
A. Visi Laboratorium dan Teaching Farm KPBI
Perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi saat ini sudah tidak melihat batas wilayah, daerah atau negara, informasi atau penemuan ilmu dibidang peternakan dan pertanian begitu cepat masuk dan keluar melalui media masa, sehingga penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh negara maju begitu cepatnya menyebar kenegara berkembang yang tidak terkontrol langsung digunakan oleh petani atau peternak awam di negara kita, sehingga banyak terjadi kerugian besar karena belum tentu teknologi tersebut efektif dan baik dengan suhu, kelembaban dan konsentrasi mikroorganisme di negara kita. Sehingga diperlukan SDM yang kuat dan cerdas mengikuti perkembangan teknologi ini.
Saat ini banyak keluarga yang mengalami krisis ekonomi baik karena orang tuanya di PHK, sedangkan anak mereka masih kuliah atau ingin menyelesaikan tugas akhinya. Suatu penelitian untuk tenak potong kambing, babi dan sapi tidak cukup uang 30 juta untuk sekali penelitian apalagi sampai dengan uji karkas daging, apakah mereka langsung drop out atau gagal ditengah jalan terpaku pada nasib menjadi orang miskin, banyak mereka yang pintar secara intelektual, tapi miskin secara ekonomi, inilah yang menjadi beban kami para pendidik, bagaimana caranya meluluskan mereka dengan tidak mengurangi nilai ilmiah yang dihasilkan maka dengan itu. Pembangunan laboratorium dan teaching farm ini telah banyak menghasilkan meluluskan generasi bangsa ini yang pintar tapi terbatas secara ekonomi. Bila kami renungkan saat ini setelah 10 tahun berlalu dari khabar-khabar mereka yang lulus, kadang air mata menetes dimana mereka telah hidup dan berkarya dan di daerah mereka masing-masing di negara ini.
Pemikiran yang positif dan keinginan hati yang murni ditengah Keterbatasan Sumber Dana maka kami mahasiswa dan saya dosen membuat suatu Laboratorium dan Teaching Farm langsung dipeternak yang telah kita uji baik luas lahan, jarak dan ekosistem yang ada masih layak. Marila kita sama-sama membuka hati nurani yang murni, untuk membangun negeri ini yang sedang sakit oleh krisis ekonomi dan krisis global, dengan tidak melihat siapa, apa yang mereka makan, apa warna kulit, rambut mereka karna mereka di lahirkan di negeri ini yang ingin mencapai cita-cita setinggi bintang di langit.
Banyak mereka datang dari kampung-kampung diseluruh pelosok negeri ini hanya datang bermodalkan kemauan kuat dan baju yang menempel di badan dan uang daftar hasil jual kerbau atau tanah dikampung untuk uang mendaftar setelah diterima di Univeritas Padjadjaran mereka pilih, untuk bisa makan dan hidup pokokpun mereka harus bergulat jadi pembantu di rumah makan atau menawarkan tenaga untuk mendapatkan sesuap nasi, karena kiriman orang tua yang datang hanya cukup untuk biaya kuliah saja. Sedangkan Lembaga tempat mereka kuliah mengharuskan mereka menyelesaikan tugas akhir dengan PKL ( Praktek Kerja Lapangan ) dan Penelitian yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Bila mereka datang kepada saudara sebagai dosen dengan wajah mereka yang kumal lelah, dan pakaian yang lusuh atau ada yang orang tuanya baru meninggal kena jantung karena di PHK. Apakah bisa kita jawab itu urusan saudara yang penting kau cari sendiri, jangan ganggu kenyamananku yang sedang duduk dikursi empuk ini dengan dapat gajih dari negara yang cukup untuk anakku saja…..????, suatu kemuanfikan kalau kita jawab demikian. Apapun kedudukan saudara dan jabatan saudara, hati saudara tidak akan bergoncang melihat demikian kecuali hati nurani anda telah buta dan pikiran anda sudah gelap oleh dunia ini.
Karena sayapun Sauland Sinaga sebagai dosen di Fapet 15 tahun lalu mengalami hal yang sama ketika diterima sebagai mahasiswa Fapet Unpad, merantau kejawa dengan modal semangat juang saja, saya tidak mau mengulang sejarah kepada teman-teman dan adik-adik mahasiwa mengalami seperti apa yang saya alami dahulu, sehingga saya berpikir, bertindak bagaimana saya sebagai dosen dapat memfasilitasi mereka, dengan semangat inilah maka terwujud keinginan tersebut, dengan membangun laboratorium Penelitian Ternak Babi dibawah naungan Koperasi Peternakan Babi Indonesia yang telah memiliki cabang di 22 Propinsi.
Perkembangan perekonomian dan sistem tranpsortasi darat, laut dan udara sehingga perpindahan penduduk antar daerah, kota dan negara begitu mudah dan dinamis, terbukti pertumbuhan perekonomian dan industri di Kota Bandung mengakibatkan datangnya penduduk dari berbagai suku, ras dan daerah bahkan negara lain ke kota/ adaerah ini. Mereka tinggal menetap, membeli rumah, berusaha dan berkeluarga di kota tersebut. Diketahui pula bahwa kota Bandung adalah kota pendidikan dimana banyak terdapat Universitas dan Sekolah tinggi sehingga meningkatkan orang yang datang dari daerah lain untuk menuntut ilmu di daerah ini, untuk tahun 2008 saja mahasiswa Fapet Unpad yang berasal dari luar daerah sekitar 40 orang terutama dari Sumatra, visi mereka untuk menuntut ilmu di bidang peternakan yang prioritasnya adalah Ternak Babi karena mereka rata-rata di sana memelihara ternak babi sebagai usaha kehidupan sehari-hari. Maka pada tahun ini yang mengambil Mata Kuliah Produksi Babi berjumlah 78 orang (absen kuliah terlampir) mereka sekarang mengadakan kegiatan praktikum di Laboratorium dan Teaching Farm ini.
