Published by admin on 29 Oct 2009

TRANSPARANT RUSA

PENDAHULUAN

} Keberadaan rusa dalam kehidupan manusia sudah lama berlangsung, diperkuat oleh seorang Arkeolog : menemukan bukti di zaman purba, yaitu digunakannya ujung ranggah keras sebagai mata ujung tombak untuk berburu dan alat pemotong.

} Kepala rusa digunakan sebagai lambang negara pada kerajaan kecil.

} Sejak jaman belanda hingga sekarang rusa merupakan satwa liar yang dilindungi, tetapi menjadi sasaran perburuan tanpa terkendali, akibatnya terjadi penurunan populasi sehingga terbatas ruang lingkup hidupnya maupun kemampuan berkembang secara alami.

} sekarang ranggah rusa dan kepalanya sering digunakan sebagai hiasan

} Ditunjuknya beberapa areal konservasi di Indonesia guna melindungi habitat

} Mencegah kepunahan, dari segi hukum ditetapkan rusa sebagai satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang

} Cara penangkaran:

Penangkaran adalah upaya memperbanyak populasi rusa melalui pengembangabiakan, dengan tetap mempertahankan jenisnya, agar dapat dimanfaatkan secara lestari (1970 di kebun binatang Surabaya)

UNDANG-UNDANG DAN SURAT KEPUTUSAN T RUSA

} UU Ordonansi dan Perlindungan Binatang Liar (1931) No. 134 dan 266, yang dikeluarkan karena telah terjadi penurunan populasi yang dianggap kritis.

} UU No 5 (1990) tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bahwa rusa merupakan satwa langka yang perlu dilindungi

} Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 362/Kpts/TN, 120/5/1990 tanggal 20 Mei 1990 bahwa rusa dimasukkan kedalam aneka ternak yang dapat dibudidayakan sebagaimana ternak lainnya , termasuk didalammnya pengaturan izin usaha.

POTENSI TERNAK RUSA :

} Mempunyai daya adaptasi yang tinggi pada berbagai habitat

} Efisien dalam penggunaan pakan (4-5 kali) dari pada sapi dan domba

} Daging rusa (Venison) berwarna merah, serat halus tetapi kandungan kolesterolnya rendah

} Memiliki ranggah muda ( Antler) yang dapat digunakan sebagai obat (China dan Korea, 168 SM) dan ranggah sempurna untuk hiasan.

} Penghasil velvet (lapisan beludru yang menenpel pada ranggah muda) digunakan sebagai obat-obatan oleh ahli farmakologi

} Penghasil velvet (lapisan beludru yang menenpel pada ranggah muda) sebagai obat oleh ahli farmakologi dan Organ tubuh lainnya (Testis, penis, ekor, otot kaki belakang) sebagai obat kuat.

} Mempunyai indra pencium dan pendengaran yang tajam

} Hidup bergerombol dan soliter tergantung bangsanya, dan adanya musim kawin

Tujuan dan harapan Jangka Panjang dari penangkaran :

} meningkatkan kesejahtraan masyarakat, ketrampilan budi daya dan meningkatkan nilai tambah pada masyarakat

} peningkatan sumber devisa Negara

} meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya pemanfaatan yang selaras dengan azas pelestarian

} Meningkatnya minat masyarakat dalam budidaya penangkaran rusa dibutuhkan pembinaan secara intensif dan terarah sehingga dapat menunjang produktifitas dan mempermudah cara pemanfaatannya.

} Akibatnya perlu dipikirkan dan dikaji Aspek penyediaan bibit, pakan, kesehatan, reproduksi, manajemen, penanganan pasca panen dan pemasarannya.

KLASIFIKASI TERNAK RUSA :

} Phyllum : Vertebrata

} Sub phylum : Chordata

} Class : Mammalia

} Ordo : Artiodactyla

} Subordo : Ruminansia

} Family : Cervidae

} Subfamily : Cervinae, Muntiacinae, Hydropotinae dan Odocolinae

} Di Indonesia terdapat 4 jenis Rusa dari 2 genus yaitu Cervus dan Axis

1. Cervus : Cervus timorensis dan Cervus unicolor

2. Axis : - Axis kuhli

- Axis-axis ( introduksi dari India pada jaman Belanda yang dapat beradaptasi

dengan alam lingkungan Indonesia.

RUSA TIMOR

} Rusa Timor adalah sub spesies dari Rusa Jawa

} Rusa Timor Jantan. Foto: rusaindonesia.blogpsot.com

} Jenis rusa Timor (Cervus timorensis timorensis dan Cervus timorensis florensis) adalah sub spesies dari rusa Jawa. Bulunya coklat dengan warna bagian bawah perut dan ekor berwarna putih. Biasanya rusa jantan relatif lebih besar dibandingkan dengan betinanya. Tinggi badan rusa antara 91-102 cm dengan berat badan 103-155 kg.

} Cervus timorensis florensis banyak ditemukan di Pulau Lombok dan Pulau Flores. Sedangkan Cervus timorensis timorensis paling banyak ditemukan di Pulau Timor, Pulau Rote, Pulau Semau, Pulau Kambing, Pulau Alor, dan Pulau Pantai.

} Pada dasarnya rusa merupakan hewan yang bisa aktif di siang hari (diurnal) ataupun di malam hari (nokturnal). Semua tergantung pada kondisi lingkungannya. Namun khusus rusa Timor di Taman Wisata Alam Pulau Menipo, Nusa Tenggara Timur; didapati bahwa mereka paling aktif pada pagi hari pukul 06.00-09.00 dan pada sore hari pukul 16.00-18.00. Aktivitas yang dimaksud adalah istirahat, makan, dan bergerak.

} Populasi 1,5 juta di Irian Jaya (Fraser-Stewart, 1988)

} Berwarna coklat keabu-abuan sampai coklat gelap

} Rambut kasar dan tebal, bulu bagian perut berwarna terang dari pada bagian punggung

} Berat badan dewasa 40 – 50 kg, panjang badan 195 cm , tinggi badan 100 – 110 cm

} Hidup berkelompok dan mempunyai daerah territorial

} Aktif mencari makan pada siang dan malam hari Habitat padang rumput yang tidak berawa dan kurang air

} Pakan rumput, daun muda dan buah-buahan

} Daerah penyebaran Jawa, Sulawesi, Maluku, Nusa tenggara

} Dewasa kelamin 7 – 9 bulan

} Lama bunting 250 – 285 hari

} Jumlah anak per kelahiran 2 ekor

} Interval kelahiran 1 – 2 tahun

} Lama menyusui/ umur sapih 4 bulan

} Life spen 15 -18 tahun

Cervus Unicolor (Rusa Sambar)

} Berwarna hitam kecoklat-coklatan

} Berambut panjang dan lebat, hidung berwarna gelap, tebal dan basah

} Berat badan dewasa 40 – 50 kg, panjang badan 150 – 200 cm, tinggi badan 140 – 160 cm

} Hidup soliter, kecuali pada musim kawin

} Aktif pada malam hari, dan bersembunyi pada siang hari

} Habitat daerah padang alang-alang, dekat air dan dapat hidup pada ketinggian 600 m dari permukaan laut

} Pakan rumput berair dan daun muda

} Daerah penyebaran Sumatera dan Kalimantan

} Siklus hidup : dewasa kelamin 8 bulan

} Lama bunting 7 bulan

} Jumlah anak per kelahiran 1 ekor

} Interval kelahiran 1,5 tahun

} Lama menyusui/ umur sapih 3 - 4 bulan

} Life spen 11 tahun

Axis kuhlii (Rusa Bawean)

} Berwarna coklat terang sekitar mata dan bagian leher berwarna putih, pada anak rusa yang baru lahir terdapat totol putih dengan warna dasar coklat

} Berat badan dewasa 45 kg, panjang badan 140 cm, tinggi badan 65 cm

} Hidup jarang sekali bergerombol, biasanya hanya 2 – 3 ekor

} Aktif mencari makan pada siang dan malam hari

} Habitat padang rumput dan hutan sekunder yang masih rawan

} Pakan rumput dan daun-daunan

} Daerah penyebaran pulau Bawean

} Siklus hidup : dewasa kelamin 2 tahun

} Lama bunting 8 bulan

} Jumlah anak per kelahiran 1- 3 ekor

} Interval kelahiran 1,5 tahun

} Lama menyusui/ umur sapih 8 bulan

} Life spen 10 - 15 tahun

Kijang ( Muntacus muntjak)

} Scientific classification

} Kingdom: Animalia

} Phylum: Chordata

} Class: Mammalia

} Order: Artiodactyla

} Suborder: Ruminantia

} Family: Cervidae

} Subfamily: muntiacinae

} Genus: Muntiacus

} Species: M. muntjak

} Bulu coklat muda kekuningan sampai coklat kehitaman dan pada punggung terdapat garis kehitaman.

} Daerah perut sampai kerongkongan berwarna putih,

} khusus kerongkongan warnanya bervariasi dari putih sampai coklat muda.

} Kijang jantan biasanya lebih besar dari betina. Panjangnya Badan kijang bervariasi dari 35-53. dan tingginya mereka terbentang dari 15-26.

} Kijang tidak mengenal musim kawin dan dapat kawin kapan saja, namun perilaku musim kawin muncul bila kijang dibawa ke daerah beriklim sedang. Jantannya memiliki tanduk pendek yang dapat tumbuh bila patah.

} Hewan ini sekarang menarik perhatian penelitian evolusi molekular karena memiliki variasi jumlah kromosom yang dramatis dan ditemukannya beberapa jenis baru (terutama di Indocina).

Axis-axis (Rusa Tutul/Chital)

} Tersebar luas dari daerah India dan Ceylon

} Bulunya halus berwarna coklat sawo matang dan bermotif totol putih

} Berat badan dewasa 75 – 100 kg

} Berat lahir 3 – 3,5 kg

} Panjang badan 150 cm

} Tinggi badan 110 – 140 cm

} Hidup berkelompok (2-6 ekor/kelompok) dan aktif pada siang hari, Habitat padang rumput, semak, pada batas hutan yang ada sumber air minum

} Axis-axis (Rusa Tutul/Chital)

} Tersebar luas dari daerah India dan Ceylon

} Bulunya halus berwarna coklat sawo matang dan bermotif totol putih

} Berat badan dewasa 75 – 100 kg

} Berat lahir 3 – 3,5 kg

} Panjang badan 150 cm

} Tinggi badan 110 – 140 cm

} Hidup berkelompok (2-6 ekor/kelompok) dan aktif pada siang hari, Habitat padang rumput, semak, pada batas hutan yang ada sumber air minum

} Pakannya rumput dan daun-daunan

} Ditemukan pada ketinggian 1000 – 1200 meter diatas permukaan laut

} Siklus hidup : dewasa kelamin 1,5 - 2 tahun

} Lama bunting 7 – 7,5 bulan

} Jumlah anak per kelahiran 1 ekor

} Interval kelahiran 1 tahun

} Ranggah hanya dimiliki oleh rusa jantan, yang mempunyai tingkat pertumbuhan sebagai berikut :

} Pedicle (tempat tumbuhnya tunas ranggah)

} Velvet (ranggah muda yang diselimuti oleh bulu halus )

} Ranggah keras sampai lepas (casting)

} Rataan setiap tahap pertumbuhan ranggah masing-masing adalah :

} Ranggah velvet 148,8+ 11,44 hari

} Ranggah keras 208,8 = 3,44 hari

} Tanpa ranggah 373, 6 + 11,52 hari

} Dari tahap pertumbuhan tersebut dapat disimpulkan bahwa periode terlama dari tahap pertumbuhan ranggah dalam satu siklus berada pada tahap ranggah keras dimana pada periode ini rusa jantan berada pada masa aktif reproduksi dengan kisaran pada bulan JUNI-FEBRUARI

Grade Velvet Antler :

} Soft developing antler (Grade A) umur 55 – 60 hari

} Fully matured (5 tahun- 6 tahun dengan berat 2 -2,5 kg)

Kegunaan velvet :

} untuk meninggikan kandungan volume darah

} vitalitas yang lebih baik

} menyembuhkan masalah ginjal

} gastrointestinal

} tekanan darah rendah

} anemia

} mental dan athletic ability (Russian)

} anti allergenic (tinggkat kadar penyembuhan)

} mengurangi asma dan tingkat fertility

} Ranggah setiap tahun berganti :

} Januari : Ranggah lepas

} Maret – Mei : tumbuh bungkul baru

} Juni : tumbuh ranggah baru

} Agustus- September : ranggah tumbuh sempurna

} Desember : ranggah lepas

KUALITAS RANGGAH RUSA (Antler)

Grade Diameter (cm) Panjang (cm)

A > = 16 > = 40

B > = 14 > =40

C > = 13 > = 40

D > = 11 > = 30

E > = 11 < 30

DAGING RUSA (Venison) :

} Persentase karkas 58 % (sapi 41 % dan domba 43 %)

} Energi yang dihasilkan dari lemak daging pada rusa 22 % (sapi 33 % dan domba 35-47 %)

} Protein daging 21 % (tetap dengan bertambahnya umur)

} 40 % dari bagian karkas belakang (3/4 bagian karkas belakang mempunyai harga tinggi)

} Energi daging 628 jouls / 100 g

Siapkan dan Baca Untuk Quis Kamis Depan !

Published by admin on 01 Jul 2009

Flu Babi (Gisnica)

Pada 5 Februari 1976, tentara di Fort Dix, Amerika Serikat menyatakan dirinya kelelahan dan lemah, kemudian meninggal dunia keesokannya. Dokter menyatakan kematiannya itu disebabkan oleh virus ini sebagaimana yang terjadi pada tahun 1918. Presiden kala itu, Gerald Ford, diminta untuk mengarahkan rakyatnya disuntik dengan vaksin, namun rencana itu dibatalkan. Pada 20 Agustus 2007, virus ini menjangkiti seorang warga di pulau Luzon, Filipina.
Istilah ’swine flu’ atau flu babi untuk menyebut wabah flu mematikan yang tengah melanda dunia, menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau OIE adalah keliru. Sebab virus strain baru ini merupakan gabungan dari virus burung, manusia dan babi.
Ditegaskan OIE, pathogen ini bukan virus manusia klasik namun virus yang mencakup karakteristik komponen virus avian (burung), babi dan manusia. “Virus tersebut hingga kini tidak terisolasi pada hewan. Karena itu, tidak benar menamakan penyakit ini influenza babi,” demikian pernyataan badan kesehatan hewan yang bermarkas di Paris, Prancis itu seperti dilansir AFP, Selasa (28/4/2009).
Diimbuhkan OIE, ilmu sains nantinya akan menunjukkan apakah virus tersebut beredar di antara hewan ternak dan hasilnya akan menentukan apakah negara-negara telah bertindak benar dengan melarang impor babi. Ditandaskan OIE, epidemi flu manusia di masa lalu yang berasal dari hewan telah dinamai sesuai asal geografisnya, seperti flu Spanyol. “Adalah logis untuk menyebut penyakit ini ‘influenza Amerika Utara,” usul OIE. Dalam wawancara dengan AFP, Dirjen OIE Bernard Vallat menyatakan tak ada bukti kalau virus flu babi ini benar-benar berasal dari hewan babi. “Belum ada bukti kalau virus ini, yang saat ini beredar di antara manusia, benar-benar berasal dari hewan. Tak ada elemen untuk mendukung ini,” tegas Vallat.
Diimbuhkan Vallat, sangat tidak adil untuk menghukum para peternak babi yang menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut, dengan membicarakan risiko yang belum terbukti sama sekali. Apalagi menurutnya, sejauh ini tak seorang pun bisa menunjukkan bagaimana atau di mana strain virus baru ini terbentuk.

