digunakan sebanyak 24 ekor babi.       

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Efisiensi Ransum

Data hasil pengamatan yang diperoleh selama penelitian mengenai Pengaruh subtitusi jagung oleh corn fiber terhadap efisiensi ransum pada babi dapat dilihat Tabel 7.

Tabel 7. Rataan Efisiensi Ransum Babi Tiap Perlakuan

Ulangan

Pelakuan

Rata-rata

 

RO

R1

R2

R3

 

1

0,29

0,29

0,29

0,25

 

2

0,32

0,29

0,28

0,28

 

3

0,31

0,30

0,32

0,29

 

4

0,32

0,29

0,32

0,26

 

5

0,33

0,32

0,32

0,29

 

6

0,33

0,29

0,28

0.29

 

Total

1,9

1,78

1,81

1,66

 

Rata-rata

0,32a

0,30ab

0,30ab

0,28b

0.30

Ket : huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata (p<0,05)

 

Efisiensi ransum yang ditampilkan pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai efisiensi  ransum secara keseluruhan antara tertinggi dan terendah adalah 0,33 dan 0,25 Nilai efisiensi yang   semakin    besar   menunjukan  babi  tersebut lebih

efisien dalam mengunakan atau mengubah ransum yang dimakan menjadi satuan bobot badan dan ini biasanya menjadi bahan pertimbangan dari segi manajemen peternakan dalam mengambil keputusan.

Efisiensi ransum sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi ransum dan tingkat pertambahan bobot badan harian dari ternak babi. Nilai efisiensi ransum yang rendah menunjukkan bahwa bahan makanan tersebut kurang efisien untuk diubah menjadi daging, dan sebaliknya semakin tinggi nilai efisiensi ransum menunjukkan bahwa bahan makanan tersebut efisien untuk diubah menjadi daging (Crampton dan Harris, 1969).

Nilai efisiensi ransum pada Tabel 7, terlihat bahwa rataan efisiensi secara umum adalah sebesar 0,30, nilai ini sama dengan nilai efisiensi ransum hasil penelitian Ravindran et al. (1984) yang memperoleh nilai efisiensi ransum 0,30 untuk serat rendah dan nilai efisiensi ransum 0,28 untuk serat tinggi. Nilai efisiensi ransum yang sama dengan penelitian Ravindran et al. (1984) menunjukan bahwa babi efisien dalam menggunakan ransum menjadi daging, meskipun daya cerna babi yang rendah terhadap serat, yang berasal dari corn fiber

Tabel 7 juga mempelihatkan bahwa rata-rata efisiensi ransum tertinggi adalah perlakuan R0 sebesar 0,32, kemudian diikuti secara berturut-turut oleh perlakuan R1 (0,30), perlakuan R2 (0,30), dan rata-rata efisiensi ransum yang paling rendah adalah babi yang diberi perlakuan R3 yaitu sebesar 0,28.

Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa perlakuan subtitusi jagung oleh corn fiber dalam ransum berbeda nyata (p<0,05) tehadap efisiensi ransum.  Efisiensi ransum  babi pada perlakuan R0,  R1 dan R2 masing-masing tidak berbeda nyata dan perlakuan R0 dibandingkan dengan R3 bebeda nyata. Perbedaan nilai efisiensi ransum babi yang diberi pelakuan R3 dibandingkan dengan perlakuan lainnya disebabkan antara lain oleh tingkat serat dalam ransum yang dapat menurunkan kecernaan zat-zat makanan     (Ravindran et al. 1984). Serat dalam saluran pencernaan akan menyerap air sehingga bersifat laksatif dan laju alir isi saluran pencernaan lebih cepat, hal ini diperkuat oleh konsistensi feses lebih lembek pada perlakuan yang mendapat serat tinggi. Cepatnya gerak laju digesta menyebabkan kesempatan untuk dicerna dan waktu kontak zat-zat makanan dengan vili-vili usus berkurang dan akhirnya penyerapan menurun sehingga ternak yang mendapat pelakuan tingkat subitusi jagung oleh corn fiber lebih tinggi kurang efisiensi mengubah  ransum menjadi daging.

Menurut Haris, dkk., (1983) efisiensi ransum berkorelasi negatif dengan kandungan serat dalam ransum dan berkolerasi positif dengan kandungan protein dalam ransum. Sumardi, dkk., (1995) menyatakan bahwa ransum yang kualitasnya baik akan memberikan efisiensi ransum yang tinggi. Menurut sihombing (1997) level serat kasar yang tinggi berpengaruh terhadap kualitas ransum, semakin tinggi serat kasar dalam ransum membuat pertumbuhan babi menurun dan efisiensi ransum semakin tidak baik.         Nilai efisiensi ransum R0 menunjukan besarnya efisiensi dalam mengubah ransum menjadi pertambahan bobot badan harian yang paling tinggi dibanding dengan perlakuan lain sesuai dengan yang dikemukakan oleh  Preston dan Wilis (1974) yaitu dengan meningkatnya kualitas ransum yang diberikan pada ternak akan semakin baik efisiensi dalam pengunaan ransum. Tabel 7 menunjukkan bahwa efisensi ransum pada ransum R0 adalah yang tertinggi yaitu 0,32, hal ini disebabkan oleh kualitas ransum R0 lebih baik.  Tillman, dkk. (1984) menyatakan bahwa kecernaan makanan dipengaruhi oleh (1) komposisi makanan, (2) jumlah makanan, (3) penyimpanan makanan atau perlakuan terhadap bahan makan dan (4) ternak. Daya cerna yang rendah mengakibatkan nilai efisiensi ransum rendah, karena banyaknya zat-zat makanan yang tidak diserap oleh tubuh dan perbedaan nilai serat kasar dari tiap perlakuan akan mempengaruhi daya cerna dari babi.

Babi yang diberi perlakuan R3 dalam ransumnya mengandung corn fiber lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya yakni sebanyak 50% mensubstitusi jagung, yang disusul berturut-turut oleh babi yang diberi perlakuan R2 (35 % mensubstitusi jagung), R1 (20 % mensubstitusi jagung) dan yang terakhir adalah babi yang diberi perlakuan R0 yang tidak ditambahkan corn fiber  (ransum kontrol). Makin tingginya persentase corn fiber dalam ransum akan menyebabkan meningkatnya serat kasar dalam ransum dan menurut Krider dan    

Pengaruh Perlakuan Terhadap Waktu Mencapai Bobot Potong .  Hasil pengamatan yang diperoleh selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap waktu mencapai bobot potong pada babi dapat dilihat pada Tabel 8.

 

               Tabel 8. Waktu Mencapai Bobot Potong pada Babi tiap   Perlakuan

 

Ulangan

Perlakuan

 

Rata-rata

R0

R1

R2

R3

 

…………………………… hari ……………………….…

1

117

110

114

124

 

2

106

113

119

125

 

3

112

109

117

110

 

4

104

116

106

125

 

5

102

103

105

115

 

6

108

125

122

119

 

Rata-rata

     108a

112.7ab

115,5ab

119,7b

113,6

Ket : huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata (p<0,05)

 

Data yang ditampilkan pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai waktu mencapai bobot potong secara keseluruhan antara tertinggi dan terendah adalah 102 dan 125. Nilai waktu mencapai bobot potong secara umum adalah sebesar 113,6 hari. Tabel 8 dapat dilihat bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong tercepat adalah sebesar 108 hari yang ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R0, kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan R1 (112,7 hari), perlakuan R2 (115,5 hari), dan rata-rata waktu mencapai bobot potong paling lama adalah babi yang diberi perlakuan R3 yaitu 119,7 hari.

Lamanya pemerliharaan erat kaitanya dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak. Waktu yang singkat untuk mecapai bobot potong tentu menjadi pilihan peternak mengingat biaya pemeliharaan yang cukup tinggi misalnya biaya ransum, tenaga kerja, resiko kematian, penyakit dan lain sebagainya.  Tabel 9 menunjukkan bahwa rataan umum dari waktu mencapai bobot potong, sejalan dengan pendapat Yurmiati (1991) yang menyatakan bahwa bobot potong akan meningkat sejalan dengan meningkatnya umur ternak, hal ini disebabkan bertambahnya bobot daging, tulang, lemak dan semua bagian badan sampai mencapai umur tertentu. Pertambahan bobot badan seekor ternak merupakan cerminan dari kecepatan pertumbuhan, sedang pertumbuhan sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ransum yang dikonsumsi.

 

                  Waktu Mencapai Bobot Potong perlakuan R0 tidak berbeda nyata dengan R1 dan R2, yang berarti bahwa R0, R1 dan R2 memberikan pengaruh yang tidak berbeda, sedangkan perlakuan R0 dibandingkan dengan R3 bebeda nyata. Pelakuan R1, dan R2 tidak bebeda nyata dengan perlakuan R3 yang berarti bahwa berarti perlakuan R1,  R2 dan R3 memberikan pengaruh tidak berbeda nyata terhadap waktu mencapai bobot potong  babi, sedangkan perlakuan R3 dibandingkan dengan R0 bebeda nyata.  Bahan ransum jagung disubstitusi oleh corn fiber yang memiliki serat yang tinggi sebanyak 50% pada perlakuan R3 mengakibatkan waktu mencapai bobot potong semakin lama, disebabkan serat tinggi yang sulit untuk dicerna, terutama oleh ternak monogastrik termasuk babi. sedangkan pada perlakuan R0, memiki perbedaan yaitu kandungan corn fiber dalam ransum, bahan ransum jagung tidak disubstitusi oleh corn fiber (ransum kontrol), sehingga waktu mencapai bobot potong semakin baik dibanding pelakuan lainnya.