Ilmu Peternakan adalah Ilmu Terapan, yang menuntuk keahlian praktis dan analisa, selama praktek dan perkuliahan mereka harus bisa menyusun ransum, perkawinan, kebiri, pencegahan penyakit, sampai dengan pemotongan menjadi karkas, maka selama perkuliahan diperlukan sarana yang memadai sehingga mereka bisa melakukan (psikomotorik) dan analisa usaha ternak babi. Maka dengan adanya sarana ini mahasiswa sangat diuntungkan untuk lebih memahami produksi ternak babi, yang di dunia merupakan konsumsi daging nomor satu, sehingga ketika mereka lulus nanti yang tidak dapat dihindari di dalam maupun diluar negeri mereka akan menghadapi apa yang dinamakan ternak babi.
Aku bangga hidup di kota Bandung ini telah 19 tahun, bahkan makanankupun sudah seperti orang sunda, aku sudah suka lalab dan sayur asem yang dulu aku benci karena ingat hewan piaraanku di kampung yang makan daun tersebut, akan tetapi ada satu pepatah yang aku ingat yang diberikan oleh orang tua bijaksana di tempat kosku dia berkata orang sunda yang sejati adalah harus memegang filsafat hidup : “ Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh” semboyan inilah yang sampai sekarang telah menjadi pendoman dan semangat hidup saya selama mengajar di Fakultas Peternakan Unpad, cukup menarik dan indah sekali selama saya terapkan di kehidupan ini, dimana kita harus saling mengasah supaya lebih pintar dan bijaksana, ditambah kita saling mengasihi dan mengasuh supaya dapat tumbuh dan berkembang sama-sama dengan baik, saya yakin bila kita mengenal prinsip ini apapun suku saudara dan bahasa saudara anda akan memahami apa fungsi kita hidup di dunia sementara ini.
Sebenarnya bila dilihat konsumsi daging babi dari pendatang dari suku Batak, Bali, Irian, Timor, Ambon, bahkan Bangsa Keturunan diketahui bahwa konsumsi suku-suku diatas akan daging babi sangat tinggi dan bahkan babi merupakan bagian dari budaya mereka dalam menjalankan agama maupun adat istiadat, suatu contoh suku batak mereka menggunakan ternak babi untuk acara adat melahirkan, baptis, kawin dan bahkan mati harus menghidangkan daging tersebut. Suku bali bila mereka beribadah ke pure harus mempersembahkan daging babi, hal inilah mengakibatkan jumlah ternak Babi yang dipotong setiap hari yang dipotong di RPH Ciroyom rata-rata 60-100 ekor/hari, atau 1800 – 3000 ekor per bulan, bisa meningkat dua sampai tiga kali lipat bila hari raya, atau sepuluh tahun kedepan.
Bila babi potong ini berat rata-rata 90 – 100 kg/ekor dengan jumlah karkas 75% dari berat potong maka diperoleh konsumsi harian daging babi di Bandung dan sekitarnya 200 ton daging babi perbulan. Bila harga berat hidup babi tersebut Rp. 17.000/kg maka diperoleh perputaran uang untuk perdagangan babi tersebut sekitar Rp. 153 juta/ perhari atau 4,6 miliar perbulan, dengan keuntungan kira-kira 1,2 miliar/bulan atau 14,4 miliar/tahun. Sebenarnya ini adalah peluang pasar dan ekonomi yang hilang akibat kebodohan dan ketikdaktahuan para pembuat kebijakan. selama ini 100% babi potong tersebut didatangkan dari Jawa Tengah dengan rata-rata 2500-3000 ekor babi hidup perbulan.
Keberadaan peternakan babi di Kabupaten Bandung Barat pada dasarnya sudah tidak ada, suatu contoh tahun 70-80an peternakan babi rakyat yang berada di Cimahi ratusan jumlahnya, karena pertumbuhan kota dan RUTR mereka ditempatkan di Bandung Utara yang diperuntukkan untuk pertanian lahan kering dan peternakan, 10 tahun kemudian ketidak mampuan pemerintah daerah mengatur Tataruang dan ketidak berpihakan pemerintah pada petani dan peternak kecil sehingga akhir tahun 90an tinggal 10 – 15 peternak yang pada akhirnya sekarang Tahun 2000 tinggal satu yang dikenal dengan Laboratorium dan Teaching Farm KPBI, yang dijadikan tempat pendidikan dan pelatihan para mahasiswa peternakan dan dokter hewan di jawa barat dan negara ini.
Marilah kita jernih berpikir dan melihat semua aspek kehidupan masyarakat yang beragam budaya, suku, agama dan pola makan yang berbeda di negeri ini, mereka juga telah hidup, bekerja, berkarya membangun dan membayar pajak pemerintah, apakah kelompok ini bukan milik dan warga kita, apakah mereka sebagai kaum perasan dan pendatang saja, kemerdekaan bangsa kita bukanlah perjuangan satu kelompok suku saja. Mereka berjuang sama-sama tanpa melihat suku, agama, bahasa dan ras untuk melepaskan diri dari penderitaan dan penjajahan sampai dengan titik darah penghabisan. Mereka punya hak untuk tinggal di tanah air tumpah darahnya yang berajaskan Pancasila dan UUD45 yang dibuat oleh para pendiri bangsa. Akankah kita ulangi lagi penjajahan bangsa ini yang dilakukan oleh kita sendiri, marilah kita sama-sama memecahkan persoalan bangsa ini dari semua segi dan sendi kehidupan dengan tidak memikirkan kelompok atau sentimentil pribadi karena kita adalah satu bangsa, satu bahasa dan satu tujuan yaitu Indonesia yang makmur adil dan sentosa.
B. Misi yang Dilaksanakan Laboratorium & Teaching Farm KPBI
Kab. Bandung Barat
Misi yang telah dihasilkan Laboratorium dan Teaching Farm selain terdapat dalam gambaran diatas bila dirangkum ada beberapa poin penting adalah sebagai berikut,
1. Tempat mencari dan menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat dan bangsa ini seperti tehnik budidaya, pengolahan limah, pengolahan lahan atau tanah, Integrate Farming, satwa harapan dan lain lain.