Pengertian Flu Babi
Flu Babi atau Swine Flu/Influenza adalah penyakit saluran pernafasan pada babi, yang disebabkan virus influenza jenis A. Virus flu ini menyebabkan kesakitan yang berat pada babi tetapi angka kematiannya rendah. Virus ini (type A H1N1 virus) pertama kali di isolasi dari babi pada tahun 1930.
Seperti semua virus influenza, virus flu babi berubah secara konstan. Babi bisa terinfeksi virus avian influenza (virus flu burung) dan virus flu manusia. Jika berbagai virus ini menyerang babi, maka virus ini akan mampu membentuk spesien2 virus baru, yang merupakan gabungan virus avian, manusia dan swine. Sampai saat ini sudah berhasil diisolasi sebanyak 4 sub-type A: H1N1, H1N2, H3N2, and H3N1. H1N1 merupakan virus jebis baru yang baru saja ditemukan pada babi.
Flu Babi alias swine flu atau swine influenza, sekarang ini sudah meningkat statusnya jadi fase 5, berdasarkan pada pernyataan WHO kemarin Rabu, 29 April 2009. Menurut Direktur Jenderal WHO ( WHO Director-General ) Dr. Margaret Chan, untuk pandemic virus flu babi ini harus diambil tindakan serius secara tepat karena kapasitasnya untuk menyebar secara cepat ke setiap negara di seluruh dunia. Dan setiap negara mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi pandemi flu babi (swine flu) ini (semoga saja tidak mampir ke Indonesia wabah flu babi tersebut).
Flu babi (Inggris:Swine influenza) adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A.
Babi dapat menampung virus flu yang berasal dari manusia maupun burung, memungkinkan virus tersebut bertukar gen dan menciptakan galur pandemik.
Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia. Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian. Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2, and H2N3.
Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi.
Virus Swine flu sebetulnya secara normal tidak menginfeksi manusia. Namun secara sporadis dilaporkan adanya infeksi virus ini pada manusia seperti yang terjadi di US dan mexico. Seringnya orang yang terkena adalah orang2 yang bekerja pada peternakan/industri yang berhubungan dengan babi. Juga dilaporkan adanya penyebaran antar manusia.
Dahulu CDC menerima laporan hanya 1-2 kasus flu ini setiap 1 sampai 2 tahun. tetapi sejak Desember 2005 s/d Februari 2009, 12 kasus telah dilaporkan. Bahkan dalam bulan April 2009 dilaporkan terjadi kejadian luar biasa (out break).
Virus flu babi (swine flu) yang telah membuat panik dunia saat ini merupakan campuran antara delapan genetik virus influenza yang berbeda, bukan lagi genetik virus flu H1N1 biasa.
“Terjadi reassortment pada virus flu ini, di mana flu babi yang baru ini berasal dari babi yang terkena flu babi, flu burung dan flu manusia,” kata dokter ahli paru dr Sita Andarini PhD, SpP seusai Dialog mengenai Flu Babi yang diselenggarakan lab Kyoai di Jakarta, Selasa. Sita mengatakan, babi di peternakan selalu terserang flu setiap tahun misalnya setiap akhir musim gugur, namun virus flu babi ini berbeda dengan virus flu babi H1N1 yang baru. “Pada virus flu babi baru ini terjadi kombinasi gen, sehingga virus berubah menjadi gen virus baru H1N1,” katanya. Virus flu sendiri, jelasnya, banyak tipenya. Pada manusia ada virus flu H3N2, H3N1, H1N1, sedangkan pada babi H1N1 dan pada burung H5N1. Ia juga mengingatkan bahwa flu babi tidak hanya bisa terjadi di daerah subtropis, dingin, atau lintang tinggi, karena virus flu babi itu optimal hidup di suhu 37 derajat Celcius.
“Sekarang ini penyebaran flu babi justru sedang menuju ke kawasan tropis,” katanya sambil meminta masyarakat mewaspadai hal ini.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terkena kasus flu babi, ia meminta, agar masyarakat menolak kontak dengan seorang yang terkena flu, menggunakan masker khusus, selalu mencuci tangan, serta beristirahat di rumah jika terkena flu.
Pasien flu yang suspect (diduga) flu babi, ujarnya, diisolasi selama tujuh hari setelah gejala awal. Setelah tujuh hari dan dinyatakan sembuh total maka sudah tidak menular lagi dan bisa kembali beraktivitas.
Namun demikian hingga kini vaksin flu babi seperti juga flu burung belum ada yang sudah menjalani fase uji klinik, sedangkan Tamiflu hanyalah suatu obat antivirus. “Masalahnya adalah sulit mendisain vaksin dan sulit memproduksi vaksin begitu banyak pada waktu pandemi terjadi ketika ribuan orang sudah terkena,”

Gejala utama virus flu babi pada manusia.
Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, gejalan influensa ini mirip dengan influensa. Gejalanya seperti demam, batuk, sakit pada kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, dan lemah lesu. Beberapa penderita juga melaporkan buang air besar dan muntah-muntah.
Dalam mendiagnosa penyakit ini tidak hanya perlu melihat pada tanda atau gejala khusus, tetapi juga catatan terbaru mengenai pasien. Sebagai contoh, selama wabah flu babi 2009 di AS, CDC menganjurkan para dokter untuk melihat “apakah jangkitan flu babi pada pasien yang di diagnosa memiliki penyakit pernapasan akut memiliki hubungan dengan orang yang di tetapkan menderita flu babi, atau berada di lima negara bagian AS yang melaporkan kasus flu babi atau berada di Meksiko dalam jangka waktu tujuh hari sebelum bermulanya penyakit mereka.” Diagnosa bagi penetapan virus ini memerlukan adanya uji makmal bagi contoh pernapasan.
Gejala swine flu pada manusia mirip dengan gejala virus influenza manusia berupa: demam, pegel2, lemes, hilang nafsu makan, dan batuk. Beberapa pasien yang terkena swine flu mengeluhkan pilek, sakit tenggorokan, mual, muntah dan diare.
Virus swine influenza tidak ditularkan melalui makanan. Memasak makanan sampai suhu 160°F akan mematikan virus ini. Virus influenza bisa menular dari babi ke manusia atau sebaliknya. Infeksi pada manusia terjadi terutama jika berada dekat-dekat babi yang terinfeksi seperti berada dalam kandang babi dll. Infeksi dari manusia ke manusia lain juga bisa terjad, mirip sperti flu manusia, yaitu melalui bersin atau batuk. Bisa juga lewat sentuhan tangan, kemudian tangan tersebut menyentuh mulut atau hidung.
Untuk mendiagnosis infeksi swine influenza, dibutuhkan koleksi spesimen dari saluran nafas dalam 4-5 hari pertama. Spesimen ini kemudian diperiksakan di Laboratorium.
Babi sebagai sumber flu babi memiliki keunikan. Hewan ini tidak hanya dapat terinfeksi oleh virus flu babi, tapi juga virus flu yang berasal dari unggas dan virus flu manusia. Saat virus flu dari spesies yang berbeda menginfeksi babi, virus-virus tersebut dapat saling berkombinasi (tukar menukar elemen genetik) sehingga muncul virus baru. Saat ini dikenal empat macam virus flu babi yaitu H1N1, H1N2, H3N2, dan H3N1. Tetapi yang belakangan banyak ditemukan adalah jenis H1N1.
Virus H1N1 sejatinya hanya mengenai babi, tetapi karena adanya mutasi maka virus ini berubah sifat sehingga mampu menginfeksi manusia. Parahnya lagi, tidak seperti virus flu burung (H5N1) yang tidak ditularkan dari manusia ke manusia, virus flu babi H1N1 dapat menyebar dari orang ke orang.
Penularan dari babi ke manusia terjadi karena adanya kontak dengan babi yang terinfeksi atau kontak dengan benda-benda yang telah terkontaminasi. Sedangkan penularan dari manusia ke manusia hampir sama dengan cara penularan flu biasa, yaitu melalui batuk atau bersin. Manusia juga dapat terinfeksi karena menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus flu babi dari dari orang lain, kemudian memegang mulut atau hidungnya.

Gagal Napas
Gejala flu babi hampir sama dengan flu biasa, yaitu demam, lesu, kurang semangat, dan batuk. Selain itu juga dapat dijumpai gejala meler dari hidung, radang tenggorokan, mual, muntah, dan diare. Pada tahap lanjut, dapat dijumpai sesak napas. Kematian biasanya terjadi akibat adanya kegagalan pernapasan.
Pada babi yang terkena virus H1N1, gejala biasanya berupa peningkatan suhu tubuh, depresi, batuk, keluar cairan dari hidung atau mata, bersin, susah bernapas, mata merah, dan tidak mau makan.
Pencegahan
Virus strain baru flu babi (swine flu) memang bisa mematikan. Apalagi virus strain baru bisa menyebar dengan cepat. Sebabnya, tak seorang pun punya kekebalan alami terhadap virus baru ini. Dan butuh waktu beberapa bulan untuk mengembangkan vaksinasi virus ini. Namun setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit flu babi yang ditularkan dari orang ke orang ini.

Obat flu babi sama dengan obat yang digunakan untuk flu biasa atau flu burung. CDC merekomendasikan obat antivirus oseltamivir (Tamiflu) atau zanamivir. Hanya saja, obat ini lebih efektif jika diberikan pada tahap dini perjalanan penyakit, saat kerusakan pada sel paru-paru belum terlalu parah.
Belum ada vaksin yang dapat melindungi manusia agar tidak terkena flu babi. Oleh karena itu, langkah pencegahan untuk membatasi penularan sangat penting. Berikut tindakan yang perlu diambil untuk mengurangi risiko penularan jika Anda sedang berada di daerah wabah flu babi :
1. Menutup hidung dan mulut dengan tissue saat batuk atau bersin. Membuang tissue ke tempat sampah setelah digunakan.
2. Mencuci tangan dengan sabun dan air, terutama setelah batuk atau bersin. Tissue yang mengandung alkohol juga dapat digunakan.
3. Menghindari kontak erat dengan orang yang sakit flu.
4. Jika sakit, hendaknya tetap berada di rumah, tidak pergi bekerja atau ke sekolah, agar tidak menginfeksi orang lain.
5. Menghindari menyentuh mata, hidung, atau mulut. Virus menular lewat bagian tubuh tersebut.
6. stilah ’swine flu’ atau flu babi untuk menyebut wabah flu mematikan yang tengah melanda dunia, menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau OIE adalah keliru. Sebab virus strain baru ini merupakan gabungan dari virus burung, manusia dan babi.
7. Ditegaskan OIE, pathogen ini bukan virus manusia klasik namun virus yang mencakup karakteristik komponen virus avian (burung), babi dan manusia.
8. “Virus tersebut hingga kini tidak terisolasi pada hewan. Karena itu, tidak benar menamakan penyakit ini influenza babi,” demikian pernyataan badan kesehatan hewan yang bermarkas di Paris, Prancis itu seperti dilansir AFP, Selasa (28/4/2009).
9. Diimbuhkan OIE, ilmu sains nantinya akan menunjukkan apakah virus tersebut beredar di antara hewan ternak dan hasilnya akan menentukan apakah negara-negara telah bertindak benar dengan melarang impor babi.
10. Ditandaskan OIE, epidemi flu manusia di masa lalu yang berasal dari hewan telah dinamai sesuai asal geografisnya, seperti flu Spanyol. “Adalah logis untuk menyebut penyakit ini ‘influenza Amerika Utara,” usul OIE.
11. Dalam wawancara dengan AFP, Dirjen OIE Bernard Vallat menyatakan tak ada bukti kalau virus flu babi ini benar-benar berasal dari hewan babi.
12. “Belum ada bukti kalau virus ini, yang saat ini beredar di antara manusia, benar-benar berasal dari hewan. Tak ada elemen untuk mendukung ini,” tegas Vallat.
13. Diimbuhkan Vallat, sangat tidak adil untuk menghukum para peternak babi yang menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut, dengan membicarakan risiko yang belum terbukti sama sekali. Apalagi menurutnya, sejauh ini tak seorang pun bisa menunjukkan bagaimana atau di mana strain virus baru ini terbentuk.

Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memberikan beberapa tips.
• Tutupi hidung dan mulut Anda dengan tisu jika Anda batuk atau bersin. Kemudian buang tisu itu ke kotak sampah.
• Sering-seringlah mencuci tangan Anda dengan air bersih dan sabun, terutama setelah Anda batuk atau bersin. Pembersih tangan berbasis alkohol juga efektif digunakan.
• Jangan menyentuh mulut, hidung atau mulut Anda dengan tangan.
• Hindari kontak atau berdekatan dengan orang yang sakit flu. Sebab influenza umumnya menyebar lewat orang ke orang melalui batuk atau bersin penderita.
• Jika Anda sakit flu, CDC menyarankan Anda untuk tidak masuk kerja atau sekolah dan beristirahat di rumah.
Pergantian nama
Penamaan jenis penyakit ini dianggap salah oleh berbagai kalangan, karena telah membuat salah tafsir masyarakat - bahwa babi dapat menularkan penyakit ini kepada manusia. Untuk itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengganti nama penyakit ini dengan Influensa A (H1N1) mulai 30 April 2009 lalu.Virus strain baru flu babi (swine flu) memang bisa mematikan. Apalagi virus strain baru bisa menyebar dengan cepat. Sebabnya, tak seorang pun punya kekebalan alami terhadap virus baru ini. Dan butuh waktu beberapa bulan untuk mengembangkan vaksinasi virus ini.

Published by admin on 19 Jun 2009

Beternak Babi


Published by admin on 11 Jun 2009

Mengapa Harus Herbal

Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi (jamur), yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain.  Beberapa antibiotika bersifat bacteriostatic yaitu zat yang menghambat pertumbuhan bakteri lain, dan beberapa yang bersifat bactericidal yaitu zat yang dapat membunuh bakteri lain. Cara kerja antibiotika terhadap mikroorganisme dibagi dalam empat kelompok yaitu : dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri seperti penicillin dan bacitracin, mempengaruhi pada membran sel seperti polymyxin dan novobiocin, menghambat sintesa protein seperti tetracyclines, Macrolides, Virginiamicin (streptogramins) dan streptomycin dan mempengaruhi metabolisme asam nuleus seperti griseofulvin (William, 1996). Pada sistem produksi babi berkembang cukup banyak antibiotika dan zat aditif lain yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan dan meningkatkan efisensi pakan, lebih kurang ada 11 antibakteri dan antifungi yang ditambahkan dalam ransum babi diantaranya adalah bacitracin, virginiamicin, chlortetracycline, dynafac, mycostatin, oxytetracycline, oleandomycin, penicillin, streptomycin, bambermycins, tilmicosin dan tylosin.