Menurut Linder (1985) serat adalah bagian dari makanan yang tidak dapat dicerna secara enzimatis. Babi tidak mempunyai tempat khusus dalam saluran pencernaannya untuk aktivitas mikroorganisme atau proses fermentasi yang intensif seperti pada ternak ruminansia. Kapasitas lambungnya sangat kecil dibandingkan ternak ruminansia ataupun kuda. Oleh karena itu kemampuan untuk mencerna serat sangat rendah, demikian juga kecernaan zat-zat makanan lainnya akan menurun bila kandungan serat kasar dalam ransum meningkat menurut pendapat Bergner et al. (1985), serat yang tinggi menyebabkan rate of passage meningkat atau mempercepat waktu transit makanan dalam saluran pencernaan akibatnya kecernaan zat-zat makanan menurun.  Gerak laju digesta (isi saluran pencernaan) babi yang diberi ransum berserat tinggi lebih cepat dibandingkan dengan serat rendah (Hortog et al 1985). Laju gerak digesta tersebut meningkat karena serat dalam saluran pencernaan menyerap air sehingga konsistensi feses menjadi lembek. Karena laju cepat, maka kesempatan untuk dicerna dalam saluran pencernaan lebih singkat, dan akibatnya kecernaan zat nutrisi yang terkandung juga lebih rendah.

Perbedaan nilai serat kasar dari tiap perlakuan akan mempengaruhi daya cerna dari babi. Babi yang diberi perlakuan R3 dalam ransumnya mengandung corn fiber lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya yakni sebanyak  50 % mensubstitusi jagung, yang disusul berturut-turut oleh babi yang diberi perlakuan R2 (35 % mensubstitusi jagung), R1 (20 % mensubstitusi jagung) dan yang terakhir adalah babi yang diberi perlakuan R0 yang tidak ditambahkan corn fiber (ransum kontrol).  Daya cerna bahan makanan akan mempengaruhi laju perjalanan makanan pada ternak yang tentu saja akan mempengaruhi percepatan pertumbuhan ternak, sehingga babi yang mendapat perlakuan dengan tingkat subtitusi corn fiber semakin tinggi akan semakin lama waktu mencapai bobot potong dibanding ternak yang mendapat perlakuan R0 atau tanpa pengaruh subtusi corn fiber dalam ransum.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

             Kesimpulan

            Dari hasil analisis data dan pembahasan dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu sebagai berikut :

Substitusi jagung oleh corn fiber dalam ransum babi sampai substitusi 50% berpengaruh terhadap efisiensi ransum dan waktu mencapai bobot potong. Subtitusi sampai 35 % tidak berpengaruh terhadap efisiensi ransum dan waktu mencapai bobot potong, subtitusi 50 % ternyata mulai memberikan pengaruh menurunkan efisiensi ransum (0,28) dan waktu mencapai bobot potong menjadi lebih lama (119,7 hari). Dan Subtitusi jagung oleh corn fiber yang terbaik adalah 35% terhadap efisiensi ransum dan waktu mencapai bobot potong.

 

             Saran

            Kandungan serat kasar yang tinggi dari corn fiber, disarankan agar dilakukan penambahan enzim cellulase dalam ransum untuk membantu babi dalam mencerna serat kasar.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. P.T. Gramedia, Jakarta.

 

Bergner, H., O. Simon, I. Partridge and U. Bergner.1985. Influence of Fibre on The 15N-Labelling of Amino Acids in The Digestive Tract of 15N-Labelled Pigs. Dalam: Proccedings of The 3rd International Seminar on Digestive Fisiology in Pig. Copenhegan 16th -18th  May,1985.

 

Bogart, R. 1977. Scientific farm Animal Production. Burgess Publishing Company. Mineapolish. Menessota.

 

Crampton, E.W. and L.E. Harris. 1969. Applied Animal Nutritions. Second Edition. Freeman and Company , San Fransisco.

 

Cromwel, Gary. L.1994. Corn By Products For Finishing and Gestating Saw. Swine Research and Education, University Of Kentucky.

 

Evans, M, 1985. Nutrient Compotition Of Feedstuffs for Pigs and Poultry. Queensland Department of Primary Industries. Brisbane.

 

Hartadi, H, dkk. 1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Harris, D.J., P.R. Chekee and N.M. Patton. 1983. Feed Preference and Growth Performance of Rabbit Feed Pellet Versus Un Pellet Diets. J. Appl. Rabbit. Res. 6:15

 

http://www.subaindahtbk.com. 2004. Profil Perusahaan Pengolahan Minyak Jagung PT. Suba Indah tbk.

 

http;//www.gov.on.co/OMAFRA/English/livestock/swine/fact.htm

 

Krider, J.L. and W.E. Caroll, 1971, SwineProduction, Fourth Edition, Mc. Graw Hill Book Co. New York.

 

Low, A.G. 1985. The Role of Dietari Fibre In Digestion Absorption and Metabolism. Proccedings of the 3rd International Seminar On Digestive Fisiology In Pig. Copenhegan 16th- 18th,1985.

 

Linder,M. C. 1985. Dalam Biokimia dan Nutrisi dan Metabolisme.  Ed. Ke-2 Terjemahan Aminuddin Parakkasi, Universitas Indonesia.

 

NRC. 1998. Nutrient Requiment of Swine. Nutrient Requimens of Domestic Animal, Ninth Edition. Nasional Academy Press. Washington, D.C.

 

Parakkasi, A. 1990. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak, Penerbit Angkasa Bandung.

 

Preston, T.R. and W.B. Wilis, 1974. Intensive Beef Production. 2nd. Ed. Pegamon Press, Oxford. New York. Toronto. Sidney. Paris. Frankfurt.

 

Ravindran, V., E.T. Kornegay and K. E. Jr. Webb. 1984 effect of Fiber and Virginiamycin on Nutrient Absorbtion, Nutrient Retention and Rate of Passage in Growing Swine. J. Anim. Sci.

 

Rea. Jhon.C, Ronald O. Bates and Trygve L. Venm. 1999. Byproduct, Damaged Feeds and Nontraditional Feed Sources For Swine, University of  Missouri, Columbia.

 

Rifin, A. 1981. Bercocok Tanam dan Cara Memproduksi Benih Jagung. Latihan Penyukuhan Pertanian Madya/PPL Senior. Puslitbangtan – DANDA (USAID), Bogor.

 

Siagian, P.H. 1999. Manajemen Ternak Babi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

 

Sihombing, DTH. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokoesoma dan                        S. Lebdosoekoejo. 1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Pemberian Curcumin pada Ransum Babi Finisher yang Ditambahkan Echericia coli terhadap Performan Pertumbuhan dan Karkas Babi

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium dan Teaching Farm PT. Obor Swastika. Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung pada tanggal 22 Januari 2009 sampai 25 Maret 2009 bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian 160 ppm curcumin dalam ransum yang ditambahkan bakteri E.coli (ATCC 25922) terhadap bobot badan dan efisiensi ransum pada babi periode Finisher. Penelitian ini menggunakan 24 ekor babi periode finisher yang berumur 35 minggu dengan bobot badan rata-rata 60.56 kg dan koefisien variasi 0.77 %. Rancangan Percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat macam perlakuan setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian curcumin pada ransum yang ditambahkan E.coli memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (Fhit ≥ Ftab) pada taraf 1% terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan,  efisiensi ransum. Tidak berpengaruh terhadap mempengaruhi persentase karkas, sedangkan pada luas urat daging mata rusuk pemberian Curcumin  menunjukkan perbedaan nyata baik pada ternak yang diinfeksi E. coli (R2 dan R3) maupun pada ternak yang tidak diinfeksi E. coli (R0 dan R1). Hal ini juga dapat dibandingkan pada luas urat daging mata rusuk ternak yang sehat (R0), bahwa pemberian Curcumin pada ternak yang terinfeksi E. Coli (sakit) setara dengan luas urat daging mata rusuk ternak yang sehat pada R0. Pemberian Curcumin (feed additive) dalam ransum dapat digunakan sebagai growth promotor bagi ternak babi.

 

Kata Kunci:        Curcumin, Escherichia coli, Persentase Karkas, Luas Urat Daging Mata Rusuk

 

 

ABSTRACT

This research was compared at Laboratory of Research and Teaching Farm Livestock Pig, Kertawangi, District Of Cisarua, Lembang, Bandung on January 24th  2009 until March 21st 2009. The aim of this research is to know the influence of giving 160 ppm Curcumin in to portion of pig on periode of finisher which was infected by Escherichia coli, by controlling the percentage of carcass and loin eye area. This research used 24 castration pigs cattles; the crossing product with landrace thirty four weeks aged. The averages of weight of body in pig cattles is turning around 60,56 kg with coefficient of variety less than 10%. This research used method of Experimental Complete Precipitate Programme that consists of four treatments; each treatment was repeated for six times. The data what has been obtained would be analysed according to statistic with Analysis of Variant, if P less than α (P<α), significant; then trial of Duncan would be done. According to the result of statistic analyse show that giving Curcumin in ration significant consumtion, growth and feed efficiency and didn’t influence the percentage of carcass, whereas in loin eye are, giving Curcumin show real difference to the pig whether infected by Escherichia coli (R2 and R3) or not (R0 and R1). This circumstance could also be compared with loin eye area of well pig (R0), that giving Curcumin to the pig which was infected by Escherichia coli (sick) is equal with the loin eye area of well cattle at R0. Giving Curcumin (feed additive) in to portion can be used as growth promoter to the pig cattle.

 

Key Words:        Curcumin, Escherichia coli, Percentage Carcass, Loin Eye Area  

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Adanya pelarangan penggunaan antibiotika pada pakan ternak yang telah ditetapkan Masyarakat Uni Eropa pada tanggal 1 Januari 2006 (berdasarkan regulasi nomor 1831/2003) dan dalam rangka meminimalkan biaya produksi serta memudahkan dalam manajemen kesehatan ternak maka untuk meningkatkan performans ternak babi dicarilah alternatif bahan aditif alami yang efisien, murah, dan mudah didapat serta tidak meninggalkan residu yang berbahaya bagi konsumen. Salah satu tanaman rempah–rempah yang memiliki bahan aktif dan dapat dijadikan sebagai bahan aditif alami adalah kunyit. Kunyit (Curcuma domestica, Val) adalah salah satu dari banyak jenis tanaman obat yang populer dan mudah didapatkan di Indonesia.