2. Sebagai sarana penelitian untuk meyelesaikan tugas akhir mahasiswa di seluruh Universitas di Indonesia rata-rata pertahun ditempat ini meluluskan 40 orang D3, 12-20 orang S1, 2-4 orang S2 dan S3 dari seluruh Indonesia baik dari Univeritas di jawa maupun diluar Pulau Jawa. Karena setiap 4 bulan sekali dilakukan penelitian jadi setiap tahun dua sampai tiga kali periode penelitian bulan Januari sampai Mei 2009 ini saja telah meluluskan 3 orang S1 IPB dan 4 orang S1 Unpad, Saat ini saja sedang dilakukan penelitian, oleh mahasiswa untuk tugas akhir 2 Orang S2 dan S3 dari Pascasarjana IPB Bogor dan 5 orang S1 dari Fapet Unpad Bandung dengan Praktek Kerja 24 orang dari Politehnik Pertanian Undana NTT.
3. Sebagai tempat praktek dan percontohan atau model bagi peternak rakyat
yang ada di negara ini seperti daerah indonesia timur dan daerah lain.
4. Sebagai alat uji obat-obatan bahan pakan alternatif yang beredar di masyarakat perlu di uji efektifitasnya sebelum diberikan dan digunakan oleh masyarakat umum.
5. Sebagai tempat penghidupan kerluarga disekitar kandang, saat ini kira-kira 20 kepala keluarga hidup jadi tenaga kerja di Laboratorium tersebut.
6. Sebagai sumber pupuk organik bagi petani sekitar karena pupuk yang dihasilkan cukup baik aman dan tidak dipungut biaya.
7. Sebagai sumber dana bagi kegiatan karang taruna, masyarakat sesuai dengan kemampuan dana yang diperoleh laboratorium ada.
8. Sebagai Asset Kabupaten Bandung Barat bagi daerah lain dan generasi muda, yang ditunjukkan banyak lulusan sarjana dari Laboratorium dan Teaching Farm ini. Begitu juga banyak orang datang dari berbagai daerah untuk belajar dan menggali ilmu untuk dikembangkan di daerahnya ( bisa dilihat di lampiran).
9. Sebagai Model Percontohan bagi legislatif dan eksekutif di daerah bahkan di luar negeri, kita sudah sering menerima tamu dari anggota DPR untuk studi banding dari Propinsi dan Kabupaten seperti Riau, Irian Jaya atau atau Papua, Sumut, NTT, Jawa Tengah dll. Kita sering dapat pujian baik dari tamu-tamu tersebut tentang kesuksesan membuat peternakan yang indah dan bersih begini.
10. Laboratorium ini juga dipakai tempat kunjungan pelajar dari TK, SD, sampai dengan pasca sarjana berbagai universitas di Indonesia, ingin melihat dunia peternakan pertanian sekitar mengenai ternak babi organik yang berwawasan lingkungan.
C. Sarana Laboratorioum dan Teaching Farm KPBI Kab. Bandung Barat
Adapun Sarana yang telah ada dan dibangun saat ini adalah :
1. Kandang Induk dan Individual.
Kandang Induk sebanyak 200 ekor untuk penelitian Reproduksi dan Genetika disini dilakukan penelitian sejak induk tersebut dikawinkan sampai dengan anak yang dilahirkan disapih jumlah ini sesuai dengan kaidah statistika penelitian.
Kandang Individu terbuat dari besi baja dengan tempat minum stainles steel kapasitas 25 ekor, disinilah dilakukan banyak penelitian makanan ternak dan obat-obatan yang akan beredar di masyarakat atau mencari bahan makanan ternak alternatif seperti hasil limbah-limbah industri makanan yang ada di bandung, seperti ampas tahu, sisa kue, susu yang sudah kadaluarsa tapi masih layak untuk ternak. Sedangkan kandang koloni digunakan untuk penelitian kelompok bangsa, pola tingkah laku makan, kawin dan genetika babi tersebut. Kandang ini terbuat dari tembok setinggi 0.5 m beratapkan seng dan genteng. Selama 3 tahun ini penelitian difokuskan pada tanaman obat-obatan yang baik untuk ternak pengganti antibiotik sebagai growth promotor.
2. Asrama Tempat tinggal Mahasiswa/i
Kapasitas Ruangan Putra dan Putri dapat masuk 20 orang, penelitian gabungan antar universitas sering dilakukan disini seperti IPB dengan Unpad dan UGM dengan mahasiswa 12 orang sehingga mereka tidak perlu lagi mengontrak di luar dan memudahkan komunikais dan pengontrol hewan ternak yang diteliti. Masyarakat, atau mahasiswa yang magang atau praktek baik dari instansi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarkat, Universitas seperti dari Jawa Tengah, Riau, Cianjur, Kupang, Papua dll telah beratus-ratus mengenyam praktek di tempat ini dengan tidak dipungut biaya sepeserpun, yang penting mereka kembali dapat menerapkan ilmunya dan membangun daerahnya.
4. Ruang Kuliah dan Diskusi
Ruang kuliah dan diskusi disediakan bagi mahasiswa dan tamu untuk tukar menukar ilmu pengetahuan, ruang ini bisa menampung 75 orang dan cukup presentatif dan disediakan infokus diskusi kelas besar. Dengan suasana pemandanganyang nyaman untuk menimba ilmu pengetahuan.
5. Rumah Potong Ternak Mini
Yang terdiri dari alat pengikis rambut, alat-alat potong, pengukur tebal lemak punggung, timbangan karkas dll, kapasitas rumah potong mini ini bisa 2 – 4 ekor per hari. Babi penelitian dipotong disini, kegiatan selama ini dilakukan adalah Fakultas Kedokteran IPB telah melakuakn penelitian Residu Pestisida dan Antibiotik pada daging disini selama satu tahun. Balai Kesehatan Veteriner Bogor dan Djogjakarta juga telah melakukan penelitian resistensi obat dan penyakit pada daging dan induk babi seperti bruselosis suis pada babi dll, sampai sekarang penelitian karkas speperti kolesterol, obat-obatan masih terus dilakukan disini. Dua tahun terakhir ini sampai sekarang telah dilakukan penelitian penggunaan tanaman rempah-rempah kita sebagai alternatif oat-obatan ternak seperti kunyit, temulawak dengan bekerja sama dengan IPB, UGM dan Unpad sebagai tuan rumah, hal ini dilakukan dosen, mashasiswa S2 dan S1 untuk menyelesaikan Studinya, Untuk tahun 2008 kemarin sampai sekarang telah dibiayai menristek untuk penelitian curcumin pada babi sebagai antibiotik alami.