Penggunaan antibiotika sebagai Growth Promotor pada Babi

Selama 50 tahun penggunaan antibiotika didalam pakan ternak telah meningkatkan pendapatan peternak, diantaranya konversi pakan yang rendah, pertambahan berat badan harian yang tinggi. menemukan pemberian antibiotika 100 g/ton aureomycin 50 g/ton aureomycin dalam ransum babi lepas sapih sampai dengan dipotong menunjukkan efek yang positif terhadap pertumbuhan harian dan kualitas karkas (Kendall et al. 2000). Pemberian antibiotik pada anak babi berawal dari minggu pertama setelah dilahirkan, kolostrum diperoleh dari induk untuk melawan mikroorganisme yang ada disekitarnya, sampai umur tiga minggu, produksi antibodi ini menunjukkan penurunan atau tidak ada, sedangkan anak babi sampai umur lima sampai enam minggu, belum menunjukkan pembentukan antibodi sendiri, maka dengan itu fase tiga sampai lima minggu pada anak babi merupakan fase rentan penyakit. Ditambah lagi pada minggu awal ini anak babi banyak mengalami stress karena tatalaksana seperti kastrasi, penyapihan, suntik anemia, tanda telinga, stres iklim dan keberadaan mikroorgnisme yang ada. Sehingga pada masa ini perlakuan antibiotika sangat membantu sekali pada pertumbuhan anak babi (Hyun et al. 1998)

Virginiamicin adalah antibiotik yang memiliki kekuatan 15 kali lebih efektif dibanding penicillin dan 125 kali lebih efektif dibanding dengan zinc bacitracin, stabil dalam kondisi asam lambung, daya kerja pada babi sangat nyata dapat meningkatkan pertambahan bobot badan 5 – 15%, dan menurunkan konversi ransum 5 – 14 %, dan umur mencapai bobot potong 7 hari. Menurut brosur penggunaan virginiamicin pada ransum babi dari lepas sapih sampai dengan umur 4 bulan adalah 5 - 50 ppm, pada umur potong 6 bulan 5 - 20 ppm dan untuk induk menyusui 5 – 50 ppm, akan memperoleh pertambahan bobot badan harian babi grower 632 g/hari dan finisher 836 g/hari dengan konversi ransum 3,3 serta persentase karkas 79,4 (Kalbe Farma, 2006).

Beberapa hasil penggunaan virginiamicin dilaporkan oleh Anadon dan Larranaga (1999) bahwa Streptogramines atau dikenal dengan virginamicin merupakan antibiotika yang membunuh bakteri dengan cara menghambat sintesa protein. Post dan Songer (2004) melihat effek virginiamicin konsentrasi 16 μg/mL secara invitro, dapat membunuh Clostridium difficile penyebab penyakit enteritis pada anak babi yang diperoleh dari feses induk babi yang sedang menyusui. Dierick et. al. (2003) melaporkan virginiamicin dosis 20 ppm dapat mengurangi produksi NPN yang dihasilkan oleh E. coli, S. faecalis, L. acidophilus and L. fermenti dari deaminasi dari asam amino

Residu dan Resistensi Antibiotik

Sejak ditemukannya antibiotika oleh Alexander Fleming pada tahun 1928, antibiotika telah memberikan kontribusi yang efektif dan positif terhadap kontrol infeksi bakteri pada manusia dan hewan. Penggunaan antibiotika dalam pakan oleh peternak babi sebagai perangsang pertumbuhan (growth promotor) dan mencegah disentri pada babi muda, telah menambah pendapatan peternak akibat peningkatan efisiensi pakan, dengan cara mempengaruhi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit dan penghasil racun didalam saluran pencernaan babi, sehingga mengurangi konsumsi pakan karena dinding usus menjadi tipis untuk mengabsorbsi zat makanan (Hathaway et al., 1996).

Penggunaan senyawa antibiotika dalam ransum ternak telah menjadi perdebatan sengit para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan bagi konsumen seperti residu dan resistensi. Survey AVA Singapore menemukan daging babi dari RPH di Indonesia mengandung residu antibiotika sebesar 53,7% dan 3,04% melebihi batas minimum level. Rusiana (2004) menemukan 80 ekor ayam broiler di pasar Jabotabek 85% daging dan 37% hati tercemar residu antibiotika tylosin, penicilin, oxytetracline dan kanamicin. Nastassia dan Sinaga (2006) Menemukan terdapat residu antibiotikaa golongan penisilin dan tetrasiklin pada hati babi sebesar 98% dari sampel yang diambil di Pasar Bandung Jawa Barat. Samadi (2004) melaporkan di North Carolina (Amerika Serikat) penggunaan antibiotika terus menerus pada unggas mengakibatkan bakteri Escherichia coli resisten terhadap Enrofloxacin. Di Cina diketemukan bahwa anak kandang 214 orang yang terkena inveksi Streptococcus suis tidak mengalami kesembuhan dengan menyuntikkan antibiotika Penisillin diduga mikroorganisme tersebut telah mengalami resistensi, dari 214 orang yang terkena inveksi 39 orang meninggal dunia. Hamscher (2003) menemukan debu yang berasal dari bedding, pakan dan feses peternakan babi di Jerman 90% dari sampel yang diambil mengandung 12,5 mg/kg residu antibiotika tylosin, tetracyclines, sulfamethazine dan chloramphenicol, kontaminasi udara ini akan mengganggu pernapasan hewan atau manusia yang hidup disekitar kandang. Nijsten et al. 1994 melakukan pengujian berbagai resistensi antibiotika terhadap Escherichia coli yang diisolasi dari feses peternak babi dan babi yang dipeliharanya, diperoleh resisten Escherichia coli terhadap berbagai macam perlakuan antibiotika (Tabel 1.)

Kejadian ini dapat diterangkan bahwa penggunaan antibiotika secara extensif untuk infeksi bakteri pada hewan ternak telah menyeleksi bakteri yang resisten, kemudian ia akan mentransfer resistensi tersebut ke bakteri lain, transfer resistensi bakteri tersebut berlaku juga antar berbeda spesies, hewan ke manusia atau sebaliknya (Levy et al.1988).

Tabel 1 Resistensi E. Coli yang Berasal dari Feses Babi dan Peternak Babi

terhadap Bebera Antibiotika

Jenis Antibiotika

Resistensi

Babi

(%)

Resistensi

Peternak Babi (%)

Amoxycillin

Apramycin

Amoxycillin/clavulanic acid

Chloramphenicol

Nitrofurantoin

Nalidixic acid

Neomycin

Oxytetracycline

Streptomycin

Sulphamethoxazole

Trimethoprim

25

0

0

13

8

0

7

57

71

45

16

28

0

0

7

3

2

3

32

34

35

10

Penggunaan antibiotik tersebut yang terus menerus mengakibatkan terjadinya resistensi contohnya recomendasi penggunaan antibiotic dalam pakan pada tahun 50an adalah 5 – 10 ppm sekarang telah meningkat sepuluh sampai 20 kali lipat. Akibatnya beberapa negara sudah melakukan pelarangan penggunaan antibiotic pada pakan ternak.

Yang lebih menarik dan mengejutkan adalah hasil dari penelitian Salyers (2001) membandingkan resistensi Strain Bacteroides mikroorganisme perut manusia tahun 1970an sampai 1990an diperoleh resistensi antibiotika tetrasiklin sangat signifikan dari 23% pada awal tahun 1970an menjadi 80% di tahun 1990an, peningkatan tersebut disebabkan karena bahan makanan yang dikonsumsi masyarakat sekarang telah mengubah mikroorganisme yang hidup dalam system pencernaannya, contoh babi yang dipelihara dengan pemberian antibiotika dalam pakan yang cukup besar selama dia hidup, mengakibatkan bakteri yang hidup didalam system pencernaan babi menjadi resisten, kemudian babi tersebut dipotong dan dikirim kepasar dan bakteri tersebut menempel pada daging kemudian dikonsumsi manusia masuk kedalam sistem pencernaan kemudian merubah mikroorganisme dalam usus.

Maka dengan itu Komisi Masyarakat Uni Eropa sejak tanggal 1 Januari 2006 (Regulasi No. 1831/2003) penggunaan antibiotika misalnya Avilamycin, Avoparcin, Flavomycin, Salinomycin, Spiramycin, Virginiamycin, Zn-Bacitracin, Carbadox, Olaquindox, dan Monensin tidak dapat digunakan dalam ransum ternak. Pembatasan penggunaan zat aditif tersebut dalam ransum ternak, di beberapa negara eropa telah dilarang lebih awal, seperti Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, dan Jerman tahun 1996.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari pengganti antibiotika sebagai growth promotor, karena tuntutan konsumen akan produk peternakan yang sehat, aman dan bebas dari residu berbahaya dengan motto “Feed quality for food safety”. Beberapa usaha alternatif pengganti antibiotika sebagai growth promotor diantaranya adalah penggunaan prebiotik, asam-asam organik, minyak essensial (essensial oil) dan berbagai jenis enzim, senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak. Saat ini dikenal lebih kurang 2600 jenis minyak esensial yang dihasilkan melalui ekstraksi berbagai jenis tanaman, yang mempunyai senyawa bioaktif sebagai antioksidan, antibiotika, meningkatkan nafsu makan, sekresi kelenjar-kelenjar pencernaan dan kekebalan tubuh, untuk itu negara kita mempunyai peluang yang cukup besar karena kaya akan keanekaragaman sumber daya alam hayati ini. Kunyit dan Temu Lawak salah satunya tanaman rempah kita yang memiliki bahan aktif berupa curcumin dapat meningkatkan sekresi kelenjar liur, empedu, lambung, pancreas dan usus. Selain itu curcumin juga mempunyai kemampuan sebagai antibakterial karena berbentuk senyawa fenol yang dapat mengganggu pembentukan membran sel dari beberapa bakteri patogen seperti Salmonella dan Escherichia coli.

Beberapa hasil penelitian pemberian curcumin selain dapat meningkatkan produksi ternak juga dapat menghambat pertumbuhan beberapa mikroorganisme yang tidak diinginkan seperti antibiotika. Al-Sultan (2003) memberikan tepung kunyit sebagai pakan tambahan kepada ayam broiler dengan dosis 0,25, 0,5 dan 1% diperoleh bahwa pemberian tepung kunyit 0,5% memberikan hasil yang terbaik dengan pertambahan bobot badan harian 1344,5 g/h dan konversi ransum 2.08 juga meningkatkan jumlah sel erythrocytic dan and leukocytic. Juga Curcumin dapat menurunkan pembentukan gas didalam usus halus yang berasal dari deaminasi dari asam amino dan degradasi dari urea oleh bakteri E. coli, S. faecalis, L. acidophilus and L. Fermenti (Kiso et al., 1983)

Published by admin on 22 May 2009

Nasib Laboratorium KPBI dan Mahasiswaku

A. Visi Laboratorium dan Teaching Farm KPBI

Perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi saat ini sudah tidak melihat batas wilayah, daerah atau negara, informasi atau penemuan ilmu dibidang peternakan dan pertanian begitu cepat masuk dan keluar melalui media masa, sehingga penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh negara maju begitu cepatnya menyebar kenegara berkembang yang tidak terkontrol langsung digunakan oleh petani atau peternak awam di negara kita, sehingga banyak terjadi kerugian besar karena belum tentu teknologi tersebut efektif dan baik dengan suhu, kelembaban dan konsentrasi mikroorganisme di negara kita. Sehingga diperlukan SDM yang kuat dan cerdas mengikuti perkembangan teknologi ini.

Saat ini banyak keluarga yang mengalami krisis ekonomi baik karena orang tuanya di PHK, sedangkan anak mereka masih kuliah atau ingin menyelesaikan tugas akhinya. Suatu penelitian untuk tenak potong kambing, babi dan sapi tidak cukup uang 30 juta untuk sekali penelitian apalagi sampai dengan uji karkas daging, apakah mereka langsung drop out atau gagal ditengah jalan terpaku pada nasib menjadi orang miskin, banyak mereka yang pintar secara intelektual, tapi miskin secara ekonomi, inilah yang menjadi beban kami para pendidik, bagaimana caranya meluluskan mereka dengan tidak mengurangi nilai ilmiah yang dihasilkan maka dengan itu. Pembangunan laboratorium dan teaching farm ini telah banyak menghasilkan meluluskan generasi bangsa ini yang pintar tapi terbatas secara ekonomi. Bila kami renungkan saat ini setelah 10 tahun berlalu dari khabar-khabar mereka yang lulus, kadang air mata menetes dimana mereka telah hidup dan berkarya dan di daerah mereka masing-masing di negara ini.

Pemikiran yang positif dan keinginan hati yang murni ditengah Keterbatasan Sumber Dana maka kami mahasiswa dan saya dosen membuat suatu Laboratorium dan Teaching Farm langsung dipeternak yang telah kita uji baik luas lahan, jarak dan ekosistem yang ada masih layak. Marila kita sama-sama membuka hati nurani yang murni, untuk membangun negeri ini yang sedang sakit oleh krisis ekonomi dan krisis global, dengan tidak melihat siapa, apa yang mereka makan, apa warna kulit, rambut mereka karna mereka di lahirkan di negeri ini yang ingin mencapai cita-cita setinggi bintang di langit.

Banyak mereka datang dari kampung-kampung diseluruh pelosok negeri ini hanya datang bermodalkan kemauan kuat dan baju yang menempel di badan dan uang daftar hasil jual kerbau atau tanah dikampung untuk uang mendaftar setelah diterima di Univeritas Padjadjaran mereka pilih, untuk bisa makan dan hidup pokokpun mereka harus bergulat jadi pembantu di rumah makan atau menawarkan tenaga untuk mendapatkan sesuap nasi, karena kiriman orang tua yang datang hanya cukup untuk biaya kuliah saja. Sedangkan Lembaga tempat mereka kuliah mengharuskan mereka menyelesaikan tugas akhir dengan PKL ( Praktek Kerja Lapangan ) dan Penelitian yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Bila mereka datang kepada saudara sebagai dosen dengan wajah mereka yang kumal lelah, dan pakaian yang lusuh atau ada yang orang tuanya baru meninggal kena jantung karena di PHK. Apakah bisa kita jawab itu urusan saudara yang penting kau cari sendiri, jangan ganggu kenyamananku yang sedang duduk dikursi empuk ini dengan dapat gajih dari negara yang cukup untuk anakku saja…..????, suatu kemuanfikan kalau kita jawab demikian. Apapun kedudukan saudara dan jabatan saudara, hati saudara tidak akan bergoncang melihat demikian kecuali hati nurani anda telah buta dan pikiran anda sudah gelap oleh dunia ini.

Karena sayapun Sauland Sinaga sebagai dosen di Fapet 15 tahun lalu mengalami hal yang sama ketika diterima sebagai mahasiswa Fapet Unpad, merantau kejawa dengan modal semangat juang saja, saya tidak mau mengulang sejarah kepada teman-teman dan adik-adik mahasiwa mengalami seperti apa yang saya alami dahulu, sehingga saya berpikir, bertindak bagaimana saya sebagai dosen dapat memfasilitasi mereka, dengan semangat inilah maka terwujud keinginan tersebut, dengan membangun laboratorium Penelitian Ternak Babi dibawah naungan Koperasi Peternakan Babi Indonesia yang telah memiliki cabang di 22 Propinsi.

Perkembangan perekonomian dan sistem tranpsortasi darat, laut dan udara sehingga perpindahan penduduk antar daerah, kota dan negara begitu mudah dan dinamis, terbukti pertumbuhan perekonomian dan industri di Kota Bandung mengakibatkan datangnya penduduk dari berbagai suku, ras dan daerah bahkan negara lain ke kota/ adaerah ini. Mereka tinggal menetap, membeli rumah, berusaha dan berkeluarga di kota tersebut. Diketahui pula bahwa kota Bandung adalah kota pendidikan dimana banyak terdapat Universitas dan Sekolah tinggi sehingga meningkatkan orang yang datang dari daerah lain untuk menuntut ilmu di daerah ini, untuk tahun 2008 saja mahasiswa Fapet Unpad yang berasal dari luar daerah sekitar 40 orang terutama dari Sumatra, visi mereka untuk menuntut ilmu di bidang peternakan yang prioritasnya adalah Ternak Babi karena mereka rata-rata di sana memelihara ternak babi sebagai usaha kehidupan sehari-hari. Maka pada tahun ini yang mengambil Mata Kuliah Produksi Babi berjumlah 78 orang (absen kuliah terlampir) mereka sekarang mengadakan kegiatan praktikum di Laboratorium dan Teaching Farm ini.