 

Kunyit mengandung zat-zat aktif diantaranya curcumin dan minyak atsiri yang dapat meningkatkan produksi dan sekresi cairan empedu dan pancreas, sehingga aktivitas pencernaan akan meningkat dan pada akhirnya daya cerna dan daya serap zat makanan akan meningkat pula.  Curcumin juga mempunyai kemampuan sebagai antibakterial seperti fenol yang merusak struktur membran dari beberapa bakteri pathogen seperti Salmonella dan Escherichia Coli. Dengan rusaknya membran sel mengakibatkan terganggunya keseimbangan cairan sel yang pada akhirnya membunuh bakteri tersebut. Yang lebih menarik bahwa bakteri yang menguntungkan seperti Lactobacillus tidak terpengaruh terhadap adanya fenol tersebut. Keuntungan lain penggunaan curcumin bagi ternak, yaitu dapat mengurangi atau mencegah terbentuknya senyawa racun, sehingga meningkatkan efisiensi organ dan meningkatkan metabolisme lemak.

            Menurut Arifin dan Kardiyono (1985) penambahan curcumin dalam ransum dapat meningkatkan relaksasi usus halus sehingga makanan akan tinggal lebih lama di dalam usus halus. Penambahan curcumin sebagai feed aditif dalam ransum babi finisher diharapkan dapat mempengaruhi lamanya makanan tinggal dalam usus halus sehingga penyerapan zat-zat makanan meningkat dan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi  ransum dan secara langsung berpengaruh terhadap konsumsi dan pertambahan bobot badan yang akhirnya akan dicerminkan dalam bentuk produksi daging.

Curcumin juga mampu meningkatkan sekresi kelenjar liur, empedu, lambung, pancreas dan usus sehingga meningkatkan aktivitas penyerapan zat-zat makanan ke dalam saluran darah (Kiso, 1985). Metabolisme zat-zat makanan oleh tubuh inilah yang mempengaruhi pembentukan luas urat daging mata rusuk. Peningkatan sekresi oleh pankreas ke dalam usus halus mengakibatkan kecernaan pati yang berasal dari zat makanan lebih banyak diserap tubuh, akibatnya energi yang berasal dari pati dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi daging (Tillman, dkk., 1998)  Martini (1998) menyatakan bahwa pada kelinci jantan yang mengkonsumsi kunyit 0,5-1.5% dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, tetapi memperbaiki efisiensi penggunaan ransum, menurut hasil penelitian Martini (1998) bahwa efisiensi penggunaan ransum terbaik terdapat pada kelinci yang mengkonsumsi ransum terbaik yang mengandung tepung kunyit 0.5%.

E.coli pertama kali ditemukan oleh Theodore Escherich pada tahun 1885. E.coli banyak ditemukan didalam saluran pencernaan manusia, hewan, dan tumbuhan. Escherichia coli (E.coli) merupakan bakteri gram negative anaerob fakultatif berbentuk batang, dan memiliki flagellum peritikus sebagai alat geraknya. E.coli dapat ditumbuhkan dengan mudah pada media umum atau khusus pada suhu 37­­0C dibawah kondisi aerob.  E.coli pada tinja biasanya dikultur pada media Agar Mac Concey atau Agar Eosin Methylene-blue yang hanya menumbuhkan bakteri dari family Enterobactericeae dan membuatnya berdiferensiasi sesuai morfologinya. Sekitar 90% dari galur  E.coli adalah positif laktosa. Galur E.coli penyebab diare banyak dari galur Enteroinvasive Escherichia coli (EIEC) adalah negatif laktosa. Pada uji indol, 99% E. coli menunjukan hasil positif. Hal ini dapat dijadikan metode untuk membedakan E.coli dari anggota Enterobacteriaceae lain (Nataro dan Kaper, 1998)

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi daging adalah dengan penambahan pakan aditif alami dalam hal ini ekstraksi dari tepung kunyit yaitu Curcumin. Curcumin mampu meningkatkan sekresi kelenjar liur, empedu, lambung, pancreas dan usus sehingga meningkatkan aktivitas penyerapan zat-zat makanan ke dalam saluran darah (Kiso, 1985). Metabolisme zat-zat makanan oleh tubuh inilah yang mempengaruhi pembentukan luas urat daging mata rusuk. Luas urat daging mata rusuk dan persentase karkas adalah salah satu ukuran untuk menentukan kualitas daging pada ternak (Forrest, dkk. 1975).

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pemberian Curcumin dalam Ransum Babi Periode Finisher yang Ditambahkan Escherichia coli terhadap performan karkas babi.

 

Lokasi dan Waktu Penelitian

            Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2009 di Laboratorium Penelitian (KPBI) Koperasi Peternak Babi Indonesia, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung.

 

 

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan Penelitian

            Penelitian ini menggunakan 18 ekor ternak babi jantan peranakan Landrace yang dikastrasi (berat rata-rata 60,56 kg umur 35 minggu) dan koefisien variasi kurang dari 10%.  Curcumin yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari PT. Phytochemindo Reksa Jakarta. (Jl. Melawai Raya No. 93 Jakarta).  Escherichia coli yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari PAU (Pusat Antar Universitas) Institut Pertanian Bogor. E.coli (ATCC 25922) dalam bentuk cair, diberikan melalui mulut (drenching) dosis pemberian dimulai dari 105 sampai ternak tersebut diare.  Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 2 x 0,6 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat makan yang terbuat dari semen dan tempat minum otomatis berupa pentil yang terbuat dari besi tahan karat yang dihubungkan dengan tempat penampung air. Jumlah kandang yang diperlukan sebanyak 24 unit.

 

Alat ukur yang digunakan

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu buah timbangan duduk berkapasitas 300 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg untuk menimbang babi, satu buah timbangan biasa dengan kapasitas 5 kg dengan tingkat ketelitian 0,05 kg untuk menimbang pakan, dan satu buah timbangan santurius dengan kapasitas 100 gram dengan tingkat ketelitian 0,2 gram untuk menimbang curcumin.

 

Susunan Ransum Percobaan

            Bahan makanan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian adalah tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, tepung ikan, dan tepung tulang. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan oleh National Research Council (1998). Untuk susunannya dapat dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Komposisi Zat Makanan Bahan Makanan yang Digunakan Selama Penelitian

Bahan Makanan

EM

PK

SK

Kalsium

Phosphor

     (kkal)

———————–(%)——————-

Tepung jagung

3420,00

10.50

2.00

0, 21

0,31

Dedak padi

2980,86

12,00

9.00

0,04

1,04

Tepung ikan

2856,20

48,67

0,01

6.32

2,95

Tepung kedelai

2550,00

47,00

5,00

0,24

0,81

Bungkil Kelapa

3698,00

16,25

19,92

0,05

0,60

Tepung tulang

0,00

1,04

0,00

5,16

0,14

Premix

0,00

0,00

0,00

0,13

0,11

Sumber : Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan ternak Institut Pertanian Bogor, 2005

 

Tabel 2. Susunan Ransum Penelitian Babi Periode Finisher (60-90 kg)

Bahan Makanan

Persentase (%)

Tepung jagung

42,75

Dedak padi

31,8

Tepung ikan

2,25

Bungkil kedelai

3,40

Bungkil kelapa

18,50

Tepung tulang

0,80

Premix

0,50

Total

100,00

Sumber : Hasil Perhitungan

 

            Kandungan zat-zat makanan dari ransum penelitian dapat dilihat pada Tabel 3, yang merupakan hasil perhitungan berdasarkan Tabel 1 dan 2.

 

Tabel 3. Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Penelitian

                                        EM

PK Ca P SK

                                          (kkal)

——————– %  —————–

Ransum Penelitian                3244,8 14,0 0,82 0.66 7,5
NRC (1998)                           3275,0 13,2 0,50 0,40 7,0

Sumber : Hasil Perhitungan

Ransum disusun berdasarkan dari kebutuhan babi yang dianjurkan oleh National Research Council (1998).

Perlakuan penelitian adalah sebagai berikut:

                      R0 = Ransum penelitian sebagai kontrol

                      R1 = R0 + 160 ppm Curcumin

                      R2 = R0 + E.coli

                      R3 = R0 + 160 ppm Curcumin + E.coli

 

Peubah Yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini antara lain:

1. Pertambahan bobot badan  harian (gram/hari)

Pertambahan bobot badan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

2. Konsumsi ransum (gram/hari)

Konsumsi ransum dihitung dengan mengurangi jumlah ransum yang diberikan dengan sisa ransum selama 24 jam.

Konsumsi ransum (gram/hari) = Jumlah ransum yang diberikan (gram/hari) – Sisa ransum (gram/hari).

3. Efisiensi ransum

Efisiensi penggunaan makanan diperoleh dari hasil bagi antara pertambahan bobot badan per ekor per hari dibagi dengan rata-rata konsumsi pakan per ekor per hari.

       PBB Harian

EP Harian =

  Konsumsi Pakan Harian

 

4. Persentase Karkas (%)

    Persentase Karkas (%), diperoleh dari berat karkas (BK) dibagi bobot potong   

    (BP) dikali 100% atau (BK/BP x 100%).

 

5. Luas Urat Daging Mata Rusuk

Pengukuran dilakukan dengan cara melukis penampang luas urat daging mata     rusuk lalu dipetakan pada plastik mika transparan. Plastik mika transparan yang telah digambar berdasarkan luas urat daging mata rusuk tersebut ditempelkan pada milimeter block, kemudian diamati dan dihitung berapa banyak kotak yang terisi penuh (Forrest, dkk.  1975).

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Konsumsi Ransum

            Hasil pengamatan yang diperoleh selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum harian pada babi periode finisher  dapat dilihat pada Tabel 4.

 

Tabel 4. Rataan Konsumsi Ransum Harian pada Babi Periode Finisher Selama Penelitian.