6. Pabrik Pakan Ternak Babi
Yang terdiri dari mesin pembangkit listrik zenset, mesin giling ( hammer mill), Mesin mixer. Semua penelitian ransum di olah dipabrik pakan, telah banyak dihasilkan berbagai macam formula ransum yang dapat diterapkan di peternak menengah dan besar di seluruh Indonsesia, bahkan Pabrik Obat-obatan seperti Kalbe, Sanbe, Romindo Pfizer dan industri seperti Bogasari, Ceres, Suba Indah dll telah sering menggunakan fasilitas penelitian di sini untuk uji biologis dan efektifitas obat untuk kepentingan petani dan mencari pakan alternatif bagi ternak babi.
7. Unit Pengolahan Limbah.
Unit pengolahan limbah disini tidak ada setetespun yang dibuang ke sungai, semua limbah cair maupun padat diolah dengan menggunakan enzim dan prebiotik sehingga diperoleh limbah yang tidak bau dan bermanfaat bagi petani disekitar, Pupuk yang dihasilkan setiap hari kira-kira 1 ton diambil oleh petani sayur-sayuran dari parompong, cisarua, lembang bahkan garut dan tasik secara gratis, sampai saat ini berapapun banyaknya pupuk yang dihasilkan habis digunakan petani. Hal ini sangat mendukung petani kecil ditengah-tengah harga pupuk kimia seperti Urea, ZA dan TSP yang mahal.
8. Lahan Penyangga (Buffer)
Luas Total lahan pertanian dan kandang adalah sekitar 5 Ha dengan pembagian sebagai berikut 0,5 ha penggunaan lahan untuk kandang dan bangunan gudang, kantor dll, sisanya adalah lahan penyangga seluas 4,5 ha yang ditanami tanaman bunga, sayur sayuran ( Buncis, brukol, labu dll) sebagai penyerap bau dan pemanfaatan pupuk kandang yang dihasilkan, dengan lahan penyangga ini maka diperoleh jarak terdekat dengan penduduk sekitar 250 m dari kandang.
D. Biaya yang dikeluarkan untuk Pembangunan Sarana Pendukung
Semua sarana pendukung seperti kandang, gudang bahan pakan dan alat-alat laboratorium, ruang kuliah dan asrama dan lain-lain, semua ini dibangun dihitung secara bertahap memakan biaya sekitar 1,5 Miliar, investasi ini harus seoptimum mungkin untuk menghasilkan SDM lulusan mahasiswa yang handal dan cerdas terutama mahasiswa Peternakan yang belajar disini.
E. Biaya yang dikeluarkan untuk Penelitian
Setahun melakukan penelitian tiga kali (satu periode pemeliharaan sekitar 4-6 bulan) untuk satu kali penelitan diperlukan biaya untuk ternak, obat-obatan, makanan, Analisis dll rata-rata Rp 50- 60 Juta/ 4 bulan jadi setahun sekitar Rp 200- 240 Juta/ tahun. Semua biaya ini ditanggung oleh Teaching Farm KPBI, dengan menjual hasil penelitian dan produk yang hasilkan seperti ternak, pakan dan premix. Sedangkan iuran atau dana penelitian yang diberikan oleh Universitas/ Negara/ Pemerintah hanya untuk jasa bimbingan untuk dosen sebesar Rp. 60.000/orang/semester (enampuluh ribu rupiah) bukan 60.000 dolar, untuk setiap orang mahasiswa S1 sampai dengan lulus atau sidang tugas akhir, selain itu tidak ada lagi, bila dihitung perjalanan dan diskusi selama dikandang dan dilaboratorium selama 6 bulan bimbingan bukannya untung malah tekor bahkan dosen tersebut harus memakai gajinya sendiri untuk menutupi biaya tersebut makanya sampai sekarang dosenya sendiri kandidat Doktor di Pascasarjana IPB (Ir. Sauland Sinaga, M.S) hanya tinggal di rumah type 21 di Perumahan Cincin Permata Indah Warung Lobak, Soreang Kabupaten Bandung yang dikenal orang suka banjir kalau hujan deras.
Sampai sekarang dari pemerintah kabupaten bandung barat cukuplah kami mengucap syukur kalau hanya memberikan fasilitas dan dukungan bagi perkembangan ilmu pengetahuan demi mencerdaskan anak bangsa ini, adapun bantuan dana maupun alat-alat sampai sekarang, kami berterima kasih belum pernah.
F. Sasaran dan Prospek Kedepan
Sasaran dan Prospek kedepan adalah biarlah Laboratorium dan Teaching Farm KPBI ini dapat menyumbangkan sesuatu bagi masyarakat dan bangsa ini untuk menggali sumber alam dan ilmu pengetahuan, serta menciptakan SDM atau sarjana peternakan yang profesional siap terjun di persaingan bebas yang tidak dibatasi oleh batas negara serta mempunyai hati untuk membangun peternakan yang sehat utuh untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan kecerdasan.
Selama ini sarjana yang dihasilkan dari laboratorium ini telah bekerja di perusahaan swata dan pemerintahan di seluruh Indonesia ini, seperti mantan murid dari sini telah membangun peternakan di Riau, Papua, Bali, Toraja dll. Ada juga yang telah bekerja diperusahaan asing (pabrik Pakan ternak) yang sudah ke Vietnam, Thailand, Australia dan negara lain. Inilah bukti bahkwa kita harus terbuka bahwa dunia ini tidak selebar daun kelor dan harus siap dalam persaingan global.
G. Kerjasama yang Telah Dilakukan
Kerjasama yang telah dilakukan tidak dapat disebutkan satu persatu, berkat dukungan masyarkat, tetangga dan aparat desa sehingga Laboratorium dan Teaching Farm ini dapat hidup sampai sekarang. Secara garis besar kerjasama dengan pihak luar dapat dilihat pada lampiran. Secara garis besar kerjasama yang telah dilakukan adalah :
1. Tempat pelatihan, Praktek kerja dan penelitian Antar Universitas dan Institut
Yang ternama di negeri ini seperti (Unpad, IPB, UGM dll).
2. Tempat kunjungan Anak-anak TK sampai SMA di Jawa Barat.
3. Tempat Studi banding Anggota DPRD dari berbagai daerah di Wilayah
Indonesia.