Ilmu Peternakan adalah Ilmu Terapan, yang menuntuk keahlian praktis dan analisa, selama praktek dan perkuliahan mereka harus bisa menyusun ransum, perkawinan, kebiri, pencegahan penyakit, sampai dengan pemotongan menjadi karkas, maka selama perkuliahan diperlukan sarana yang memadai sehingga mereka bisa melakukan (psikomotorik) dan analisa usaha ternak babi. Maka dengan adanya sarana ini mahasiswa sangat diuntungkan untuk lebih memahami produksi ternak babi, yang di dunia merupakan konsumsi daging nomor satu, sehingga ketika mereka lulus nanti yang tidak dapat dihindari di dalam maupun diluar negeri mereka akan menghadapi apa yang dinamakan ternak babi.

Aku bangga hidup di kota Bandung ini telah 19 tahun, bahkan makanankupun sudah seperti orang sunda, aku sudah suka lalab dan sayur asem yang dulu aku benci karena ingat hewan piaraanku di kampung yang makan daun tersebut, akan tetapi ada satu pepatah yang aku ingat yang diberikan oleh orang tua bijaksana di tempat kosku dia berkata orang sunda yang sejati adalah harus memegang filsafat hidup : “ Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh” semboyan inilah yang sampai sekarang telah menjadi pendoman dan semangat hidup saya selama mengajar di Fakultas Peternakan Unpad, cukup menarik dan indah sekali selama saya terapkan di kehidupan ini, dimana kita harus saling mengasah supaya lebih pintar dan bijaksana, ditambah kita saling mengasihi dan mengasuh supaya dapat tumbuh dan berkembang sama-sama dengan baik, saya yakin bila kita mengenal prinsip ini apapun suku saudara dan bahasa saudara anda akan memahami apa fungsi kita hidup di dunia sementara ini.

Sebenarnya bila dilihat konsumsi daging babi dari pendatang dari suku Batak, Bali, Irian, Timor, Ambon, bahkan Bangsa Keturunan diketahui bahwa konsumsi suku-suku diatas akan daging babi sangat tinggi dan bahkan babi merupakan bagian dari budaya mereka dalam menjalankan agama maupun adat istiadat, suatu contoh suku batak mereka menggunakan ternak babi untuk acara adat melahirkan, baptis, kawin dan bahkan mati harus menghidangkan daging tersebut. Suku bali bila mereka beribadah ke pure harus mempersembahkan daging babi, hal inilah mengakibatkan jumlah ternak Babi yang dipotong setiap hari yang dipotong di RPH Ciroyom rata-rata 60-100 ekor/hari, atau 1800 – 3000 ekor per bulan, bisa meningkat dua sampai tiga kali lipat bila hari raya, atau sepuluh tahun kedepan.

Bila babi potong ini berat rata-rata 90 – 100 kg/ekor dengan jumlah karkas 75% dari berat potong maka diperoleh konsumsi harian daging babi di Bandung dan sekitarnya 200 ton daging babi perbulan. Bila harga berat hidup babi tersebut Rp. 17.000/kg maka diperoleh perputaran uang untuk perdagangan babi tersebut sekitar Rp. 153 juta/ perhari atau 4,6 miliar perbulan, dengan keuntungan kira-kira 1,2 miliar/bulan atau 14,4 miliar/tahun. Sebenarnya ini adalah peluang pasar dan ekonomi yang hilang akibat kebodohan dan ketikdaktahuan para pembuat kebijakan. selama ini 100% babi potong tersebut didatangkan dari Jawa Tengah dengan rata-rata 2500-3000 ekor babi hidup perbulan.

Keberadaan peternakan babi di Kabupaten Bandung Barat pada dasarnya sudah tidak ada, suatu contoh tahun 70-80an peternakan babi rakyat yang berada di Cimahi ratusan jumlahnya, karena pertumbuhan kota dan RUTR mereka ditempatkan di Bandung Utara yang diperuntukkan untuk pertanian lahan kering dan peternakan, 10 tahun kemudian ketidak mampuan pemerintah daerah mengatur Tataruang dan ketidak berpihakan pemerintah pada petani dan peternak kecil sehingga akhir tahun 90an tinggal 10 – 15 peternak yang pada akhirnya sekarang Tahun 2000 tinggal satu yang dikenal dengan Laboratorium dan Teaching Farm KPBI, yang dijadikan tempat pendidikan dan pelatihan para mahasiswa peternakan dan dokter hewan di jawa barat dan negara ini.

Marilah kita jernih berpikir dan melihat semua aspek kehidupan masyarakat yang beragam budaya, suku, agama dan pola makan yang berbeda di negeri ini, mereka juga telah hidup, bekerja, berkarya membangun dan membayar pajak pemerintah, apakah kelompok ini bukan milik dan warga kita, apakah mereka sebagai kaum perasan dan pendatang saja, kemerdekaan bangsa kita bukanlah perjuangan satu kelompok suku saja. Mereka berjuang sama-sama tanpa melihat suku, agama, bahasa dan ras untuk melepaskan diri dari penderitaan dan penjajahan sampai dengan titik darah penghabisan. Mereka punya hak untuk tinggal di tanah air tumpah darahnya yang berajaskan Pancasila dan UUD45 yang dibuat oleh para pendiri bangsa. Akankah kita ulangi lagi penjajahan bangsa ini yang dilakukan oleh kita sendiri, marilah kita sama-sama memecahkan persoalan bangsa ini dari semua segi dan sendi kehidupan dengan tidak memikirkan kelompok atau sentimentil pribadi karena kita adalah satu bangsa, satu bahasa dan satu tujuan yaitu Indonesia yang makmur adil dan sentosa.

B. Misi yang Dilaksanakan Laboratorium & Teaching Farm KPBI

Kab. Bandung Barat

Misi yang telah dihasilkan Laboratorium dan Teaching Farm selain terdapat dalam gambaran diatas bila dirangkum ada beberapa poin penting adalah sebagai berikut,

1. Tempat mencari dan menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat dan bangsa ini seperti tehnik budidaya, pengolahan limah, pengolahan lahan atau tanah, Integrate Farming, satwa harapan dan lain lain.

2. Sebagai sarana penelitian untuk meyelesaikan tugas akhir mahasiswa di seluruh Universitas di Indonesia rata-rata pertahun ditempat ini meluluskan 40 orang D3, 12-20 orang S1, 2-4 orang S2 dan S3 dari seluruh Indonesia baik dari Univeritas di jawa maupun diluar Pulau Jawa. Karena setiap 4 bulan sekali dilakukan penelitian jadi setiap tahun dua sampai tiga kali periode penelitian bulan Januari sampai Mei 2009 ini saja telah meluluskan 3 orang S1 IPB dan 4 orang S1 Unpad, Saat ini saja sedang dilakukan penelitian, oleh mahasiswa untuk tugas akhir 2 Orang S2 dan S3 dari Pascasarjana IPB Bogor dan 5 orang S1 dari Fapet Unpad Bandung dengan Praktek Kerja 24 orang dari Politehnik Pertanian Undana NTT.

3. Sebagai tempat praktek dan percontohan atau model bagi peternak rakyat

yang ada di negara ini seperti daerah indonesia timur dan daerah lain.

4. Sebagai alat uji obat-obatan bahan pakan alternatif yang beredar di masyarakat perlu di uji efektifitasnya sebelum diberikan dan digunakan oleh masyarakat umum.

5. Sebagai tempat penghidupan kerluarga disekitar kandang, saat ini kira-kira 20 kepala keluarga hidup jadi tenaga kerja di Laboratorium tersebut.

6. Sebagai sumber pupuk organik bagi petani sekitar karena pupuk yang dihasilkan cukup baik aman dan tidak dipungut biaya.

7. Sebagai sumber dana bagi kegiatan karang taruna, masyarakat sesuai dengan kemampuan dana yang diperoleh laboratorium ada.

8. Sebagai Asset Kabupaten Bandung Barat bagi daerah lain dan generasi muda, yang ditunjukkan banyak lulusan sarjana dari Laboratorium dan Teaching Farm ini. Begitu juga banyak orang datang dari berbagai daerah untuk belajar dan menggali ilmu untuk dikembangkan di daerahnya ( bisa dilihat di lampiran).

9. Sebagai Model Percontohan bagi legislatif dan eksekutif di daerah bahkan di luar negeri, kita sudah sering menerima tamu dari anggota DPR untuk studi banding dari Propinsi dan Kabupaten seperti Riau, Irian Jaya atau atau Papua, Sumut, NTT, Jawa Tengah dll. Kita sering dapat pujian baik dari tamu-tamu tersebut tentang kesuksesan membuat peternakan yang indah dan bersih begini.

10. Laboratorium ini juga dipakai tempat kunjungan pelajar dari TK, SD, sampai dengan pasca sarjana berbagai universitas di Indonesia, ingin melihat dunia peternakan pertanian sekitar mengenai ternak babi organik yang berwawasan lingkungan.

C. Sarana Laboratorioum dan Teaching Farm KPBI Kab. Bandung Barat

Adapun Sarana yang telah ada dan dibangun saat ini adalah :

1. Kandang Induk dan Individual.

Kandang Induk sebanyak 200 ekor untuk penelitian Reproduksi dan Genetika disini dilakukan penelitian sejak induk tersebut dikawinkan sampai dengan anak yang dilahirkan disapih jumlah ini sesuai dengan kaidah statistika penelitian.

Kandang Individu terbuat dari besi baja dengan tempat minum stainles steel kapasitas 25 ekor, disinilah dilakukan banyak penelitian makanan ternak dan obat-obatan yang akan beredar di masyarakat atau mencari bahan makanan ternak alternatif seperti hasil limbah-limbah industri makanan yang ada di bandung, seperti ampas tahu, sisa kue, susu yang sudah kadaluarsa tapi masih layak untuk ternak. Sedangkan kandang koloni digunakan untuk penelitian kelompok bangsa, pola tingkah laku makan, kawin dan genetika babi tersebut. Kandang ini terbuat dari tembok setinggi 0.5 m beratapkan seng dan genteng. Selama 3 tahun ini penelitian difokuskan pada tanaman obat-obatan yang baik untuk ternak pengganti antibiotik sebagai growth promotor.

2. Asrama Tempat tinggal Mahasiswa/i

Kapasitas Ruangan Putra dan Putri dapat masuk 20 orang, penelitian gabungan antar universitas sering dilakukan disini seperti IPB dengan Unpad dan UGM dengan mahasiswa 12 orang sehingga mereka tidak perlu lagi mengontrak di luar dan memudahkan komunikais dan pengontrol hewan ternak yang diteliti. Masyarakat, atau mahasiswa yang magang atau praktek baik dari instansi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarkat, Universitas seperti dari Jawa Tengah, Riau, Cianjur, Kupang, Papua dll telah beratus-ratus mengenyam praktek di tempat ini dengan tidak dipungut biaya sepeserpun, yang penting mereka kembali dapat menerapkan ilmunya dan membangun daerahnya.

4. Ruang Kuliah dan Diskusi

Ruang kuliah dan diskusi disediakan bagi mahasiswa dan tamu untuk tukar menukar ilmu pengetahuan, ruang ini bisa menampung 75 orang dan cukup presentatif dan disediakan infokus diskusi kelas besar. Dengan suasana pemandanganyang nyaman untuk menimba ilmu pengetahuan.

5. Rumah Potong Ternak Mini

Yang terdiri dari alat pengikis rambut, alat-alat potong, pengukur tebal lemak punggung, timbangan karkas dll, kapasitas rumah potong mini ini bisa 2 – 4 ekor per hari. Babi penelitian dipotong disini, kegiatan selama ini dilakukan adalah Fakultas Kedokteran IPB telah melakuakn penelitian Residu Pestisida dan Antibiotik pada daging disini selama satu tahun. Balai Kesehatan Veteriner Bogor dan Djogjakarta juga telah melakukan penelitian resistensi obat dan penyakit pada daging dan induk babi seperti bruselosis suis pada babi dll, sampai sekarang penelitian karkas speperti kolesterol, obat-obatan masih terus dilakukan disini. Dua tahun terakhir ini sampai sekarang telah dilakukan penelitian penggunaan tanaman rempah-rempah kita sebagai alternatif oat-obatan ternak seperti kunyit, temulawak dengan bekerja sama dengan IPB, UGM dan Unpad sebagai tuan rumah, hal ini dilakukan dosen, mashasiswa S2 dan S1 untuk menyelesaikan Studinya, Untuk tahun 2008 kemarin sampai sekarang telah dibiayai menristek untuk penelitian curcumin pada babi sebagai antibiotik alami.

6. Pabrik Pakan Ternak Babi

Yang terdiri dari mesin pembangkit listrik zenset, mesin giling ( hammer mill), Mesin mixer. Semua penelitian ransum di olah dipabrik pakan, telah banyak dihasilkan berbagai macam formula ransum yang dapat diterapkan di peternak menengah dan besar di seluruh Indonsesia, bahkan Pabrik Obat-obatan seperti Kalbe, Sanbe, Romindo Pfizer dan industri seperti Bogasari, Ceres, Suba Indah dll telah sering menggunakan fasilitas penelitian di sini untuk uji biologis dan efektifitas obat untuk kepentingan petani dan mencari pakan alternatif bagi ternak babi.

7. Unit Pengolahan Limbah.

Unit pengolahan limbah disini tidak ada setetespun yang dibuang ke sungai, semua limbah cair maupun padat diolah dengan menggunakan enzim dan prebiotik sehingga diperoleh limbah yang tidak bau dan bermanfaat bagi petani disekitar, Pupuk yang dihasilkan setiap hari kira-kira 1 ton diambil oleh petani sayur-sayuran dari parompong, cisarua, lembang bahkan garut dan tasik secara gratis, sampai saat ini berapapun banyaknya pupuk yang dihasilkan habis digunakan petani. Hal ini sangat mendukung petani kecil ditengah-tengah harga pupuk kimia seperti Urea, ZA dan TSP yang mahal.

8. Lahan Penyangga (Buffer)

Luas Total lahan pertanian dan kandang adalah sekitar 5 Ha dengan pembagian sebagai berikut 0,5 ha penggunaan lahan untuk kandang dan bangunan gudang, kantor dll, sisanya adalah lahan penyangga seluas 4,5 ha yang ditanami tanaman bunga, sayur sayuran ( Buncis, brukol, labu dll) sebagai penyerap bau dan pemanfaatan pupuk kandang yang dihasilkan, dengan lahan penyangga ini maka diperoleh jarak terdekat dengan penduduk sekitar 250 m dari kandang.

D. Biaya yang dikeluarkan untuk Pembangunan Sarana Pendukung

Semua sarana pendukung seperti kandang, gudang bahan pakan dan alat-alat laboratorium, ruang kuliah dan asrama dan lain-lain, semua ini dibangun dihitung secara bertahap memakan biaya sekitar 1,5 Miliar, investasi ini harus seoptimum mungkin untuk menghasilkan SDM lulusan mahasiswa yang handal dan cerdas terutama mahasiswa Peternakan yang belajar disini.