Ulangan                                                           Perlakuan                                   

                           R0                  R1                     R2                  R3        Rata-rata

                        —————————–gram / hari ————————-

1                2950.00            3000.00           2858.33            2950,00 

2                2930.00            3000.00             2910,33           2878,33

3                2860.00            3000.00             2878,33          2858,33 

4                2910.00            3000.00             2809,17           2858,33

5                2997.00            3000.00             2860,00           2930,17

6                3000.00            3000.00             2858,33           2910,33

 

Rata-rata   2941.17 a        3000.00 a          2862,41 c         2897,58 ab   2925,29

Keterangan: Huruf yang sama dalam satu baris tidak berbeda nyata (P>0,05)

            R0 = Ransum penelitian sebagai kontrol

            R1 = R0 + 160 ppm Curcumin

            R2 = R0 + E.coli (ATCC 25922)

            R3 = R0 + 160 ppm Curcumin + E.coli (ATCC 25922)

 

            Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa rata-rata konsumsi ransum adalah 2925,29 gram/hari, sedangkan konsumsi ransum harian tertinggi diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1 (3000.00) kemudian berturut-turut disusul oleh perlakuan R0 (2941.17), R3 (2897,58) dan R2(2862,41). Hasil ini tidak sesuai dengan pendapat Annison (1987) yang merekomendasikan konsumsi ransum untuk babi finisher adalah sebesar 3140 – 3170 gram/hari. Hasil analisis sidik ragam konsumsi ransum memperlihatkan bahwa pemberian curcumin dalam ransum yang ditambahkan E.coli berbeda sangat nyata (Fhit ≥ Ftab) pada taraf 1%. 

Komsumsi ransum yang paling tinggi diperlihatkan oleh babi yang diberi perlakuan R1 yang disusul berturut-turut oleh R0, R3 dan R2. Pada perlakuan R1 konsumsi ransum paling tinggi dibandingkan perlakuan yang lain, karena pada perlakuan R1 ransum ditambahkan 160 ppm curcumin. Pada perlakuan R3 dan R2 konsumsi ransum lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan R0. Ini dikarenakan ternak pada perlakuan R3 dan R2 terinfeksi bakteri E.coli. Namun pada perlakuan R3  memiliki konsumsi ransum yang lebih baik dibanding R2 karena pada ransum ada penambahan curcumin, sedangkan pada perlakuan R2 ransum tidak ditambahkan curcumin. Sesuai dengan penelitian Ramaprasad dan Sirsi (1956) menyatakan curcumin dalam jumlah yang tepat dapat menyebabkan relaksasi usus halus ketika kontraksi spontan, akibatnya pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan di dalam usus akan lama. Semakin lama arus makanan di dalam saluran pencernaan semakin banyak pula waktu yang tersedia untuk proses pencernaan, sehingga nilai kecernaan bahan makanan akan meningkat dan konsumsi ransum akan berkurang.

 

 

Pertambahan Bobot Badan

Hasil pengamatan terhadap rata-rata pertambahan bobot badan babi periode finisher selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

 

Tabel 5. Rataan Pertambahan Bobot Badan Harian Babi periode Finisher Selama Penelitian.

Ulangan                                               Perlakuan       

                           R0                  R1              R2                R3              rata – rata

                         ————————-gram / hari ———————–

      1                    690                780             630             630  

      2                    720                800            620            620

      3                    660               780            620            640

      4                    710                830            620            670

      5                    680                790            640            670

      6                    730                820            610            670

Rata-rata             698,33b       800a         623,33c       650b                  692,75

 

Keterangan: Huruf yang sama dalam satu baris tidak berbeda nyata (P>0,05)

 

Dari Tabel 5 dapat dilihat rata-rata pertambahan bobot badan 692,75 gram/hari, sedangkan pertambahan bobot badan harian tertinggi diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1 (800) kemudian berturut-turut diikuti R0 (698,33), R3 (650) dan R2 (623,33). Hasil ini tidak sesuai dengan yang direkomendasikan oleh NRC (1998), yang rata-rata pertambahan bobot badan yang diharapkan pada periode finisher adalah sebesar 820 gram/hari. Hasil analisis sidik ragam pertambahan bobot badan memperlihatkan bahwa pemberian curcumin dalam ransum yang ditambahkan E.coli berbeda sangat nyata (Fhit ≥ Ftab) pada taraf 1%.  Pertambahan bobot badan yang paling tinggi diperlihatkan oleh babi yang diberi perlakuan R1 yang disusul berturut-turut oleh R0, R3 dan R2. Daya cerna lemak, protein dan karbohidrat yang berbeda mengakibatkan pertambahan bobot badan babi yang diberi perlakuan R3 dan R2 lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Ini dikarenakan ternak pada perlakuan R3 dan R2 terinfeksi bakteri E.coli. Namun pada perlakuan R3  memiliki tingkat kecernaan yang lebih baik dibanding R3 karena pada ransum ada penambahan curcumin, sedangkan pada perlakuan R2 ransum tidak ditambahkan curcumin.

            Dari semua perlakuan pertambahan bobot badan yang lebih baik diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1. Ini menunjukkan bahwa curcumin yang ditambahkan pada ransum memberikan pengaruh yang baik dibandingkan dengan ransum yang tidak ditambahkan curcumin, sedangkan ternak babi yang terinfeksi bakteri E.coli mengalami kenaikan bobot badan yang sangat lambat itu disebabkan nafsu makan ternak berkurang dan pencernaan ternak babi yang terinfeksi bakteri E.coli kurang optimal akibat ternak  sakit.  Sesuai dengan pendapat Haryanto (1994) menyatakan senyawa curcumin yang terdapat dalam kunyit berkhasiat sebagai penambah nafsu makan dan memperlancar produksi cairan empedu pada babi. Adanya peningkatan nafsu makan dan semakin baiknya absorbsi zat makanan oleh tubuh maka kebutuhan akan zat-zat makanan semakin meningkat sehingga akan berimplikasi pada pertambahan bobot badan. Ini dapat dilihat dari hasil penelitian bahwa terjadi pertambahan bobot badan dengan penambahan curcumin di dalam ransum perlakuan.

 

Efisiensi Ransum

            Hasil pengamatan yang diperoleh selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap efisiensi ransum dapat dilihat pada Tabel 6.

 

Tabel 6. Rataan Efisiensi Ransum Babi periode finisher Selama Penelitian.

Ulangan                                                           Perlakuan                                           

                              R0              R1                  R2                R3               rata-rata

                          ———————————-% ——————————–

      1                    23,39          26,00            22,04           21,46          

      2                    24,57          26,67             21,30           21,44

      3                    23,08          26,00             21,54           22,47

      4                    24,40          27,67             22,07           23,33

      5                    22,69          26,33             22,38           22,76

      6                    24,33          27,33             21,34           23,19

Rata-rata             23,74 A      26,67  A          21,78    C    22,44  B            23,66

 

Keterangan: Huruf yang sama dalam satu baris tidak berbeda nyata (P>0,05)

 

 

Tabel 6 menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi ransum babi periode finisher adalah 23,66, sedangkan efisiensi ransum tertinggi di perlihatkan oleh babi yang diberi perlakuan R1 (26,67) kemudian berturut-turut diikuti R0 (23,74), R3 (22,44) dan R2 (21,78). Hal ini tidak sesuai dengan pendapat NRC (1998) yang menyatakan bahwa efisiensi ransum untuk babi finisher adalah 36%. Hasil analisis sidik ragam efesiensi ransum memperlihatkan bahwa pemberian curcumin dalam ransum yang ditambahkan E.coli berbeda sangat berbeda nyata (Fhit ≥ Ftab) pada taraf 1%.

                        Oei Ban Liang (1984) pada tikus menyatakan bahwa ransum yang mengandung curcumin  dalam jumlah yang tepat akan menyebabkan relaksasi usus pada saluran pencernaan dan membantu pencernaan makanan serta absorbsi zat-zat makanan yang pada akhirnya akan meningkatkan efisiensi ransum.

            Efisiensi ransum tertinggi diperlihatkan oleh babi pada perlakuan R1  jika dibandingkan dengan perlakuan pada R0 (tanpa curcumin), R2 (tanpa curcumin + E.coli) dan R3 (16 mg curcumin /kg bobot badan + E.coli). Perbedaan nilai efisiensi  ransum babi  yang diberi perlakuan R1 dibandingkan dengan perlakuan lainnya dapat disebabkan antara lain oleh rendahnya  tingkat palatabilitas babi serta daya cerna babi untuk mencerna ransum yang akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang pada akhirnya mempengaruhi efisiensi ransum.  Cole dan Ronning (1974) mengatakan bahwa daya cerna dan keseimbangan nutrisi bahan makanan dapat mempengaruhi konsumsi dan laju pertumbuhan.     

            Pada perlakuan R1 adanya penambahan curcumin pada ransum berpengaruh terhadap palatabilitas babi serta daya cerna babi untuk mencerna ransum yang akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang pada akhirnya mempengaruhi efesiensi ransum, sedangkan pada perlakuan R0, R3 dan R2 palatabilitasnya rendah. Itu dikarenakan pada perlakuan R0 dan R2 ransum tidak mengandung curcumin, sedangkan pada perlakuan R3 ransum mengandung curcumin akan tetapi ternak terinfeksi E.coli.

 

Persentase Karkas

 

Tabel 7. Rata-rata Persentase Karkas Hasil Penelitian.

Ulangan Perlakuan  
R0 R1 R2 R3
  ————————%————————-  
1

78,05

77,21

75,76

77,16

 
2

74,04

77,42

76,92

76,14

 
3

78,11

78,70

77,84

77,27

 
4

78,05

76,82

74,11

75,00

 
56

74,75

77,14

77,42

78,54

75,13

76,92

75,25

76,62

 
Rata-rata 76,69

77,68

76,11

76,24

 

Dari Tabel 7 Berdasarkan hasil penelitian diperoleh persentase karkas dengan urutan dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah perlakuan: R1 (77,68%), R0 (76,69%), R3 (76,24%) dan R2 (76,11%).  Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian Curcumin dalam ransum tidak berbeda nyata (Fhit ≤ F0,05) terhadap persentase karkas babi. Persentase karkas dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, panjang badan, dan bangsa babi (Forrest, dkk. 1975).