4. Lembaga-Lembaga Pelatihan untuk di kirim keberbagai desa ditanah air ini.
Adapun bentuk permohonan bantuan dana untuk kegiatan kabupaten, kecamatan, dan masyarakat tidak kami masukkan karena kami merasa itu bagian dari sumbangsih keberadaan laboratorium tersebut bagi masyarakat.
H. Akhir kata
Biarlah tulisan ini dapat membuka wawasan dan hati kita untuk sama-sama duduk membangun negara yang sedang sakit ini, supaya generasi penerus kita dapat bersaing dalam persaingan global yang semakin ketat. Mari kita sama-sama bekerja, berkarya sesuai dengan kedudukan, talenta dan sumpah jabatan yang sudah dititipkan Pencipta bagi kita masing-masing untuk kesejahteraan bumi dan manusia seutuhnya.
Atas perhatian, waktu dan tenaga kami ucapkan terima kasih, Tuhan memberkati kita semua.

Renungan Kebijakan Pemerintah di Negara Pancasila ini…..!
Pemusnahan Ternak Babi Belum Diperlukan
Sabtu, 2 Mei 2009 | 11:49 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Petugas rumah karantina hewan babi, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat menyemprotkan disinfektan, Rabu (29/4). Merebaknya kasus flu babi, rumah karantina ini meningkatkan pencegahan dengan melakukan penyemprotan disinfektan dua kali sehari serta pengawasan lalu lintas ternak.
TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com — Masyarakat saat ini seakan dihantui ketakutan akan virus flu babi sehingga ada pihak yang ingin melakukan pemusnahan babi. Namun begitu, menurut Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Departemen Pertanian Darminto, pemusnahan hewan ternak ini belum diperlukan.
“Sampai sekarang belum ditemukan ada hewan ternak yang mengidap virus H1N1 yang mengakibatkan flu meksiko. Lagi pula penyakit ini ditularkan dari manusia ke manusia,” terang dia di sela acara Polemik yang digelar di Warung Daun, Jakarta (2/5).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kab. Bandung Barat, Mas Abdul Kohar telah memanggil pemilik peternakan babi di Kp. Pasiripis RT 01/RW 03 Desa Kertawangi, Kec. Cisarua, untuk melakukan pertemuan di ruang sekda, Kamis (16/7). Pertemuan yang akan membicarakan rencana penutupan peternakan babi ini melibatkan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kab. Bandung Barat, Satpol PP, dan Muspika Cisarua.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Disnakan Kab. Bandung Barat, Adiyoto di Padalarang, Selasa (14/7).
“Surat undangannya sudah dikirimkan pada Selasa siang. Mudah-mudahan pemilik peternakan babi bersedia datang memenuhi undangan kami,” kata Adiyoto.
Adiyoto menyatakan, pemilik peternakan babi di Pasiripis kurang kooperatif. Peternakan babi di Cisarua itu milik tiga orang, yaitu M. Eddy, Surya Tedja, dan Sinaga. Setiap kali masalah penutupan ditanyakan, mereka saling lempar tanggung jawab.
“Mestinya pertengahan Juni lalu peternakan babi ini sudah harus tutup, sesuai dengan kesediaan Eddy, salah seorang pemilik peternakan babi. Tapi nyatanya, hingga sekarang tak kunjung tutup. Malah tadi (kemarin, red) saat saya masuk ke dalam lokasi peternakan, ada indukan babi yang melahirkan. Kalau terus dibiarkan seperti ini, bisa-bisa populasinya bertambah kembali,” papar Adiyoto.
Dijelaskannya, inti pertemuan yang akan digelar besok yakni untuk membicarakan rencana penutupan. Ada beberapa opsi yang akan ditawarkan, dipindahkan keluar dari wilayah Kab. Bandung Barat, atau dipotong secara massal di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ciroyom Kota Bandung.
“Pemindahan maupun pemotongan babi ditanggung penuh pemilik peternakan babi, bukan tanggung jawab Pemkab Bandung Barat. Mereka itu pemiliknya, masa Pemkab Bandung Barat yang harus mengeluarkan biayanya. Sekali lagi saya sampaikan, Bupati Bandung Barat, Abubakar sudah menegaskan bahwa wilayah Kab. Bandung Barat harus bebas dari babi,” tegas Adiyoto.
Sebelum pertemuan, Disnakan Kab. Bandung Barat bersama Kepala Satpol PP Kab. Bandung Barat, Sadar Kusnadi dan Camat Cisarua, Euis Wiarsih meninjau lokasi peternakan, kemarin. Namun dalam inspeksi mendadak tersebut, pemilik peternakan tidak berhasil ditemui. “Saya telepon Pak Sinaga juga tak diangkat-angkat,” katanya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kab. Bandung Barat sudah menyiapkan 5.000 butir Tamiflu. Tamiflu tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk pertolongan pertama menghadapi serangan virus H1N1 yang kemudian lebih dikenal dengan flu babi.
“Seluruh Tamiflu didistribusikan ke 31 puskesmas yang ada di Kab. Bandung Barat. Untuk ke depan, mudah-mudahan puskesmas juga sudah bisa menangani tindakan pertama penanganan pasien suspect H1N1,” kata Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kab. Bandung Barat, Tedy Sulaksana.
Peternak Babi Cisarua Minta Waktu Satu Bulan
Kamis, 30 April 2009 | 10:11 WIB
CISARUA, TRIBUN - Peternak yang tergabung dalam Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI) dan memiliki peternakan di Kampung Pasir Ipis Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua, akhirnya menutup peternakannya, Rabu (29/4).
Penutupan itu atas desakan dari Camat Cisarua, Euis Warsiah, bersama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Bandung Barat yang mendatangi peternakan. Namun peternak meminta waktu satu bulan untuk proses penutupan.
Euis mengatakan, peternakan itu hanya berizin untuk penelitian, tapi disinyalir lebih banyak sisi bisnisnya. Hal itu dilihat dari jumlah populasi babi yang terlalu banyak. Saat diperiksa ada 695 ekor babi di peternakan Kampung Pasir Ipis itu.