E. Biaya yang dikeluarkan untuk Penelitian

Setahun melakukan penelitian tiga kali (satu periode pemeliharaan sekitar 4-6 bulan) untuk satu kali penelitan diperlukan biaya untuk ternak, obat-obatan, makanan, Analisis dll rata-rata Rp 50- 60 Juta/ 4 bulan jadi setahun sekitar Rp 200- 240 Juta/ tahun. Semua biaya ini ditanggung oleh Teaching Farm KPBI, dengan menjual hasil penelitian dan produk yang hasilkan seperti ternak, pakan dan premix. Sedangkan iuran atau dana penelitian yang diberikan oleh Universitas/ Negara/ Pemerintah hanya untuk jasa bimbingan untuk dosen sebesar Rp. 60.000/orang/semester (enampuluh ribu rupiah) bukan 60.000 dolar, untuk setiap orang mahasiswa S1 sampai dengan lulus atau sidang tugas akhir, selain itu tidak ada lagi, bila dihitung perjalanan dan diskusi selama dikandang dan dilaboratorium selama 6 bulan bimbingan bukannya untung malah tekor bahkan dosen tersebut harus memakai gajinya sendiri untuk menutupi biaya tersebut makanya sampai sekarang dosenya sendiri kandidat Doktor di Pascasarjana IPB (Ir. Sauland Sinaga, M.S) hanya tinggal di rumah type 21 di Perumahan Cincin Permata Indah Warung Lobak, Soreang Kabupaten Bandung yang dikenal orang suka banjir kalau hujan deras.

Sampai sekarang dari pemerintah kabupaten bandung barat cukuplah kami mengucap syukur kalau hanya memberikan fasilitas dan dukungan bagi perkembangan ilmu pengetahuan demi mencerdaskan anak bangsa ini, adapun bantuan dana maupun alat-alat sampai sekarang, kami berterima kasih belum pernah.

F. Sasaran dan Prospek Kedepan

Sasaran dan Prospek kedepan adalah biarlah Laboratorium dan Teaching Farm KPBI ini dapat menyumbangkan sesuatu bagi masyarakat dan bangsa ini untuk menggali sumber alam dan ilmu pengetahuan, serta menciptakan SDM atau sarjana peternakan yang profesional siap terjun di persaingan bebas yang tidak dibatasi oleh batas negara serta mempunyai hati untuk membangun peternakan yang sehat utuh untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan kecerdasan.

Selama ini sarjana yang dihasilkan dari laboratorium ini telah bekerja di perusahaan swata dan pemerintahan di seluruh Indonesia ini, seperti mantan murid dari sini telah membangun peternakan di Riau, Papua, Bali, Toraja dll. Ada juga yang telah bekerja diperusahaan asing (pabrik Pakan ternak) yang sudah ke Vietnam, Thailand, Australia dan negara lain. Inilah bukti bahkwa kita harus terbuka bahwa dunia ini tidak selebar daun kelor dan harus siap dalam persaingan global.

G. Kerjasama yang Telah Dilakukan

Kerjasama yang telah dilakukan tidak dapat disebutkan satu persatu, berkat dukungan masyarkat, tetangga dan aparat desa sehingga Laboratorium dan Teaching Farm ini dapat hidup sampai sekarang. Secara garis besar kerjasama dengan pihak luar dapat dilihat pada lampiran. Secara garis besar kerjasama yang telah dilakukan adalah :

1. Tempat pelatihan, Praktek kerja dan penelitian Antar Universitas dan Institut

Yang ternama di negeri ini seperti (Unpad, IPB, UGM dll).

2. Tempat kunjungan Anak-anak TK sampai SMA di Jawa Barat.

3. Tempat Studi banding Anggota DPRD dari berbagai daerah di Wilayah

Indonesia.

4. Lembaga-Lembaga Pelatihan untuk di kirim keberbagai desa ditanah air ini.

Adapun bentuk permohonan bantuan dana untuk kegiatan kabupaten, kecamatan, dan masyarakat tidak kami masukkan karena kami merasa itu bagian dari sumbangsih keberadaan laboratorium tersebut bagi masyarakat.

H. Akhir kata

Biarlah tulisan ini dapat membuka wawasan dan hati kita untuk sama-sama duduk membangun negara yang sedang sakit ini, supaya generasi penerus kita dapat bersaing dalam persaingan global yang semakin ketat. Mari kita sama-sama bekerja, berkarya sesuai dengan kedudukan, talenta dan sumpah jabatan yang sudah dititipkan Pencipta bagi kita masing-masing untuk kesejahteraan bumi dan manusia seutuhnya.

Atas perhatian, waktu dan tenaga kami ucapkan terima kasih, Tuhan memberkati kita semua.

Renungan Kebijakan Pemerintah di Negara Pancasila ini…..!

Pemusnahan Ternak Babi Belum Diperlukan
Sabtu, 2 Mei 2009 | 11:49 WIB

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Petugas rumah karantina hewan babi, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat menyemprotkan disinfektan, Rabu (29/4). Merebaknya kasus flu babi, rumah karantina ini meningkatkan pencegahan dengan melakukan penyemprotan disinfektan dua kali sehari serta pengawasan lalu lintas ternak.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Masyarakat saat ini seakan dihantui ketakutan akan virus flu babi sehingga ada pihak yang ingin melakukan pemusnahan babi. Namun begitu, menurut Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Departemen Pertanian Darminto, pemusnahan hewan ternak ini belum diperlukan.

“Sampai sekarang belum ditemukan ada hewan ternak yang mengidap virus H1N1 yang mengakibatkan flu meksiko. Lagi pula penyakit ini ditularkan dari manusia ke manusia,” terang dia di sela acara Polemik yang digelar di Warung Daun, Jakarta (2/5).

Peternak Babi Cisarua Dipanggil Sekda

Sekretaris Daerah (Sekda) Kab. Bandung Barat, Mas Abdul Kohar telah memanggil pemilik peternakan babi di Kp. Pasiripis RT 01/RW 03 Desa Kertawangi, Kec. Cisarua, untuk melakukan pertemuan di ruang sekda, Kamis (16/7). Pertemuan yang akan membicarakan rencana penutupan peternakan babi ini melibatkan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kab. Bandung Barat, Satpol PP, dan Muspika Cisarua.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Disnakan Kab. Bandung Barat, Adiyoto di Padalarang, Selasa (14/7).

“Surat undangannya sudah dikirimkan pada Selasa siang. Mudah-mudahan pemilik peternakan babi bersedia datang memenuhi undangan kami,” kata Adiyoto.

Adiyoto menyatakan, pemilik peternakan babi di Pasiripis kurang kooperatif. Peternakan babi di Cisarua itu milik tiga orang, yaitu M. Eddy, Surya Tedja, dan Sinaga. Setiap kali masalah penutupan ditanyakan, mereka saling lempar tanggung jawab.

“Mestinya pertengahan Juni lalu peternakan babi ini sudah harus tutup, sesuai dengan kesediaan Eddy, salah seorang pemilik peternakan babi. Tapi nyatanya, hingga sekarang tak kunjung tutup. Malah tadi (kemarin, red) saat saya masuk ke dalam lokasi peternakan, ada indukan babi yang melahirkan. Kalau terus dibiarkan seperti ini, bisa-bisa populasinya bertambah kembali,” papar Adiyoto.

Dijelaskannya, inti pertemuan yang akan digelar besok yakni untuk membicarakan rencana penutupan. Ada beberapa opsi yang akan ditawarkan, dipindahkan keluar dari wilayah Kab. Bandung Barat, atau dipotong secara massal di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ciroyom Kota Bandung.

“Pemindahan maupun pemotongan babi ditanggung penuh pemilik peternakan babi, bukan tanggung jawab Pemkab Bandung Barat. Mereka itu pemiliknya, masa Pemkab Bandung Barat yang harus mengeluarkan biayanya. Sekali lagi saya sampaikan, Bupati Bandung Barat, Abubakar sudah menegaskan bahwa wilayah Kab. Bandung Barat harus bebas dari babi,” tegas Adiyoto.

Sebelum pertemuan, Disnakan Kab. Bandung Barat bersama Kepala Satpol PP Kab. Bandung Barat, Sadar Kusnadi dan Camat Cisarua, Euis Wiarsih meninjau lokasi peternakan, kemarin. Namun dalam inspeksi mendadak tersebut, pemilik peternakan tidak berhasil ditemui. “Saya telepon Pak Sinaga juga tak diangkat-angkat,” katanya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kab. Bandung Barat sudah menyiapkan 5.000 butir Tamiflu. Tamiflu tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk pertolongan pertama menghadapi serangan virus H1N1 yang kemudian lebih dikenal dengan flu babi.

“Seluruh Tamiflu didistribusikan ke 31 puskesmas yang ada di Kab. Bandung Barat. Untuk ke depan, mudah-mudahan puskesmas juga sudah bisa menangani tindakan pertama penanganan pasien suspect H1N1,” kata Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kab. Bandung Barat, Tedy Sulaksana.

Peternak Babi Cisarua Minta Waktu Satu Bulan

Kamis, 30 April 2009 | 10:11 WIB

CISARUA, TRIBUN - Peternak yang tergabung dalam Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI) dan memiliki peternakan di  Kampung Pasir Ipis Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua, akhirnya menutup peternakannya, Rabu (29/4).

Penutupan itu atas desakan dari Camat Cisarua, Euis Warsiah, bersama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Bandung Barat yang mendatangi peternakan. Namun peternak meminta waktu satu bulan untuk proses penutupan.

Euis mengatakan, peternakan itu hanya berizin untuk penelitian, tapi disinyalir lebih banyak sisi bisnisnya. Hal itu dilihat dari jumlah populasi babi yang terlalu banyak. Saat diperiksa ada 695 ekor babi di peternakan Kampung Pasir Ipis itu.
“Untuk mengantisipasi wabah flu babi saya minta peternakan segera dikosongkan. Saya minta hitam di atas putih mengenai pernyataan penutupan ini,” tegas Euis saat bertemu dengan pihak KPBI.

Wakil Ketua KPBI, Mochamad Edi, mengatakan di peternakan tersebut hanya terdapat sekitar 200 ekor babi.

“Itu pun untuk penelitian dari universitas, yang diteliti itu masalah limbah, dan sisi ekonominya,” tutur Edi, ketika ditemui di ruangan kantor peternakan. Dikatakannya, ke 200 ekor babi itu dalam kondisi sehat.

Edi berpendapat bahwa flu babi itu mewabah di negara yang memiliki 4 musim. “Di sini kan cuma ada dua musim, musim hujan dan musim kemarau saja,” timpalnya.

Sebagai antisipasi dari serangan penyakit, pihaknya selalu melakukan vaksinasi, penyemprotan disinfektan ke kandang dan hewan, serta menjaga mutu kebersihan pakan.

“Setiap bulan ada petugas dari Dinas Peternakan yang memeriksa keadaan peternakan baik itu kebersihan kandang dan hewannya,” tutur Edi sambil menyebutkan luas seluruh peternakan seluas lima hektare dan yang digunakan untuk peternakan seluas 2 hektare.

Di Kabupaten Bandung, pemerintah daerah setempat tidak khawatir dengan kemungkinan mewabahnya virus flu babi. Karena pemerintah tidak mengizinkan berdirinya peternakan babi.

“Kalau kita kasih izin, siapa konsumennya? Apalagi nanti kalau ada warga yang complain karena baunya. Sampai saat ini kita memang tidak mengizinkan,” jelas Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan Kabupaten Bandung, Euis Rohayani saat ditemui kemarin.
Ia mengimbau masyarakat Kabupaten Bandung untuk tidak panik terkait virus flu babi. Euis juga menegaskan, pengkonsumsi daging babi tidak perlu risau karena penularan flu babi tidak melewati daging. Virus itu bisa mudah tertular jika menyentuh hewan yang terinfeksi atau melalui udara karena sifatnya yang seperti penyakit influenza.

Sementara itu, peternak babi di Cigugur Kabupaten Kuningan mulai resah dengan isu penyebaran virus flu babi. Secara ekonomi juga isu itu akan berdampak. “Otomatis, kami tidak dapat memanen. Jika sudah begitu, kami mau bagaimana,” ujar Aang, seorang peternak babi, kemarin.

Ia khawatir, jika flu babi sudah menyebar di tanah air, kondisi perdagangan daging babi dapat seperti daging ayam, ketika flu burung merebak. Aang, mengatakan, saat flu burung, penjualan daging ayam turun drastis. “Nah, kondisi itu pun kami khawatirkan,” sambungnya.

Di Kabupaten Tasikmalaya, petugas menyeterilkan sebuah tempat penampungan babi di belakang Tempat Pemotongan Hewan (TPH) Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya.

Ada 21 ekor babi yang ditampung di tempat itu. Seluruh bagian lantai dan dinding sekat disemprot dengan cairan antioksidan.

“Mulai sekarang proses masuknya babi diperketat pengawasannya. Jika diketahui ada yang sakit akan ditolak masuk untuk menjaga hal yang tidak diinginkan,” kata Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya, Ir H Budi Utarma. (fam/zz/win/stf)

LAB BABI DI CISARUA DIMINTA DITUTUP PDF Print E-mail
Tuesday, 28 April 2009 14:04
Ngamprah, (PR).-
Guna mengantisipasi berjangkitnya flu babi di kawasan Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bandung Barat drh. Adiyoto akan meminta pihak Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengurangi jumlah babi bahkan menutup sementara tempat penelitian babi di kawasan Cisarua, KBB. Hal itu dikemukakan Adiyoto seusai rapat koordinasi di rumah dinas Bupati KBB di Ngamprah, Senin (27/4).
“Saya kurang tahu jumlahnya. Kalau masih ada, itu akan berisiko. Virus flu babi sama parahnya dengan virus flu burung. Kalau sudah endemi di suatu daerah itu akan sulit dikendalikan,” ungkapnya.

Adiyoto menegaskan, wilayah KBB dipastikan aman dari wabah penyebaran virus H1N1 atau virus flu babi. Sebab, dari lima belas kecamatan di KBB tidak tercatat sebagai sentra peternakan dan pemotongan babi. Selain itu, mayoritas penduduk KBB bukan konsumen daging babi. Hal itu disebabkan pada umumnya masyarakat memeluk agama Islam.

Namun demikian, kewaspadaan terhadap penularan virus flu babi perlu segera dilakukan. Pemerintah KBB akan memberikan surat edaran ke tiap kecamatan mengenai waspada flu babi terutama untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Menurut Adiyoto, lalu lintas babi bukan berasal dari wilayah barat yang akan melintasi kecamatan seperti Cipatat maupun Lembang. Babi yang masuk ke Kota Bandung berasal dari wilayah timur. “Setahu saya, peternakan babi itu kebanyakan di Jawa Tengah yaitu di Solo,” katanya.

Karantina

Kepala Dinas Kesehatan Jabar dr. Hj. Alma Lucyati mengatakan, pemerintah pusat sudah menetapkan daerah pemasukan babi. Babi di wilayah-wilayah tersebut sudah dikarantina.

Alma menjelaskan, peningkatan kewaspadaan terhadap orang-orang yang baru datang, terutama dari daerah pandemi flu babi (swine flu) sangat diperlukan. Menurut dia, meskipun belum dilaporkan terjadi penularan dari manusia ke manusia, kewaspadaan sangat penting sebagai antisipasi. Oleh karena itu, ungkap dia, perlu koordinasi lintas sektoral untuk mencegah flu babi masuk ke Jabar atau Indonesia.