Pemberian Curcumin dalam ransum tidak berpengaruh terhadap peningkatan persentase karkas pada ternak babi yang diinfeksi E. coli maupun yang tidak diinfeksi E. coli. Hal ini dapat dibandingkan dengan hasil penelitian Martini (1998) yang menyatakan bahwa pemberian tepung kunyit dalam ransum kelinci sampai taraf 1,5% tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum dan persentase karkas, tetapi memperbaiki efisiensi penggunaan ransum pada kelinci.

 

 

 

Luas Urat Daging Mata Rusuk

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh pemberian Curcumin pada ransum babi periode finisher terhadap luas urat mata daging rusuk dapat dilihat pada Tabel 8.

 

Tabel 8. Rata-rata Luas Urat Mata Daging Rusuk Hasil Penelitian.

Ulangan Perlakuan  
R0 R1 R2 R3
  ————————cm2————————-  
1

42,50

43,00

40,20

32,00

 
2

42,00

42,70

40,50

35,00

 
3

43,00

42,00

36,30

42,30

 
4

35,00

43,90

38,00

42,50

 
56

39,00   42,00

43,20   43,50

32,70

35,00

43,00   43,20

 
Rata-rata 40,58 a 43,05 a 37,12 b

      39,67 a

 

Keterangan: Huruf yang sama dalam satu baris tidak berbeda nyata (P>0,05)

 

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa rataan luas urat daging mata rusuk secara keseluruhan adalah 40,10 cm2. Hasil tersebut masih berada dalam kisaran normal sesuai dengan pendapat Figueroa (2001) yang meneliti nilai rata-rata luas urat daging mata rusuk pada babi periode finisher yaitu sebesar 39-42 cm2. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh luas urat daging mata rusuk dengan urutan dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah perlakuan R1 (43,05 cm2), R0 (40,58cm2), R3 (39,67 cm2), dan R2 (37,12 cm2).  Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian Curcumin berbeda nyata (Fhit > F0,05) terhadap luas urat daging mata rusuk babi. Dengan hasil analisis sidik ragam tersebut maka dilakukan Uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan terhadap luas urat daging mata rusuk.

Perbedaan nyata pada ternak yang terinfeksi E. coli dapat dilihat pada R2 dan R3 dimana pemberian Curcumin pada ransum R3 memberikan pengaruh nyata pada luas urat daging mata rusuk ternak babi. Hal ini terjadi karena R2 merupakan ransum basal, dimana tidak terdapat Curcumin (feed additive) dalam ransum sehingga laju proses perkembangbiakan bakteri dalam saluran pencernaan cukup tinggi. Populasi normal bakteri E. coli di dalam organ usus dapat dilihat pada tabel 1. Bakteri E. coli yang masuk ke dalam tubuh ternak babi sebanyak 105 menyebabkan penambahan populasi E. coli di dalam organ usus. Populasi  bakteri E.coli yang melebihi angka populasi normal ini adalah faktor penyebab utama terjadinya diare pada ternak babi.

Bakteri E. coli di dalam tubuh ternak akan menghasilkan endotoksin yang dapat meningkatkan sekresi cairan dan elektrolit. Hal ini meyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan larutan elektrolit yang berakibat kolapsnya sistem peredaran darah yang diikuti stress dan mempengaruhi nafsu makan pada ternak, hal ini sesuai dengan pernyataan Soebronto, 1985 dan Sihombing, 1999. Bakteri E. coli dapat menyebabkan penyakit Enteritis colibacillosis pada ternak babi sehingga pertumbuhannya dapat menurun, terhambatnya pertumbuhan pada ternak akan mempengaruhi bobot potong ternak babi, salah satu faktor utama yang mempengaruhi luas urat daging mata rusuk adalah bobot potong ternak tersebut, bobot potong yang tinggi akan menghasilkan daging mata rusuk yang lebih luas (Soeparno 2005).

 Pemberian Curcumin mampu memberikan pengaruh terhadap luas urat daging mata rusuk ternak babi yang terinfeksi E. coli (R3). Dengan adanya Curcumin (feed additive) pada ransum R3 menyebabkan terjadinya proses bacteriostatic dan bactericidal terhadap bakteri E. coli. Curcumin sebagai antibakteri, bekerja dengan menghambat produksi dari β-lactamase dari E. coli untuk membentuk dinding sel.  Curcumin mampu mengurangi jumlah E. coli dalam usus, sehingga menghambat dampak dan pengaruh yang ditimbulkan bakteri E. coli yaitu diare yang terjadi pada ternak. Biasanya Escherichia coli menyerang dan merusak sel epithelial mukosa usus yang mengakibatkan usus tidak bisa menyerap makanan dengan baik.   Berkurangnya jumlah dan dampak yang ditimbulkan oleh bakteri E. coli (diare) maka zat makanan yang terdapat dalam usus sepenuhnya dapat terserap oleh tubuh, sehingga mempengaruhi pembentukan luas urat daging mata rusuk pada ternak. Curcumin pada kunyit dapat bermanfaat untuk mengurangi gerakan usus yang kuat sehingga mampu mengobati diare. Hal ini juga dapat dibandingkan pada luas urat daging mata rusuk ternak yang sehat (R0), bahwa pemberian Curcumin pada ternak yang terinfeksi E. coli R3 (sakit) setara dengan luas urat daging mata rusuk ternak yang sehat pada R0.  Pengaruh pemberian Curcumin juga dapat dilihat pada ternak yang sehat atau pada ternak yang tidak terinfeksi E. coli ( R0 dan R1). Curcumin mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar barrier pada dinding usus halus. Selanjutnya hormon tersebut merangsang sekresi enzim dari pankreas untuk memproduksi dan mensekresikan enzim-enzim pencernaan dimana cairan pankreas ini berperan dalam pencernaan karbohidrat, lemak, dan protein (Kiso, 1985). Daya cerna protein adalah ukuran untuk pertumbuhan dan perkembangan sehingga dapat meningkatkan ukuran luas urat daging mata rusuk pada ternak.

Curcumin mempengaruhi kerja syaraf dan hipofisa serta organ hati untuk meningkatkan produksi dan mensekresi cairan empedu untuk meningkatkan kecernaan lemak, hal ini sesuai dengan pendapat Sirait, 1985. Meningkatnya eksksresi asam empedu dan metabolisme kolesterol akan mempengaruhi perlemakan dalam karkas, lemak yang tipis pada bagian Loin sangat mempengaruhi ukuran luas urat daging mata rusuk, karena terdapat korelasi antara luas urat daging mata rusuk dan tebal lemak disekitar Loin.

 

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

Pemberian Curcumin pada dosis 160 ppm dapat dimanfaatkan pada ransum babi periode finisher yang diinfeksi bakteri Escherichia coli (E.coli).

 

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan saran bahwa, diperlukan penanganan khusus terhadap penyakit ternak yang disebabkan bakteri E. coli, karena bakteri ini bersifat patogen dan dapat menyebabkan produksi ternak tersebut menurun.  Penggunaan Curcumin bisa dijadikan alternatif dalam memilih feed additive alami sebagai pemicu pertumbuhan dan mencegah timbulnya penyakit pada ternak babi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Annison, F.E. 1987. Feeding Standards for Australian Livestock Pigs. National Library of Australia Cataloging in Publication Entry. C siro Australia.

Figueroa, J.L, dkk, 2001. Growth Performance of Growing Finishing Pig Fed Low-Protein, Low-Energy, Grain Sorghum-Soybean Meal Diets. J. Animal Science Vol.81, Suppl.1.

Forrest, C. J, D. A. Elton, B. A. Harold, and A. M. Robert. 1975. Principle of Meat Science. W.H. Freeman and Company, San Fransisco.

Kato K, H. Ito, K. Kamei, I. Iwamoto. 2003. Stimulation of The Stress-Induced Expression of Stress By Curcumin Cultured Cells and in Rat Tissues in vivo. Inst.for Develop. Research. Aichi Human Service Center. Kasugia, Japan.

Katno dan Pramono, S. 2006. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat-obatan Tradisional. Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu. Jawa Tengah.

Kiso. 1985. Antihepatotoxic Principles of Curcuma longa Rhizomes, Simposium Nasional Temulawak, Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Bandung.

Lee, C. J, Lee, J. H, Seok, J. H, Hur, G. M, Park, Y. C, Seol, I. C and Kim, Y. H. 2003.  Effects of baicalein, berberine, curcumin and hespiridin on mucin release from airway goblet cells. Planta Med. 69: 523–526.

Lutomsky, J. Kedzia B, Debska W. 1974. Effect of an alcohol extract and active ingredient from Curcuma longa on bacteria and fungi. Planta Med. 26:9 – 19.

Martini, P. 1998. Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Beberapa Jenis Curcuma sebagai Aditif Pakan terhadap Pertumbuhan, Produksi Karkas serta Sifat Lemak Karkas pada Kelinci Jantan Peranakan New Zealand White. Disertasi. FPS. Universitas Padjadjaran. Bandung.

 

National Livestock and Meat Board. 1973. Meat Evaluation Handbook. Chicago, Illinois.

NRC. 1998. Nutrient Requiment of Swine. Nutrient Requimens of Domestic Animal, Ninth Revised Edition. Nation Academy Press. Washington, D.C.

Oei Ban Liang. 1985. Curcuma Xanthorriza Roxb., Curcuma domestica, Val., dan Solanum Whasianum Clarke sebagai Sumber Bahan Baku Obat. Proseding Seminar Nasional Kekayaan Bahan Alam sebagai Sumber Bahan Baku Obat. Farmasi ITB. 350.