“Untuk mengantisipasi wabah flu babi saya minta peternakan segera dikosongkan. Saya minta hitam di atas putih mengenai pernyataan penutupan ini,” tegas Euis saat bertemu dengan pihak KPBI.
Wakil Ketua KPBI, Mochamad Edi, mengatakan di peternakan tersebut hanya terdapat sekitar 200 ekor babi.
“Itu pun untuk penelitian dari universitas, yang diteliti itu masalah limbah, dan sisi ekonominya,” tutur Edi, ketika ditemui di ruangan kantor peternakan. Dikatakannya, ke 200 ekor babi itu dalam kondisi sehat.
Edi berpendapat bahwa flu babi itu mewabah di negara yang memiliki 4 musim. “Di sini kan cuma ada dua musim, musim hujan dan musim kemarau saja,” timpalnya.
Sebagai antisipasi dari serangan penyakit, pihaknya selalu melakukan vaksinasi, penyemprotan disinfektan ke kandang dan hewan, serta menjaga mutu kebersihan pakan.
“Setiap bulan ada petugas dari Dinas Peternakan yang memeriksa keadaan peternakan baik itu kebersihan kandang dan hewannya,” tutur Edi sambil menyebutkan luas seluruh peternakan seluas lima hektare dan yang digunakan untuk peternakan seluas 2 hektare.
Di Kabupaten Bandung, pemerintah daerah setempat tidak khawatir dengan kemungkinan mewabahnya virus flu babi. Karena pemerintah tidak mengizinkan berdirinya peternakan babi.
“Kalau kita kasih izin, siapa konsumennya? Apalagi nanti kalau ada warga yang complain karena baunya. Sampai saat ini kita memang tidak mengizinkan,” jelas Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan Kabupaten Bandung, Euis Rohayani saat ditemui kemarin.
Ia mengimbau masyarakat Kabupaten Bandung untuk tidak panik terkait virus flu babi. Euis juga menegaskan, pengkonsumsi daging babi tidak perlu risau karena penularan flu babi tidak melewati daging. Virus itu bisa mudah tertular jika menyentuh hewan yang terinfeksi atau melalui udara karena sifatnya yang seperti penyakit influenza.
Sementara itu, peternak babi di Cigugur Kabupaten Kuningan mulai resah dengan isu penyebaran virus flu babi. Secara ekonomi juga isu itu akan berdampak. “Otomatis, kami tidak dapat memanen. Jika sudah begitu, kami mau bagaimana,” ujar Aang, seorang peternak babi, kemarin.
Ia khawatir, jika flu babi sudah menyebar di tanah air, kondisi perdagangan daging babi dapat seperti daging ayam, ketika flu burung merebak. Aang, mengatakan, saat flu burung, penjualan daging ayam turun drastis. “Nah, kondisi itu pun kami khawatirkan,” sambungnya.
Di Kabupaten Tasikmalaya, petugas menyeterilkan sebuah tempat penampungan babi di belakang Tempat Pemotongan Hewan (TPH) Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya.
Ada 21 ekor babi yang ditampung di tempat itu. Seluruh bagian lantai dan dinding sekat disemprot dengan cairan antioksidan.
“Mulai sekarang proses masuknya babi diperketat pengawasannya. Jika diketahui ada yang sakit akan ditolak masuk untuk menjaga hal yang tidak diinginkan,” kata Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya, Ir H Budi Utarma. (fam/zz/win/stf)
| LAB BABI DI CISARUA DIMINTA DITUTUP |
 |
 |
 |
| Tuesday, 28 April 2009 14:04 |
|
Ngamprah, (PR).-
Guna mengantisipasi berjangkitnya flu babi di kawasan Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bandung Barat drh. Adiyoto akan meminta pihak Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengurangi jumlah babi bahkan menutup sementara tempat penelitian babi di kawasan Cisarua, KBB. Hal itu dikemukakan Adiyoto seusai rapat koordinasi di rumah dinas Bupati KBB di Ngamprah, Senin (27/4).
“Saya kurang tahu jumlahnya. Kalau masih ada, itu akan berisiko. Virus flu babi sama parahnya dengan virus flu burung. Kalau sudah endemi di suatu daerah itu akan sulit dikendalikan,” ungkapnya.
Adiyoto menegaskan, wilayah KBB dipastikan aman dari wabah penyebaran virus H1N1 atau virus flu babi. Sebab, dari lima belas kecamatan di KBB tidak tercatat sebagai sentra peternakan dan pemotongan babi. Selain itu, mayoritas penduduk KBB bukan konsumen daging babi. Hal itu disebabkan pada umumnya masyarakat memeluk agama Islam.
Namun demikian, kewaspadaan terhadap penularan virus flu babi perlu segera dilakukan. Pemerintah KBB akan memberikan surat edaran ke tiap kecamatan mengenai waspada flu babi terutama untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Menurut Adiyoto, lalu lintas babi bukan berasal dari wilayah barat yang akan melintasi kecamatan seperti Cipatat maupun Lembang. Babi yang masuk ke Kota Bandung berasal dari wilayah timur. “Setahu saya, peternakan babi itu kebanyakan di Jawa Tengah yaitu di Solo,” katanya.
Karantina
Kepala Dinas Kesehatan Jabar dr. Hj. Alma Lucyati mengatakan, pemerintah pusat sudah menetapkan daerah pemasukan babi. Babi di wilayah-wilayah tersebut sudah dikarantina.
Alma menjelaskan, peningkatan kewaspadaan terhadap orang-orang yang baru datang, terutama dari daerah pandemi flu babi (swine flu) sangat diperlukan. Menurut dia, meskipun belum dilaporkan terjadi penularan dari manusia ke manusia, kewaspadaan sangat penting sebagai antisipasi. Oleh karena itu, ungkap dia, perlu koordinasi lintas sektoral untuk mencegah flu babi masuk ke Jabar atau Indonesia.
Sementara itu, Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung RSHS dr. H. Hadi Jusuf, mengatakan, Flu babi disebabkan virus influenza A, strain H1N1, tapi strain-nya diduga strain baru campuran flu babi, Avian influenza (AI), dan Human influenza. “Beberapa virus influenza bisa bercampur karena babi reseptornya khusus, hampir sama dengan manusia dan golongan unggas. Jadi bisa terjadi reassortment AI, Human influenza, swine flu. Artinya genetik ketiga virus tersebut bergabung membuat strain yang baru di babi,” katanya.