Sementara itu, Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung RSHS dr. H. Hadi Jusuf, mengatakan, Flu babi disebabkan virus influenza A, strain H1N1, tapi strain-nya diduga strain baru campuran flu babi, Avian influenza (AI), dan Human influenza. “Beberapa virus influenza bisa bercampur karena babi reseptornya khusus, hampir sama dengan manusia dan golongan unggas. Jadi bisa terjadi reassortment AI, Human influenza, swine flu. Artinya genetik ketiga virus tersebut bergabung membuat strain yang baru di babi,” katanya.

Di Indonesia, ujar Hadi, belum terjadi penularan dari manusia ke manusia. Namun, yang ditakutkan kalau sudah efektif menular ke manusia dari hewan, maka menjadi pandemik seperti yang terjadi pada kasus AI. Dari Garut, Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Kab. Garut Dede Rohmansyah mengemukakan, pihaknya akan melakukan deteksi penyakit yang serupa dengan influenza (influenza like illness/ILI) secara intensif. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi munculnya flu babi yang membahayakan dan dapat menyebabkan kematian.

Penyakit flu babi merupakan penyakit influenza yang disebabkan virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi, dengan kemungkinan penularan antarmanusia. Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza (influenza like illness-ILI) dengan gejala klinis demam, batuk, pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat atau sesak napas, mungkin disertai mual, muntah, dan diare.

Virus H1N1 sebenarnya biasa ditemukan pada manusia dan hewan terutama babi, tapi keduanya memiliki karakteristik berbeda, begitu juga dengan virus flu burung H5N1 meskipun sama-sama virus influenza tipe A. (A-183/A-158/A-163)***

Warga Cisarua Menutup Paksa Peternakan Babi

Metro Siang / Nusantara / Minggu, 26 Juli 2009 13:02 WIB

Metrotvnews.com, Bandung: Ratusan warga Desa Jambudipa dan Kertawangi, Cisarua, menutup paksa tiga peternakan babi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ahad (26/7). Tindakan warga itu dikarenakan khawatir terjadinya penyebaran virus flu babi.

Penutupan paksa itu dilakukan setelah pemilik peternakan masih tetap menjalankan usahanya. Padahal, petugas Dinas Peternakan Kabupaten Bandung Barat menyegel peternakan tersebut terkait penyalahgunaan izin operasi. Awalnya, izin usaha itu hanya untuk objek penelitian. Namun, pemilik menyalahgunakan izin usaha itu menjadi peternakan.

Warga mengeluarkan ternak babi dan mengosongkan kandang. Warga sempat kesal karena seorang pemilik peternakan menutup-nutupi usaha ternaknya dengan menyatukan babi dan sapi dalam satu kandang. Karena kesal, warga menendang kandang babi. Kemudian, babi tersebut dipaksa naik ke truk yang telah disediakan. (***/FHD)

Disnakan Tinjau Lab. Babi di Cisarua

NGAMPRAH, (PRLM).- Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) akan meninjau laboratorium babi milik Universitas Padjadjaran di Cisarua. Kepala Disnakan KBB, drh Adiyoto mengatakan, informasi sementara, laboratorium babi itu berjarak sekitar 500 meter dari permukiman penduduk. Namun, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, lab. tersebut tetap harus ditinjau.

“Kami tidak menginginkan, virus flu babi menyergap babi-babi yang ada dilaboratorium. Langkah awal, kami meminta pihak pengelola lab. untuk mengurangi jumlah babi yang biasa digunakan penelitian. Permintaan ini, dimaksudkan untuk meminimalisasi penyebaran virus flu babi,” ujarnya.

Menurut Adiyoto, virus flu babi cenderung menyerang babi-babi di peternakan. Kecil kemungkin virus tersebut dibawa oleh babi liar. Karena dibawa oleh babi-babi di peternakan, virus tersebut jadi mudah menular ke manusia. Virus flu babi sama berbahanya dengan virus flu burung. (A-183/A-147)***

Penulis:
Warga Mengamuk di Peternakan Babi di Cisarua

kcm

Sabtu, 25 Juli 2009 | 12:02 WIB

CISARUA, TRIBUN-Puluhan orang yang mengaku warga Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mengamuk di sebuah peternakan babi di Desa Kertawangi, Sabtu (25/7).

Mereka mengobrak-abrik kandang di peternakan babi yang ada di sana. Suasana sangat mencekam.

Puluhan ekor babi yang masih ada di kandang dikeluarkan secara paksa. Menurut warga, itu sebagai tindak lanjut dari kesepakatan antara pemilik peternakan, Edi, dengan pemerintah kecamatan pada bulan Maret 2009. Semula tercapai kesepakatan kalau pengosongan babi paling lambat dilakukan sampai 14 Juni 2009, tetapi masih berlangsung hingga kini.

Puluhan orang yang datang itu memaksa pemilik peternakan segera menutup usahanya sesuai dengan perjanjian. Mereka khawatir keberadaan peternakan babi di wilayah tersebut membahayakan kesehatan, dan memicu penyebaran virus flu babi (H1N1) yang menakutkan.

Amarah warga mereda, setelah Edi menemui mereka dan berjanji memindahkan babi yang ada paling telah malam nanti.

“Sekarang, babi di lokasi ini akan dimanfaatkan untuk penelitian saja. Jumlah yang ada mencapai 200 ekor anakan dan 50 ekor induk,” ujar Edi, sang pemilik.

Edi mengatakan,  pengangkutan babi ke tempat yang baru membutuhkan waktu. Selain itu, dia juga harus menyewa tempat penyimpanan sementara untuk babi di Ciroyom, Kota Bandung.(fam/kcm)

“Sweeping” Babi Terus Digelar
Tiga Kandang Babi di Cisarua Sudah Dikosongkan

WARGA mengantar dokter hewan dan mantri hewan memeriksa ternak babi yang masih tersisa di peternakan babi Desa Jambudipa, Kec. Cisarua, Kab. Bandung Barat, Minggu (26/7). Babi induk yang masih tersisa ini masih menunggu truk pengangkut.* HARRY SURJANA/”PR”

NGAMPRAH, (PR).-
Pascapengosongan populasi babi di tiga titik kandang di Desa Jambudipa dan Kertawangi, Kec. Cisarua, Sabtu (25/7), Pemerintah Kab. Bandung Barat akan terus mewaspadai kemungkinan adanya kandang babi lainnya yang tersembunyi. Pasalnya, dua kandang babi milik Irawan di Kp. Barukai RT 4, RW 11, Desa Jambudipa dan milik Yohanes Kp. Pasiripis RT 1, RW 4, Desa Kertawangi baru terdeteksi setelah mencuatnya kasus penutupan peternakan babi milik M. Edi di Kp. Pasiripis RT 1 RW 3, Desa Kertawangi.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kab. Bandung Barat, Adiyoto yang ditemui di sela-sela pengangkutan babi di kandang milik Irawan, Minggu (26/7). Menurut Adiyoto, setelah target pengosongan populasi babi di tiga kandang tersebut, pemkab akan terus melakukan sweeping, khususnya di Kec. Cisarua.

“Sweeping akan dilakukan terus-menerus dan kami tidak akan berhenti, karena ini kebijakan. Daerah-daerah lainnya ada kemungkinan memiliki populasi babi, kami tidak tahu persis di mana saja. Buktinya, di Cisarua kita menemukan dua kandang yang baru diketahui keberadaannya, dan lokasinya tersembunyi,” tuturnya.

Dalam upaya tersebut, kata Adiyoto, diharapkan peran masyarakat sekitar ikut mengawasi adanya indikasi peternakan babi di wilayah Kab. Bandung Barat. Dia berharap, tidak ditemukan kembali populasi babi di Kab. Bandung Barat.

Kuningan dan Yogya

Sementara itu, terkait dalam proses pengosongan babi di tiga titik kandang tersebut, Adiyoto menyebutkan, populasi babi milik M. Edi dan seorang dosen, serta milik Irawan dan Yohanes dinyatakan sudah kosong dan dialihkan ke Kab. Kuningan Jawa Barat dan Yogyakarta secara bertahap mulai Sabtu (25/7) malam hingga Minggu (26/7) siang. Jumlahnya mencapai tiga ratus babi.

Sementara itu, Camat Cisarua Euis Wiarsih mengatakan, sebanyak 112 babi diangkut ke Kuningan, 98 ke Yogyakarta, serta 44 lainnya disembelih. Dalam proses pengosongan tersebut, kata Euis yang ditemui terpisah di Kota Baru Parahyangan Padalarang, dilakukan pemantauan langsung oleh aparat Polsek Cisarua dan Disnakan Kab. Bandung Barat.

Kosong

Sementara itu, menurut pemantauan “PR” di lapangan, kandang milik M. Edi sudah kosong dan tidak ada satu pun babi yang tersisa. Para pegawai di sana membenarkan, sekitar 200 babi lebih induk babi dan anaknya, telah dialihkan ke Kuningan dan Yogyakarta secara bertahap mulai dari Sabtu malam hingga Minggu pagi.

Terkait dengan aksi warga yang mendatangi tiga titik kandang babi di Desa Jambudipa dan Kertawangi Cisarua, Bupati Bandung Barat Abubakar mengatakan, tindakan itu murni inisiatif warga. Keinginan warga tersebut tidak dapat dibendung pemerintah. Menurut dia, warga mulai merasa resah dengan keberadaan babi yang dikhawatirkan akan menyebarkan virus influensa A subtipe H1N1. (A-183)***

Warga Datangi Peternakan Babi Ilegal
Laporan wartawan KOMPAS Didit Putra Erlangga Rahardjo
Sabtu, 25 Juli 2009 | 11:46 WIB

BANDUNG BARAT, KOMPAS.com — Puluhan orang yang mengaku warga Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mendatangi sebuah peternakan babi yang berlokasi di Desa Kertawangi, Sabtu (25/7). Mereka menuntut agar peternakan babi yang dianggap ilegal tersebut ditutup.

Itu sebagai tindak lanjut dari kesepakatan antara pemilik peternakan, Edi, dengan pemerintah kecamatan pada bulan Maret 2009. Semula tercapai kesepakatan kalau pengosongan babi paling lambat dilakukan sampai 14 Juni 2009, tetapi masih berlangsung hingga kini.

“Sekarang, babi di lokasi ini akan dimanfaatkan untuk penelitian saja. Jumlah yang ada mencapai 200 ekor anakan dan 50 ekor induk,” ujar Edi, sang pemilik.

Dia kembali meminta waktu hingga nanti malam untuk memindahkan babi yang ada karena pengangkutan babi membutuhkan waktu. Selain itu, dia juga harus menyewa tempat penyimpanan sementara untuk babi di Ciroyom, Kota Bandung.

Di Bandung, Peternakan Babi di Tutup

Rabu, 29 April 2009 | 18:55 WIB

TEMPO Interaktif, BANDUNG:–Pemerintah Kabupaten Bandung Barat  akhirnya memberikan tenggat waktu 1 bulan pada pengusaha Peternakan Babi menutup usahanya. “Peternakan ini sudah tidak punya ijin, dan ini untuk mengantisipasi adanya wabah flu babi,” kata Wiwin Aprianti Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Lingkungan Dinas Perternakan Kabupaten Bandung Barat saat meninjau lokasi perternakan Babi. Rabu, (29/4).

Ia menyatakan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sudah lama ingin menutup perternakan babi ini karena izinnya  sudah habis sejak tahun 1998 lalu. Selain itu juga tak sesuai lagi dengan peraturan daerah.”Kami meminta peternak mengalihkan usahanya pada peternakan hewan lain semisalnya sejenis sapi,” ungkapnya.

Wiwin mengaku tak tidak mau kecolongan adanya virus flu babi di wilayahnya. Karena beberapa waktu lalu kawasan Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung pernah ada penderita flu burung.”Ini untuk antisipasi dan surat penutupan sudah dilayangkan hari ini,” ujarnya

“Sudah lama tempat ini menjadi laboratorium penelitian dan tecning farm babi dengan luas kawasan 5,5 hektar namun yang dipakai untuk kandang hanya sekitar 2 hektar,” kata Mohamad Edi, Wakil Ketua Koperasi Peternak Babi Indonesia sekaligus pengelola peternakan.

Edi menyatakan, walaupun sebagai tempat penelitian yang bekerjasa sama dengan Universitas Padjajaran Bandung, ia juga memasok paling tidak sekitar 5 ekor babi per hari. Harga per kilogramnya sekitar Rp 20 ribu untuk pasar sekitar Bandung.”Semuanya babi asli budidaya dari daerah ini bukan dari luar daerah atau bahkan import,” ungkapnya.

ALWAN RIDHA

Published by admin on 22 May 2009

PELUANG PROPINSI IRJABAR SEBAGAI KANTONG TERNAK INDONESIA DALAM RANGKA KECUKUPAN DAGING SAPI

Saat ini bangsa kita dihadapkan kepada bagaimana untuk mencukupi kebutuhan protein hewani baik dalam yang berasal dari daging, susu dan telur. Contoh kebutuhan daging sapi negara kita sekitar 1,5 juta ekor/tahun, bila dilihat kemampuan populasi ternak sapi kita saat ini tidak mungkin dapat tercukupi, oleh sebab itu kita mengimpor sapi rata-rata 400.000 ekor/tahun dari luar negeri (Tabel 1), maka dengan itu kadang-kadang pada saat puncak kebutuhan daging sapi seperti hari raya agama seperti puasa dan Idul Fitri sering terjadi harga sapi yang melambung tinggi sampai mendekati level Rp 70.000/kg di pulau jawa, karena harga yang tinggi, sering membuat para pedagang berbuat curang seperti mencampur daging sapi dengan babi hutan atau memberikan sapi dengan minum yang banyak sebelum dipotong, atau mengimpor daging sapi ilegal yang tidak teruji kesehatannya mengakibatkan konsumen dirugikan.

Bagaimana tindakan pemerintah sebagai pemegang kebijakan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan gizi rakyatnya, saat ini daging merupakan barang lux, sudah tidak tercapai oleh masyarakat bawah oleh sebab itu berita busung lapar sering kita dengar di media masa baik didesa maupun di perkotaan. Luas daratan dan laut kita seharusnya tidak mungkin membuat bangsa kita kelaparan akan protein hewani, contoh negara Cina yang hanya memiliki dataran subur hanya seperlima luas negara kita (Guanzong) mampu mencukupi kebutuhan rakyatnya hampir satu milyar jiwa. Oleh sebab itu ini merupakan pekerjaan besar dan tanggung jawab kita semua yang tidak mungkin dilaksanakan oleh pemerintah saja, salah satu peluang yang dapat diraih adalah propinsi Irjabar karena dilihat dari iklim, budaya dan alamnya sangat mendukung untuk menjadi lumbung ternak di negara ini. Ditambah propinsi ini yang sedang berbenah diri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya agar terbebas dari penjajahan kemiskinan.

Tabel 1. Populasi dan Kebutuhan Sapi Potong Nasional

Populasi

Dipotong

(Ekor)

(ekor/thn)

Nasional

11.746.170

1.500.000

Populasi Ideal

13.468.800

Impor

430.000

Irjabar

3.876.050

943.868

Jawa Timur

2.529.525

615.972

Tantangan kedepan Propinsi Irjabar adalah dengan memiliki populasi sapi potong saat ini hanya sekitar 30.149 ekor (2006), sedangkan daya tampung untuk sapi potong bisa sampai mendekati 4 juta ekor, bahkan lebih tinggi dari Jawa timur yang saat ini salah satu kantung ternak dengan teknologi yang sudah masimum dapat menghasilkan sapi bakalan/potong sekitar 615.972 ekor/tahun, maka peluang Irjabar dapat menghasilkan hampir satu juta ekor pertahun (943.868 ekor) bila harga sapi Rp 5 juta/ekor maka pendapatan kotor yang diperoleh propinsi Irjabar sekitar 5 trilium rupiah pertahun, jumlah ini cukup untuk membebaskan masyarakat Irjabar yang hanya 688.405 jiwa dari kemiskinan dan disintegrasi bangsa. Jumlah ini juga dapat memenuhi kebutuhan daging sapi nasional mencapai 80%, atau memenuhi kebutuhan sapi impor dua kali lipat.