Parrakasi, A. 1983. Ilmu  Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit      Angkasa. Bandung. Hal 397 – 409.

Ramrasad, C dan M. Sirsi. 1956. Studies on Indian Medical Plant: Curcuma longa Linn. Effect of Curcumin and the Essential Oil of C. Longa on Bile Secretion, J. Sci. Industry. Res. 15 (12):262 – 265.

Rismunandar. 1988. Rempah – Rempah Komoditi Ekspor Indonesia. PT Sinar Baru. Bandung. Hal 28; 34 – 39; 73; 108.

Rukmana, R. 1994. Kunyit. Yayasan Kanisius. Bandung. Hal 1 – 10.

 

Shankar TNB, Shanta NV, Ramesh HP, Murthy IAS, Murthy VS. 1980. Toxicity Studies on Turmeric (Curcuma longa), in rat guine pig and monkey. Indian. J. Exp. Biol. 18:73 – 75.

Siagian, P. H. 1999. Manajemen Ternak Babi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Sidik, Mulyono, M.W., C. Sunardi, A. Subarnas. 1985. Pengembangan Tekhnik Isolasi Fraksi Minyak Atsiri, Curcuminoid dan Pati dari Temulawak dan Kunyit Untuk Industri, LP. Unpad. Bandung.

Sihombing. D. T. H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sinaga, S. 2003. Pengaruh Ransum yang Mengandung Aditif Tepung Kunyit pada Babi Periode Finisher. Fakultas Peternakan UNPAD. Bandung.

Sirait, M. 1985. Pemeriksaan Kadar Xanthorrizhol Dalam Curcuma Xanthorriza Roxb. Proseeding Simposium Temulawak. Lembaga Penelitian UNPAD. Bandung. Hal. 56-58.

Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sosroamidjojo, MS. 1997. Ternak Potong dan Kerja. C. U. Yasa Guna. Jakarta.

 

Steel, R.G.D. dan J. H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika (Terjemahan). Cetakan kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sudiarto dan Ratu Safitri. 1985. Pengaruh Pengeringan dan Giberellin Terhadap Pertunasan Rimpang Kunyit (Curcuma domestica, Val). Balai Penelitian Rempah dan Obat, Bogor. Prosseding Simposium Nasional Temulawak. Universitas Padjadjaran. Bandung.

Tang. W., Eisenbrand. G. 1992. Chinese Drugs of Plant Origin Chemistry Pharmacology and Use In Traditional and Modern Medicine. Springer Vertag Berlin. Heidel Berg. German.

Tilman, A.D., H Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawiro Kusumo dan S, Lebdosukojo. 1998. Ilmu makanan Ternak Dasar. Cetakan Keenam. Gadjah Mada Unuiversity Press, Yogyakarta. 181 ; 195 – 202 ; 249 – 254.

PENGARUH KEPADATAN KANDANG TERHADAP

Pendahuluan

Kelinci Rex dikenal sebagai ternak yang tumbuh dengan cepat.  Penelitian Raharjo, dkk (2003) menunjukkan bahwa kelinci Rex yang mengkonsumsi pakan 94 – 100 gr/hari menghasilkan pertambahan bobot badan 13 – 22 gram/ekor/hari. Selain menghasilkan daging, kelinci Rex juga merupakan ternak penghasil kulit bulu (fur) yang bernilai ekonomis tinggi.

Sebagai hewan penghasil daging, kelinci mempunyai potensi yang besar yaitu seekor induk dengan bobot 3 – 4 kg dapat menghasilkan 80 kg karkas per tahunnya (Farrel dan Raharjo, 1984). Kelinci potong dapat mencapai bobot potong 2 kg pada umur delapan minggu dengan tingkat pertumbuhan 40 gram per hari dan hasil karkas nya antara 50-60% dari bobot hidup (Rao dkk, 1977).

Karkas kelinci adalah bagian tubuh ternak tanpa darah, kepala, kulit, kaki, ekor, saluran pencernaan berserta isinya dan isi rongga dada kecuali ginjal (Rao dkk, 1977). Produksi daging seekor ternak dinyatakan dengan bobot karkasnya. Komponen karkas terdiri dari daging, tulang dan lemak (Soeparno, 1994).

Produksi karkas dapat meningkat dengan bertambahnya umur serta bobot potong yang besar. Pada kelinci Rex, komposisi fisik karkas adalah daging 66,4 %, tulang 15,9 %, lemak total 7,2 %, lemak subkutan 1,8 %, lemak abdominal 2,5 %, lemak intramuskular 2,91 % (Hernandez, dkk, 2001). Dengan demikian, semakin besar bobot potong maka semakin besar karkas dan komponen karkas yang dihasilkan.

Pertumbuhan tubuh kelinci seperti halnya ternak lain dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan terdiri atas pakan, teknik pemeliharaan, kesehatan, dan iklim. Kelinci Rex membutuhkan suhu 16 – 18 ºC untuk pemeliharaan badan dan perkembang biakan, sedangkan untuk pertumbuhan bulu, ada baiknya jika dipelihara pada suhu 5 – 15 ºC (Sarwono, 1988). Laporan terakhir menyebutkan bahwa suhu lingkungan yang paling baik untuk usaha pemeliharaan kelinci Rex adalah 15-20°C dengan batasan suhu kritis paling rendah adalah -7°C dan suhu kritis paling tinggi 29°C, dengan kelembaban relatif sekitar 55-65%. Selain suhu lingkungan, pemberian pakan termasuk pada faktor lingkungan yang berpengaruh paling besar, sekitar 60% (Siregar, 1994).

Pemeliharaan kelinci dapat dilakukan dengan penempatan kelinci pada kandang individu atau secara koloni, dimana tiap-tiap metode penempatan kelinci tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan penggunaan tipe kandang individu yaitu memudahkan pengamatan dan perawatan ternak, sedangkan kekurangannya adalah besarnya biaya investasi kandang dan dibutuhkannya lahan yang luas. Kelebihan kandang koloni adalah efisiensi penggunaan lahan yang tinggi karena luasan lahan yang digunakan berkurang, namun kekurangan dari penggunaan kandang koloni adalah adanya kemungkinan perkelahian antar ternak pada usia mendekati dewasa kelamin, peningkatan suhu dalam kandang yang kemungkinan besar dapat menyebabkan stress dan rendahnya kemampuan produksi.

Kandang yang baik adalah kandang yang dapat dihuni kelinci dengan produksi optimal. Kandang demikian merupakan kandang yang memiliki suhu, kelembaban, dan sanitasi, serta ventilasi yang baik dengan kepadatan dalam kandang yang tepat. Ukuran kandang yang sering dijumpai pada peternak adalah 70 x 60 cm, atau setara dengan 2,2 ekor/m2, ukuran kandang tersebut sesuai dengan pendapat Manshur (2006) bahwa ukuran kandang bagi kelinci Rex dewasa ialah 2,2 ekor/m2 dengan tinggi 50 cm.

Martens dan De Groote (1984) menyatakan bahwa kepadatan kandang maksimum adalah 6 ekor/m2. jika kepadatan kandang dapat ditingkatkan tanpa mengurangi performa dan meningkatkan angka mortalitas, maka peternak akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Penentuan kepadatan kandang yang tepat diharapkan akan memberikan efisiensi dalam penggunaan lahan untuk bangunan kandang sehingga dicapai hasil produksi yang optimum. 

Dari penjelasan kerangka diatas, dapat ditarik suatu hipotesis bahwa  kepadatan 6 ekor/m2 menghasilkan produksi karkas dan komponen karkas optimal.

 

 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari 2010 – Maret 2010 di jln. Cisitu Lama nomor 5, Bandung.

 

Materi dan Metode

Ternak Penelitian

Ternak yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu kelinci Rex lepas sapih (7 – 8 minggu) dengan rata-rata bobot badan 600 – 700 gr/ekor sebanyak 36 ekor dengan koefisien variasi kurang dari 10 % yang dipelihara selama 8 minggu.

 

Kandang

  1. Bahan bangunan berupa kayu untuk kerangka, bambu untuk alas dan dinding bagian belakang, serta kawat ram untuk dinding bagian samping dan depan. Kandang yang digunakan adalah kandang koloni. Setiap kandang diberi nomor perlakuan dan ulangan.
  2. Kepadatan  kandang adalah R0: 1 ekor; R1: 2 ekor; R2:3 ekor, dengan ukuran kandang 0.5 x 1 m, dengan tinggi 40 cm untuk semua ukuran kandang. Jumlah kandang yang digunakan untuk tiap ukuran adalah 6 buah kandang, secara keseluruhan kandang yang akan digunakan selama penelitian ini  berjumlah 18 buah kandang.

 

Ransum Penelitian

Ransum yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum kelinci untuk periode pertumbuhan dengan kandungan 15% protein kasar, 3% lemak, 14% serat kasar, dan DE: 2500 (Cheeke, 1999)

Tabel 3. Kandungan zat-zat makanan dan energi bahan penyusun ransum

   Bahan Pakan                                       Kandungan

                                       PK      SK       LK      Abu      DE

                                       ……………. % …………………    (Kkal/kg)

         Tp. Jagung Kuning            10,8    2,53     4,28     2,15      3860,06 

         Bungkil Kelapa                21,3    14,2       10,9     8,24      2600,22                 

         Bungkil Kedelai                46,9    5,90      2,66    8,16      2882,36                                Dedak Padi Halus          13,0    13,9      8,64    13,6      1836,02                                   Tp. Rumput Lapangan     11,07   25,55    1,8     13,31    1498,11                                   Molases                                       3,94     0,4        0,3     11        2651,56                   

         Onggok                              1,87      8,9       0,32    2,4       3616,3

       Sumber : Sutardi, 1983

                 DE = 4253 – 32,6 (% serat kasar) – 144,4 (% abu),

                 (Rumus Fekete dan Gilpert, 1986, dikutip oleh Cheeke, 1987)

        Keterangan   :      PK       : Protein Kasar,

                                    LK       : Lemak Kasar

                             SK       : Serat Kasar        

                             DE       : Digestible Energy

 

Tabel 4. Formulasi ransum penelitian.