Di Indonesia, ujar Hadi, belum terjadi penularan dari manusia ke manusia. Namun, yang ditakutkan kalau sudah efektif menular ke manusia dari hewan, maka menjadi pandemik seperti yang terjadi pada kasus AI. Dari Garut, Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Kab. Garut Dede Rohmansyah mengemukakan, pihaknya akan melakukan deteksi penyakit yang serupa dengan influenza (influenza like illness/ILI) secara intensif. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi munculnya flu babi yang membahayakan dan dapat menyebabkan kematian.
Penyakit flu babi merupakan penyakit influenza yang disebabkan virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi, dengan kemungkinan penularan antarmanusia. Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza (influenza like illness-ILI) dengan gejala klinis demam, batuk, pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat atau sesak napas, mungkin disertai mual, muntah, dan diare.
Virus H1N1 sebenarnya biasa ditemukan pada manusia dan hewan terutama babi, tapi keduanya memiliki karakteristik berbeda, begitu juga dengan virus flu burung H5N1 meskipun sama-sama virus influenza tipe A. (A-183/A-158/A-163)***
|
Warga Cisarua Menutup Paksa Peternakan Babi
Metro Siang / Nusantara / Minggu, 26 Juli 2009 13:02 WIB
Metrotvnews.com, Bandung: Ratusan warga Desa Jambudipa dan Kertawangi, Cisarua, menutup paksa tiga peternakan babi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ahad (26/7). Tindakan warga itu dikarenakan khawatir terjadinya penyebaran virus flu babi.
Penutupan paksa itu dilakukan setelah pemilik peternakan masih tetap menjalankan usahanya. Padahal, petugas Dinas Peternakan Kabupaten Bandung Barat menyegel peternakan tersebut terkait penyalahgunaan izin operasi. Awalnya, izin usaha itu hanya untuk objek penelitian. Namun, pemilik menyalahgunakan izin usaha itu menjadi peternakan.
Warga mengeluarkan ternak babi dan mengosongkan kandang. Warga sempat kesal karena seorang pemilik peternakan menutup-nutupi usaha ternaknya dengan menyatukan babi dan sapi dalam satu kandang. Karena kesal, warga menendang kandang babi. Kemudian, babi tersebut dipaksa naik ke truk yang telah disediakan. (***/FHD)
Disnakan Tinjau Lab. Babi di Cisarua
NGAMPRAH, (PRLM).- Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) akan meninjau laboratorium babi milik Universitas Padjadjaran di Cisarua. Kepala Disnakan KBB, drh Adiyoto mengatakan, informasi sementara, laboratorium babi itu berjarak sekitar 500 meter dari permukiman penduduk. Namun, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, lab. tersebut tetap harus ditinjau.
“Kami tidak menginginkan, virus flu babi menyergap babi-babi yang ada dilaboratorium. Langkah awal, kami meminta pihak pengelola lab. untuk mengurangi jumlah babi yang biasa digunakan penelitian. Permintaan ini, dimaksudkan untuk meminimalisasi penyebaran virus flu babi,” ujarnya.
Menurut Adiyoto, virus flu babi cenderung menyerang babi-babi di peternakan. Kecil kemungkin virus tersebut dibawa oleh babi liar. Karena dibawa oleh babi-babi di peternakan, virus tersebut jadi mudah menular ke manusia. Virus flu babi sama berbahanya dengan virus flu burung. (A-183/A-147)***
Penulis:
Warga Mengamuk di Peternakan Babi di Cisarua
Sabtu, 25 Juli 2009 | 12:02 WIB
CISARUA, TRIBUN-Puluhan orang yang mengaku warga Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mengamuk di sebuah peternakan babi di Desa Kertawangi, Sabtu (25/7).
Mereka mengobrak-abrik kandang di peternakan babi yang ada di sana. Suasana sangat mencekam.
Puluhan ekor babi yang masih ada di kandang dikeluarkan secara paksa. Menurut warga, itu sebagai tindak lanjut dari kesepakatan antara pemilik peternakan, Edi, dengan pemerintah kecamatan pada bulan Maret 2009. Semula tercapai kesepakatan kalau pengosongan babi paling lambat dilakukan sampai 14 Juni 2009, tetapi masih berlangsung hingga kini.
Puluhan orang yang datang itu memaksa pemilik peternakan segera menutup usahanya sesuai dengan perjanjian. Mereka khawatir keberadaan peternakan babi di wilayah tersebut membahayakan kesehatan, dan memicu penyebaran virus flu babi (H1N1) yang menakutkan.
Amarah warga mereda, setelah Edi menemui mereka dan berjanji memindahkan babi yang ada paling telah malam nanti.
“Sekarang, babi di lokasi ini akan dimanfaatkan untuk penelitian saja. Jumlah yang ada mencapai 200 ekor anakan dan 50 ekor induk,” ujar Edi, sang pemilik.
Edi mengatakan, pengangkutan babi ke tempat yang baru membutuhkan waktu. Selain itu, dia juga harus menyewa tempat penyimpanan sementara untuk babi di Ciroyom, Kota Bandung.(fam/kcm)
“Sweeping” Babi Terus Digelar
Tiga Kandang Babi di Cisarua Sudah Dikosongkan
WARGA mengantar dokter hewan dan mantri hewan memeriksa ternak babi yang masih tersisa di peternakan babi Desa Jambudipa, Kec. Cisarua, Kab. Bandung Barat, Minggu (26/7). Babi induk yang masih tersisa ini masih menunggu truk pengangkut.* HARRY SURJANA/”PR”
NGAMPRAH, (PR).-
Pascapengosongan populasi babi di tiga titik kandang di Desa Jambudipa dan Kertawangi, Kec. Cisarua, Sabtu (25/7), Pemerintah Kab. Bandung Barat akan terus mewaspadai kemungkinan adanya kandang babi lainnya yang tersembunyi. Pasalnya, dua kandang babi milik Irawan di Kp. Barukai RT 4, RW 11, Desa Jambudipa dan milik Yohanes Kp. Pasiripis RT 1, RW 4, Desa Kertawangi baru terdeteksi setelah mencuatnya kasus penutupan peternakan babi milik M. Edi di Kp. Pasiripis RT 1 RW 3, Desa Kertawangi.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kab. Bandung Barat, Adiyoto yang ditemui di sela-sela pengangkutan babi di kandang milik Irawan, Minggu (26/7). Menurut Adiyoto, setelah target pengosongan populasi babi di tiga kandang tersebut, pemkab akan terus melakukan sweeping, khususnya di Kec. Cisarua.