POTENSI SAPI POTONG DI PROPINSI IRJABAR

Potensi Hijauan

Propinsi Irjabar merupakan hamparan pegunungan dan lahan datar yang berisi hutan, padang rumput dan lahan berair. Curah hujan di Propinsi Irjabar cukup tinggi ditunjukkan rumput yang senantiasa tumbuh hijau disetiap saat (Gambar 1.) penulis selama melakukan survey pada puncak kemarau bulan september ternyata di propinsi Irjabar telah hujan 2 hari sekali, sehingga sapi terlihat sehat dana gemuk-gemuk. Bila dilihat data luas lahan penghasil rumput untuk makanan ternak sapi dengan luas 4,2 juta ha maka diproduksi hijauan rumput sekitar 42,44 juta ton/thn (Tabel 2.) Bila konsumsi sapi bali kira-kira 30 kg/ekor/hari maka luas lahan tersebut dapat menampung 3,8 juta ekor sapi potong, sedangkan saat ini populasi sapi potong sekitar 30.149 ekor maka dengan itu rumput di daerah ini banyak tidak termanfaatkan dan terbuang dengan percuma. Maka dengan itu perlu dilakukan bagaimana untuk meningkatkan populasi ternak dipropinsi ini secara cepat.

Agroklimat di Propinsi Irjabar masih cukup baik, karena alam masih belum begitu rusak sehingga keseimbangan alam masih terjaga. Agroklimat yang baik ditandai dengan musim kemarau yang tidak begitu panjang bahkan dikatakan tidak pernah mengalami musim kemarau, karena pada bulan september 2006 ketika penulis ke propinsi ini hujan senantiasa turun 2 hari sekali dan rumput-rumputan di propinsi ini masih tetap hijau. Oleh sebab itu untuk program kedepan seperti kebanyakan kesalahan pada propinsi di Indonesia bagian barat seperti kerusakan alam dan tatataruang yang tidak konsisten mengakibatkan lahan pertanian dan peternakan semakin tersisih dan rusak, begitu juga dengan kerusakan hutan yang semakin parah oleh sebab itu untuk kedepan untuk menjaga agroklimat yang tetap baik di Irjabar dan Papua secara umum perlu koordinasi yang kuat antar instansi untuk menjaga alam irjabar tidak rusak.

Tabel 2. Luas Lahan Penghasil Hijauan Makanan Ternak di Propinsi Irjabar

(Dinas Kehutanan dan Pertanian Irjabar. 2006)

No

Sumber hijauan

Luas

Produksi

ha

ton/Thn

1

Sawah

11.250

112.500

2

Tegalan

2.120.811

21.208.110

3

Hortikultur

210.765

2.107.650

4

Kebun

1.901.449

19.014.490

Jumlah

4.244.275

42.442.750

Konsumsi Sapi kg/ekor/h

30

Jumlah Ternak (ekr)

3.876.050

Potensi Pakan Penguat (Konsentrat) untuk Sapi Potong

Propinsi Irjabar selain memiliki lahan pertanian juga memiliki perkebunan, yang menghasilkan sumber konsentrat, oleh sebab itu bila dihitung produksi limbah pertanian dan perkebunan yang dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak/konsentrat, dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Luas Lahan Perkebunan dan Pertanian penghasil Pakan Konsentrat

Sumber

Luas

Produksi Pakan

Ha

Ton/Ha/Thn

Padi

6,163

3,647

Jagung

1,765

265

Ubi-Ubian

-

11,191

Sawit

1,438

9,016

Kakao

504

1,411

Kelapa

1,664

1,790

Jumlah (Ton/Thn)

11,534

27,319

Konsumsi Sapi (kg/h)

6

Jumlah sapi (ekor)

12,474

Produksi limbah pertanian di Irjabar yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak adalah 27.319 ton/thn, bila konsumsi ternak sapi lokal 6 kg/hari konsentrat maka limbah pertanian dan perkebunan tersebut dapat memenuhi kebutuhan sekitar 12.474 ekor sapi potong, sementara ini hasil limbah perkebunan belum termanfaatkan dan terbuang percuma, maka perlu ada suatu kelompok baik koperasi yang dibina pemerintah untuk mengolah dan memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan ini.

Potensi Pembibitan Ternak Sapi Potong

Pembibitan ternak merupakan kunci keberhasilan untuk meningkatkan populasi yang cepat dan murah maka dengan itu program pembibitan biasanya memerlukan waktu yang cukup lama maka dengan itu di beberapa degara maju biasanya dilakukan di padang rumput yang luas untuk menekan biaya pakan. Propinsi Irjabar memiliki 5 padang rumput yang cukup luas yang dapat digunakan untuk pusat pembibitan sapi potong dengan melibatkan masyarakat lokal (Tabel 4.).

Tabel 4. Perkiraan Luas Padang Rumput di Propinsi Irjabar

Tempat

Luas (ha)

Peluang Sapi Potong

Dataran Isim

2.000

2.400

Dataran Bamberai

200.000

240.000

Lembah Kebar

1.500

1.800

Dataran Ransiki

500

600

Jumlah

204.000

244.800

Dari luas padang rumput yang ada di propinsi Irjabar seluar sekitar 204.000 ha maka bila dipelihara induk sapi potong jantan dan betina pada padang rumput ini maka dapat menampung 244.800 ekor ternak dengan produksi anak sapih bakalan minimum sekitar 122.000 ekor pertahun. Ini cukup menjanjikan dimana negara kita sampai sekarang mengalami masalah dalam memenuhi kebutuhan daging sapi kita harus mengimpor sapi bakalan sekitar 400.000 ekor pertahun dari luar negeri.

Potensi Sosial Budaya Masyarakat Irjabar

Pengembangan sapi potong di Irjabar sangat cocok karena didukung oleh masyarakat Irjabar yang masih sedikit, dengan lahan yang cukup luas, ditambah lagi dapat membantu masyarakat untuk mulai hidup bercocok tanam daripada hidup dihutan dengan berpindah-pindah kemungkinan akan merusak lahan hutan (Gambar 2.) Pengembangan sapi potong sangat cocok bagi masyarakat papua/ Irjabar karena tidak mengganggu kegiatan sehari-hari biasanya mereka hanya melepaskan ternak tersebut di tegalan atau diikat pada sebatang pokon yang berukuran 6-10 m dan dipindahkan sebanyak 3 kali maka ternak tersebut dapat hidup dan gemuk. Selama ini masyarakat Irjabar beternak sapi merupakan ternak yang asing, karena selama ini kebutuhan protein hewani masyarakat diperoleh dengan cara berburu di hutan seperti rusa, kasuari dan babi hutan, keberadaan ternak sapi bagi masyarkat papua secara umum adalah didatangkan oleh masyarakat transmigrasi dari jawa dan NTT. Tahun 70an pernah pemerintah mendatangkan ternak sapi bali di papua, karena kurang sosialisasi pada masyarakat maka sapi tersebut dilepas dan hidup liar dihutan sampai sekarang, ada juga yang berhasil di tangkap/diburu oleh masyarakat saat ini.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Perkembangan masyarakat Irjabar akibat peran aktif yang dilakukan oleh penyuluhan pertanian dan pembauran dengan masyarakat transmigrasi yang memelihara ternak sapi maka paradigma sapi potong saat ini telah berubah, dulu ternak sapi yang begitu menakutkan sekarang mulai akrab, bahkan saat ini mas kawin pada masyarakat yang dahulu dalam bentuk ternak babi sekarang sudah mulai menggunakan sapi potong. Jadi saat ini keinginan masyarakat untuk memiliki ternak sapi cukup tinggi akan tetapi kendala ketersediaan bakalan sangat sulit, oleh sebab itu perlu dukungan dari pemerintah/ dirjen peternakan supaya program pengadaan sapi potong di propinsi ini bisa terus dilanjutkan karena memberikan manfaat yang cukup tinggi bagi kesejahteraan masyarakat karena dapat memanfaatkan hijauan makanan ternak yang cukup melimpah di propinsi ini.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Pola konsumsi masyarakat papua/ Irjabar yang mendukung pengembangan ternak sapi potong adalah mereka kurang menyukai daging sapi, dibanding dengan daging babi dan ikan laut, ditambah dengan kebiasaan mereka untuk berburu sehingga kebutuhan daging mereka diperoleh dari hewan liar seperti rusa, kasuari, babi hutan dll. Pemotongan sapi didaerah ini sebagian besar hanya untuk konsumsi masyarakat pendatang, maka dengan itu harga daging sapi pada bulan puasa di pulau jawa sudah mencapai level Rp 70.000/kg sedangkan di Manokwari sebagai ibukota propinsi Irjabar hanya Rp 35.000/kg. Murahnya daging ini disebabkan selain pemeliharaan yang murah tanpa biaya pakan/ rumput (Zero Feed Cost) juga karena permintaan yang kurang begitu besar pada masyarakat lokal. Oleh sebab itu program bantuan sapi potong terus dilakukan secara terus menerus dan intensif maka kedepan propinsi Irjabar tidak mustahil akan menjadi lumbung ternak sapi potong bagi bangsa ini.

Strategi dan Pendekatan Irjabar Menjadi

Kontong Tenak Potong Indonesia

1. Peningkatan Populasi

Untuk 5 tahun dari sekarang meningkatkan populasi dengan cepat dengan cara memanfaatkan padang rumput sebagai pusat pembibitan serta melibatkan masyarakat adat, sebagai kantong-kantong pembesaran ternak dan pembibitan rakyat. Pengawasan yang ketat terhadap pemotongan hewan betina produktif di RPH, karena harga sapi yang murah menggoda bandar sapi untuk memotong hewan betina. Penggunaan teknologi IB dan seleksi karena selama ini yang dikawatirkan perkawinan sapi di lapangan berjalan apa adanya sehingga peluang kawin sedarah bisa terjadi (inbreeding), kendala dilapangan juga perlu dikurangi seperti ketersediaan semen beku dan inseminator bila sapi mereka menunjukkan birahi, selama penulis dilapangan diperoleh ketersediaan semen dan N2 cair kadang tidak tersedia di peternak karena jarak tempuh yang jauh.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

2. Meningkatkan Keterampilan SDM (Petugas dan Petani)

Keterampilan Petugas dan petani untuk keberhasilan program ini merupakan faktor penghubung, karena masyarakat Irjabar pada umumnya transisi dari masyarakat yang berburu ke masyarakat yang bercocok tanam maka dengan itu pendidikan dan pembinaan kepada petugas dan masyarakat harus terus dilakukan, karena bila tidak maka keberhasilan reproduksi sapi potong tetap rendah seperti selama ini.

b. Paramedis kader kesehatan hewan dan ketersediaan obat

Jarak antar satu tempat ke tempat lain di Propinsi Irjabar sangat berjauhan maka peternak yang mengalami musibah ternaknya sakit, cukup sukar untuk memperoleh obat-obatan dan bimbingan paramedis, oleh sebab itu perlu disediakan atau diberikan kepada peternak obat-obatan yang biasa terjadi dilapangan seperti cacingan, mencret pada anak sapi pada pergantian cuaca, antibiotik setelah induk melahirkan, karena selama penulis melakukan kunjugan angka kematian anak yang baru lahir cukup tinggi di propinsi ini.

c. Kelembagaan dan Penyuluhan yang Mandiri

Kelembagaan dan Penyuluhan peternakan di Propinsi Irjabar bercampur aduk dengan bidang lain seperti pertanian, perikanan/kelautan dan kehutanan, maka dengan itu tumpang tindih tugas mengakibatkan tidak fokusnya arah pembangunan peternakan. Oleh sebab itu untuk menjadikan Irjabar menjadi kantong ternak potong Nasional dapat terwujud, perlu dibuat instansi peternakan menjadi lembaga yang mandiri karena bila dilihat dari bentuk lahan pegunungan yang cukup luas sangat cocok pengembangan peternakan dari pada pertanian, oleh sebab itu alokasi dana APBD dan APBN perlu dipertimbangkan proporsi yang ideal, selama penulis melakukan evaluasi terjadi alokasi anggaran yang bukan pada kompetensi alam yang khas di Irjabar yang kita tahu adalah daerah yang memiliki iklim hampir sama dengan benua Australia yang cocok untuk peternakan. Masyarakat papua di Irjabar pada dasarnya adalah berkebun dan beternak yang selama ini mereka pelihara adalah ternak babi, selama wawancara dengan masyarakat keberadaan ternak sapi sangat mereka harapkan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Bahkan masyarakat awam yang tidak mempunyai sapi, saya tanya apakah mau bila saya berikan sapi, mereka menjawab dengan tidak terduga, Dia akan memberikan anak sapi bila saya memberikan induk kepada mereka. Oleh sebab itu lembaga yang mandiri diikuti oleh penganggaran yang benar diharapkan masyarkat papua di irjabar akan mudah maju dan sejahtera.

d. Teknologi Pakan Ternak

Saat ini pada saat penulis melakukan survey di propinsi ini ternak hanya diberikan hijauan saja tanpa adanya pemberian pakan penguat, padahal ketersediaan sumber pakan penguat cukup tinggi di propinsi ini. Penerapan teknologi tepat guna seperti pemanfaatan limbah pertanian, daun kacang-kacangan (gamal, lamtoro) perlu diajarkan kepada peternak, dengan adanya konsentrat maka sapi yang dipelihara akan mempunyai pertumbuhan yang lebih.

e. Tindak preventif terhadapa Penyakit Hewan Menular

Propinsi Irjabar relatif bebas dari berbagai penyakit menular dan berbahaya oleh sebab itu ini harus dipertahankan dengan membuat lembaga yang mandiri dan disiplin di jalur transportasi ternak yang masuk ke propinsi ini, supaya prosinsi ini tetap terjaga kesehatannya hewan dan manusianya.

f. Membangun Rumah Potong dan Transportasi Daging

Pemotongan sapi di DKI Jakarta mendekati 1000 ekor/hari maka dengan itu pemerintah Irjabar kedepan perlu membangun rumah potong hewan dan alat transportasi daging yang presentatif dan hiegienis supaya ternak yang dipotong dari penggemukan sapi rakyat kemudian dikirim ke DKI jakarta dan pasar lainnya dalam bentuk daging beku (Frozen Meat).

Published by admin on 12 May 2009

Pendirian Pabrik Makanan Ternak Babi dan Sapi di Propinsi PapuaUntuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Pendapatan Daerah

Latar Belakang

Kesenjangan kesejahteraan suatu daerah akibat distribusi pengetahuan/Informasi, modal dan perhatian pemerintah yang tidak merata sehingga dihasilkan kesenjangan kesejahteraan yang semakin jauh. Negara kita adalah negara yang kaya akan hasil bumi, tapi kenapa negara kita masih berada dalam kemiskinan. Oleh sebab itu perlu dicari solusi yang tepat guna untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dengan Pendirian Pabrik Makanan Ternak Babi dan Sapi di Prop. Papua dalam Rangka Mendukung Program Pemerintah Kecukupan Daging 2010.