Bahan pakan                                                 Jumlah

——– % ——–

         Tp. Jagung Kuning                                             20

         Bungkil Kelapa                                                  18

         Bungkil Kedelai                                                 12

         Dedak Padi Halus                                              6

         Molases                                                              4,16

         Garam                                                                0,5

         Rumput Lapangan                                             30

         Premix                                                                0,34

         Onggok                                                              9

         Jumlah                                                                100

Sumber : Toha Sutardi (1983)

Susunan Ransum Percobaan dihitung berdasarkan Tabel 1, dan hasil kandungan gizi diperlihatkan pada Tabel 3. Penyusunan Ransum berdasarkan kebutuhan ternak kelinci periode pertumbuhan pada Tabel 1.

 

 

Tabel 5. Kandungan bahan pakan penyusun ransum penelitian.

         Zat makanan                                          Kandungannya

                                                               …… % ……..                                      Protein Kasar                                         16,0552

         Serat Kasar                                                   13,0866

         Lemak Kasar                                                  4,2368

         Abu                                                                8,3750

DE                                                                2581,30 Kkal

Keterangan : Hasil perhitungan dari tabel 1 dan 2. 

 

 

Parameter yang Diamati

  1. Bobot  karkas

Diperoleh dengan cara menimbang berat karkas kelinci

  1. Persentase daging karkas

Diperoleh dengan cara menimbang daging karkas dibagi dengan berat karkas dikali 100%

  1. Persentase lemak karkas

Diperoleh dengan cara menimbang lemak karkas kelinci dibagi dengan berat karkas dikali 100%

  1. Persentase tulang karkas

Diperoleh dengan cara menimbang tulang karkas kelinci dibagi dengan berat karkas dikali 100%

 

            Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan adalah kepadatan kandang. Kelinci ditempatkan pada kandang dengan luas 0.5 m2 pada tiga tingkat kepadatan kandang yang berbeda yaitu perlakuan I : satu ekor per kandang, perlakuan II : dua ekor per kandang, perlakuan III : tiga ekor per kandang. Setiap perlakuan masing-masing terdiri atas 6 ulangan.

 

 

Hasil dan Pembahasan

 

Bobot Karkas

            Hasil pengamatan yang diperoleh dari penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap bobot karkas dapat dilihat pada Tabel 7.

 Tabel 7. Rataan bobot karkas kelinci Rex hasil penelitian.

Ulangan

Bobot karkas

T1

T2

T3

1

613.16

742.13

922.74

2

805.11

863.66

781.66

3

574.00

901.90

611.63

4

825.32

796.06

648.71

5

789.52

833.53

833.04

6

383.52

757.07

714.39

Rata-rata

665.11

815.73

752.03

Keterangan:    

T1        : Perlakuan 1 ekor kelinci/kandang

T2        : Perlakuan 2 ekor kelinci/kandang

T3        : Perlakuan 3 ekor kelinci/kandang

 

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa bobot karkas tertinggi dihasilkan oleh perlakuan T2 dengan bobot karkas 815.73 gr  kemudian berturut-turut T3 752.03 gr dan T1 665.11 gr. Tingkah laku ternak dalam kandang akan mempengaruhi tingkat produktivitas dari ternak tersebut. Semakin rendah kepadatan kandang maka tingkah laku ternak akan semakin beragam sehingga pemanfaatan nutrisi untuk produksi karkas tidak efisien, ini dibuktikan dengan rendahnya bobot karkas pada kepadatan kandang 1 ekor/0,5 m2. Pada kepadatan kandang yang lebih tinggi yaitu pada kepadatan kandang 2 dan 3 ekor/0,5 m2 tingkat produksi karkas ternak menunjukkan hasil yang lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa pembatasan ruang gerak kelinci akan memberikan kesempatan untuk menghasilkan karkas yang lebih tinggi. Pendapat ini didukung dengan pernyataan Batchelor (1991) yang menyatakan bahwa kelinci yang ditempatkan berkelompok akan menaikkan konsumsi pakan. Sehingga karkas yang dihasilkan akan semakin tinggi. Pada kepadatan kandang lebih tertinggi yaitu 3 ekor/0,5 m2 mulai menunjukkan penurunan bobot karkas, hasil ini menunjukkan bahwa pada kepadatan kandang 3 ekor/0,5 m2 mulai terdapat faktor-faktor yang dapat menurunkan kenyamanan ternak.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap bobot karkas dilakukan analisis sidik ragam yang dapat dilihat pada lampiran  4. Hasil analisis sidik ragam bobot karkas menunjukkan bahwa kepadatan kandang tidak berpengaruh nyata terhadap bobot karkas (F hit ≤ F tabel) pada taraf 5%. Penelitian dengan perlakuan perbedaan kepadatan kandang 1 ekor/0,5 m2, 2 ekor/0,5 m2, dan 3 ekor/0,5 m2 yang telah dilakukan, memperlihatkan bahwatidak terdapat pengaruh yang nyata berbeda terhadap bobot karkas yang dihasilkan dari tiap kelompok. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Preston dan Wilis (1974) bahwa bobot karkas dipengaruhi oleh nutrisi, umur, bobot potong, jenis kelamin dan bangsa. 

Dari analisis di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemeliharaan ternak kelinci Rex dengan tujuan menghasilkan produksi daging yang diukur dengan bobot karkasnya dapat dilaksanakan dengan pemeliharaan berkelompok dengan kepadatan hingga 3 ekor/0,5 m2 tanpa memberikan pengaruh yang negatif terhadap kemampuan ternak dalam berproduksi.

 

 

Persentase Daging Karkas

Hasil pengamatan yang diperoleh dari penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap persentase daging karkas dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Persentase daging karkas kelinci Rex hasil penelitian

Ulangan

Persentase daging karkas (%)

T1

T2

T3

1

64.09

65.49

69.79

2

68.31

69.82

66.65

3

61.50

69.63

63.44

4

69.91

66.07

62.12

5

69.28

66.94

68.54

6

66.49

63.53

63.83

Rata-rata

66.59

66.91

65.73

           

Tabel 8 menunjukkan bahwa persentase daging karkas kelinci Rex pada penelitian berkisar antara 65.73 % – 66.91 %, dengan persentase daging karkas tertinggi diperoleh dari perlakuan keadatan kandang  2 ekor/0.5 m2 (T2), dan persentase daging terendah diperoleh pada kepadatan kandang 3 ekor/0.5 m2 (T2). Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap persentase daging karkas dilakukan analisis sidik ragam yang dapat dilihat pada lampiran 5. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kepadatan kandang tidak berpengaruh nyata terhadap persentase daging karkas (F hit ≤ F tab) pada taraf 5%. 

Perbedaan kepadatan kandang akan mengakibatkan terjadinya perbedaan tingkah laku dari ternak yang dapat mempengaruhi tingkat produksi daging. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada kepadatan kandang yang rendah, kelinci mampu menghasilkan daging karkas yang lebih tinggi, namun pada kepadatan kandang 2 ekor/0.5 m2, persentase daging karkas yang dihasilkan lebih tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa kepadatan kandang 2 ekor/0.5 m2  memberikan kenyamanan bagi ternak untuk berproduksi secara optimal, sedangkan pada kepadatan kandang 3 ekor/0,5 m2 terjadi penurunan tingkat produksi daging karkas, dan terjadi  peningkatan produksi lemak tubuh.

Perbedaan kepadatan kandang menunjukkan terjadinya perubahan tingkah laku kelinci melalui pembatasan ruang gerak untuk melakukan aktivitas fisik. Sesuai dengan pendapat Verga dkk (2004), pada kepadatan kandang yang rendah, aktifitas kelinci akan semakin beragam, sehingga memungkinkan terjadinya pembentukan massa otot daripada penimbunan lemak. Persentase karkas juga dipengaruhi oleh ransum yang diberikan. Merurut Anggorodi (1979) makan yang baik akan mempercepat laju pertumbuhan tenunan muscular.

Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa kepadatan kandang hingga 3 ekor/0,5 m2 dapat digunakan dalam pemeliharaan ternak kelinci dengan tujuan menghasilkan daging, tanpa memberikan efek negatif terhadap persentase daging karkas.

 

Persentase Tulang Karkas

            Hasil pengamatan yang diperoleh dari penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap persentase tulang karkas dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Persentase tulang karkas kelinci Rex hasil penelitian

Ulangan

Persentase tulang karkas (%)

T1

T2

T3

1

24.46

20.48

17.56

2

19.75

18.87

19.83

3

25.43

17.96

24.36

4

18.78

20.60

23.58

5

20.01

19.55

19.33

6

27.64

21.40

21.28

Rata-rata

22.68

19.81

20.99

 

            Tabel 9 menunjukkan bahwa persentase tulang karkas tertinggi terdapat pada perlakuan kepadatan kandang 1 ekor/ 0.5 m2 (T1) dengan persentase tulang karkasnya adalah 22.68 %, kemudian berturut-turut kepadatan kandang 3 ekor/ 0.5 m2 (T3) 20.99 % dan kepadatan kandang 2 ekor/ 0,5 m2 (T2) 19.81 %. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap persentase tulang karkas dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 6. Hasil sidik ragam persentase tulang karkas menunjukkan bahwa kepadatan kandang 1 ekor /0.5 m2, 2 ekor/0.5 m2, dan 3 ekor/0.5 m2 tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (F hit ≤ F tab) pada taraf 5%

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pada kepadatan kandang yang rendah kelinci melakukan banyak aktivitas di dalam kandang sehingga terjadinya proses kalsifikasi yaitu penimbunan mineral pada tulang yang mengakibatkan peningkatan massa tulang. Sebaliknya pada kepadatan kandang yang lebih tinggi, kegiatan yang terbatas mengakibatkan rendahnya tingkat penyerapan kalsium oleh tulang.