“Sweeping akan dilakukan terus-menerus dan kami tidak akan berhenti, karena ini kebijakan. Daerah-daerah lainnya ada kemungkinan memiliki populasi babi, kami tidak tahu persis di mana saja. Buktinya, di Cisarua kita menemukan dua kandang yang baru diketahui keberadaannya, dan lokasinya tersembunyi,” tuturnya.
Dalam upaya tersebut, kata Adiyoto, diharapkan peran masyarakat sekitar ikut mengawasi adanya indikasi peternakan babi di wilayah Kab. Bandung Barat. Dia berharap, tidak ditemukan kembali populasi babi di Kab. Bandung Barat.
Kuningan dan Yogya
Sementara itu, terkait dalam proses pengosongan babi di tiga titik kandang tersebut, Adiyoto menyebutkan, populasi babi milik M. Edi dan seorang dosen, serta milik Irawan dan Yohanes dinyatakan sudah kosong dan dialihkan ke Kab. Kuningan Jawa Barat dan Yogyakarta secara bertahap mulai Sabtu (25/7) malam hingga Minggu (26/7) siang. Jumlahnya mencapai tiga ratus babi.
Sementara itu, Camat Cisarua Euis Wiarsih mengatakan, sebanyak 112 babi diangkut ke Kuningan, 98 ke Yogyakarta, serta 44 lainnya disembelih. Dalam proses pengosongan tersebut, kata Euis yang ditemui terpisah di Kota Baru Parahyangan Padalarang, dilakukan pemantauan langsung oleh aparat Polsek Cisarua dan Disnakan Kab. Bandung Barat.
Kosong
Sementara itu, menurut pemantauan “PR” di lapangan, kandang milik M. Edi sudah kosong dan tidak ada satu pun babi yang tersisa. Para pegawai di sana membenarkan, sekitar 200 babi lebih induk babi dan anaknya, telah dialihkan ke Kuningan dan Yogyakarta secara bertahap mulai dari Sabtu malam hingga Minggu pagi.
Terkait dengan aksi warga yang mendatangi tiga titik kandang babi di Desa Jambudipa dan Kertawangi Cisarua, Bupati Bandung Barat Abubakar mengatakan, tindakan itu murni inisiatif warga. Keinginan warga tersebut tidak dapat dibendung pemerintah. Menurut dia, warga mulai merasa resah dengan keberadaan babi yang dikhawatirkan akan menyebarkan virus influensa A subtipe H1N1. (A-183)***
Warga Datangi Peternakan Babi Ilegal
Laporan wartawan KOMPAS Didit Putra Erlangga Rahardjo
Sabtu, 25 Juli 2009 | 11:46 WIB
DHONI SETIAWAN
ilustrasi
TERKAIT:
BANDUNG BARAT, KOMPAS.com — Puluhan orang yang mengaku warga Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mendatangi sebuah peternakan babi yang berlokasi di Desa Kertawangi, Sabtu (25/7). Mereka menuntut agar peternakan babi yang dianggap ilegal tersebut ditutup.
Itu sebagai tindak lanjut dari kesepakatan antara pemilik peternakan, Edi, dengan pemerintah kecamatan pada bulan Maret 2009. Semula tercapai kesepakatan kalau pengosongan babi paling lambat dilakukan sampai 14 Juni 2009, tetapi masih berlangsung hingga kini.
“Sekarang, babi di lokasi ini akan dimanfaatkan untuk penelitian saja. Jumlah yang ada mencapai 200 ekor anakan dan 50 ekor induk,” ujar Edi, sang pemilik.
Dia kembali meminta waktu hingga nanti malam untuk memindahkan babi yang ada karena pengangkutan babi membutuhkan waktu. Selain itu, dia juga harus menyewa tempat penyimpanan sementara untuk babi di Ciroyom, Kota Bandung.
Di Bandung, Peternakan Babi di Tutup
Rabu, 29 April 2009 | 18:55 WIB
TEMPO Interaktif, BANDUNG:–Pemerintah Kabupaten Bandung Barat akhirnya memberikan tenggat waktu 1 bulan pada pengusaha Peternakan Babi menutup usahanya. “Peternakan ini sudah tidak punya ijin, dan ini untuk mengantisipasi adanya wabah flu babi,” kata Wiwin Aprianti Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Lingkungan Dinas Perternakan Kabupaten Bandung Barat saat meninjau lokasi perternakan Babi. Rabu, (29/4).
Ia menyatakan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sudah lama ingin menutup perternakan babi ini karena izinnya sudah habis sejak tahun 1998 lalu. Selain itu juga tak sesuai lagi dengan peraturan daerah.”Kami meminta peternak mengalihkan usahanya pada peternakan hewan lain semisalnya sejenis sapi,” ungkapnya.
Wiwin mengaku tak tidak mau kecolongan adanya virus flu babi di wilayahnya. Karena beberapa waktu lalu kawasan Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung pernah ada penderita flu burung.”Ini untuk antisipasi dan surat penutupan sudah dilayangkan hari ini,” ujarnya
“Sudah lama tempat ini menjadi laboratorium penelitian dan tecning farm babi dengan luas kawasan 5,5 hektar namun yang dipakai untuk kandang hanya sekitar 2 hektar,” kata Mohamad Edi, Wakil Ketua Koperasi Peternak Babi Indonesia sekaligus pengelola peternakan.
Edi menyatakan, walaupun sebagai tempat penelitian yang bekerjasa sama dengan Universitas Padjajaran Bandung, ia juga memasok paling tidak sekitar 5 ekor babi per hari. Harga per kilogramnya sekitar Rp 20 ribu untuk pasar sekitar Bandung.”Semuanya babi asli budidaya dari daerah ini bukan dari luar daerah atau bahkan import,” ungkapnya.
ALWAN RIDHA