Potensi Pembangunan Pabrik Pakan Ternak di Prop. Papua

Prop. Papua, memiliki sumberdaya alam yang sangat kaya, masyarakat agraris dan ternak sebagai basis pendukung budaya dan ekonomi masyarakat perlu di lestarikan dan di abadikan. Untuk itu diperlukan peningkatan sumber daya manusia dan penguasaan ketrampilan serta teknologi, dibutuhkan sebuah terobosan dalam upaya menggali potensi alami masyarakat yang dapat memberdayakan dirinya sendiri agar dapat keluar dari belenggu kemiskinan yang melilit. Pembuatan Pabrik Makanan Ternak di Prop. Papua dapat memenuhi kebutuhan makanan ternak yang ada sekarang seperti Sapi dan Babi.

Tabel 1. Potensi Bahan Baku untuk Pabrik Pakan Ternak

Sumber

Luas

Produksi

Pakan

Ha

Ton /Ha/ Thn

Ton/Ha/Thn

Padi

6,163

18,235

3,647

Jagung

1,765

2,647

265

Ubi-Ubian

55,957

11,191

Sawit

1,438

22,540

9,016

Kakao

504

2,821

1,411

Kelapa

1,664

5,965

1,790

Jumlah

11,534

108,165

27,319

Konsumsi Sapi (kg/h)

6

Jumlah sapi (ekor)

12,474

Tepung Ikan

100,497.8

3,014.93

Konsumsi Babi (e/h)

2

Jumlah Babi (ekor)

166,214

Dari Tabel 1. diperoleh bahwa Propinsi ini cukup potensial untuk memproduksi konsentrat sekitar 12.000 ton pertahun dan konsentrat babi sekitar 166.000 ton pertahun dari pemanfaatan limbah perikanan laut, nilai ini bila di Jawa harga pakan untuk sapi sekitar Rp 1200/kg dan pakan babi Rp 1700/kg kegiatan ini dapat menghasilkan pendapatan daerah sekitar 37.9 Miliar/ tahun.

Pembangunan ini juga dapat mengurangi dampak ternak babi yang sekarang dilepas sehingga menjadi masalah sosial di perkotaan dengan pembangunan pabrik pakan ini diharapkan peternakan babi mulai dikelola secara modern yaitu pemeliharaan sistem terkurung dengan kebutuhan nutrisi dipenuhi dari makanannya (Gambar 1).

Peternakan di Papuamasih bersifat tradisional dan turun temurun ketersediaan pakan masih apa adanya dari limbah pertanian, sedangkan pengolahan dan pencegahan penyakit masih belum diperhatikan, pemberian vaksin dan obat-obatan kurang dikenal oleh masyarakat peternak sehingga angka kematian tinggi dan pertumbuhan yang kurang optimal. Populasi ternak Sapi dan Babi di Prop. Papuasekarang menurut Dinas Pertanian dan Kelautan 2006 adalah sekitar Sapi 30.000 ekor, babi 27.000 ekor, maka kebutuhan pakan ternak Sapi konsentrat sekitar 60 ribu ton/tahun (6 kg/hari/ ekor) dan pakan babi 24.000 ton/tahun (2,5 kg/ekor/hari). Prospek kedepan bahwa daerah ini dapat menjadi kantong ternak dan produksi pakan konsentrat negara ini. Ditambah lagi babi siap potong disini cukup tinggi untuk kebutuhan budaya adat dan konsumsi sehari-hari. Pemeliharaan dan kecintaan petani terhadap ternak tersebut sangatlah baik, kendalanya kurangnya pembinaan atas cara beternak yang baik, ketersedaan obat-obatan dan pakan ternak yang berkualitas. Oleh sebab itu pembangunan pabrik pakan dan pengadaan obat-obatan dapat mengatasi masalah peternakan selama ini dan memanfaatkan sumber kekayaan alam yang belum termanfaatkan sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan petani peternak dan PAD propinsi.

Maksud dan Tujuan Proyek

Adapun maksud dan tujuan proyek ini adalah:

a. Memberdayakan rakyat Prop. Papuadi bidang Agrobisnis

b. Menciptakan lapangan kerja bagi dan terutama yang putus sekolah.

c. Mengimplementasikan konsep otonomi daerah dan meningkatkan PAD daerah dan

kesejahteraan rakyat melalui proyek pertanian dan peternakan.

d. Memperkenalkan konsep agribisnis dan cara beternak yang baik serta menyediakan

bibit ternak (Sapi/ babi) jenis unggul bagi rakyat agar rakyat memperoleh nilai

tambah.

e. Memenuhi kebutuhan daging Sapi dan babi dari peternakan lokal yang dikelola

secara modern bagi masyarakat tanpa perlu mendatangkannya dari luar daerah.

f. Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Peternakan dan Pertanian yang didukung

oleh sarana praktek lapangan yang memadai.

Tujuan Kemitraan Proyek

Adapun tujuan dari kemitraan proyek ini adalah:

Terjalinnya kerjasama antara pemerintah sebagai yang mempunyai pabrik yang dapat bekerjasama dengan kelompok peternak atau petani sebagai pelaksanan sumber bahan baku dan tujuan pasar.

Sumber Bahan Baku Pabrik Pakan Ternak

Sumber Energi bahan pakan seperti dedak, limbah perkebunan dan jagung diperoleh dari masyarakat/ kelompok, dengan melibatkan mereka untuk bercocok tanam jagung dll yang kita butuhkan. Sedangkan sumber protein dalam bentuk tepung ikan, kedelai, kacang tanah dll dapat diperoleh dari petani dan perikanan laut, atau lombah industri yang ada di propinsi atau dari luar propinsi.

Dampak yang Diharapkan

Dengan terlaksananya program ini, maka beberapa dampak yang diharapkan adalah:

a. Pendapatan per kapita masyarakat akan meningkat

b. Proses alih teknologi akan berjalan dengan alami,

c. Tersedianya lapangan kerja baru yang tidak memerlukan pendidikan formal yang

memakan waktu lama.

d. Masyarakat akan bergairah dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Perhitungan Biaya dan Keuntungan Pabrik Pakan

  1. Total Investasi yang diperlukan

Total investasi yang diperlukan adalah sebesar Rp 819.500.000 ini terdiri dari modal tetap dan modal kerja pembuatan pabrik pakan ternak dan pembelian sarana peternakan seperti obat-obatan dll. Biaya yang diperlukan menyangkut biaya pembelian mesin pengolah pakan, sewa gedung, bahan baku ransum dan alat-alat pendukung (Table 1.). Pakan yang diproduksi sementara ini untuk awal diproyeksi produksi 10 ton perhari ini untuk anggota kelompok dan diluar kelompok, sementara di dalam kelompok daya serap pakan ternak sekitar 5 ton perhari, sedangkan sisanya untuk diluar kelompok. Kemungkinan proyeksi kedepan dapat meningkat seiring dengan pertambahan jumlah kelompok dan kemampuan marketing menjual diluar kelompok.

Tabel 2. ANALISIS KEBUTUHAN BIAYA PABRIK PAKAN (10 Ton/hr) dan SAPRONAK

1. Modal Tetap

Uraian

Satuan

Volume

Harga Satuan

Jumlah

Sewa Gudang

Tahun

2

5,000,000

10,000,000

Mesin Hammer Mill

buah

2

30,000,000

60,000,000

Beli Mixer

buah

2

60,000,000

120,000,000

Mesin Kering

buah

2

30,000,000

60,000,000

Mesin Jahit dan Sablon

buah

1

2,000,000

2,000,000

Fasilitas Kantor

Komputer

1

4,000,000

4,000,000

Kendaraan

buah

1

80,000,000

80,000,000

Jumlah

336,000,000

2. Modal Kerja Sebulan

Uraian

Satuan

Volume

Harga satuan

Jumlah

Pembelian Bahan Baku Pakan

kg

300,000

1250

375,000,000

Pembelian Obat-obatan

100,000,000

Solar/ Listrik

liter

1000

4500

4,500,000

Tenaga Kerja

orang

3

1,000,000

3,000,000

Karung

Buah

500

2000

1,000,000

Jumlah

483,500,000

Jumlah Total Investasi

819,500,000

  1. Pemasukan / Income yang diperoleh (Arus Kas Perbulan)

Pemasukan yang diperoleh berasal dari penjualan pakan ternak yang dijual serta penjualan sapronak/ obat-obatan (Tabel 2.) sebesar Rp 570,000,000 sehingga diperoleh keuntungan perbulan sebesar Rp 83,500,000 keuntungan ini akan digunakan 50% untuk kesejahteraan dan biaya pelatihan anggota kelompok dalam beternak yang baik dan 50% lagi untuk menambah modal investasi seperti pembibitan dan sarana peternakan (Tabel 3).

Tabel 3. Arus Kas Pabrik Pakan Per Bulan (Rupiah)

Uraian

Satuan

Volume

Harga

Jumlah

Pembelian Input

Bahan Baku Pakan Ternak

kg

10,000

1,250

375,000,000

Pembelian Obat/ Sapronak

100,000,000

Solar/Listrik

1000

4,500

4,500,000

Tenaga Kerja

orang

3

1,000,000

3,000,000

Karung dan Sablon

500

2,000

1,000,000

Dll

3,000,000

Jumlah

486,500,000

Penjualan Output

Penjualan Obat-obatan

120,000,000

Bahan Pakan Jadi

kg

10,000

1,500

450,000,000

Jumlah

570,000,000

Keuntungan Perbulan

83,500,000

Demikianlah proposal ini dibuat pembangunan masyarakat peternak di Papuadan untuk mensukseskan program pemerintah kecukupan daging 2010, atas perhatian dan kerjasama semua pihak yang terkait kami ucapkan terima kasih.

Published by admin on 06 May 2009

Methoda Pemotongan dan Penyimpanan Kulit Kelinci

Continue Reading »

Published by admin on 05 May 2009

Pasca Panen Pada Ternak Kelinci

Daging Kelinci merupakan daging putih yang berasal dari ternak berkaki empat, sering pula disebut daging alami atau natural meat.Keistimewaan daging tersebut adalah mengandung protein tinggi, lemak dan kadar kolesterol yang rendah, seratnya halus, dan rasanya hampir menyerupai daging ayam.

Komposisi Daging Kelinci :

Protein 18,5 %

Lemak 7 %

Air 71 %

Abu 0,64 %

Asam Lemak Trbang 63 % dari total asam lemak

Kolesterol 136 mg/100 g berat kering

Vitamin :

Thiamine 0,11 mg/100 g BK

Riboflavin 0,37 mg/100g BK

Niasin 21,2 mg / kg BK

Pyridoxin 0,27 mg/100 g BK

Asam Pantotenat 0,10 mg/100 g BK

Vitamin B12 14,9 ug/Kg

Folic Acid 40,6 ug/kg

Biotin 2,8 ug/kg

Mineral :

Zinc 54 mg/kg

Sodium 393 mg/kg

Potasium 2 g/kg

Calsium 130 mg/kg

Magnesiun 145 mg/kg

Iron 29 mg/kg

Asam-asam Amino Daging Kelinci :

Leusin 8,6 %

Lysin 8,7 %

Hystidine 2,4 %

Arginin 4,8 %

Threonine 5,1 %

Valine 4,6 %

Methionin 2,6 %

Isoleusin 4,0 %

Phenylalanine 3,2 %

Berapa Besarnya Protein Hewani Yang Dapat disumbangkan per tahun dari ternak kelinci :

Contoh : 1 ekor jantan :dengan 1 ekor betina siap kawin, bunting, kelahiran I = 6 ekor dengan berat potong 2 kg. Dengan asumsi % karkas : 50 %. Edible meat : 80 % dari karkas. % protein daging 18 % . Berat potong 2 kg. Perhitungan :

Berat hidup          =   2 kg

Berat karkas        =    50/100 x 2 kg x 6 = 6 kg karkas

Edible meat         =    80/100 x 6 kg = 4,8 kg

% protein daging =   18/100 x 4,8 kg = 0,864 kg protein hewani/kel

Jika dalam 1 tahun = 4 x kelahiran dengan 6 ekor anak. Jadi 4 x 0,864

setara dengan 3,456 kg protein hewani/ tahun

Published by admin on 27 Apr 2009

Swine influenza (Flu, Influenza)/ Flu Babi

Sejak meninggalnya 100 dan menyerang 1.324 orang akibat penyakit flu babi( Swine flu) di Meksiko maka dunia menjadi panik ketakutan, sama seperti waktu terjadinya penyakit flu burung. Di negara awal penyakit ini di mexiko telah menutup sementara pasar, restoran dan pelayanan gereja, atau menggunakan masker bila pergi kejalanan.

Penyakit influenza pernafasan pada babi pertama kali ditemukan /di isolate sudah sejak lama sekitar 1930, dengan type virusnya H1N1 dan H3N2, penyakit ini pada babi tidak begitu berbahaya karena kematian babi yang terkena penyakit ini cukup rendah biasanya terjadi pada musim dingin/salju, sedang negara kita negara tropis, karena virus ini sangat sensitif terhadap panas, pengeringan, deterjen dan desinfektan.

Tanda flu babi ini pada orang adalah demam, stress, batur

k, ngorok dan sukar bernafas, mata merah, nafsu makan turun. penyebaran Virus Flu babi ini bisa terjadi dari manusia ke manusia. Apakah Orang yang mengkonsumsi daging babi bisa terkena virus babi? Menurun Kepartemen Kesehatan Amerika Serikat  penyebaran virus flu babi tidak bisa disebarkan dari makanan yang berasal dari produk babi atau ikutannya, bila telah mengalami proses pemasakan  suhu 160 oC Farenheit atau sekitar 80oC sudah mampu membunuh virus tersebut. Makanya bagi anda yang mengkonsumsi daging babi atau olahannya tidak perlu khawatir setelah mengalami pengolahan terlebih dahulu.

Pakar Virologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Widya Asmara, mengakui, virus flu babi tidak berhubungan dengan peternakan-peternakan babi. Untuk sementara ini, peternakan babi di dalam negeri relatif masih aman, tidak ada satu pun ditemukan virus influenza H1N1, sehingga peternakan babi di Indonesia tidak perlu mendapatkan perlakuan khusus.

Bagaimana penyakit ini pada ternak babi : Flu babi ini hanya mengakibatkan kematian kurang dari 1% jadi tidak perlu begitu dikhawatirkan. Virus ini sangat sensitif terhadap panas, pengeringan, deterjen dan desinfektan sehingga penyakit ini jarang terjadi didaerah tropis.

Tanda-tanda penyakit pada ternak babi : Demam/panas 41,8 oC, nafsu makan menurun, bersin atau batuk, merah pada kulit, biasanya babi tidak mau bangkit/tiduran saja. Inkubasi penyakit ini cukup cepat 1-2 hari setelah infeksi, kemudian hilang/ atau pulih kembali setelah 5-7 setelah puncak demam, kematian pada ternak yang kena inveksi flu ini kurang dari 1%, kematian ini disebabkan oleh infeksi sekunder, pemberian antimikrobial melalui pakan maupun air minum bagi ternak yang sakit sudah cukup untuk menanggulanginya.

Apa yang dilakukan peternak babi untuk menangkal hal ini : a. Lakukan fumigasi kandang secara rutin untuk membunuh virus yang ada di kandang. b. Lakukan Program kesehatan yang teratur, terutama penyakit pernafasan. c. Perbaikan sanitasi kandang dan pengolahan limbah ternak. d. Menjaga kesehatan pekerja dengan mencuci tangan dan memakai pakaian kandang.

Next »