Pertumbuhan tulang dipengaruhi oleh kandungan ransum antara lain mineral yang mempengaruhi pertumbuhan tulang karkas. Pendapat tersebut sesuai dengan pernyataan Tilman, dkk (1991) yang menyatakan bahwa salah satu fungsi mineral adalah bahan pembentuk tulang. Ketika ternak lahir, tulang merupakan komponen karkas yang paling besar, kemudian tumbuh lambat dan menurun pertumbuhannya dengan meningkatnya umur.

Persentase tulang karkas yang tidak berbeda nyata pada perlakuan kepadatan kandang dengan tingkat yang berbeda, menunjukkan bahwa tulang merupakan jaringan yang tumbuh dan berkembang sejak dini, hingga pada saat ternak mencapai dewasa, pertumbuhan tulang sedikit sekali hingga akhirnya terhenti. Penempatan kelinci pada kepadatan kandang yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berarti pada persentase tulang karkas, karena kelinci telah mendekati masa dewasa kelamin, sehingga pertumbuhan tulang lambat dan telah mendekati masa akhir.

 

Persentase Lemak Karkas

Hasil pengamatan yang diperoleh dari penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap persentase lemak karkas dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Persentase lemak karkas kelinci Rex hasil penelitian

Ulangan

Persentase lemak karkas (%)

T1

T2

T3

1

9.95

10.37

9.75

2

9.81

9.49

10.23

3

11.67

9.87

10.14

4

8.48

9.67

10.33

5

8.61

9.48

10.68

6

3.91

10.70

11.06

Rata-rata

8.74

9.93

10.36

 

Tabel 10 menunjukkan bahwa persentase lemak karkas tertinggi dari kelinci Rex yang dipelihara didapat dari perlakuan dengan kepadatan kandang 3 ekor per kandang (T3) yaitu 10.36 % kemudian berturut-turut perlakuan kepadatan kandang 2 ekor per kandang (T2) yaitu 9.93 % dan kepadatan kandang 1 ekor per kandang (T1) 8.74 %. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap persentase lemak karkas dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 7. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang berbeda nyata (F hit ≤ F tab) pada persentase lemak karkas pada kepadatan kandang hingga 3 ekor per kandang pada taraf 5%.

Apabila dilihat dari produksi lemak karkas yang dihasilkan pada penelitian yang telah dilakukan, produksi lemak karkas tertinggi dihasilkan pada kepadatan kandang tertinggi yaitu 3 ekor/ 0.5 m2, hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi kepadatan kandang tinggi dan sempitnya ruang gerak  mengurangi jumlah aktivitas dari kelinci dalam kandang, sehingga terjadi penimbunan lemak. Pada kepadatan kandang terendah yaitu 1 ekor/ 0.5 m2, ternak kelinci memiliki luasan kandang yang lebih besar sehingga tingkah laku kelinci dalam kandang mengakibatkan terjadinya partitioning (pemilahan) zat-zat makanan, mengalih dari penimbunan jaringan lemak menuju ke penambahan massa otot melalui kegiatan kelinci di dalam kandang.

Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persentase lemak karkas. Dengan bertambahnya umur dan intensitas kadar makanan yang dikonsumsi maka akan persentase lemak karkas akan meningkat, sesuai dengan pernyataan Anggorodi (1994), dan didukung oleh Soeparno (1994) yang menyatakan bahwa pembentukan lemak terjadi paling akhir setelah pembentukan daging dan tulang.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat kepadatan kandang mengakibatkan peningkatan persentase komponen lemak karkas, namun perbedaan kepadatan kandang hingga 3 ekor/0,5 m2 tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap persentase lemak karkas kelinci Rex lepas sapih.

 

Kesimpulan dan Saran  

Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil analisa statistik dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa kepadan kandang sampai dengan 3 ekor/0,5 m2 tidak memberikan pengaruh terhadap bobot karkas 665.11 – 752.03 gram, persentase daging karkas 68.44 % – 69.83 %, persentase tulang karkas 16.98 % – 19.36 %, dan persentase lemak karkas 8.74 % – 10.36 %, pada kelinci Rex lepas sapih.
  2. Kelinci Rex dapat dipelihara dengan kepadatan kandang hingga 3 ekor/0,5 m2.

 

Saran

  1. Pemeliharaan kelinci Rex dengan tujuan produksi daging dapat dilakukan dengan penempatan kelinci pada kandang kelompok dengan kepadatan kandang hingga 3 ekor/0,5 m2 tanpa mengurangi kemampuan produksi ternak.
  2. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui batasan dari kepadatan kandang yang menunjang terhadap produksi daging dan karkas kelinci Rex.

 

DAFTAR PUSTAKA

Berg, R. T. dan Butterfield, R. M. 1974. Growth of Meat Animals. Vol. 1. 19-42. University of Notingham.

Blakely, J. dan D. H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan. Edisi ke empat. Gajah Mada University Press, Jogjakarta.

Cheeke. P. R. 1986. Potential of Rabbit Production in Tropical and Subtropical Agricultural system. J.Anim. Sci. 63 : 1581-1586.

Cheeke, P. R., N. M. Patton, G. S. Templeton. 1982. Rabbit Production. 5th Edition. Interstate Printers and Publishers. Danville, Illinois.

Cheeke, R, Peter. 1987. Rabbit Feeding and Nutrition.Academic Press, Inc Oregon.

El-Raffa, A. M. 2004. Rabbit Productioon in Hot Climates. J. 8th World Rabbit Congress. http:// www.dcam.upvs.es. [31 maret 2008].

Ensminger, M. E., J. E. Oldfield and W. W. Heinemann. 1990. Feeds and Nutrition Second Edition. The Ensminger Publishing Company. USA.

Farrel, D.J., and Y.C. Raharjo. 1984. Potensi Ternak Kelinci Sebagai penghasil Daging. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Finzi. A., S. Nyvold dan M. El-Agroudi. 1992. Efficiency of Three Different Housing System in Reducing Heat Stress in Rabbits. J. Appl. Rabbit Res. 15 : 745-750.

Herman, R. N. Sugana dan M. Duljaman. 1983. Peningkatan sumber produksi daging mentah berasal dari kelinci lokal (Penampilan produksinya). Laporan Penelitian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

Herren, R. 2000. The Science of Animal Agriculture. 2nd Edition. United States of America.

Hernandez, J.A., dan Rubio, L.M.S. 2001. Effect of Breed and Sex on Rabbit Carcass Yield and Meat Quality. World Rabbit Sci.vol 9 (2)

Lawrie, R. A. 1966. Meat Science. Pergamon Press Ltd. Oxford.

 

Morrise, J. P. dan R. Maurice. 1996. Influence of Stocking Density on the Behaviour in Fattening Rabbits Kept in Intensive Condition. J. 6th World Rabbit Congress. 2 : 425-429.

Maertens , L. dan G. De Groote. 1984. Influence of the Number of Fryer Rabbits per Cage on their Performance. J. Appl. Rabbit Res. 7 : 151 – 155.

Manshur, Faiz. 2006. Kelinci : Pemeliharaan Secara Ilmiah, Tepat dan Terpadu. Penerbit Nuansa. Bandung.

Nathawiharja, D. 1985. Pengaruh bentuk fisik ransum dan pemberian tambahan cahaya terhadap performans dua galur ayam broiler. Thesis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Prawirodigdo, S., Y. C. Raharjo, P. R. Cheeke dan N. M. Patton. 1985. Effect of  Cage Density on the Performance of Growing Rabbits. J. Appl. Rabbit Res. 8 (2) : 85-86.

Preston, T. R. and M. B. Willis. 1974. Intensive Beef  Production. 2nd Edition. Pergamon Press. Oxford.

Rao, D.R., G.R. Sunki, W.M. Johnson dan C. P Chan. 1977. Postnatal Growth of New Zealand White Rabbit. J. Anim. Sci. 44 : 1021.

Rismunandar. 1990. Meningkatkan Konsumsi Protein Dengan Beternak Kelinci. Penerbit Sinar Baru. Bandung.

Sartika, T.  dan Y. C. Raharjo. 1990. Pengaruh kepadatan kandang terhadap penampilan kelinci Rex. J. Ilmu dan Peternakan. 4 (3) : 287-290.

Sarwono, B. 1981. Beternak Kelinci Unggul. Pusat Penerbitan Yayasan Sosial Tani Membangun. Jakarta.

Siregar S.B.  1994.  Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Smith, J. B. Dan Mangkoewidjojo, S. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Cetakan Pertama. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Soedarmoyo, B. 1984. Pengaruh jenis kelamin dan pengelompokkan bobot potong terhadap komposisi karkas kelinci lokal. Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro.

Soeparno, 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Suarjaya, I. M. 1985. Pengaruh suhu kandang terhadap penampilan ternak kelinci. Thesis. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Sudarmoyo, B. 1974. Pengaruh jenis kelamin dan pengelompokan bobot potong terhadap komposisi karkas kelinci lokal. Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro.

Suroso, A. 2003. Komposisi karkas dan kimia daging persilangan pada berbagai tingkat bobot hidup. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Taylor, R. E. and T. G. Field. 2004. Scientific Farm animal Production. 8th Edition. Pearsoon Education, Inc. Denville, Illinois.

Templeton, G. S. 1968. Domestic Rabbit Production. The Institute Printers  and Publisher, Inc. Denville, Illinois.

Verga, M., I. Zingarelli., E. Heinzl., V. Ferrante., P. A. Martino dan F. Luzi. 2004. Effect of Housing and Enviromental Enrichment on Performance and Behaviour in Fattening Rabbits. J. 8th World Rabbit Congress. http://www.dcam.upv.es. [31 maret 2008].

Yurmiati, H. 1991. Pengaruh Pakan, umur potong dan jenis kelamin terhadap bobot hidup, karkas, dan sifat dasar kulit kelinci Rex. Disertasi Fak. Pasca Sarjana, IPB, Bogor.